<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sosial budaya Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sosial-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sosial-budaya/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Nov 2021 15:39:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sosial budaya Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sosial-budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Metaverse adalah Distopia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2021 15:09:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[distopia]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Meta]]></category>
		<category><![CDATA[metaverse]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5394</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect. Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram. Tidak hanya itu, Zuckerberg juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tanggal 28 Oktober kemarin, Facebook secara resmi mengganti namanya menjadi Meta. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui acara Facebook Connect.</p>



<p>Dari berbagai sumber, keputusan ini diambil karena nama Facebook seolah hanya merepresentasikan satu merek mereka. Padahal, Facebook memiliki banyak merek lain seperti WhatsApp dan Instagram.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5396" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Mark Zuckerberg dan Meta (<a href="https://www.theverge.com/2021/10/28/22745234/facebook-new-name-meta-metaverse-zuckerberg-rebrand">The Verge</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, Zuckerberg juga menjelaskan konsep <em><strong>metaverse</strong> </em>yang akan menurutnya akan menjadi lembaran baru untuk dunia internet. Bahkan, ia juga mengatakan kalau Facebook akan menjadi perusahaan <em>metaverse.</em></p>



<p>Menyusul Facebook, raksasa teknologi Microsoft juga mengumumkan akan membuat <em>metaverse </em>versinya sendiri. Mereka akan menerapkannya di aplikasi Microsoft Teams dan di masa depan akan diterapkan di konsol Xbox.</p>



<p>Sayangnya, Penulis melihat <em>metaverse </em>ini sebagai sesuatu yang patut untuk dikhawatirkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu <em>Metaverse</em>?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5398" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Satya Nadella (<a href="https://www.windowscentral.com/microsoft-ceo-satya-nadella-discusses-metaverse-and-2021-work-norms">Windwos Central</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara mudah, <em>metaverse </em>adalah sebuah dunia virtual di mana penggunanya bisa berinteraksi di dalamnya sama seperti di dunia nyata. Atau seperti kata CEO Microsoft Satya Nadella:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;The metaverse enables us to embed computing into the real world and to embed the real world into computing, bringing real presence to any digital space.&#8221;</p><p>&#8220;Metaverse memungkinkan kita untuk menanamkan komputasi ke dunia nyata dan untuk menanamkan dunia nyata ke dalam komputasi, membawa kehadiran nyata ke ruang digital mana pun.&#8221;</p></blockquote>



<p>Dengan mewabahnya pandemi Covid-19, banyak perusahaan yang akhirnya memutuskan agar karyawannya bekerja secara <em>remote </em>dari rumah. Bahkan, hal ini telah menjadi sesuatu yang normal dan dianggap lumrah.</p>



<p>Kita bisa melakukan rapat di kamar hanya dengan bermodalkan laptop dan berinteraksi dengan teman-teman kantor lainnya. <em>Metaverse </em>akan membawa kita melampaui hal tersebut.</p>



<p><em>Metaverse </em>akan membuat kita merasa berada di dalam sebuah ruang digital dengan alat bantu seperti <em>headset </em>VR. Kita juga bisa membuat avatar 3D sebagai representasi kita di dunia virtual tersebut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5397" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sword Art Online (<a href="https://duniaku.idntimes.com/geek/culture/chiize/teknologi-fulldive-sao">Duniaku</a>)</figcaption></figure>



<p>Contoh mudah untuk membayangkan <em>metaverse </em>adalah melalui film <em><strong>The Matrix</strong></em> dan <em><strong>Ready Player One </strong></em>atau anime <em><strong>Sword Art Online</strong></em>. </p>



<p>Penulis tidak pernah menonton <em>Sword Art Online,</em> tapi tahu kalau ceritanya adalah sekelompok remaja yang bermain gim dengan menggunakan alat yang membuat kita merasa benar-benar berada di dalam gim tersebut.</p>



<p>Bahkan, sebenarnya ada beberapa gim VR yang membuat kita berada di dalam dunia digital sungguhan seperti <em>Beat Saber</em> dan <em>Half-Life Alyx.</em> Tidak hanya dari sisi <em>software</em>, <em>hardware </em>pendukung pun semakin berkualitas.</p>



<p>Kedengarannya <em>metaverse </em>adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan? Masa depan teknologi yang terlihat begitu cerah. Sayangnya Penulis tidak bisa berpikir seperti itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Metaverse </em>dan Distopia yang Dibuatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5399" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Novel Snow Crash (<a href="https://reclaimthenet.org/snow-crash-tv-series-hbo/">Reclaim the Net</a>)</figcaption></figure>



<p>Istilah <em>metaverse </em>dianggap pertama kali muncul dari novel berjudul <em><strong>Snow Crash</strong> </em>karangan Neal Stephenson yang rilis pada tahun 1992. Sayangnya, novel tersebut bertema distopia dan itu bukan pertanda baik.</p>



<p>Menurut KBBI, distopia adalah:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Tempat khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan serta semua orang tidak bahagia atau ketakutan, lawan dari utopia&#8221;</p></blockquote>



<p>Di dalam novel tersebut, Stephenson menyebutkan bahwa, &#8220;… metaverse itu sendiri adalah tempat yang membuat ketagihan, penuh kekerasan, dan memungkinkan dorongan terburuk kita.”</p>



<p>Seperti yang kita ketahui bersama, tanpa <em>metaverse </em>pun kita sudah begitu ketagihan menghabiskan waktu di dunia maya, entah karena <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>, nonton YouTube, hingga bermain gim.</p>



<p>Bayangkan jika kita bisa merasakan apa yang kita dapatkan di media sosial, seolah-olah kita sedang berada di sana secara langsung, apa malah tidak membuat kita semakin betah dan ketagihan?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Media Sosial Itu Sangat Adiktif (<a href="https://www.healthline.com/health/social-media-addiction">Healthline</a>)</figcaption></figure>



<p>Banyak yang menjadikan media sosial sebagai &#8220;pelarian&#8221; dari dunia nyata. Mau pusing atau ada masalah seperti apapun, media sosial seolah selalu berhasil mengalihkan pikiran kita ke tempat lain.</p>



<p>Dengan adanya <em>metaverse</em>, kita benar-benar bisa kabur ke dunia virtual dan merasakannya secara nyata. Mungkin jika sesekali masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana jika kita menjadi ketergantungan terhadapnya?</p>



<p>Selain itu, konsep hidup di dunia maya telah terbukti melahirkan orang-orang <em>toxic </em>yang merasa berani karena identitas mereka yang asli tertutupi oleh akun maya mereka. Jika mereka bisa muncul dengan avatar yang anonim, bukan tidak mungkin ke-<em>toxic</em>-an mereka akan semakin menjadi-jadi.</p>



<p>Bagaimana jika karena seringnya kita mengunjungi dunia virtual ini, kita akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana dunia nyata dan dunia virtual? Bagaimana jika kita menolak hidup di dunia nyata dan memilih hidup di dunia &#8220;impian&#8221; yang tidak nyata?</p>



<p>Mungkin semua yang diutarakan di atas terdengar berlebihan dan terlalu paranoid, tapi Penulis merasa hal-hal tersebut bisa benar-benar terjadi, terutama jika kita tidak bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5401" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-6.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gambaran Avatar Kita di Metaverse (<a href="https://techcrunch.com/2021/11/02/microsoft-teams-gets-3d-animated-avatars-because-metaverse/">TechCrunch</a>)</figcaption></figure>



<p>Facebook dan Microsoft jelas memiliki sumber daya yang lebih cukup untuk membangun <em>metaverse </em>mereka sendiri. Mau diiklankan dengan bahasa seindah apapun, Penulis tetap sedikit merasa was-was dengannya.</p>



<p>Menurut Penulis pribadi, daripada harus membuat dunia virtual terasa nyata, <strong>kenapa kita tidak berusaha untuk memperbaiki dunia nyata yang sudah ada? </strong></p>



<p>Apakah dunia ini sudah begitu rusak sehingga kita perlu membuat dunia virtual terasa begitu indah? Apakah memang Bumi tempat kita tinggal ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/metaverse-adalah-distopia-7.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Serusak Itukah Realita Kita? (<a href="https://id.pinterest.com/pin/531776668475809237/">Pinterest</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya itu, potensi <em>metaverse </em>yang bisa membuat penggunanya ketagihan juga membuat Penulis khawatir. <em>Metaverse </em>sangat bisa untuk menjadi tempat pelarian kita dari masalah yang dihadapi di dunia nyata.</p>



<p>Menjadikan dunia maya dan <em>metaverse </em>sebagai pelarian benar-benar ide yang sangat berbahaya. Kita tidak bisa terus kabur dan lari dari masalah. Masalah pasti akan selalu hadir, bahkan di dunia virtual sekalipun.</p>



<p>Penulis tidak tahu bagaimana masa depan <em>metaverse </em>ini selama beberapa tahun ke depan. Beberapa orang sudah menyebutkan kegelisahannya yang mirip dengan yang Penulis rasakan.</p>



<p>Kehadiran <em>metaverse </em>jelas tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri kita agar jangan sampai kita yang dikendalikan oleh teknologi-teknologi distopia tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 3 November 2021, terinspirasi setelah membaca beberapa artikel seputar <em>metaverse</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">Vice</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://www.news18.com/news/buzz/mark-zuckerbergs-metaverse-inspired-by-dystopian-novel-snow-crash-twitter-thinks-so-4378457.html">Mark Zuckerberg&#8217;s &#8216;Metaverse&#8217; Inspired by Dystopian Novel &#8216;Snow Crash&#8217;? Twitter Thinks So (news18.com)</a></li><li><a href="https://www.vice.com/en/article/v7eqbb/the-metaverse-has-always-been-a-dystopia">The Metaverse Has Always Been a Dystopian Idea (vice.com)</a></li><li><a href="https://nianticlabs.com/blog/real-world-metaverse/">The Metaverse is a Dystopian Nightmare. Let’s Build a Better Reality. – Niantic (nianticlabs.com)</a></li><li><a href="https://medium.com/highstreet-market/all-the-different-ways-the-metaverse-is-being-built-today-c791245b4da4">All the Unique Ways the Metaverse is Being Built Today | by Travis Wu | Highstreet | Medium</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/">Metaverse adalah Distopia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/metaverse-adalah-distopia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Nov 2019 15:44:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[psikiater]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2981</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kehadiran Google sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul. Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu. Diagnosis ke Diri Sendiri Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kehadiran <strong>Google</strong> sebagai mesin pencari yang akurat memang membawa banyak berkah untuk kita. Hanya saja, ada sisi lain yang juga muncul.</p>
<p>Salah satunya adalah diagonosis psikologi untuk diri sendiri hanya berdasarkan hasil pencarian tanpa pergi ke psikiater profesional. Hanya karena memenuhi beberapa gejala, kita menganggap diri mengidap suatu kondisi tertentu.</p>
<h3>Diagnosis ke Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2983" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2983" class="size-large wp-image-2983" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2983" class="wp-caption-text">Bermodalkan Google (<a href="https://www.betterhelp.com/advice/psychologists/reasons-to-choose-an-online-psychiatrist/">Better Help</a>)</p></div></p>
<p>Penulis pernah mencari di internet apakah ada fobia ketika merasa sendirian (bukan sendirian secara fisik). Akhirnya, penulis menemukan suatu istilah bernama <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Emotional Dependency Disorder</em></a></strong>.</p>
<p>Ciri-cirinya antara lain:</p>
<ul>
<li>Memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</li>
<li>Terobsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</li>
<li>Memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain dan berharap orang lain melakukan hal yang sama</li>
<li>Tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemas, susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.</li>
</ul>
<p>Penulis menyadari bahwa dirinya memenuhi semua kriteria tersebut sehingga menggangap dirinya memang mengidap disorder tersebut. Akibatnya, penulis jadi semakin mudah merasa <em>down</em>. Padahal, hal tersebut juga harus dikonsultasikan ke psikiater.</p>
<p>Contoh lainnya adalah istilah <em><strong>Hyper Sensitive Person</strong> </em>yang penulis temukan pada buku <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/"><em>Loving the Wounded Soul</em></a>. Secara sederhana, istilah tersebut merujuk kepada kondisi diri kita yang terlalu sensitif, baik indera ataupun perasaannya.</p>
<p>Ketika melakukan tes online, dikatakan bahwa orang yang memiliki kondisi ini akan mendapatkan nilai 14. Berapa nilai yang penulis dapatkan setelah mengerjakan tes? <strong>24!</strong></p>
<p>Penulis juga sering disebut oleh teman-teman mengidap <em>Obsessive-Compilsive Disorder </em>alias OCD hanya karena tidak bisa melihat benda miring dan berantakan!</p>
<p>Melakukan diagnosis mandiri seperti ini sebenarnya juga kurang baik karena bisa memicu depresi dan rasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Hanya Agar Terlihat Keren?</h3>
<p><div id="attachment_2984" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2984" class="size-large wp-image-2984" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2984" class="wp-caption-text">Lebih Baik Cek ke Psikiater (South China Morning Post)</p></div></p>
<p>Penulis berpendapat diagonis psikologi secara mandiri lebih membawa dampak buruk kepada kita. Kalau kita jadi bersemangat agar bisa mengendalikan hal tersebut tidak masalah. Bagaimana jika sebaliknya?</p>
<p>Hanya karena sesuatu yang belum tentu benar, kita bisa merasa depresi dan meningkatkan rasa <em>insecure</em>. Padahal, bisa jadi permasalahan yang memicu pikiran tersebut sebenarnya sepele saja. Kita saja yang terlalu membesar-besarkannya.</p>
<p>Yang lebih bahaya adalah jika hasil diagnosis tersebut hanya digunakan agar kita ingin terlihat keren di mata orang dan mendapatkan perhatiannya. (<em>Mungkin, penulis juga termasuk salah satunya</em>)</p>
<p>Terkadang, kita juga terpengaruh dengan perkataan orang lain. Menurut mereka, kita memiliki disorder A atau kelainan B. Kecuali teman kita lulusan psikologi, sebaiknya jangan langsung percaya begitu saja karena belum tentu benar.</p>
<p>Penulis sendiri sedang berusaha menata diri agar tidak mudah merasa depresi dan <em>insecure</em>. Salah satunya adalah mulai mengurangi pikiran-pikiran berlebihan dan berusaha menikmati hari ini.</p>
<p>Mengurangi kekhawatiran juga menjadi salah satu metode yang bisa dilakukan. Penulis sudah menulis berkali-kali kalau <a href="https://whathefan.com/karakter/85-kekhawatiran-tidak-pernah-terjadi/">kekhawatiran lebih sering berakhir di pikiran saja</a>, namun kenyataannya masih sering penulis lakukan.</p>
<p>Penulis juga berusaha mengusir rasa memiliki kondisi ini dan itu. Selama belum memeriksakannya ke psikiater, penulis akan berusaha tidak memikirnya terlalu dalam dan menghalaunya dari pikiran.</p>
<p>Apalagi, bisa jadi segala pikiran-pikiran tersebut hanya muncul ketika kita sedang ada masalah atau <em>mood-</em>nya sedang buruk. Kita jadi <em>lebay </em>dengan segala sesuatu. Kalau sudah normal, ya sebenarnya biasa saja.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus mulai berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.</p>
<h3>Membandingkan Diri dengan Orang Lain</h3>
<p><div id="attachment_2985" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2985" class="size-large wp-image-2985" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/diagnosis-psikologi-diri-sendiri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2985" class="wp-caption-text">Iri dengan Orang Lain (<a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DufVBDWuiSBA&amp;psig=AOvVaw39aJSuaWHxFJU55mCeVwOf&amp;ust=1572881153424000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCIjky5StzuUCFQAAAAAdAAAAABAJ">YouTube</a>)</p></div></p>
<p>Hidup di era sekarang memang membuat kita sering merasa tertekan karena tak henti-hentinya membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Generasi <em>baby boomer </em>mungkin tak merasakan hal ini.</p>
<p>Kemunculan media sosial dan teknologi-teknologi lainnya membuat kita bisa mengintip kehidupan orang lain dengan mudah. Sering kali, hanya momen bahagia lah yang dibagi kepada publik.</p>
<p>Jika sudah pada tingkat merasa <em>insecure</em> yang ekstrem, penulis akan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">berhenti sejenak dari media sosial</a>, termasuk tidak melihat <em>story </em>orang lain yang biasanya ada saja yang membuat kita merasa tertekan.</p>
<p>Tidak takut kehilangan momen penting teman atau keluarga kita? Jika memang benar-benar penting dan kita <em>juga dianggap penting</em>, mereka pasti akan membaginya secara langsung kepada kita.</p>
<p>Daripada berfokus dengan kehidupan orang lain, nikmati saja hidup yang kita miliki. Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing, sehingga perbandingan yang kita lakukan tidak akan pernah <em>apple to apple</em>.</p>
<p>Membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi salah satu penyebab utama mengapa kita sampai melakukan diagnosis psikologi kita dengan bantuan Google.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dari yang penulis amati, memang banyak orang di Indonesia yang melakukan diagnosis masalah mentalnya secara mandiri. Penulis sering menemukan contohnya baik dari diri sendiri, lingkungan, ataupun Twitter.</p>
<p>Jika diagnosis mandiri hanya akan membuat kita merasa stress dan tertekan, lebih baik jangan pernah dilakukan. Apalagi jika enggan pergi ke psikiater untuk memeriksakan kesehatan mental kita.</p>
<p>Apa yang muncul dari penelusuran Google memang lumayan terpercaya, akan tetapi jangan mengandalkannya. Kalau memang merasa kesehatan mental terganggu, lebih baik segera diperiksakan secara benar.</p>
<p>Kita tidak boleh membandingkan hasil pencarian di internet dengan psikiater yang sudah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun.</p>
<p>Hal ini juga berlaku untuk penyakit fisik yang kita derita. Daripada menduga-duga hal yang belum pasti, lebih baik periksakan ke dokter terdekat.</p>
<p>Penulis memang pernah melakukannya, dan rasanya tidak akan pernah penulis lakukan lagi. Alasannya, hal tersebut dapat memicu depresi dan rasa <em>insecure</em> yang ujung-ujungnya hanya merugikan diri sendiri.</p>
<p>Jika ada pembaca yang merasa mengalami permasalahan serupa, semoga tulisan ini dapat membantu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 November 2019, terinspirasi dari minggu-minggu kelamnya</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/diagnosis-psikologi-diri-sendiri/">Diagnosis Psikologi Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
