Saya Ini Pemalas

Penulis mengakui bahwa dirinya merupakan seorang pemalas yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat, mulai cek media sosial hingga main game secara berlebihan.

Kalau sudah tidur, bisa dipastikan akan susah untuk beranjak dari kasur ketika bangun. Jadwal tugas yang harus dikerjakan pun biasanya akan menumpuk karena ditunda-tunda, dan akhirnya justru semakin memupuk rasa malas tersebut.

Kamar yang rapi pun hanya bertahan beberapa hari. Kebiasaan buruk tidak mengembalikan barang karena terlalu malas menjadi salah satu pemicunya.

Ketika berangkat kantor, penulis biasanya datang terlambat sekitar 15 menit. Padahal, jarak kos ke kantor hanya sekitar 1 kilometer dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu 20 menit.

Alasan sering terlambat? Karena bangun siang. Biasanya, setelah sholat Shubuh penulis akan kembali tidur hingga jam setengah sembilan, baru bersiap-siap ke kantor.

Akan tetapi, penulis sadar bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.

Jika penulis terus menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, bagaimana penulis bisa berkembang menjadi diri yang lebih baik?

Jika penulis terus menerus tidak bisa menghargai waktu dengan baik, bagaimana bisa penulis bisa memiliki masa depan yang lebih cerah dan terjamin?

Jika penulis selalu menunda pekerjaan yang harus diselesaikan, maka penulis tidak akan pernah mengejakan pekerjaan tersebut sama sekali, lantas menyesalinya di masa depan.

Jika penulis tetap malas seperti biasanya, penulis tidak akan bisa menjadi kakak teladan yang baik untuk adik-adik Karang Taruna di Malang.

Jika penulis hidupnya begini-begini saja, penulis bisa mengecewakan orangtua yang menyimpan banyak harapan di dalam hatinya.

Lantas, apa yang harus penulis Lakukan?

Mengusir rasa malas itu susahnya luar biasa. Walaupun begitu, jangan lantas sifat malas dijadikan pembenaran ketika kita enggan melakukan sesuatu. Jangan berkata aku emang dasarnya pemalas kok karena segala sesuatu bisa diubah, selama ada niat.

Penulis sudah berusaha mengenyahkan rasa malas berkali-kali sepanjang hidup. Ketika berhasil, suatu saat ia akan datang kembali untuk menggoda kita.

Penulis menyusun tulisan ini dengan tujuan untuk mengusir rasa malas tersebut. Dengan membuat dibaca oleh para pembaca sekalian, akan tumbuh beban moral untuk tidak malas lagi.

Hal yang paling awal untuk mengusir rasa malas adalah segera melakukan sesuatu. Contoh, ketika merasa sudah membuang waktu karena main media sosial terlalu lama, letakkan gawai sekarang juga dan cari aktivitas lain yang membuat kita merasa produktif.

Mengusir rasa malas hanya akan berhasil jika dilakukan saat ini juga. Jika masih menunda-nundanya, artinya rasa malas tersebut masih hinggap di diri kita.

Kalau penulis, biasanya akan membuat jadwal dan target-target tertentu yang harus diselesaikan. Dengan demikian, penulis memiliki motivasi untuk bergerak.

Penulis bersyukur memiliki hobi membaca, karena melalui buku-buku tersebut biasanya penulis menemukan sesuatu yang bisa memotivasi diri sendiri. Ada banyak jalur untuk mendapatkan motivasi, bukan hanya dari buku semata.

Kita juga harus pandai-pandai mencari motivasi dari dalam sendiri, karena motivasi dari luar biasanya tidak terlalu efektif. Kita lah yang mampu mengubah sifat malas kita, bukan orang lain.

Bukan berarti kita tidak boleh melakukan aktivitas-aktivitas santai seperti leyeh-leyeh dan bermain game. Hal-hal tersebut justru harus dilakukan sebagai media hiburan kita, namun dalam takaran yang sewajarnya dan tidak berlebihan.

Sekali lagi, penulis merupakan orang yang dasarnya malas luar biasa. Akan tetapi, penulis menyadari dirinya tidak bisa terus seperti ini, sehingga harus ada perubahan dari dalam diri penulis sendiri dan dimulai dari sekarang.

 

 

Kebayoran Lama, 22 September 2019, terinspirasi diri sendiri

Photo by Dương Nhân from Pexels