Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?

Jika sudah pernah membaca artikel Dulu Kerja di Mana?, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa?

Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di tempat penulis tinggal (untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di artikel Kelahiran Gen X SWI).

Semenjak kelahirannya, Karang Taruna memiliki begitu banyak program kerja seperti SWI Mengajar, SWI English Day, hingga SWI Barang Bekas. Ada juga acara spesial seperti Next Gen Development Project dan Gen X SWI Awards.

Semua proker tersebut tentu bukan tanpa kendala. Mengatur anggota yang rata-rata masih berada di usia sekolah bukan perkara mudah. Salah satu yang sering memicu emosi penulis adalah kurang aktifnya anggota ketika sedang rapat.

Beberapa anggota cenderung pasif ketika rapat dan menerima apapun keputusan yang diambil. Padahal, diadakannya rapat internal bertujuan untuk meningkatkan sikap kritis anggota. Jika di forum kecil saja tak bersuara, bagaimana di tempat yang lebih besar?

Selain itu, banyaknya anggota yang enggan untuk ikut serta ketika ada kegiatan Karang Taruna juga cukup membuat penulis stres. Memang itu hak mereka untuk tidak berpartisipasi, tapi bukankah salah satu tujuan dibentuknya Karang Taruna adalah sebagai tempat berkumpulnya para remaja?

Contoh dua masalah tersebut tidak membuat penulis patah semangat. Sebaliknya, penulis jadi semakin ingin membantu mereka untuk berkembang menjadi generasi yang lebih aktif (walaupun yang bersangkutan belum tentu ingin dibantu).

Jadi, mungkin jawaban pertanyaan “kenapa menghabiskan waktu untuk Karang Taruna?” adalah penulis ingin menyalurkan kepedulian penulis terhadap perkembangan generasi muda Indonesia mulai dari lingkup terkecil, yakni lingkungan penulis sendiri.

Untuk pribadi penulis sendiri, dengan aktif di Karang Taruna (apalagi sebagai ketua), penulis bisa berkontribusi untuk lingkungan penulis. Penulis tidak ingin hanya hidup sekadar “menumpang tidur”. Penulis ingin meninggalkan jejak, jejak yang kini sedang dilanjutkan oleh ketua baru.

Jawaban terakhir dari pertanyaan tersebut adalah penulis memiliki misi pribadi sebagai seorang ketua untuk membangun fondasi organisasi yang kuat. Demi kuatnya fondasi tersebut, penulis harus mengalokasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Karang Taruna dengan kepengurusan yang baru sudah berjalan sekitar enam bulan. Tentu mereka akan mengalami kendala, apalagi penulis cukup dominan ketika memimpin, dan itu merupakan satu kesalahan penulis sebagai ketua.

Penulis sekarang hanya bisa memantau mereka dari jauh, mengamati bagaimana mereka mengelola organisasi yang telah kami bangun bersama-sama. Tentu penulis mengharapkan mereka bisa lebih sukses, karena dengan demikian, penulis tidak perlu menyesal telah mengorbankan waktu demi mereka.

Ah, seharusnya penulis tak perlu merasa menyesal apapun yang terjadi. Bukankah yang namanya cinta sejatinya tidak perlu merasa berkorban?

 

 

Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi setelah mengamati perkembangan Karang Taruna setelah 6 bulan penulis tinggal

Foto:

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.