Tokoh & Sejarah

Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan

Published

on

Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.

Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.

Penulis memang baru “berkenalan” dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.

Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca

Koleksi Higashino Penulis

Ketika melihat novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.

Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa “dipeluk” oleh buku ini karena ceritanya yang heartwarming dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).

Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih The Devotion of Suspect X. Penulis benar-benar terkejut dengan plot twist yang ada di buku ini.

Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah A Midsummer’s Equation. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.

Malice menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya reverse psychology di sini.

Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan review-nya di blog ini, yakni Salvation of a Saint (Dosa Malaikat) dan The Newcomer (Pembunuhan di Nihonbashi). Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.

Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo

Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi mengapa pelaku melakukannya. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.

Trik yang digunakan tidak akan se-njelimet cerita-cerita di Detective Conan maupun Sherlock Holmes. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya.

Seringnya, yang menjadi plot twist bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan mengapa hal tersebut dilakukan. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan.

Kritik Penulis hampir di semua artikel review novelnya sama, yakni terkadang proses investigasinya berbelit-belit. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.

Pengecualian jelas terdapat pada Keajaiban Toko Kelontong Namiya, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre slice of life seperti novel ini?

***

Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.

Karya terakhir Keigo yang berjudul Eternal Memory akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.

Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.


Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino

Sumber Artikel:

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Batalkan balasan

Fanandi's Choice

Exit mobile version