Sosial Budaya
Mendebatkan Hal yang Kurang Penting
Di Twitter (dan media sosial lainnya), sedang hangat perdebatan mengenai aksi presiden Jokowi dalam pembukaan Asian Games (18/08) kemarin. Bagaimana tidak, presiden mengendarai motor gede (moge) menuju lokasi upacara pembukaan even olahraga terbesar di Asia tersebut.
Yang membuat ricuh adalah kenyataan bahwa presiden menggunakan stuntman dalam aksinya. Yang kontra Jokowi mengatakan bahwa beliau telah melakukan penipuan, sedangkan pendukungnya membela dengan berkata mana mungkin lah seorang presiden melakukan atraksi berbahaya seperti itu.

Aksi Presiden (http://www.tribunnews.com/seleb/2018/08/19/aksi-presiden-pakai-moge-ke-asian-games-pukau-bule-australia-jokowi-disebut-seperti-tom-cruise)
Memang secara logika, jelas tidak mungkin seorang presiden benar-benar melakukan aksi yang dapat mengancam nyawanya. Bahkan jika Valentino Rossi seorang presiden, jelas tidak mungkin ia akan melakukan hal tersebut. Ini bukan kata saya, tapi penulis lupa siapa yang bilang seperti itu.
Tujuan penampilan yang dilengkapi dengan teaser tersebut mungkin bertujuan untuk memukau para penonton dan tamu-tamu penting yang duduk di bangku VIP. Jarang bukan seorang pemimpin negara melakukan pertunjukan yang anti mainstream seperti itu.
Masalahnya, mengapa hal tersebut harus didebatkan?
Salah satu komikus favorit penulis, Mice, mendeskripsikan permasalahan ini dengan sangat indah melalui komiknya yang ia unggak ke akun Instagramnya (https://www.instagram.com/p/BmsfSfKHXbD/?taken-by=micecartoon.co.id).

Kritik Tajam (https://www.instagram.com/p/BmsfSfKHXbD/?taken-by=micecartoon.co.id)
Mice merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, mengapa kita mendebatkan hal-hal yang kurang penting dan justru mengabaikan saudara kita yang sedang terkena bencana di Lombok?
Yang senang dengan adegan presiden kemarin, janganlah terlalu melebih-lebihkan. Kita tidak memilih presiden karena dia bisa naik moge bukan?
Yang kurang senang, jangan terlalu nyinyir kepada pemimpin negara kita tersebut. Mungkin saja reaksi negatif tersebut terpicu dengan pernyataan pemerintah yang menyebutkan bahwa penetapan bencana nasional di Lombok akan berpotensi mengganggu sektor pariwisata.
Lebih baik, kita curahkan waktu dan tenaga kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti mendoakan saudara-saudara kita di Lombok.
Halah, emang lu udah ngapain buat bantu masyarakat Lombok? Sok bijak lu!
Justru dengan menulis tulisan ini, penulis berharap dapat memotivasi diri sendiri agar dapat memberikan konstribusi kepada para korban. Minimal, mendoakan dan mengajak para pembaca sekalian untuk berbuat hal yang sama, bahkan berbuat lebih.
Kurangilah debat-debat yang kurang penting, jangan berfokus kepada hal yang kurang tepat.
Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari komik Mice
Sumber Foto: http://time.com/money/4509419/presidential-debate-television-ads-commercials/
Sosial Budaya
Gaya Hidup, Biaya Hidup, dan “Yang Penting Hidup”
Entah apakah ada yang mengorkestrasikan di belakang atau tidak, belakangan ini Penulis sering menemukan sebuah pos maupun story yang intinya adalah “minta biaya hidup turun tapi gaya hidup selangit” atau “gaya hidup gue tinggi, makanya kerja keras bukan pasang spanduk.”
Di X, Penulis menemukan ada satu orang (tampaknya seorang influencer yang cukup terkenal) yang mengunggah hal serupa. Akibatnya, ia banyak diserang oleh netizen hingga kontraknya diputus oleh agensi dan kerja samanya dengan beberapa brand dihentikan.
Dalam konteks yang lebih luas, hal ini berhasil mengundang perdebatan yang cukup panas di berbagai platform media sosial. Salah satu teman Penulis, Zili, sampai membawa topik ini untuk didiskusikan bersama Penulis karena kebetulan salah satu temannya juga mengunggah story dengan tema serupa.
Memahami Apa Beda Gaya Hidup dan Biaya Hidup

Sebelum menulis tulisan ini, Penulis menyempatkan diri menonton video dari Eno Bening yang berjudul “Hidup Tersiksa Penuh Buzzer Pula”. Video tersebut membahas isu yang akan Penulis bahas, di mana ia berangkat dari menetapkan definisi apa itu Gaya Hidup dan Biaya Hidup. Penulis akan berangkat dari titik yang sama dengan definisinya sendiri.
Singkatnya, Gaya Hidup adalah jalan hidup yang kita pilih, seringnya untuk kebutuhan tersier. Penulis misalnya, memiliki Gaya Hidup yang relatif hemat, kecuali sudah menyangkut barang hobi. Penulis akan berpikir berulang kali untuk membeli pakaian, tapi boros jika membeli buku, komik, hingga board game.
Biaya Hidup adalah pengeluaran yang wajib dikeluarkan agar kita bisa hidup secara layak. Kita butuh mengeluarkan uang untuk membeli makanan sehari-hari, membayar uang sewa kontrakan atau cicilan rumah, membeli bensin untuk motor, mendapat akses kesehatan serta pendidikan, dan lain sebagainya.
Terkadang ada Biaya Hidup yang berubah menjadi Gaya Hidup. Misal, makanan yang merupakan kebutuhan pokok akan berubah kalau setiap hari kita makan All You Can Eat (AYCE). Motor bisa jadi kebutuhan pokok, tapi bisa berubah jika kita membeli motor yang cicilannya melebihi pendapatan bulanan.
Tak jarang kalau Gaya Hidup ini malah membuat kita berpura-pura, seperti fenomena joki unik yang sempat Penulis bahas di tulisan sebelumnya. Ada juga persewaan barang-barang seperti iPhone dan tas branded, bahkan fenomena rental orang yang diangkat di film Rental Family.
Memang harus diakui ada orang yang hidupnya susah karena Gaya Hidup-nya tidak menyesuaikan dengan pemasukannya. Kalau kata peribahasa, lebih besar pasak daripada tiang.
Namun, melakukan generalisasi kalau semua orang yang menuntut kehadiran negara lebih banyak dalam permasalahan ini juga salah. Negara bertanggung jawab atas Ekonomi Makro dan berkewajiban mengatasi kemiskinan struktural, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.
Memahami Peran Negara dalam Pemenuhan Biaya Hidup

Lantas, apa posisi pemerintah dalam situasi ini? Penulis sedang membaca buku Economics 101 karya Alfred Mill & Michele Cagan, CPA. Di awal buku tersebut, langsung dijelaskan apa itu Ekonomi serta perbedaan antara Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro.
Intinya di buku tersebut, Ekonomi Mikro adalah ilmu yang berfokus pada pengambilan keputusan individu dan bisnis, serta berfokus pada barang, jasa, dan sumber daya. Sementara itu, Ekonomi Makro adalah ilmu tentang bagaimana negara mengatasi kelangkaan.
Lebih luasnya lagi, Ekonomi Makro juga tentang bagaimana negara hadir dalam mengelola ekonomi secara keseluruhan, termasuk bagaimana mengatur harga-harga bahan pokok, mengatur inflasi, mengatur nilai tukar rupiah ke dolar, menghadirkan lapangan pekerjaan yang layak, dan masih banyak lagi.
Nah, terkadang kita melupakan kalau kondisi kita hari ini banyak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Misal, di sejumlah daerah susah untuk mencari daging ayam atau harganya sempat naik karena (salah satunya) diborong untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kelangkaan solar di beberapa daerah juga menjadi contoh lain bagaimana “kurang” hadirnya negara dalam tugasnya secara Ekonomi Makro. Solar sering menjadi motor utama dalam distribusi berbagai kebutuhan masyarakat. Ketika solar langka, akan ada banyak hal yang terkena dampaknya.
Selain itu, jika mengambil data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan September 2026, tercatat ada kenaikan inflasi sebesar 3,28%. Makanan (salah satunya ayam ras), minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, yang artinya memang ada kenaikan harga untuk kategori tersebut.
Jika kebutuhan-kebutuhan pokok jadi susah untuk didapatkan (alias menjadi langka), tugas negara adalah mengatasi agar hal tersebut tidak menjadi langka. Jika sudah menjadi langka, hal-hal pokok yang menjadi Biaya Hidup pun menjadi mahal, sehingga Biaya Hidup pun jadi naik.
Penulis belum lama ini mendengar cerita dari ibunya. Jadi pada satu waktu, ibu Penulis membeli kerupuk dari seorang pedagang karena merasa kasihan dagangannya masih banyak. Ibu Penulis tidak membeli banyak, hanya sekitar 3 bungkus yang totalnya Rp15 ribu.
Tahu apa respons dari pedagang tersebut? Alhamdulillah, akhirnya bisa beli beras. Bisa dilihat kalau untuk memenuhi Biaya Hidup yang standar saja (beras), pedagang tersebut harus menunggu dagangannya ada yang membeli. Mau bilang pedagang tersebut kurang kerja keras?
Inilah yang sering disebut sebagai kemiskinan struktural, di mana negara sebagai pemangku kebijakan gagal dalam menyejahterakan rakyatnya. Seharusnya, negara bisa hadir dan menjamin rakyatnya mampu memenuhi kebutuhan dasarnya alias Biaya Hidup-nya.
Negara juga harus bisa menghadirkan berbagai akses seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, layanan publik, dan lain sebagainya yang dapat menaikkan taraf hidup rakyatnya. Kalau negara gagal menghadirkan hal-hal tersebut, wajar kalau ada yang menilai pemerintah seperti “memelihara kemiskinan” rakyatnya sendiri.
Boro-boro memikirkan gaya hidup, untuk makan besok saja masih banyak yang belum pasti. Bisa dibilang, mereka yang masuk ke dalam kategori ini bisa disebut sebagai “Yang Penting Hidup.” Mereka berusaha mati-matian untuk menyambung hidup dari hari ke hari tanpa kepastian apakah kebutuhan dasarnya dapat terpenuhi.
Yang lebih bahaya lagi adalah kalau kita menganggap kategori “Yang Penting Hidup” ini sebagai Biaya Hidup. Padahal, seperti yang dikatakan Eno Bening dalam videonya, seharusnya yang masuk Biaya Hidup juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Mengapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Orang-orang yang bilang “minta biaya hidup turun tapi gaya hidup selangit” atau “gaya hidup gue tinggi, makanya kerja keras bukan pasang spanduk” mungkin jarang berinteraksi dengan orang-orang kecil seperti pedagang kerupuk di atas, sehingga kacamata mereka pun relatif sempit.
Pernyataan tersebut seolah menyederhanakan permasalahan yang kompleks, bahwa tingginya Biaya Hidup disebabkan oleh kemalasan atau kurangnya kerja keras. Padahal, yang menentukan harga bahan pokok, pendapatan yang didapat, dan aksesibilitas bukan mereka sendiri.
Oh, ada satu lagi tulisan yang juga cukup menyakitkan hati: “lu yang miskin, yang disalahin pemerintah.” Penulis tidak perlu mengelaborasi ulang betapa salahnya kalimat tersebut. Kemungkinan besar, orang yang menulis hal tersebut tidak memahami apa itu Ekonomi Makro dan kemiskinan struktural.
Alasan kedua, mereka memang nirempati saja dan cenderung meremehkan kesulitan yang dihadapi oleh orang lain. Di kepala mereka, orang miskin sudah pasti karena mereka malas bekerja. Terkadang kita lupa, setiap individual punya titik start yang berbeda. Bukan hanya mulai dari nol, banyak yang harus mulai dari minus.
Memenuhi Biaya Hidup yang standar saja masih banyak yang kesulitan memenuhinya, meskipun mereka sudah banting tulang dari pagi hingga malam. Jangan sampai mereka jadi masuk ke golongan “Yang Penting Hidup” dengan kondisi yang jauh di bawah garis sejahtera.
Oleh karena itu, rasanya wajar kalau pada akhirnya gerakan “perlawanan” makin banyak. Bukan karena ada yang provokasi atau karena mereka agen Soros, tapi karena memang keresahan itu ada. Banyak yang merasa punya privilege untuk bisa menyuarakan aspirasi rakyat kecil, yang mungkin sudah tak punya tenaga lagi untuk sekadar mengeluh.
Bahkan, simbol tiga jari yang dipopulerkan oleh waralaba The Hunger Games juga menjadi ramai, mirip dengan viralnya bendera Jolly Roger dari waralaba One Piece beberapa waktu lalu. Keduanya memang sama-sama menjadi simbol perlawanan atas rezim yang sewenang-wenang kepada rakyatnya.
Penutup
Kalau mau curiga, Penulis malah merasa kalau ada “sesuatu” yang terus berusaha membenturkan antara rakyat dengan rakyat. Mengapa? Karena kalau rakyat bersatu dan punya “musuh” yang sama, maka kita akan menjadi begitu kuat. Hal ini sudah ditunjukkan ketika reformasi tahun 1998.
Kalau pun dugaan tersebut salah, Penulis juga bingung sendiri mengapa rasanya begitu mudah merendahkan sesama rakyat demi “melindungi” pemimpin yang dipuja. Masa ayam, sumber protein yang seharusnya jadi makanan pokok, disebut sebagai Gaya Hidup. Logikanya di mana?
Tulisan ini sebenarnya ingini mengajak kita semua untuk lebih bisa memahami satu sama lain dengan lebih baik lagi. Jangan mudah melabeli orang lain hanya dengan menggunakan pemahaman pribadi yang dangkal. Banyak orang yang hidupnya sedang susah, tidak perlu kita menghakimi mereka.
Semoga kita bisa lebih memahami mana yang disebut sebagai Gaya Hidup dan Biaya Hidup. Penulis juga berharap kehadiran pemerintah lebih nyata lagi untuk menghindari rakyatnya masuk ke dalam kategori “Yang Penting Hidup”.
Lawang, 31 Oktober 2026, terinspirasi dari berbagai isu yang belakangan ini ramai
Sosial Budaya
Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain
Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.
Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.
Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.
Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.
Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.
Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.
Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.
Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.
Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.
Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.
Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.
Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”
Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.
Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.
Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.
Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan
Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.
Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.
Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.
Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.
Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?
Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini
Sosial Budaya
Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang
Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.
Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.
Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?
Menengok Tingkat Literasi Kita

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.
Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.
Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.
Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.
Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.
Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.
Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.
Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.
Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.
Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.
Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.
Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.
Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.
Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.
Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.
Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!
Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum
-
Produktivitas11 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Musik11 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Nonfiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory
-
Olahraga11 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga11 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login