<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Leon dan Kenji (Buku 1) Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Nov 2018 00:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Leon dan Kenji (Buku 1) Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-karakter-lain-terakhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-karakter-lain-terakhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2018 00:44:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[bagian ekstra]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1695</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya. Malik Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-karakter-lain-terakhir/">Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.</p>
<p><strong>Malik</strong></p>
<p>Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1696" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/malik.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p><strong>Malik</strong> adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.</p>
<p>Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa <strong>Malik</strong> adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap <strong>Malik</strong> seperti karakter Joker pada serial Batman.</p>
<p>Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata <strong>Malik</strong> memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua <strong>Leon dan Kenji</strong>!</p>
<p><strong>Para Kakak Pembimbing OSIS</strong></p>
<p>Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.</p>
<p>Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah <strong>Aan </strong>yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang <em>ngelamak</em>. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.</p>
<p><strong>Rudi dan Sinta</strong></p>
<p>Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan <strong>Rudi</strong>, lantas bertemu dengan <strong>Sinta</strong> di kantin.</p>
<p>Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.</p>
<p><strong>Paman Anton</strong></p>
<p>Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. <strong>Paman Anton </strong>merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.</p>
<p>Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi <em>single parent</em>. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.</p>
<p>Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, <strong>Bondan</strong>, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.</p>
<p>Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?</p>
<p>Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal <strong>3 Desember 2018</strong>. <em>Stay tuned</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 19 November 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-karakter-lain-terakhir/">Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-karakter-lain-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2018 09:00:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1665</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka. Andrea Putri Sudarwono Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/">Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Sica, Sarah, dan Rika</a>. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.</p>
<p><strong>Andrea Putri Sudarwono</strong></p>
<p>Sama seperti Rika, Andrea atau <strong>Dea </strong>merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.</p>
<p>Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.</p>
<p>Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. <strong>Dea</strong> jago bermain basket dan memainkan drum.</p>
<p><strong>Aqilla Sagita Danastri</strong></p>
<p>Selanjutnya adalah <strong>Gita</strong>, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, <strong>Gita Gutawa</strong>. Akan tetapi, <strong>Gita </strong>yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.</p>
<p>Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter <strong>Gita </strong>yang bermain pada serial <strong>Cinta dan Rahasia </strong>yang diperankan oleh <strong>Taskya Namya</strong>, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.</p>
<div id="attachment_1668" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1668" class="size-full wp-image-1668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya.jpg" alt="" width="640" height="425" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya-300x199.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/taskya-namya-356x236.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-1668" class="wp-caption-text">Taskya Namya (media.iyaa.com)</p></div>
<p>Padahal, penulis menciptakan karakter <strong>Gita </strong>jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.</p>
<p><strong>Gita</strong> adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, <strong>Gita </strong>adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.</p>
<p>Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.</p>
<p><strong>Elvina Yurina Zefina</strong></p>
<p><strong>Yuri</strong>, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter <strong>Girls&#8217; Generation</strong> yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.</p>
<div id="attachment_1669" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1669" class="size-large wp-image-1669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-1024x701.jpg" alt="" width="1024" height="701" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-1024x701.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-768x526.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264-356x244.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Kwon.Yuri_.full_.6264.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1669" class="wp-caption-text">Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)</p></div>
<p>Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang <em>single parent </em>yang memiliki usaha katering. <strong>Yuri </strong>kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.</p>
<p>Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.</p>
<p><strong>Maroon Malvinanita</strong></p>
<p>Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. <strong>Nita</strong>, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.</p>
<p>Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.</p>
<p>Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang <strong>Nita</strong>, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.</p>
<p><strong>Verena Nur Izora</strong></p>
<p>Nama <strong>Verena </strong>penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.</p>
<p>Verena, atau <strong>Rena</strong>, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.</p>
<p>Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. <strong>Rena </strong>juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/">chapter 40</a>.</p>
<p><strong>Virginia Vanya Valora</strong></p>
<p>Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, <strong>VVV Venlo</strong>, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.</p>
<div id="attachment_1667" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1667" class="size-large wp-image-1667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/maxresdefault-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1667" class="wp-caption-text">VVV Venlo (youtube.com)</p></div>
<p><strong>Vanya </strong>atau kerap dipanggil <strong>Ve </strong>(penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.</p>
<p>Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kebayoran Lama</strong>, 10 November 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/">Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-perempuan-kelas-akselerasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1625</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka. Andra Putra Sudarwono Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/">Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.</p>
<p><strong>Andra Putra Sudarwono</strong></p>
<p>Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, <strong>Andra</strong> dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.</p>
<p>Inspirasi karakter ini datang dari <strong>Fred</strong> dan <strong>George Weasley</strong> dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.</p>
<div id="attachment_1630" style="width: 795px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1630" class="size-full wp-image-1630" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small.jpg" alt="" width="785" height="442" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small.jpg 785w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/weasleytwins2_small-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 785px) 100vw, 785px" /><p id="caption-attachment-1630" class="wp-caption-text">via bookstr.com</p></div>
<p>Kurang lebih seperti itulah <strong>Andra</strong> (dan kini bersama Dea). <strong>Andra</strong> adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.</p>
<p>Nama <strong>Andra</strong> sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band <strong>Andra and the Backbone</strong>. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, <strong>Budi Sudarsono</strong>.</p>
<div id="attachment_1629" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1629" class="size-full wp-image-1629" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169.jpg" alt="" width="750" height="423" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Budi-Sudarsono-169-356x201.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1629" class="wp-caption-text">via indosport.com</p></div>
<p><strong>Andra</strong> juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.</p>
<p>Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.</p>
<p>Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah <strong>Andra</strong>.</p>
<p><strong>Andra</strong> memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.</p>
<p><strong>Achmad Khrisna Subejo</strong></p>
<p>Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama <strong>Bejo </strong>bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.</p>
<p>Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter <strong>Tenya Iida</strong> pada anime <strong>Boku No Hero Academia</strong>, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.</p>
<div id="attachment_1628" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1628" class="size-large wp-image-1628" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/Tenya_Iida_chooses_his_hero_name.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1628" class="wp-caption-text">via http://bokunoheroacademia.wikia.com</p></div>
<p>Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).</p>
<p>Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.</p>
<p>Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang <em>gentle </em>dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.</p>
<p><strong>Arjuna Wahyunara</strong></p>
<p>Namanya terinspirasi dari <strong>chef Juna</strong>. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari <strong>Goo Ji-soo</strong>, salah satu peserta acara <em>reality show </em><strong>Girls&#8217; Generation and the Dangerous Boys.</strong></p>
<div id="attachment_1632" style="width: 580px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1632" class="size-full wp-image-1632" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10.jpg" alt="" width="570" height="380" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10.jpg 570w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/ggdangerousboys-10-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 570px) 100vw, 570px" /><p id="caption-attachment-1632" class="wp-caption-text">via snsdkorean.com</p></div>
<p><strong>Juna</strong> adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.</p>
<p>Apalagi, <strong>Juna</strong> adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.</p>
<p>Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan <strong>Juna</strong>, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.</p>
<p><strong>Jean Xavier Pierre</strong></p>
<p>Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.</p>
<p><strong>Pierre </strong>penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, <strong>Pierre Bouvier</strong>, yang penulis ketahui dari video klip <strong>When I&#8217;m Gone</strong>. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">ide nama Sarah.</a></p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/msumWLbq1Dk?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.</p>
<p>Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 November 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/">Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-para-laki-laki-kelas-akselerasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Sica, Sarah, dan Rika</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2018 11:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1583</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kali ini penulis akan menjelaskan tentang tiga karakter perempuan di kelas akselerasi. Mereka adalah Sica, Sarah, dan Rika, di mana pada buku pertama mereka lumayan sering muncul dan mempengaruhi keseluruhan jalan cerita. Jessica Christiani Nama Jessica penulis ambil dari salah satu mantan personil Girls&#8217; Generation, Jessica Jung. Sedangkan nama belakangnya penulis ambil dari salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Tentang Sica, Sarah, dan Rika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini penulis akan menjelaskan tentang tiga karakter perempuan di kelas akselerasi. Mereka adalah <strong>Sica</strong>, <strong>Sarah</strong>, dan <strong>Rika</strong>, di mana pada buku pertama mereka lumayan sering muncul dan mempengaruhi keseluruhan jalan cerita.</p>
<p><strong>Jessica Christiani</strong></p>
<p>Nama Jessica penulis ambil dari salah satu mantan personil Girls&#8217; Generation, <strong>Jessica Jung</strong>. Sedangkan nama belakangnya penulis ambil dari salah satu presenter wanita Indonesia, <strong>Yuanita Christiani</strong>, karena terdengar cocok disandingkan dengan nama Jessica.</p>
<p>Panggilan <strong>Sica </strong>penulis ambil sesuai dengan panggilan Jessica yang asli. Selain itu, panggilan &#8220;Sic&#8221; terdengar lebih enak dibandingkan dengan panggilan &#8220;Jes&#8221;.</p>
<p><strong>Sica </strong>adalah seorang perempuan cantik dengan suara merdu. Penampilan fisiknya kurang lebih penulis bayangkan seperti Jessica yang asli. Putih, berambut panjang dengan karakter wajah yang oriental.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1585" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-1024x640.jpg" alt="" width="1024" height="640" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-1024x640.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-768x480.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2-356x223.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/jessica_artist_v2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Ia memiliki sifat yang keras, berani, dan tidak takut membela apa yang ia anggap benar. <strong>Sica</strong> tidak segan untuk membentak Leon di hari pertama karena ia menganggap tingkah laku Leon yang tidak sopan ke Kenji sudah keterlaluan.</p>
<p>Namun di balik itu semua, ia memiliki hati yang lembut dan tidak suka menyimpan dendam. Ia tidak ragu untuk mengulurkan tangannya untuk membantu teman-temannya.</p>
<p>Hanya saja, ia sering dicap terlalu sempurna oleh teman-teman perempuan lainnya, sehingga mereka tidak berani menjangkau <strong>Sica</strong>. Hal ini membuat Sica tidak memiliki teman perempuan yang benar-benar dekat.</p>
<p>Hal tersebut membuat <strong>Sica </strong>menjadi dekat dengan Leon, karena ia melihat Leon merupakan teman yang apa adanya. Ia menganggap Leon memandang dirinya sama seperti Leon memandang teman lainnya.</p>
<div id="attachment_1586" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1586" class="size-large wp-image-1586" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/20120229_seoulbeats_jessica_feature.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1586" class="wp-caption-text">via seoulbeats.com</p></div>
<p>Dari sanalah ketertarikan dari keduanya tumbuh, yang baru terungkap ketika <strong>Sica</strong> terbaring sakit. Dialog antara <strong>Sica</strong> dan Leon pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-35-leon-dan-sica-babak-ketiga/">chapter 37</a> merupakan salah satu adegan favorit penulis.</p>
<p>Awalnya, penulis membuat mereka berpisah dengan cara yang <em>mainstream</em>, ketika salah satu harus pindah ke Australia. Karena dirasa norak, penulis mengubahnya menjadi perpisahan akibat kematian <strong>Sica</strong>.</p>
<p>Ide ini sendiri muncul ketika mendengar lagu <strong>Sum41 </strong>yang berjudul <strong>Jessica Kill</strong>. Perpisahan yang tragis akan membeli pelajaran hidup berharga bagi Leon, seorang remaja yang baru saja mencoba untuk merasakan cinta kembali setelah selama ini direnggut dari kehidupannya.</p>
<p><strong>Shannon Augustine Sarah</strong></p>
<p>Bukan terinspirasi oleh <a href="http://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-si-doel-the-movie/">serial TV Si Doel</a>, melainkan dari sebuah lagu <a href="http://whathefan.com/musikfilm/one-band-one-man-panic-disco/"><strong>Panic! At the Disco</strong> </a>yang berjudul <strong>Sarah Smiles </strong>dari album Vices &amp; Virtues. Bahkan, dulu terdapat <em>chapter</em> yang berjudul sama dengan lagu tersebut, namun akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya ke bahasa Indonesia, menjadi <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-36-senyum-sarah/">Senyum Sarah (chapter 36)</a>.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/nV97_YorkbU?ecver=1" width="1519" height="514" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe><strong>Sarah</strong> merupakan murid pindahan dari Jakarta. Ia adalah sosok yang arogan dan senantiasa memandang rendah orang lain, meskipun itu ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari orang lain.</p>
<p>Orangtuanya merupakan pebisnis yang sukses, sehingga mereka sangat jarang bisa menemani <strong>Sarah</strong>. Ada beberapa alasan mengapa mereka memutuskan pindah ke Malang.</p>
<p>Pertama, orangtua <strong>Sarah</strong> sama-sama berasal dari Malang. Kedua, mereka khawatir dengan perkembangan <strong>Sarah</strong> yang menjadi sosok anak yang begitu sombong, sehingga mereka mencoba untuk menjauhkannya dari pergaulan sekolah di Jakarta.</p>
<p>Alasan terakhir, ibunda dari <strong>Sarah</strong> memiliki kawan dekat di SMA tempat Leon bersekolah, sehingga ia berharap guru tersebut bisa mengawasi <strong>Sarah</strong>. Hal ini belum ditunjukkan pada buku pertama, sehingga kemungkinan baru muncul di buku kedua.</p>
<blockquote><p>Kesombongan <strong>Sarah</strong> menemui perlawanan dari teman-teman yang lain, terutama Sica dan Leon. Ia sering bertengkar dengan Sica karena masalah-masalah sepele.</p></blockquote>
<p>Ia mulai sadar ketika Sica jatuh tersungkur saat harus lari keliling lapangan sebagai bentuk hukuman karena mendapatkan nilai ulangan lebih rendah dari <strong>Sarah</strong>. Ia begitu ketakutan menghadapi sebuah konsekuensi dari tindakannya, lantas memutuskan untuk kabur.</p>
<p>Kenji mengejarnya dan berusaha menolongnya dari rasa bersalah. Hanya Kenji yang menyadari bahwa alasan sikap <strong>Sarah</strong> adalah karena kurangnya perhatian dari keluarga, sehingga ia bisa mengetuk hati Sarah yang sudah lama tertutup.</p>
<p><strong>Sarah</strong> mudah berubah karena memang sifat sombongnya adalah buatan, bukan autentik. Sebenarnya, ia adalah perempuan dengan hati yang lembut karena tidak tega melihat sesuatu yang sadis, seperti melihat Kenji yang terluka karena dipukuli oleh pacarnya.</p>
<p>Sewaktu mendengar kematian Sica, <strong>Sarah</strong> ingin menghabisi nyawanya sendiri karena merasa bersalah. Namun hal tersebut tidak ia lakukan dengan cepat karena pada dasarnya ia adalah anak yang penakut dan tidak kuat melihat darah.</p>
<p>Setelah ditenangkan oleh teman-temannya, <strong>Sarah</strong> berhasil mengusir rasa bersalah yang menghantuinya dan berjanji dalam hati bahwa ia akan membalas perlakuan baik teman-temannya.</p>
<p><strong>Adriana Rika Kanaya</strong></p>
<p>Kalau yang satu ini, pernah penulis singgung sedikit pada tulisan <a href="http://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a>. <strong>Rikka Takanashi </strong>dari anime <strong>Chūnibyō Demo Koi ga Shitai! </strong>merupakan inspirasi karakter ini.</p>
<p>Pada animenya, Rikka merupakan seorang remaja dengan <strong>sindrom kelas 8 </strong>yang membuat seseorang percaya bahwa ia memiliki kekuatan khusus. Mereka dengan mudahnya memasukkan orang lain ke dalam fantasinya.</p>
<p>Di sisi lain, <strong>Rika </strong>(huruf K-nya penulis hilangkan satu agar lebih terdengar Indonesia) merupakan anak perempuan yang bertubuh mungil dengan wajah yang imut, lengkap dengan potongan rambut pendeknya.</p>
<div id="attachment_192" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-192" class="wp-image-192 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-1024x621.jpg" alt="" width="1024" height="621" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-1024x621.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-300x182.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-768x465.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai-356x216.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/279451-chuunibyou-demo-koi-ga-shitai.jpg 1980w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-192" class="wp-caption-text">via anguerde.com</p></div>
<p>Penulis tidak membuatnya memiliki sindrom yang sama. Pada novel <strong>Leon dan Kenji</strong>, Rika adalah sesorang gadis yang sangat suka membuat cerita. Terkadang, agar lebih menghayati novel buatannya, <strong>Rika </strong>sering mengucapkan dialog-dialog yang ia buat sendiri ketika sedang berbicara dengan orang lain, termasuk teman-teman sekolahnya.</p>
<p>Hal ini membuat ia sering dicap aneh sehingga dijauhi. <strong>Rika </strong>bukanlah tipe orang yang akan memusingkan hal tersebut. Ia memilih untuk mengabaikannya dan memilih untuk menjadi dirinya sendiri.</p>
<p>Di kelas akselerasi, <strong>Rika </strong>merasa lebih diterima oleh teman-temannya, terutama oleh Leon dan Kenji. Bedanya, Kenji dengan baik hati mau masuk ke dalam alam fantasi yang <strong>Rika</strong> ciptakan, berbeda dengan Leon yang menolak untuk masuk namun tidak mengolok-olok <strong>Rika</strong>.</p>
<p>Leon sering mengajak bicara <strong>Rika</strong> karena ia merasa bisa bebas bicara dengannya tanpa harus mendapatkan justifikasi dari si pendengar. Sikap <strong>Rika</strong> yang tidak mau ikut campur urusan orang lain juga mempengaruhi hal ini.</p>
<p>Pada buku pertama, peran <strong>Rika</strong> lebih sering terlihat sebagai figuran yang tidak memiliki peran penting. Sedikit bocoran,  pada buku kedua nanti, bisa dipastikan <strong>Rika</strong> akan memiliki peran yang lebih besar dan sangat penting bagi keseluruhan cerita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 28 Oktober 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/">Tentang Sica, Sarah, dan Rika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-sica-sarah-dan-rika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2018 23:00:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[Gisel]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[Leon]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1516</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni Leon, Kenji, dan Gisel. Alexander Napoleon Caesar Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan tentang karakter-karakter yang ada pada novel Leon dan Kenji. Untuk yang pertama, penulis akan menceritakan tiga karakter yang lumayan mendominasi keseluruhan cerita, yakni <strong>Leon</strong>, <strong>Kenji</strong>, dan <strong>Gisel</strong>.</p>
<p><strong>Alexander Napoleon Caesar</strong></p>
<p>Awalnya, penulis memberi nama tokoh utama ini dengan nama Blacksmith, yang terinspirasi dari anime Blackjack. Namun, karena dirasa <em>lebay</em>, penulis memutuskan untuk mengganti namanya walaupun penulis senang dengan panggilannya, Black, seperti karakter di Harry Potter.</p>
<p>Alexander Napoleon Caesar (mungkin sebenarnya terdengar lebih <em>lebay</em>) terinspirasi dari tiga nama kaisar di dunia. <strong>Alexander the Great</strong>, <strong>Napoleon Bonaparte</strong>, dan <strong>Julius Caesar</strong>.</p>
<p>Dengan panggilan <strong>Leon</strong> (seperti nama penjual tahu telur di dekat rumah), penulis menanggap namanya lebih normal daripada Black, walaupun untuk memanggilnya harus menjadi &#8220;Le&#8221; yang sama dengan panggilan anak laki-laki orang Jawa.</p>
<p>Latar belakangnya yang ambisius untuk mendidik anaknya menjadi orang hebat membuat ayah Leon memasukkan ketiga nama penguasa dunia tersebut. Ia tak peduli bahwa ketiga orang tersebut telah membantai banyak manusia tak bersalah demi ekspansi kekuasaannya.</p>
<div id="attachment_1519" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1519" class="size-full wp-image-1519" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/napoleon-1-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-1519" class="wp-caption-text">Napoleon Bonaparte (caminteresse.fr)</p></div>
<p><strong>Leon</strong> menjadi anak yang keras karena masa lalunya yang berat. Ditinggal bunuh diri oleh ibunya, ditelantarkan oleh ayahnya, dan dirundung oleh teman-teman sekolahnya.</p>
<p>Ia memutuskan untuk melawan balik, sehingga ia senantiasa memasang tatapan permusuhan agar tidak ada yang berani menganggu dia. Pertemuannya dengan Kenji membuat ia berubah secara bertahap, menjadi manusia yang lebih hangat.</p>
<p>Ia berusaha untuk berubah dan mulai membuka hubungan dengan orang lain, terutama dengan teman-teman kelasnya. Satu per satu mereka mulai menerima <strong>Leon</strong> sehingga ia merasa seperti hidup kembali.</p>
<p><strong>Leon</strong> memiliki kecerdasan di atas rata-rata, selain karena tempaan ayahnya yang membuat ia terbiasa belajar dengan giat. Kemampuan otaknya yang luar biasa hanya bisa dikalahkan oleh Kenji.</p>
<p><strong>Muhammad Kenji Yasuda</strong></p>
<p>Nama<strong> Kenji</strong> penulis ambil dari nama tengah personil Linkin Park, <strong>Mike Shinoda</strong>. Bahkan, dulu penulis menggunakan nama Kenji Shinoda, sebelum menggantinya dengan Yasuda yang terdengar seperti <em>ya sudah</em>. Penulis bahkan tidak tahu apakah benar ada marga Yasuda di Jepang.</p>
<p>Seperti yang sudah dituliskan pada <a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">tulisan sebelumnya</a>, <strong>Kenji</strong> terinspirasi oleh karakter Gera pada anime Blackjack yang selalu ceria dan berpikiran positif walaupun penakut.</p>
<p>Perbedaan karakter antara Leon dan <strong>Kenji</strong> justru memperat hubungan mereka berdua sebagai kawan, walaupun latar belakang hidup tanpa orangtua juga berperan penting untuk memperkuat hal tersebut.</p>
<div id="attachment_1521" style="width: 964px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1521" class="size-full wp-image-1521" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg" alt="" width="954" height="537" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson.jpg 954w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mike-shinoda-2017-getty-scott-dudelson-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 954px) 100vw, 954px" /><p id="caption-attachment-1521" class="wp-caption-text">Mike Kenji Shinoda (revolvermag.com)</p></div>
<p>Ia selalu berusaha menyebar kebaikan di lingkungan sekitarnya, terkadang tidak peduli dirinya menjadi babak belur seperti ketika ia berusaha menyadarkan Sarah dan Leon.</p>
<p><strong>Kenji</strong> seringkali menjadi juru bicara kelas karena kemampuan menata bahasanya yang luar biasa, yang terjadi akibat kegemarannya membaca buku. Nada suaranya selalu tenang dan tak pernah marah sekalipun.</p>
<p>Mengajar merupakan <em>passion </em>yang dimiliki <strong>Kenji</strong> karena ia merasa bisa menyebar ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan inisiatifnya mengajar Gisel dan tambahan kelas sepulang sekolah.</p>
<p><strong>Kenji</strong> memiliki kemampuan analisa seperti Sherlock Holmes, karena penulis memang penggemar berat karakter fiksi buatan Sir Arthur Conan Doyle tersebut. Leon seringkali terperangah dan terlihat seperti Dr. Watson.</p>
<p><a href="http://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-9-gisella-margaret-spencer/"><strong>Gisella Margaret Spencer</strong></a></p>
<p>Tokoh <strong>Gisel</strong> penulis buat sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; karena tidak memiliki adik perempuan. Ia penulis buat sebagai anak kecil berkulit putih, terlihat ringkih dan berambut panjang.</p>
<p>Penulis memilih nama <strong>Gisel</strong> hanya karena suka saja dengan nama tersebut. Untuk Margaret, penulis ambil dari mantan perdana menteri Inggris, <strong>Margaret Thatcher</strong>, sedangkan Spencer penulis ambil dari nama keluarga putri <strong>Diana</strong>.</p>
<div id="attachment_1520" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1520" class="size-large wp-image-1520" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/margaret-thatcher-the-iron-lady.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1520" class="wp-caption-text">Margaret Thatcher (biography.com)</p></div>
<p>Leon menjadikan <strong>Gisel</strong> sebagai kambing hitam atas segala kesusahan yang ia alami. Walaupun tubuhnya kurus, mental <strong>Gisel</strong> sangat tangguh untuk anak seusianya.</p>
<p><strong>Gisel</strong> selalu sabar menerima berbagai perlakuan buruk dari kakaknya. Untunglah semenjak bertemu dengan Kenji, <strong>Gisel</strong> diperlakukan sebagaimana adik oleh Leon.</p>
<p>Terkait sekolahnya, penulis terinspirasi oleh <strong>Thomas Alva Edison</strong> yang dikeluarkan dari sekolah karena selalu bertanya di luar konteks pelajaran. Pada akhirnya Edison diajari oleh ibunya, sedangkan <strong>Gisel</strong> diajari oleh Kenji dan kakaknya sambil menunggu ajaran tahun berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 21 Oktober 2018</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/">Tentang Leon, Kenji, dan Gisel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-leon-kenji-dan-gisel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tentang Novel Leon dan Kenji Buku 1</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2018 08:00:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Blackjack]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[tentang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1478</guid>

					<description><![CDATA[<p>Novel Leon dan Kenji merupakan novel pertama yang penulis buat. Awalnya novel ini hanya berjudul Kenji, namun sewaktu melakukan review ulang, penulis memutuskan untuk menambahkan Leon karena novel ini juga didominasi oleh kehadirannya. Pertama kali penulis menulis novel ini adalah ketika SMP kelas sembilan untuk tugas PKN pada tahun 2009. Jadi, bisa dibilang novel ini butuh waktu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">Tentang Novel Leon dan Kenji Buku 1</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Novel Leon dan Kenji merupakan novel pertama yang penulis buat. Awalnya novel ini hanya berjudul Kenji, namun sewaktu melakukan <em>review </em>ulang, penulis memutuskan untuk menambahkan Leon karena novel ini juga didominasi oleh kehadirannya.</p>
<p>Pertama kali penulis menulis novel ini adalah ketika SMP kelas sembilan untuk tugas PKN pada tahun 2009. Jadi, bisa dibilang novel ini butuh waktu pengerjaan kurang lebih 9 tahun.</p>
<p><strong>Blackjack Ep. 45, Inspirasi Novel Ini</strong></p>
<p>Inspirasi novel ini datang dari anime Blackjack episode 45 yang dulu disiarkan oleh Animax. Episode tersebut sangat menyentuh hati sehingga penulis memutuskan untuk membuat cerita tentangnya.</p>
<p>Blackjack sendiri merupakan anime yang menceritakan seorang dokter dengan kemampuan menangani pasien dengan luar biasa. Karena kemampuannya, ia sering mematok tarif yang tidak masuk akal. Untunglah, untuk mengobati orang-orang baik yang tidak mempunyai biaya, Blackjack sering menggratiskan biaya pengobatan.</p>
<p>Pada episode 45, diceritakan masa-masa Blackjack ketika semasa SMA dimana ia berada satu kelas dengan anak yang selalu tertawa bernama Gera. Blackjack sangat membenci Gera karena iri dengan kebahagiaan yang ia rasakan, karena masa lalunya yang mencekam.</p>
<div id="attachment_1481" style="width: 778px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1481" class="size-full wp-image-1481" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/42-1.png" alt="" width="768" height="432" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/42-1.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/42-1-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/42-1-356x200.png 356w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><p id="caption-attachment-1481" class="wp-caption-text">Black Jack dan Gera (https://gginmusic.wordpress.com/2016/06/14/learn-to-laugh/)</p></div>
<p>Ibunya tewas karena berusaha melindungi dirinya dari serangan ranjau sisa-sisa perang, sedangkan bapaknya entah justru pergi dengan wanita lain. Blackjack sendiri selamat dari ledakan tersebut dan menjadi seorang pemurung.</p>
<p>Gera berusaha mendekati Blackjack dan pada akhirnya bisa berkawan dengan akrab meskipun kepribadian mereka berdua sangat berbeda. Pada suatu hari, datang <em>debt collector </em>untuk menagih utang-utang orangtua Gera yang menelantarkan anaknya seorang diri. Blackjack berusaha melawan orang-orang dewasa tersebut, namun naas Gera terkena panah darts karena berusaha melindungi Blackjack.</p>
<p>Gera pun didiagnosis penyakit yang membuat dirinya tak bisa bersuara. Mungkin hal ini yang membuat Blackjack berkeinginan untuk menjadi seorang dokter. Ketika pada akhirnya Blackjack telah lulus menjadi seorang dokter, ia sendiri yang turun tangan untuk menangani Gera.</p>
<p>Sayang, Gera harus meninggal dunia. Sesaat sebelum kematiannya, ia bisa tertawa dengan lepas untuk terakhir kalinya. Bahkan, alam pun seakan mengheningkan cipta untuk mendengarkan tawa seorang anak yang selalu bahagia tersebut.</p>
<p><strong>Apa yang Diambil dari Anime Tersebut</strong></p>
<p>Leon yang merupakan sosok kasar tentu terinspirasi dari Blackjack, dan Kenji yang baik hati terinspirasi dari Gera. Penulis memperdalam lagi hubungan mereka dengan interaksi mereka dengan teman-teman sekelas. Pada anime aslinya, sama sekali tidak disebutkan teman-teman kelas lainnya.</p>
<p>Noval ini adalah tentang transformasi diri untuk menjadi lebih baik, entah karena kesadaran diri maupun karena bantuan orang lain. Kenji berusaha mengubah Leon karena ia merasakan duka berkepanjangan (dan dendam) yang bersemayam di hati Leon. Empati muncul karena Kenji juga merasakan kehilangan kasih sayang orangtua akibat kecelakaan yang menimpa ayahnya.</p>
<p>Pada akhirnya Leon juga berhasil mengubah teman-temannya, tentu dengan bantuan Kenji. Selebihnya, merupakan buah pemikiran penulis yang mendapatkan berbagai inspirasi dari sumber yang beranekaragam. Untuk tiap karakter, nantinya akan penulis buatkan tulisan tersendiri.</p>
<p>Penulis juga sering menempatkan Leon dan Kenji seperti Conan Doyle menempatkan Watson dan Sherlock, di mana Kenji yang menjadi Sherlocknya. Kemampuan analisa Kenji yang ia warisi dari mendiang kakeknya sering membuat Leon terkejut, sama seperti dokter Watson.</p>
<p>Oleh karena itu, terkadang terselip misteri-misteri yang terlihat membingungkan dan seolah tidak mempengaruhi jalan cerita. Bagian tersebut baru akan dijelaskan pada buku kedua yang akan rilis paling cepat akhir tahun ini.</p>
<p>Pada buku kedua nanti, masalah yang dihadapi Leon dan kawan-kawan bukan lagi persoalan remeh temeh seperti pertengkaran antar teman. Akan terkuak beberapa petunjuk tersirat yang muncul di buku pertama, dan semua akan menjadi jelas. Penulis membuat cukup banyak <em>twist</em> yang diharapkan benar-benar akan mengejutkan pembaca.</p>
<p>Berbeda dengan buku pertama, buku kedua nanti akan bercerita tentang berdamai dengan masa lalu. Semoga para pembaca sekalian dapat menikmati keseruan dan ketegangan yang akan terjadi nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 Oktober 2018</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/L8zmeFh2cAc?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">sergee bee</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-siluet?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/">Tentang Novel Leon dan Kenji Buku 1</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/tentang-novel-leon-dan-kenji-buku-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya.</p>
<p>Kenji hadir sebagai perantara untuk memanduku keluar dari jurang kegelapan dalam diriku. Ia dengan sabar dan tulus menuntunku perlahan, selangkah demi selangkah. Teman-teman yang lain pun turut membantuku dengan semampunya, termasuk Jessica yang mengajarkan apa arti cinta sebenarnya.</p>
<p>Kisahku dengannya aku bagi menjadi tiga babak. Babak pertama, adalah babak di mana aku masih meraba-raba perasaanku sendiri. Di babak ini aku masih belum sepenuhnya paham apa yang aku rasakan. Babak kedua adalah babak di mana aku sudah mulai yakin dengan perasaanku terhadap Sica, meskipun aku belum yakin bagaimana perasaan Sica terhadapku. Di babak ketiga lah, sekaligus terakhir, kami sama-sama telah menyadari perasaan kami satu sama lain. Kami telah mengetahui bagaimana kami ingin ditempatkan di hati kami satu sama lain. Itulah babak terakhir, yang terpaksa berakhir karena takdir menjemput.</p>
<p>Setelah ujian kenaikan kelas, beberapa minggu setelahnya, rapot pun dibagikan beserta urutan rangking kelas. Aku melihat kertas tersebut untuk melihat apakah aku berhasil mengalahkan Kenji untuk menduduki peringkat satu. Tentu saja, aku kalah.</p>
<ol>
<li>Muhammad Kenji Yasuda</li>
<li>Alexander Napoleon Caesar</li>
<li>Arjuna Wahyunara</li>
<li>Virginia Vanya Valora</li>
<li>Shannon Augustine Sarah</li>
<li>Marron Malvinanita</li>
<li>Jean Xavier Pierre</li>
<li>Verena Nur Izora</li>
<li>Adriana Rika Kanaya</li>
<li>Aqilla Sagita Danastri</li>
<li>Ahmad Khrisna Subejo</li>
<li>Elvina Yurina Zefina</li>
<li>Andrea Putri Sudarwono</li>
<li>Andra Putra Sudarwono</li>
<li>Jessica Christiani (-)</li>
</ol>
<p>Sudarwono bersaudara harus turun ke kelas reguler karena kurangnya nilai mereka. Maka di hari pertama kelas sebelas ini, mereka berpamitan kepada kami.</p>
<p>“Teman-teman semua…”</p>
<p>“…kami minta maaf…”</p>
<p>“…jika selama ini…”</p>
<p>“…ada salah-salah…”</p>
<p>“…terima kasih…”</p>
<p>“…atas semua yang telah kalian berikan…”</p>
<p>“…kami tidak akan melupakan kalian!”</p>
<p>Terdengar isak haru melepas kepergian mereka. Mereka berdua adalah badut kelas, dalam artian positif. Setiap ucapan mereka selalu lucu, membuat yang lain tertawa, sedikit melupakan beban yang menggantung di pikiran mereka. Setelah kepergian Sudarwono bersaudara ini, entah siapa yang akan menjadi penghibur kelas. Kehilangan tiga teman di awal kelas sebelas ini tentu menjadi hal yang menyedihkan, bahkan bagiku.</p>
<p>***</p>
<p>“Mereka tetap bisa berprestasi di luar sana kok, tenang aja Le.” kata Kenji menyemangatiku sewaktu kami berada di rumahku untuk mengajar Gisel.</p>
<p>“Aku percaya itu Kenji.”</p>
<p>“Kamu, udah enggak sedih kalau kepikiran Sica?” tanyanya.</p>
<p>“Sudah tidak terlalu, aku baik-baik saja, terima kasih.”</p>
<p>“Ah iya, aku kepikiran waktu masuk tadi, pegangan pintumu agak kendor, apa di belakang ada kotak perkakas? Biar aku bantu memperbaikinya.”</p>
<p>“Harusnya ada di gudang belakang, biar aku yang memperbaiki. Kau mengajari Gisel.”</p>
<p>Kutinggalkan Kenji bersama adikku untuk menuju gudang. Sudah cukup lama aku tidak memperbaiki sesuatu, semoga aku masih ingat di mana aku meletakkan berbagai peralatan itu. Kubuka pintu gudang, dan sama seperti ruangan lain, gudang ini pun masih tertata rapi meskipun tidak sebersih bagian rumah yang lain. Mungkin hanya bagian ini yang jarang Gisel bersihkan.</p>
<p>Mataku mulai menjelajah ruangan ini, yang sekaligus sebagai tempat penyimpanan alat olahraga, mulai dari barbel hingga <em>jump rope</em>. Dengan alat-alat inilah aku berlatih berkelahi agar tidak lagi menjadi korban <em>bully </em>di sekolahku. Aku harus latihan lagi, karena aku merasa fisikku tak setangguh dulu.</p>
<p>Aku mengitari tempat seluas dua kali dua ini, berusaha menemukan kotak perkakas tersebut. Dengan teliti aku memeriksa tiap-tiap rak dan sudut ruang, masih belum kutemukan juga. Malah, aku hampir terjatuh karena tersandung sesuatu.</p>
<p>Aku melihat apa yang membuatku terjegal, sesuatu yang terletak di balik karpet. Kusibak karpet, terlihat olehku sebuah pintu kecil dengan pegangannya berupa lingkaran dari besi, seperti ruangan rahasia di lantai. Aku menariknya, dan terlihat olehku sebuah kotak di dalamnya. Ini merupakan kejutan bagiku, karena tak pernah menyangka ada ruang rahasia di gudang sempit ini. Aku segera mengambil kotak tersebut, dan meletakkannya di atas karpet. Cukup berat untuk ukuran kotak kecil, mungkin karena terbuat dari besi. Penuh dengan debu, entah telah tersimpan berapa tahun di sana. Kotak ini terkunci dengan sebuah gembok yang membutuhkan lima kombinasi angka. Aku mencoba beberapa variasi secara acak, hasilnya nihil.</p>
<p>Aku memeriksa kembali pintu rahasia tersebut, siapa tahu masih ada barang lagi, Benar saja, terdapat selembar amplop yang telah menguning di makan usia. Aku berharap isinya masih bisa dibaca. Kubuka amplop tersebut, dan isinya cukup untuk membuatku kebingungan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1415" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg" alt="" width="1024" height="202" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-300x59.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-768x151.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-356x70.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643.jpg 1664w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 40 Janji dari Sebuah Dendam</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2018 08:00:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 40]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1404</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabar kematian Sica diceritakan oleh wali kelas kami, bu Rima. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura ketegasan yang tiada tara, tiba-tiba sirna begitu saja, berganti dengan wajah tulus seorang ibu. Terlihat matanya berkaca-kaca menahan sedih, berusaha mempertahankan ketegarannya di hadapan kami. “Ibu tadi pagi baru saja mendapatkan telepon dari orangtua Sica. Kalian tahu satu minggu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/">Chapter 40 Janji dari Sebuah Dendam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kabar kematian Sica diceritakan oleh wali kelas kami, bu Rima. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura ketegasan yang tiada tara, tiba-tiba sirna begitu saja, berganti dengan wajah tulus seorang ibu. Terlihat matanya berkaca-kaca menahan sedih, berusaha mempertahankan ketegarannya di hadapan kami.</p>
<p>“Ibu tadi pagi baru saja mendapatkan telepon dari orangtua Sica. Kalian tahu satu minggu yang lalu, Jessica baru menjalani operasi pengangkatan paru-paru.”</p>
<p>Ia terdiam sesaat, memandangi kami satu persatu. Aku sudah merasakan perasaan yang sangat tidak enak di dalam diriku. Aku entah bagaimana merasa sudah tahu apa yang akan disampaikan, jika melihat dari ekspresi dari bu Rima. Tidak perlu sepintar Kenji untuk mengetahui hal tersebut, yang lain juga pasti sudah bisa menduga kabar apa yang akan disampaikan.</p>
<p>“Operasinya berhasil&#8230;” lagi-lagi bu Rima memberi jeda pada kalimatnya, “…namun setelah itu, kondisi Sica tidak stabil, karena itu tidak ada boleh yang menjenguknya. Hingga akhirnya dini hari tadi…” air mata bu Rima akhirnya tumpah.</p>
<p>Aku tidak sempat memperhatikan sekitar. Aku hanya menatap kosong ke arah depan, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, terasa ada yang mengalir di wajahku. Aku, bukan, kami telah kehilangan teman kami, salah satu teman yang terbaik.</p>
<p>***</p>
<p>Kelas kami diliburkan hari ini, dalam rangka berduka cita atas meninggalnya Jessica. Bejo sang ketua kelas pun mengkoordinasi kami untuk mempersiapkan kedatangan Sica dari rumah sakit ke rumah duka. Aku sudah tidak mendengarkan kata-katanya lagi setelah itu, karena aku memutuskan untuk berlari ke rumah sakit. Ya, benar, aku memutuskan untuk berlari mulai sekolah karena aku ingin sesegera mungkin melihat Sica. Bagaimana mungkin Sica tidak bisa diselamatkan? Bukankah itu rumah sakit bagus? Bukankan dokter berwajah menyebalkan itu dengan arogannya menjanjikan keberhasilan?</p>
<p>Sekitar dua kilometer aku berlari, tubuhku basah oleh keringat. Namun aku tidak peduli, aku berlari menuju lobi, menghiraukan panggilan <em>security</em> yang berusaha menghadangku.</p>
<p>“Hei, resepsionis, temukan aku dengan dokter yang mengoperasi Sica. Aku butuh bicara dengannya!”</p>
<p>“Eh…eh…maaf adik siapa?” tanya resepsionis itu dengan ketakutan. Orang-orang yang ada di lobi mulai melihat ke arahku.</p>
<p>“Kau tidak perlu tahu, sekarang juga beri tahu aku di mana dokter brengsek yang tidak berhasil mengoperasi Sica. Kau mau mejamu aku obrak-abrik?” aku mulai menggebrak-gebrak meja.</p>
<p>“<em>Security</em>, tolong <em>security</em>!” jerit resepsionis ketakutan.</p>
<p>Orang-orang mulai berusaha untuk menenangkanku. Di saat itulah aku melihat dokter berwajah angkuh itu, dokter Sardjono, sedang berjalan ke arah resepsionis, mungkin penasaran dengan kegaduhan yang telah kubuat seorang diri. Langsung saja aku memberontak dari kerumunan orang-orang dan berlari menuju dokter sialan itu. Ia menampakan sedikit ketakutan, sebelum memasang wajah angkuhnya kembali.</p>
<p>“Hei kau dokter berwajah sombong, katamu kau bisa sembuhkan Sica, mana buktinya? Ia mati ditanganmu dokter! Apanya spesialis paru-paru, kasus kecil seperti ini pun tidak becus kau lakukan!”</p>
<p>“Nak, saya sama sekali tidak tahu apa yang kamu maksud, siapa itu Sica? Saya tidak pernah gagal dalam mengoperasi, karena saya ahli paru-paru terbaik disini.”</p>
<p>Kata-katanya mungkin bertujuan untuk membuat nama baiknya terjaga di depan orang-orang yang melihat percecokan kami. Bahkan kebohongan pun diperlukan untuk memperkuat keangkuhannya tersebut.</p>
<p>“Bedebah, kau tidak mau mengakui operasi itu dipimpin olehmu hah? Di mana semua kesombongan yang telah kau keluarkan di Sakura 2 minggu kemarin hah? Orang-orang sepertimu harusnya tidak pernah menjadi seorang dokter!”</p>
<p>Tiba-tiba tanganku sudah diseret oleh pihak keamanan rumah sakit. Semakin aku meronta, semakin aku merasa eratnya pegangan mereka. Aku terus mengeluarkan berbagai sumpah serapah yang aku ketahui. Lihatlah, mendengar semua perkataan kasarku ia justru tersenyum sinis. Ia malah berkata kepada orang-orang mungkin aku sedikit kurang waras karena ada musibah yang menimpaku. Di saat seperti ini, ia malah berusaha mendapatkan simpati dari orang-orang ini. Sialan, aku tidak bisa diam saja melihat ketidakadilan seperti ini di depan mataku. Aku mulai memberontak lagi dari kedua satpam yang nampak tak terlalu peduli dengan apa yang terjadi. Mereka hanya peduli dengan pihak yang menggaji mereka.</p>
<p>“Tenanglah Leon.”</p>
<p>Dua kata, diucapkan dengan tenang, membuat emosiku tiba-tiba terangkat dari diriku. Suara ini, suara Kenji. Aku menoleh ke belakang, benar, Kenji bersama Andra telah berada disini. Mungkin karena merasa khawatir denganku yang tiba-tiba berlari begitu saja, mereka menyusulku dengan sepeda motor.</p>
<p>“Bapak-ibu yang terhormat, saya minta maaf apabila teman saya ini sudah membuat keributan. Tapi kami satu kelas baru saja mengalami hal yang buruk, hingga bukan hanya teman kami ini, melainkan kami semua sedang berada dalam kondisi emosi yang labil. Jadi sekali lagi kami memohon maaf atas semua kejadian ini.” Kenji berkata disertai dengan membungkuk 90 derajat. Andra yang dibelakangnya pun tahu-tahu ikut membungkuk.</p>
<p>Ah, lagi-lagi aku membiarkan emosi menguasai diriku. Lagi-lagi aku kalah dengannya. Padahal sudah sejauh ini aku berusaha belajar mengendalikan emosi, tahu-tahu ia muncul seperti ini. Semua gara-gara rumah sakit ini, gara-gara dokter yang kemampuannya tidak terbukti ini. Aku tersenyum, tersenyum sinis. Aku menatap dokter itu dan mengacungkan jariku kepadanya.</p>
<p>“Lihatlah, catat namaku, Alexander Napoleon Caesar, akan menjadi dokter spesialis paru-paru terbaik, tidak hanya di sini, tapi di seluruh dunia! Ini adalah sumpahku, akan kubuktikan padamu wahai dokter idiot, bahwa aku akan bisa lebih baik darimu!”</p>
<p>***</p>
<p>Setelah mengucap sumpah itu, aku berbalik badan, tidak mempedulikan bagaimana reaksi orang-orang kepadaku. Setelah mengeluarkan semua kemarahan yang aku punya, kesedihan kembali datang menghampiri. Aku menangis lagi. Kenji dan Andra berusaha untuk menguatkan aku dengan memegang pundakku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan orang lain, toh aku sudah kebal sejak dulu. Aku akan mengeluarkan semua emosiku, apapun bentuknya di sini.</p>
<p>Sebelum kembali ke sekolah bersama Kenji dan Andra, aku kembali menoleh ke arah rumah sakit. Seketika, aku teringat kembali, apa yang membuatku waktu pertama kali ke sini merasakan sensasi yang aneh. Di saat itu, aku pun meninggalkan rumah sakit ini dengan tangisan. Aku baru ingat, di sinilah ibuku diotopsi setelah ia meninggal.</p>
<p>***</p>
<p>Aku ditemani Kenji untuk naik angkot, sedangkan Andra kembali terlebih dahulu dengan sepeda motornya. Aku hanya menangis sepanjang perjalanan, membuat heran penumpang lainnya. Kudengar Kenji mengeluarkan jawaban-jawaban untuk melayani berbagi pertanyaan yang muncul. Beberapa orang menepuk pundakku, merasa punya kewajiban untuk memberiku semangat. Namun aku tidak peduli, kematian Sica ini sangat memukul diriku. Ketika cinta yang sudah lama tidak aku miliki muncul lagi, tiba-tiba ia diambil secepat ini.</p>
<p>Kenji mengantarku ke rumah. Tangisku mulai reda, diganti dengan tatapan hampa, tatapan yang seolah melukiskan bahwa aku sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di dunia ini. Namun aku masih bisa melihat Gisel menyambutku, memelukku, disertai tangisan pula. Kenji bercerita bahwa sebelum menjemputku, ia mampir ke rumah untuk memberi kabar ke Gisel. Ia sempat kewalahan untuk menahan tangisan Gisel, untung teman-teman yang lain mau kemari terlebih dahulu. Aku baru sadar, di ruang tamuku sudah penuh dengan mereka semua, baik laki-laki maupun perempuan. Nampaknya mereka sadar bahwa aku baru saja membuat kekacauan. Aku pandangi mereka satu persatu, mencari salah seorang diantara mereka.</p>
<p>“Di mana perempuan itu?”</p>
<p>“Siapa yang kamu maksud Le?” tanya Kenji dengan wajah pura-pura tidak tahunya yang sangat kentara itu.</p>
<p>“Kau tahu siapa yang kumaksud Kenji.” aku menatapnya dengan sorot mata yang selama ini sudah berangsur-angsur hilang dariku. Kenji dengan jelas menunjukkan ketakutannya.</p>
<p>“Jika yang kamu maksud Sarah, ia tidak ada di sini Le. Aku tidak tahu kenapa, tapi ia menyarankan Sarah jangan kerumahmu terlebih dahulu.” Bejo menjawab pertanyaanku.</p>
<p>“Aku tidak bertanya padamu Bejo, aku bertanya pada Kenji.” aku memindahkan tatapanku ke Bejo, yang sudah berdiri dari kursinya. Mungkin ia sudah merasakan aku akan melakukan sesuatu yang buruk.</p>
<p>“Se…selain kamu Leon yang paling terpukul adalah Sarah. Jadi aku menyuruhnya untuk, eh, untuk menenangkan diri dulu.” Kenji dengan takut-takut berusaha menjawab.</p>
<p>“Di mana dia Kenji?” aku sudah menggenggam pergelangan tanganku.</p>
<p>“Eh, aku tidak tahu Le.”</p>
<p>Sebuah pukulan langsung mendarat di wajahnya. Aku paling benci dibohongi, apalagi dalam kondisi seperti ini. Aku tarik kerah Kenji yang sudah jatuh tersungkur. Suara ramai dibelakangku menandakan semua terkejut dengan tindakanku.</p>
<p>“Beri tahu aku di mana perempuan itu, aku mau membunuhnya. Gara-gara ia Sica bisa meninggal.” aku tahu ini perbuatan salah, namun aku tidak bisa menahan segala gejolak emosi ini.</p>
<p>“Jangan Le, istighfar Le.” Kenji berusaha menenangkanku.</p>
<p>Beberapa orang mulai meleraiku, tentu aku memberontak sedemikian kuatnya. Orang yang sedang emosi kekuatannya bertambah beberapa kali lipat. Karena itu, meskipun yang menarikku sekuat Bejo, aku masih bisa mengimbanginya. Apalagi jika hanya sekelas Pierre dan Juna.</p>
<p>Tiba-tiba, sebuah tamparan keras mengenai wajahku. Ini bukan tamparan laki-laki, ini tamparan perempuan. Aku melihat arah penampar, terlihat Rena olehku.</p>
<p>“Kamu ini punya Tuhan apa enggak Le! Sica mati itu bukan karena salah dokter, bukan karena salah Sarah, ini semua takdirnya! Kalau kamu menyalahkan orang lain, itu sama artinya kamu enggak percaya sama Tuhan!”</p>
<p>Entah mengapa, kata-katanya terasa lebih sakit dari tamparannya. Astaga, hanya dalam selang beberapa menit, aku melakukan kesalahan yang sama. Aku menjatuhkan diri dengan lutut sebagai tumpuan, memandang semua teman-temanku yang sudah memasang wajah khawatir. Sehina inikah diriku, hingga melupakan peran Tuhan? Sebobrok inikah, hingga aku melupakan adanya takdir? Sebodoh inikah, hingga aku melukai teman-teman terdekatku?</p>
<p>Kenji merengkuh tanganku, berusaha mengangkat diriku. Ia tetap saja seperti itu, mau aku lukai seperti apapun, ia akan tetap baik kepadaku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.</p>
<p>“Ayo Le, tidak enak di sini, kita ngobrol di dalam saja. Beberapa warga nampaknya mulai menyadari keributan yang telah kita buat.”</p>
<p>Aku pun menuruti begitu saja perkataan Kenji.</p>
<p>***</p>
<p>Di rumah duka, kami satu kelas duduk berjejer di kursi yang telah disiapkan keluarga Sica di depan rumah. Sebelumnya, kami telah melihat jenazah Sica di dalam. Lihatlah, meskipun dalam keadaan tidak bernyawa, kecantikannya masih terlihat, bahkan ia terlihat mengulum senyum dalam matinya. Aku masih terngiang kata-kata terakhir yang ia ucapkan di pertemuan terakhir kami.</p>
<p>“Terima kasih, Alexander Napoleon Caesar.”</p>
<p>Aku tidak bisa meresponnya waktu itu, menganggap itu hanya sekedar ucapan terima kasih biasa. Jika aku renungkan kembali, mungkin ia berterimakasih atas segala yang aku lakukan kepadanya. Seharusnya, aku juga mengucapkan terima kasih kepada Sica karena telah hadir di kehidupanku. Sekarang semua terlambat, ia telah tiada.</p>
<p>Ketika selesai, aku melihat Sarah telah duduk di kursi kedua paling belakang. Nampak dengan jelas, seolah terukir di wajahnya, penyesalan yang demikian dalamnya. Aku jadi bisa memahami mengapa Kenji menyarankan Sarah tidak ikut ke rumahku. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika aku bertemu dengan dirinya pada saat aku kalut. Untunglah, aku sudah lebih tenang, karena itu, aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya.</p>
<p>Awalnya, ketika ia melihatku, ia seperti hendak pindah ke kursi lain karena takut. Namun, aku bisa merasakannya, ia berusaha menguatkan diri untuk tetap berada di posisinya. Mungkin ada banyak hal yang ia ingin sampaikan kepadaku, termasuk penyesalan dan permintaan maafnya.</p>
<p>“Kamu dekat dengan Sica kan ya Leon?” Sarah membuka percakapan, setelah cukup lama kami berdiam diri.</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Kamu pasti marah denganku kan Leon?”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>Sarah menggenggam erat roknya, kurasa untuk mencegahnya menangis. Aku masih memandang ke arah rumah Sica, menanti kalimat berikutnya yang akan meluncur dari Sarah.</p>
<p>“Aku minta maaf Leon, aku yakin kamu menyalahkan aku karena aku yang memaksakan hukuman itu, aku…” perempuan ini tak kuat lagi menahan tangisnya. Di suasana duka ini, tentu menangis bukan hal yang terlihat mencolok.</p>
<p>“Awalnya aku ingin menghajarmu perempuan.” kataku sedingin es.</p>
<p>“Jika itu membuatmu bisa memaafkanku, silahkan Leon.” jawabnya pasrah.</p>
<p>“Aku sudah menghajar Kenji karena ia tidak memberitahu dimana kau berada.”</p>
<p>Sarah nampak terkejut mendengar perkataanku barusan. Yang kulakukan ini hanyalah menabur garam di luka yang terbuka.</p>
<p>“Tetapi aku telah disadarkan oleh Rena, bahwa kematian tidak terjadi karena ulah manusia, tapi karena telah ditentukan oleh takdir. Jadi aku tidak perlu memaafkan apa-apa.”</p>
<p>“Tapi tetap saja Leon, aku yang membuat Sica lari, aku…”</p>
<p>“Kau cerewet sekali perempuan,” potongku terhadap omongan Sarah, “tidak ada yang salah dalam kejadian ini. Bahkan Sica sendiri pun tidak menyalahkanmu, ia lebih memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Berhentilah merutuk diri sendiri dan jadilah orang yang lebih berguna untuk teman-teman kelasmu yang sudah mau menerima segala keburukanmu.”</p>
<p>Menurutku kalimat barusan adalah kalimat yang cukup bagus untuk menghibur seorang perempuan. Namun sayang, Sarah justru kembali menangis. Ve yang duduk di sebelahnya, yang dari tadi hanya diam melihat kami bercakap, berusaha menenangkan Sarah.</p>
<p>“Kamu itu jadi orang tidak bisa sedikit lembut ya Leon. Cobalah mengerti perasaan Sarah, jangan kamu tambah lagi lukanya dengan kata-katamu yang tidak berperasaan itu.”</p>
<p>Aku jadi merasa sedikit bersalah, namun enggan mengakui hal tersebut, hingga aku memutuskan untuk diam saja. Sarah memegang tangan Ve, seolah memberi kode bahwa ia baik-baik saja.</p>
<p>“Bukan begitu Ve, aku merasa terharu dengan yang diucapkan Leon barusan. Meskipun kata-katanya memang kasar, namun terdapat kebaikan di balik itu. Aku jadi tersadar, bahwa tidak ada gunanya terjebak dalam penyesalan. Memang benar aku telah melakukan kesalahan, namun tidak artinya jika aku tidak berusaha melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku. Terima kasih Leon atas semua yang sudah kamu ucapkan.”</p>
<p>Ia tersenyum kepadaku dengan mata yang sembab. Aku merasa sangat susah untuk membalas senyumannya, jadi aku hanya mengalihkan pandanganku darinya. Pasti ia akan mengerti alasanku melakukan ini. Untunglah, aku dan Sarah sudah berhasil mengalahkan berbagai pikiran buruk yang ada di pikiran kami.</p>
<p>***</p>
<p>“Kau serius Kenji?” tanyaku ketika Kenji mampir ke rumah seusai pemakaman Sica.</p>
<p>“Benar Le, untung saja Bejo mempunyai kekuatan yang cukup untuk menjebol pintu.”</p>
<p>Kenji bercerita kepadaku, bahwa setelah bu Rima menceritakan hal tersebut, ia langsung menoleh ke arah Sarah. Bukan berarti ia tidak merasa sedih akan kabar itu, namun ia bisa menguasai emosi sedemikian baik demi memperhatikan teman-temannya yang tidak memiliki kestabilan emosi, terutama Sarah, yang masih dihantui perasaan bersalah.</p>
<p>“Aku bisa menganalisanya Le, dari ekspresi, ditambah lagi tindakan yang ia lakukan selanjutnya, apa yang akan ia perbuat. Sarah hampir saja bunuh diri Le, di kamar mandi sekolah. Begitu kamu keluar kelas, Sarah langsung mengambil sesuatu dari kotak pensilnya dan ikut lari keluar kelas. Aku dihadapkan dua pilihan sulit, antara mengejarmu atau Sarah. Setelah melakukan kalkulasi apa yang akan terjadi jika aku membiarkan salah satu diantara kalian, aku memutuskan untuk mengejar Sarah terlebih dahulu karena ia berpotensi untuk mengakhiri hidupnya sendiri Le. Resiko terbesarmu adalah mengamuk di rumah sakit, yang ternyata benar adanya.</p>
<p>“Maka aku langsung mengajak Bejo dan Ve untuk ikut denganku. Bejo kuperlukan untuk berjaga-jaga apabila ia mengunci dirinya di kamar mandi, sedangkan Ve kubutuhkan untuk bernegosiasi dengan Sarah. Kamu tahu kan, semenjak kejadian itu, Ve yang paling terlihat usahanya untuk dekat dengan Sarah. Lalu aku meminta Andra untuk menyiapkan motornya untuk menyusulmu.</p>
<p>“Benar saja, dengan mengetuk pintu anak kamar mandi perempuan satu persatu, Ve berhasil menemukan Sarah di kamar mandi paling pojok. Ve dan aku berusaha untuk mempengaruhi Sarah agar mengurungkan niat buruknya. Ia menjerit-jerit di dalam, mengatakan berbagai hal tentang perasaan bersalahnya, bahkan ia mengatakan akan menebus kesalahannya dengan kematiannya sendiri. Aku berpikir bahwa susah untuk bernegosiasi dengan kondisi seperti ini, maka aku memutuskan untuk memaksa Sarah keluar dan merebut <em>cutter </em>darinya, meskipun ini juga baru berupa asumsi. Aku meminta Bejo untuk melakukan rencana kami. Maka dengan sekali dorongan, pintu terbuka dan terlihat Sarah dengan <em>cutter </em>di tangan kanannya. Begitu melihat benda itu, Bejo langsung merebut secara paksa alat itu dan melemparkannya keluar kamar mandi.</p>
<p>“Ve berusaha untuk menenangkan Sarah yang sudah semakin histeris, dan tentu siswa-siswa lainnya juga semakin penasaran apa yang terjadi. Kehebohan memuncak ketika salah satu guru datang, aku belum hafal semua guru. Ia bertanya kepadaku apa yang terjadi, aku pun berusaha menjelaskan dengan sebisa mungkin tidak mengungkit percobaan bunuh diri Sarah. Maka, beliau pun membawa Sarah ke ruang konseling. Aku meminta Ve untuk menemaninya, ia pasti butuh teman dalam situasi seperti ini. Setelah selesai, aku pun ke tempat parkiran motor untuk menemui Andra dan berangkat ke rumah sakit.</p>
<p>“Begitulah Leon ceritanya, aku tidak tahu apa yang terjadi di ruang konseling. Tapi aku pesan kepada Ve, tolong jangan biarkan Sarah ikut kami ke rumahmu. Biarkan ia tetap di sekolah, karena aku mempertimbangkan faktor emosionalmu. Kamu yang mencintai Sica, pasti akan segera menyalahkan orang lain atas kejadian ini. Pertama pasti kamu menyalahkan pihak rumah sakit, dan yang kedua kepada orang yang telah menyebabkan Sica masuk rumah sakit.”</p>
<p>Aku terdiam mendengar cerita Kenji. Semua langkah-langkah yang diambil begitu sistematis, begitu terukur. Dalam waktu yang sempit ia bisa memutuskan apa yang sebaiknya diambil, apa yang harus diberi prioritas lebih. Ketenangannya yang luar biasa membuat kagum, berbeda sekali dengan ketenangan yang hampir tak kumilki.</p>
<p>“Maaf Kenji atas kejadian tadi siang, seharusnya aku tidak melakukan itu.”</p>
<p>“Ah tidak apa-apa Le, toh itu bukan kejadian pertama kan, hahaha.”</p>
<p>Kutundukkan wajahku dalam-dalam, hilang nyaliku ketika berhadapan dengan anak hebat yang satu ini. Ia tak pernah sekalipun marah kepadaku, meskipun berulang kali aku menyakitinya.</p>
<p>“Entah berapa kali aku sudah memukulmu Kenji.”</p>
<p>“Dan berapa kali yang sama pula aku memaafkanmu Le.”</p>
<p>Semakin dalam wajahku menunduk mendengar jawabannya.</p>
<p>“Aku mendengar janjimu ketika di rumah sakit. Nampaknya kamu telah menemukan jalan hidupmu ya.”</p>
<p>Aku mengangkat kepalaku dan memandang Kenji, lalu pikiranku terbawa lamunan begitu saja. Benar, aku telah menyatakan “perang” kepada dokter tak berguna itu. Aku sudah mendeklarasikan diriku akan menjadi dokter spesialis paru-paru terbaik di dunia. Laki-laki tidak akan menarik ucapannya bukan?</p>
<p>“Iya Kenji, nampaknya begitu. Kematian Sica sangat menyedihkan bagiku, apalagi bisa dibilang Sica adalah cinta pertamaku. Aku yang seolah tidak punya perasaan ini bisa jatuh cinta kepada seorang wanita, adalah hal yang luar biasa. Karena itu, dengan kematiannya ini, aku berjanji, akan menjadi dokter spesialis paru-paru. Aku tidak akan membiarkan pasienku meninggal di depanku, kecuali Tuhan menghendaki seperti itu. Setidaknya aku tidak akan seperti si Sardjono itu, yang hanya bermodal keangkuhan, tapi tak becus dalam melakukan tindakan penyelamatan.”</p>
<p>“Bagus Le, tapi alangkah lebih baik jika cita-cita itu tidak disertai dengan dendam.”</p>
<p>“Akan kucoba Kenji. Tapi omong-omong, bukannya hal ini akan mencoreng reputasinya?”</p>
<p>“Menurutku, akan banyak intrik yang akan dilakukannya demi menjaga reputasi tersebut. Aku tidak tahu apa, tapi menurutku itu pasti terjadi, apalagi seorang dokter senior seperti dia.”</p>
<p>Itu justru membuatku menjadi semakin muak dengan dirinya Kenji, kataku dalam batin. Maaf saja Kenji, meskipun kau larang, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku sudah berjanji, dan janji ini berdiri di atas sebuah dendam. Anggap saja aku telah mengonversi dendam ini menjadi motivasi. Bukankah itu hal yang bagus, iya kan Kenji? Sayang, ini hanya muncul di pikiranku, tidak sampai keluar dari tenggorokanku.</p>
<p>“Gisel juga pasti sedih sekali ya. Pasti ia lelah menangis seharian, hingga ketika kita pulang malam ini ia langsung tertidur begitu saja.”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Kalau begitu, aku pamit dulu Le, jangan lupa, minggu depan kita sudah ujian kenaikan kelas. Jangan sampai kesedihanmu mempengaruhi nilaimu di kelas lo. Ingat semua mimpi kita berawal dari kelas ini, jadi jangan sampai kita main-main di kelas ini.”</p>
<p>“Tenang Kenji, aku selalu serius dalam hal belajar.”</p>
<p>Aku pun serius dalam mengikrarkan janjiku. Kematian Sica ini akan kujadikan tolak balik dalam hidupku. Aku yang selama ini belum punya arah hidup, akhirnya telah menemukannya melalui kedukaan. Percayalah Sica, aku akan menjadi dokter spesialis paru-paru terbaik di dunia, aku janji. Aku janji, tak peduli ia berdiri diatas sebuah dendam yang menyakitkan. Aku janji.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/">Chapter 40 Janji dari Sebuah Dendam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-40-janji-dari-sebuah-dendam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2018 08:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 39]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1374</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku pun menuruti permintaannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sarah. Aku masih diam entah berapa bahasa. Selain karena masih merasa malu dengan ucapanku tempo hari, mungkin juga karena Sica memintaku secara khusus untuk menemaninya barang sejenak. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menutupkan kedua matanya dan bernafas perlahan-lahan. Dengan sabar aku menantinya untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/">Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aku pun menuruti permintaannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sarah. Aku masih diam entah berapa bahasa. Selain karena masih merasa malu dengan ucapanku tempo hari, mungkin juga karena Sica memintaku secara khusus untuk menemaninya barang sejenak. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menutupkan kedua matanya dan bernafas perlahan-lahan. Dengan sabar aku menantinya untuk mengutarakan apa yang akan diucapkan oleh Sica.</p>
<p>“Aku harus menjalani operasi pengangkatan paru-paru Le.”</p>
<p>Aku hampir saja berteriak jika tidak menahan mulutku dengan kedua tanganku. Kupandang Sica dengan tatapan tidak percaya, yang membuatku sama sekali tidak bisa bicara.</p>
<p>“Hasil lab baru keluar kemarin Le, dan ternyata selama ini terdapat kanker di paru-paruku. Yang lebih mengagetkan, kanker ini telah tersebar, tidak hanya di satu lobus. Kamu pasti tahu kan ya apa itu lobus.”</p>
<p>Tentu saja aku tahu, karena biologi adalah salah satu pelajaran favoritku. Lobus adalah bagian dari paru-paru yang berfungsi untuk membantu fungsi respirasi dan pertukaran gas. Paru-paru sebelah kanan memilki tiga lobus, sedangkan sebelah kiri hanya memilki dua lobus. Tentu saja jika terdapat kanker di paru-paru, apalagi di lobus, akan mengganggu fungsi pernafasan. Apa yang terjadi jika manusia tidak bisa bernafas? Aku tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan ini.</p>
<p>“Apakah tidak bisa disembuhkan dengan metode lain?” tanyaku kepada Sica, berharap ia menjawab iya ada metode lain.</p>
<p>“Jika saja belum menyebar, mungkin bisa Le. Sayang sekali yang terjadi adalah hal sebaliknya. Karena itulah semenjak masuk SMA aku sering merasa sesak, meskipun aku jarang menunjukkannya di hadapan kalian. Aku merasa itu adalah hal yang biasa, toh aku memang sering sesak sejak kecil. Ternyata…” Sica tak kuasa melanjutkan kalimatnya.</p>
<p>Aku tidak boleh terdiam terus seperti ini. Aku harus menguatkan Sica, aku harus bisa membangkitkan semangatnya lagi. Maka kugenggam tangan Sica, lalu mulai keluarlah kata-kata motivasiku.</p>
<p>“Dengar Sica, kesehatan itu berawal dari pikiran kita. Sesehat apapun kita, jika kita berpikir sakit, maka sakitlah kita. Sebaliknya jika kita sedang diserang penyakit, kita bisa sembuh jika kita berpikir sehat, meskipun tidak semua penyakit bisa dihilangkan dengan cara ini. Akan tetapi, aku percaya bahwa kita bisa menjadi sehat diawali dengan pikiran positif ini. Mau separah apapun penyakitnya, kita harus percaya bahwa kita akan sehat kembali. Keinginan diri untuk sehat yang kuat, akan mengalahkan penyakit sekuat apapun. Jika memang kau harus operasi, maka tanamkan dalam hatimu kau akan sehat setelah menjalani operasi ini. Kuatkan dirimu Sica, kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui, kau pasti bisa melalui badai ini.”</p>
<p>Sica mendengarkanku dengan sungguh-sungguh, ia balas menggenggam tangaku dengan erat, lalu ia mulai menangis. Ia tutup kedua matanya dengan tangan satunya, berusaha mengendalikan dirinya. Aku tahu apa yang ia rasakan. Takut. Ia takut menghadapi operasi besok.</p>
<p>“Aku tahu Sica, pasti ada perasaan takut di dalam dirimu. Itu wajar, siapa yang tidak takut dengan operasi? Tapi beranikan dirimu Sica, jangan awali operasi dengan ketakutan, awali operasi dengan keberanian, dengan keyakinan. Luapkan semua ketakutanmu sekarang, di sini, berikan semua ketakutanmu kepadaku, hingga tinggal keberanian saja yang tersisa dalam dirimu.”</p>
<p>Meskipun semakin lama nada suaraku semakin meninggi karena ingin memberikan semua semangatku ke Sica, ia tetap saja menangis. Genggamannya semakin kuat, meskipun sama sekali tidak membuatku kesakitan. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengusap-ngusap genggamannya, seolah ingin mentransfer kekuatan yang aku milki.</p>
<p>Akhirnya, setelah beberapa lama, tangisnya mulai reda. Aku mengambil tisu, dan membantu Sica untuk menyeka air matanya. Aku tidak pernah belajar bagaimana memperlakukan wanita dengan baik, tapi aku merasa ini adalah hal yang benar. Ayahku tidak pernah melakukan hal yang sama ketika ibuku menangis.</p>
<p>“Terima kasih Le, kamu teman yang baik. Kata-katamu telah menguatkan diriku.”</p>
<p>“Kapanpun Sica.”</p>
<p>“Kemarin kamu bilang ingin menjadi orang yang selalu ada di sisiku bukan?”</p>
<p>Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan ini.</p>
<p>“Aku juga ingin kamu selalu ada di sisiku Le.”</p>
<p>***</p>
<p>Aku masih melamunkan Sica ketika akan beranjak tidur malam ini. Aku baru saja kembali dari rumah sakit pukul tujuh malam, ketika orangtua Sica akhirnya datang. Ternyata mereka sedang mencari bantuan dana untuk operasi Sica, hingga akhirnya harus meninggalkan Sica seorang diri. Mereka berterima kasih kepadaku karena sudah menunggu Sica hingga selarut ini. Bagaimana bisa aku meninggalkan Sica, ketika ia memohon diriku untuk menemaninya hingga orangtuanya datang, beberapa menit setelah aku hanya terdiam mendengar pernyataannya.</p>
<p>Ketika aku sampai di rumah, aku melihat Kenji sedang menemani Gisel. Untunglah, karena aku sempat khawatir Gisel akan mencari diriku. Kenji memang selalu bisa diandalkan. Kenji juga menceritakan, ketika teman-teman heran mengapa aku tidak segera keluar dari ruangan, Kenji mengatakan bahwa ada suatu hal penting yang harus dibicarakan oleh kami berdua, sehingga Kenji berinisiatif untuk mengajak teman-teman pulang terlebih dahulu. Entah bagaimana ia bisa menebak dengan jitu.</p>
<p>Gisel sempat ngambek sesaat kepadaku, satu karena pulang malam, dua karena tidak diajak mengunjungi kakak cantiknya. Dengan berbagai metode yang aku dan Kenji gunakan, akhirnya Gisel mau berhenti dari protesnya. Kami makan malam bersama dengan membeli nasi goreng yang lewat depan rumah. Aku menceritakan kondisi Sica kepada Kenji, dan ia pun nampak terkejut mendengar kabar ini. Ia akan menyampaikan hal ini besok pagi-pagi kepada teman-teman lainnya untuk mendoakan yang terbaik untuk Sica. Aku singgung mengenai janji Sarah yang akan membayari seluruh biaya rumah sakit Sica, dan Kenji menjawab lebih baik menunggu ia menawarkan diri, jangan kita yang menagih. Setelah diskusi singkat, Kenji pamit untuk pulang ke rumahnya.</p>
<p>Dan kini, terbaringlah aku dalam kegelisahan. Pertama, karena khawatir akan kondisi Sica. Kedua, respon yang ia berikan terhadap pernyataanku sebelumya. Apakah artinya ia menyimpan rasa yang sama seperti yang kurasakan? Ataukah itu hanya sekedar sopan santun, hanya agar aku tidak tersinggung? Aku sama sekali bodoh jika berkaitan dengan cinta, dan aku tidak ingin cepat menyimpulkan sendiri. Aku tidak membutuhkan status pacaran seperti kebanyakan. Selama aku dan Sica merasa nyaman, itu sudah lebih dari cukup.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelum pelajaran dimulai, Kenji memberitahukan pengumuman mengenai apa yang aku sampaikan kemarin. Sontak satu kelas berteriak kaget tidak percaya, shock mendengar informasi ini. Pandanganku terfokus kepada Sarah, meskipun aku hanya bisa melihat tubuhnya dari belakang. Terlihat sekali, ia bergetar tak karuan, dan nampaknya mulai mengerluarkan tangis. Rena sebagai teman perempuan yang duduknya paling dekat dengan Sarah –Sarah duduk di belakang Bejo dan di depan Andra, sedangkan di sampingnya adalah Sica– berusaha untuk menenangkannya. Setelah tenang, Sarah berkata bahwa ia akan membayar semua biaya operasi Sica. Ia akan menelepon orangtuanya untuk mengurus masalah ini. Meskipun orangtuanya sibuk, nampaknya mereka tidak pernah menolak keinginan Sarah. Mungkin itu adalah bentuk konsekuensi dari ketidakhadiran mereka.</p>
<p>Ketika istirahat pertama, Sarah memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit.</p>
<p>“Kenapa kau tidak minta antar pacarmu saja?” jawabku sedikit sinis. Aku masih belum bisa menghilangkan kesinisanku ketika berbicara dengan Sarah.</p>
<p>“Aku sudah memutuskannya Le, dan ia pun tidak terlalu peduli karena ia merasa bisa menemukan penggantiku dengan cepat. Apa kamu bisa?”</p>
<p>“Kenapa aku?”</p>
<p>“Karena…” Sarah berhenti sejenak, “…aku merasa Sica paling dekat denganmu Le. Aku rasa aku butuh ditemani orang yang dekat dengan Sica.”</p>
<p>Aku yakin pasti pipiku memerah, namun aku segera mengiyakan permohonan Sarah untuk menutupi hal tersebut, sembari memintanya agar mengajak Kenji. Aku akan merasa lebih tenang jika ada Kenji, dan tentu aku tidak ingin menjadi laki-laki sendiri di antara kedua wanita ini. Ketika Kenji kembali ke kelas, Sarah menanyakan hal ini, dan Kenji menyanggupinya.</p>
<p>***</p>
<p>Kami bertiga langsung menemui mama Sica yang kebetulan sedang menemani Sica. Sarah langung mengutarakan niatnya tersebut. Mama Sica sempat menolak tawaran itu, tapi setelah mendengar penjelasan Sarah yang menyatakan ia ingin menebus kesalahannya karena membuat Sica seperti ini, mama Sica menyetujui bantuan ini dan segera menghubungi suaminya.</p>
<p>Ketika mama Sica keluar dari ruangan, Sica membuka pembicaraan.</p>
<p>“Kamu tidak perlu melakukan itu Sarah, kamu tidak perlu merasa bersalah.”</p>
<p>“Tidak Sica, aku sudah berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakitmu. Biarkan aku menebus dosaku dengan ini karena aku tidak punya cara lain.”</p>
<p>“Sudahlah Sica, Sarah memiliki itikad baik untuk membantumu sembuh. InsyaAllah dia ikhlas, jadi terimalah bantuannya.” Kenji membantu Sarah untuk meyakinkan Sica.</p>
<p>Sica memandang kepadaku seolah meminta pembelaan, namun aku sepakat dengan Kenji, sehingga aku hanya menganggukkan kepala. Sica pun melemparkan senyuman pasrah.</p>
<p>Lalu datanglah seorang dokter, mungkin ia yang akan menangani operasi Sica. Dari awal aku melihatnya, aku langsung memutuskan untuk tidak menyukainya. Ekspresinya, cara berjalannya, menunjukkan bahwa ia tipe orang yang merasa dirinya paling hebat. Apakah aku dulu terlihat sebegitu menjijikan itu?</p>
<p>“Halo adik-adik, kenalkan saya dokter Sardjono. Saya dokter spesialis paru-paru paling hebat disini, jadi kalian tidak perlu khawatir tentang kondisi teman kalian. Oh ini ya yang namanya Jessica, apa kabarnya cantik?”</p>
<p>Ia mengatakan itu sambil mengelus-ngelus tangan Sica. Kurang ajar, sudah sombong, genit pula. Jika bukan karena sedang berada di rumah sakit, sudah kuberi dia pukulan tanpa kasih sayang. Jadi aku memutuskan untuk berkata dengan halus.</p>
<p>“Lepaskan tanganmu dari Sica, kau kakek mesum.”</p>
<p>Ia nampak kaget mendengar aku mengatainya seperti itu. Ia melepaskan genggamannya dan berjalan ke arahku.</p>
<p>“Kenapa? Kamu cemburu nak? Oh saya tahu, kamu pacarnya ya? Ah maafkan saya kalau begitu karena sudah berbuat lancang.” katanya sambil menyeringai bagai Hyena.</p>
<p>Aku hanya menatap dingin ke arahnya. Mungkin ia sedikit terkejut karena intimidasinya tidak berpengaruh padaku. Jadi, ia hanya mendengus kesal, dan keluar kamar.</p>
<p>“Terima kasih Le, jika bukan karena kondisiku, pasti sudah kutampar dokter itu.” kata Sica kepadaku.</p>
<p>“Sama-sama Sica.”</p>
<p>Kami tidak lama di rumah sakit. Setelah urusan administrasi untuk operasi selesai, kami berpamitan kepada Sica dan mamanya. Aku memandang sejenak Sica sebelum beranjak dengan tatapan ‘apakah kamu butuh ditemani’? Namun ia hanya balas memandang ‘aku baik-baik saja, tinggalkan aku, terima kasih untuk semuanya’. Maka aku pun meninggalkannya dengan berat hati, bahkan langkahku pun menjadi berat, seolah mengisyaratkan agar aku tetap disini. Akhirnya aku pun kembali ke ranjang Sica untuk mengeluarkan unek-unek di kepalaku.</p>
<p>“Aku ingin di sini Sica, aku ingin menemanimu, aku ingin duduk di sisimu.”</p>
<p>“Aku pun ingin kamu temani Le, namun kamu harus menemani Gisel. Datanglah setiap hari, tapi jangan sampai kamu melupakan Gisel. Toh sekarang ada mamaku yang menjagaku.”</p>
<p>Maka akupun melangkah keluar, lalu terdengar Sica berbisik lirik, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.</p>
<p>“Terima kasih, Alexander Napoleon Caesar.”</p>
<p>***</p>
<p>Satu minggu setelah operasi, Jessica Christiani, wanita yang aku cintai, meninggal dunia di ruang sakura itu.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/">Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-39-di-ruang-sakura-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Chapter 38 Semua Sudah Tahu</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2018 08:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[chapter 38]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1333</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku hanya bisa memberi tatapan kosong ketika Kenji memintaku untuk menemaninya menjenguk Sica. Ia kebingungan melihat responku, namun kurang dari semenit ia memberi tatapan “ah, aku mengerti apa yang telah terjadi”. Karena itu ia menambahkan, kemungkinan semua teman sekelas akan ikut menjenguk, jadi tidak usah takut suasananya menjadi awkward. Aku hanya mengangguk-angguk dengan tatapan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/">Chapter 38 Semua Sudah Tahu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Aku hanya bisa memberi tatapan kosong ketika Kenji memintaku untuk menemaninya menjenguk Sica. Ia kebingungan melihat responku, namun kurang dari semenit ia memberi tatapan “ah, aku mengerti apa yang telah terjadi”. Karena itu ia menambahkan, kemungkinan semua teman sekelas akan ikut menjenguk, jadi tidak usah takut suasananya menjadi <em>awkward</em>. Aku hanya mengangguk-angguk dengan tatapan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Di jam istirahat pertama, Kenji dan Bejo mengumumkan bahwa sepulang sekolah nanti, kami semua akan menjenguk Sica yang sudah sadar kembali. Sebenarnya kami bisa mengunjunginya kemarin, hanya saja kami terlalu heboh dengan kembalinya Kenji dan Sarah. Omong-omong soal Sarah, ia masih terlihat takut-takut dengan kami, sehingga membuatnya diam tak bersuara sepanjang hari ini. Untunglah, beberapa teman seperti Rena dan Ve berusaha untuk membuat Sarah nyaman dengan mengajaknya bicara.</p>
<p style="text-align: left;">Aku jadi teringat tentang pertanyaanku kemarin ke Sica, mengapa ia tidak memiliki teman perempuan dekat di kelas. Untuk menghilangkan rasa penasaran tersebut, aku menanyakannya kepada Gita.</p>
<p style="text-align: left;">“Kenapa kamu bertanya itu Le?” tanya Gita balik, mungkin merasa pertanyaanku itu tidak perlu ditanyakan olehku.</p>
<p style="text-align: left;">“Hanya penasaran Gita, kenapa anak sebaik Sica justru tidak memilki teman dekat.” aku berusaha menjelaskan inti dari pertanyaanku.</p>
<p style="text-align: left;">Gita memandangku dengan tatapan memelas. Aku tidak paham apa yang perlu dikasihani dengan pertanyaanku? Atau justru tatapannya itu ditujukan kepada Sica?</p>
<p style="text-align: left;">“Kamu tahu Le, bagi kami kaum wanita, Sica itu terlihat terlalu sempurna. Ia pintar, cantik, baik hati, supel, hingga seolah-olah ia adalah makhluk yang sempurna. Mungkin itulah Le alasannya, ia terlalu tinggi untuk digapai oleh kami yang biasa-biasa saja.”</p>
<p style="text-align: left;">Aku sedikit terlonjak mendengar jawaban Gita. Terlalu sempurna? Benarkah kesempurnaan membuat kita menjadi susah memiliki kawan? Jika dipikir-pikir, mungkin ada benarnya. Dulu aku merasa begitu sempurna, sehingga tidak memiliki kawan satu pun. Akan tetapi tentu hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan Sica, karena kesempurnaan milikku adalah bentuk keangkuhan, sedangkan Sica adalah murni miliknya, walaupun aku percaya tidak ada manusia yang sempurna.</p>
<p style="text-align: left;">“Kamu beneran suka sama Sica ya Le?” tanya Gita menarikku kembali dari alam pikirku.</p>
<p style="text-align: left;">“Eh…itu&#8230;enggak kok. Aku hanya penasaran.” jawabku tergagap karena tidak menduga Gita akan bertanya sefrontal ini.</p>
<p style="text-align: left;">Gita hanya tersenyum masam, lalu membalikkan tubuhnya. Apakah aku salah karena menanyakan pertanyaan ini, pertanyaan yang jawabannya mungkin dirasakan oleh teman perempuan satu kelas? Belum kutemukan jawabannya, bel tanda masuk sudah berdering.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Jam istirahat kedua, teman-teman melakukan berbagai aktivitas. Sudarwono bersaudara selalu menjadi yang pertama keluar kelas. Kenji biasanya menghampiri aku untuk mengajak ke kantin, namun lebih sering aku tolak karena memang aku tidak suka membelanjakan uangku untuk membeli makanan. Toh aku sangat jarang merasa lapar, walaupun otak digunakan seharian untuk berpikir.</p>
<p style="text-align: left;">Karena sudah menemukan metode untuk berbicara dengan Juna, maka aku mencoba untuk mengajaknya berbicara.</p>
<p style="text-align: left;">“Juna, aku mengganggu?”</p>
<p style="text-align: left;">Ia menoleh dan melihat kelima jariku, terkekeh dengan geli.</p>
<p style="text-align: left;">“Tentu tidak Le, terima kasih sudah memberitahukan metode tersebut kepada teman-teman yang lain.”</p>
<p style="text-align: left;">“Mengapa kau bisa begitu berbeda di antara jeda dua detik?”</p>
<p style="text-align: left;">“Entahlah, sejak kecil aku begitu lambat dalam memberikan respon. Butuh lima detik agar otakku dapat memprosesi informasi yang masuk.”</p>
<p style="text-align: left;">“Lalu, mengapa biasanya kau respon dalam tiga detik?”</p>
<p style="text-align: left;">“Itu karena aku sering dimarahi oleh orang-orang yang mengajakku berbicara, sehingga aku menjawabnya lebih cepat dengan mengulang pertanyaannya, memberikan jeda untuk otakku menyerap informasi.”</p>
<p style="text-align: left;">“Tapi kau termasuk pintar Juna, bahkan di kelas ini, bagaimana bisa?”</p>
<p style="text-align: left;">“Otakku memang lambat menerima informasi yang berupa audio, akan tetapi di sisi lain sangat cepat menyerap informasi visual. Berikan aku buku telepon, beri beberapa menit, maka aku akan hafal halaman pertamanya.”</p>
<p style="text-align: left;">“Benarkah? Susah dipercaya.”</p>
<p style="text-align: left;">“Mau bukti? Coba tuliskan sesuatu secara acak rangkaian angka, huruf maupun simbol. Beri aku waktu beberapa detik untuk membacanya.”</p>
<p style="text-align: left;">Kulakukan apa yang ia minta, mencoba membuatnya sesulit mungkin. Begitu selesai, kuberikan kepadanya. Ia membaca kertas tersebut, membaca sepintas, lalu mengembalikannya kepadaku. Lantas, ia sebutkan semua yang tertera di kertas tersebut, lengkap dengan kesalahan-kesalahan penulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">“Wah, luar biasa, tak kusangka kau memiliki kemampuan seperti itu.”</p>
<p style="text-align: left;">“Anggap saja ditukar dengan kemampuan otakku yang lambat menangkap informasi berupa audio. Kamu tahu mengapa aku sering sibuk menulis sewaktu istirahat?”</p>
<p style="text-align: left;">Aku menggelengkan kepala.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku mencatat semua informasi yang aku dapatkan, baik pelajaran maupun tindak tanduk kalian. Aku bukan tipe orang yang mudah bergaul karena keterbatasanku ini, tetapi aku ingin bisa membaur dengan kalian. Oleh karena itu aku banyak mencatat tentang hal tersebut, sehingga ketika kalian mengajakku berbicara, aku bisa nyambung.”</p>
<p style="text-align: left;">“Aku paham.”</p>
<p style="text-align: left;">Aku berpikir sejenak, lalu bertanya kepada Juna.</p>
<p style="text-align: left;">“Kau juga mencatat pertanyaan Gita sewaktu istirahat pertama?”</p>
<p style="text-align: left;">“Tentu saja, banyak catatanku yang berisi perasaanmu kepada Sica, baik yang berasal darimu maupun orang lain. Aku rasa semua teman-teman satu kelas sudah tahu Le.” katanya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: left;">Aku segera membalikkan badanku, mengakhiri percakapan.</p>
<p style="text-align: left;">***</p>
<p style="text-align: left;">Setelah berkutat dengan kimia, akhirnya kami bisa bernafas lega karena waktu untuk pulang telah tiba. Masuk ke kelas akselerasi berarti kami harus siap belajar satu setengah kali lebih cepat dibandingkan kelas regular. Di saat kelas lain masih bersantai, kami sudah akan naik tingkat ke kelas sebelas. Ketika kelas regular naik kelas, kami sudah separuh jalan menuju kelas dua belas. Inilah resikonya menjadi anak akselerasi, namun aku sama sekali tidak menyesali kondisi ini. Aku adalah penyuka tantangan, apalagi jika terkait dengan pelajaran. Aku akan berusaha mengalahkan semua teman-temanku di sini, termasuk Kenji.</p>
<p style="text-align: left;">Sesuai kesepakatan, kami semua akan mengunjungi Sica sepulang sekolah. Setelah mampir ke toko kelontong untuk membeli roti dan susu (lagi), kami berempatbelas mencegat angkot bersama-sama. Aku sengaja tidak pulang terlebih dahulu untuk mengajak Gisel, karena takut bocah itu akan membuka semua apa yang terjadi kemarin lusa. Mau ditaruh mana muka ini jika teman-teman sampai tahu.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika kami sudah sampai di rumah sakit dan hendak masuk ke dalam ruangan, aku melihat keraguan dalam wajah Sarah. Kenji berusaha untuk menyemangatinya, namun ia tetap ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa sudah masuk ke dalam kamar inap, tidak menyadari ketakutan Sarah untuk bertemu dengan Sica. Karena Kenji terlihat susah untuk meyakinkan Sarah, aku maju untuk membantunya.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku sudah bertemu Sica kemarin, dan ia khawatir kau akan merasa bersalah karena telah membuatnya masuk rumah sakit. Meskipun aku tidak setuju dengan pendapatnya, kau perlu tahu bahwa Sica tidak marah kepadamu. Ia sama sekali tidak menyalahkanmu.”</p>
<p style="text-align: left;">Sarah hanya terdiam mendengar perkataanku, namun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan. Untunglah, nampaknya hari ini tidak ada pasien lain yang berada di kamar lain, sehingga kedatangan kami yang beramai-ramai ini tidak terlalu mengganggu.</p>
<p style="text-align: left;">Teman-teman yang lain langsung menyingkir ketika melihat Sarah berjalan perlahan memasuki ruangan. Mereka nampaknya tahu, ada sesuatu yang ingin diutarakan oleh Sarah. Aku dan Kenji mengikutinya dari belakang. Untunglah fokus teman-teman ada di Sarah, bukan ke diriku yang sedang meredam getaran-getaran yang entah darimana datangnya.</p>
<p style="text-align: left;">Sunyi sesaat ketika Sarah dan Sica saling bertatap muka. Mungkin itu bukan istilah yang tepat, karena Sarah tidak berani menatap wajah Sica secara langsung, walaupun Sica memasang wajah yang bersahabat. Betapa hebat wanita yang satu ini, sama sekali tidak mengukir dendam di hatinya.</p>
<p style="text-align: left;">Karena mereka hanya saling berdiam diri dalam waktu yang cukup lama, Sica memutuskan untuk mengambil inisiatif.</p>
<p style="text-align: left;">“Aku minta maaf ya Sarah.”</p>
<p style="text-align: left;">Satu kalimat, dan tumpahlah air mata Sarah. Ia menutupi mukanya, berusaha menahan suara agar tidak terlalu keras isaknya terdengar. Teman-teman perempuan yang lain berusaha untuk menenangkan Sarah, dan menggiringnya agar duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjang Sica. Rupanya mama Sica sedang tidak ada di tempat.</p>
<p style="text-align: left;">Selang beberapa saat, ketika sudah berhasil menguasai emosinya, Sarah mulai mengeluarkan permohonan maafnya yang tulus. Sica pun hanya bisa menjawab bahwa ia sudah memaafkan Sarah, dan berharap setelah ini mereka bisa menjadi teman yang baik. Beberapa teman nampak terharu melihat adegan. Aku? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa melelehkan hatiku yang terbuat dari besi?</p>
<p style="text-align: left;">Sekitar 45 menit kami berada di rumah sakit. Mereka semua silih berganti mengajak bicara Sica, menanyakan ini dan itu. Nampaknya belum ada yang menyadari bahwa telah terjadi sesuatu kemarin lusa antara aku dan Sica. Terang saja, karena aku belum sekalipun mengeluarkan suara semenjak memasuki ruangan ini. Aku hanya menyimak baik-baik percakapan mereka, perbincangan antar teman kelas. Setelah itu, kami pun satu per satu berpamitan dengan Sica, dimulai dengan Sarah hingga aku yang terakhir.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika aku hendak berpamitan dengan Sica, teman-teman sudah keluar dari ruangan, menyisakan kami berdua. Berat rasanya untuk berpamitan dengan dirinya karena aku masih merasa canggung, apalagi jika teringat kalimat terakhir yang keluar dari bibirku.</p>
<p style="text-align: left;">Hingga akhirnya, Sica lah yang berbicara terlebih dahulu dengan diiringi senyumannya.</p>
<p style="text-align: left;">“Le, tolong temani aku sebentar di sini.”</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/">Chapter 38 Semua Sudah Tahu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-38-semua-sudah-tahu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
