Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain

Penulis kerap berbagi seputar Karang Taruna yang pernah dipimpin. Melalui tulisan-tulisan tersebut, penulis ingin menyebarkan semangat untuk membangun lingkungan kita tinggal dimulai dari hal yang terkecil.

Pada tulisan Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna? penulis sudah menjabarkan beberapa alasan mengapa penulis melakukannya.

Tapi ketika direnungi sekali lagi, ada satu alasan lain. Penulis merasa keberadaannya dibutuhkan oleh orang lain.

Ada yang Sama dengan Tiada

Rindu Sekolah? (Feliphe Schiarolli)

Penulis termasuk orang yang masa sekolahnya biasa saja. Bisa dibilang, penulis tidak pernah merasa rindu dengan masa-masa sekolah seperti kebanyakan orang.

Mungkin, salah satu alasannya adalah karena tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Ada sih teman SMP yang dekat, tapi itupun karena kami tinggal di satu kompleks yang sama. Untunglah seperti itu.

Ketika insomnia, penulis sering teringat ke masa lalu. Sedihnya, lebih banyak hal buruk yang melintas di ingatan penulis. Salah satu yang paling sering adalah betapa tidak dianggapnya keberadaan penulis.

Dengan kata lain, penulis merasa ada dan tidak adanya diri penulis di suatu lingkungan itu sama saja. Teman-teman sekolah penulis tidak akan menyadari ketiadaan penulis. Istilah lainnya, penulis hanyalah pelengkap kelas.

Pada waktu itu, penulis tidak terlalu mempedulikan hal tersebut karena pada dasarnya penulis merupakan orang introvert yang lebih betah sendirian di rumah. Bahkan, termasuk yang susah untuk diajak main.

Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, penulis merasakan adanya sedikit penyesalan, terutama ketika melihat teman-teman sekolah bisa berkumpul di antara mereka untuk reuni kecil-kecilan.

Berkumpul dengan teman-teman lama seperti itu nampaknya hampir mustahil terjadi kepada diri penulis, kecuali ada perubahan.

Berubah Dimulai dari Diri Sendiri

Berubah (Ross Findon)

Pada waktu kuliah, penulis mencoba untuk lebih membuka diri. Hasilnya, penulis bisa berteman dengan lebih baik, setidaknya dari kacamata penulis sendiri.

Penulis berusaha menjaga relasi baik dengan mereka, sesuatu yang tidak penulis lakukan di masa sekolah. Hal ini membuktikan, bahwa perubahan memang harus dilakukan dari diri sendiri terlebih dahulu.

Selain itu, penulis percaya dengan yang namanya hukum kasualitas, semua akibat berawal dari sebuah atau beberapa sebab. Segala hal yang terjadi memiliki pemicunya, bukan terjadi karena secara acak.

Bisa jadi, penulis mendapatkan perlakukan buruk karena penulis pernah memperlakukan orang lain secara buruk pula. Bisa jadi, penulis merasa tidak dianggap keberadaannya karena pernah tidak menganggap keberadaan orang lain juga.

Hanya merutuk diri sendiri dan menyesali masa lalu tidak akan membawa dampak apa-apa. Lebih baik, berfokus dengan apa yang bisa kita perbaiki saat ini agar kejadian-kejadian tersebut tidak terulang di masa depan.

Salah satu cara yang bisa menopang perubahan tersebut adalah dengan membuang segala pikiran negatif yang tidak diperlukan dan hanya berdasarkan asumsi semata.

Contoh, melihat foto teman-teman lama sedang berkumpul, tak perlu berpikir “kok aku enggak diajak ya, apa mereka benci sama aku”. Mungkin kita memang tidak terlalu dekat dengan mereka, sehingga lebih baik tidak usah terlalu dipikirkan.

Alangkah lebih baik jika kita memiliki inisiatif untuk membuat acara sendiri dengan teman-teman dekat tanpa diiringi perasaan ingin balas dendam. Kalau niatnya buruk seperti itu, kita hanya akan menambah dosa yang tidak perlu.

Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain

Mungkin penulis merasa senang menjadi keberadaan yang dibutuhkan orang lain karena pernah merasakan pahitnya tidak dianggap oleh orang lain.

Ketika merasa dibutuhkan, penulis akan berusaha untuk memberikan yang terbaik, entah menjadi pendengar dengan penuh empati, entah menyisihkan tenaga untuk membantu semaksimal mungkin, atau hal-hal lain yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Daripada memikirkan orang-orang yang tidak peduli dengan kita, lebih baik kita mencurahkan diri untuk orang-orang yang berarti dalam hidup ini, yang menyayangi kita, dan mungkin membutuhkan bantuan kita.

Dengan demikian, kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain, bahkan bagi lingkungan sekitar kita. Kita bisa menjadi keberadaan yang dibutuhkan oleh orang lain.

 

 

Kebayoran Lama, 18 Mei 2019, terinspirasi setelah merenungi masa-masa lalu yang penuh dengan kesuraman

Foto: J W