<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>takut Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/takut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/takut/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:47:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>takut Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/takut/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2020 00:55:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3587</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita tengah dilanda ketakutan karena virus Corona mampu menyebar dengan mudahnya. Hanya dengan sentuhan. Apalagi, penderita Corona terlihat seperti terkena flu biasa. Kepanikan tersebut membuat kita berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan sebagai tindakan preventif, mulai dari masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan. Bagi Penulis, itu merupakan tanda kalau kita sebenarnya masih takut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/">Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tengah dilanda ketakutan karena virus Corona mampu menyebar dengan mudahnya. Hanya dengan sentuhan. Apalagi, penderita Corona terlihat seperti terkena flu biasa.</p>
<p>Kepanikan tersebut membuat kita berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan sebagai tindakan preventif, mulai dari masker, <em>hand sanitizer</em>, hingga kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan.</p>
<p>Bagi Penulis, itu <strong>merupakan tanda kalau kita sebenarnya masih takut akan kematian</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Secara sederhana, kematian adalah terpisahnya roh dari jasad kita. Di dalam keyakinan yang Penulis anut, kita akan menghadapi penghakiman setelah meninggal dunia sesuai dengan apa yang telah dilakukan.</p>
<p>Kematian menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sebagian besar manusia. Terpisah dari segala sesuatu yang dicintai (keluarga, pasangan, harta) merupakan hal yang sebisa mungkin dihindari untuk dipikirkan.</p>
<p>Bagi sebagian besar orang (terutama yang mencintai kehidupan dunia), <strong>kematian adalah sesuatu yang menakutkan</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kesedihan akan dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan, terlebih jika yang meninggal merupakan orang baik. Kita bisa lihat bagaimana simpati diberikan kepada BCL setelah suami tercintanya meninggal secara mendadak.</p>
<p>Butuh beberapa waktu untuk membuat diri kita bisa kembali menjalani aktivitas dengan normal.  Tak jarang kematian orang yang dicintai mampu mengubah kehidupan seseorang.</p>
<p>Bagi orang yang ditinggalkan, <strong>kematian akan meninggalkan lubang di hati</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada juga orang yang menghampiri kematian. Mereka sudah merasa muak dengan kehidupan, lelah dengan depresi yang diderita, merasa buntu karena tidak menemukan penyelesaian dari masalah yang hadir.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/chester-2-tahun-yang-lalu/">Chester menjadi salah satunya</a>, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Begitupun dengan artis-artis Korea seperti Sulli dan Goo Hara yang kerap mendapatkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">komentar jahat dari netizen</a>.</p>
<p>Bagi orang dengan banyak masalah kehidupan, <strong>kematian merupakan satu-satunya pilihan.</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kematian tidak selalu menjadi duka. Siapa yang bersedih ketika Hitler ditemukan bunuh diri di dalam bunkernya? Atau siapa yang berduka ketika Mussolini digantung ramai-ramai di alun-alun kota?</p>
<p>Sama seperti di film, kematian tokoh antagonis justru disambut gegap gempita. Mereka dianggap sebagai sumber penderitaan, sehingga kepergiannya akan membebaskan mereka.</p>
<p>Bagi orang-orang tertindas, <strong>kematian sang penindas merupakan sebuah berkah untuk mereka</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Adakah manusia yang telah mempersiapkan diri menghadapi kematian? Ada, mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka yang meyakini bahwa dunia ini fana dan ada kehidupan abadi yang menanti di akhirat.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di muka bumi, orang-orang yang taat menjalani perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya. Tak jarang kematian mereka begitu tenang dan terjadi begitu saja.</p>
<p>Bagi orang-orang beriman, <strong>kematian adalah sesuatu yang ditunggu</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Terkadang, kematian bisa menjadi sekadar angka yang lewat begitu saja. Ribuan orang tewas kelaparan di Afrika, <em>nobody cares</em>. Tapi satu Steve Jobs meninggal karena kanker, <em>everyone loses their minds</em>.</p>
<p>Penulis pernah menemukan sebuah kalimat yang berbunyi seperti ini: <em>kematian 1 orang merupakan tragedi, <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">kematian 1.000 orang merupakan statistik</a></em>.</p>
<p>Bagi kita, <strong>kematian 1 orang terkenal lebih menyedihkan dibandingkan kematian 1.000 orang biasa</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Beberapa hari merenungkan tentang kematian membuat Penulis bertanya-tanya kepada diri sendiri, <em><strong>bagaimana kalau aku mati besok?</strong> </em></p>
<p>Kematian seperti apa yang akan Penulis rasakan? Bagaimana kehidupan setelah kematian? Apakah kematian Penulis akan ditangisi? Semua pertanyaan tersebut tiba-tiba lewat begitu saja.</p>
<p>Penulis pernah membayangkan jika kematian benar-benar datang menghampiri secara tiba-tiba, tapi rasanya Penulis tidak perlu membaginya.</p>
<p>Apakah Penulis takut kematian? Untuk saat ini mungkin iya, mengingat dirinya yang masih berlumuran dosa. Penulis tidak bisa membayangkan hukuman seperti apa yang akan Penulis terima nanti.</p>
<p>Di sini, Penulis hanya ingin sama-sama mengingat tentang kematian tersebut. Kematian bisa datang kapan saja tanpa permisi. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara.</p>
<p>Karena sifatnya yang temporer, maka sudah seharusnya kita mengisi kehidupan dengan sesuatu yang baik. Jangan sampai hidup ini berakhir tanpa makna.</p>
<p>Semoga kita makin bisa menghargai kehidupan dengan mengingat kematian yang senantiasa menanti di depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya renungan tentang kematian</p>
<p>Foto: <a href="https://www.theatlantic.com/magazine/archive/2015/04/the-science-of-near-death-experiences/386231/">The Atlantic</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-aku-mati-besok/">Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 19:42:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[autophobia]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Dependency Disorder]]></category>
		<category><![CDATA[fobia]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.</p>
<p>Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis tetap kesulitan tidur.</p>
<p>Lantas, berawal dari sebuah balasan <em>chat</em> di WhatsApp yang menimbulkan kecemasan, penulis menemukan yang namanya <em><strong>Emotional Dependency Disorder </strong></em>(EDD) atau lebih mudah disebut sebagai <strong><em>autophobia</em></strong>. Rasa takut akan sendirian.</p>
<p>Memang butuh dikonfirmasi ke psikiater, akan tetapi penulis merasa inilah yang menyebabkan penulis susah tidur, sering gelisah, hingga kadang terkena serangan panik ringan.</p>
<h3>Apa Itu <em>Autophobia</em>?</h3>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung di atas, <em>autophobia </em>adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa ketakutan ketika sendirian. Akibatnya, akan timbul rasa cemas yang berlebihan, seringkali irasional.</p>
<p>Selain itu, akan muncul juga perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya mungkin terlalu dilebih-lebihkan.</p>
<p>Ketika membaca beberapa sumber, penulis merasa ciri-ciri yang dipaparkan benar-benar sesuai sehingga mengejutkan penulis. Penulis tak menyangka bahwa ada kondisi mental yang benar-benar menggambarkan apa yang penulis rasakan selama ini.</p>
<h3>Ciri-Ciri <em>Autophobia</em></h3>
<div id="attachment_2599" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2599" class="size-large wp-image-2599" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2599" class="wp-caption-text">Autophobia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medicalnewstoday.com/articles/319816.php" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjF1vXc7NXjAhVTXnwKHdpZDgsQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medical News Today</span></a>)</p></div>
<p>Umumnya, orang yang menderita (jika ini memang termasuk gangguan kondisi mental) <em>autophobia </em>akan merasa nyaman jika sedang berada bersama orang lain.</p>
<p>Mungkin ini yang menjelaskan mengapa ketika di rumah, penulis bisa tidur dengan nyaman. Itu pula mengapa ketika adik datang berkunjung ke Jakarta, penulis merasa lebih tenang.</p>
<p>Penderita <em>autophobia </em>cenderung <strong>memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</strong>. Mereka memiliki obsesi untuk memelihara &#8220;kesempurnaan&#8221; dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Penulis merasa memiliki tendensi untuk <strong>memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain</strong>. Kenyataan pahitnya, itu jugalah yang <em>penulis harapkan dari orang lain</em>.</p>
<p>Ciri lainnya adalah <strong>tidak bisa tegas</strong>, cenderung<strong> egois</strong>, <strong>mudah cemas</strong>, <strong>susah beradaptasi </strong>dengan lingkungan baru, dan <strong>suasana hatinya sering berubah-ubah</strong>.</p>
<p>Bahkan, penderita sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakan tidak sebading dengan bahaya yang menyertai kesendirian.</p>
<p>Astaga, penulis benar-benar merasa <em>shock </em>sewaktu membaca ciri-ciri ini. Entah bagaimana ini bisa sangat akurat.</p>
<p>Akibat yang ditimbulkan dari <em>autophobia </em>adalah <strong>ketergantungan dengan orang lain</strong>. Penderita akan sering merasa tidak yakin untuk membuat keputusan atau melakukan sebuah aktivitas. Penulis sering mengalami hal tersebut.</p>
<p>Contoh yang paling terbaru adalah ketika penulis hendak membeli kacamata baru. Sebelum membeli, penulis menelepon orang rumah untuk membantu penulis mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang amat sepele.</p>
<h3>Penyebab <em>Autophobia</em></h3>
<div id="attachment_2598" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2598" class="size-large wp-image-2598" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2598" class="wp-caption-text">Faktor Orangtua (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.handinhandparenting.org/2016/07/why-i-get-so-angry-with-my-kids/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj4jYGo69XjAhVg8HMBHaKcDz8QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Hand in Hand Parenting</span></a>)</p></div>
<p>Ketika membaca penyebab munculnya ketakutan ini, penulis merasa berat untuk menuliskannya di sini.</p>
<p>Menurut sumber, penyebab <em>autophobia </em>adalah <strong>orangtua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anaknya ketika kecil dan cenderung mendikte apapun yang harus dilakukan</strong>.</p>
<p>Selain itu, ketika sang anak berusaha mengambil keputusan, sering kali orangtua tidak menyetujuinya dan memberikan keputusan yang mereka anggap lebih baik untuk sang anak.</p>
<p>Orangtua penulis, yang amat sangat penulis sayangi, memang mendidik seperti itu. Penulis tentu tidak akan menyalahkan mereka karena yakin maksud mereka baik. Apalagi, penulis adalah anak pertama, sehingga wajar jika mendapatkan didikan yang paling ketat.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak menyimpan dendam untuk masalah ini. Bahkan, penulis sudah pernah secara terbuka menyampaikan bagaimana perasaan penulis sewaktu kecil yang cenderung dikekang, dan mereka pun memahaminya.</p>
<p>Hanya saja, akibatnya penulis susah mendapatkan teman ketika masa-masa sekolah. Ketika menemukannya, penulis justru seperti bergantung kepada mereka agar tidak merasa kesepian.</p>
<h3>Mengapa Baru Sekarang?</h3>
<div id="attachment_2600" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2600" class="wp-image-2600 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2600" class="wp-caption-text">Karang Taruna</p></div>
<p>Lantas, mengapa baru akhir-akhir ini saja penulis mengalami ketakutan akan sendirian? Penulis merasa tahu akan jawabannya.</p>
<p>Akibat kekangan orang tua, bisa dibilang penulis tidak memiliki teman yang benar-benar dekat sewaktu sekolah. Ada yang dekat karena satu kompleks perumahan, dua orang, dan kami masih menjalin hubungan dengan baik hingga sekarang bagai saudara.</p>
<p>Jadi, bisa dibilang semasa sekolah <strong>penulis terbiasa sendirian</strong>. Ada teman, ada gebetan, tapi lebih sering sendiri dan merasa ingin sendirian. Ego penulis waktu itu benar-benar tinggi, sehingga penulis merasa gemas dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Lantas, sewaktu kuliah, penulis mulai berusaha untuk menjalin hubungan dengan lebih baik lagi agar bisa memiliki teman-teman dekat lebih banyak.</p>
<p>Selain karena tinggal bersama nenek sehingga lebih bebas, penulis merasa bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik. Penulis pun memiliki teman-teman dekat, yang penulis juluki 11 Pria Tampan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis baru merasakan &#8220;pertemanan&#8221; yang lebih intens adalah ketika <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">membentuk Karang Taruna</a> bersama dua orang yang sudah penulis sebutkan sebelumnya. Di sana, penulis bertemu dan berkenalan dengan semua remaja yang ada di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Banyak yang <em>nyiyir </em>dengan menganggap penulis main bersama anak-anak kecil. Tak apa, mereka memang tidak memahami latar belakang dan masa lalu penulis.</p>
<p>Yang jelas, berkumpul dengan mereka, entah ketika sedang ada program kerja atau sekadar bermain, membuat penulis merasa bahagia dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">merasa dibutuhkan</a>.</p>
<p>Penulis seolah menemukan kepingan yang hilang dari masa kecil penulis. Hal itu membuat penulis amat menyayangi mereka dan seolah rela berbuat apa saja demi mereka (termasuk menunda skripsi dan bekerja).</p>
<p>Akan tetapi, justru karena inilah <em>autophobia </em>penulis dimulai. Ini baru sekadar asumsi, belum terbukti secara medis. Semoga saja salah.</p>
<p>Karena kedekatan yang terjalin akibat pertemuan yang hampir setiap hari, penulis menjadi <strong>takut dilupakan oleh mereka</strong> ketika merantau ke Jakarta. Penulis merasa tergantung dengan mereka agar tidak merasa sendirian.</p>
<p>Mungkin ada pembaca yang ingin tertawa atau menganggapnya <em>lebay</em>, tapi itulah yang penulis rasakan.</p>
<p>Untuk mencegah hal tersebut terjadi, penulis berusaha memberikan perhatian ke mereka meskipun dari jauh. Menanyakan tentang rencana masa depan, komentar di <em>story</em>, dan lain-lain. Mungkin saja, ada yang merasa risih dengan yang penulis lakukan.</p>
<p>Sayang, ketakutan untuk dilupakan (yang pada akhirnya akan membuat penulis merasa sendiri) tidak bisa terobati dengan hal tersebut. Yang ada, ketakutan tersebut semakin membesar hingga mengganggu kesehatan penulis, fisik maupun mental.</p>
<h3>Penanganan <em>Autophobia</em></h3>
<div id="attachment_2601" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2601" class="size-large wp-image-2601" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2601" class="wp-caption-text">Butuh Pendengar (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://web.liramedika.com/news/waktu-yang-tepat-mengunjungi-psikiater/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjt49GC7dXjAhU0huYKHQaZCEgQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">RS Lira Medika</span></a>)</p></div>
<p>Jika terus berlanjut, <em>autophobia </em>bisa berubah menjadi <strong>depresi</strong>. Apalagi jika penulis makin sering  ketakutan, panik, hingga merasa sedih.</p>
<p>Penulis tidak ingin itu terjadi, sehingga berusaha mencari solusi. Mencari pendengar yang bisa memahami diri penulis adalah salah satunya. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas juga bisa menjadi obat.</p>
<p>Selain itu, penulis harus membiasakan diri untuk nyaman ketika sendirian. Penulis juga harus belajar membuat keputusan dengan cepat tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, terutama untuk masalah-masalah sepele.</p>
<p>Yang berat adalah bersikap realistis terhadap kebutuhan orang lain. Penulis harus memahami bahwa mereka, yang penulis beri perhatian, bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka baik-baik saja sebelum bertemu dengan penulis dan punya orang lain yang memberikan dukungan.</p>
<p>Penulis juga harus memahami bahwa setiap orang tidak bisa diberi perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Mereka juga butuh waktu sendiri untuk mengembangkan diri. Yang penulis lakukan selama ini ternyata justru bisa menghambat mereka.</p>
<p><em>Berat, ini sungguh berat&#8230;</em></p>
<p>Penulis juga harus meningkatkan waktu menyendiri. Penulis tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel untuk sekadar mengecek grup. Kasarnya, harus berusaha <em>move on. </em>Mungkin, meningkatkan sikap cuek juga bisa membantu.</p>
<p>Tentu bukan berarti penulis harus menghancurkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik. Tidak. Yang penulis lakukan adalah mengurangi intensitasnya, sehingga tidak berlebihan.</p>
<p>Selain itu, penulis juga harus berusaha lebih jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis akan berusaha menyampaikan apa yang penulis inginkan dan butuhkan dari orang lain secara terbuka dan apa adanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Di dalam hati kecil penulis, ada harapan bahwa semua yang penulis tuliskan di atas salah, penulis tidak mengidap <em>autophobia </em>atau <em>Emotional Dependency Disorder. </em>Sayang, ciri-ciri yang penulis temukan di berbagai sumber benar-benar penulis alami semua.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa bernapas lega karena menemukan salah satu permasalahan yang menyebabkan penulis kerap susah tidur dan gelisah tanpa sebab. Yang harus penulis lakukan adalah berusaha menghilangkan fobia tersebut secara bertahap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Juli 2019, terinspirasi setelah tiba-tiba terkena serangan panik ringan akibat merasa takut akan dilupakan orang lain.</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/mengenal-autophobia">Beauty Journal</a>, <a href="https://doktersehat.com/fobia-takut-sendirian-dependency-disorder/">Dokter Sehat</a>, <a href="https://www.merdeka.com/sehat/kamu-takut-sendirian-bisa-jadi-kamu-idap-gangguan-mental-ini.html">Merdeka</a>, <a href="https://id.m.wikihow.com/Mengatasi-Autophobia-(Fobia-Kesendirian-atau-Kesepian)">Wikihow</a>, <a href="https://www.medcom.id/rona/kesehatan/4ba28Zak-mengapa-seseorang-takut-sendirian">Medcom</a></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@thirdworldhippy">mwangi gatheca</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berhenti Khawatir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2018 16:06:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[khawatir]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[maju]]></category>
		<category><![CDATA[memulai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ragu]]></category>
		<category><![CDATA[risiko]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1846</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah merasa bahwa apa yang akan kita lakukan tidak akan berhasil? Pernahkah merasa berat memulai sesuatu hanya karena kekhawatiran yang belum tentu terbukti benar? Tenang, penulis juga mengalaminya, sering malah. Hal tersebut sangat wajar. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh membiarkan kekhawatiran menghambat langkah kita. Justru, kita harus bisa melawan balik dan mematahkan segala kekhawatiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/">Berhenti Khawatir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah merasa bahwa apa yang akan kita lakukan tidak akan berhasil? Pernahkah merasa berat memulai sesuatu hanya karena kekhawatiran yang belum tentu terbukti benar?</p>
<p>Tenang, penulis juga mengalaminya, sering malah. Hal tersebut sangat wajar. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh membiarkan kekhawatiran menghambat langkah kita. Justru, kita harus bisa melawan balik dan mematahkan segala kekhawatiran tersebut.</p>
<p>Mungkin pembaca sekalian juga pernah membuktikannya sendiri. Sewaktu berusaha menangkis kekhawatiran tersebut dan melakukan apa yang ingin dilakukan, ternyata kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi.</p>
<p>Contoh kecilnya, ya ketika penulis membuat blog ini. Sewaktu akan membuat blog ini, penulis khawatir bagaimana jika nantinya blog ini tidak terurus, bagaimana jika nanti tidak ada yang baca, dan &#8220;bagaimana jika&#8221; lainnya.</p>
<p>Sewaktu dijalani yang diawali dengan membeli domain dan hosting serta template websitenya, kekhawatiran tersebut tidak pernah terjadi. Sampai saat ini, penulis masih rutin menulis blog walaupun semenjak kerja agak tersendat.</p>
<p><strong>Khawatir</strong>, menurut definisi di KBBI, merupakan <em>takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang <span style="text-decoration: underline;">belum diketahui dengan pasti</span></em>. Kalau belum pasti, lantas mengapa perlu ditakuti hingga membuat kita urung melangkah?</p>
<p>Terkadang rasa khawatir juga muncul akibat risiko yang bisa timbul akibat pilihan kita. Akan tetapi, bukankah setiap tindakan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensinya sendiri? Lantas mengapa merasa takut?</p>
<p>Rasa khawatir hanya akan membuat kita ragu dan takut, meskipun di sisi lain membuat kita <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">waspada</a>. Oleh karena itu, kita harus bisa memanfaatkan kekhawatiran tersebut menjadi sesuatu yang positif, ya salah satunya meningkatkan kewaspadaan tersebut.</p>
<p>Bolehlah ketika akan memulai hal baru atau hendak memutuskan sesuatu kekhawatiran tersebut muncul. Hanya saja, jangan sampai kekhawatiran tersebut menghambat langkah kita untuk maju. Kita harus bisa menghentikan kekhawatiran tersebut secepatnya. Percayalah, banyak kekhawatiran tersebut tidak akan pernah terjadi,</p>
<p>Cara terbaik melawan kekhawatiran adalah dengan melakukan sesegera mungkin apa yang hendak dihambat oleh kekhawatiran tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Desember 2018, terinspirasi dari diri penulis sendiri yang mudah khawatir</p>
<p>Photo by <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@hamann">Niklas Hamann</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/">Berhenti Khawatir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/berhenti-khawatir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
