<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>value Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/value/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/value/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Jun 2024 08:39:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>value Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/value/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 08:39:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7462</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen &#8220;lawas&#8221; seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai cryptocurrency. Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/">Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, tren investasi di kalangan generasi muda semakin naik. Bukan lagi instrumen &#8220;lawas&#8221; seperti emas dan properti, melainkan berbagai instrumen yang menggunakan platform digital seperti reksadana, saham, hinggai <em>cryptocurrency</em>.</p>



<p>Di satu sisi, investasi itu menjadi hal yang sangat penting dengan banyak tujuan, entah memutar uang agar menjadi lebih banyak, tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Penulis sendiri telah mencoba beberapa instrumen investasi.</p>



<p>Di sisi lain, banyak yang salah kaprah tentang investasi dan meniatkannya hanya sebagai cara untuk kaya dengan instan. Banyak orang-orang yang hanya FOMO dan ikut-ikutan tanpa benar-benar memahami instrumen yang mereka investasikan. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca The Art of the Good Life" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Investasi Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tren Saham META Lima Tahun Terakhir </figcaption></figure>



<p>Penulis ingin berbagi sedikit tentang investasi yang pernah dicoba, meskipun tidak banyak. Cerita ini bukan rekomendasi ataupun anjuran, hanya berbagi pengalaman saja mana yang berhasil cuan mana yang boncos.</p>



<p>Investasi pertama yang pernah Penulis coba adalah<strong> emas digital </strong>menggunakan platform <strong>Tokopedia</strong>. Emas adalah instrumen yang relatif aman, sehingga Penulis berhasil cuan setelah &#8220;menyimpannya&#8221; cukup lama.</p>



<p>Setelah itu, Penulis berusaha merambah ke investasi lain karena merasa pergerakan emas cukup lambat. Ada dua instrumen yang Penulis pilih, yakni <strong>reksadana </strong>dan <strong>saham</strong>. Untuk reksadana Penulis memilih <strong>Bibit</strong>, sedangkan saham memilih <strong>Ajaib</strong>.</p>



<p>Untuk yang belum tahu, secara sederhana beda dari saham dan reksadana adalah jika di saham kita memilih sendiri saham apa yang dibeli dan kapan membelinya, maka di reksadana kita akan menyerahkan dana kita ke manajer investasi untuk dikelola. </p>



<p>Di Bibit, ada tiga jenis reksadana, yakni <strong>Reksadana Pasar Uang</strong>, <strong>Obligasi</strong>, dan <strong>Saham</strong>. Untuk alokasinya, Penulis saat ini membaginya 38% di Pasar Uang, 47% di Obligasi, dan 15% di Saham. Selain Saham yang boncos, dua jenis lainnya berhasil mendatangkan cuan.</p>



<p>Untuk saham di Ajaib, Penulis memiliki empat jenis saham yang semuanya BUMN, yakni <strong>ANTM (Aneka Tambang)</strong>,<strong> PTBA (Bukit Asam)</strong>, <strong>TLKM (Telkom Indonesia)</strong>, dan <strong>WIKA (Wijaya Karya)</strong>. Keempat-empatnya minus hingga ke tahap yang bikin sakit mata.</p>



<p>Selain saham Indonesia, Penulis juga mencoba investasi saham perusahaan luar menggunakan platform <strong>GoTrade</strong>. Ada lima perusahaan yang Penulis miliki sahamnya, yakni <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/kelihaian-apple-dalam-menutupi-kekurangannya/"><strong>Apple</strong></a>, <strong>Advanced Micro Devices (AMD)</strong>, <strong>Google</strong>, <a href="https://whathefan.com/olahraga/daftar-pemain-manchester-united-yang-ingin-saya-jual-musim-depan/"><strong>Manchester United (MU)</strong></a>, dan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/"><strong>Meta (Facebook)</strong>.</a> </p>



<p>Hanya AMD dan MU yang minus karena Penulis membelinya tidak di waktu yang tepat, sedangkan tiga lainnya berhasil mendatangkan cuan. Bahkan, kenaikannya bisa sampai ratusan kali lipat karena Penulis membelinya ketika banyak saham teknologi turun di masa pandemi.</p>



<p>Penulis tidak pernah mencoba <em><strong>cryptocurrency </strong></em>karena beberapa hal alasan, seperti merasa konsep <em>crypto </em>yang wujud barangnya tidak jelas, kenaikan dan penurunan harganya yang tergantung <em>demand</em>, hingga status halal-haramnya yang masih simpang-siur. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga pernah mendengar dari temannya yang mencoba Deposito (konsep menabung di bank di mana nasabah tidak boleh mengambil uangnya untuk jangka waktu tertentu), di mana akhirnya ia harus penalti karena harus mengambil uangnya sebelum waktunya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Investasi Bukan Sarana untuk Kaya Instan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7472" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-2-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kasus Anjloknya Nilai LUNA (<a href="https://www.coolwallet.io/blog/terra-luna-and-ust-crypto-crash-what-happened/">CoolWallet</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis mulai berinvestasi ketika mulai bekerja, tepatnya ketika masa pandemi. Saat itu, tren investasi memang mulai naik dengan narasi &#8220;persiapan masa tua&#8221; dan &#8220;membiarkan uang yang bekerja untuk kita.&#8221; Bisa dibilang, mungkin waktu itu Penulis juga FOMO.</p>



<p>Uang yang Penulis investasikan pun uang dingin alias tabungan, bukan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-berinvestasi-dengan-uang-panas/">uang panas</a>. Jumlah yang Penulis investasikan pun tidak banyak karena niatnya memang bukan untuk cepat kaya, melainkan lebih untuk menabung. Kalau nabung di bank, kan, uangnya tidak bertambah.</p>



<p>Nah, ketika Penulis mengamati tren investasi sekarang terutama di generasi muda, kebanyakan niatnya<strong> memang ingin kaya dengan cepat dan instan</strong>. Hal ini terbukti dari banyaknya jargon bernada seperti &#8220;McLaren lu warna apa, bos?&#8221; yang menunjukkan materialisme.</p>



<p>Teman Penulis ada yang mengikuti kelas investasi seharga 17 juta dari seorang <em>influencer </em>terkenal. Ia mengatakan kalau isi kelas tersebut memang daging dan bermanfaat untuk orang tepat. Saat Penulis tanya berapa persen orang yang tepat tersebut, ia menjawab hanya 5%.</p>



<p>Inilah yang Penulis khawatirkan: <strong>investasi karena FOMO dan ingin kaya secara instan</strong>. Akibatnya, bisa jadi uang yang diinvestasikan tersebut merupakan uang hasil hutang ataupun memanfaatkan pinjaman <em>online</em>, dengan harapan uang yang diputar akan berkembang biak secara cepat.</p>



<p>Mungkin Pembaca masih ingat kasus pembunuhan yang dilakukan masalah UI akibat terlilit hutang hingga 80 juta yang ia gunakan untuk berinvestasi di <em>cryptocurrency</em>. Contoh lain adalah ketika banyak orang kehilangan uang begitu saja ketika nilai LUNA anjlok.</p>



<p>Sampai sekarang, Penulis masih meyakini tidak ada cara instan yang benar untuk menjadi kaya. Kalau kita bukan anak konglomerat, butuh proses yang panjang dan terjal untuk bisa menjadi kaya. <strong>Jangan berharap bisa kaya instan dari investasi</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Investasi Itu Butuh Income</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7473" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/terlalu-fokus-investasi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">&#8220;McLaren lu warna apa, bos?&#8221; (<a href="https://www.roadandtrack.com/car-culture/a60514821/mclaren-f1-greatest-cars/">Road &amp; Track</a>)</figcaption></figure>



<p>Satu hal lain yang membuat Penulis merasa miris adalah ada beberapa generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah merasa ingin fokus ke investasi hingga merasa pendidikan itu tidak penting sama sekali. Bahkan, tak sedikit yang sampai memutuskan untuk berhenti sekolah/kuliah.</p>



<p>Bukan hanya karena masalah pendidikan itu penting, tapi Penulis merasa miris betapa salahnya <em>mindset </em>mereka dengan menjadikan <strong>kekayaan sebagai tujuan utama</strong> <strong>hidup</strong> dan seolah-olah hal lainnya (termasuk pendidikan) menjadi tidak penting. </p>



<p>Selain itu, banyak yang lupa kalau investasi itu butuh dana untuk diinvestasikan. Penulis tadi sudah menyinggung betapa bahayanya jika kita menggunakan uang panas untuk diinvestasikan, apalagi ke instrumen yang risikonya tinggi seperti <em>crypto</em>.</p>



<p>Kecuali kalau kita anak konglomerat yang diam saja dapat uang, mungkin masih bisa. Akan tetapi, tentu hal tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Mayoritas ya harus berjuang dan bekerja dulu untuk bisa mendapatkan dana yang bisa diinvestasikan. Tidak mungkin, kan, mengandalkan uang saku dari orang tua terus?</p>



<p>Oleh karena itu, kita butuh bekerja. Untuk bisa bekerja, kita butuh <em>skill</em> yang bisa didapatkan dari mana saja, tidak hanya dari jalur pendidikan. Nah, inilah yang sering diabaikan oleh generasi muda, di mana mereka <strong>terlalu fokus investasi hingga lupa mengembangkan diri</strong>. </p>



<p>Mereka ingin kaya dengan cepat sampai lupa kalau punya <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri itu sangat penting. Mereka ingin kaya secara instan, tapi tidak ada pemasukan dana yang stabil untuk bisa diinvestasikan.</p>



<p><em>Skill </em>tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah atau universitas, ada banyak sarana untuk bisa meningkatkan <em>skill</em>, entah dari YouTube, mengikuti kelas <em>online</em>, ikut orang untuk menyerap ilmunya, dan lain sebagainya. Apalagi, sekarang serba mudah dan bisa diakses setiap saat.</p>



<p>Kalau menurut Penulis, cara paling ideal untuk berinvestasi adalah kita<strong> fokus mengembangkan dulu diri kita agar memiliki <em>skill </em>dan <em>value </em>yang tinggi</strong>. Setelah itu, kita bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak dan <strong>sebagian dari gaji tersebut bisa kita investasikan</strong>.   </p>



<p>Semua orang ingin menjadi kaya, tapi jangan sampai itu yang menjadi tujuan hidup, melainkan apa yang ingin dilakukan ketika berhasil menjadi kaya. Misal, ingin kaya karena banyak ingin bersedekah dan bermanfaat untuk sekitarnya, bukan untuk pamer McLaren.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebagai <em>disclaimer</em>, Penulis tidak melarang siapapun untuk melakukan investasi. Silakan saja, toh uang yang dipakai bukan uang Penulis. Di sini, Penulis hanya ingin saling mengingatkan kalau jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan diri sendiri. </p>



<p>Penulis sendiri sebenarnya belum rutin melakukan investasi setiap bulan karena uangnya kepakai untuk keperluan lain (seperti membeli <em>board game</em>, ehem). Berinvestasi dalam hidup Penulis hanya sebagai <em>compliment </em>saja, bukan menjadi aktivitas utama.</p>



<p>Berinvestasi itu penting, dan Penulis bersyukur di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk melakukan investasi. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu fokus investasi sampai lupa mengembangkan aset terbesar kita, yaitu diri kita sendiri.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 18 Juni 2024, terinspirasi setelah melihat fenomena di mana banyak orang FOMO investasi sampai lupa mengembangkan skill diri</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://prosper-ifa.co.uk/why-are-fewer-people-investing-in-the-markets/">Prosper Wealth Management</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/">Terlalu Fokus Investasi Sampai Lupa Mengembangkan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terlalu-fokus-investasi-sampai-lupa-mengembangkan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jun 2024 15:44:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Z]]></category>
		<category><![CDATA[interopeksi]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7398</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221; Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/doraemon_hari_ini/?hl=en">@doraemon_hari_ini</a> yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, &#8220;Kan diberi oleh bapak.&#8221;</p>



<p>Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.</p>



<p>Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/06/smartphone-adalah-distraksi-terbesar-untuk-produktivitas-banner.jpg 1280w " alt="Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">Smartphone adalah Distraksi Terberat untuk Produktivitas</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7404" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Gen Z yang Menganggur (<a href="https://parentingteensandtweens.com/8-genius-responses-for-when-your-teen-is-being-lazy-and-entitled/">Parenting Teens and Tweens</a>)</figcaption></figure>



<p>Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun. </p>



<p>Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya <em>miss-match</em>,&#8221; ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.</p>
</blockquote>



<p>Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.</p>



<p>Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar <em>full </em>menganggur.</p>



<p>Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.</p>



<p>Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.</p>



<p>Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang &#8220;curhat&#8221; mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7405" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/menyalahkan-kondisi-terus-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (<a href="https://www.ppic.org/blog/students-prepare-for-ap-exams-during-covid-19/teenager-girl-studying-at-home/">PPIC</a>)</figcaption></figure>



<p>Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: <strong>soal sulit dari Pak Guru</strong> atau <strong>ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal</strong>?</p>



<p>Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya. </p>



<p>Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah u<strong>saha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru</strong>.</p>



<p>Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.</p>



<p>Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang <strong>kurang mengembangkan <em>value </em>diri</strong>, baik <em>hard skill </em>maupun <em>soft skill</em>.</p>



<p>Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-main-hp-kombo-maut/">menghabiskan waktunya untuk rebahan</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <em>push rank game </em>HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.</p>



<p>Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/artikel-pada-tulisan-ini-dibuat-menggunakan-ai-chatgpt/">bahkan AI sekalipun</a>. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.</p>



<p>Sebagai contoh, <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">Penulis yang lulusan IT</a> pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.</p>



<p>Yang tidak kalah penting dari <em>hard skill </em>adalah <em>soft skill</em>. Percuma saja jika memiliki <em>hard</em> <em>skill</em>, tapi <em>attitude-</em>nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya. </p>



<p>Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.</p>



<p>Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki <em>skill </em>yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi &#8220;orang dalam&#8221; untuk kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.</p>



<p>Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.</p>



<p>Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan <em>skill </em>sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus <em>skill </em>untuk meningkatkan <em>value </em>diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.instagram.com/p/C7TJ7PYN8wB/">Doraemon Hari Ini</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240520180812-4-539841/10-juta-gen-z-nganggur-menaker-ida-beberkan-sumber-masalah-utama">10 Juta Gen Z Nganggur, Menaker Ida Beberkan Sumber Masalah Utama (cnbcindonesia.com)</a></li>



<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20240604144503-4-543728/di-depan-sri-mulyani-dpr-angkat-isu-10-juta-gen-z-nganggur">Di Depan Sri Mulyani, DPR Angkat Isu 10 Juta Gen Z Nganggur (cnbcindonesia.com)</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/">Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menyalahkan-kondisi-terus-hingga-lupa-interopeksi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
