<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mental Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/mental/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/mental/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2022 14:29:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>mental Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/mental/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2022 14:02:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[developer]]></category>
		<category><![CDATA[Elevate]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[rating]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap pagi, Penulis (berusaha) membangun satu rutinitas: Mengasah otak menggunakan aplikasi Elevate. Aplikasi ini memiliki fitur yang sangat menarik dan sangat membantu dalam melatih kemampuan bahasa Inggris, matematika, hingga memori kita. Penulis sudah cukup lama menggunakan aplikasi, bahkan selama dua tahun terakhir sudah berlangganan layanan premiumnya. Alasannya, karena versi gratisnya tidak membuka semua jenis latihannya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/">Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setiap pagi, Penulis (berusaha) <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">membangun satu rutinitas</a>: Mengasah otak menggunakan aplikasi <strong>Elevate</strong>. Aplikasi ini memiliki fitur yang sangat menarik dan sangat membantu dalam melatih kemampuan bahasa Inggris, matematika, hingga memori kita.</p>



<p>Penulis sudah cukup lama menggunakan aplikasi, bahkan selama dua tahun terakhir sudah berlangganan layanan premiumnya. Alasannya, karena versi gratisnya tidak membuka semua jenis latihannya. Selain itu, Penulis juga merasa sangat puas dengan aplikasi ini.</p>



<p>Tadi pagi, setelah merekomendasikan aplikasi ini ke seorang kawan, Penulis iseng mengecek kolom komentar di ulasannya. Rating aplikasi ini cukup tinggi, 4,6 dari sekitar 460 ribu pengguna (di App Store bahkan mencapai 4,8 dari sekitar 340 ribu pengguna).</p>





<p>Nah, menariknya ada beberapa (kalau bukan banyak) <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/logika-sesat-bintang-satu/">ulasan bintang satu</a> untuk aplikasi ini, dengan alasan yang menurut Penulis cukup konyol. Salah satunya adalah &#8220;tolong ditambahkan bahasa Indonesia&#8221;. Penulis hanya mengangkat satu alisnya ketika membaca ini.</p>



<p>Namun, ada satu lagi yang membuat Penulis merasa gemas dan mengelus dada: <strong>Mereka memberikan bintang satu karena protes aplikasi ini harus langganan jika ingin membuka semua fiturnya.</strong> Mereka ingin menikmati semua fiturnya secara gratis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Empati Kita ke Developer Itu Sepertinya Kurang</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Elevate - App Preview" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/djjyk8DVioo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Sejatinya, aplikasi Elevate bisa digunakan secara gratis, walaupun memang ada limitasinya. Istilahnya, <em>freemium</em>. Namun, dari pengalaman Penulis pribadi, yang gratis saja sebenarnya sudah cukup, apalagi aplikasi ini tidak memiliki iklan yang menganggu.</p>



<p>Dalam membuat suatu aplikasi atau gim, tentu developer (terlepas dari <em>passion </em>dan sejenisnya) berharap bisa mendapatkan untung. Dengan begitu, mereka bisa terus mengembangkan apa yang telah mereka kerjakan.</p>



<p>Sayangnya, melalui contoh yang Penulis temukan pagi ini, sepertinya kesadaran kita akan hal ini masih kurang. Tampaknya <strong>mental gratisan yang kita miliki terlalu parah</strong>, hingga berharap banyak hal yang kita nikmati sudah seharusnya gratis.</p>



<p>Mungkin karena memiliki latar belakang sebagai lulusan IT, Penulis <strong>merasa berempati dengan para developer</strong> di balik sebuah aplikasi maupun gim, terutama akhir-akhir ini. Penulis paham rumitnya <em>coding</em>, terlebih jika aplikasinya cukup <em>complicated </em>seperti Elevate.</p>



<p>Untuk itu, jika merasa puas Penulis biasanya tidak ragu mengeluarkan uang (yang jumlahnya tidak seberapa) untuk memberi <em>support </em>kepada para developer dari aplikasi atau gim yang Penulis gunakan, terutama jika mereka masih kecil atau <em>indie</em>. </p>



<p>Kembali lagi ke Elevate. Bagi yang enggan mengeluarkan biaya langganan tahunan untuk bisa menikmati semua fitur yang dimiliki Elevate, mungkin mencari <em>mod </em>adalah jalan keluarnya. Namun, sekali lagi, itu menunjukkan kalau empati kita ke developer masih sangat kurang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bajakan, Nikmat tapi Menimbulkan Perasaan Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6139" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Kadang-Mental-Gratisan-Kita-Itu-Terlalu-Parah-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sebenarnya Pakai Sesuatu yang Bajakan Itu Mengambil Hak Orang Lain (<a href="https://www.rws.com/blog/how-video-game-piracy-influences-localization/">RWS</a>)</figcaption></figure>



<p>Tidak hanya aplikasi atau gim bajakan banyak beredar, media lain seperti film dan lagu pun banyak sekali yang bajakan. Bahkan, kalau tidak mau menggunakan yang bajakan, malah kadang akan dilihat aneh. Kalau ada gratis, ngapain yang berbayar?</p>



<p>Penulis belakangan ini menyadari dan sedang belajar tentang menghargai orang lain, bahkan ke orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun. Para developer di balik aplikasi atau sineas di balik sebuah film adalah beberapa di antaranya.</p>



<p>Untuk itu, Penulis benar-benar berusaha untuk <strong>tidak lagi menikmati sesuatu yang bersifat bajakan</strong>. Memang nikmat karena yang berbau bajakan selalu gratis dan kita tidak perlu mengeluarkan uang, tapi Penulis merasakan perasaan bersalah ketika menggunakannya.</p>



<p>Mungkin ada Pembaca yang menganggap Penulis munafik, karena pasti ada saja sesuatu yang berbau bajakan yang pernah digunakannya. Jujur, Penulis pun masih pelan-pelan menyingkirkan semua yang berbau bajakan dari hidupnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="505" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1024x505.jpg" alt="" class="wp-image-6138" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1024x505.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-300x148.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-768x379.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-1536x757.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/11/Screenshot_20221105_210928_Edge-2048x1010.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Nonton Anime Legal dan Gratis di Bilibili</figcaption></figure>



<p>Dulu Penulis merasa kesulitan untuk menemukan layanan legal untuk menonton anime dan membaca manga. Lalu, Penulis menemukan situs <strong>Bilibili (Bstation)</strong> dan <strong>MangaPlus</strong> yang legal, sehingga sekarang bisa meninggalkan yang bajakan .</p>



<p>Untuk film, Penulis setidaknya berusaha untuk tidak mencari <em>link </em>ilegal. Kalau tidak ada di Disney+ yang memang Penulis berlangganan, lebih baik tidak usah menonton sekalian, bahkan jika filmnya benar-benar ingin Penulis tonton sekalipun.</p>



<p>Penulis dulu banyak mendengarkan lagu bajakan dan menaruhnya dengan rapi di iTunes. Sekarang, semuanya telah hilang dan Penulis beralih menggunakan <strong>YouTube Music</strong>. Gim <em>FIFA 18 </em>yang bajakan telah diganti dengan <strong><em>FIFA 22 </em></strong>yang Penulis beli di Steam dengan harga diskon.</p>



<p>Untungnya sekarang kalau beli laptop sudah <em>include </em>Windows dan Office gratis, sehingga tidak perlu lagi menggunakan bajakannya. Kalaupun ada aplikasi bajakan yang masih digunakan, mungkin Adobe Photoshop. Itupun jarang karena Penulis lebih sering menggunakan Canva.</p>



<p>Memang Penulis belum bisa sepenuhnya meninggalkan segala sesuatu yang berbau bajakan. Namun, Penulis akan benar-benar berusaha untuk segera meninggalkannya. Jujur, <strong>Penulis merasa bersalah dan berdosa karena sudah mengambil hak orang lain</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Walau terkadang masih bolong-bolong bahkan berhenti selama berminggu-minggu, Penulis sama sekali tidak merasa rugi telah berlangganan Elevate selama dua tahun. Dengan biaya sekitar Rp20 ribu per bulan, bagi Penulis rasanya sangat <em>worth it.</em></p>



<p>Mungkin mental gratis yang kita miliki terkadang agak keterlaluan, hingga kita melupakan tentang orang-orang yang ada di balik suatu aplikasi maupun gim. Ide, tenaga, waktu mereka yang sudah dikeluarkan untuk memberikan layanan terbaik sudah seharusnya diapresiasi.</p>



<p>Penulis memang tidak bisa mengendalikan orang lain untuk bisa lebih menghargai para developer. Namun, setidaknya Penulis bisa saling mengingatkan untuk lebih menghargai developer melalui tulisan ini. Semoga saja bisa diterima oleh para Pembaca sekalian.</p>



<p>Bagi Pembaca yang tertarik untuk mengunduh aplikasi Elevate, silakan klik tautan di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-buttons is-layout-flex wp-block-buttons-is-layout-flex">
<div class="wp-block-button is-style-fill"><a class="wp-block-button__link" href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wonder&amp;hl=en&amp;gl=US">DOwnload Elevate di Play Store</a></div>



<div class="wp-block-button"><a class="wp-block-button__link" href="https://apps.apple.com/us/app/elevate-brain-training/id875063456">Download Elevate di App Store</a></div>
</div>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 5 November 2022, terinspirasi setelah membaca kolom ulasan aplikasi Elevate</p>



<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.tapsmart.com%2Fapps%2Freview-elevate-award-winning-brain-training-app%2F&amp;psig=AOvVaw1mK18kPowlbWvqLnocmEUF&amp;ust=1667744890496000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CA4QjhxqFwoTCKiwwoCgl_sCFQAAAAAdAAAAABAD">Tapsmart</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/">Kadang Mental Gratisan Kita Itu Terlalu Parah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kadang-mental-gratisan-kita-itu-terlalu-parah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pembunuh Bernama Netizen</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Oct 2019 11:58:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[hate comment]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[Sulli]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2925</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, terdengar berita mengejutkan dari dunia K-Pop. Salah satu mantan anggota girlband f(x), Sulli, ditemukan gantung diri di rumahnya. Sulli, yang seusia dengan penulis, dianggap memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi. Apa pasalnya? Karena hujatan yang dilancarkan oleh netizen secara terus-menerus. Masalah Kesehatan Mental di Indonesia Dari beberapa literatur yang penulis baca (salah satunya buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">Pembunuh Bernama Netizen</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, terdengar berita mengejutkan dari dunia K-Pop. Salah satu mantan anggota <em>girlband </em>f(x), <strong>Sulli</strong>, ditemukan gantung diri di rumahnya.</p>
<p>Sulli, yang seusia dengan penulis, dianggap memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi. Apa pasalnya? Karena <strong>hujatan yang dilancarkan oleh netizen secara terus-menerus</strong>.</p>
<h3>Masalah Kesehatan Mental di Indonesia</h3>
<p><div id="attachment_2927" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2927" class="size-large wp-image-2927" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2927" class="wp-caption-text">Nunung dan Depresi (<a href="https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/bertahun-tahun-mengidap-depresi-nunung-sempat-berobat-ke-singapura-1fd7eb.html">Kapanlagi</a>)</p></div></p>
<p>Dari beberapa literatur yang penulis baca (salah satunya buku <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/"><em>Loving the Wounded Soul</em></a>), kesehatan mental memang masih dianggap remeh di Indonesia.</p>
<p>Mereka yang menderita dianggap <em>lebay </em>dan jauh dari Tuhan. Mereka dianggap mendramatisasi masalahnya dan hanya mencari perhatian dari orang-orang sekitarnya.</p>
<p>Bukti nyata yang baru-baru ini muncul adalah kasus Nunung. Ia dianggap berbohong terkait masalah depresinya hanya karena sering tampil <em>cengengas-cengeges</em>.</p>
<p>Orang depresi dan jenis kesehatan mental lainnya memang sering kali menutupi lukanya dengan berpenampilan ceria. Mereka tidak ingin orang tahu permasalahan mereka atau takut akan dihakimi oleh lain.</p>
<p>Apalagi, masyarakat Indonesia sendiri belum terlalu memahami pentingnya kesehatan mental yang sederajat dengan kesehatan fisik. Mungkin, mereka menganggap sakit mental sama dengan sakit jiwa dan harus berakhir di rumah sakit jiwa.</p>
<p>Masalah kesehatan mental menjadi salah satu penyebab meninggalnya Sulli, selain hujatan dari netizen yang luar biasa kejam. Apalagi, dunia industri hiburan Korea terkenal karena kekejamannya sehingga bisa menjadi pemicu depresi.</p>
<h3>Sulli dan Masalahnya</h3>
<p><div id="attachment_2928" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2928" class="size-large wp-image-2928" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/pembunuh-bernama-netizen-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2928" class="wp-caption-text">Sulli di Running Man (<a href="https://functionlove.net/2013/07/05/official-130705-fsulli-running-man-preview-3p/">Function Love</a>)</p></div></p>
<p>Karena sempat mengikuti dunia K-Pop, penulis mengetahui yang namanya Sulli. Sebagai salah satu anggota dari <em>girlband </em>terkenal, penulis mengingat sosoknya yang cantik dan ceria dari acara <em>Running Man</em>.</p>
<p>Setelah <em>f(x) </em>hiatus, Sulli lebih sering bermain drama. Bahkan, ia berani melakukan adegan dewasa pada salah satu film dan menimbulkan kritikan pedas dari masyarakat.</p>
<p>Selain itu, ia juga pernah dikritik habis-habisan karena kebiasaannya yang jarang memakai bra. Bahkan, payudaranya pernah tanpa sengaja terungkap di ruang publik.</p>
<p>Tidak hanya itu, masalah pribadinya pun sering dicampuri oleh netizen, seperti gosip hubungannya dengan seseorang. Penulis sendiri tidak paham, mengapa Sulli sering mendapatkan stigma negatif.</p>
<p>Mungkin karena merasa frustasi, Sulli pernah membuat <em>story </em>di Instagram untuk meminta netizen berhenti berkata buruk tentang dirinya. Sembari menangis, ia mengatakan bahwa dirinya bukan orang yang jahat.</p>
<p>Rentetan hujatan dari netizen ini pada akhirnya tak kuasa dibendung oleh Sulli, dan ia pun memutuskan untuk meninggalkan semuanya untukk selamanya.</p>
<h3>Pembunuh Bernama Netizen</h3>
<p>Sulli memang membunuh dirinya sendiri. Akan tetapi, penulis bisa menyalahkan para netizen yang sering mengirimkan <em>hate comment </em>kepadanya. Merekalah salah satu sumber depresi terbesar Sulli.</p>
<p>Semenjak munculnya media sosial, kita diberi kemudahan untuk terhubung langsung dengan dunia artis yang dulu seolah tak terjangkau. Kita bisa melihat keseharian mereka dan memberikan komentar.</p>
<p>Sayangnya, komentar yang muncul tak melulu positif. Banyak juga komentar bernada negatif yang menyayat hati pembacanya, seolah kita benar-benar mengenal mereka.</p>
<p>Ada yang mentalnya tangguh (seperti kebanyakan artis kontroversial Indonesia), tapi ada juga yang tak kuat menahan deritanya sehingga berakhir seperti Sulli.</p>
<p>Siapa yang menyangka, kemajuan teknologi bisa membuat kita bisa menjadi seorang pembunuh, walaupun dilakukan secara tidak langsung dan dari jarak jauh.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Karena Sulli adalah seorang <em>public figure</em>, kasusnya bisa menyebar ke segala penjuru dunia. Bagaimana dengan mereka yang mengalami nasib serupa namun tak pernah terkover oleh media?</p>
<p>Penulis menduga ada banyak kasus serupa, baik yang dipicu oleh komentar negatif di dunia maya ataupun tindakan <em>bully </em>secara langsung. Kalau tidak salah, kemarin ada anak SD yang bunuh diri karena tidak tahan dihina.</p>
<p>Semoga kita bisa belajar banyak dari kasus Sulli ini. Pertama, kesadaran terkait masalah kesehatan mental. Kedua, tentang bahaya <em>hate comment </em>yang bisa membunuh orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Oktober 2019, terinspirasi setelah kematian Sulli yang cukup tragis</p>
<p>Foto: <a href="https://www.scmp.com/lifestyle/entertainment/article/3033527/death-sulli-brings-fears-k-pop-idols-mental-health-singers">South China Morning Post</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">Pembunuh Bernama Netizen</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Depresi Pada Loving the Wounded Soul</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Oct 2019 09:11:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Loving the Wounded Soul]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2852</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena sering dianggap mudah depresi oleh teman kantor, penulis memutuskan untuk mempelajari apa itu depresi. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk membeli buku berjudul Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy. Penulis mengetahui buku ini akan rilis ketika muncul di linimasa Instagram. Maklum, penulis memang mengikuti banyak penerbit untuk mengetahui buku-buku terbaru apa saja yang akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/">Mengenal Depresi Pada Loving the Wounded Soul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena sering dianggap mudah depresi oleh teman kantor, penulis memutuskan untuk mempelajari apa itu depresi. Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk membeli buku berjudul <strong><em>Loving the Wounded Soul </em></strong>karya Regis Machdy.</p>
<p>Penulis mengetahui buku ini akan rilis ketika muncul di linimasa Instagram. Maklum, penulis memang mengikuti banyak penerbit untuk mengetahui buku-buku terbaru apa saja yang akan terbit.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Sebenarnya, dulu penulis kurang peduli dengan kesehatan mental. Penulis merasa baik-baik saja. Lagipula, mungkin penulis saja yang terlalu mendramatisir hidup dan mencari perhatian.</p>
<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini penulis sering merasa gelisah tanpa sebab dan kesulitan untuk tidur hampir tiap malam. Rasanya seperti dilanda kesedihan, tapi berlangsung sangat lama. Maka dari itu, penulis memutuskan untuk membaca buku ini.</p>
<p>Subjudul dari buku ini adalah <em>Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia</em>. Jadi, bisa ditebak buku ini akan membahas tentang depresi dan mengapa bisa hadir di kehidupan kita.</p>
<p>Buku ini terbagi menjadi enam bagian dengan masing-masing memiliki subbagian. Bagian pertama dari buku ini adalah penjelasan umum tentang apa itu kesehatan mental dan depresi.</p>
<p>Bagian yang kedua, dan mungkin yang terpenting, adalah ciri-ciri dari depresi. Bagian ini mungkin sedikit berbahaya karena pembacanya bisa langsung menyimpulkan dirinya depresi ketika membacanya. Padahal, hal tersebut perlu dikonsultasikan kepada psikolog.</p>
<p>Contohnya adalah penulis sendiri. Ketika membaca bagian ini, entah mengapa semua ciri-cirinya melekat pada penulis. Penulis jadi menyimpulkan bahwa dirinya memang depresi, meskipun mungkin masih tahap yang ringan.</p>
<p>Depresi bisa menyerang siapa saja, seperti yang tertulis pada bagian tiga. Akan ada beberapa studi kasus dan data terkait depresi yang melanda manusia.</p>
<p>Bagian empat, lima, dan enam menjabarkan tentang faktor-faktor yang bisa memicu depresi, mulai faktor internal (biologis) hingga eksternal (lingkungan).</p>
<p>Lah, enggak ada solusinya? Di sini, Regis selalu menyisipkan solusi mengatasi depresi di tiap subbagiannya. Jadi, tidak ada bagian atau bab khusus yang membahas hal tersebut.</p>
<h3>Pendapat Penulis Tentang Buku Ini</h3>
<p>Bagi penulis, ciri buku yang bagus adalah membutuhkan waktu yang sebentar untuk menamatkannya. Buku ini menjadi salah satunya. Jika ditotal, penulis hanya butuh waktu lima jam dalam rentang waktu dua hari.</p>
<p>Buku ini ditulis oleh Regis berdasarkan pengalamannya sendiri yang juga kerap mengalami depresi berat. Apalagi, ia mengambil studi di bidang psikologi, sehingga ia benar-benar paham apa yang ia tulis.</p>
<p>Meskipun banyak istilah medis, kita tidak perlu khawatir akan kebingungan karena selalu ada penjelasan dari istilah-istilah tersebut. Penulis jamin, buku ini mudah dicerna oleh siapapun.</p>
<p>Fakta menarik yang hendak disampaikan oleh buku ini adalah bagaimana pandangan orang Indonesia melihat penyakit mental seperti depresi. Ada yang menyepelekan, ada yang menganggapnya aib, dan lain sebagainya.</p>
<p>Padahal, penyakit mental sama bahayanya dengan penyakit fisik. Kita tidak boleh sembarangan menganggap orang lain <em>lebay </em>karena merasa dirinya depresi.</p>
<p>Seharusnya, kita harus bisa menolongnya dengan mendengarkannya dan membuat mereka tidak merasa sendirian. Tidak ada orang yang ingin depresi, keadaan dan berbagai faktor lain lah yang memunculkan depresi tersebut.</p>
<p>Jika pembaca merasa kesehatan mentalnya kurang baik, penulis sangat merekomendasikan buku yang satu ini. Kita akan dibuat memahami depresi dan diberikan cara-cara untuk mengatasinya. Setidaknya, kita akan merasa bahwa bukan cuma kita yang pernah merasa depresi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Oktober 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Loving the Wounded Soul </em>karya Regis Machdy</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/mengenal-depresi-pada-loving-the-wounded-soul/">Mengenal Depresi Pada Loving the Wounded Soul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilarang Baper di Jakarta</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2019 16:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[baper]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tersinggung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias mudah baper. Mendengar perkataan yang sedikit nyelekit saja bisa dimasukkan di dalam hati. Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis. Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta Penulis memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang Jawa tulen, pada dasarnya penulis adalah orang yang sensitif alias <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>. Mendengar perkataan yang sedikit <em>nyelekit </em>saja bisa dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Penulis menyadari kekurangan ini dan berusaha untuk, setidaknya, menguranginya. Apalagi, sekarang penulis hidup di Jakarta, sebuah kota yang memiliki banyak perbedaan dengan tempat tinggal penulis.</p>
<h3>Karakteristik (Sebagian) Orang Jakarta</h3>
<p><div id="attachment_2804" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2804" class="size-large wp-image-2804" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-2.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2804" class="wp-caption-text">Orang Jakarta (<a href="https://www.infocarfreeday.net/2018/07/19/agenda-acara-cfd-jakarta-22-juli-2018/">Info Car Free Day</a>)</p></div></p>
<p>Penulis memiliki saudara yang lama tinggal di Jakarta. Biasanya, kami hanya bertemu pada lebaran atau acara keluarga yang lain. Pada pertemuan singkat tersebut, penulis sedikit mengetahui bagaimana karakteristik orang Jakarta.</p>
<p>Yang paling penulis catat di dalam hati adalah bagaimana mereka berbicara. Saudara penulis cenderung berbicara apa adanya dengan intonasi yang cukup tinggi. Mungkin, istilahnya adalah <em>asal nyeblak</em>.</p>
<p>Ini berbanding terbalik dengan orang Jawa yang cenderung halus dan jarang mengungkapkan isi hati. Stereotip orang Jawa memang terkenal lebih suka memendam sesuatu.</p>
<p>Ketika penulis magang di Tangerang, lingkungan kantor semakin memperkuat hal tersebut. Mereka cenderung berbicara tanpa rem dan terkadang terselip kata-kata yang <em>nyelekit</em>.</p>
<p>Penulis pun membuat asumsi, kita tidak akan betah tinggal di Jakarta jika masih <em>baperan</em>. Kita harus menguatkan mental agar tidak mudah stres ketika mendengar perkataan orang.</p>
<p>Memang tidak semua orang Jakarta seperti ini, sehingga tidak ada maksud untuk melakukan generalisir. Contoh di atas hanya menunjukkan bagaimana penulis menyiapkan mental ketika memutuskan untuk merantau ke Jakarta.</p>
<h3>Setelah di Jakarta</h3>
<p>Pada akhirnya, takdir memutuskan untuk membawa penulis ke Jakarta. Berawal dari ajang <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/">Asian Games</a>, penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan di Jakarta sehingga harus menentap di sini.</p>
<p>Berbekal pengalaman interaksi dengan orang Jakarta, penulis meyakinkan diri untuk tidak mudah <em>baper</em>. Penulis beranggapan bahwa hidup di sini sama dengan memperkuat mental kita.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa sudah tidak se<em>-baper</em> ketika dulu masih sekolah ataupun kuliah. Jikapun ada perkataan yang menyakitkan, penulis tidak akan terlalu ambil pusing. Toh, penulis yakin mereka tidak bermaksud buruk. Hanya bercanda. Mungkin.</p>
<h3>Ketika Medok Diledek</h3>
<p><div id="attachment_2803" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2803" class="size-large wp-image-2803" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-1024x512.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-300x150.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1-768x384.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/dilarang-baper-di-jakarta-1.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2803" class="wp-caption-text">Desy JKT48 (<a href="https://ultimagz.com/uncategorized/pentas-orang-orang-berduit-jadi-pelajaran-berharga-bagi-desy-jkt48/">Ultimagz</a>)</p></div></p>
<p>Salah satu bahan yang sering dijadikan bahan bercanda dari penulis adalah aksen Jawanya yang cukup kental. Maklum, seumur hidup penulis tinggal di Jawa.</p>
<p>Penulis baru menyadari bahwa dirinya medok ketika Asian Games. Teman perempuan satu tim dengan blak-blakan mengatakan cara bicara penulis medok. Dialah yang pertama kali memberi tahu hal ini.</p>
<p>Mungkin ketika awal-awal berada di Jakarta, penulis masih merasa risih ketika logat penulis ditertawakan. Akan tetapi, sekarang penulis merasa baik-baik saja. Bahkan, terkadang justru dimedok-medokkan lebih parah lagi.</p>
<p>Penulis terinspirasi oleh <strong>Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan</strong> alias <strong>Desy JKT48</strong>. Ia memiliki paras yang cantik dan senyum menawan. Yang istimewa, ia sama sekali tidak malu ketika berbicara menggunakan bahasa <em>ngapak</em>.</p>
<p>Desy berasal dari Cilacap, sehingga aksen bicaranya seperti itu. Katanya, <em>ora ngapak ora kepenak </em>atau dalam bahasa Indonesia berarti tidak ngapak tidak enak.</p>
<p>Ketika membaca kolom komentar di kanal YouTube-nya, penulis merasa sedih. Ada yang berkomentar <em>padahal cantik, tapi ngomongnya bikin ilfeel</em>.</p>
<p>Hanya karena berbeda dengan kita, lantas apakah kita harus merendahkan orang lain seperti itu? Seharusnya, kita bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan mulai dari yang terkecil</a> seperti ini.</p>
<p>Enggak, penulis enggak lagi curhat kok. Teman-teman penulis di Jakarta baik-baik dan sama sekali tidak berniat buruk ketika bercanda tentang logat penulis. Mungkin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Selama satu tahun lebih hidup di Jakarta, penulis telah belajar banyak sekali hal yang mungkin tak akan pernah penulis dapatkan jika tetap tinggal di Malang.</p>
<p>Salah satunya adalah bagaimana cara mengendalikan sifat mudah <em>baper </em>yang penulis miliki. Penulis merasa mental penulis makin terasah selama di sini.</p>
<p>Karena sudah tidak mudah <em>baper</em>, maka penulis tidak boleh mudah tersinggung jika ada teman yang sedang mengajak bercanda. Mau dibilang hitam sekalipun tidak boleh dimasukkan di dalam hati.</p>
<p>Dengan begitu, penulis pun bisa hidup lebih <em>woles </em>dan tidak gampang stres.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Oktober 2019, terinspirasi dari pengalaman pribadi, judul terinspirasi dari buku karya Seno Gumira Ajidarma berjudul <em>Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi</em></p>
<p>Photo by <strong><a href="https://www.pexels.com/@zun1412?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Zun Zun </a></strong>from <strong><a href="https://www.pexels.com/photo/woman-wearing-brown-plaid-dress-sitting-on-chair-1187810/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/dilarang-baper-di-jakarta/">Dilarang Baper di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2019 19:42:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[autophobia]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Dependency Disorder]]></category>
		<category><![CDATA[fobia]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.</p>
<p>Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis tetap kesulitan tidur.</p>
<p>Lantas, berawal dari sebuah balasan <em>chat</em> di WhatsApp yang menimbulkan kecemasan, penulis menemukan yang namanya <em><strong>Emotional Dependency Disorder </strong></em>(EDD) atau lebih mudah disebut sebagai <strong><em>autophobia</em></strong>. Rasa takut akan sendirian.</p>
<p>Memang butuh dikonfirmasi ke psikiater, akan tetapi penulis merasa inilah yang menyebabkan penulis susah tidur, sering gelisah, hingga kadang terkena serangan panik ringan.</p>
<h3>Apa Itu <em>Autophobia</em>?</h3>
<p>Seperti yang sudah penulis singgung di atas, <em>autophobia </em>adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa ketakutan ketika sendirian. Akibatnya, akan timbul rasa cemas yang berlebihan, seringkali irasional.</p>
<p>Selain itu, akan muncul juga perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya mungkin terlalu dilebih-lebihkan.</p>
<p>Ketika membaca beberapa sumber, penulis merasa ciri-ciri yang dipaparkan benar-benar sesuai sehingga mengejutkan penulis. Penulis tak menyangka bahwa ada kondisi mental yang benar-benar menggambarkan apa yang penulis rasakan selama ini.</p>
<h3>Ciri-Ciri <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2599" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2599" class="size-large wp-image-2599" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2599" class="wp-caption-text">Autophobia (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medicalnewstoday.com/articles/319816.php" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjF1vXc7NXjAhVTXnwKHdpZDgsQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medical News Today</span></a>)</p></div></p>
<p>Umumnya, orang yang menderita (jika ini memang termasuk gangguan kondisi mental) <em>autophobia </em>akan merasa nyaman jika sedang berada bersama orang lain.</p>
<p>Mungkin ini yang menjelaskan mengapa ketika di rumah, penulis bisa tidur dengan nyaman. Itu pula mengapa ketika adik datang berkunjung ke Jakarta, penulis merasa lebih tenang.</p>
<p>Penderita <em>autophobia </em>cenderung <strong>memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain</strong>. Mereka memiliki obsesi untuk memelihara &#8220;kesempurnaan&#8221; dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Penulis merasa memiliki tendensi untuk <strong>memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain</strong>. Kenyataan pahitnya, itu jugalah yang <em>penulis harapkan dari orang lain</em>.</p>
<p>Ciri lainnya adalah <strong>tidak bisa tegas</strong>, cenderung<strong> egois</strong>, <strong>mudah cemas</strong>, <strong>susah beradaptasi </strong>dengan lingkungan baru, dan <strong>suasana hatinya sering berubah-ubah</strong>.</p>
<p>Bahkan, penderita sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakan tidak sebading dengan bahaya yang menyertai kesendirian.</p>
<p>Astaga, penulis benar-benar merasa <em>shock </em>sewaktu membaca ciri-ciri ini. Entah bagaimana ini bisa sangat akurat.</p>
<p>Akibat yang ditimbulkan dari <em>autophobia </em>adalah <strong>ketergantungan dengan orang lain</strong>. Penderita akan sering merasa tidak yakin untuk membuat keputusan atau melakukan sebuah aktivitas. Penulis sering mengalami hal tersebut.</p>
<p>Contoh yang paling terbaru adalah ketika penulis hendak membeli kacamata baru. Sebelum membeli, penulis menelepon orang rumah untuk membantu penulis mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang amat sepele.</p>
<h3>Penyebab <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2598" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2598" class="size-large wp-image-2598" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2598" class="wp-caption-text">Faktor Orangtua (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.handinhandparenting.org/2016/07/why-i-get-so-angry-with-my-kids/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj4jYGo69XjAhVg8HMBHaKcDz8QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Hand in Hand Parenting</span></a>)</p></div></p>
<p>Ketika membaca penyebab munculnya ketakutan ini, penulis merasa berat untuk menuliskannya di sini.</p>
<p>Menurut sumber, penyebab <em>autophobia </em>adalah <strong>orangtua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anaknya ketika kecil dan cenderung mendikte apapun yang harus dilakukan</strong>.</p>
<p>Selain itu, ketika sang anak berusaha mengambil keputusan, sering kali orangtua tidak menyetujuinya dan memberikan keputusan yang mereka anggap lebih baik untuk sang anak.</p>
<p>Orangtua penulis, yang amat sangat penulis sayangi, memang mendidik seperti itu. Penulis tentu tidak akan menyalahkan mereka karena yakin maksud mereka baik. Apalagi, penulis adalah anak pertama, sehingga wajar jika mendapatkan didikan yang paling ketat.</p>
<p>Penulis sama sekali tidak menyimpan dendam untuk masalah ini. Bahkan, penulis sudah pernah secara terbuka menyampaikan bagaimana perasaan penulis sewaktu kecil yang cenderung dikekang, dan mereka pun memahaminya.</p>
<p>Hanya saja, akibatnya penulis susah mendapatkan teman ketika masa-masa sekolah. Ketika menemukannya, penulis justru seperti bergantung kepada mereka agar tidak merasa kesepian.</p>
<h3>Mengapa Baru Sekarang?</h3>
<p><div id="attachment_2600" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2600" class="wp-image-2600 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2600" class="wp-caption-text">Karang Taruna</p></div></p>
<p>Lantas, mengapa baru akhir-akhir ini saja penulis mengalami ketakutan akan sendirian? Penulis merasa tahu akan jawabannya.</p>
<p>Akibat kekangan orang tua, bisa dibilang penulis tidak memiliki teman yang benar-benar dekat sewaktu sekolah. Ada yang dekat karena satu kompleks perumahan, dua orang, dan kami masih menjalin hubungan dengan baik hingga sekarang bagai saudara.</p>
<p>Jadi, bisa dibilang semasa sekolah <strong>penulis terbiasa sendirian</strong>. Ada teman, ada gebetan, tapi lebih sering sendiri dan merasa ingin sendirian. Ego penulis waktu itu benar-benar tinggi, sehingga penulis merasa gemas dengan dirinya sendiri.</p>
<p>Lantas, sewaktu kuliah, penulis mulai berusaha untuk menjalin hubungan dengan lebih baik lagi agar bisa memiliki teman-teman dekat lebih banyak.</p>
<p>Selain karena tinggal bersama nenek sehingga lebih bebas, penulis merasa bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik. Penulis pun memiliki teman-teman dekat, yang penulis juluki 11 Pria Tampan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis baru merasakan &#8220;pertemanan&#8221; yang lebih intens adalah ketika <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">membentuk Karang Taruna</a> bersama dua orang yang sudah penulis sebutkan sebelumnya. Di sana, penulis bertemu dan berkenalan dengan semua remaja yang ada di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Banyak yang <em>nyiyir </em>dengan menganggap penulis main bersama anak-anak kecil. Tak apa, mereka memang tidak memahami latar belakang dan masa lalu penulis.</p>
<p>Yang jelas, berkumpul dengan mereka, entah ketika sedang ada program kerja atau sekadar bermain, membuat penulis merasa bahagia dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">merasa dibutuhkan</a>.</p>
<p>Penulis seolah menemukan kepingan yang hilang dari masa kecil penulis. Hal itu membuat penulis amat menyayangi mereka dan seolah rela berbuat apa saja demi mereka (termasuk menunda skripsi dan bekerja).</p>
<p>Akan tetapi, justru karena inilah <em>autophobia </em>penulis dimulai. Ini baru sekadar asumsi, belum terbukti secara medis. Semoga saja salah.</p>
<p>Karena kedekatan yang terjalin akibat pertemuan yang hampir setiap hari, penulis menjadi <strong>takut dilupakan oleh mereka</strong> ketika merantau ke Jakarta. Penulis merasa tergantung dengan mereka agar tidak merasa sendirian.</p>
<p>Mungkin ada pembaca yang ingin tertawa atau menganggapnya <em>lebay</em>, tapi itulah yang penulis rasakan.</p>
<p>Untuk mencegah hal tersebut terjadi, penulis berusaha memberikan perhatian ke mereka meskipun dari jauh. Menanyakan tentang rencana masa depan, komentar di <em>story</em>, dan lain-lain. Mungkin saja, ada yang merasa risih dengan yang penulis lakukan.</p>
<p>Sayang, ketakutan untuk dilupakan (yang pada akhirnya akan membuat penulis merasa sendiri) tidak bisa terobati dengan hal tersebut. Yang ada, ketakutan tersebut semakin membesar hingga mengganggu kesehatan penulis, fisik maupun mental.</p>
<h3>Penanganan <em>Autophobia</em></h3>
<p><div id="attachment_2601" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2601" class="size-large wp-image-2601" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/rasa-takut-akan-sendirian-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2601" class="wp-caption-text">Butuh Pendengar (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://web.liramedika.com/news/waktu-yang-tepat-mengunjungi-psikiater/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjt49GC7dXjAhU0huYKHQaZCEgQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">RS Lira Medika</span></a>)</p></div></p>
<p>Jika terus berlanjut, <em>autophobia </em>bisa berubah menjadi <strong>depresi</strong>. Apalagi jika penulis makin sering  ketakutan, panik, hingga merasa sedih.</p>
<p>Penulis tidak ingin itu terjadi, sehingga berusaha mencari solusi. Mencari pendengar yang bisa memahami diri penulis adalah salah satunya. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas juga bisa menjadi obat.</p>
<p>Selain itu, penulis harus membiasakan diri untuk nyaman ketika sendirian. Penulis juga harus belajar membuat keputusan dengan cepat tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, terutama untuk masalah-masalah sepele.</p>
<p>Yang berat adalah bersikap realistis terhadap kebutuhan orang lain. Penulis harus memahami bahwa mereka, yang penulis beri perhatian, bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka baik-baik saja sebelum bertemu dengan penulis dan punya orang lain yang memberikan dukungan.</p>
<p>Penulis juga harus memahami bahwa setiap orang tidak bisa diberi perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Mereka juga butuh waktu sendiri untuk mengembangkan diri. Yang penulis lakukan selama ini ternyata justru bisa menghambat mereka.</p>
<p><em>Berat, ini sungguh berat&#8230;</em></p>
<p>Penulis juga harus meningkatkan waktu menyendiri. Penulis tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel untuk sekadar mengecek grup. Kasarnya, harus berusaha <em>move on. </em>Mungkin, meningkatkan sikap cuek juga bisa membantu.</p>
<p>Tentu bukan berarti penulis harus menghancurkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik. Tidak. Yang penulis lakukan adalah mengurangi intensitasnya, sehingga tidak berlebihan.</p>
<p>Selain itu, penulis juga harus berusaha lebih jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis akan berusaha menyampaikan apa yang penulis inginkan dan butuhkan dari orang lain secara terbuka dan apa adanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Di dalam hati kecil penulis, ada harapan bahwa semua yang penulis tuliskan di atas salah, penulis tidak mengidap <em>autophobia </em>atau <em>Emotional Dependency Disorder. </em>Sayang, ciri-ciri yang penulis temukan di berbagai sumber benar-benar penulis alami semua.</p>
<p>Setidaknya, penulis bisa bernapas lega karena menemukan salah satu permasalahan yang menyebabkan penulis kerap susah tidur dan gelisah tanpa sebab. Yang harus penulis lakukan adalah berusaha menghilangkan fobia tersebut secara bertahap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 28 Juli 2019, terinspirasi setelah tiba-tiba terkena serangan panik ringan akibat merasa takut akan dilupakan orang lain.</p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/mengenal-autophobia">Beauty Journal</a>, <a href="https://doktersehat.com/fobia-takut-sendirian-dependency-disorder/">Dokter Sehat</a>, <a href="https://www.merdeka.com/sehat/kamu-takut-sendirian-bisa-jadi-kamu-idap-gangguan-mental-ini.html">Merdeka</a>, <a href="https://id.m.wikihow.com/Mengatasi-Autophobia-(Fobia-Kesendirian-atau-Kesepian)">Wikihow</a>, <a href="https://www.medcom.id/rona/kesehatan/4ba28Zak-mengapa-seseorang-takut-sendirian">Medcom</a></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@thirdworldhippy">mwangi gatheca</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
