<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nilai tambah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/nilai-tambah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/nilai-tambah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:48:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>nilai tambah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/nilai-tambah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kadang Memang Harus Dipaksa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-memang-harus-dipaksa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Sep 2019 03:56:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[dipaksa]]></category>
		<category><![CDATA[memaksa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[paksa]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika pulang ke Malang pada bulan Agustus kemarin, penulis sempat mengikuti lomba bapak-bapak (iya, lomba untuk bapak-bapak!) pada rangkaian kegiatan Agustusan. Lombanya adalah menebak nama bumbu hanya dari aromanya. Karena penulis bukan Jati dari novel Aroma Karsa, tentu saja penulis mengalami kesulitan dalam menebak. Apalagi, penulis jarang membantu ibu di dapur. Selain itu, penulis agak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-memang-harus-dipaksa/">Kadang Memang Harus Dipaksa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika pulang ke Malang pada bulan Agustus kemarin, penulis sempat mengikuti lomba bapak-bapak (iya, lomba untuk bapak-bapak!) pada <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian kegiatan Agustusan</a>.</p>
<p>Lombanya adalah menebak nama bumbu hanya dari aromanya. Karena penulis bukan Jati dari <a href="https://whathefan.com/buku/pemilihan-diksi-dan-totalitas-riset-pada-aroma-karsa/">novel Aroma Karsa</a>, tentu saja penulis mengalami kesulitan dalam menebak. Apalagi, penulis jarang membantu ibu di dapur.</p>
<p>Selain itu, penulis agak ragu untuk mencium bau rempah-rempah dapur tersebut, sehingga salah satu panitia mendorong bumbu tersebut ke hidung penulis dengan sedikit memaksa.</p>
<p>Untunglah, ada yang mengabadikan momen tersebut sehingga penulis mendapatkan inspirasi tulisan.</p>
<h3>Memaksa Tanpa Merasa Terpaksa</h3>
<p>Memaksa sering kali dikaitkan dengan hal yang negatif. Jika ada orang yang memaksakan kehendaknya kepada kita, tentu kita akan merasa jengkel sendiri.</p>
<p>Akan tetapi, bagaimana jika <em><strong>kita memaksa diri sendiri</strong></em> agar bisa maju beberapa langkah ke depan? Bagaimana jika dengan paksaan dari orang lain kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi?</p>
<p>Penulis menggunakan analogi lomba tebak bumbu tersebut. Jika penulis tidak dipaksa untuk mencium aroma bumbu tersebut, mungkin selamanya penulis tidak akan memiliki keberanian untuk mencium aroma tersebut.</p>
<p>Jika tidak ada paksaan, entah dari diri sendiri atau orang lain, mungkin kita akan cenderung berjalan di tempat dan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">bertahan di zona nyaman</a>.</p>
<p>Memaksa diri sendiri ini juga bisa menjadi cara yang mujarab untuk <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">mengusir rasa malas</a>, dengan memaksa diri agar tidak malas dan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.</p>
<p>Begitu pun dalam beribadah. Dalam salah satu ceramah agama yang pernah penulis tonton, jika kita merasa malas sholat paksa saja. Lama kelamaan kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi merasa terpaksa.</p>
<p>Kita harus bisa memaksa diri sendiri (atau terkadang dipaksa orang lain) tanpa perlu merasa terpaksa demi kebaikan diri kita sendiri.</p>
<h3>Selalu Memberi Nilai Tambah</h3>
<p>Ayah penulis pernah mengajarkan bahwa di manapun kita berada, kita harus bisa memberikan nilai tambah. Bisa di lingkungan, bisa di tempat kerja.</p>
<p>Mungkin karena itulah penulis mengalokasikan waktu yang cukup banyak dalam <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">membangun Karang Taruna</a> di lingkungan tempat tinggal. Penulis ingin memberikan nilai tambah untuk tempat tinggal penulis.</p>
<p>Di tempat kerja, penulis sempat merangkap pekerjaan karena ingin memberikan nilai tambah di lingkungan kerja, yang membuat beban kerja penulis bertambah dua kali lipat.</p>
<p>Nah, nilai tambah ini tidak akan bisa kita berikan jika kita tidak memaksa diri sendiri. Secara logika, untuk apa penulis rela melakukan hal ekstra yang secara materiil tidak memberikan apa-apa?</p>
<p>Penulis memaksa diri sendiri karena percaya ada sesuatu yang tidak terlihat dan tidak muncul secara instan ketika kita memberikan nilai tambah di mana pun. Bisa sekadar pengalaman, bisa lebih dari itu.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dengan memahami hal ini, penulis akan berusaha memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya demi kebaikan penulis. Tentu saja, tidak dilakukan secara berlebihan.</p>
<p>Selain itu, pasti ada harga yang harus dibayar untuk hal tersebut. Akan tetapi, penulis percaya bahwa hasil yang kita dapatkan sebanding dengan usaha yang telah kita keluarkan.</p>
<p>Kadang kita memang perlu memaksa diri sendiri atau dipaksa orang lain dan lingkungan agar bisa menjadi diri yang lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 22 September 2019, terinspirasi sebuah foto lomba 17-an pada bulan Agustus kemarin.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/kadang-memang-harus-dipaksa/">Kadang Memang Harus Dipaksa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar: Proses Tiada Akhir</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2018 02:50:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tambah]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1874</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas. Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi beberapa orang, terutama pelajar dan mahasiswa, belajar adalah kegiatan yang sedikit membosankan. Apalagi jika melihat kurikulum pendidikan yang sekarang. Setelah seharian belajar di sekolah, pulangnya masih harus les dan mengerjakan tugas.</p>
<p>Jika diambil sebuah sampel di lingkungan sekitar penulis, banyak yang mengeluhkan tumpukan pekerjaan rumah mereka di media sosial. Penulis sudah pernah menjelaskannya panjang lebar pada tulisan <a href="http://whathefan.com/karakter/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial</a>.</p>
<h3>Definisi Belajar</h3>
<p>Sebenarnya, definisi belajar tidak sesempit itu. Ia memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengerjakan tugas. Bahkan di dalam KBBI, kata belajar setidaknya memiliki 3 definisi yang berbeda.</p>
<blockquote><p><b>1</b> berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu</p>
<p><b>2 </b>berlatih</p>
<p><b>3</b> berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman</p></blockquote>
<p>Proses belajar tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah maupun tempat les. <strong>Proses belajar bisa terjadi di mana saja</strong>. Penulis ambil contoh kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna</a> (Katar) di tempat tinggal penulis.</p>
<p>Program kerja yang dijalani Katar memberikan pelajaran hidup kepada anggota-anggotanya. Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">barang bekas</a> melatih anggota untuk memanfaatkan barang bekas yang telah tak terpakai.</p>
<p>Kegiatan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> melatih anggota untuk bekerja dalam tim dalam memenangkan suatu kompetisi secara sehat. Bahkan kegiatan bermain <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf</a> pun melatih kemampuan analisa anggota.</p>
<h3>Proses Tiada Akhir</h3>
<p>Bagaimana ketika kita berada di dunia kerja? Lebih banyak lagi pelajarannya, mungkin lebih banyak ketika kita berada di bangku kuliah. Yang jelas terlihat adalah kita belajar untuk mengerjakan tugas kita dengan baik.</p>
<p>Selanjutnya kita belajar beradaptasi di lingkungan yang baru, apalagi jika merantau ke kota orang seperti penulis. Dengan bekerja bersama orang-orang, kita juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam.</p>
<p>Selain itu, kita juga harus aktif dalam mencari ilmu guna <strong>meningkatkan kemampuan yang dimiliki</strong>. Kita bisa bertanya kepada orang yang lebih ahli atau mencari materi di internet.</p>
<p>Jangan pernah bilang bahwa kita tidak tahu apa yang harus dipelajari. Jika muncul pemikiran seperti itu, kemungkinan kita merasa sudah cukup belajar sehingga tidak perlu menambah ilmu baru. Dan itu, menurut penulis, salah.</p>
<div id="attachment_1875" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1875" class="wp-image-1875 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo-1523240795612-9a054b0db644.jpg 1050w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1875" class="wp-caption-text">Proses Tiada Akhir (Foto oleh Priscilla Du Preez)</p></div>
<p>Belajar adalah <strong>proses tiada akhir</strong>. Setiap aktivitas dan interaksi yang kita lakukan adalah proses belajar, terlepas sadar maupun tidak. Manusia tidak boleh berhenti belajar dan merasa sudah paling pandai.</p>
<p>Tanya saja pak Habibie, yang penulis yakin masih belajar di usianya yang sudah <em>sepuh</em>. Tanya siapa saja orang-orang sukses yang kalian kenal, setidaknya mereka akan mengisi waktu mereka dengan membaca buku yang bermanfaat atau mengikuti seminar.</p>
<p>Memiliki rasa haus ilmu seperti <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/kekepoan-yang-hakiki-ala-thomas-alva-edison/">Edison</a> bisa menjadi modal yang bagus. Ilmu apapun (selama bermanfaat) tidak ada ruginya untuk dipelajari, entah ilmu negosiasi, komunikasi, marketing, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dengan terus menerus tidak puas</strong> dengan pengetahuan yang dimiliki, kita tidak akan merasa bosan untuk belajar. Kita akan selalu merasa kurang dan hal tersebut menjadi motivasi agar kita tidak malas belajar.</p>
<p>Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kita harus memiliki nilai tambah agar bisa bersaing dengan orang lain. Nilai tambah itu bisa kita dapatkan dengan belajar, apapun bentuknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Desember 2018, terinspirasi setelah sering mendapatkan &#8220;kelas tambahan&#8221; di kantor</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@craftedbygc">Green Chameleon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/">Belajar: Proses Tiada Akhir</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-proses-tiada-akhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
