Sosial Budaya

Belajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?

Published

on

Beberapa bulan lalu, seorang teman Penulis bertanya seputar sejarah. Bukan karena Penulis ahli sejarah, tapi karena dia tahu Penulis suka baca buku sejarah. Dia ingin mengonfirmasi beberapa fakta sejarah yang ia temukan di kolom komentar sebuah pos di TikTok.

Penulis tak perlu menjabarkan daftar sejarah yang ia ingin konfirmasi, yang jelas banyak fakta yang terpapar di sana cukup mengejutkan dan bikin shock. Penulis pun berusaha mengonfirmasi beberapa fakta yang kebetulan Penulis ketahui.

Nah, belum lama ini, ternyata ada beberapa akun sejarah seperti historia.id yang juga membuat “klarifikasi” atas fakta-fakta sejarah yang beredar di kolom komentar di TikTok. Mereka memaparkan sumber-sumber yang lebih kredibel untuk merespons hal tersebut.

Fenomena ini pun berhasil menggelitik Penulis sebagai penggemar sejarah (bukan ahli sejarah!). Alasannya, banyak yang langsung menelan bulat-bulat fakta sejarah tersebut. Rasanya tak banyak yang berusaha mencari konfirmasi seperti yang dilakukan teman Penulis.

Mengapa Tidak Boleh Belajar Sejarah (Hanya) dari TikTok?

Belajar Sejarah Bermodal TikTok (cottonbro studio)

Penulis biasa membaca sejarah seutuh mungkin, atau setidaknya menonton video esai di YouTube. Baik di buku maupun YouTube, penjabaran sejarah kerap disajikan secara kronologis, bukan informasi sepotong-potong yang sumbernya tidak jelas atau hanya sekadar desas-desus.

Maka dari itu, ketika mengetahui di TikTok ada banyak potongan sejarah yang sumbernya tak jelas, Penulis pun merasa ini bukan sesuatu yang bisa didiamkan begitu saja. Gawat kalau kita sampai terbiasa mempercayai sesuatu yang tak jelas dari mana asalnya.

Penulis paham kehadiran media sosial seperti TikTok memang memudahkan kita untuk mengakses berbagai informasi, termasuk sejarah. Namun, arus informasinya terlalu bebas, sehingga siapa pun bisa membagikan informasi dan dianggap benar.

Analoginya begini. Ketika mendengarkan informasi seputar kesehatan, tentu kita harus mengecek siapa yang mengatakan hal tersebut. Misal yang menyampaikan seorang dokter, maka kecil kemungkinan kalau informasi yang disampaikan itu salah atau menyesatkan.

Nah, hal yang sama seharusnya juga berlaku dengan topik sejarah. Kalau orang yang menyampaikan informasi adalah ahli sejarah atau minimal content creator yang terkenal memang selalu melakukan riset mendalam, kita bisa mempercayainya.

Akan tetapi, kalau yang menyampaikan hanya random user yang hanya mengetikkan beberapa baris kalimat di kolom komentar, tentu kita perlu mengecek kebenarannya. Fakta yang ia anggap benar, bisa jadi ternyata tidak pernah terbukti dan hanya menjadi sebuah mitos.

Bayangkan jika kita mempercayai fakta sejarah yang keliru itu, lantas menyebarkannya kepada orang lain. Bukankah itu sama dengan kita menyebarkan hoaks? Yang lebih bahaya, sesuatu yang salah, jika diyakini mayoritas, pada akhirnya akan dianggap benar.

Apakah Tidak Boleh Belajar Sejarah dari TikTok?

Mari Biasakan Recheck Fakta yang Kita Dapatkan (Melissa Thomas)

Bukannya tidak boleh kita belajar sejarah dari TikTok, toh Penulis yakin banyak content creator yang cukup kredibel dan melakukan riset mendalam sebelum membuat konten. Namun, kita harus lebih kritis dan selektif dalam memilih mana yang bisa dipercaya.

Justru, Penulis berharap konten-konten sejarah di TikTok bisa menimbulkan rasa penasaran bagi penontonnya, lalu mereka jadi mencari informasi lebih lengkapnya di buku maupun video esai. Penulis sangat ingin topik sejarah jadi topik umum di tongkrongan.

Yang Penulis khawatirkan di sini adalah bagaimana masyarakat belajar sejarah hanya dari beberapa kalimat di kolom komentar, seperti yang ditunjukkan oleh teman Penulis. Apalagi, ternyata banyak fakta tersebut terbukti keliru atau tidak tepat.

Kita tahu kalau literasi masyarakat kita cukup rendah. Baru baca judul berita saja tanpa membaca isinya sudah langsung tersulut emosi dan menyimpulkan sendiri. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan fenomena yang sedang Penulis bahas ini.

Penulis bersyukur karena masih ada pihak-pihak yang berusaha mengoreksi hal ini dengan memaparkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Walau tak yakin sanggahan tersebut akan sampai ke semua orang, setidaknya ada usaha untuk memberikan fakta yang benar.

Namun, namanya orang Indonesia, sudah disampaikan fakta dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan pun masih ngeyel. Mereka hanya bermodalkan keyakinan bahwa apa yang mereka yakini benar, pendapat selain mereka itu salah.

Padahal yang namanya adu argumen, ya yang siapa sumbernya lebih kuat yang menang. Namun, di sini rasanya siapa yang ngotot itu yang menang. Kalau kata orang Jawa, sing waras ngalah. Ironi memang, karena untuk mempertahankan kebenaran pun kita bisa kalah.

Walau begitu, Penulis tetap berharap ke depannya kita bisa makin kritis dan tak malas melakukan recheck ketika mendapatkan suatu informasi, entah itu topik sejarah maupun yang lainnya.

Di era informasi seperti saat ini, kita harus lebih pandai dalam membedakan mana yang benar dan mana yang kurang benar. Masalah fakta sejarah di TikTok ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari permasalahan yang lebih besar.


Lawang, 21 Mei 2025, terinspirasi setelah banyaknya konten sanggahan atas fakta sejarah yang tersebar di kolom komentar TikTok

Foto Featured Image: Suzy Hazelwood

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Fanandi's Choice

Exit mobile version