Satu Perangkat, Banyak Hiburan

Ketika sedang menjelajahi linimasa Twitter, Penulis menemukan tweet yang menanyakan apakah generasi kelahiran 2000 ke bawah masih bisa baca komik cetak?

Tweet tersebut tidak bermaksud merendahkan generasi muda, hanya sekadar bertanya karena sekarang kebanyakan dari kita lebih sering membaca komik dari ponsel.

Jawabannya pun bervariasi. Ada yang mengaku tidak bisa, ada yang mengaku bisa karena kakaknya koleksi komik, dan lain sebagainya.

Tweet sederhana tersebut berhasil mengusik Penulis dan membuat berpikir, apakah sekarang media hiburan memang hanya bisa didapatkan dari satu atau dua perangkat?

Mencari Hiburan ke Mana-Mana

Persewaan Komik (Guidable)

Saat masih kecil, kira-kira usia SD, Penulis sudah gemar membaca komik. Selain dibelikan orang tua, Penulis juga kerap menyewa komik di persewaan komik di dekat rumah nenek.

Tidak hanya itu, Penulis juga mendapatkan “warisan” komik Donal Bebek dan Tintin dari Pakde. Bahkan, hobi membaca komik ini masih Penulis geluti sampai sekarang.

Karena itu, Penulis bisa memahami komik Jepang (yang kebanyakan dari kanan kekiri) ataupun komik Barat (dari kiri ke kanan).

Kalau mau baca buku? Dulu Penulis belum terlalu suka baca buku. Pertama kali baca novel mungkin SMP, yakni novel Sherlock Holmes pemberian almarhumah kakak sepupu.

Ketika SMA, Penulis juga masih jarang membeli buku. Paling menyewa novel Harry Potter dari perpustakaan sekolah.

Lihat film? Dulu persewaan film ada banyak sekali. Penulis dan teman-temannya akan berburu film untuk ditonton bersama. Selain itu, bisa juga menunggu film yang tayang di televisi.

Mau internetan untuk sekadar cari wallpaper atau download lagu dan video? Penulis akan pergi ke warnet sambil membawa flash disk.

Kalau main game? Ada persewaan Playstation atau kalau mau main game PC bisa ke warnet. Alhamdulillah Penulis punya konsol game yang dibeli menggunakan uang sunat.

Bagaimana dengan mendengarkan musik? Seringnya, dan ini jangan ditiru, Penulis akan mengunduh lagu bajakan di situs-situs yang menyediakan lagu gratis.

Karena handphone zaman itu belum punya kemampuan untuk menyetel musik, Penulis sampai menggunakan uang tabungannya untuk membeli MP4 Player. Lagu yang diunduh tadi akan ditransfer ke perangkat MP4 tersebut.

Bisa dilihat ketika Penulis masih kecil hingga usia sekolah, dibutuhkan “usaha” lebih untuk mendapatkan hiburan apapun bentuknya.

Sekarang, semua bisa dilakukan hanya melalui satu atau dua perangkat bernama smartphone.

Satu Perangkat, Banyak Pilihan Hiburan

Semua di Satu Perangkat (NordWood Themes)

Kehadiran smartphone diawali dengan rilisnya iPhone pada tahun 2007. Setelah itu, Google merilis Android pada tahun 2008. Semenjak itu, kita seolah-olah bisa melakukan apapun melalui perangkat yang ada di genggaman kita.

Mau baca komik? Kita bisa baca komik secara gratis dan legal melalui aplikasi seperti Webtoon. Yang ilegal lebih banyak lagi, terutama yang ingin membaca komik Jepang secara online.

Mau baca buku? Kini hampir semua judul ada versi digitalnya dan bisa diakses dengan mudah. File PDF-nya juga mudah sekali didapatkan.

Mau lihat film? Layanan streaming macam Netflix dan Disney+ begitu menjamur hingga kita dibuat bingung ingin berlangganan yang mana. Apalagi, sekarang ada YouTube yang menyediakan berbagai konten.

Mau internetan? Kapan pun kita butuh informasi atau sekadar kepo akan sesuatu, kita tinggal mengetikkannya di Google. Mau cari apapun akan muncul dengan cepat.

Mau main game? Jangan ditanya, sekarang pemain game mobile ada di mana-mana. Dibandingkan game konsol dan PC, bermain game di smartphone jauh lebih murah.

Mau mendengarkan musik? Layanan streaming musik pun ada sangat banyak, mulai Spotify, Apple Music, Joox, hingga YouTube Music.

Belum lagi sekarang ada media sosial yang menjadi salah satu penyebab mengapa kita begitu betah dan adiktif di depan layar ponsel.

Memang lebih praktis karena kita bisa melakukan berbagai hal hanya melalui satu perangkat, tapi kok kayaknya jadi ada yang hilang.

Ketergantungan Terhadap Satu Perangkat

Smartphone memang sangat praktis dan membantu kita di banyak hal. Hanya saja, kecanggihannya secara tidak langsung membuat kita merasa ketergantungan.

Coba bayangkan satu hari tanpa smartphone, pasti kita akan cepat merasa bosan. Rasanya, ada yang hilang dalam hidup ini.

Dampak buruk lainnya adalah membuat banyak bisnis tutup karena terlindas zaman. Tempat penyewaan komik dan film sudah pada tutup, begitu pula dengan warnet.

Untungnya, masih ada banyak aktivitas yang tidak bisa digantikan oleh smartphone seperti travelling dan memasak. Masih ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan tanpa perlu memandang layar ponsel.

Di sini, Penulis ingin mengingatkan kalau jangan sampai kita terlena dengan kenyamanan yang diberikan oleh smartphone.

Benda tersebut memang memberikan begitu banyak pilihan hiburan, tapi jangan sampai kita menjadi lalai dan menyia-nyiakan waktu yang ada.

Gunakan smarpthone kita secara bijak, jangan mau diperbudak olehnya.

 

 

 

Lawang, 21 Januari 2020, terinspirasi dari sebuah tweet yang menanyakan apakah generasi muda sekarang masih bisa membaca komik cetak

Foto: Jonas Leupe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.