Membandingkan Pers di Jaman Gus Dur dan Jokowi

Penulis baru saja menghabiskan buku Membincang Pers, Kepala Negara, & Etika Media tulisan Sirikit Syah. Untuk buku obral seharga Rp. 20.000, isi buku tersebut sangat bermutu, apalagi bagi orang yang senang dengan dunia media seperti saya. Terlebih, banyak sejarah yang terselip pada buku tersebut.

Di antara beberapa bab yang ada, penulis menggarisbawahi bab yang mengaitkan antara Gus Dur dan pers. Bab ini menarik sekali karena beberapa poin.

Pertama, pers yang sangat aktif sekali dalam memberi kritik kepada presiden keempat Republik Indonesia tersebut. Jika kita menengok ke belakang, hal ini bisa dimaklumi.

Setelah mengalami pembatasan oleh orde baru, media diberi kebebasan ketika Habibie, yang menggantikan Soeharto sebagai presiden, dengan menggunakan UU Kebebasan Pers pada tahun 1999. Bisa membayangkan, bagaimana jika ada sesuatu yang lama di dalam sangkar tiba-tiba dibebaskan?

Begitulah, presiden-presiden di awal reformasi sangat gencar diserang oleh pers, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan ketika Orde Baru. Terutama Gus Dur yang seringkali dianggap kontroversial (seperti mengeluarkan dekrit untuk membubarkan DPR).

Gus Dur pun sering diterpa isu negatif, seperti Bulogate dan Bruneigate yang hingga kini tidak terbukti kebenarannya.

Ketika berganti presiden ke era Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, awak media masih berada di dalam semangat kebebasan pers, walaupun anginnya tak sekencang seperti ke arah Gus Dur. Perannya sebagai pilar keempat demokrasi bisa dibilang membaik jika dibandingkan ketika jaman Soeharto.

Permasalahannya, mengapa sekarang media terkesan berbalik 180 derajat? Jika penulis melihat media-media baik online maupun televisi, mayoritas memberitakan berita yang baik-baik saja tentang pemerintah (semoga saja penulis salah).

Apakah memang pers sekarang sudah tidak kritis lagi? Apakah memang pers sekarang melindungi kepentingan pemerintah? Ataukah memang pemerintah tidak punya celah untuk dicela oleh pers?

Patutkah kita curiga terhadap pers akan seperti dulu lagi, hanya memberitakan kebaikan pemerintah dan menutup rapat-rapat kekurangannya? Patutkah kita curiga bahwa pers memprioritaskan kepentingan pemilik dibandingkan kebenaran? Patutkan kita curiga media dikuasai elit politik sehingga berita yang tayang adalah berita yang membuat mereka senang?

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua

 

 

Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Membincang Pers, Kepala Negara, & Etika Media

Sumber Foto: http://pepnews.com/2018/01/09/benarkah-gus-dur-menyimpan-dari-ajaran-mbah-hasyim-asyarie/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.