<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pandemi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pandemi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pandemi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2022 01:24:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pandemi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pandemi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 01:21:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6125</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari Desi Anwar yang berjudul The Art of Solitude. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga. Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang berjalan-jalan di Gramedia beberapa bulan yang lalu, Penulis menemukan buku terbaru dari <strong>Desi Anwar</strong> yang berjudul <em><strong>The Art of Solitude</strong></em>. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi Penulis tetap ingin membelinya. Hitung-hitung sebagai latihan juga.</p>



<p>Namun, ketika melihat-lihat sekitar, ternyata buku ini memiliki versi bahasa Indonesia-nya berjudul <em><strong>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</strong>.</em> Setelah ditimbang-timbang, Penulis pun memutuskan untuk membeli yang bahasa Indonesia saja.</p>



<p>Sama seperti buku-buku Desi Anwar yang lain seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a> </em>dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, buku ini juga cukup tipis sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Bedanya, buku yang satu ini akan berisi pemikiran Desi selama masa pandemi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</em></li><li>Penulis: Desi Anwar</li><li>Penerbit: Penerbit Gramedia</li><li>Cetakan: Ketiga</li><li>Tanggal Terbit: September 2021</li><li>Tebal: 221 halaman</li><li>ISBN: 9786020648330</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam pendahuluannya, Desi telah menyebutkan kalau buku ini terinspirasi di masa-masa ketika kita harus menjalani <em>lockdown</em>, karantina mandiri, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">PPKM</a>, dan lain sebagainya. Interaksi antarmanusia benar-benar dibatasi karena adanya virus COVID-19.</p>



<p>Dengan begitu, banyak pemikirannya di buku ini yang mengambil sudut pandang ketika kita dipaksa sendirian oleh keadaan. Apa yang ada di pikiran kita di masa-masa ini? Apa yang bisa dipelajari dengan situasi yang ada?</p>



<p>Dari banyaknya tulisan yang ada di buku ini, kebanyakan akan berfokus pada bagaimana pandemi kemarin akan membuat kita memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. Selama ini, mungkin saja kita sering mengabaikannya karena berbagai kesibukan kita.</p>



<p>Pandemi kemarin juga mengajak kita untuk lebih mengenal diri sendiri, entah itu dari melamun, merenung, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menikmati-kebosanan/">menikmati kebosanan</a>, dan lain sebagainya. Jika mau lihat &#8220;<em>silver lining</em>&#8221; dari pandemi kemarin, mungkin itu adalah salah satunya.</p>



<p>Seperti buku-buku Desi lainnya, setiap bab di buku ini juga hanya terdiri dari 4-5 halaman saja. Ada sekitar 40 topik yang bisa dibaca. Sayangnya, karena Penulis sudah cukup lama menyelesaikan buku ini, Penulis lupa mana yang jadi favoritnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</h2>



<p>Sebagai orang yang <em>introvert </em>dan suka menyendiri, buku ini cukup <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Memang tidak semua topiknya seperti itu, tetapi buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca di kala senggang. </p>



<p>Penulis juga mengalami sendiri bagaimana masa pandemi kemarin membawa Penulis untuk mengenal dirinya sendiri. Karena tidak bisa ke mana-mana (walau pada dasarnya Penulis jarang keluar), Penulis jadi lebih sering merenung saat tidak ada aktivitas.</p>



<p>Topik yang dibawakan oleh Desi Anwar di buku ini juga cukup luas. Tidak hanya ajakan untuk memanfaatkan kesendirian di saat pandemi untuk lebih mengenal diri sendiri, ada juga topik yang serius seperti kematian dan masa depan manusia.</p>



<p>Beberapa topik juga terkesan bertele-tele dan terlalu diulur-ulur seolah itu dilakukan demi menambah jumlah halaman agar buku ini tidak terlalu tipis. Itu membuat buku ini terasa agak membosankan. Penulis sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menamatkannya.</p>



<p>Namun, <em>overall</em>, buku ini masih oke untuk dibaca, terutama untuk orang-orang yang ingin lebih mengenal diri sendiri. Meskipun pandemi tampaknya akan berakhir, cobalah cari waktu untuk diri sendiri agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 2 November 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Setelah Membaca Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2021 14:21:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[PPKM]]></category>
		<category><![CDATA[PSBB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5111</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah lama Penulis tidak menulis artikel yang berkaitan dengan politik dan negara. Terakhir menulis tentang Monopoli Kebenaran pada bulan Juni. Kemarin mau buat tulisan tentang Rektor UI yang mengubah aturan ketika melanggarnya (dan disetujui oleh pemerintah), eh keburu mundur dari jabatan komisarisnya. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menulis tentang bagaimana pemerintah kita yang dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah lama Penulis tidak menulis artikel yang berkaitan dengan politik dan negara. Terakhir menulis tentang <em><a href="https://whathefan.com/politik-negara/monopoli-kebenaran/">Monopoli Kebenaran</a> </em>pada bulan Juni.</p>



<p>Kemarin mau buat tulisan tentang Rektor UI yang mengubah aturan ketika melanggarnya (dan disetujui oleh pemerintah), eh keburu mundur dari jabatan komisarisnya.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menulis tentang bagaimana pemerintah kita yang dalam menangani pandemi yang seolah terlalu fokus dengan istilah hingga lupa dengan esensinya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Mulai PSBB Hingga PPKM Level</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5119" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>PSBB (<a href="https://www.antaranews.com/berita/1497296/tak-ada-penutupan-akses-masuk-ke-kota-malang-selama-psbb">Antara News</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika awal pandemi berlangsung, beberapa kalangan (terutama dari orang-orang mampu) mendorong pemerintah untuk memberlakukan <em>lockdown</em> seperti negara lain.</p>



<p>Sayangnya, pemerintah nampak ragu untuk menyetujui usulan ini. Mungkin, karena pemerintah merasa tidak mampu jika harus memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya yang jumlahnya lebih dari 250 juta orang.</p>



<p>Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura, <em>lockdown </em>jelas lebih mudah dilakukan karena jumlah penduduknya yang sedikit. Selain itu, jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan juga pasti tidak sebanyak di Indonesia.</p>



<p>Sebagai gantinya, pemerintah mengeluarkan istilah baru untuk menggantikan <em>lockdown</em>, yakni <strong>Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)</strong>. </p>



<p>Kebijakan ini berlangsung mulai bulan April 2020. Kalau tidak salah, setelah PSBB ada istilah <strong>PSBB Transisi </strong>yang menggambarkan kalau kita akan menujuk <em>new normal </em>secara perlahan.</p>



<p>Di awal tahun 2021, muncul istilah baru bernama <strong>Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)</strong>. Nah, istilah inilah yang memiliki varian yang sama banyaknya dengan varian Covid-19.</p>



<p>Beberapa di antara adalah <strong>PPKM Jawa-Bali</strong>, <strong>PPKM Mikro</strong>, <strong>PPKM Darurat</strong>, hingga yang terbaru <strong>PPKM Level 1-4</strong>. Jangan tanya Penulis apa bedanya karena dirinya juga tidak paham.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sekadar Istilah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5118" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>PPKM (<a href="https://cirebonraya.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1142230689/ppkm-darurat-diperpanjang-11-hari-berakhir-sampai-akhir-juli-2021">Cirebon Raya</a>)</figcaption></figure>



<p>Mau apapun istilahnya, intinya pemerintah berusaha <strong>membatasi pergerakan masyarakat demi mengurangi penyebaran virus Covid-19</strong> yang katanya bisa menyebar dengan sangat cepat.</p>



<p>Lantas, apa bedanya dengan <em>lockdown </em>seperti di negara lain? Kalau dari yang Penulis baca, negara hadir dalam menyediakan bantuan (terutama makanan) kepada rakyatnya.</p>



<p>Di Indonesia, ada bantuan sosial (bansos) yang diberikan kepada rakyat. Mirisnya, bansos ini justru dikorupsi, bahkan kadang ghoib hingga tidak sampai ke pihak yang membutuhkan. </p>



<p>Ketika PPKM ini, ada rencana memberikan bansos sebesar Rp300 ribu untuk satu bulan. Bisa dibayangkan, bagaimana caranya nominal tersebut cukup untuk satu keluarga dengan durasi selama itu?</p>



<p>Ada hal lain yang lebih lucu. Banyak komik layanan masyarakat yang menghimbau masyarakat untuk saling membantu. Lah, kenapa kesannya pemerintah cuma mengandalkan masyarakat saja untuk pekerjaan yang menjadi kewajibannya?</p>



<p>Kok, kesannya pemerintah seperti lepas tangan begitu saja dalam memberikan bantuan. Kok, pemerintah lebih sibuk menertibkan masyarakat dengan menangkap pelanggar dan menyekat jalan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sementara Itu Pemerintah&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5117" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/07/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menyumbangkan Gajinya (<a href="https://news.detik.com/berita/d-5649277/sekjen-pan-sumbangkan-gaji-dpr-atasi-covid-yang-lain-kapan">Detik News</a>)</figcaption></figure>



<p>Sempat ada wacana, 50% gaji anggota dewan dari pusat hingga daerah akan dipotong untuk membantu penanganan Covid-19. Hanya saja, sampai sekarang sepertinya belum terlaksana walau mungkin ada beberapa anggota yang sudah melakukannya sendiri.</p>



<p>Selain itu, Penulis baru ingat kalau gaji anggota dewan tidak terlalu besar. Kebanyakan hanya satu digit karena yang besar kan tunjangannya. Seandainya yang dipotong tunjangannya, baru luar biasa. </p>



<p>Penulis tidak banyak berharap kalau anggota dewan yang terhormat itu rela berkorban demi bangsa. <em>Mong </em>mereka malah mengusulkan untuk mendapatkan perlakuan istimewa, seperti meminta rumah sakit khusus pejabat.</p>



<p>Menurut Penulis, pemerintah sekarang kesannya terlalu fokus dengan istilah dan lupa dengan hal yang esensial. Mengurus yang remeh temeh, tapi justru lupa dengan hal yang penting seperti kebutuhan makan masyarakat.</p>



<p>Entah sampai kapan keadaan akan terus terlihat kacau seperti ini. Yang kemarin bilang semua terkendali, akhir-akhir ini malah minta maaf sampai disindir oleh mantan menteri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masyarakat tidak butuh istilah panjang yang susah untuk dihafalkan. Masyarakat butuh tindakan nyata yang bisa membuat kehidupan mereka terjamin walaupun pergerakannya dibatasi.</p>



<p>Beberapa daerah seperti Madiun memiliki kebijakan yang memberdayakan Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk memberi makan kepada pasien yang harus menjalani isolasi mandiri (isoman).</p>



<p>Kebijakan yang seperti ini tentu lebih solutif dibandingkan hanya menutup jalan, apalagi menyuruh pelanggar membayar denda yang jumlahnya besar sehingga mereka memilih untuk mendekam di penjara.</p>



<p>Semoga saja kita bisa melewati ujian ini, terserah pemerintah jika ingin mengeluarkan istilah-istilah baru lagi.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 26 Juli 2021, terinspirasi dari banyaknya istilah yang digunakan pemerintah untuk mengatasi masalah pandemi ini</p>



<p>Foto: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5656594/aturan-lengkap-perpanjangan-ppkm-level-3-4-di-jawa-dan-bali">Detik News</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/">Terlalu Fokus dengan Istilah, Lupa Esensinya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/terlalu-fokus-dengan-istilah-lupa-esensinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2020 23:42:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[frustasi]]></category>
		<category><![CDATA[kompak]]></category>
		<category><![CDATA[lockdown]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[PSBB]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3855</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dengan adanya virus Corona ini, hampir semua pemerintahan yang ada di dunia dibuat pusing. Penyebarannya yang teramat cepat membuatnya begitu diwaspadai. Cara mengatasinya pun bermacam-macam. Ada yang sangat ketat seperti Selandia Baru dan Hong Kong, ada yang woles seperti Italia dan Amerika Serikat. Hasilnya? Bisa dilihat dari presentase jumlah penderita di negara-negara tersebut. Bagaimana dengan negara kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan adanya virus Corona ini, hampir semua pemerintahan yang ada di dunia dibuat pusing. Penyebarannya yang teramat cepat membuatnya begitu diwaspadai.</p>
<p>Cara mengatasinya pun bermacam-macam. Ada yang sangat ketat seperti Selandia Baru dan Hong Kong, ada yang <em>woles </em>seperti Italia dan Amerika Serikat. Hasilnya? Bisa dilihat dari presentase jumlah penderita di negara-negara tersebut.</p>
<p>Bagaimana dengan negara kita tercinta? Penulis bisa mengatakan kalau <strong>pemerintah dan rakyatnya sangat kompak</strong>. Sayang, kekompakan yang dimiliki cenderung negatif.</p>
<h3>Kebijakan-Kebijakan Blunder Pemerintah</h3>
<p><div id="attachment_3856" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3856" class="size-large wp-image-3856" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3856" class="wp-caption-text">Blunder Pemerintah? (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;url=http%3A%2F%2Fpolitiktoday.com%2Fpan-mahfud-md-sedang-tunjukkan-loyalitas-ke-jokowi%2F&amp;psig=AOvVaw3DGPyEvgZLMMsRlybKopJr&amp;ust=1589758533071000&amp;source=images&amp;cd=vfe&amp;ved=0CAMQjB1qFwoTCOjStK7GuekCFQAAAAAdAAAAABAD" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOjStK7GuekCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Politik Today"><span class="pM4Snf">Politik Today</span></a>)</p></div></p>
<p>Pemerintah, terutama pusat, sedang disorot habis-habisan berkat <strong>kebijakan-kebijakan blunder</strong> yang dibuat demi mencegah penyebaran virus Corona ini.</p>
<p>Dari awal tahun, pemerintah selalu melakukan <em>denial </em>kalau virus Corona sudah masuk ke Indonesia. Muncul berbagai pernyataan yang ingin menunjukkan kalau rakyat kita kebal.</p>
<p>Pada akhirnya, kasus pertama pun muncul dan terus bertambah hingga hari ini. Kurangnya persiapan membuat pemerintah terlihat sedikit kelimpungan, baik pusat maupun daerah.</p>
<p>Banyak yang menyerukan untuk melakukan karantina wilayan alias <em>lockdown</em>. Nyatanya, pemerintah memilih untuk menerapkan <em>Pembatasan Sosial Berskala Besar </em>(PSBB) yang lebih longgar.</p>
<p>Beberapa pihak menuding kalau <strong>pemerintah lari dari tanggung jawab karena tidak mau menanggung biaya hidup rakyatnya</strong> sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang. Padahal, katanya kita punya banyak uang.</p>
<p>Selain itu, rakyat juga kerap dibuat bingung dengan perbedaan pernyataan yang dikeluarkan oleh elit politik. Ada yang bilang boleh mudik, ada yang enggak, ada yang bilang mudik dan pulang kampung beda, macam-macam.</p>
<p>Hal ini makin diperparah dengan <em>gimmick </em>tak penting yang kerap dibuat oleh beberapa orang di lingkar istana. Padahal, mereka bukan <em>host </em>acara Tonight Show.</p>
<p>Belum lagi kebijakan pemerintah yang makin membebani rakyat seperti kenaikan iuran BPJS. Sudah dalam kondisi susah, makin dibuat susah.</p>
<p>Yang jelas, banyak yang mempertanyakan kehadiran pemerintah di saat pandemi seperti ini. Menyediakan fasilitas, mendatangkan alat tes, itu semua merupakan kewajiban. Rakyat berharap pemerintah mampu berbuat lebih dari ini.</p>
<h3>Masyarakat Egois</h3>
<p><div id="attachment_3857" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3857" class="size-large wp-image-3857" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/05/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyat-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3857" class="wp-caption-text">Satu Kata: TOLOL (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://antarkabarid.wordpress.com/2020/05/12/menyoal-kerumunan-massa-saat-penutupan-mcd-sarinah/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAQQjB1qFwoTCIjB6tnGuekCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit Antarkabar - WordPress.com"><span class="pM4Snf">Antarkabar &#8211; WordPress.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Efeknya PSBB memang terasa di awal. Contohnya di Jakarta yang tiap harinya selalu padat bisa terlihat lengang. Polusi yang biasanya berasal dari gas pembuangan kendaraan bermotor <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">juga mulai berkurang</a>.</p>
<p>Hanya saja, makin ke sini makin banyak yang tidak mengindahkan peraturan tersebut. Angka yang diumumkan oleh pemerintah tiap harinya seolah <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">hanya tinggal statistik semata</a>.</p>
<p>Contoh paling tololnya adalah<strong> kerumunan orang yang berkumpul di depan McDonalds Sarinah</strong>. Hanya demi konten, mereka melanggar PSBB dan berkumpul dengan jumlah orang yang banyak.</p>
<p>Pertanyaannya, ke mana aparat yang seharusnya menertibkan keramaian seperti ini? Apakah karena PSBB mereka jadi ragu untuk mendekat ke kerumunan?</p>
<p>Penulis benar-benar tidak habis pikir bagaimana orang-orang yang berkumpul di sana bisa bertindak egois dengan berkumpul seperti itu. Orang yang meninggal aja ada prosedur pemakaman yang ketat, pihak keluarga tidak boleh terlalu dekat.</p>
<p>Masih belum habis kesalnya, beberapa hari yang lalu<strong> beredar foto ramainya Bandara Sukarno-Hatta!</strong> Penulis yang rela menjalani lebaran pertama tanpa berkumpul dengan keluarga pun merasa heran, kok bisa?</p>
<p>Orang-orang bisa pergi karena pemerintah memang melonggarkan aturan yang dibuat sendiri. Akhirnya, hal tersebut dilihat sebagai peluang untuk keluar dari Jakarta, tak peduli hal tersebut akan memperparah penyebaran virus Corona.</p>
<p>Bahkan ada orang yang melihat hal ini sebagai peluang bisnis dengan <strong>menjual surat pernyataan bebas Corona seharga Rp70.ooo!</strong> <strong>INI ORANG-ORANG PADA KENAPA DAH!!!</strong></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Pemerintah dan rakyatnya sangat kompak dalam mengatasi dan mencegah virus Corona ini, kompak membuatnya langgeng dengan berbagai tindakan yang dilakukan.</p>
<p>Jujur, Penulis merasa frustasi melihat keadaan sekarang. Penulis merasa pengorbanan kecil Penulis untuk bertahan di kos dan tidak pulang menjadi sia-sia.</p>
<p>Kalau sampai seperti ini terus, rasanya <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-kalau-semua-ini-tak-akan-berakhir/">Corona tak akan berakhir dalam waktu dekat</a> dan Penulis akan terus terjebak di Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Mei 2020, terinspirasi dari rasa frustasi yang muncul melihat situasi sekarang</p>
<p>Foto: <a href="https://voi.id/artikel/baca/5906/kekesalan-warganet-soal-membludaknya-bandara-soekarno-hatta-yang-langgar-psbb">Voi.id</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/">Kekompakan Antara Pemerintah dan Rakyatnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kekompakan-antara-pemerintah-dan-rakyatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
