Tokoh & Sejarah

Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya

Published

on

Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.

Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang.

Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.

Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna

Bambang Ekalaya dan Patung Dorna (Wikipedia)

Bambang Ekalaya, dikenal juga sebagai Palgunadi, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun.

Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan Resi Dorna, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.

Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.

Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.

Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.

Arjuna pun rewel dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. Ia meminta jempol kanan Ekalaya!

Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.

Pemujaan yang Berujung ke Kematian

Bambang Ekalaya (Salam Yogyakarta)

Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, Dewi Anggraeni, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.

Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.

Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami.

Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.

Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.

Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!

Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun meminta Cincin Mustika Ampal yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.

Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja. Di mata Ekalaya, ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini.

Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.

“Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat”

Patrick Sedang Menasehati SpongeBob (YouTube)

Dalam salah satu episode SpongeBob SquarePants yang berjudul “I’m Your Biggest Fanatic”, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau “pemujaan yang berlebihan tidak sehat.” Quote tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.

Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan mindset bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.

Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah karena kemampuannya sendiri, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki privilege seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.

Namun, tampaknya mindset Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.

Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari tokoh politik, pacar, idol K-Pop, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.

Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.

Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa photocard idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.

Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.


Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kısah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Fanandi's Choice

Exit mobile version