<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>internet Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/internet/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/internet/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Nov 2024 14:39:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>internet Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/internet/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Nov 2024 14:38:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[robot]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku Filsafat Moral karya Fahruddin Faiz, setelah sebelumnya menyelesaikan buku Filsafat Kebahagiaan (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik. Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan &#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis sedang membaca buku <em>Filsafat Moral </em>karya <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Fahruddin Faiz</a>, setelah sebelumnya menyelesaikan buku <em>Filsafat Kebahagiaan</em> (ulasan menyusul). Nah, ketika membaca bagian Hans Jonas, Penulis menemukan sesuatu yang menarik.</p>



<p>Dalam salah satu subbabnya, Faiz menjabarkan <strong>&#8220;Situasi Apokaliptik Teknologi&#8221; </strong>yang pernah disinggung oleh Jonas. Intinya, teknologi-teknologi yang diciptakan oleh manusia berpotensi mengakibatkan kiamat bagi peradaban manusia.</p>



<p>Menurut Jonas, <strong>semakin manusia mengembangkan teknologi, mereka semakin tidak mampu menguasai teknologi yang mereka ciptakan</strong> (hal. 79). Tanda-tandanya makin ke sini makin terlihat, di mana manusia semakin diperbudak oleh teknologi buatannya sendiri.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/people-come-people-go-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/people-come-people-go-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/people-come-people-go-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/people-come-people-go-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/people-come-people-go-banner.jpg 1280w " alt="People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/people-come-people-go/">People &#8220;Come&#8221;, People &#8220;Go&#8221;</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8111" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Diperbudak oleh Ciptaan Sendiri (<a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-people-engaged-on-their-phones-8088489/">cottonbro studio</a>)</p>
</div></div>



<p>Ketika menuliskan <em>opening </em>di atas, teknologi apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin mayoritas jawabannya adalah <em><strong>smartphone</strong></em>, <strong>internet</strong>, hingga <strong>media sosial</strong>. Jawaban itu benar, tapi yang memperbudak kita jauh lebih banyak dari itu.</p>



<p>Ketiga hal yang Penulis sebut di atas jelas telah menjadi keseharian kita. Pernah terbayang satu hari tanpa ketiganya? Rasanya kita sudah <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">begitu tergantung kepadanya</a> sehingga rasanya tak mungkin hidup tanpa ketiganya.</p>



<p>Sekarang bayangkan seandainya dunia tiba-tiba mengalami <strong>Internet Apocalypse</strong>, di mana tiba-tiba tidak ada lagi internet di dunia. Selain <em>smarpthone</em> kita menjadi<em> nottoosmartphone</em>, media sosial pun tak bakal bisa akses.</p>



<p>Lebih gawatnya lagi, kalau yang bekerja <em>remote </em>seperti Penulis, jelas kehilangan pekerjaan akan terjadi. Semua harus kembali manual seperti puluhan tahun yang lalu, dunia di mana belum ada internet.</p>



<p>Namun, sebenarnya ciptaan kita yang memperbudak tak hanya sebatas itu. Internet hanyalah sebagian kecil saja. Contoh lain yang tak kalah menyusahkan seandainya tiba-tiba lenyap adalah <strong>listrik</strong>. Seandainya internet tak hilang pun, akan percuma jika tidak ada listrik.</p>



<p>Bayangkan, tak ada tempat untuk menyimpan makan seperti kulkas, tak ada lampu untuk penerangan di malam hari, tak ada mesin cuci untuk membersihkan pakaian, tak ada komputer untuk bekerja, dan masih banyak lagi hal yang tak akan bisa kita lakukan.</p>



<p>Contoh lain, bayangkan dunia tanpa <strong>bensin</strong>. Kendaraan semewah Ferrari atau Lamborghini pun akan menjadi mesin yang tidak bisa melakukan apa-apa. Manusia diberi pilihan mau mengendarai kuda atau sepeda untuk bisa mencapai tujuan dengan cepat.</p>



<p>Jangan lupa, <strong>uang</strong> yang merupakan alat ciptaan manusia untuk mempermudah transaksi pun juga telah memperbudak kita sejak lama. Tentu Pembaca sudah bosan mendengar berita tentang bagaimana serakahnya manusia demi mendapatkan uang.</p>



<p>Manusia rela melakukan banyak hal tercela untuk bisa mendapatkan uang, yang ia gunakan untuk memenuhi hawa nafsunya yang tak berbatas. Kalau perlu menyengsarakan manusia satu negara, mereka akan melakukannya tanpa peduli sama sekali.</p>



<p>Contoh-contoh di atas rasanya sudah cukup memberikan gambaran bagaimana kita manusia sudah diperbudak dan dibuat ketergantungan dengan ciptaan kita sendiri. Apalagi, kita baru akan memasuki era AI yang tampaknya akan dengan mudah membuat kita ketergantungan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Lantas, Apa yang Harus Kita Lakukan?</h2>



<div class="wp-block-cover"><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8112" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/11/diperbudak-teknologi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Apa Kita Siap Hidup Tanpa Internet? (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=Inpbk2Ge6sQ">YouTube</a>)</p>
</div></div>



<p>Kita sekarang mengetahui bahwa manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Lantas, apa yang harus kita lakukan sebagai manusia agar tidak diperbudak oleh ciptaannya sendiri? Apakah kita harus kembali hidup ala zaman batu ketika kita belum menemukan apa-apa?</p>



<p>Kalau Penulis, rasanya sekarang <strong>kita berada di situasi yang hampir tidak memungkinkan untuk lepas seutuhnya segala hal yang telah kita ciptakan</strong>. Tak mungkin juga kita mengambil langkah ekstrem dan meninggalkan semua teknologi yang ada.</p>



<p>Menurut Penulis, apa yang dimaksud dari peringatan Hans adalah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu ingat kalau <strong>teknologi yang kita buat adalah alat yang harus kita kendalikan</strong>, bukan kita yang justru oleh dikendalikan.</p>



<p>Sesederhana contoh media sosial, jangan mau kita terus diperbudak dengan terus melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas dan membuat diri kita menjadi komoditas platform untuk dijual ke pengiklan. Kita harus bisa mengontrol durasi penggunaan media sosial kita.</p>



<p>Penggunaan listrik pun ada baiknya kita kontrol dengan bijaksana. Jangan di siang hari kita menyalakan semua lampu padahal ruangan cukup terang. Jangan mentang-mentang kita bisa bayar, lantas membuang-buang energi seperti itu.</p>



<p>Para ilmuwan atau siapapun itu yang telah menciptakan berbagai hal memang membuatnya untuk mempermudah kehidupan kita sebagai manusia. Kita harus berterima kasih kepada mereka karena hidup kita menjadi lebih mudah karena ciptaan-ciptaan mereka.</p>



<p>Selain itu, jangan sampai <strong>kita sebagai manusia justru akan dimusnahkan oleh ciptaan kita sendiri</strong>. Kepandaian manusia justru digunakan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-jika-perang-nuklir-benar-benar-terjadi/">membuat senjata pemusnah massal</a>. Namun, itulah realita yang sedang terjadi saat ini.</p>



<p>Kutipan yang diucapkan oleh Jonas juga bisa diartikan bahwa ada masanya manusia akan membuat senjata yang ternyata tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Contoh mudahnya, lihat saja <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-what-if-bagian-2/">Ultron yang dihadapi oleh para Avengers</a>.</p>



<p>Semoga saja hal tersebut tidak pernah terjadi, baik di masa kini maupun di masa depan. Semoga manusia cukup bijak untuk memanfaatkan ciptaan-ciptaannya. Jangan sampai kehidupan di bumi ini rusak hanya karena kita tidak mampu mengendalikan apa yang kita ciptakan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Lawang, 29 November 2024, terinspirasi ketika membaca buku <em>Filsafat Moral</em> karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/">Bagaimana Manusia Diperbudak oleh Ciptaannya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-manusia-diperbudak-oleh-ciptaannya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Logika Sesat Bintang Satu</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 14:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bintang satu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5796</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif. Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber gaming terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, ada satu fenomena di sekitar kita yang menarik sekaligus memprihatinkan bagi Penulis: Adanya &#8220;serangan&#8221; bintang satu di internet tanpa dilandasi penilaian yang objektif.</p>



<p>Contoh terbaru adalah yang menimpa salah satu tempat bermain di sebuah mal. Salah satu YouTuber <em>gaming </em>terkenal Indonesia membuat sebuah konten di mana ia telah menghabiskan uang sekitar 1,3 juta untuk permainan capit yang bisa mendapatkan berbagai hadiah.</p>



<p>Di video tersebut, sang YouTuber memang terlihat kesal karena tidak pernah berhasil meskipun sudah mengeluarkan uang banyak. Alhasil, tempat bermain tersebut langsung diserbu penggemar sang YouTuber dan menghujaninya dengan bintang satu di Google.</p>





<p>Ketika Penulis mencoba untuk membaca <em>review-</em>nya di Google, terlihat jika mereka ikut melampiaskan emosi mereka walaupun mereka tidak mengalami kerugian apapun. Ada yang menulis tempat tersebut <em>scam</em>, ada yang cuma ikut-ikutan, dan lain sebagainya.</p>



<p>Melihat respons negatif yang sedemikian besar, sang YouTuber pun langsung memutuskan melakukan <em>takedown </em>video tersebut. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, banjir bintang satu sudah membuat rating dari tempat tersebut benar-benar anjlok.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Pertama Kalinya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5799" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sungai Aare (<a href="https://www.bern.com/en/aare-river">Bern</a>)</figcaption></figure>



<p>Ini bukan pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi. Ketika almarhum Eril (anak dari Ridwan Kamil) meninggal di Sungai Aare, banyak netizen yang juga memberikan bintang satu kepada sungai tersebut.</p>



<p><em>Iya, sebuah sungai diberi bintang satu oleh netizen kita</em>.</p>



<p>Padahal, sungai tersebut tidak salah apa-apa. Kematian Eril merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Memberi bintang satu hanya akan memalukan nama Indonesia di mata internasional karena aksi yang norak tersebut.</p>



<p>Pernah juga kejadian ada sebuah aplikasi di Polandia yang harus menerima <em>review </em>buruk hanya karena namanya sama dengan aplikasi/layanan di Indonesia. Ini seolah menjadi bukti kalau literasi kita masih sangat rendah.</p>



<p>Di dunia <em>esports </em>(tempat Penulis sering berkecimpung sekarang), mungkin tidak ada &#8220;fitur&#8221; untuk memberi bintang satu. Sebagai gantinya, jurus <em>report </em>akun lawan pun dilakukan jika tim kesayangannya kalah.</p>



<p>Contoh-contoh kasus di atas patut kita evaluasi bersama, bagaimana kita belum bisa dewasa dalam menggunakan internet secara global.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kedewasaan dalam Menggunakan Internet</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-5800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/07/logika-sesat-bintang-satu-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Internet Penuh dengan Orang Toxic (<a href="https://bdtechtalks.com/toxic-centralized-internet/">Tech Talks</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang, kita boleh mengekspresikan diri di internet. Apa yang dilakukan oleh para netizen dengan memberikan bintang satu adalah wujud kekecewaan mereka. Kebetulan, bintang satu seolah bisa memberikan <em>impact </em>yang lebih besar daripada sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">marah-marah membuat status di media sosial</a>.</p>



<p>Namun, apa yang dilakukan tersebut jelas merugikan pihak lain. Tempat bermain yang baru saja dihujani bintang satu sebelumnya sering mendapatkan <em>review </em>yang positif dari pengunjung yang benar-benar pernah ke sana.</p>



<p>Opini <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em> yang mereka berikan jelas sangat bersifat subyektif hanya demi &#8220;melindungi&#8221; atau &#8220;membela&#8221; idola mereka. Apalagi, mereka sendiri belum pernah ke lokasi tersebut sehingga rasanya memang benar-benar aneh.</p>



<p>Fitur memberi rating kepada suatu tempat di Google sebenarnya berfungsi untuk membantu pengguna lain yang belum pernah ke sana. Jika mereka ingin pergi ke tempat tersebut, beberapa ingin tahu bagaimana ulasan tentang tempat tersebut, apakah banyak yang puas atau justru banyak yang kecewa.</p>



<p>Dengan adanya serangan bintang satu tersebut, tentu rating dari tempat tersebut menjadi turun sehingga membuat orang lain merasa ragu-ragu ingin pergi ke sana. Logika sesat ini pada akhirnya akan merugikan tempat yang bersangkutan.</p>



<p>Untuk itu, kita perlu belajar untuk lebih dewasa lagi dalam menggunakan internet. Salah satu caranya adalah dengan memahami apa fungsi sebuah fitur dan menggunakannya secara tepat. Selain itu, kita harus menghindari melakukan hal-hal yang bisa merugikan pihak lain.</p>



<p>Entah sampai kapan logika sesat dengan memberikan bintang satu secara subyektif bahkan iseng ini bisa berakhir. Semoga saja pada akhirnya, kita semua bisa lebih dewasa dalam menggunakan dan memanfaatkan internet.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 7 Juli 2022, terinspirasi setelah adik bercerita tentang adanya sebuah tempat bermain yang diserbu dengan bintang satu setelah seorang YouTuber bermain di sana</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/s/photos/arcade">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">Logika Sesat Bintang Satu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Perangkat, Banyak Hiburan</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2021 10:19:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[smarpthone]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4282</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang menjelajahi linimasa Twitter, Penulis menemukan tweet yang menanyakan apakah generasi kelahiran 2000 ke bawah masih bisa baca komik cetak? Tweet tersebut tidak bermaksud merendahkan generasi muda, hanya sekadar bertanya karena sekarang kebanyakan dari kita lebih sering membaca komik dari ponsel. Jawabannya pun bervariasi. Ada yang mengaku tidak bisa, ada yang mengaku bisa karena kakaknya koleksi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/">Satu Perangkat, Banyak Hiburan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika sedang menjelajahi linimasa Twitter, Penulis menemukan <em>tweet </em>yang menanyakan <strong>apakah generasi kelahiran 2000 ke bawah masih bisa baca komik cetak?</strong></p>
<p><em>Tweet</em> tersebut tidak bermaksud merendahkan generasi muda, hanya sekadar bertanya karena sekarang kebanyakan dari kita lebih sering membaca komik dari ponsel.</p>
<p>Jawabannya pun bervariasi. Ada yang mengaku tidak bisa, ada yang mengaku bisa karena kakaknya koleksi komik, dan lain sebagainya.</p>
<p><em>Tweet </em>sederhana tersebut berhasil mengusik Penulis dan membuat berpikir,<strong> apakah sekarang media hiburan memang hanya bisa didapatkan dari satu atau dua perangkat?</strong></p>
<h3>Mencari Hiburan ke Mana-Mana</h3>
<p><div id="attachment_4286" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4286" class="size-large wp-image-4286" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4286" class="wp-caption-text">Persewaan Komik (<a href="https://guidable.co/move_to_japan/the-specialized-library-collects-only-manga/"><span class="pM4Snf">Guidable</span></a>)</p></div></p>
<p>Saat masih kecil, kira-kira usia SD, Penulis sudah gemar <strong>membaca komik</strong>. Selain dibelikan orang tua, Penulis juga kerap menyewa komik di persewaan komik di dekat rumah nenek.</p>
<p>Tidak hanya itu, Penulis juga mendapatkan &#8220;warisan&#8221; <a href="https://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/">komik Donal Bebek</a> dan Tintin dari Pakde. Bahkan, hobi membaca komik ini masih Penulis geluti sampai sekarang.</p>
<p>Karena itu, Penulis bisa memahami komik Jepang (yang kebanyakan dari kanan kekiri) ataupun komik Barat (dari kiri ke kanan).</p>
<p>Kalau mau <strong>baca buku</strong>? Dulu Penulis belum terlalu suka baca buku. Pertama kali baca novel mungkin SMP, yakni novel <em>Sherlock Holmes</em> pemberian almarhumah kakak sepupu.</p>
<p>Ketika SMA, Penulis juga masih jarang membeli buku. Paling menyewa novel <em>Harry Potter </em>dari perpustakaan sekolah.</p>
<p><strong>Lihat film</strong>? Dulu persewaan film ada banyak sekali. Penulis dan teman-temannya akan berburu film untuk ditonton bersama. Selain itu, bisa juga menunggu film yang tayang di televisi.</p>
<p>Mau<strong> internetan</strong> untuk sekadar cari<em> wallpaper </em>atau download lagu dan video? Penulis akan pergi ke warnet sambil membawa <em>flash disk</em>.</p>
<p>Kalau <strong>main game</strong>? Ada persewaan <em>Playstation </em>atau kalau mau main game PC bisa ke warnet. <em>Alhamdulillah </em>Penulis punya konsol game yang dibeli menggunakan uang sunat.</p>
<p>Bagaimana dengan <strong>mendengarkan musik</strong>? Seringnya, dan ini jangan ditiru, Penulis akan mengunduh lagu bajakan di situs-situs yang menyediakan lagu gratis.</p>
<p>Karena <em>handphone </em>zaman itu belum punya kemampuan untuk menyetel musik, Penulis sampai menggunakan uang tabungannya untuk membeli MP4 Player. Lagu yang diunduh tadi akan ditransfer ke perangkat MP4 tersebut.</p>
<p>Bisa dilihat ketika Penulis masih kecil hingga usia sekolah, dibutuhkan &#8220;usaha&#8221; lebih untuk mendapatkan hiburan apapun bentuknya.</p>
<p>Sekarang, semua bisa dilakukan hanya melalui satu atau dua perangkat bernama <strong><em>smartphone</em></strong>.</p>
<h3>Satu Perangkat, Banyak Pilihan Hiburan</h3>
<p><div id="attachment_4287" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4287" class="size-large wp-image-4287" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/banyaknya-pilihan-hiburan-di-satu-perangkat-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4287" class="wp-caption-text">Semua di Satu Perangkat (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nordwood">NordWood Themes</a>)</p></div></p>
<p>Kehadiran <em>smartphone </em>diawali dengan <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-1/"><strong>rilisnya iPhone</strong></a> pada tahun 2007. Setelah itu, Google merilis Android pada tahun 2008. Semenjak itu, kita seolah-olah bisa melakukan apapun melalui perangkat yang ada di genggaman kita.</p>
<p>Mau baca komik? Kita bisa <strong>baca komik secara gratis dan legal</strong> melalui aplikasi seperti <em>Webtoon</em>. Yang ilegal lebih banyak lagi, terutama yang ingin membaca komik Jepang secara online.</p>
<p>Mau baca buku? Kini hampir<strong> semua judul ada versi digitalnya</strong> dan bisa diakses dengan mudah. File PDF-nya juga mudah sekali didapatkan.</p>
<p>Mau lihat film? <strong>Layanan <em>streaming </em>macam <em>Netflix </em>dan <em>Disney+ </em>begitu menjamur</strong> hingga kita dibuat bingung ingin berlangganan yang mana. Apalagi, sekarang ada YouTube yang menyediakan berbagai konten.</p>
<p>Mau internetan? Kapan pun kita butuh informasi atau sekadar kepo akan sesuatu, kita <strong>tinggal mengetikkannya di Google</strong>. Mau cari apapun akan muncul dengan cepat.</p>
<p>Mau main game? Jangan ditanya, sekarang <strong>pemain game <em>mobile</em> ada di mana-mana</strong>. Dibandingkan game konsol dan PC, bermain game di <em>smartphone </em>jauh lebih murah.</p>
<p>Mau mendengarkan musik? <strong>Layanan <em>streaming </em>musik pun ada sangat banyak</strong>, mulai <em>Spotify, Apple Music, </em><em>Joox, </em>hingga <em>YouTube Music</em>.</p>
<p>Belum lagi sekarang ada <strong>media sosial</strong> yang menjadi salah satu penyebab mengapa kita begitu betah dan adiktif di depan layar ponsel.</p>
<p>Memang lebih praktis karena kita bisa melakukan berbagai hal hanya melalui satu perangkat, tapi kok kayaknya jadi ada yang hilang.</p>
<h3>Ketergantungan Terhadap Satu Perangkat</h3>
<p><em>Smartphone </em>memang sangat praktis dan membantu kita di banyak hal. Hanya saja, kecanggihannya secara tidak langsung membuat kita <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><strong>merasa ketergantungan</strong></a>.</p>
<p>Coba bayangkan satu hari tanpa <em>smartphone</em>, pasti kita akan cepat merasa bosan. Rasanya, ada yang hilang dalam hidup ini.</p>
<p>Dampak buruk lainnya adalah membuat <strong>banyak bisnis tutup</strong> karena terlindas zaman. Tempat penyewaan komik dan film sudah pada tutup, begitu pula dengan warnet.</p>
<p>Untungnya, masih ada banyak aktivitas yang tidak bisa digantikan oleh <em>smartphone </em>seperti <em>travelling </em>dan memasak. Masih ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan tanpa perlu memandang layar ponsel.</p>
<p>Di sini, Penulis ingin mengingatkan kalau<strong> jangan sampai kita terlena dengan kenyamanan yang diberikan oleh <em>smartphone</em></strong>.</p>
<p>Benda tersebut memang memberikan begitu banyak pilihan hiburan, tapi jangan sampai kita menjadi lalai dan menyia-nyiakan waktu yang ada.</p>
<p>Gunakan <em>smarpthone </em>kita secara bijak, jangan mau diperbudak olehnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 21 Januari 2020, terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>yang menanyakan apakah generasi muda sekarang masih bisa membaca komik cetak</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jonasleupe">Jonas Leupe</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/">Satu Perangkat, Banyak Hiburan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/satu-perangkat-banyak-hiburan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kala Terputus dari Internet (dan Listrik)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kala-terputus-dari-internet-dan-listrik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 05:53:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[ketergantungan]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>
		<category><![CDATA[mati lampu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tergantung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2632</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, kita semua heboh akibat pemadaman listrik di Jakarta dan sekitarnya. Pemadaman tersebut cukup lama terjadi, di mana di kos penulis berlangsung selama kurang lebih 9 jam. Apa yang penulis lakukan selama itu? Standar saja, main HP, baca buku, baca chat-chat lama, hingga membuat rancangan semesta novel buatan penulis, hehehe. Ketika itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kala-terputus-dari-internet-dan-listrik/">Kala Terputus dari Internet (dan Listrik)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, kita semua heboh akibat pemadaman listrik di Jakarta dan sekitarnya. Pemadaman tersebut cukup lama terjadi, di mana di kos penulis berlangsung selama kurang lebih 9 jam.</p>
<p>Apa yang penulis lakukan selama itu? Standar saja, main HP, baca buku, baca chat-chat lama, hingga membuat <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">rancangan semesta novel buatan penulis</a>, hehehe.</p>
<p>Ketika itu, internet juga susah sinyal sehingga penulis kesulitan untuk membuka media sosial. Setelah listrik kembali menyala, barulah penulis mengecek beragam komentar orang-orang yang mengalami hal serupa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sebagaimana permasalahan lainnya, ada berbagai jenis opini yang muncul di ruang publik. Ada yang marah-marah, ada yang mencoba untuk mengambil hikmahnya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang marah-marah menghujat pemerintah karena dianggap sebagai biang kerok dari peristiwa ini, terutama <strong>Perusahaan Listrik Negara</strong> (PLN)<em>.</em></p>
<p>Seharusnya, PLN selaku pihak yang mengelola aliran listrik di seluruh nusantara bisa mencegah hal ini terjadi karena bisa memunculkan kerugian yang tidak sedikit.</p>
<p>Yang lain berusaha untuk mencari hikmah dari peristiwa ini. Pemadaman yang cukup lama ini tentu membuat kita harus merasa bersyukur atas listrik dan internet yang kita nikmati selama ini.</p>
<p>Lebih lanjut, masih banyak daerah lain yang terbiasa dengan pemadaman bergilir atau bahkan belum dialiri listrik sama sekali. Lantas, mengapa kita mengeluh luar biasa hanya karena beberapa jam hidup tanpa listrik?</p>
<p><em>Ya karena kita telah terbiasa hidup dengan listrik. Tentu berbeda dengan orang yang terbiasa hidup tanpa listrik.</em></p>
<p>Kalau penulis, peristiwa kemarin tersebut membuat penulis menyadari betapa tergantungnya kita dengan listrik dengan internet di era modern ini. Seolah-olah kita tidak bisa melakukan apapun jika tidak ada listrik dan internet.</p>
<p><em>Itu memang benar adanya sih, penulis susah membayangkan harus berbuat apa-apa ketika berada di kos sendirian dalam kondisi tersebut.</em></p>
<p>Akan tetapi, penulis yakin masih ada aktivitas lain yang bisa kita lakukan tanpa perlu bergantung dengan listrik dan internet, walaupun tidak banyak.</p>
<p>Berolahraga mungkin? Mengunjungi tempat-tempat yang selama ini tertunda dengan alasan tidak ada waktu? Ada usul lain dari pembaca?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apakah penulis merasa dirugikan dengan kejadian mati lampu tersebut? Bisa jadi iya, karena penulis jadi tidak bisa bekerja dengan menggunakan laptop yang jelas membutuhkan listrik dan internet.</p>
<p>Hanya saja, memaki pemerintah juga tidak akan membawa hasil apa-apa. Yang ada, tekanan darah kita naik dan ujung-ujungnya merugikan kesehatan diri kita sendiri.</p>
<p>Penulis lebih condong ke pendapat yang kedua, percaya bahwa semua ini ada hikmahnya masing-masing. Penulis jadi lebih merasa bersyukur ketika ada listrik dan internet, yang ujung-ujungnya menambah kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan kita.</p>
<p>Yang jelas setelah pengalaman kemarin, penulis harus menyusun beberapa aktivitas yang bisa dilakukan ketika terputus dari listrik dan internet, sehingga waktunya bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah mengalami pemadaman listrik selama 9 jam di Jakarta</p>
<p>Foto: <a href="https://www.thirteen.org/blog-post/the-blackout-of-1977-what-a-family-lost/">Thirteen</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kala-terputus-dari-internet-dan-listrik/">Kala Terputus dari Internet (dan Listrik)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
