Bagaimana Kalau Aku Mati Besok?

Kita tengah dilanda ketakutan karena virus Corona mampu menyebar dengan mudahnya. Hanya dengan sentuhan. Apalagi, penderita Corona terlihat seperti terkena flu biasa.

Kepanikan tersebut membuat kita berbondong-bondong membeli berbagai kebutuhan sebagai tindakan preventif, mulai dari masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan.

Bagi Penulis, itu merupakan tanda kalau kita sebenarnya masih takut akan kematian.

***

Secara sederhana, kematian adalah terpisahnya roh dari jasad kita. Di dalam keyakinan yang Penulis anut, kita akan menghadapi penghakiman setelah meninggal dunia sesuai dengan apa yang telah dilakukan.

Kematian menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sebagian besar manusia. Terpisah dari segala sesuatu yang dicintai (keluarga, pasangan, harta) merupakan hal yang sebisa mungkin dihindari untuk dipikirkan.

Bagi sebagian besar orang (terutama yang mencintai kehidupan dunia), kematian adalah sesuatu yang menakutkan.

***

Kesedihan akan dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan, terlebih jika yang meninggal merupakan orang baik. Kita bisa lihat bagaimana simpati diberikan kepada BCL setelah suami tercintanya meninggal secara mendadak.

Butuh beberapa waktu untuk membuat diri kita bisa kembali menjalani aktivitas dengan normal.  Tak jarang kematian orang yang dicintai mampu mengubah kehidupan seseorang.

Bagi orang yang ditinggalkan, kematian akan meninggalkan lubang di hati.

***

Ada juga orang yang menghampiri kematian. Mereka sudah merasa muak dengan kehidupan, lelah dengan depresi yang diderita, merasa buntu karena tidak menemukan penyelesaian dari masalah yang hadir.

Chester menjadi salah satunya, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Begitupun dengan artis-artis Korea seperti Sulli dan Goo Hara yang kerap mendapatkan komentar jahat dari netizen.

Bagi orang dengan banyak masalah kehidupan, kematian merupakan satu-satunya pilihan.

***

Kematian tidak selalu menjadi duka. Siapa yang bersedih ketika Hitler ditemukan bunuh diri di dalam bunkernya? Atau siapa yang berduka ketika Mussolini digantung ramai-ramai di alun-alun kota?

Sama seperti di film, kematian tokoh antagonis justru disambut gegap gempita. Mereka dianggap sebagai sumber penderitaan, sehingga kepergiannya akan membebaskan mereka.

Bagi orang-orang tertindas, kematian sang penindas merupakan sebuah berkah untuk mereka.

***

Adakah manusia yang telah mempersiapkan diri menghadapi kematian? Ada, mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka yang meyakini bahwa dunia ini fana dan ada kehidupan abadi yang menanti di akhirat.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di muka bumi, orang-orang yang taat menjalani perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya. Tak jarang kematian mereka begitu tenang dan terjadi begitu saja.

Bagi orang-orang beriman, kematian adalah sesuatu yang ditunggu.

***

Terkadang, kematian bisa menjadi sekadar angka yang lewat begitu saja. Ribuan orang tewas kelaparan di Afrika, nobody cares. Tapi satu Steve Jobs meninggal karena kanker, everyone loses their minds.

Penulis pernah menemukan sebuah kalimat yang berbunyi seperti ini: kematian 1 orang merupakan tragedi, kematian 1.000 orang merupakan statistik.

Bagi kita, kematian 1 orang terkenal lebih menyedihkan dibandingkan kematian 1.000 orang biasa.

***

Beberapa hari merenungkan tentang kematian membuat Penulis bertanya-tanya kepada diri sendiri, bagaimana kalau aku mati besok? 

Kematian seperti apa yang akan Penulis rasakan? Bagaimana kehidupan setelah kematian? Apakah kematian Penulis akan ditangisi? Semua pertanyaan tersebut tiba-tiba lewat begitu saja.

Penulis pernah membayangkan jika kematian benar-benar datang menghampiri secara tiba-tiba, tapi rasanya Penulis tidak perlu membaginya.

Apakah Penulis takut kematian? Untuk saat ini mungkin iya, mengingat dirinya yang masih berlumuran dosa. Penulis tidak bisa membayangkan hukuman seperti apa yang akan Penulis terima nanti.

Di sini, Penulis hanya ingin sama-sama mengingat tentang kematian tersebut. Kematian bisa datang kapan saja tanpa permisi. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara.

Karena sifatnya yang temporer, maka sudah seharusnya kita mengisi kehidupan dengan sesuatu yang baik. Jangan sampai hidup ini berakhir tanpa makna.

Semoga kita makin bisa menghargai kehidupan dengan mengingat kematian yang senantiasa menanti di depan.

 

 

Kebayoran Lama, 10 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya renungan tentang kematian

Foto: The Atlantic