<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sempurna Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sempurna/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sempurna/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Sep 2025 22:48:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sempurna Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sempurna/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p>Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p>Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p>Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p>Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p>Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p>Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p>Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p>Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p>Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p>Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p>Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p>Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p>Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p>Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p>Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p>Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p>Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p>Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p>Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Nov 2019 06:04:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[SJW]]></category>
		<category><![CDATA[Social Juctice Warrior]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya tweet Rocky Gerung yang bernada sarkas dan sedikit nakal. Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sempat lama tak terpakai, penulis kembali gemar bermain Twitter dalam 2 tahun terakhir. Kalau tidak salah, gara-gara banyaknya <em>tweet </em><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a> yang bernada sarkas dan sedikit nakal.</p>
<p>Semenjak itu, penulis pun lebih sering menghabiskan waktunya di Twitter dibandingkan Instagram yang membuat penulis sering membandingkan dirinya dengan orang lain.</p>
<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis merasa risau ketika bermain Twitter. Entah mengapa banyak pengguna media sosial berlogo burung ini seolah menuntut kita untuk selalu sempurna, sehingga tak ada ruang sedikitpun untuk kesalahan.</p>
<h3><em>Social Justice Warrior</em></h3>
<p>Dulu, penulis mengira istilah <em>Social Justice Warrior </em>atau sering disingkat SJW adalah orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berusaha mengingatkan ke sebanyak mungkin orang lain tentang pentingnya menjaga lingkungan.</p>
<p>Ternyata, SJW bukan itu. Sesuai namanya, keadilan sosial adalah sesuatu yang mereka perjuangkan dan bela mati-matian melalui media sosial maupun aksi-aksi nyata.</p>
<p>Dari yang penulis perhatikan, banyak &#8220;SJW&#8221; yang bermain Twitter meskipun mereka tak pernah mendeklarasikan diri. Penulis menyimpulkan sendiri berdasarkan <em>tweet-tweet </em>yang mereka ketik sendiri. Jadi, bisa saja salah.</p>
<p>Biasanya, ketika ada sebuah <em>tweet </em>yang dianggap menyerang atau menyinggung orang atau kelompok tertentu (biasanya minoritas), <em>tweet </em>tersebut akan langsung dikeroyok para &#8220;SJW&#8221; dengan berbagai argumen.</p>
<h3>Masalah Sosial vs Masalah Agama</h3>
<p>Ketika ada orang-orang (terutama para <em>selebtweet </em>dengan jumlah pengikut yang tinggi) membuat ciutan yang menyangkut masalah sosial, mereka benar-benar tidak boleh membuat kesalahan.</p>
<p>Walaupun seandainya niat mereka baik, akan ada orang-orang yang melihat celah kesalahan pada cuitan tersebut. Tak jarang tudingan-tudingan seperti &#8220;tak peka&#8221;, &#8220;omdo doang&#8221;, atau &#8220;kamu tak tahu rasanya&#8221; akan muncul di kolom komentar.</p>
<p>Maka dari itu, jangan sampai menjadikan permasalahan sosial sebagai bahan bercanda. Netizen akan siap menghujat siapapun yang menjadikan <em>mental illness</em>, anak <em>broken home, </em>emansipasi wanita, dan lain sebagainya sebagai bahan <em>tweet </em>secara keliru.</p>
<p>Anehnya, setidaknya bagi penulis, ketika banyak yang menjadikan agama (semua jenis agama) sebagai bahan candaan di Twitter, mereka terlihat kalem-kalem saja dan malah ikut menertawakannya.</p>
<p>Penulis pun jadi bingung, ini penulis yang gagal paham atau memang ada sesuatu yang salah dengan kita. Apakah karena kita terbiasa dengan yang namanya standar ganda?</p>
<p>Menurut penulis, baik permasalahan sosial maupun agama tidak bisa dijadikan sebagai bahan bercanda. Karena itu, penulis tidak pernah suka dengan yang namanya <em>dark jokes.</em></p>
<h3>Tuntutan Untuk Sempurna</h3>
<p>Kemunculan orang-orang yang terlihat seperti &#8220;SJW&#8221; tersebut membuat kita merasa dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna. Beberapa baris kata yang kita ketik seolah menjadi bukti yang cukup untuk menghakimi kita.</p>
<p>Seorang pengguna Twitter bernama <a href="https://twitter.com/edwardsuhadi">Edward Suhadi</a> (kalau tidak salah, ia pernah menjadi cameo di film <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Kulari ke Pantai</a></em>) membuat <em>thread </em>yang mewakili perasaan penulis.</p>
<p>Menurutnya, sekarang ini menulis apapun di Twitter seolah selalu ketemu aja salahnya. Jika apes, sang pembuat <em>tweet </em>bisa dimaki-maki habisan oleh netizen.</p>
<p>Mencoba memberikan motivasi dianggap sebagai <em>toxic positivity</em>. Padahal, bisa jadi sang pembuat <em>tweet </em>sedang terlintas untuk membagikan semangat begitu saja. Mungkin, penggunaan kata atau kalimatnya saja yang kurang tepat.</p>
<p>Yang berbahaya, kita seolah bisa tahu dengan tepat apa maksud dari pembuat <em>tweet</em>. Kita bukan dukun, kita tak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka. Jadi, kenapa harus <em>sotil</em>?</p>
<p>Jika balasan komentar mengandung argumen yang membantah sih masih oke. Bagaimana dengan balasan yang hanya bersifat menyerang dan dibumbui dengan caci maki? Inilah yang lebih <em>toxic</em>.</p>
<p>Entah kenapa masyarakat sangat mudah <em>ngegas</em> dan tidak bisa hidup dengan lebih <em>santuy </em>di Twitter seperti dulu. Oh bisa ding, kalau yang dijadikan bahan candaan masalah agama. Kalau ada yang marah, berarti <em>close-minded </em>dan radikal. Kita ini memang lucu, kok.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ada yang bilang, Twitter menjadi seperti ini karena banyak pengguna Instagram yang pindah. Mereka tak paham &#8220;kultur&#8221; Twitter dan masih membawa &#8220;kultur&#8221; Instagram. Benarkah demikian? Entahlah, tak ada data yang mendukung.</p>
<p>Karena mulai jengah dengan Twitter, penulis jadi mulai beralih ke Pinterest atau benar-benar berhenti <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">bermain media sosial</a> untuk sementara waktu.</p>
<p>Biarlah penulis ketinggalan informasi, toh kita terkenal karena mudah melupakan suatu isu atau permasalahan. Kalaupun ada <em>thread </em>atau drama yang terjadi, paling dua minggu kemudian sudah lenyap ditelan waktu.</p>
<p>Penulis paham, para &#8220;SJW&#8221; ini pun mungkin berniat baik. Mereka ingin menjaga perasaan orang, terutama minoritas. Mereka ingin keadilan sosial yang merata untuk semua kalangan.</p>
<p>Hanya saja, rasanya kok semakin ke sini para &#8220;SJW&#8221; ini semakin berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Penulis jadi berpikiran kalau mereka lebih sentimen kepada siapa yang mengucapkannya, bukan apa yang diucapkannya.</p>
<p>Jika masyarakat terus-menerus menjadi hakim sosial yang menuntut kita untuk menjadi sempurna setidaknya di dunia maya, tentu akan menghasilkan lingkungan yang tidak nyaman bagi banyak orang.</p>
<p>Bukan tidak mungkin, orang-orang akan jadi takut beropini karena takut dihakimi oleh para &#8220;SJW&#8221; ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 November 2019, terinspirasi dari kegelisahan penulis ketika melihat linimasa Twitter.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@freestocks">freestocks.org</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/twitter-dan-tuntutan-kesempurnaannya/">Twitter dan Tuntutan Kesempurnaannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
