<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gaya hidup Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/gaya-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/gaya-hidup/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Oct 2021 00:56:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>gaya hidup Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/gaya-hidup/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Lagom</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2021 13:01:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Lagom]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Swedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5377</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sedang berusaha menerapkan kehidupan minimalisme, baik dari hal materiel hingga menyederhanakan apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, Penulis sedang banyak membaca buku yang terkait hal tersebut. Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang menarik berjudul Lagom karangan Lola A. Åkerström. Salah satu yang membuat Penulis tertarik adalah hard cover [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/">Setelah Membaca Lagom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sedang berusaha menerapkan kehidupan minimalisme, baik dari hal materiel hingga menyederhanakan apa yang ada di pikiran. Oleh karena itu, Penulis sedang banyak membaca buku yang terkait hal tersebut.</p>



<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia, Penulis menemukan sebuah buku yang menarik berjudul <em>Lagom</em> karangan Lola A. Åkerström. Salah satu yang membuat Penulis tertarik adalah <em>hard cover </em>yang dimiliki buku ini, sehingga terkesan mewah.</p>



<p>Buku ini memiliki <em>tagline </em>&#8220;Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia&#8221;. Selain itu, Lagom dalam bahasa Swedia memiliki makna <em>not too little not too much</em>. Secukupnya, sepasnya. Tentu hal ini bisa sangat fleksibel tergantung apa konteksnya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Selama ini, yang Penulis ketahui tentang Swedia adalah Zlatan Ibrahimovic. Penulis juga sempat terbesit pikiran untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-mengejar-beasiswa-dan-gagal-empat-kali/">mendaftar beasiswa</a> ke sana. Selain itu, tidak banyak yang Penulis ketahui tentang salah satu negara Skandinavia ini.</p>



<p>Buku ini berusaha menjelaskan kepada masyarakat dunia tentang konsep Lagom yang sudah mengakar di Swedia. Jumlah yang pas itulah yang terbaik. Kekurangan maupun kelebihan lebih baik dihindari saja dari hidup ini.</p>



<p>Di awal buku, kita akan mendapatkan semacam Peta Buku yang memudahkan kita untuk memahami apa itu Lagom. Setelah itu, ada sedikit catatan dari Lola dan beberapa halaman pendahuluan sebelum membedah Lagom dari berbagai aspek.</p>



<p>Lola mengajak dan memberikan contoh bagaimana menerapkan Lagom dalam berbagai hal, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Kultur + Emosi</li><li>Makanan + Perayaan</li><li>Kesehatan + Kesejahteraan</li><li>Kecantikan + Mode</li><li>Dekorasi + Desain</li><li>Kehidupan Sosial + Bermain</li><li>Pekerjaan + Bisnis</li><li>Uang + Keuangan</li><li>Alam + Kesinambungan</li></ul>



<p>Ada banyak contoh bagaimana masyarakat Swedia bisa maju dengan menerapkan Lagom di berbagai segi kehidupan ini. Melalui buku ini, kita bisa mengintip sedikit tentang kondisi sosial di sana.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga menyisipkan beberapa foto dari berbagai sudut negara Swedia, yang sayangnya dalam hitam putih sehingga tidak terlalu jelas. Meskipun terlihat tebal, buku ini hanya memiliki sekitar 230-an halaman.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Lagom</em></h2>



<p>Topik yang hendak disampaikan oleh Lola sebenarnya sangat menarik. Konsep hidup dari sebuah negara yang sangat jauh dari Indonesia selalu menarik karena memiliki perbedaan <em>culture </em>yang sangat berbeda.</p>



<p>Sayangnya, Penulis kerap merasa gaya penyampaian di dalam buku ini terasa kurang nyaman untuk dibaca. Penulis tidak tahu apakah ini dikarenakan terjemahan yang kurang bagus atau memang dari sananya seperti ini.</p>



<p>Bahasanya terkadang terlalu bertele-tele sehingga kita kebingungan untuk mencari apa inti yang hendak disampaikan. Kadang ada beberapa bagian yang terasa repetitif. Untungnya, di setiap bab ada semacam rangkuman untuk memudahkan kita memahami apa yang baru saja kita baca.</p>



<p>Adanya berbagai contoh bagaimana gaya hidup masyarakat sana membantu kita untuk mendapatkan gambaran tentang Lagom. Sayangnya, terkadang Lola seolah menggambarkan masyarakat Swedia sebagai masyarakat yang sempurna atau nyaris sempurna karena menerapkan Lagom.</p>



<p>Hanya saja, buku ini terasa &#8220;dangkal&#8221; dan seolah tidak memberikan banyak hal untuk kita sebagai pembacanya. Walaupun tebalnya 200 halaman lebih, membaca buku ini akan terasa lebih cepat dari seharusnya karena banyaknya gambar dan halaman pembagi bab di buku ini. </p>



<p>Entahlah, Penulis merasa tidak terlalu merekomendasikan buku ini karena tidak terlalu menikmatinya, kecuali jika Pembaca tertarik dengan kehidupan masyarakat Swedia atau memiliki rencana untuk tinggal di sana.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Oktober 2021, terinspirasi setelah membaca <em>Lagom</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/">Setelah Membaca Lagom</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-lagom/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2021 15:09:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[#ProductivityHacks]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[to-do list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5231</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang? Penulis berusaha mendorong dirinya untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.</p>



<p>Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan <em>kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang?</em></p>



<p>Penulis berusaha mendorong dirinya untuk bisa menjadi manusia yang produktif. Salah satu caranya adalah dengan memiliki <a href="https://whathefan.com/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas harian</a>, yang pernah Penulis bahas beberapa waktu lalu.</p>



<p>Bisa dibilang, praktiknya susah luar biasa. Apalagi jika sudah berhenti lama melakukan kebiasaan baik, untuk memulainya lagi sangatlah sulit.</p>



<p>Akhir-akhir ini karena situasi hatinya yang sedang buruk, Penulis sedang gencar memulai hidup produktif lagi. Berbagai cara Penulis lakukan agar bisa seperti dulu lagi, ketika mampu konsisten melakukan rutinitas pagi.</p>



<p>Dari pengalamannya, Penulis menemukan satu kunci untuk bisa konsiten melakukan kebiasaan baik: <em><strong>don&#8217;t break the chain</strong></em><strong>. </strong>Jangan putuskan rantainya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis <em>To-Do List</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5233" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Susah Melawan Rasa Malas (<a href="https://unsplash.com/@cathrynlavery">Cathryn Lavery</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kebetulan adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas. Penulis tidak menyukai sesuatu yang sifatnya spontan dan mendadak. Kalau bisa, semua tertata rapi dan terorganisir dengan baik.</p>



<p>Oleh karena itu, salah satu metode untuk produktif yang cocok untuk Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">memiliki <em>to-do list</em> harian</a></strong>. Penulis rutin melakukannya mulai awal tahun ini, namun tersendat di bulan Juli karena berbagai macam alasan.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat Penulis merasa malas menulis <em>to-do list </em>belakangan ini adalah karena merasa tidak banyak yang harus dikerjakan selain pekerjaan kantor dan menulis artikel blog. Akhirnya, buku <em>to-do list </em>Penulis pun terbengkalai beberapa minggu.</p>



<p>Penulis pun memutuskan untuk mengubah format buku <em>to-do list </em>miliknya. Anggap saja <em>to-do list </em>harian versi 2. Mungkin Penulis akan membuat artikel terpisah tentangnya karena Penulis sangat menyukai format baru ini.</p>



<p>Pada buku <em>to-do list </em>v2 ini, Penulis akan mencatat <em>morning routine </em>dan <em>evening routine </em>di sini. Setiap Penulis berhasil melakukan rutinitas atau kebiasaan ini, Penulis akan memberi tanda merah di kotaknya.</p>



<p>Ketika melihat daftar rutinitas yang berhasil dikerjakan hari ini, Penulis jadi terpacu untuk bisa melakukannya lagi keesokan harinya. Akhirnya,<strong> terbentuk semacam &#8220;rantai&#8221; kebiasaan</strong> yang membuat Penulis berusaha agar jangan sampai rantai itu putus.</p>



<p>Nah, inilah salah satu kunci keberhasilan untuk bisa konsisten melakukan kebiasaan dan menjadi lebih produktif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rantai yang Tampak Mata</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5234" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Harus Kelihatan Mata (<a href="https://unsplash.com/@epicantus">Daria Nepriakhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelumnya, Penulis sering mencatat kebiasaan-kebiasaan melalui aplikasi <em>Loop Habit Tracker</em> di smartphone-nya. Ada banyak kebiasaan yang Penulis tuliskan di sana, termasuk kewajiban sholat lima waktu.</p>



<p>Hanya saja karena tidak tampak fisik, Penulis menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya. Penulis seolah merasa tidak punya motivasi untuk mengerjakan daftar kebiasaan yang seharusnya dilakukan.</p>



<p>Setelah menonton beberapa video di YouTube, ternyata memang sebaiknya catatan kebiasaan itu ditulis dalam buku fisik yang selalu kelihatan mata. Kalau di smarpthone, kita harus buka aplikasinya terlebih dahulu.</p>



<p>Selain itu, kita pun jadi menuliskan daftar kebiasaan secara fisik setiap hari. Hal tersebut mampu memberikan sugesti kepada diri agar melakukan hal-hal yang sudah dicatat.</p>



<p>Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk menuliskannya di buku catatan dan meletakkannya di atas meja sepanjang hari, berhubung Penulis menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja kerja.</p>



<p>Sebagai orang yang perfeksionis, Penulis akan merasa gatal apabila ada kotak-kotak yang masih kosong. Penulis pun jadi terdorong untuk segera melakukan kegiatan yang kotaknya masih kosong tersebut.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis jadi meyakini kalau <strong>rantai kebiasaan yang ingin kita lakukan haruslah tampak mata</strong>. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya secara fisik dan meletakannya di tempat yang selalu terlihat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Mempertahankan Rantai Itu Penting</h2>



<p>Bagi orang yang ingin hidup produktif, memiliki rutinitas harian bisa menjadi salah satu hal yang sangat membantu. Namun, perlu dicatat bahwa yang susah adalah <a href="https://whathefan.com/produktivitas/menjaga-konsistensi/">mempertahankan konsistensi</a>.</p>



<p>Sekali rantai kebiasaan tersebut putus, dorongan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut sangat besar. Rasanya begitu berat untuk memulai lagi dari awal. Ada juga perasaan kecewa karena rantai tersebut harus terputus.</p>



<p>Untuk menghindari hal tersebut, coba saja dimulai sedikit demi sedikit saja. Mungkin dari satu kebiasaan dulu. Jika sudah berhasil konsisten, tambah lagi kebiasaan baru dan begitu seterusnya.</p>



<p>Penulis sendiri sekarang sedang merutinkan delapan rutinitas, empat di pagi hari dan empat di malam hari. Walaupun terdengar banyak, sebenarnya kebiasaan yang Penulis catatkan tidak membutuhkan waktu panjang.</p>



<p>Ada beragam cara untuk mempertahankan rantai tersebut untuk tetap tersambung. Cara yang sedang Penulis terapkan adalah salah satunya. </p>



<p>Berhubung baru jalan tiga hari, Penulis belum bisa menyimpulkan kalau metode ini berhasil. Walaupun begitu, caranya layak untuk dicoba agar hidup ini menjadi lebih produktif.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2021, terinspirasi dari usahanya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih produktif</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jjying">JJ Ying</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minta Gaji 8 Juta</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jul 2019 16:23:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[8 juta]]></category>
		<category><![CDATA[gaji]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah story di Instagram mengenai mahasiswa fresh graduate yang mengeluh karena hanya ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal. Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus. Akunnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir, media sosial riuh oleh sebuah <em>story</em> di Instagram mengenai mahasiswa <em>fresh graduate </em>yang mengeluh karena <em>hanya </em>ditawari gaji 8 juta rupiah oleh salah satu perusahaan lokal.</p>
<p>Alasan dikeluarkannya keluhan tersebut adalah ia merasa sebagai lulusan salah satu kampus terbesar di negara ini, ia layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi, meskipun ia baru saja lulus.</p>
<p>Akunnya sendiri sampai saat ini belum diketahui milik siapa. Potongan <em>story </em>tersebut hanya diunggah oleh seseorang dengan menyensor namanya. Mungkin, yang bersangkutan ingin melindungi pemilik akun dari serangan netizen.</p>
<p>Bahkan, teman penulis di kantor sampai berteori bahwa sebenarnya tidak ada pemilik akun Instagram tersebut. Postingan tersebut dibuat sendiri oleh yang menyebarkan agar viral. Mungkinkah? Entahlah, bisa jadi.</p>
<h3>Reaksi Para Netizen</h3>
<p>Netizen pun cepat bereaksi atas kejadian ini. Ada yang marah, ada yang emosi, ada yang langsung membandingkan dengan gaji pertamanya, ada yang buat <em>thread</em>, macam-macam.</p>
<p>Reaksi seperti ini sudah penulis duga sebelumnya, sama seperti kasus <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Bibit Unggul</a> yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Bedanya, waktu itu yang bersangkutan diketahui identitasnya.</p>
<p>Melihat kesombongan seseorang tentu membuat kita jengah dan jengkel. Pertanyaannya, apakah kita tidak pernah melakukan kesalahan yang sama?</p>
<p>Seperti yang pernah penulis tuliskan pada tulisan <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Dosa Terbesar Seorang Penjahat</a>, kita cenderung merasa &#8220;suci&#8221; ketika melihat orang lain berbuat buruk.</p>
<p>Bahasa yang digunakan oleh orang tersebut memang terkesan angkuh, sombong, congkak, dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak berarti kita boleh <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> darinya. Mungkin saja kita juga pernah sombong, hanya saja tidak sampai viral.</p>
<h3>Gaji Pertama</h3>
<p>Jika ingin berbaik sangka, mungkin yang bersangkutan merasa dirinya memiliki kemampuan mumpuni yang bisa diberikan kepada perusahaan. Tawaran gaji 8 juta dianggap merendahkan dirinya sehingga terbitlah <em>story </em>tersebut.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>berkata bahwa kata-kata di <em>story </em>tersebut menunjukkan yang bersangkutan tidak bisa bersyukur. Lantas, beberapa <em>netizen </em>memberitahu nominal gaji pertama mereka sembari mensyukurinya.</p>
<p>Ketika mendapatkan kerja kantoran pertama, nominal yang ditawarkan penulis jauh di bawah angka 8 juta. Penulis sadar diri sebagai orang yang tidak terlalu berpengalaman.</p>
<p>Penulis selalu ingat petuah dari ayah, yang mengatakan jangan bekerja demi uang. Uang memang penting, tapi bukan menjadi tujuan. Uang hanyalah sarana dalam <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-hidup-memiliki-tujuan/">meraih tujuan yang sebenarnya</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, sewaktu menuliskan permintaan gaji, penulis menuliskano nominal yang tidak seberapa. Setidaknya, di atas Upah Minimum Kerja (UMR). Ternyata, penulis malah ditawari sedikit lebih tinggi, ya alhamdulillah.</p>
<p>Petuah lain yang diberikan ayah penulis adalah bekerja dengan niat <em>lillahi ta&#8217;ala</em>, berikan yang terbaik, berikan nilai tambah, nanti jumlah gaji akan mengikuti. Penulis berusaha betul melaksanakan nasihat tersebut, sehingga insyaallah jarang memusingkan masalah gaji.</p>
<p>Tapi kalau diberi kenaikan gaji, ya diterima dan mengucap syukur <em>alhamdulillah</em>.</p>
<h3>Gaya Hidup yang Melebihi Gaji</h3>
<p>Salah satu komentar yang menarik perhatian penulis adalah mengenai gaya hidup. Ada <em>netizen </em>yang berkomentar gaya hidup orang yang membuat <em>story </em>tersebut cukup <em>hedon</em>, sehingga gaji 8 juta tidak akan bisa memenuhi kehidupannya.</p>
<p>Bahkan <strong>Sujiwo Tedjo</strong> menuliskan cuitan tentang <em>gaji sebesar apapun enggak akan pernah cukup karena akan melahirkan kebutuhan</em> <em>baru</em>. Salah satunya ya gaya hidup ini.</p>
<p>Penulis merasakan betul tentang gaya hidup ini. Jika kita tidak bisa mengendalikan hasrat kita dan loyal menghamburkan uang, gaji berapa pun tak akan cukup. Percuma gaji naik jika gaya hidup juga ikut naik.</p>
<p>Godaan di ibukota terbilang cukup besar. Mau beli apa saja bisa tersedia dengan mudah. Malas keluar, bisa beli lewat daring. Sebagai Apalagi, gedung kantor penulis jadi satu dengan mal.</p>
<p>Penulis tidak merasa telah pandai mengendalikan gaya hidup. Justru dengan tulisan ini, penulis berharap ke depannya bisa lebih bijak dalam mengelola gaji yang diterima setiap bulan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Setiap ada kejadian yang viral, penulis berusaha memahaminya hanya dari satu sudut pandang. Penulis berusaha untuk melihatnya dari banyak sisi dengan harapan bisa menemukan pelajaran yang bisa dipetik.</p>
<p>Begitu pula dari kasus gaji 8 juta ini. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, sehingga sayang jika hanya dijadikan sebagai wadah untuk mengeluarkan kata-kata hujatan yang belum tentu bermanfaat.</p>
<p>Semoga saja dengan kejadian ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih mudah bersyukur daripada mengeluh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Juli 2019, terinspirasi dengan ramainya kasus gaji 8 juta</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@alexandermils">Alexander Mils</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/minta-gaji-8-juta/">Minta Gaji 8 Juta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2018 01:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Francine Jay]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hidup minimalis]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Hidup Minimalis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1676</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang pernah penulis ceritakan pada tulisan Merapikan Kamar Merapikan Diri, salah satu aktivitas favorit bagi penulis adalah menata dan mendekorasi kamar. Apalagi setelah membaca buku karya Marie Kondo yang terkenal. Ketika menemukan buku berjudul Seni Hidup Minimalis, penulis sempat ragu untuk membelinya. Penulis khawatir isinya kurang lebih sama dengan buku The Life Changing Magic of Tidying [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/">Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang pernah penulis ceritakan pada tulisan <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/merapikan-kamar-merapikan-diri/">Merapikan Kamar Merapikan Diri</a>, salah satu aktivitas favorit bagi penulis adalah menata dan mendekorasi kamar. Apalagi setelah membaca buku karya Marie Kondo yang terkenal.</p>
<p>Ketika menemukan buku berjudul <strong>Seni Hidup Minimalis</strong>, penulis sempat ragu untuk membelinya. Penulis khawatir isinya kurang lebih sama dengan buku <em>The Life Changing Magic of Tidying Up. </em></p>
<p>Akan tetapi, pada akhirnya penulis tetap membeli buku tersebut sewaktu pergi ke Bandung, dan penulis sama sekali tidak menyesalinya.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Buku ini bukan hanya bercerita tentang merapikan sebuah rumah, akan tetapi mengajak pembacanya untuk menerapkan pola hidup minimalis. Bagian pertama dari buku ini menjelaskan tentang itu, karena inti dari hidup minimalis adalah tentang <em>mindset</em>.</p>
<p>Sebenarnya banyak kesamaan teori yang diajukan<strong> Francine Jay</strong> dan <strong>Marie Kondo</strong>. Salah satunya adalah memiliki banyak barang itu membuat kita stres. Mereka mengajak kita untuk mengurangi barang-barang yang kita miliki.</p>
<p>Kata kuncinya ada di kata &#8220;cukup&#8221;. Jika kita merasa cukup dengan barang yang kita miliki, ya jangan ditambah. Kalau ingin membeli barang baru, keluarkan barang lama yang sekiranya sudah tidak layak untuk disimpan. <strong>Satu masuk, satu keluar</strong>.</p>
<p>Jay memiliki slogan <strong>STREAMLINE</strong>, yang dijelaskan secara rinci pada bagian kedua dan merupakan akronim dari:</p>
<ul>
<li><em><strong>S</strong>tart over, </em>segera mulai aktivitas menata kamar tanpa menunda-nudanya</li>
<li><em><strong>T</strong>rash, treasure, or transfer, </em>pilih barang untuk dibuang, disimpan, atau diberikan kepada yang lebih membutuhkan</li>
<li><em><strong>R</strong>eason for each item,</em> setiap barang harus memiliki alasan kuat mengapa ia disimpan</li>
<li><em><strong>E</strong>verything in its place,</em> letakkan barang pada tempatnya, segera setelah selesai menggunakannya</li>
<li><em><strong>A</strong>ll surface clear</em>, semua permukaan datar seperti lantai dan meja harus dibiarkan kosong dan rapi</li>
<li><em><strong>M</strong>odules,<strong> </strong></em>siapkan ruang-ruang untuk menyimpan barang dengan membagi-baginya sesuai kebutuhan</li>
<li><em><strong>L</strong>imits, </em>membatasi barang-barang yang dimiliki</li>
<li><em><strong>I</strong>f one comes in, one goes out</em>, jika ada satu barang baru, keluarkan satu barang lama</li>
<li><em><strong>N</strong>arrow down</em>, kurang benda-benda yang lama tidak terpakai atau sudah tidak digunakan</li>
<li><em><strong>E</strong>veryday maintenance</em>, merawat kerapian rumah setiap hari</li>
</ul>
<p>Pada bab selanjutnya, Jay akan menjelaskan tentang metode STREAMLINE tersebut untuk tiap-tiap ruang, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, kamar, hingga gudang penyimpanan. Setiap sub-babnya akan diulang-ulang mengenai <strong>RAPIKAN &gt; SIMPAN &gt; RAWAT</strong>.</p>
<p>Bab terakhir akan menjelaskan dampak hidup minimalis untuk keluarga dan lingkungan. Jay menerangkan bagaimana penerapan kehidupan minimalis akan membantu mengurangi kerusakan pada Bumi kita tercinta.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan kepada orang-orang yang memiliki minat terhadap pola hidup minimalis atau sekedar ingin mencari cara bagaimana cara membersihkan rumahnya yang sangat sulit untuk terlihat rapi.</p>
<p>Penulis sendiri secara perlahan mulai menerapkan pola hidup ini. Contoh kecilnya, sebelum membeli barang, penulis akan bertanya apakah barang tersebut akan berguna atau tidak nantinya.</p>
<p>Dari pengalaman penulis sendiri, hal tersulit yang harus dilakukan dari nasihat-nasihat Kondo maupun Jay adalah membuang barang-barang. Penulis adalah tipe orang yang gemar menyimpan barang karena alasan sentimentil.</p>
<p>Jika pembaca seperti penulis, maka lakukanlah hal tersebut secara bertahap. Singkirkan barang yang sudah tidak diinginkan. Jika ada barang yang membuat kita ragu-ragu, simpan untuk sementara waktu hingga kita bisa memutuskan untuk membuang atau menyimpan barang tersebut.</p>
<p>Buku ini dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, walaupun mungkin terlalu banyak teori yang dipaparkan. Isinya terasa kurang padat karena inti yang ingin disampaikan dijelaskan terlalu lebar.</p>
<p>Adanya banyak pengulangan juga bisa membuat pembaca merasa bosan, walaupun Jay berusaha untuk menghadirkan contoh yang berbeda-beda untuk pembahasan yang sama pada bab ketiga.</p>
<p>Meskipun demikian, buku ini membawa banyak pengaruh positif, setidaknya untuk penulis yang telah selesai membacanya, terutama tentang bagaimana penerapan hidup minimalis bisa memberikan dampak yang signifikan kepada lingkungan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 November 2018 terinspirasi setelah menamatkan buku Seni Hidup Minimalis tulisan Francine Jay</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/">Gaya Hidup Sederhana Pada Seni Hidup Minimalis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/gaya-hidup-sederhana-pada-seni-hidup-minimalis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
