<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>islam Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/islam/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Jul 2022 16:35:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>islam Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/islam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 23:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah Ngaji Filsafat yang diisi oleh Fahruddin Faiz. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya. Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah <strong>Ngaji Filsafat </strong>yang diisi oleh <strong>Fahruddin Faiz</strong>. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya.</p>



<p>Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya sesekali ketika kebetulan ayah Penulis sedang menontonnya.</p>



<p>Untuk itu, sewaktu tahu Fahruddin Faiz menulis sebuah buku berjudul <em><strong>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</strong></em>, Penulis langsung tertarik membacanya karena pada dasarnya Penulis lebih suka membaca daripada menonton.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Menjadi Manusia Menjadi Hamba</li><li>Penulis: Fahruddi Faiz</li><li>Penerbit: Noura Books</li><li>Cetakan: Cetakan Kedua</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 309 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini mengambil beberapa topik yang pernah dibahas di kanal YouTube Ngaji Filsafat, sehingga ketika membacanya Penulis bisa membayangkan suara Fahruddin Faiz yang tenang dan bertempo lambat di kepala.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yakni <strong>Manusia</strong>, <strong>Waktu</strong>, dan <strong>Penghambaan</strong>. Di setiap babnya selalu membahas <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">mengenai berbagai filsafat</a>, baik dari Yunani Kuno, Barat, hingga China.</p>



<p>Tidak hanya berhenti sampai di sana, Fahruddin Faiz juga mengombinasikannya dari sisi Islam, baik dari Alquran maupun Hadis. Dengan begitu, nilai-nilai filsafat yang ingin disampaikan masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.</p>



<p>Pada bab Manusia, kita dijelaskan mengenai <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">fitrah kita sebagai manusia</a> yang seharusnya menghamba ke Tuhan, bukannya menghamba ke selain Tuhan seperti harta, jabatan, hingga manusia lainnya.</p>



<p>Bab ini terdiri dari lima subbab, yakni Fitrah, Humor, Pernikahan, Doa, Main-Main dalam Hidup, dan Nama Baik. Kita bisa memilih mau membaca yang mana duluan, tidak perlu membacanya secara berurutan.</p>



<p>Bab Waktu menjabarkan tentang filosofi waktu dalam kehidupan kita, tentang bagaimana kita harus bisa menggunakan dan memaknai waktu sebaik mungkin. Bab terakhir lebih menjelaskan mengenai ibadah kita sebagai makhluk Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</em></h2>



<p>Sama seperti video di YouTube-nya, di buku ini Fahruddin Faiz berusaha memberikan wejangan dengan cara yang bersahabat dan tidak menggurui. Tidak lupa selalu ada selipan humor agar topik yang serius ini tidak terlalu terasa serius.</p>



<p>Pembahasan d bab pertama (Manusia) sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di era modern seperti sekarang, kita sering melihat fenomena bagaimana kita sering mengagungkan selain Tuhan.</p>



<p>Contohnya adalah kita yang hidup terlalu matrealistis, terlalu memuja seseorang/kelompok, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Bab ini hadir untuk mengingatkan fitrah kita tersebut.</p>



<p>Buku ini akan membawa kita banyak merenung mengenai kodrat kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kandungan filsafat yang ada di dalamnya sama sekali tidak terasa berat karena berhasil dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Akan ada banyak <em>quote-quote </em>yang <em>mak jleb </em>dan terasa begitu sesuai dengan yang kita. Apalagi seperti yang sudah Penulis singgung di atas, kita bisa memilih bagian mana yang ingin kita baca tanpa perlu urut dari halaman pertama. </p>



<p>Untuk itu, buku ini akan Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang ingin mencari semacam &#8220;pencerahan&#8221; dalam hidupnya dan yang ingin belajar tentang filsafat dengan penuturan yang mudah untuk dipahami. </p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang. 10 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hampa </em>karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Berpisah dengan Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 09:57:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi.</p>



<p>Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah ini banyak hal akan dimulai lagi dari nol.</p>



<p>Hanya saja, bagi Penulis bentuk ujian yang sebenarnya justru <strong>setelah kita berpisah dengan bulan Ramadhan.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Bagi Penulis sendiri, bulan Ramadhan tahun ini terasa kurang maksimal. Meskipun puasa tahun ini bisa di rumah, dua minggu terakhir Penulis kerap diserang penyakit seperti asam lambung dan demam. Alhasil, bulan puasa tahun ini harus rela bolong dua hari.</p>



<p>Jumlah bolong ini adalah rekor seumur hidup Penulis. Tahun kemarin, Penulis sempat bolong satu kali karena sakit juga. Sebelumnya, seingat Penulis belum pernah bolong sama sekali. Kalau masalah menahan lapar dan haus, Penulis termasuk jago.</p>



<p>Hanya saja, Penulis juga jadi merenung. <strong>Apakah ujian yang sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Selama bulan puasa, kita berusaha menahan diri dari berbagai godaan. Terlepas dari masalah perut, sebenarnya ada banyak hal yang harus kita jaga selama berpuasa.</p>



<p>Kita berusaha untuk menahan marah, tidak membicarakan orang, meningkatkan ibadah kita, pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, tadarusan, tidak berbuat hal buruk, dan lain sebagainya. Semenjak Shubuh hingga Maghrib, kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.</p>



<p>Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi seperti itu di luar waktu puasa? Bisakah kita mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk seperti ketika puasa?</p>



<p>Penulis merasa bahwa inilah ujian kita yang sebenarnya: <strong>Apakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di 11 bulan lainnya setelah berpuasa selama satu bulan?</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Menahan diri ketika berpuasa bisa dibilang cukup mudah. Ketika hendak melakukan hal yang buruk, kita akan teringat, &#8220;Oh iya, lagi puasa, enggak boleh begitu.&#8221;</p>



<p>Tapi kalau sedang di luar puasa, apa yang akan menjadi pengingat kita? Di sana lah letak kesulitan untuk mempertahankan kebiasaan baik di luar bulan puasa. Tidak ada yang bisa menjadi pengingat secara langsung.</p>



<p>Ketika Penulis berusaha menghayati bulan puasa yang telah dilewati, Penulis menyadari bahwa ini menjadi salah satu alasan kenapa kita harus berpuasa selama satu bulan: <strong>Agar kita sadar untuk bisa bersikap seperti ketika sedang puasa walaupun tidak sedang puasa.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, Penulis menjadi tergerak hatinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak hanya dari rutinitas harian, tapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya.</p>



<p>Yang namanya manusia, pasti semangatnya akan mengalami naik turun. Penulis sudah sering mengalaminya dalam hidup.</p>



<p>Penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk, setidaknya sampai bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan jika diizinkan oleh Tuhan. Aamiin.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah merenungi makna bulan Ramadhan yang telah dijalani</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@sxy_selia">Sangga Rima Roman Selia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kisah Empat Khalifah</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kisah-empat-khalifah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2020 20:26:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3808</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis selalu menyebutkan kesukaannya akan sejarah. Apapun, mulai dari sejarah Indonesia, Orde Baru, Kekaisaran Napoleon, dan lain sebagainya. Sejarah Islam juga termasuk, mulai dari kelahiran Nabi hingga bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia seperti sekarang. Salah satu yang sering Penulis baca adalah tentang empat khalifah pengganti Nabi (Khulafaur Rasyidin). Nah, Penulis baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kisah-empat-khalifah/">Setelah Membaca Kisah Empat Khalifah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa kesempatan, Penulis selalu menyebutkan kesukaannya akan sejarah. Apapun, mulai dari sejarah Indonesia, Orde Baru, Kekaisaran Napoleon, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sejarah Islam juga termasuk, mulai dari kelahiran Nabi hingga bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia seperti sekarang. Salah satu yang sering Penulis baca adalah tentang empat khalifah pengganti Nabi (<em>Khulafaur Rasyidin</em>).</p>
<p>Nah, Penulis baru saja menghabiskan sebuah buku berjudul <em><strong>Kisah Empat Khalifah</strong> </em>yang ditulis oleh Fazl Ahmad. Seperti apa isinya?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebelumnya, Penulis sudah memiliki buku biografi keempat <em>Khulafaur Rasyidin </em>secara terpisah. Kalau sudah punya yang versi lebih panjangnya, kenapa beli lagi dengan topik yang serupa?</p>
<p>Berdasarkan pengalaman Penulis, buku biografi semacam ini selalu menyajikan informasi baru atau setidaknya menyegarkan ingatan kita.</p>
<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini akan menjelaskan tentang <strong>Abu Bakar As-Shiddiq</strong>, <strong>Umar bin Khattab</strong>, <strong>Usman bin Affan</strong>, hingga <strong>Ali bin Abi Thalib</strong>.</p>
<p>Masing-masing nama membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk menyelesaikannya. Sejarah-sejarah yang ada ditulis secara singkat dan padat.</p>
<p>Di setiap nama, kita akan mengetahui sejarah singkat mereka sebelum masuk Islam dan ketika Nabi masih hidup. Setelah itu, kita akan melihat secara kronologis masa kepemimpinan mereka hingga meninggal dunia.</p>
<p>Di buku ini lebih banyak diceritakan seputar penakhlukan Islam pasca kepergian Nabi. Banyak juga diceritakan konflik-konflik internal yang menghambat perkembangan Islam itu sendiri.</p>
<p>Inti kisahnya juga sama. Abu Bakar yang relatif aman, Umar yang dengan ketegasannya mampu menyebarkan Islam, Usman yang harus menghadapi banyak pemberontakan, hingga Ali yang harus mengalami perang saudara.</p>
<h3>Konflik yang Terus Terulang</h3>
<p>Melalui buku ini, kita bisa belajar banyak dari masa lalu bagaimana pertikaian antar umat Islam bisa menumpulkan nilai-nilai mulia yang dikandungnya.</p>
<p>Awalnya Islam terlihat masih terkendali di bawah kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Gemercik konflik mulai muncul di kepemimpinan Usman yang dianggap tak setegas Umar.</p>
<p>Selain itu, banyak yang menganggap Usman mempraktikkan nepotisme dengan mengangkat kerabatnya sendiri sebagai petinggi negara atau gubernur di tempat lain.</p>
<p>Hal ini makin diperparah dengan munculnya orang-orang yang ingin mengadu domba umat Islam. Semua hal tersebut membuat Usman menghadapi banyak pemberontakan hingga akhirnya terbunuh dengan kepala terpenggal.</p>
<p>Ketika digantikan oleh Ali, muncul perang saudara karena Ali tidak memberlakukan <em>qisas </em>terhadap pembunuh Usman. Janda Nabi, Aisyah, memimpin perlawanan yang memicu perang saudara pertama di dalam sejarah Islam.</p>
<p>Konflik-konflik seperti ini masih sering kita jumpai di era modern seperti sekarang dalam berbagai bentuk. Harusnya, kita bisa belajar dari masa lalu agar tak terulang di hari ini.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Kisah Empat Khalifah</h3>
<p>Buku ini dituliskan dengan bahasa yang mudah dipahami dan mampu mengalir begitu saja. Kita tidak akan merasakan waktu bergulir ketika membaca kisah-kisah yang ada di dalamnya.</p>
<p>Tidak seperti buku yang sebelumnya Penulis baca, tidak ada ayat Alquran di dalam buku ini. Jika pun ada hanya dituliskan terjemahannya saja.</p>
<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang tertarik dengan kisah empat khalifah namun tidak punya banyak waktu untuk membaca sejarahnya secara detail.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Kisah Empat Khalifah </em>karya Fazl Ahmad</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kisah-empat-khalifah/">Setelah Membaca Kisah Empat Khalifah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Dec 2019 12:17:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal. Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu. Kejadian kecil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal.</p>
<p>Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu.</p>
<p>Kejadian kecil tersebut memantik rasa penasaran penulis. Mengapa setiap tahun polemik mengucapkan selamat natal selalu menjadi biang keributan di masyarakat kita?</p>
<h3>Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Penulis tidak pernah belajar agama secara mendalam di sebuah pesantren ataupun mengikuti pengajian secara rutin. Paling banter jadi jamaah di YouTube.</p>
<p>Ketika ada sebuah pertanyaan yang membuat penulis penasaran, biasanya penulis akan mencari jawabannya melaui video-video di YouTube ataupun bertanya kepada teman yang ilmunya lebih tinggi dari penulis.</p>
<p>Salah satunya termasuk hukum mengucapkan selamat natal. Menulis mencoba untuk mendengarkan beberapa pendapat dari ustaz yang berbeda-beda.</p>
<p>Hasilnya? Secara garis besar pendapat memang terbagi dua, yang melarang dan membolehkan. Masing-masing memberikan dalil dari Alquran ataupun Hadis.</p>
<p>Bagi yang melarang, dalilnya adalah ketika kita mengucapkan selamat natal artinya umat Islam mengakui bahwa Yesus (atau Isa di Islam) lahir pada tanggal tersebut. Ini sudah masuk ke ranah <em>aqidah </em>sehingga tidak boleh diucapkan.</p>
<p>Bagi yang membolehkan, dalilnya adalah kewajiban kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia termasuk yang berbeda keyakinan. Kalau mau pakai logika, tidak mungkin kita mengucapkan selamat natal lantas kita menjadi kafir.</p>
<p>Dengan adanya dua pendapat yang berbeda, masyarakat harusnya diperkenankan untuk memilih mana yang paling mereka yakini benar. Hal ini juga sering terjadi misalnya pada penentuan hari raya Idul Fitri ataupun <em>qunut </em>saat sholat Shubuh.</p>
<p>Masalahnya, polemik ini seolah terus diulang di masyarakat tiap tahunnya tanpa bisa memetik pelajaran.</p>
<h3>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Dalam menentukan sebuah hukum, para ustaz maupun ulama pasti memiliki dasar hukum yang berasal dari Alquran, Hadis, ataupun sumber-sumber lainnya.</p>
<p>Beliau-beliau ini tidak asal-asalan menentukan hukum, bukan juga karena sensi dengan agama lain. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati mereka meskipun kita tidak sepakat dengan pendapatnya.</p>
<p>Sayangnya, yang penulis lihat justru sebaliknya. Contoh, ketika menonton video-video yang menjelaskan dasar hukum mengucapkan selamat natal, isi komentarnya justru menghujat yang sampai menyinggung ranah pribadi.</p>
<p>Mereka membalas argumen tersebut dengan menggunakan logika atau dasar kemanusiaan. Penulis ini ilmu agamanya masih rendah, tapi paham kalau yang namanya agama juga harus berdasarkan dalil, bukan logika manusia semata.</p>
<p>Sebaliknya pun seperti itu, sama saja. Tokoh-tokoh agama yang membolehkan pengucapan selamat natal ramai-ramai didoakan agar segera tobat. Emang, yang menyuruh tobat ini udah sesuci apa, sih?</p>
<p>Inilah yang penulis anggap menjadi penyebab mengapa polemik mengucapkan selamat natal selalu berulang setiap tahun: tidak adanya rasa saling menghargai satu sama lain.</p>
<h3>Perang Status di Dunia Maya</h3>
<p>Di dalam Islam, kita memang dianjurkan untuk menyiarkan Islam walaupun hanya satu ayat. Mungkin ini yang menjadi motivasi orang-orang gemar membuat status dengan ayat Alquran yang menjadi dasar pelarangan pengucapan selamat natal.</p>
<p>Hanya saja, menurut penulis hal tersebut kurang elok jika dilakukan di media sosial. Kalau di dalam internal Islam mungkin masih bisa diterima, tapi kan pengguna media sosial terdiri dari berbagai macam orang.</p>
<p>Bisa jadi, ada teman-teman kita yang Nasrani atau Katolik merasa tersinggung dengan status tersebut dan akibatnya terjadi perselisihan yang kurang mengenakan.</p>
<p>Kalau semacam MUI ataupun tokoh agama, tugas mereka memang meyiarkan ajaran agama Islam sehingga wajar jika mereka memberi tahu apa dasar hukum untuk suatu masalah tertentu.</p>
<p>Toh, kita nanti akan dimintai pertangungjawaban masing-masing mengenai pilihan yang kita yakini benar.</p>
<h3>Intoleran?</h3>
<p>Bagi yang meyakini boleh hukumnya mengucapkan selamat natal, juga jangan nge-<em>judge </em>orang Islam yang tidak berkenan mengucapkannya dengan sebutan tidak toleran. Mereka juga punya landasan hukum sendiri untuk tidak melakukannya.</p>
<p>Islam sendiri sangat toleran mengenai ibadah umat agama lain. Kita dilarang untuk mengganggu proses ibadah mereka. Kita diharamkan menghalang-halangi mereka untuk menjalankan keyakinannya.</p>
<p>Kita diwajibkan untuk menghargai mereka menjalani kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Kita juga dilarang memaksa kaum minoritas untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Ini adalah toleransi.</p>
<p>Memang pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak kejadian intoleran di mana umat agama lain dihalang-halangi untuk melakukan ibadahnya. Ini menjadi PR untuk kita semua.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri sampai saat ini belum pernah mengucapkan selamat natal. Bukan karena tidak punya teman non-muslim, tapi memang lebih meyakini pendapat yang melarang.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis menghargai mereka yang mengucapkan selamat natal. Penulis tidak akan mengafirkan orang lain seenak udelnya sendiri. Teman-teman penulis pun bisa memahami hal ini.</p>
<p>Intinya, yang merasa berat ya enggak usah mengucapkan. Yang merasa boleh-boleh saja ya silakan. Kalau kita bisa saling menghargai satu sama lain, niscaya negeri ini akan damai&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Video ceramah para ustaz bisa ditonton melalui link yang ada di bawah ini</p>
<p>Melarang: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=bppyjYFep98">Buya Yahya</a>, <a href="https://youtu.be/8VUxdXMjiHc">Khalid Basalamah</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Pc6_NBi-Zz0">Syafiq Riza Basalamah</a>, <a href="https://youtu.be/51vrz_juupg">Adi Hidayat</a>, <a href="https://youtu.be/fqlt6VOwEgA">Felix Siauw</a>, <a href="https://youtu.be/Z5m3yxm1XUg">Abdul Somad</a></p>
<p>Membolehkan: <a href="https://youtu.be/MT8tG6PEZX4">Habib Ali Al-Jufri</a>, <a href="https://youtu.be/Z46TX9EOBAo">Quraish Shihab</a>, <a href="https://youtu.be/_IF9EwhBOQw">Gus Miftah</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2019, terinspirasi setelah salah seorang teman di Karang Taruna bertanya kepada penulis tentang hukum mengucapkan selamat Natal di Islam.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@crisdinoto?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Cris DiNoto</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Keimanan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2018 15:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[perintah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1781</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, iman memiliki makna kepercayaan yang berkaitan dengan agama. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri. Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan: Iman berarti mempercayai dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, <strong>iman </strong>memiliki makna <strong>kepercayaan yang berkaitan dengan agama</strong>. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan:</p>
<blockquote><p><strong>Iman berarti mempercayai dan meyakini tanpa tapi</strong></p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Penulis akan memberikan contoh sesuai dengan kepercayaan yang penulis anut. Sebagai umat muslim, tentu pedoman hidup yang harus penulis pegang adalah Al Quran bukan?</p>
<p>Karena penulis meyakini Al Quran sebagai pedoman hidup, artinya penulis harus meyakini isinya tanpa meragukan isinya bukan? Apa yang berada di dalamnya bersifat mutlak dan tidak mungkin salah.</p>
<p>Jujur saja, penulis sempat berpikir beberapa ayat Al Quran sedikit membuat penulis merasa tidak nyaman. Contohnya adalah hukum menggauli budak. Penulis tentu merasa bahwa harusnya hal tersebut tidak diperbolehkan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa pengetahuan penulis amat terbatas, sehingga tidak mungkin penulis menentang ayat suci Al Quran. Dengan pemahaman ini, penulis bisa menerima hal tersebut karena menganggap Tuhan pasti memiliki alasan di baliknya.</p>
<p>Yang banyak penulis lihat di lingkungan sekitar penulis, ada beberapa yang memilah-milah ayat mana yang dipatuhi mana yang bisa dikompromikan (mungkin penulis juga masuk di dalamnya).</p>
<p><strong>Tidak boleh memilih pemimpin kafir!</strong> Tapi kan dia orangnya baik dan tegas, daripada yang muslim tapi korupsi!</p>
<p><strong>Tidak boleh meminum bir!</strong> Tapi kan saya lagi di luar negeri, ini untuk menghormati tamu yang sudah menyuguhkan ke saya!</p>
<p><strong>Wanita sebaiknya di dalam rumah!</strong> Tapi kan sekarang sudah eranya kesederajatan antara wanita dan pria!</p>
<p><strong>Jangan lupa sedekah!</strong> Tapi kan kebutuhan rumah masih banyak!</p>
<p><strong>Jangan meninggalkan sholat!</strong> Tapi kan yang penting bisa menjadi manusia yang baik, sholat hanya ritual semata!</p>
<p>Inilah terkadang yang tidak disadari oleh kita sebagai manusia. Dengan mengeluarkan argumen untuk melawan perintah Al Quran, secara sadar maupun tidak sadar kita merasa lebih hebat dari Tuhan yang telah menciptakan semesta ini.</p>
<p><strong>Siapakah kita sehingga bisa menentang perintah Tuhan kita?</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis merasa berat untuk menuliskan tulisan ini, karena penulis akui masih banyak melalaikan perintah di dalam Al Quran dan melanggar apa yang dilarang. Akan tetapi, besar harapan penulis bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik setelah menulis tulisan semacam ini.</p>
<p>Penulis hanya ingin mengajak kepada pembaca sekalian, untuk bisa berusaha bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, yang mengimani kepercayaannya tanpa menggunakan tapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari perenungan yang panjang</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://aboutislam.net/reading-islam/finding-peace/remembering-allah/prayers-a-special-connection-with-god/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi9rbuF_YPfAhWGeisKHeVQCFcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">AboutIslam.net</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendapat Saya Tentang Reuni 212</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/pendapat-saya-tentang-reuni-212/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/pendapat-saya-tentang-reuni-212/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2018 00:42:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[212]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mencela]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[reuni 212]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1776</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alhamdulillah acara reuni 212 yang berlangsung kemarin (2/12) berlangsung dengan damai dan tertib, sejauh yang penulis pantau dari media sosial. Sayang, penulis belum bisa ikut acara, semoga saja jika tahun depan ada penulis bisa turut serta. Terlepas dari isu politik, acara tersebut sudah sewajarnya mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sayangnya, masih banyak nyinyiran dan cibiran dari orang-orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pendapat-saya-tentang-reuni-212/">Pendapat Saya Tentang Reuni 212</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah acara reuni 212 yang berlangsung kemarin (2/12) berlangsung dengan damai dan tertib, sejauh yang penulis pantau dari media sosial. Sayang, penulis belum bisa ikut acara, semoga saja jika tahun depan ada penulis bisa turut serta.</p>
<p>Terlepas dari isu politik, acara tersebut sudah sewajarnya mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sayangnya, masih banyak <em>nyinyiran </em>dan cibiran dari orang-orang yang tidak menyukai acara ini.</p>
<p>Mereka menebar isu-isu yang menyakitkan, seperti massa bayaran, politik terselubung, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka mengeluarkan pernyataan tersebut tanpa didukung bukti dan fakta yang kuat.</p>
<p>Penulis percaya, ada yang memanfaatkan momen ini untuk kepentingan dirinya atau golongannya. Pasti ada yang seperti itu. Tapi yang <em>mbok </em>tolong jangan dipukul rata seperti itu.</p>
<p>Kalaupun ada yang menyuarakan untuk mendukung salah satu pasangan capres, ya itu hak politik mereka bukan? Kenapa yang disorot hanya itu, sedangkan aktivitas ibadah yang mereka lakukan sejak dini hari sama sekali tidak dilirik?</p>
<p>Dilihat sekilas saja, penulis yakin massa yang datang berjumlah jutaan, tidak hanya seratus ribuan seperti yang banyak dihembuskan di media sosial. Yakin semua datang karena motif politik? Pernahkan ada partai politik yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ini?</p>
<p>Penulis yakin bahwa ada (dan banyak) peserta reuni yang datang ke acara tersebut karena <strong><em>lillahi ta&#8217;ala</em></strong>. Mereka datang karena panggilan hati, bukan karena selembar uang seratus ribuan.</p>
<p>Jika saja para penuduh ini lebih terbuka nalarnya, mereka harusnya bisa berlogika. Mana bisa uang seratus ribu menggantikan uang transport mereka ke Monas, terutama yang berasal dari luar daerah?</p>
<p>Kalaupun enggan untuk ikut, minimal jangan mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyayat hati, apalagi sampai mengeluarkan fitnah yang beracun. Hargailah mereka yang sudah berjuang agar bisa berangkat menuju Jakarta untuk berkumpul bersama saudara seimannya.</p>
<p>Sayang, mereka nampaknya lebih mendahulukan emosi dan perasaan dendam. Mereka seolah-olah menutup mata atas apa yang sudah terjadi di hari Minggu tersebut.</p>
<p>Bahkan ada berita orang meninggal sewaktu mengikuti acara pun mereka olok-olok. Apakah sudah begitu buta nurani mereka sehingga memperolok orang yang telah meninggal?</p>
<p>Seorang kawan yang baru saja mengikuti pengajian ustadz Hanan Attaki memberikan jawaban. Katanya, <strong>mereka yang suka mencela akan ditutup hidayahnya dari Tuhan, hatinya akan terkunci</strong>.</p>
<p>Oleh karena itu, buang-buanglah sikap suka mencela orang lain, apalagi ditambah perasaan <a href="http://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">merasa lebih baik</a> dari mereka. Mau ditujukan ke presiden, artis, hingga <em>public figure</em> lainnya, jangan pernah mengeluarkan kata-kata celaan yang tidak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari acara reuni 212 yang diadakan kemarin</p>
<p>Foto: <a href="http://twitter.com">twitter.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pendapat-saya-tentang-reuni-212/">Pendapat Saya Tentang Reuni 212</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/pendapat-saya-tentang-reuni-212/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2018 08:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad rida'i rifan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1443</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar buku-buku karya Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an, dan buku ini adalah buku kedelapan yang penulis miliki. Penulis membelinya sewaktu berlibur ke Bandung dengan harga Rp 15.000 saja. Sebenarnya, penulis belum merasa berani untuk membaca buku-buku yang bertemakan kematian. Maklum, penulis masih merasa sering melakukan dosa. Akan tetapi, setelah pertarungan batin singkat, penulis memutuskan untuk tetap membeli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/">Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar buku-buku karya Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an, dan buku ini adalah buku kedelapan yang penulis miliki. Penulis membelinya sewaktu berlibur ke Bandung dengan harga Rp 15.000 saja.</p>
<p>Sebenarnya, penulis belum merasa berani untuk membaca buku-buku yang bertemakan kematian. Maklum, penulis masih merasa sering melakukan dosa. Akan tetapi, setelah pertarungan batin singkat, penulis memutuskan untuk tetap membeli buku ini. Toh sedang obral, sayang jika dilewatkan.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Walaupun judulnya seperti itu, sebenarnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah tentang menyambut kematian, yang kedua tentang bakti kita kepada orangtua dan yang terakhir adalah tentang menyusun masa depan yang cerah.</p>
<p>Bagian pertama mengajak kita untuk tidak menakuti datangnya kematian. Kita harus siap, bahkan bahagia, ketika ajal telah menjemput. Agar bisa seperti itu, tentu kita harus memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat.</p>
<p>Mengingat kematian, seperti kata ustad Adi Hidayat pada salah satu ceramahnya, merupakan salah satu cara paling ampuh untuk menjauhi maksiat. Ketika terlintas di pikiran ingin berbuat maksiat, langsung usir dengan menanamkan pikiran seperti ini:</p>
<blockquote><p>Bagaimana jika aku akan mati setelah melakukan maksiat ini?</p></blockquote>
<p>Kematian seharusnya bukan menjadi sesuatu yang ditakuti. Kehidupan setelah kematian harus menjadi tujuan hidup. Apabila kita mengejar dunia, belum tentu kita mendapatkan akhirat. Sebaliknya, apabila kita mengejar akhirat, insyaAllah kita akan mendapatkan dunia.</p>
<p>Ustad Haikal Hasan menganalogikannya dengan seutas tali dan seekor sapi. Jika kita membeli sapi, kita akan mendapatkan tali. Akan tetapi, jika kita membeli tali, kita tidak akan mendapatkan sapi. Begitulah, sapi adalah analogi untuk akhirat, sedangkan tali merupakan analogi untuk dunia.</p>
<p>Buku ini membuat kita semakin meyakini perkataan kedua ustad tersebut.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kedua bab yang lain sama seperti tulisan-tulisan pada buku-buku Ahmad Rifa&#8217;i lainnya. Berusaha memotivasi dengan cara islami yang disajikan dengan bahasa sederhana. Sayang, sebenarnya penulis berharap buku ini benar-benar mengulas penuh tentang kematian.</p>
<p>Nasihat-nasihat yang terkadung di dalamnya membuat buku ini cocok untuk dibaca sebelum memulai aktivitas. Buku ini cocok untuk pembaca yang tidak kuat membaca buku tebal. Penulis hanya membutuhkan kurang dari dua jam untuk menghabiskan buku ini.</p>
<p>Nilainya <strong>3.9/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 8 Oktober 2018, terinspirasi setelah membaca buku &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/">Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menemukan Jawaban Pada Rahasia Magnet Rezeki</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menemukan-jawaban-pada-rahasia-magnet-rezeki/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/menemukan-jawaban-pada-rahasia-magnet-rezeki/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2018 08:00:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrullah]]></category>
		<category><![CDATA[positive thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Rahasia Magnet Rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis gemar membaca buku self-improvement karena meyakini bahwa jiwa penulis membutuhkan &#8220;suplemen&#8221; agar tetap berpikir positif di kala semangat penulis mulai turun. Istilahnya mungkin ngecas energi positif melalui buku. Pada awalnya penulis hanya membaca buku karya penulis barat seperti John C. Maxwell, namun akhir-akhir ini penulis lebih menggemari buku-buku motivasi islami seperti tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan. Biar dunia sama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menemukan-jawaban-pada-rahasia-magnet-rezeki/">Menemukan Jawaban Pada Rahasia Magnet Rezeki</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis gemar membaca buku <em>self-improvement </em>karena meyakini bahwa jiwa penulis membutuhkan &#8220;suplemen&#8221; agar tetap berpikir positif di kala semangat penulis mulai turun. Istilahnya mungkin <em>ngecas </em>energi positif melalui buku.</p>
<p>Pada awalnya penulis hanya membaca buku karya penulis barat seperti John C. Maxwell, namun akhir-akhir ini penulis lebih menggemari buku-buku motivasi islami seperti tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan. Biar dunia sama akhiratnya seimbang.</p>
<p>Buku motivasi islam yang baru penulis selesaikan adalah <strong>Rahasia Magnet Rezeki </strong>karya Nasrullah. Mengusung sub-judul &#8220;Menarik Rezeki Dahsyat dengan Cara Allah&#8221;, buku ini nampaknya akan mengarahkan pemikiran kita untuk mencari rezeki dengan cara yang sarat dengan nilai-nilai Islam.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Diawali satu bab yang menjelaskan tujuan buku ini, secara garis besar buku ini dibagi menjadi tiga bagian:</p>
<ul>
<li>The Power of Positive Thinking</li>
<li>The Power of Positive Feeling</li>
<li>The Power of Positive Motivation</li>
</ul>
<p>Buku ini mengajarkan bagaimana menerapkan ketiga poin tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari, disertai berbagai contoh nyata dan manfaat dari penerapannya. Apabila kita berhasil menerapkan ketiga hal tersebut, insyaAllah rezeki kita akan datang.</p>
<p>Penulis tidak akan menjelaskan isinya lebih dalam lagi, karena penulis akan lebih menekankan pada lembar-lembar terakhir pada buku ini, ketika penulis menemukan jawaban yang sudah lama menggantung di benak penulis.</p>
<p><strong>Menemukan Jawaban</strong></p>
<p>Terdapat satu pertanyaan yang sering menguji keimanan penulis: <em>Mengapa ada orang-orang sukses yang tidak pernah sholat maupun ibadah lainnya?</em></p>
<p>Tentu setan dengan mulusnya masuk untuk menghasut penulis, bahwa mereka memang sukses karena usaha keras mereka tanpa ada campur tangan Tuhan. Ketika terbesit pikiran seperti itu, penulis berusaha untuk menangkisnya dengan ucapan istighfar.</p>
<p>Akan tetapi, tetap saja pertanyaan ini masih sesekali menghampiri. Untunglah semua telah terjawab kini, melalui buku <strong>Rahasia Magnet Rezeki </strong>ini.</p>
<p>Lantas apa jawabannya? Karena Tuhan Maha Adil.</p>
<p><em>Bu&#8230;.but wait, what?</em></p>
<p>Karena Tuhan Maha Adil.</p>
<p><em>Are you serious? How come?</em></p>
<p>Karena memang seperti itu adanya.</p>
<p><em>Bagaimana bisa adil ketika ada orang yang rajin ibadah rezekinya seret, sedangkan yang tak pernah ibadah rezekinya lancar?</em></p>
<p>Berdasarkan buku ini, orang yang tak pernah beribadah tentu pernah melakukan kebaikan bukan? Entah memberi sumbangan, menolong tetangga yang kesusahan, maupun berbakti kepada orangtua.</p>
<p>Contoh simpel saja, lihat orang-orang terkaya di dunia, mereka telah membantu masyarakat dunia untuk hidup lebih baik bukan? Entah bagaimana kita sekarang seandainya Google tidak diciptakan, apalagi secara gratis.</p>
<p>Nah, karena kebaikan itu, apakah mereka akan mendapatkan balasan dari Tuhan? Tentu, tapi bukan di akhirat melainkan di dunia. Oleh karena itulah rezeki mereka dilimpahkan.</p>
<p>Bagaimana dengan yang ibadahnya rajin? Logikanya dibalik saja. Kita tentu pernah melakukan kesalahan, mungkin seperti berbohong, menyentak orangtua, hingga meninggalkan kewajiban sholat. Nah, Tuhan tidak ingin membalasnya di akhirat, sehingga Ia memberikannya sewaktu kita di dunia.</p>
<p><em>Oh begitu</em>.</p>
<p>Tapi, tentu ibadah juga harus diiringi dengan ikhtiar yang kuat. Percuma jika rajin sholat malam tapi tidak pernah berusaha mencari peluang kerja. Kalau menggunakan istilah adik penulis sewaktu kampanye pemilihan ketua OSIS, formulanya adalah DUIT alias Doa Usaha, Ikhtiar, Tawakal. Keempat komponen tersebut harus kita laksanakan secara beriringan.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa Tuhan selalu Maha Adil, kapanpun.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sedang membutuhkan motivasi dalam mencari rezeki dengan cara yang islami. Bahasanya sederhana, gaya penuturannya mirip dengan Ippo Sentosa (mereka memang pernah kolaborasi), terselip beberapa candaan, dan banyak contoh-contoh yang membuat kita bisa membayangkan bagaimana menerapkan ketiga kunci yang telah disebutkan di atas.</p>
<p>Mungkin yang kurang suka dengan angka akan merasa sedikit kebingungan ketika Nasrullah membahas Spiritual-Meter pada bab <em>The Power of Positive Motivation</em>. Beberapa bagian akan membuat kita berpikir &#8220;ngomong sih gampang&#8221;, tapi usahakanlah untuk membuang jauh-jauh pikiran seperti itu.</p>
<p>Nilainya<strong> 4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 23 September 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Rahasia Magnet Rezeki tulisan Nasrullah</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menemukan-jawaban-pada-rahasia-magnet-rezeki/">Menemukan Jawaban Pada Rahasia Magnet Rezeki</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/menemukan-jawaban-pada-rahasia-magnet-rezeki/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Menjelang Ramadhan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 May 2018 15:28:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=783</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebetulnya tulisan ini diposting sebelum bulan Ramadhan, tapi karena beberapa alasan jadi harus tertunda. Sudah sewajarnya apabila kita memasuki bulan yang suci ini dengan berbagai persiapan, terutama persiapan secara rohani. Sebelumnya, salah satu anggota Karang Taruna berbagi video yang menarik. Isinya tentang pemanasan-pemanasan yang perlu dilakukan sebelum puasa. Link-nya akan penulis share di bawah, tapi penulis juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/">Pemanasan Menjelang Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya tulisan ini diposting sebelum bulan Ramadhan, tapi karena beberapa alasan jadi harus tertunda. Sudah sewajarnya apabila kita memasuki bulan yang suci ini dengan berbagai persiapan, terutama persiapan secara rohani.</p>
<p>Sebelumnya, salah satu anggota Karang Taruna berbagi video yang menarik. Isinya tentang pemanasan-pemanasan yang perlu dilakukan sebelum puasa. Link-nya akan penulis <em>share </em>di bawah, tapi penulis juga akan berusaha mentransfer isi video tersebut ke dalam sebuah tulisan dengan analogi yang berbeda.</p>
<p>Karena sebentar lagi Piala Dunia, penulis akan menganalogikannya dengan sepak bola. Seorang pemain bola yang berharap dipanggil oleh Timnas, tentu membutuhkan persiapan bukan? Apalagi even sebesar Piala Dunia tentu menjadi cita-cita semua pemain bola, termasuk kapten Tsubasa.</p>
<p>Lalu apa yang akan ia lakukan? Tidak mungkin bukan <em>ujug-ujug </em>ia dipanggil oleh pelatih? Ia harus banyak berlatih agar fit dan memenuhi syarat agar dipanggil. Ia harus bermain dengan baik di klub ia bermain, lebih-lebih menghasilkan prestasi.</p>
<p>Latihan apa yang harus kita lakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan? Tentu memperbanyak ibadah, seperti melaksanakan sholat shunah, menjalani puasa sunnah, menambah bacaan Al-Quran, dan lain-lain. Sehingga, ketika kita sudah masuk bulan Ramadhan, kita telah terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut.</p>
<p>Bayangkan seorang Neymar yang baru saja cedera parah, tiba-tiba langsung masuk <em>line up </em>pertandingan pertama Brazil melawan Swiss, pasti ia tidak akan bermain sebagus biasanya bukan? Sesuatu yang dipaksakan secara tiba-tiba seringkali akan membawa hasil yang buruk.</p>
<p>Perbedaan antara Piala Dunia dan bulan Ramadhan adalah, Piala Dunia hanya memiliki satu tim juara, sedangkan bulan Ramadhan tidak terbatas. Semua bisa memenangkannya, asalkan dapat menjalaninya dengan baik, apalagi jika ditambah amalan-amalan yang telah rutin dilakukan sebelum Ramadhan.</p>
<p>Jika bingung dengan tulisan ini, mungkin video dari Yufid TV ini bisa membantu memahami apa yang ingin penulis sampaikan. Selamat menjalani ibadah puasa di bulan penuh berkah!</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/C68V1StKj-I" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 Mei 2018, setelah melihat video yang di-<em>share </em>Daffa</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://runningmagazine.ca/must-bother-proper-warm-cool/">https://runningmagazine.ca/must-bother-proper-warm-cool/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/">Pemanasan Menjelang Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/pemanasan-menjelang-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Politisasi Terorisme</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 04:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[#kamitidaktakut]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[Ruhut Sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja. Berikut tweet dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi. Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja.</p>
<p>Berikut <em>tweet </em>dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi.</p>
<p><div id="attachment_753" style="width: 863px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-753" class="wp-image-753 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg" alt="" width="853" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg 853w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-250x300.jpg 250w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-768x922.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-213x255.jpg 213w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 853px) 100vw, 853px" /><p id="caption-attachment-753" class="wp-caption-text">Tweet Ruhut Sitompul (www.twitter.com)</p></div></p>
<p>Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak jika mati-matian ingin mendukung Jokowi 2 periode, tapi memanfaatkan bom Surabaya untuk meraup simpati jelas merugikan bapak sendiri. Masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilah mana yang baik mana yang buruk.</p>
<p>Dari pihak oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon pun memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang pemerintahan. Berikut tweet dari Fahri Hamzah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><div id="attachment_754" style="width: 793px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-754" class="size-full wp-image-754" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg" alt="" width="783" height="682" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg 783w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-300x261.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-768x669.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-293x255.jpg 293w" sizes="(max-width: 783px) 100vw, 783px" /><p id="caption-attachment-754" class="wp-caption-text">Tweet Fahri Hamzah (www.twitter.com)</p></div></p>
<p>Mungkin <em>tweet </em>tersebut merupakan kritikan bung Fahri terhadap pemerintah yang seringkali menyudutkan agama tertentu sehingga terciptalah iklim yang tidak kondusif antar umat beragama. Tetap saja, menyebutkan itu ketika suasana duka rasanya kurang bijak dan dapat menyakiti beberapa pihak.</p>
<p><strong>Saling Lempar Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Lucunya, berbagai elemen yang ada di Indonesia saling melempar tudingan terkait penyebab terjadinya aksi teror tersebut. Beberapa menuduh DPR lama sekali menyelesaikan revisi UU Terorisme, tidak seperti RUU MD3 yang kilat.</p>
<p>Pihak DPR mengelak, dengan mengatakan bahwa pemerintah lah yang sering mengulur penyelesaian RUU Terorisme. Yasonna Laoly sebagai Menhunkam mengelak fakta tersebut dan balik menyalahkan DPR. Presiden Jokowi menyatakan bahwa akan membuat Perppu apabila hingga bulan Juni RUU Terorisme belum rampung juga.</p>
<p>Menurut penulis, revisi UU Terorisme bukan solusi dari permasalahan teror ini. Bukankah selama ini pihak kepolisian telah menangkap banyak sekali pelaku terorisme, termasuk bom panci yang sempat ramai. Lalu, mengapa revisi undang-undang yang disalahkan, jika dengan undang-undang yang lama bisa digunakan untuk sementara waktu.</p>
<p>Ada juga yang menyalahkan pihak polisi dan intelijen, kenapa bisa bobol berkali-kali dalam rentang waktu yang dekat? Bukankah biasanya mereka dapat meringkus terduga teroris dengan sigap? Apa karena sang teroris kali ini terlalu lihai sehingga dapat melewati celah-celah keamanan? Jelas, para aparat keamanan negara mendapatkan tekanan yang cukup tinggi dari masyarakat.</p>
<p>Rocky Gerung mengungkapkan permasalahan ini pada <em>twitter</em>-nya.</p>
<p><div id="attachment_757" style="width: 796px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-757" class="size-full wp-image-757" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg" alt="" width="786" height="378" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg 786w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-300x144.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-768x369.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-356x171.jpg 356w" sizes="(max-width: 786px) 100vw, 786px" /><p id="caption-attachment-757" class="wp-caption-text">Tweet Rocky Gerung (www.twitter.com)</p></div></p>
<p><strong>#KAMITIDAKTAKUT</strong></p>
<p>Di luar mencari siapa yang salah, masyarakat menyatakan keberaniannya dengan menggunakan hashtag <strong>#kamitidaktakut</strong>. Tidak salah, namun apakah penggunaan hashtag di media sosial efektif menjadi solusi dari permasalahan yang ada? Bisa jadi, setidaknya hashtag tersebut digunakan untuk menguatkan satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, kita perlu mencari solusi yang lebih aplikatif di lapangan. Penulis sendiri belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini, mungkin hanya sekedar waspada dan segera melapor jika melihat orang yang mencurigakan.</p>
<p>Banyak yang berspekulasi bahwa rentetan kejadian ini memiliki sesuatu yang lebih besar daripada yang nampak di permukaan. Ada yang mengatakan pengalihan isu, ada yang mengatakan ingin mengadu domba, ada yang mengatakan penghancuran Islam dari dalam, macam-macam.</p>
<p>Semoga saja segala prasangka tersebut salah, meskipun kita harus tetap waspada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 16 Mei 2018, setelah membaca <em>tweet </em>dari beberapa pejabat publik.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html">http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
