<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kebenaran Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kebenaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kebenaran/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Sep 2025 16:50:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kebenaran Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kebenaran/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2025 16:50:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8329</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang bekerja secara remote, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman. Nah, salah satu teman Penulis yang sering work from cafe (WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/">Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebagai orang yang bekerja secara <em>remote</em>, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman.</p>



<p>Nah, salah satu teman Penulis yang sering<em> work from cafe </em>(WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester satu kuliah yang sekarang menjadi dosen Binus Malang. Kami berdua sering bertukar pikiran di sela-sela menyelesaikan pekerjaan masing-masing.</p>



<p>Belum lama ini, kami berdua WFC di salah satu kafe Malang yang sudah menjadi langganan. Pada saat itu, Dio <em>share </em>bahwa dirinya baru menonton video dari Rumah Editor di YouTube tentang seorang matematikawan bernama <strong>Kurt Gödel</strong>.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<p>Gödel terkenal karena berusaha membuktikan keberadaan Tuhan dengan menggunakan logika dan matematika. Namun, bukan pembahasan mengenai keberadaan Tuhan yang akan menjadi inti tulisan kali ini. </p>



<p>Yang ingin Penulis bahas adalah topik lain tentang <strong>Necessary Truth vs. Contingent Truth</strong>, yang juga dibahas dalam video tersebut. Jika penasaran, pembaca bisa menonton video selengkapnya <a href="https://youtu.be/FBVFi1rTwRk">melalui tautan berikut ini</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kebenaran Absolut vs Kebenaran Relatif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8333" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kurt Gödel Berada di Posisi Nomor Dua dari Kanan (<a href="https://www.britannica.com/biography/Kurt-Godel">Britannica</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara sederhana (<em>oversimplified</em>), Necessary Truth adalah<strong> kebenaran yang bersifat mutlak dan tidak mungkin salah</strong>. Contoh mudahnya adalah perhitungan 1 + 1 pasti 2, mau di <em>multiverse</em> mana pun pasti jawabannya 2. </p>



<p>Contoh lain, semua segitiga pasti memiliki tiga sisi. Tidak mungkin sebuah segitiga memiliki empat sisi, karena namanya akan berubah menjadi segiempat. Nah, keberadaan Tuhan menurut Gödel juga termasuk Neccesarry Truth.</p>



<p>Di sisi lain, Contingent Truth adalah <strong>kebenaran yang bisa saja berubah</strong>. Contoh, untuk saat ini ibu kota Indonesia masih Jakarta. Akan tetapi, bisa saja tahun 2029 nanti akan diresmikan kalau ibu kota Indonesia adalah <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menatap-masa-depan-ikn-di-bawah-kepemimpinan-prabowo/">IKN</a>. Siapa yang tahu, kan?</p>



<p>Contoh lain, kita menganggap kalau tokoh A adalah orang jahat karena kita mengetahui rekam jejaknya di masa llau. Namun, bisa saja besok dia tobat dan benar-benar berubah menjadi lebih baik.</p>



<p>Nah, di tulisan ini, Penulis akan menerjemahkan secara bebas Necessary Truth menjadi <strong>Kebenaran Absolut </strong>dan Contingent Truth menjadi <strong>Kebenaran Relatif </strong>untuk memudahkan penulisan. Penulis hanya meminjam istilah di atas untuk membahas topik yang kemarin Penulis singgung: <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">polarisasi</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Kita Mudah Diadu Domba</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8334" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Mudah Diadu Domba (<a href="https://outsidebozeman.com/nature/rights-ritual">Outside Bozeman</a>)</figcaption></figure>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-default is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><em>They&#8217;ll conquer us if we divide</em></p>



<p>Mereka akan menaklukkan kita kalau kita terpecah belah</p>
<cite>Delusion:All by ONE OKE ROCK</cite></blockquote>



<p>Ketika kita masih di bangku sekolah, tentu kita familier dengan istilah <em><strong>devide at impera</strong> </em>atau yang sering disebut juga sebagai <strong>politik adu domba</strong>. Intinya adalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa dibuat justru saling memusuhi satu sama lain, bukannya bersatu.</p>



<p>Seperti penggalan lirik lagu &#8220;Delusion:All&#8221; dari <a href="https://whathefan.com/musik/deeper-deeper-one-ok-rock/">ONE OK ROCK</a> di atas, ketika kita terpecah belah, maka &#8220;mereka&#8221; akan dengan mudah menakhlukkan kita. Musuh tahu, kita akan sulit untuk dikalahkan apabila bersatu.</p>



<p>Meskipun kita sudah merdeka selama 80 tahun, rasanya strategi politik zaman kolonial ini masih terasa hingga sekarang. Bukan oleh bangsa Belanda maupun bangsa lain, tapi oleh bangsa kita sendiri dan membuat kita terpolarisasi dengan mudahnya.</p>



<p>Contoh yang masih hangat tentu saja <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">polemik Brave Pink Green Hero</a> yang diributkan oleh netizen. Bukannya mempersatukan, simbol tersebut justru semakin memperparah polarisasi masyarakat yang semakin parah selama 10 tahun terakhir ini.</p>



<p>Nah, menurut Penuis, salah satu alasan mengapa kita begitu mudah terpolarisasi yang berujung mudah diadu domba adalah karena <strong>kita menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut</strong>.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8336" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Ketika-Kebenaran-Relatif-Dianggap-Sebagai-Kebenaran-Absolut-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Gunakan Presiden Prabowo Sebagai Contoh (<a href="https://gerindra.id/2025/09/09/presiden-prabowo-subianto-tekankan-peran-brics-jadi-pilar-penting-stabilitas-global/">Gerindra</a>)</figcaption></figure>



<p>Contohnya begini. Anggaplah Pihak A menganggap kinerja <strong><a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo Subianto</a> </strong>sangat buruk dan banyak catatan negatif tentangnya. Ditambah dengan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">algoritma media sosial yang cenderung hanya menampilkan apa yang kita suka</a>, kita semakin menganggap hal tersebut sebagai Kebenaran Absolut.</p>



<p>Karena menganggap apa yang ia yakini sebagai Kebenaran Absolut, maka ia tidak peduli jika ada data yang membantah kalau kinerja Prabowo 100% buruk. Mau ada data penangkapan para koruptor, mau ada data terbongkarnya kasus oplosan, Prabowo tetap jelek.</p>



<p>Sebaliknya juga begitu, ada Pihak B yang menganggap kalau presiden pilihannya 100% baik, tidak mungkin salah. Mau dikasih bukti beberapa hal buruk tentangnya pun, Prabowo tetap yang terbaik, titik.</p>



<p>Mau Prabowo memilih wakil presiden yang mengacak-acak konstitusi, mau Prabowo mengeluarkan pernyataan yang <em>tone deaf</em>, mau Prabowo mengeluarkan kebijakan yang dirasa banyak ahli kurang tepat, Prabowo tetap baik. Keyakinannya telah berubah menjadi Kebenaran Absolut.</p>



<p>Padahal, <strong>Prabowo itu baik maupun Prabowo itu buruk sama-sama merupakan Kebenaran Relatif</strong>. Prabowo bisa baik dan buruk secara bersamaan, mong namanya juga manusia, bukan nabi. Kebenaran tentang Prabowo bisa berubah, tergantung konteksnya.</p>



<p>Namun, kebencian dan fanatisme berlebih memang bisa membutakan manusia. Kalau sudah benci, benci sekali. Kalau sudah suka, suka sekali. Alhasil, kita pun jadi mudah terpolarisasi dan sering berdebat tak penting di media sosial tanpa ada yang mau merasa kalah.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Kalau kita sudah bersikeras menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut, ya susah. Semua yang bertentangan dengan apa yang kita yakini sebagai kebenaran dianggap salah. Alhasil, diskusi yang sehat pun mustahil tercipta karena kita jadi menutup persepsi lain.</p>



<p>Manusia memang cenderung hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengar. Jika terus begini, maka kita akan terus mudah terpolarisasi dan diadu domba. Pertanyaannya, mau sampai kapan seperti ini?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 10 September 2025, terinspirasi setelah teringat dengan pembicaraan bersama seorang teman tentang teori yang dikemukakan oleh Kurt Gödel</p>



<p>Sumber Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-red-long-sleeve-writing-on-chalk-board-3769714/">Andrea Piacquadio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/">Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/ketika-kebenaran-relatif-dianggap-sebagai-kebenaran-absolut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Monopoli Kebenaran</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2021 05:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[media massa]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[monopoli]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[partai politik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5028</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di setiap rezim yang berkuasa, pasti selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan, era Suharto yang otoriter pun kita masih bisa menikmati pembangunan yang cukup melejit. Ada cukup banyak variasi &#8220;kejahatan&#8221; yang bisa dilakukan oleh rezim. Penangkapan musuh politik, korupsi berjamaah, dinasti politik, oligarki kekuasaan, pemberendelan media massa, dan masih banyak lagi lainnya. Di era [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di setiap rezim yang berkuasa, pasti selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bahkan, era Suharto yang otoriter pun kita masih bisa menikmati pembangunan yang cukup melejit.</p>



<p>Ada cukup banyak variasi &#8220;kejahatan&#8221; yang bisa dilakukan oleh rezim. Penangkapan musuh politik, korupsi berjamaah, dinasti politik, oligarki kekuasaan, pemberendelan media massa, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, ada satu bentuk &#8220;kejahatan&#8221; lain yang menurut Penulis cukup berbahaya: <strong>Monopoli Kebenaran</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran Era Orde Baru</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5032" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menteri Penerangan Era Orde Baru (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://amp.tirto.id/m/harmoko-B">Tirto.ID</a>)</figcaption></figure>



<p>Jika berkaca pada masa Orde Baru, pemerintah bisa dibilang berusaha melakukan tipe kejahatan ini. Media massa yang menyerang pemerintah akan segera dibereskan oleh Menteri Penerangan. Entah sudah berapa media yang mereka tutup selama berkuasa.</p>



<p>Tidak hanya itu, acara televisi pun juga dikuasai. Penulis masih ingat samar-samar, dulu semua acara berita dimonopoli oleh acara milik TVRI, <em>Dunia Dalam Berita</em>. Acara tersebut juga muncul di televisi swasta, seolah mereka tidak boleh punya acara berita sendiri.</p>



<p>Monopoli kebenaran dilakukan sebagai upaya untuk mencitrakan diri menjadi sebaik mungkin sekaligus sebagai pelanggeng kekuasaan. Masyarakat yang tidak memiliki banyak opsi mau tidak mau harus menelan informasi yang disodorkan oleh pemerintah.</p>



<p>Banyak masyarakat, terutama mahasiswa dan aktivis, tidak mau dibodohi. Mereka lantas bersuara, berupaya untuk menyuarakan kebenaran yang sebenarnya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri. </p>



<p>Entah berapa banyak orang yang tewas, ditahan, atau hilang tanpa jejak di era Suharto. Novel <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-laut-bercerita/">Laut Bercerita</a> </em>bisa memberikan ilustrasi bagaimana hilangnya korban memberikan luka traumatis kepada keluarga.</p>



<p>Reformasi mengubah banyak hal. Media-media yang diberendel kembali diberi izin. Media massa mulai berani bersuara lantang, bahkan dengan berita yang menyerang ke arah presiden secara langsung.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar monopoli kebenaran telah berhenti?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran di Era Sekarang</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5031" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Pemilik Media, Ketua Parpol (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://news.okezone.com/read/2017/01/12/519/1589319/hary-tanoe-orientasi-perindo-murni-sejahterakan-masyarakat">Okezone News</a>)</figcaption></figure>



<p>Media massa memang bisa bebas bersuara hingga sekarang. Hampir tidak pernah terdengar pemberendelan media hanya karena memberikan kritik kepada pemerintah.</p>



<p>Hanya saja, Penulis merasa beberapa media massa mulai kehilangan ideologinya sebagai penyampai kabar. Beberapa media massa hanya menjadi <strong>alat bagi sang pemilik</strong> untuk memenuhi kepentingannya.</p>



<p>Bisa dihitung, ada berapa pemimpin partai politik (parpol) yang juga menjadi pemilik media? Atau berapa pemimpin media massa yang menjalin hubungan khusus dengan pihak yang berkuasa? </p>



<p>Jika media sudah dikuasai oleh segelintir orang (baca: oligarki), Penulis sedikit pesimis bahwa berita yang disampaikan bisa bersifat netral dan tidak berpihak. Secara logika, mereka pasti akan melindungi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Gampangnya begini. Seandainya ada anggota mereka yang tersandung kasus korupsi, pasti pemberitaannya sedikit atau tidak ada sama sekali. Tapi kalau anggota partai lain, apalagi yang oposisi, pasti akan diberitakan berhari-hari.</p>



<p>Ada sebuah <em>quote </em>menarik yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Whoever controls the media, controls the mind.</p><cite>Jim Morrison</cite></blockquote>



<p>Siapapun yang menguasai media, mereka bisa menguasai banyak orang. Berita, apapun bentuknya, masih menjadi sumber utama masyarakat untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. </p>



<p>Tidak semua orang memiliki sifat kritis terhadap berita, sehingga masih ada yang menelannya mentah-mentah. Akibatnya, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> pun terus terjadi. Kehadiran media sosial memperparah fenomena ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Monopoli Kebenaran di Media Sosial</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5030" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/06/monopoli-kebenaran-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berusaha Dimonopoli Pihak Tertentu (<a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://www.dailysabah.com/business/tech/turkey-to-require-social-media-giants-to-appoint-local-representatives">Daily Sabah</a>)</figcaption></figure>



<p>Di tengah isu media massa yang dikuasai oleh pemerintah atau kelompok tertentu, media sosial (medsos) seolah muncul menjadi oase bagi mereka yang ingin mendapatkan berita atau informasi dari sisi lain.</p>



<p>Mereka yang sudah tidak percaya dengan media massa akan beralih ke media sosial yang &#8220;katanya&#8221; lebih terpercaya. Entah itu dari pos Facebook, <em>tweet </em>di Twitter, <em>forward message </em>di WhatsApp, rasanya semua itu lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan berita dari media <em>mainstream</em>.</p>



<p>Ini juga tidak benar. Ini juga bentuk dari monopoli kebenaran dari pihak lain.</p>



<p>Pemerintah atau orang-orang berkepentingan memang berusaha untuk mengendalikan berita yang terbit di media massa. Mereka juga berusaha mengendalikan opini di media sosial dengan berbagai cara, entah melalui <em>buzzer</em>, UU ITE, dan cara-cara lainnya.</p>



<p>Hanya saja, apa yang berseberangan dengan mereka juga belum tentu benar. Segala sesuatu di media sosial perlu dipertanyakan validitasnya. Dari masa sumbernya? Apakah bisa dipertanggungjawabkan? Apakah sudah dicek kebenarannya?</p>



<p>Media sosial telah berevolusi menjadi alat propaganda yang bersifat provokatif. Manusia pada dasarnya adalah tipe orang yang mudah dimanfaatkan emosinya. Jika ada pos atau berita yang membuat mereka terlibat atau terasa dekat secara emosional, orang akan jadi mudah percaya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Monopoli kebenaran sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, entah ia pihak yang sedang berkuasa atau oposisi yang hendak menjatuhkannya. Memang yang berkuasa terlihat lebih mudah melakukannya, tapi bukan berarti yang berseberangan tidak melakukannya juga.</p>



<p>Kita sebagai masyarakat di era modern dituntut untuk lebih bisa kritis dan bijak dalam menyikapi suatu informasi yang menghampiri kita, dari mana pun sumbernya. Mau kita pihak yang pro atau kontra dengan pemerintah, biasakan untuk melakukan <em>check and recheck</em>.</p>



<p>Jika kita bisa bersikap demikian, kita pun menjadi tidak mudah untuk diprovokasi dan dipolarisasi. Kita bisa memilah mana berita yang benar, meskipun ada pihak-pihak yang berusaha untuk memonopoli kebenaran.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 12 Juni 2021, terinspirasi dengan banyaknya pihak yang berusaha melakukan monopoli kebenaran</p>



<p>Foto: <a rel="noreferrer noopener" target="_blank" href="https://wallpapercave.com/alec-monopoly-art-desktop-wallpapers">Wallpaper Cave</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Relativitas Kebenaran</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2020 12:23:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[relatif]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4084</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak. Ditambah dengan makin terasanya polarisasi masyarakat karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar. Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak.</p>
<p>Ditambah dengan makin terasanya <a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar.</p>
<p>Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa yang menentukan sesuatu benar atau tidak?</p>
<h3>Saling Merasa Benar</h3>
<p><div id="attachment_4102" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4102" class="size-large wp-image-4102" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4102" class="wp-caption-text">Apa Itu Kebenaran? (<a href="https://unsplash.com/@michaelcarruth">Michael Carruth</a>)</p></div></p>
<p>Di dalam KBBI, kata <strong>kebenaran</strong> memiliki beberapa makna, di antaranya:</p>
<ul>
<li><em>keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya</em></li>
<li><em>sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada</em></li>
</ul>
<p>Berdasarkan definisi tersebut, seharusnya <strong>kebenaran bersifat obyektif dan berimbang</strong>. Tidak memihak subyeknya. Kenyataannya? Kebenaran bisa menjadi sangat subyektif.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah pemilihan presiden kemarin. Masing-masing pendukung merasa calon yang didukung adalah calon yang paling benar sehingga layak untuk dipilih.</p>
<p>Padahal, Penulis yakin masing-masing calon ada benarnya ada salahnya. Tidak mungkin mutlak benar 100%. Memangnya mereka Tuhan?</p>
<p>Contoh lain adalah masalah Covid. Lagi-lagi masyarakat terbelah menjadi dua kubu, antara yang percaya Corona berbahaya dan Corona hanya konspirasi semata.</p>
<p>Masing-masing merasa paling benar dan menertawakan kubu lainnya. Adu argumen dan data sering terlihat di media sosial hingga membuat mayoritas masyarakat bingung.</p>
<h3>Relativitas Kebenaran</h3>
<p><div id="attachment_4104" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4104" class="size-large wp-image-4104" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4104" class="wp-caption-text">Jangan Memaksakan Kebenaran Versi Kita (<a href="https://illimitablemen.com/2014/03/09/how-women-argue/">Illimitable Men</a>)</p></div></p>
<p>Penulis merasa kalau <strong>kebenaran itu bersifat relatif</strong>. Apa yang Penulis yakini benar, belum tentu juga diyakini benar oleh orang lain.</p>
<p>Analoginya seperti ini. Penulis meyakini kalau tempe adalah makanan yang paling lezat di dunia. Orang lain mungkin akan memilih daging <em>steak </em>sebagai makanan terbaik.</p>
<p>Tempe sebagai makanan terlezat adalah kebenaran yang Penulis yakini, tapi orang lain memiliki pendapat yang berbeda. Bahkan, mungkin ada orang yang akan menganggap Penulis aneh.</p>
<p>Oke mungkin itu bukan analogi yang baik, tapi Penulis yakin para Pembaca menangkap apa maksudnya. <strong>Kebenaran tergantung subyek yang melihatnya</strong>.</p>
<p>Apa yang menjamin kalau sejarah yang kita ketahui selama ini adalah kenyataan sejarah yang paling benar? Bukankah ada pepatah yang mengatakan <em>History Is Written by the Victors</em>?</p>
<p>Apa yang menjamin kalau pendapat kita adalah yang paling benar? Apakah data-data yang kita miliki 100% valid? Apa tidak mungkin justru kebenaran yang diyakini orang lain yang benar?</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa bahwa kita tidak bisa <strong>memaksakan kebenaran</strong> yang kita yakini kepada orang lain. Saling beradu argumen silakan, tapi jangan ada paksaan.</p>
<h3>Kebenaran Milik Siapa?</h3>
<p>Di dalam hidup ini, yang Maha Benar hanyalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Kita yang hanya berperan sebagai makhluk <strong>sangat rentan untuk berbuat salah</strong>.</p>
<p>Penafsiran kitab suci saja ada perbedaan pendapat di kalangan ahli, masa iya kita mau satu suara untuk topik sehari-hari? Harusnya kita meniru para ahli kitab yang saling menghargai.</p>
<p>Jadi, pada dasarnya <strong>kebenaran bukan milik siapa-siapa</strong>. Kita tidak bisa memonopoli kebenaran karena kita penuh dengan keterbatasan. Hanya Tuhan yang selalu benar.</p>
<p>Memang susah, apalagi di era yang masyarakatnya semakin mudah terpolarisasi seperti sekarang. Setidaknya, semua bisa dimulai dari diri sendiri dan berusaha saling mengingatkan satu sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 September 2020, terinspirasi dari semakin tingginya polarisasi di tengah-tengah masyarakat</p>
<p>Foto: <a href="https://nepaliad.com/2020/08/06/information-that-angry-people-must-read-what-is-anger-what-are-the-disadvantages-of-being-angry-take-a-quick-look/">Nepali Ad</a> &amp; <a href="https://newsroom.ucla.edu/releases/einstein-general-relativity-theory-questioned-ghez">Newsroom | UCLA</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
