Dia dan Kebohongannya

Tanpa menyebutkan siapa dan apa kebohongannya, sebagian besar pembaca pasti sudah tahu tulisan ini mengarah ke mana. Tulisan ini hanya berusaha semampunya untuk memberikan sudut pandang dari dua sisi yang berbeda, sehingga perdebatan kurang penting bisa diminimalisir.

Kedua kubu akan saya sebut Pihak Pertama dan Pihak Kedua.

Sudut Pandang Pihak Pertama

Dari sudut pandang Pihak Pertama, jelas kebohongan Dia sangat merugikan mereka karena merekalah yang menjadi tertuduh. Pihak Pertama menuding Pihak Kedua sengaja playing victim agar mendapatkan simpati masyarakat.

Pihak Pertama sangat mengecam perbuatan Dia, betapa teganya ketika negara ini dilanda musibah secara bertubi-tubi ada seseorang yang melakukan drama. Pihak Pertama juga mengutuk kawan-kawannya yang menyebarkan kebohongan tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Pihak Pertama juga sedikit menaruh empati kepada Dia, karena begitu kebohongannya terbongkar, kawan-kawannya ikut berbalik mengecam dan meninggalkannya secara berjamaah. Mungkin bisa disebut pengkhianatan.

Pihak Pertama menyuruh kita membayangkan, seandainya Pihak Kedua yang mudah dibohongi menjadi pemimpin negara ini, bisa hancur negara ini.

Sudut Pandang Pihak Kedua

Penulis awali dengan sebuah analogi sederhana. Seorang sahabat yang sangat kita percayai bercerita bahwa ia baru saja dianiaya. Terlihat luka-luka lebam pada wajahnya. Tentu kita menaruh simpati dan mengutuk siapa yang telah melakukannya.

Apabila kita mengalami kejadian seperti itu, apakah kita akan meminta hasil visum terlebih dahulu ke sahabat kita untuk mempercayainya? Tidak, karena nampak bekas-bekas penganiayaan dan kita sangat mempercayainya selama ini.

Pihak Kedua jelas langsung mencurigai Pihak Pertama sebagai pelakunya, karena Dia selama ini terkenal vokal dalam mengkritik Pihak Pertama. Bahkan Pihak Kedua menyelenggarakan konferensi pers untuk memberitakan penganiayaan yang terjadi pada Dia. Ternyata, Dia mengaku bahwa semua ceritanya hanya bohong semata.

Pihak Kedua pun buru-buru meminta maaf atas pembelaan yang telah mereka lakukan. Pihak Kedua juga merasa menjadi korban. Mereka balik mengecam Dia dan memintanya keluar dari tim Pihak Kedua.

Netizen, Ahli Konspirasi

Yang menarik, banyak netizen yang mendadak menjadi ahli konspirasi, baik dari Pihak Pertama maupun Pihak Kedua. Semua beranggapan terori mereka yang paling benar, dan teori kubu lain salah.

Pihak Pertama berteori bahwa kebohongan Dia merupakan strategi untuk menjatuhkan Pihak Pertama, menunjukkan seolah-olah Pihak Pertama menggunakan kekerasan untuk membungkam lawan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan, Pihak Kedua ingin terlihat sebagai korban, padahal mereka yang merencanakan semua ini.

Pihak Kedua sempat berteori bahwa penganiayaan ini dilakukan untuk menyebar ketakutan terhadap mereka. Teori baru mereka kemukakan ketika Dia sudah mengakui kebohongannya. Pihak Kedua membuat teori bahwa Dia dipasang oleh Pihak Pertama untuk merusak tim Pihak Kedua dari dalam.

Teori-teori konspirasi tersebut penulis yakini akan dilupakan begitu saja pada akhirnya, karena Dia tidak menyebutkan alasannya untuk berbohong. Apakah itu sebuah kesengajaan agar keributan yang telah terjadi tetap terjadi? Jika iya, siapakah sebenarnya Dia? Agent of Chaos seperti Joker?

Analogi Sebuah Koin

Bang Gaber melalui komiknya, Lucunya Hidup Ini, secara cerdas mengilustrasikan kejadian ini dengan menggunakan analogi koin.

Bayangkan ada dua orang saling berhadap-hadapan. Salah satunya mengeluarkan koin dan bertanya kepada orang di seberangnya, apa yang ia lihat. Orang tersebut menjawab angka 1.000, yang langsung dibantah pemegang koin karena ia melihat gambar angklung. Terjadilah perdebatan karena sama-sama merasa benar, merasa sudut pandangnya lebih benar daripada orang lain.

Kalo gitu kenapa lu juga maksain sudut pandang lu ke orang lain?

Bang Gaber, Lucunya Hidup Ini Ep. 247 Koin

Pada akhirnya, kasus kebohongan ini hanya menjadi bahan perdebatan antar kubu. Ketika Pihak Pertama terus menyerang kebohongan Dia dengan menautkannya dengan orang-orang di Pihak Kedua, Pihak Kedua balik menunjukkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan oleh Pihak Pertama.

Lihat, betapa menakutkan sebuah kebohongan yang diucapkan satu orang, lantas disebar oleh kawan-kawannya di Pihak Kedua. Mungkin karena itulah mahkluk sekejam Thanos pun tidak pernah mengajarkan Gamora untuk berbohong.

Padahal, mendebatkan permasalahan ini terlalu lama juga tidak memberikan efek untuk kita, apalagi sudah ada permintaan maaf dan proses hukum telah berjalan. Bukankah ada netizen yang mengatakan melemahnya rupiah tidak berpengaruh terhadap dirinya? Lantas mengapa mereka sangat meributkan kejadian ini seolah-olah kehidupan mereka terganggu karena kebohongan yang telah diakui oleh Dia?

Seperti kata Bang Gaber, perdebatan kurang penting ini terjadi karena masing-masing pihak merasa sudut pandangnya paling benar. Jika kita seperti ini terus, jurang perbedaan antar golongan akan terus semakin melebar, dan akhirnya dapat memecah belah bangsa Indonesia.

 

 

Jelambar, 6 Oktober 2018, terinspirasi setelah hebohnya kebohongan Dia yang menggemparkan Indonesia di tengah badai bencana alam

Sumber Foto: https://stmed.net/wallpaper-55108

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.