Chapter 39: Di Ruang Sakura Itu

Aku pun menuruti permintaannya, dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Sarah. Aku masih diam entah berapa bahasa. Selain karena masih merasa malu dengan ucapanku tempo hari, mungkin juga karena Sica memintaku secara khusus untuk menemaninya barang sejenak. Ia tidak langsung berbicara, melainkan menutupkan kedua matanya dan bernafas perlahan-lahan. Dengan sabar aku menantinya untuk mengutarakan apa yang akan diucapkan oleh Sica.

“Aku harus menjalani operasi pengangkatan paru-paru Le.”

Aku hampir saja berteriak jika tidak menahan mulutku dengan kedua tanganku. Kupandang Sica dengan tatapan tidak percaya, yang membuatku sama sekali tidak bisa bicara.

“Hasil lab baru keluar kemarin Le, dan ternyata selama ini terdapat kanker di paru-paruku. Yang lebih mengagetkan, kanker ini telah tersebar, tidak hanya di satu lobus. Kamu pasti tahu kan ya apa itu lobus.”

Tentu saja aku tahu, karena biologi adalah salah satu pelajaran favoritku. Lobus adalah bagian dari paru-paru yang berfungsi untuk membantu fungsi respirasi dan pertukaran gas. Paru-paru sebelah kanan memilki tiga lobus, sedangkan sebelah kiri hanya memilki dua lobus. Tentu saja jika terdapat kanker di paru-paru, apalagi di lobus, akan mengganggu fungsi pernafasan. Apa yang terjadi jika manusia tidak bisa bernafas? Aku tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan ini.

“Apakah tidak bisa disembuhkan dengan metode lain?” tanyaku kepada Sica, berharap ia menjawab iya ada metode lain.

“Jika saja belum menyebar, mungkin bisa Le. Sayang sekali yang terjadi adalah hal sebaliknya. Karena itulah semenjak masuk SMA aku sering merasa sesak, meskipun aku jarang menunjukkannya di hadapan kalian. Aku merasa itu adalah hal yang biasa, toh aku memang sering sesak sejak kecil. Ternyata…” Sica tak kuasa melanjutkan kalimatnya.

Aku tidak boleh terdiam terus seperti ini. Aku harus menguatkan Sica, aku harus bisa membangkitkan semangatnya lagi. Maka kugenggam tangan Sica, lalu mulai keluarlah kata-kata motivasiku.

“Dengar Sica, kesehatan itu berawal dari pikiran kita. Sesehat apapun kita, jika kita berpikir sakit, maka sakitlah kita. Sebaliknya jika kita sedang diserang penyakit, kita bisa sembuh jika kita berpikir sehat, meskipun tidak semua penyakit bisa dihilangkan dengan cara ini. Akan tetapi, aku percaya bahwa kita bisa menjadi sehat diawali dengan pikiran positif ini. Mau separah apapun penyakitnya, kita harus percaya bahwa kita akan sehat kembali. Keinginan diri untuk sehat yang kuat, akan mengalahkan penyakit sekuat apapun. Jika memang kau harus operasi, maka tanamkan dalam hatimu kau akan sehat setelah menjalani operasi ini. Kuatkan dirimu Sica, kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui, kau pasti bisa melalui badai ini.”

Sica mendengarkanku dengan sungguh-sungguh, ia balas menggenggam tangaku dengan erat, lalu ia mulai menangis. Ia tutup kedua matanya dengan tangan satunya, berusaha mengendalikan dirinya. Aku tahu apa yang ia rasakan. Takut. Ia takut menghadapi operasi besok.

“Aku tahu Sica, pasti ada perasaan takut di dalam dirimu. Itu wajar, siapa yang tidak takut dengan operasi? Tapi beranikan dirimu Sica, jangan awali operasi dengan ketakutan, awali operasi dengan keberanian, dengan keyakinan. Luapkan semua ketakutanmu sekarang, di sini, berikan semua ketakutanmu kepadaku, hingga tinggal keberanian saja yang tersisa dalam dirimu.”

Meskipun semakin lama nada suaraku semakin meninggi karena ingin memberikan semua semangatku ke Sica, ia tetap saja menangis. Genggamannya semakin kuat, meskipun sama sekali tidak membuatku kesakitan. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengusap-ngusap genggamannya, seolah ingin mentransfer kekuatan yang aku milki.

Akhirnya, setelah beberapa lama, tangisnya mulai reda. Aku mengambil tisu, dan membantu Sica untuk menyeka air matanya. Aku tidak pernah belajar bagaimana memperlakukan wanita dengan baik, tapi aku merasa ini adalah hal yang benar. Ayahku tidak pernah melakukan hal yang sama ketika ibuku menangis.

“Terima kasih Le, kamu teman yang baik. Kata-katamu telah menguatkan diriku.”

“Kapanpun Sica.”

“Kemarin kamu bilang ingin menjadi orang yang selalu ada di sisiku bukan?”

Aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan ini.

“Aku juga ingin kamu selalu ada di sisiku Le.”

***

Aku masih melamunkan Sica ketika akan beranjak tidur malam ini. Aku baru saja kembali dari rumah sakit pukul tujuh malam, ketika orangtua Sica akhirnya datang. Ternyata mereka sedang mencari bantuan dana untuk operasi Sica, hingga akhirnya harus meninggalkan Sica seorang diri. Mereka berterima kasih kepadaku karena sudah menunggu Sica hingga selarut ini. Bagaimana bisa aku meninggalkan Sica, ketika ia memohon diriku untuk menemaninya hingga orangtuanya datang, beberapa menit setelah aku hanya terdiam mendengar pernyataannya.

Ketika aku sampai di rumah, aku melihat Kenji sedang menemani Gisel. Untunglah, karena aku sempat khawatir Gisel akan mencari diriku. Kenji memang selalu bisa diandalkan. Kenji juga menceritakan, ketika teman-teman heran mengapa aku tidak segera keluar dari ruangan, Kenji mengatakan bahwa ada suatu hal penting yang harus dibicarakan oleh kami berdua, sehingga Kenji berinisiatif untuk mengajak teman-teman pulang terlebih dahulu. Entah bagaimana ia bisa menebak dengan jitu.

Gisel sempat ngambek sesaat kepadaku, satu karena pulang malam, dua karena tidak diajak mengunjungi kakak cantiknya. Dengan berbagai metode yang aku dan Kenji gunakan, akhirnya Gisel mau berhenti dari protesnya. Kami makan malam bersama dengan membeli nasi goreng yang lewat depan rumah. Aku menceritakan kondisi Sica kepada Kenji, dan ia pun nampak terkejut mendengar kabar ini. Ia akan menyampaikan hal ini besok pagi-pagi kepada teman-teman lainnya untuk mendoakan yang terbaik untuk Sica. Aku singgung mengenai janji Sarah yang akan membayari seluruh biaya rumah sakit Sica, dan Kenji menjawab lebih baik menunggu ia menawarkan diri, jangan kita yang menagih. Setelah diskusi singkat, Kenji pamit untuk pulang ke rumahnya.

Dan kini, terbaringlah aku dalam kegelisahan. Pertama, karena khawatir akan kondisi Sica. Kedua, respon yang ia berikan terhadap pernyataanku sebelumya. Apakah artinya ia menyimpan rasa yang sama seperti yang kurasakan? Ataukah itu hanya sekedar sopan santun, hanya agar aku tidak tersinggung? Aku sama sekali bodoh jika berkaitan dengan cinta, dan aku tidak ingin cepat menyimpulkan sendiri. Aku tidak membutuhkan status pacaran seperti kebanyakan. Selama aku dan Sica merasa nyaman, itu sudah lebih dari cukup.

***

Sebelum pelajaran dimulai, Kenji memberitahukan pengumuman mengenai apa yang aku sampaikan kemarin. Sontak satu kelas berteriak kaget tidak percaya, shock mendengar informasi ini. Pandanganku terfokus kepada Sarah, meskipun aku hanya bisa melihat tubuhnya dari belakang. Terlihat sekali, ia bergetar tak karuan, dan nampaknya mulai mengerluarkan tangis. Rena sebagai teman perempuan yang duduknya paling dekat dengan Sarah –Sarah duduk di belakang Bejo dan di depan Andra, sedangkan di sampingnya adalah Sica– berusaha untuk menenangkannya. Setelah tenang, Sarah berkata bahwa ia akan membayar semua biaya operasi Sica. Ia akan menelepon orangtuanya untuk mengurus masalah ini. Meskipun orangtuanya sibuk, nampaknya mereka tidak pernah menolak keinginan Sarah. Mungkin itu adalah bentuk konsekuensi dari ketidakhadiran mereka.

Ketika istirahat pertama, Sarah memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit.

“Kenapa kau tidak minta antar pacarmu saja?” jawabku sedikit sinis. Aku masih belum bisa menghilangkan kesinisanku ketika berbicara dengan Sarah.

“Aku sudah memutuskannya Le, dan ia pun tidak terlalu peduli karena ia merasa bisa menemukan penggantiku dengan cepat. Apa kamu bisa?”

“Kenapa aku?”

“Karena…” Sarah berhenti sejenak, “…aku merasa Sica paling dekat denganmu Le. Aku rasa aku butuh ditemani orang yang dekat dengan Sica.”

Aku yakin pasti pipiku memerah, namun aku segera mengiyakan permohonan Sarah untuk menutupi hal tersebut, sembari memintanya agar mengajak Kenji. Aku akan merasa lebih tenang jika ada Kenji, dan tentu aku tidak ingin menjadi laki-laki sendiri di antara kedua wanita ini. Ketika Kenji kembali ke kelas, Sarah menanyakan hal ini, dan Kenji menyanggupinya.

***

Kami bertiga langsung menemui mama Sica yang kebetulan sedang menemani Sica. Sarah langung mengutarakan niatnya tersebut. Mama Sica sempat menolak tawaran itu, tapi setelah mendengar penjelasan Sarah yang menyatakan ia ingin menebus kesalahannya karena membuat Sica seperti ini, mama Sica menyetujui bantuan ini dan segera menghubungi suaminya.

Ketika mama Sica keluar dari ruangan, Sica membuka pembicaraan.

“Kamu tidak perlu melakukan itu Sarah, kamu tidak perlu merasa bersalah.”

“Tidak Sica, aku sudah berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakitmu. Biarkan aku menebus dosaku dengan ini karena aku tidak punya cara lain.”

“Sudahlah Sica, Sarah memiliki itikad baik untuk membantumu sembuh. InsyaAllah dia ikhlas, jadi terimalah bantuannya.” Kenji membantu Sarah untuk meyakinkan Sica.

Sica memandang kepadaku seolah meminta pembelaan, namun aku sepakat dengan Kenji, sehingga aku hanya menganggukkan kepala. Sica pun melemparkan senyuman pasrah.

Lalu datanglah seorang dokter, mungkin ia yang akan menangani operasi Sica. Dari awal aku melihatnya, aku langsung memutuskan untuk tidak menyukainya. Ekspresinya, cara berjalannya, menunjukkan bahwa ia tipe orang yang merasa dirinya paling hebat. Apakah aku dulu terlihat sebegitu menjijikan itu?

“Halo adik-adik, kenalkan saya dokter Sardjono. Saya dokter spesialis paru-paru paling hebat disini, jadi kalian tidak perlu khawatir tentang kondisi teman kalian. Oh ini ya yang namanya Jessica, apa kabarnya cantik?”

Ia mengatakan itu sambil mengelus-ngelus tangan Sica. Kurang ajar, sudah sombong, genit pula. Jika bukan karena sedang berada di rumah sakit, sudah kuberi dia pukulan tanpa kasih sayang. Jadi aku memutuskan untuk berkata dengan halus.

“Lepaskan tanganmu dari Sica, kau kakek mesum.”

Ia nampak kaget mendengar aku mengatainya seperti itu. Ia melepaskan genggamannya dan berjalan ke arahku.

“Kenapa? Kamu cemburu nak? Oh saya tahu, kamu pacarnya ya? Ah maafkan saya kalau begitu karena sudah berbuat lancang.” katanya sambil menyeringai bagai Hyena.

Aku hanya menatap dingin ke arahnya. Mungkin ia sedikit terkejut karena intimidasinya tidak berpengaruh padaku. Jadi, ia hanya mendengus kesal, dan keluar kamar.

“Terima kasih Le, jika bukan karena kondisiku, pasti sudah kutampar dokter itu.” kata Sica kepadaku.

“Sama-sama Sica.”

Kami tidak lama di rumah sakit. Setelah urusan administrasi untuk operasi selesai, kami berpamitan kepada Sica dan mamanya. Aku memandang sejenak Sica sebelum beranjak dengan tatapan ‘apakah kamu butuh ditemani’? Namun ia hanya balas memandang ‘aku baik-baik saja, tinggalkan aku, terima kasih untuk semuanya’. Maka aku pun meninggalkannya dengan berat hati, bahkan langkahku pun menjadi berat, seolah mengisyaratkan agar aku tetap disini. Akhirnya aku pun kembali ke ranjang Sica untuk mengeluarkan unek-unek di kepalaku.

“Aku ingin di sini Sica, aku ingin menemanimu, aku ingin duduk di sisimu.”

“Aku pun ingin kamu temani Le, namun kamu harus menemani Gisel. Datanglah setiap hari, tapi jangan sampai kamu melupakan Gisel. Toh sekarang ada mamaku yang menjagaku.”

Maka akupun melangkah keluar, lalu terdengar Sica berbisik lirik, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Terima kasih, Alexander Napoleon Caesar.”

***

Satu minggu setelah operasi, Jessica Christiani, wanita yang aku cintai, meninggal dunia di ruang sakura itu.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.