<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bohong Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bohong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bohong/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2021 13:11:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bohong Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bohong/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2021 13:01:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[Di Belakangku]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kebohongan]]></category>
		<category><![CDATA[keterbukaan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5273</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang kau lakukan, di belakangkuMengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul Di Belakangku dari album Bintang di Surga. Karena liriknya cukup puitis, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Apa yang kau lakukan, di belakangku<br>Mengapa tak kau tunjukkan, di hadapanku</p></blockquote>



<p>Untuk penggemar musik pop tahun 2000-an, lirik lagu di atas pasti tidak terasa asing. Lirik lagu tersebut Penulis ambil dari lagu Peterpan yang berjudul <em><strong>Di Belakangku</strong></em> dari album <em>Bintang di Surga</em>.</p>



<p>Karena <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">liriknya cukup puitis</a>, Penulis butuh beberapa waktu untuk bisa memahaminya. Tafsiran Penulis, lagu ini menceritakan tentang ketidakjujuran yang dilakukan kekasih kepada kita.</p>



<p>Untuk artikel <em>Tentang Rasa </em>kali ini, Penulis akan sedikit mengulik masalah ketidakjujuran dalam hubungan ini, sebuah sikap yang bisa merusak sebuah hubungan menjadi titik terendahnya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Keterbukaan dalam Hubungan</h2>



<p>Penulis pernah membaca bahwa salah dua kunci sebuah hubungan berhasil adalah <strong>saling terbuka</strong> dan <strong>komunikasi yang baik</strong>. Kunci yang pertama jelas membutuhkan sebuah kejujuran dari kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak semata.</p>



<p>Dengan saling terbuka, kita bisa saling tahu kondisi satu sama lain tanpa perlu menerka-nerka. Dengan saling terbuka, meskipun terkadang bisa menyakitkan, seharusnya masalah-masalah kesalahpahaman bisa terhindarkan.</p>



<p>Yang jadi masalah adalah jika salah satu memutuskan untuk tertutup dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kalau pihak satunya tidak peka, maka <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>bisa saja terjalin dari sana.</p>



<p>Sesuatu yang dipendam begitu lama, bisa saja tiba-tiba meletus selayaknya gumpalan magma di perut gunung berapi. BOOM. Hubungan yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan segudang permasalahan hanya karena tidak adanya keterbukaan.</p>



<p>Ada hal lain yang lebih berbahaya dari bersikap tertutup. Sudah tertutup, ia menunjukkan sikap yang berbeda di depan dan di belakang kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</h2>



<p>Frasa yang digunakan pada <em>header </em>di atas bisa diidentikkan dengan banyak hal, seperti pengkhianatan yang dilakukan oleh teman atau perselingkuhan yang dilakukan oleh pacar.</p>



<p>Dalam tulisan ini, Penulis mengonotasikan sebagai <strong>perbedaan sikap yang dilakukan oleh seseorang kepada kita</strong>, apapun bentuk hubungannya. Di hadapan kita, ia terlihat begitu manis. Di belakang kita, ia menyemburkan kata-kata yang menyakitkan kita.</p>



<p>Di hadapan kita, ia berkata tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja. Di belakang kita, ia menceritakan semua kemarahan dan sumpah serapahnya tentang kita kepada orang lain.</p>



<p>Bisa saja ia beralasan melakukan hal tersebut karena (klisenya) tidak ingin menyakiti kita, tapi sudah tidak mampu untuk menahannya sendirian. Bisa saja ia beralasan kalau dirinya tidak terbiasa untuk terbuka ke orang lain.</p>



<p>Bersikap <em>fake </em>atau berpura-pura lekat dengan yang namanya kebohongan. Mau apapun alasannya, kebohongan jarang sekali menjadi pilihan yang benar. Apalagi dalam sebuah hubungan, kebohongan bisa menjadi duri yang menyakitkan.</p>



<p>Penulis selalu berprinsip sepahit-pahitnya kejujuran, lebih pahit lagi kebohongan. Alasannya, kita harus menerima dua hal buruk sekaligus: <strong>Pahitnya kebohongan</strong> dan <strong>pahitnya kenyataan yang ia sembunyikan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Tak Kau Tunjukkan di Hadapanku?</h2>



<p>Memang, Penulis menyadari tidak semua orang bisa jujur apa adanya. Penulis menyadari bahwa terkadang <a href="https://whathefan.com/rasa/ternyata-tidak-semua-yang-dirasa-harus-diungkapkan/"><strong>ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan</strong></a> dan lebih baik disimpan untuk diri sendiri.</p>



<p>Minta solusi atau pendapat ke pihak ketiga memang sah-sah saja, dan kadang memang dibutuhkan. Mungkin, masalah yang dihadapi memang terlalu pelik sehingga dibutuhkan seorang mediator.</p>



<p>Hanya saja, sikap yang seperti itu bisa mencederai hubungan tersebut, apalagi kalau sampai menceritakan masalah ke pihak ketiga tanpa pernah berusaha menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu.  </p>



<p>Mungkin, ada yang ragu untuk terbuka karena pihak satunya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada mendengarkan keterbukaan kita. Ketika kita coba terbuka, dianya malah marah-marah dan tidak bisa mendengarkan omongan kita.</p>



<p>Namun, setidaknya berdasarkan pengalaman Penulis, kebohongan seperti itu sangat menyakitkan, seolah ada yang menusuk dari belakang. Sakitnya datang secara tiba-tiba tanpa pernah bisa kita antisipasi.</p>



<p>Yang jelas, ada banyak alasan mengapa yang disembunyikan di belakang tersebut tidak pernah ditunjukkan di hadapan kita. Seringnya, kita tidak akan pernah tahu alasan mana yang menjadi penyebabnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Merespon Ketidakterbukaan</h2>



<p>Seperti yang banyak diajarkan pada aliran filsafat stoikisme, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sifat orang tidak bisa kita kendalikan</a>. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah <strong>bagaimana kita merespon sikap ketidakterbukaan atau kebohongan orang lain tersebut</strong>.</p>



<p>Ada yang merasa kecewa, ada yang merasa dikhianati, ada yang merasa sedih, ada yang merasa marah. Ada yang langsung memutuskan hubungan, ada yang mengulik kesalahan-kesalahannya, ada yang ingin balas dendam atas sakit yang diterima.</p>



<p>Yang hebat jika bisa meresponnya dengan ikhlas dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Yang hebat jika bisa memaklumi dan menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa jujur dan terbuka apa adanya, lalu menjadikannya sebagai bahan interopeksi diri.</p>



<p>Apa yang kau lakukan di belakangku? Entahlah, mungkin kita tidak akan pernah tahu. Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku? Ada berjuta alasan dan mungkin kita tidak perlu tahu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 5 September 2021, terinspirasi dari lagu Peterpan yang berjudul <em>Di Belakangku</em></p>



<p>Foto: <a href="https://bugfox.net/fun/2016/01/25/erased-anime-early-impressions/">FunBlog</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/">Apa yang Kau Lakukan di Belakangku?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/apa-yang-kau-lakukan-di-belakangku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2020 15:28:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hoax mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin. Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat. Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hoax</strong> mudah diproduksi pada era serba cepat seperti sekarang. Hanya bermodalkan imajinasi dan data-data kurang akurat, kita bisa mengirimkan berita bohong melalui grup-grup WhatsApp dan dalam sekejap tersebar ke segala penjuru mata angin.</p>
<p>Apalagi jika ada momentum seperti pilpres ataupun kasus virus Corona seperti sekarang, jumlah hoaks bisa bertambah berkali-kali lipat.</p>
<p>Biasanya, hoaks-hoaks seperti itu akan disebarkan oleh generasi <em>boomer</em>. Di sisi lain, generasi milenial akan berusaha membantah dengan memberikan data dan fakta yang sebenarnya. Terjadi sebaliknya pun harusnya ada.</p>
<p>Permasalahannya, mengapa ada orang suka membuat hoax alias berita palsu?</p>
<h3>Alasan Membuat Hoax</h3>
<p>Penulis mencoba membayangkan menjadi seorang pembuat hoax. Apa kira-kira yang menjadi motivasi terbesar Penulis untuk membuat sebuah hoax?</p>
<p><div id="attachment_3604" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3604" class="size-large wp-image-3604" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3604" class="wp-caption-text">Hoax untuk Adu Domba (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.reddit.com/r/NatureIsFuckingLit/comments/a1k7zf/two_badass_sheep_about_to_break_into_a_brawl_on_a/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCIDTrdDSg-gCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Kunjungi Reddit"><span class="pM4Snf">Reddit</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika musim Pemilu alasannya jelas, <strong>untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan lawan politik</strong>. Taktik kotor seperti ini sangat mudah ditemui. Fitnah dan adu domba saling diperlihatkan dengan kejamnya.</p>
<p>Mereka juga bisa membuat hoax karena <strong>memang dibayar untuk membuatnya</strong><em>. </em>Entah berapa tarifnya, tapi rasanya memang ada orang-orang yang hidup dari pekerjaan seperti itu.</p>
<p><em>Tapi bagaimana dengan kasus lain seperti hoax seputar virus Corona?</em></p>
<p>Bisa jadi karena ingin <strong>menimbulkan kepanikan di masyarakat</strong>. Kita mudah merasa panik hanya dengan membaca sekilas sebuah judul berita, sehingga ada orang-orang yang ingin memanfaatkan hal tersebut.</p>
<p>Untuk apa membuat orang lain panik? Ada alasan karena <strong>faktor ekonomi</strong>. Seperti yang kita ketahui, bagaimana meroketnya harga masker dan alat kebersihan lainnya. Ada pihak yang diuntungkan di sini.</p>
<p>Kenaikan harganya benar-benar kelewat batas dan ada orang-orang tak bermoral yang justru memanfaatkan situasi ini. Barang sembako habis diborong orang-orang kaya hingga berisiko menyusahkan yang lebih membutuhkan.</p>
<p>Membuat orang lain panik juga bisa jadi hanya <strong>menjadi sebuah kesenangan</strong> bagi seseorang. Sama seperti kata Alfred dalam film <em>The Dark Knight:</em></p>
<p>[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=efHCdKb5UWc[/embedyt]</p>
<p><em>Some man just want to watch the world burn</em>. Ada orang-orang yang memang hanya ingin terjadi kekacauan di muka bumi ini. Mungkin terlihat terlalu didramatisir, tapi Penulis meyakini hal tersebut benar adanya.</p>
<p>Ada beberapa alasan lain, seperti <strong>mencari sensasi dan perhatian</strong>,<strong> kurang kerjaan</strong>, <strong>bentuk propaganda</strong>, dan lain sebagainya. Intinya, ada banyak alasan untuk membuat hoax.</p>
<h3>Alasan Menyebar Hoax</h3>
<p>Pembuat hoax mungkin tipe orang yang berada di dalam sunyi dan membiarkan karyanya tersebar dengan sendirinya. Nah, kita yang ikut menyebar juga memiliki andil terhadap suburnya hoax.</p>
<p><div id="attachment_3603" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3603" class="size-large wp-image-3603" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/03/kenapa-orang-suka-membuat-hoax-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3603" class="wp-caption-text">Sarang Hoax? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.indoindians.com/join-the-indoindians-whatsapp-group/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiJ642R0oPoAhXTxjgGHVRLBAAQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Indoindians.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Tingkat literasi kita sangat rendah. Artinya, kita terlalu malas untuk sekadar membaca dan <strong>memastikan apa yang kita baca benar atau salah</strong>.</p>
<p>Hal ini diperparah jika kita termasuk orang yang mudah percaya sebuah informasi begitu saja. Sekali terlihat ilmiah dan meyakinkan, kita langsung meyakini kalau hal tersebut benar.</p>
<p>Para penyebar hoax ini terkadang <strong>merasa bangga</strong> karena merasa sebagai orang pertama yang menyebarkan berita penting. Apalagi, kalau berita tersebut tidak tayang di media <em>mainstream </em>dengan alasan sengaja ditutup-tutupi.</p>
<p><strong>Sensasi yang didapatkan ketika menyebarkan berita menghebohkan</strong> juga menjadi alasan kuat lainnya. Secara tidak langsung kita akan terlihat sebagai orang penting dan mendapatkan perhatian berlebih.</p>
<p>Belum lagi jika hoax tersebut diawali dengan kalimat-kalimat positif dan merujuk ke sebuah kelompok tertentu. Misalnya seperti <em>seorang muslim wajib tahu </em>atau <em>sebarkan kalau kamu peduli dengan bangsa ini.</em></p>
<p>Hal ini disebut sebagai <em><strong>Efek Barnum</strong></em>, di mana suatu pesan terasa ditujukan kepada kita padahal bersifat umum. Karena kita merasa sebagai orang yang disebut dalam hoax tersebut, kita pun merasa bertanggung jawab untuk menyebarkannya kepada orang lain.</p>
<p>Tak heran hoax bisa berantai-rantai seperti sekarang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Seandainya setiap mendapatkan berita kita akan melakukan verifikasi terlebih dahulu, hoax akan kesulitan untuk tumbuh. Perlahan, ia akan rontok dengan sendirinya.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut nampaknya masih belum akan terealiasi dalam waktu dekat. Jika kesadaran masyarakat terhadap hoax masih rendah seperti sekarang, hoax masih akan tersebar di grup-grup WhatsApp dan media-media lain dengan masifnya.</p>
<p>Bisakah kita menghentikan aksi para pembuat hoax? Bisa, dengan cara tidak mempercayainya dan selalu melakukan pengecekan fakta. Kita juga harus saling mengingatkan jika ada orang lain yang menyebarkan hoax.</p>
<p>Mungkin memang tidak bisa memberantas habis para pelaku hoax. Setidaknya, kita sudah berbuat sesuatu untuk melawan para pembohong tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Maret 2020, terinspirasi dari banyaknya berita hoax seputar virus Corona</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://famous.brilio.net/video/discover/inilah-alasan-orang-gemar-menyebar-hoax-170706u.html">Brilio</a>, <a href="https://tirto.id/mengapa-kita-suka-hoax-bFhl">Tirto</a>, <a href="https://id.quora.com/Mengapa-orang-membuat-berita-hoax">Quora</a>, <a href="https://www.kompasiana.com/atsalis/5b1e3150bde5754a3e7da6a2/inilah-mengapa-masyarakat-indonesia-masih-sering-menyebarkan-hoax">Kompasiana</a>,</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-orang-suka-membuat-hoax/">Kenapa Orang Suka Membuat Hoax?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manusia Bermuka Dua</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2019 16:43:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[khianat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[muka dua]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2646</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa itu manusia bermuka dua? Yang paling gampang adalah perilaku seseorang yang berbeda ketika di hadapan dan di belakang kita. Jika di depan terlihat sangat manis, di belakang ternyata busuk luar biasa. Ada yang menyamakan sifat bermuka dua ini sama dengan munafik. Bisa saja benar, tergantung bagaimana kita mengartikan munafik. Apakah penulis pernah bertemu dengan manusia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/">Manusia Bermuka Dua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu <strong>manusia bermuka dua</strong>? Yang paling gampang adalah perilaku seseorang yang berbeda ketika di hadapan dan di belakang kita. Jika di depan terlihat sangat manis, di belakang ternyata busuk luar biasa.</p>
<p>Ada yang menyamakan sifat bermuka dua ini sama dengan munafik. Bisa saja benar, tergantung bagaimana kita mengartikan munafik.</p>
<p>Apakah penulis pernah bertemu dengan manusia bermuka dua ini? Rasanya pernah, tapi penulis berharap salah. Apakah penulis termasuk orang yang bermuka dua? Semoga tidak, karena penulis tahu bagaimana pahitnya berhadapan dengan makhluk yang satu itu.</p>
<p><em><strong>Peringatan, tulisan di bawah ini mengandung unsur curhat yang cukup kental</strong> </em>😊</p>
<h3>Kenapa Ada Orang Bermuka Dua?</h3>
<p>Dari beberapa literatur yang penulis baca, ada banyak alasan mengapa orang harus bermuka dua. Ada yang bertujuan untuk menjilat atasan, ada yang untuk menjaga <em>image</em>, ada yang untuk melindungi kepentingannya, ada pula yang karena ingin mengadu domba orang lain.</p>
<p>Beberapa alasan tersebut membuat kita bisa mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang bermuka dua adalah orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka rela melakukan apapun agar keinginannya terpenuhi.</p>
<p>Bisa jadi mereka mengorbankan orang lain, menebar kebohongan dan fitnah yang menyakitkan, dan hal-hal buruk lainnya yang jelas merugikan orang lain. Apakah mereka peduli dengan orang lain? Rasanya tidak.</p>
<p>Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang selama ini kita percaya ternyata tidak sesuai dengan harapan kita. Orang yang paling kita sayangi pun terkadang bisa menusuk dari belakang. Percayalah, pedih rasanya.</p>
<h3>Ciri-Ciri Orang Bermuka Dua</h3>
<p><div id="attachment_2649" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2649" class="size-large wp-image-2649" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2649" class="wp-caption-text">Bermuka Dua (<a href="http://www.tarot-buch.com/info/bertemu-dengan-orang-yang-bermuka-dua-begini-cara-menghadapinya/">Tarot Buch</a>)</p></div></p>
<p>Untuk pembaca yang ingin menghindari orang-orang semacam ini, penulis telah mengumpulkan beberapa ciri-ciri yang melekat pada kaum berwajah ganda.</p>
<p>Ketika ada di hadapan kita, mereka terlihat sangat ramah dan <em>friendly</em>. Nyatanya, segala keramahan tersebut mereka gunakan untuk menutupi kebencian yang dimiliki.</p>
<p>Mereka juga tidak bisa dipercaya alias tidak amanah. Ketika mendapatkan cerita dari orang lain dan diminta untuk merahasiakannya, merekatetap saja <em>ember </em>ke orang lain dengan berbagai tujuan terselubung.</p>
<p>Selain sering terlihat egois, mereka juga sering mencari perhatian dengan berbagai cara. Bisa lewat kata-katanya, <a href="https://whathefan.com/karakter/cari-perhatian-di-media-sosial/">statusnya di media sosial</a>, hingga tingkah lakunya yang seolah membuatnya ingin menonjolkan diri.</p>
<p>Mereka juga suka bergosip, di mana biasanya mereka lakukan untuk menyebarkan kejelekan orang lain. Kalau sedang ingin mengadu domba orang, bisa jadi mereka juga menyisipkan bumbu kebohongan yang disengaja.</p>
<p>Tak jarang mereka ingin menjatuhkan kita dengan berbagai cara, termasuk dengan hasutan beracun. Selain itu, mereka juga tak segan untuk menyebarkan keburukan kita ke orang lain.</p>
<p>Ada juga yang bilang mereka cenderung sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Karena ingin diakui kehebatannya oleh orang lain, mereka tidak senang jika ada orang yang lebih hebat dari dirinya.</p>
<p>Apakah orang bermuka dua harus memiliki semua sifat yang sudah disebutkan di atas? Menurut penulis, tidak. Walaupun hanya punya beberapa ciri di atas, mereka sudah tergolong ke dalam manusia bermuka dua.</p>
<h3>Pandangan Manusia Bermuka Dua Dalam Islam</h3>
<p>Saking penasarannya dengan permasalahan muka dua ini, penulis juga membaca sumber-sumber yang terkait dengan agama penulis. Penulis ingin tahu, bagaimana Islam memandang permasalahan muka dua ini.</p>
<p>Ternyata, di dalam surat <strong>Al-Baqarah ayat 14-16</strong>, disebutkan bahwa sifat bermuka dua termasuk ke dalam ciri-ciri orang munafik. Ada pula hadis yang terjemahannya kurang lebih seperti di bawah ini:</p>
<p><em>“Manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)</em></p>
<p>Artinya dalam Islam, kita dilarang untuk memiliki sifat bermuka dua yang menjurus ke sifat munafik. Penulis yakin, di ajaran agama lain pun akan senada.</p>
<h3>Bagaimana Cara Mengatasi Orang Bermuka Dua?</h3>
<p><div id="attachment_2650" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2650" class="size-large wp-image-2650" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/manusia-bermuka-dua-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2650" class="wp-caption-text">Jauhi Aja (<a href="https://unsplash.com/@alexisrbrown">Alexis Brown</a>)</p></div></p>
<p>Berkutat pada masalah tidak akan menyelesaikan apapun. Kita harus mencari solusi untuk mengatasinya. Lantas, bagaimana cara mengatasi orang bermuka dua?</p>
<p>Yang pertama, kita harus meyakinkan diri bahwa mereka bukanlah teman ataupun apapun yang baik untuk kita. Sebisa mungkin, jauhi mereka agar kita tidak terkena imbasnya. Selain itu, yakinkan orang-orang yang ada di sekitarmu untuk berhati-hati kepada mereka.</p>
<p>Jangan pernah (lagi) ceritakan rahasiamu kepada mereka. Risikonya tinggi, rahasiamu bisa terbongkar ke publik tanpa izin. Jika mereka berusaha memancing kita untuk bercerita, waspadalah untuk tidak terjebak di perangkapnya.</p>
<p>Yang tak kalah penting adalah menjaga emosi. Orang-orang bermuka dua harus dihadapi dengan tenang dan kepala dingin. Jangan balas dendam dengan berbuat sama dengan yang telah mereka perbuat.</p>
<p>Paling penting ya menjauhinya sih. Jika kita tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari karena ulah mereka, jaga jarak sejauh mungkin.</p>
<p>Tidak ada orang yang suka dengan manusia bermuka dua, sehingga jika kebusukan mereka telah terbongkar niscaya tidak ada yang ingin berhubungan dengannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Ketika menulis artikel ini, penulis merasa was-was. Bagaimana tidak, penulis khawatir ciri-ciri yang telah dituliskan ternyata melekat di diri penulis, baik tanpa sengaja maupun sengaja.</p>
<p>Semoga saja penulis bisa menjadi orang yang lebih amanah, yang bisa dipercaya. Penulis tidak ingin menjadi orang yang berpura-pura manis di hadapan seseorang, tapi bermulut kotor di belakang.</p>
<p>Semoga penulis dan para pembaca sekalian dijauhkan dari manusia-manusia bermuka dua. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Agustus 2019, terinspirasi dari manusia bermuka dua yang menuduh orang lain bermuka dua (<em>apa sih</em>)</p>
<p>Foto: <a href="http://www.elenifourli.gr/tag/charakthristika/">Eleni Fourli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/manusia-bermuka-dua/">Manusia Bermuka Dua</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Semburan Dusta</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/semburan-dusta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/semburan-dusta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2019 00:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[Budiman Sudjatmiko]]></category>
		<category><![CDATA[dusta]]></category>
		<category><![CDATA[Firehose of Falsehood]]></category>
		<category><![CDATA[obyektif]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah seorang kubu 01 yang penulis kagumi, Budiman Sudjatmiko, menyatakan bahwa kubu 02 tengah menerapkan strategi Firehose of Firehood demi menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap semua pasangan calon. Sebenarnya, apa itu Firehose of Firehood? Sejauh yang penulis pahami, istilah tersebut merujuk pada semburan dusta yang dilakukan berulang-ulang secara masif agar publik menjadi apatis. Kebohongan tersebut diproduksi secara massal tanpa peduli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/semburan-dusta/">Semburan Dusta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah seorang kubu 01 yang penulis kagumi, Budiman Sudjatmiko, menyatakan bahwa kubu 02 tengah menerapkan strategi <em><strong>Firehose of</strong> </em><strong><em>Firehood</em> </strong>demi menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap semua pasangan calon.</p>
<p>Sebenarnya, apa itu <em>Firehose of Firehood</em>? Sejauh yang penulis pahami, istilah tersebut merujuk pada <em>semburan dusta yang dilakukan berulang-ulang secara masif agar publik menjadi apatis</em>.</p>
<p>Kebohongan tersebut diproduksi secara massal tanpa peduli benar atau tidaknya informasi yang disampaikan. Selain itu, kebohongan juga harus bisa membakar emosi masyarakat agar menyebar secara cepat bagaikan virus.</p>
<p><div id="attachment_2165" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2165" class="size-full wp-image-2165" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/DynvJ_3UwAI8GbZ.jpg" alt="" width="1000" height="1000" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/DynvJ_3UwAI8GbZ.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/DynvJ_3UwAI8GbZ-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/DynvJ_3UwAI8GbZ-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/DynvJ_3UwAI8GbZ-768x768.jpg 768w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-2165" class="wp-caption-text">Firehood of Falsehood (<a href="https://twitter.com/budimandjatmiko/status/1092667351885963265">Twitter</a>)</p></div></p>
<p>Ciri-ciri lainnya adalah soal inkonsisten. Seringkali pernyataan yang dilontarkan satu orang dengan orang lain tidak selaras, padahal mereka satu tim di mana seharusnya memiliki informasi yang sama.</p>
<p>Setelah kebohongan tersebar di masyarakat dan menimbulkan ketakutan, akan muncul sesosok &#8220;pahlawan&#8221; yang akan hadir untuk mengusir rasa ketakutan tersebut. Pola seperti ini terus diulang-ulang dengan topik yang berbeda-beda.</p>
<p>Tujuannya, ya seperti yang telah penulis katakan tadi, membuat publik merasa bahwa kedua pasangan calon sama-sama gemar berbohong dan membuat mereka malas untuk berpartisipasi dalam pemilu.</p>
<p>Katanya, strategi ini juga diterapkan oleh beberapa pemimpin dunia. Sebut saja Donald Trump dari Amerika Serikat dan Jair Bolsonaro dari Brazil.</p>
<p><div id="attachment_2166" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2166" class="size-large wp-image-2166" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/download-1-1024x622.jpg" alt="" width="800" height="486" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/download-1-1024x622.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/download-1-300x182.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/download-1-768x467.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/download-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2166" class="wp-caption-text">Jair Bolsonaro (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.reuters.com/article/us-g20-summit-usa-brazil/u-s-s-bolton-says-will-meet-brazils-bolsonaro-in-rio-idUSKCN1NQ2EP" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwihi_Tes7LgAhVCK48KHQWnD1kQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Reuters</span></a>)</p></div></p>
<p>Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah kubu 02 benar-benar gemar menyebar kebohongan dengan strategi tersebut?</p>
<p>Dari yang beberapa penulis baca, memang beberapa telah banyak beredar di media massa. Sebut saja <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/dia-dan-kebohongannya/">kasus Ratna</a>, selang cuci darah, dan surat suara 7 kontainer yang menjadi <em>headline </em>berita.</p>
<p>Tentu ini bukan hal yang baik bagi alam demokrasi kita. Mengajari publik dengan politik kebohongan hanya akan menyesatkan kita dan menimbulkan ketidakpercayaan kepada orang-orang politik.</p>
<p>Penulis mengikuti Budiman di Twitter sehingga sering melihat <em>tweet-tweet </em>beliau. Akan tetapi, karena memang dia anggota partai politik, wajar jika ia hanya menyorot kebohongan lawan dan menyamarkan kebohongan yang ada di pihaknya.</p>
<p>Hal yang sama akan dilakukan oleh kubu satunya. Jadi, ya sebenarnya sama saja. Kedua pihak mungkin sama-sama mengeluarkan kebohongan dan sama-sama menuding lawan berbohong, bagaikan dua ekor rubah yang saling menyalak satu sama lain.</p>
<p>Adalah tugas kita untuk bisa melihat semuanya secara obyektif. Caranya? Tidak perlu menjadi <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/akar-fanatisme-membabi-buta/">pendukung fanatik</a>. Jika condong ke salah satu pasangan calon, silahkan. Itu adalah hak setiap warga negara, memilih pemimpin yang diinginkan.</p>
<p>Yang harus diingat adalah jangan sampai kita terlalu mengkultuskan calon kita sehingga seolah-olah ia tak memiliki kesalahan dan kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.</p>
<p>Dengan menempatkan diri di luar kotak atau berada di tengah, kita akan bisa melihat kelebihan dan kekurangan secara berimbang. Bukankah hidup ini memang harus seimbang, seperti yang dikatakan oleh <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/genosida-ala-thanos/">Thanos</a>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 11 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kebohongan yang beredar di media massa</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/semburan-dusta/">Semburan Dusta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/semburan-dusta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dia dan Kebohongannya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2018 08:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[konspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kubu]]></category>
		<category><![CDATA[merasa benar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[pihak]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1437</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanpa menyebutkan siapa dan apa kebohongannya, sebagian besar pembaca pasti sudah tahu tulisan ini mengarah ke mana. Tulisan ini hanya berusaha semampunya untuk memberikan sudut pandang dari dua sisi yang berbeda, sehingga perdebatan kurang penting bisa diminimalisir. Kedua kubu akan saya sebut Pihak Pertama dan Pihak Kedua. Sudut Pandang Pihak Pertama Dari sudut pandang Pihak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/">Dia dan Kebohongannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa menyebutkan siapa dan apa kebohongannya, sebagian besar pembaca pasti sudah tahu tulisan ini mengarah ke mana. Tulisan ini hanya berusaha semampunya untuk memberikan sudut pandang dari dua sisi yang berbeda, sehingga <a href="http://whathefan.com/2018/08/21/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/">perdebatan kurang penting</a> bisa diminimalisir.</p>
<p>Kedua kubu akan saya sebut Pihak Pertama dan Pihak Kedua.</p>
<p><strong>Sudut Pandang Pihak Pertama</strong></p>
<p>Dari sudut pandang Pihak Pertama, jelas kebohongan Dia sangat merugikan mereka karena merekalah yang menjadi tertuduh. Pihak Pertama menuding Pihak Kedua sengaja <em>playing victim </em>agar mendapatkan simpati masyarakat.</p>
<p>Pihak Pertama sangat mengecam perbuatan Dia, betapa teganya ketika negara ini dilanda musibah secara bertubi-tubi ada seseorang yang melakukan drama. Pihak Pertama juga mengutuk kawan-kawannya yang menyebarkan kebohongan tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.</p>
<p>Pihak Pertama juga sedikit menaruh empati kepada Dia, karena begitu kebohongannya terbongkar, kawan-kawannya ikut berbalik mengecam dan meninggalkannya secara berjamaah. Mungkin bisa disebut pengkhianatan.</p>
<p>Pihak Pertama menyuruh kita membayangkan, seandainya Pihak Kedua yang mudah dibohongi menjadi pemimpin negara ini, bisa hancur negara ini.</p>
<p><strong>Sudut Pandang Pihak Kedua</strong></p>
<p>Penulis awali dengan sebuah analogi sederhana. Seorang sahabat yang sangat kita percayai bercerita bahwa ia baru saja dianiaya. Terlihat luka-luka lebam pada wajahnya. Tentu kita menaruh simpati dan mengutuk siapa yang telah melakukannya.</p>
<p>Apabila kita mengalami kejadian seperti itu, apakah kita akan meminta hasil visum terlebih dahulu ke sahabat kita untuk mempercayainya? Tidak, karena nampak bekas-bekas penganiayaan dan kita sangat mempercayainya selama ini.</p>
<p>Pihak Kedua jelas langsung mencurigai Pihak Pertama sebagai pelakunya, karena Dia selama ini terkenal vokal dalam mengkritik Pihak Pertama. Bahkan Pihak Kedua menyelenggarakan konferensi pers untuk memberitakan penganiayaan yang terjadi pada Dia. Ternyata, Dia mengaku bahwa semua ceritanya hanya bohong semata.</p>
<p>Pihak Kedua pun buru-buru meminta maaf atas pembelaan yang telah mereka lakukan. Pihak Kedua juga merasa menjadi korban. Mereka balik mengecam Dia dan memintanya keluar dari tim Pihak Kedua.</p>
<p><strong>Netizen, Ahli Konspirasi</strong></p>
<p>Yang menarik, banyak netizen yang mendadak menjadi ahli konspirasi, baik dari Pihak Pertama maupun Pihak Kedua. Semua beranggapan terori mereka yang paling benar, dan teori kubu lain salah.</p>
<p>Pihak Pertama berteori bahwa kebohongan Dia merupakan strategi untuk menjatuhkan Pihak Pertama, menunjukkan seolah-olah Pihak Pertama menggunakan kekerasan untuk membungkam lawan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan, Pihak Kedua ingin terlihat sebagai korban, padahal mereka yang merencanakan semua ini.</p>
<p>Pihak Kedua sempat berteori bahwa penganiayaan ini dilakukan untuk menyebar ketakutan terhadap mereka. Teori baru mereka kemukakan ketika Dia sudah mengakui kebohongannya. Pihak Kedua membuat teori bahwa Dia dipasang oleh Pihak Pertama untuk merusak tim Pihak Kedua dari dalam.</p>
<p>Teori-teori konspirasi tersebut penulis yakini akan dilupakan begitu saja pada akhirnya, karena Dia tidak menyebutkan alasannya untuk berbohong. Apakah itu sebuah kesengajaan agar keributan yang telah terjadi tetap terjadi? Jika iya, siapakah sebenarnya Dia? <em>Agent of Chaos</em> seperti Joker?</p>
<p><strong>Analogi Sebuah Koin</strong></p>
<p>Bang Gaber melalui komiknya, Lucunya Hidup Ini, secara cerdas mengilustrasikan kejadian ini dengan menggunakan analogi koin.</p>
<p>Bayangkan ada dua orang saling berhadap-hadapan. Salah satunya mengeluarkan koin dan bertanya kepada orang di seberangnya, apa yang ia lihat. Orang tersebut menjawab angka 1.000, yang langsung dibantah pemegang koin karena ia melihat gambar angklung. Terjadilah perdebatan karena sama-sama merasa benar, merasa sudut pandangnya lebih benar daripada orang lain.</p>
<blockquote><p>Kalo gitu kenapa lu juga maksain sudut pandang lu ke orang lain?</p>
<p>Bang Gaber, Lucunya Hidup Ini Ep. 247 Koin</p></blockquote>
<p>Pada akhirnya, kasus kebohongan ini hanya menjadi bahan perdebatan antar kubu. Ketika Pihak Pertama terus menyerang kebohongan Dia dengan menautkannya dengan orang-orang di Pihak Kedua, Pihak Kedua balik menunjukkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan oleh Pihak Pertama.</p>
<p>Lihat, betapa menakutkan sebuah kebohongan yang diucapkan satu orang, lantas disebar oleh kawan-kawannya di Pihak Kedua. Mungkin karena itulah mahkluk sekejam Thanos pun tidak pernah mengajarkan Gamora untuk berbohong.</p>
<p>Padahal, mendebatkan permasalahan ini terlalu lama juga tidak memberikan efek untuk kita, apalagi sudah ada permintaan maaf dan proses hukum telah berjalan. Bukankah ada netizen yang mengatakan melemahnya rupiah tidak berpengaruh terhadap dirinya? Lantas mengapa mereka sangat meributkan kejadian ini seolah-olah kehidupan mereka terganggu karena kebohongan yang telah diakui oleh Dia?</p>
<p>Seperti kata Bang Gaber, perdebatan kurang penting ini terjadi karena masing-masing pihak merasa sudut pandangnya paling benar. Jika kita seperti ini terus, jurang perbedaan antar golongan akan terus semakin melebar, dan akhirnya dapat memecah belah bangsa Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 6 Oktober 2018, terinspirasi setelah hebohnya kebohongan Dia yang menggemparkan Indonesia di tengah badai bencana alam</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://stmed.net/wallpaper-55108">https://stmed.net/wallpaper-55108</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/">Dia dan Kebohongannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2018 04:07:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bitter truth]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[kenyataan]]></category>
		<category><![CDATA[melindungi]]></category>
		<category><![CDATA[percaya]]></category>
		<category><![CDATA[sweet lie]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=849</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis percaya, bahwa terkadang kita terpaksa berbohong demi melindungi orang-orang yang kita cintai. Kita tidak ingin melukai perasaan orang tersebut, sehingga terpaksa kita mengeluarkan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam bahasa Inggris, disebut sweet lie, kebohongan yang manis. Mengapa disebut demikian? Tentu karena kebohongan tersebut membuat hati kita tenang, terkadang membuat segala prasangka buruk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/">Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis percaya, bahwa terkadang kita terpaksa berbohong demi melindungi orang-orang yang kita cintai. Kita tidak ingin melukai perasaan orang tersebut, sehingga terpaksa kita mengeluarkan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam bahasa Inggris, disebut <em>sweet lie, </em>kebohongan yang manis.</p>
<p>Mengapa disebut demikian? Tentu karena kebohongan tersebut membuat hati kita tenang, terkadang membuat segala prasangka buruk kita lenyap begitu saja.</p>
<p>Akan tetapi, benarkah kebohongan yang manis lebih baik dari kenyataan yang pahit?</p>
<p>Beberapa lebih memilih menerima kenyataan yang ada, alias <em>bitter truth</em>. Tak apa ia membuat kita tersakiti, asalkan jujur apa adanya. Mungkin kita akan sedih untuk beberapa saat, namun waktu akan mengobati luka tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Telling lies to protect someone you love only destroys them in the end</em></p>
<p>Penulis menemukan kata mutiara yang indah di internet, yang bermakna bahwa mengatakan kebohongan untuk melindungi orang yang kita cintai hanya akan menghancurkan mereka pada akhirnya.</p>
<p>Jika dianalogikan, situasi ini bisa digambarkan sebagai seorang wanita yang sedang menyunggingkan senyum manis di bibirnya, namun memegang sebilah pisau kebenaran di balik punggungnya.</p>
<p>Kebohongan jarang sekali dapat bertahan lama, kecuali memang ditakdirkan seperti itu. Bahkan rahasia (dan kebohongan) yang disimpan pemerintah Amerika Serikat dengan penjagaan super ketat pun akhirnya dibocorkan ke publik oleh Julian Assange melalui Wikileaks.</p>
<p>Ketika seseorang mengetahui bahwa ternyata apa yang ia percayai sebagai kebenaran ternyata hanya kebohongan semata, hati mereka akan hancur berkeping-keping karena merasa dikhianati. Kepercayaan kita terhadap mereka pun akan sirna secara perlahan-lahan.</p>
<p>Dalam bahasa <em>game</em>, bisa dikatakan sebagai <em>double hits</em>. Sudah dibohongi, mendapatkan kenyataan yang pahit pula. Kombo inilah yang terkadang menghancurkan banyak hal, mulai perasaaan hingga kepercayaan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, jika penulis harus memilih, penulis lebih memilih <em>bitter truth </em>daripada <em>sweet lie</em>. Kenyataan yang pahit jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Juni 2018, terinspirasi sebuah <em>quote</em> yang indah</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://nicelycaptured.blogspot.com/2012/05/sweet-lie-or-bitter-truth_10.html">http://nicelycaptured.blogspot.com/2012/05/sweet-lie-or-bitter-truth_10.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/">Kebohongan Manis vs Kenyataan Pahit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kebohongan-manis-vs-kenyataan-pahit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
