Setelah Membaca Going Offline

Semenjak membaca tulisan Desi Anwar dalam buku Hidup Sederhana, Penulis jadi penasaran dengan buku-buku lainnya. Penulis merasa cocok dengan gaya penuturannya yang terasa gurih.

Oleh karena itu sewaktu mengetahui ia akan menerbitkan buku berjudul Going Offline, Penulis segera memasukkannya ke dalam wishlist. Apalagi, subjudulnya yang berbunyi Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi begitu menggoda.

Hasilnya, Penulis sangat menikmati buku yang satu ini.

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai dengan judulnya, buku ini berusaha mengajak kita untuk menjadi offline alias jauh dari segala hingar-bingar teknologi. Jangan sampai kita menjadi kehilangan makna kehidupan hanya karena mendapatkan distraksi di dunia maya.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, yakni Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan serta Seni Kehidupan. Masing-masing bagian memiliki beberapa subbagian yang terdiri dari beberapa lembar halaman.

Jujur, Penulis sendiri tidak terlalu paham perbedaan isi dari kedua bagian tersebut karena bagi Penulis isinya kurang lebih sama. Tidak ada perbedaan yang mencolok. Mungkin Penulis saja yang kurang bisa menangkapnya.

Subbagian-subbagian yang ada di dalamnya kerap berkaitan dengan smartphone yang ada di genggaman kita hampir sepanjang waktu. Perlu diakui kalau barang tersebut memang menjadi salah satu sumber distraksi terbesar dalam kehidupan.

Memang benar kalau smartphone telah membuat kehidupan kita menjadi lebih mudah. Hanya saja, tak jarang hal tersebut membuat kita memiliki ketergantungan kepadanya hingga merasa tidak bisa lepas darinya.

Di sini, Desi mengajak kita untuk meletakkan smartphone sejenak dan mencoba untuk lebih menghayati kehidupan kita sendiri. Dengan mengurangi penggunaan, kita bisa meningkatkan kemampuan mendengarkan, mengapresiasi, dan lain sebagainya.

Ada beberapa bab yang tidak ada hubungannya dengan teknologi sehingga Penulis merasa lebih cocok jika dimasukkan ke dalam buku Hidup Sederhana. Terlepas dari itu, buku ini sangat enak untuk dinikmati.

Setelah Membaca Buku Going Offline

Diet digital dan berusaha memaksimalkan waktu untuk hal produktif sedang Penulis jalankan di kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya, Penulis masih sering scrolling media sosial terlalu lama ataupun menonton video YouTube yang kurang penting.

Membaca buku-buku seperti ini menjadi semacam pengingat untuk meletakkan smartphone sejenak dan melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti menulis blog ataupun membaca buku.

Isinya sendiri akan banyak mengajak kita untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Topik yang diangkat relatif sederhana, namun kerap kita abaikan dalam keseharian.

Desi menuangkan beberapa tulisan pendek dengan gaya bahasa yang lugas dan kerap mengangkat pengalamannya sendiri. Walaupun ia besar di luar negeri, bukan berarti kita tidak bisa related dengan secuil kisah yang dialami olehnya.

Buku ini juga termasuk bacaan yang ringan dan akan cocok untuk menjadi teman perjalanan. Direkomendasikan untuk pembaca yang merasa kecanduan dengan smartphone dan memiliki itikad untuk mengurangi penggunaannya.

Nilainya: 4.3/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi setelah membaca buku Going Offline karya Desi Anwar