Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders

Published

on

Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.

Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.

Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders

  • Judul: The Tokyo Zodiac Murders
  • Penulis: Soji Shimada
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Agustus 2025
  • Tebal: 360 halaman
  • ISBN: 9789792285918
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders

Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.

Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.

Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.

Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.

Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.

Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.

Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders

Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.

Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.

Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.

Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.

Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.

Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.

Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.

Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.

Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.

Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.

Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.

Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.

Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.

SKOR: 8/10


Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Fanandi's Choice

Exit mobile version