Tentang Sica, Sarah, dan Rika

Kali ini penulis akan menjelaskan tentang tiga karakter perempuan di kelas akselerasi. Mereka adalah Sica, Sarah, dan Rika, di mana pada buku pertama mereka lumayan sering muncul dan mempengaruhi keseluruhan jalan cerita.

Jessica Christiani

Nama Jessica penulis ambil dari salah satu mantan personil Girls’ Generation, Jessica Jung. Sedangkan nama belakangnya penulis ambil dari salah satu presenter wanita Indonesia, Yuanita Christiani, karena terdengar cocok disandingkan dengan nama Jessica.

Panggilan Sica penulis ambil sesuai dengan panggilan Jessica yang asli. Selain itu, panggilan “Sic” terdengar lebih enak dibandingkan dengan panggilan “Jes”.

Sica adalah seorang perempuan cantik dengan suara merdu. Penampilan fisiknya kurang lebih penulis bayangkan seperti Jessica yang asli. Putih, berambut panjang dengan karakter wajah yang oriental.

Ia memiliki sifat yang keras, berani, dan tidak takut membela apa yang ia anggap benar. Sica tidak segan untuk membentak Leon di hari pertama karena ia menganggap tingkah laku Leon yang tidak sopan ke Kenji sudah keterlaluan.

Namun di balik itu semua, ia memiliki hati yang lembut dan tidak suka menyimpan dendam. Ia tidak ragu untuk mengulurkan tangannya untuk membantu teman-temannya.

Hanya saja, ia sering dicap terlalu sempurna oleh teman-teman perempuan lainnya, sehingga mereka tidak berani menjangkau Sica. Hal ini membuat Sica tidak memiliki teman perempuan yang benar-benar dekat.

Hal tersebut membuat Sica menjadi dekat dengan Leon, karena ia melihat Leon merupakan teman yang apa adanya. Ia menganggap Leon memandang dirinya sama seperti Leon memandang teman lainnya.

via seoulbeats.com

Dari sanalah ketertarikan dari keduanya tumbuh, yang baru terungkap ketika Sica terbaring sakit. Dialog antara Sica dan Leon pada chapter 37 merupakan salah satu adegan favorit penulis.

Awalnya, penulis membuat mereka berpisah dengan cara yang mainstream, ketika salah satu harus pindah ke Australia. Karena dirasa norak, penulis mengubahnya menjadi perpisahan akibat kematian Sica.

Ide ini sendiri muncul ketika mendengar lagu Sum41 yang berjudul Jessica Kill. Perpisahan yang tragis akan membeli pelajaran hidup berharga bagi Leon, seorang remaja yang baru saja mencoba untuk merasakan cinta kembali setelah selama ini direnggut dari kehidupannya.

Shannon Augustine Sarah

Bukan terinspirasi oleh serial TV Si Doel, melainkan dari sebuah lagu Panic! At the Disco yang berjudul Sarah Smiles dari album Vices & Virtues. Bahkan, dulu terdapat chapter yang berjudul sama dengan lagu tersebut, namun akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya ke bahasa Indonesia, menjadi Senyum Sarah (chapter 36).

Sarah merupakan murid pindahan dari Jakarta. Ia adalah sosok yang arogan dan senantiasa memandang rendah orang lain, meskipun itu ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari orang lain.

Orangtuanya merupakan pebisnis yang sukses, sehingga mereka sangat jarang bisa menemani Sarah. Ada beberapa alasan mengapa mereka memutuskan pindah ke Malang.

Pertama, orangtua Sarah sama-sama berasal dari Malang. Kedua, mereka khawatir dengan perkembangan Sarah yang menjadi sosok anak yang begitu sombong, sehingga mereka mencoba untuk menjauhkannya dari pergaulan sekolah di Jakarta.

Alasan terakhir, ibunda dari Sarah memiliki kawan dekat di SMA tempat Leon bersekolah, sehingga ia berharap guru tersebut bisa mengawasi Sarah. Hal ini belum ditunjukkan pada buku pertama, sehingga kemungkinan baru muncul di buku kedua.

Kesombongan Sarah menemui perlawanan dari teman-teman yang lain, terutama Sica dan Leon. Ia sering bertengkar dengan Sica karena masalah-masalah sepele.

Ia mulai sadar ketika Sica jatuh tersungkur saat harus lari keliling lapangan sebagai bentuk hukuman karena mendapatkan nilai ulangan lebih rendah dari Sarah. Ia begitu ketakutan menghadapi sebuah konsekuensi dari tindakannya, lantas memutuskan untuk kabur.

Kenji mengejarnya dan berusaha menolongnya dari rasa bersalah. Hanya Kenji yang menyadari bahwa alasan sikap Sarah adalah karena kurangnya perhatian dari keluarga, sehingga ia bisa mengetuk hati Sarah yang sudah lama tertutup.

Sarah mudah berubah karena memang sifat sombongnya adalah buatan, bukan autentik. Sebenarnya, ia adalah perempuan dengan hati yang lembut karena tidak tega melihat sesuatu yang sadis, seperti melihat Kenji yang terluka karena dipukuli oleh pacarnya.

Sewaktu mendengar kematian Sica, Sarah ingin menghabisi nyawanya sendiri karena merasa bersalah. Namun hal tersebut tidak ia lakukan dengan cepat karena pada dasarnya ia adalah anak yang penakut dan tidak kuat melihat darah.

Setelah ditenangkan oleh teman-temannya, Sarah berhasil mengusir rasa bersalah yang menghantuinya dan berjanji dalam hati bahwa ia akan membalas perlakuan baik teman-temannya.

Adriana Rika Kanaya

Kalau yang satu ini, pernah penulis singgung sedikit pada tulisan Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime. Rikka Takanashi dari anime Chūnibyō Demo Koi ga Shitai! merupakan inspirasi karakter ini.

Pada animenya, Rikka merupakan seorang remaja dengan sindrom kelas 8 yang membuat seseorang percaya bahwa ia memiliki kekuatan khusus. Mereka dengan mudahnya memasukkan orang lain ke dalam fantasinya.

Di sisi lain, Rika (huruf K-nya penulis hilangkan satu agar lebih terdengar Indonesia) merupakan anak perempuan yang bertubuh mungil dengan wajah yang imut, lengkap dengan potongan rambut pendeknya.

via anguerde.com

Penulis tidak membuatnya memiliki sindrom yang sama. Pada novel Leon dan Kenji, Rika adalah sesorang gadis yang sangat suka membuat cerita. Terkadang, agar lebih menghayati novel buatannya, Rika sering mengucapkan dialog-dialog yang ia buat sendiri ketika sedang berbicara dengan orang lain, termasuk teman-teman sekolahnya.

Hal ini membuat ia sering dicap aneh sehingga dijauhi. Rika bukanlah tipe orang yang akan memusingkan hal tersebut. Ia memilih untuk mengabaikannya dan memilih untuk menjadi dirinya sendiri.

Di kelas akselerasi, Rika merasa lebih diterima oleh teman-temannya, terutama oleh Leon dan Kenji. Bedanya, Kenji dengan baik hati mau masuk ke dalam alam fantasi yang Rika ciptakan, berbeda dengan Leon yang menolak untuk masuk namun tidak mengolok-olok Rika.

Leon sering mengajak bicara Rika karena ia merasa bisa bebas bicara dengannya tanpa harus mendapatkan justifikasi dari si pendengar. Sikap Rika yang tidak mau ikut campur urusan orang lain juga mempengaruhi hal ini.

Pada buku pertama, peran Rika lebih sering terlihat sebagai figuran yang tidak memiliki peran penting. Sedikit bocoran,  pada buku kedua nanti, bisa dipastikan Rika akan memiliki peran yang lebih besar dan sangat penting bagi keseluruhan cerita.

 

 

Jelambar, 28 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.