<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perbedaan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/perbedaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/perbedaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:48:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>perbedaan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/perbedaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Secangkir Toleransi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2020 14:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[toleran]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah toleransi. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim mengucapkan selamat natal ke umat nasrani. Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun? Tapi kali ini Penulis tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah<strong> toleransi</strong>. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">mengucapkan selamat natal</a> ke umat nasrani.</p>





<p>Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun?</p>
<p>Tapi kali ini Penulis tidak akan membahas tentang hukum mengucapkan selamat natal. Penulis ingin berfokus pada kata toleransi.</p>





<h3>Makna Toleransi</h3>



<p>Apa itu toleransi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi memiliki makna <strong>sifat atau sikap toleran</strong>. Lantas, makna dari kata toleran adalah:</p>
<blockquote>
<p><em>bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri</em></p>
</blockquote>
<p>Atau dalam bahasa sederhananya adalah dapat <strong>menghargai perbedaan</strong>, apapun bentuknya. Kita tidak menghakimi perbedaan yang diyakini atau dilakukan oleh orang lain.</p>
<p>Dalam konteks mengucapkan selamat natal, menurut Penulis toleransi bukan berarti semua umat muslim harus mengucapkannya. Toleransi lebih dari sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Tidak perlu jauh-jauh, kita tilik dari sesama umat muslim terlebih dahulu. Ada ulama yang mengatakan tidak boleh mengucapkan selamat natal, ada yang membolehkan. Masing-masing memiliki dalilnya masing-masing.</p>
<p>Jika kita memang memiliki sikap toleran, kita akan saling menghargai pendapat masing-masing. Yang membolehkan tidak menghina yang melarang, begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Yang sering meributkan masalah ini sebenarnya umat muslim sendiri. <em>Mong</em> orang nasraninya sebenarnya pada <em>woles </em>mau dikasih selamat atau tidak.</p>



<h3>Analogi Secangkir Minuman</h3>



<p>Analogi toleransi yang paling mudah adalah pilihan minuman di sebuah kafe. Penulis menyukai secangkir teh, sedangkan teman Penulis menyukai secangkir kopi. Penulis tidak menyukai pahitnya kopi, sedangkan teman Penulis masih bisa menikmati hangatnya teh.</p>





<p>Toleransi itu, teman Penulis bisa menghargai Penulis yang hanya bisa minum teh. Teman Penulis tidak akan memaksa Penulis untuk meminum kopi yang bisa membuat Penulis sakit perut.</p>



<p>Sebaliknya pun seperti itu. Meskipun Penulis tidak menyukai kopi, Penulis tidak akan menghina-hina kopi sebagai minuman yang tidak enak. Penulis akan menghargai teman Penulis yang bisa menikmati kopi.</p>
<p>Bahkan sesama penikmat teh pun harus bisa saling menghargai pilihannya masing-masing. Yang suka <em>Earl Grey Tea </em>harus bisa menghargai orang yang suka <em>English Breakfast Tea</em>.</p>



<p>Begitu lah toleransi, <strong>bisa menghargai pilihan masing-masing tanpa berusaha menjatuhkan dan memaksakan pilihan kita ke orang lain</strong>.</p>
<p>Toleransi itu bukan mencampuradukkan teh dan kopi dan satu gelas. Rasanya tentu akan jadi tidak karuan, apalagi kalau mencampurnya dengan sembarangan.</p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Entah sampai kapan polemik toleransi ini akan terus dipermasalahkan. Penulis berharap kita akan segera memiliki kesadaran kalau kita tidak bisa seperti ini terus.</p>
<p>

</p>
<p>Jika kita bisa hidup dengan saling menghargai pilihan masing-masing, toh kehidupan bernegara pun akan menjadi lebih damai dan tenang, kan?</p>
<p>Toleransi memang memiliki batasan-batasan tertentu, bisa berupa undang-undang, hukum agama, maupun adat istiadat.</p>
<p>Jika tiba-tiba ada agama baru yang tiba-tiba menjadikan idol Korea sebagai Tuhannya, tentu kita tidak bisa tinggal diam melihat kesesatan tersebut. Justru jika tidak mengingatkan kesalahan tersebut, kita bisa dianggap salah karena membiarkan sesuatu yang buruk terjadi.</p>
<p>Sebenarnya, negara kita ini sudah lama hidup berdampingan penuh toleransi, walau diakui masih banyak kasus-kasus yang tidak mencerminkan hal tersebut.</p>
<p>Entah mengapa akhir-akhir ini berubah menjadi seperti ini&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Desember 2020, terinspirasi karena kata toleransi kerap ramai dibicarakan menjelang akhir tahun</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_dumlao">Nathan Dumlao</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<p><div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div></p>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<p><div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div></p>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terbiasa dengan Standar Ganda</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Nov 2019 14:58:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[standar ganda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3058</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah standar ganda. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek. Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan? Standar Ganda Dalam Politik Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah <strong>standar ganda</strong>. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan?</p>
<h3>Standar Ganda Dalam Politik</h3>
<p>Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap terjadi di ranah politik. Kita menjadi <a href="https://whathefan.com/politik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">condong untuk melihat siapanya, bukan apanya</a>. Subyeknya, bukan obyeknya.</p>
<p>Contohnya, politisi A yang baru membangun sebuah jembatan dianggap sebagai pencitraan semata. Di sisi lain ketika ada politisi B melakukan hal yang sama, ia dipuja-puja dan dianggap sebagai bapak pembangunan.</p>
<p>Sama seperti ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/politik/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a></em>, penulis melihat banyak dari kita hanya melihat yang ingin dilihat.</p>
<p>Ketika ada sesuatu yang tidak ingin dilihat, maka mereka akan pura-pura tidak melihat. Inilah yang semakin memperkuat bahwa standar ganda mengaburkan perspektif kita dalam menilai sesuatu secara obyektif</p>
<p>Tidak hanya di dunia politik, dalam kehidupan sehari-hari pun bisa seperti itu, terutama dalam konsep laki-laki dan perempuan. Pertanyaannya, kenapa bisa seperti itu?</p>
<h3>Terbiasa dengan Standar Ganda</h3>
<p>Penulis termasuk orang yang tidak begitu paham dengan konsep feminisme. Penulis tidak memahami kesetaraan seperti apa yang didambakan oleh para kaum feminis. Kesetaraan secara total? Kesetaraan dipandang dalam lingkup sosial?</p>
<p>Mungkin terdengar kolot dan kuno, tapi penulis selalu melihat laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berbeda dengan kualitas dan kelebihan masing-masing. Lantas, mengapa harus dibuat sama?</p>
<p>Nah, konsep laki-laki dan perempuan inilah yang sering dijadikan contoh sebagai standar ganda. Contoh paling sederhana adalah menangis. Perempuan dianggap biasa jika meneteskan air mata, tapi laki-laki akan diejek cengeng jika melakukannya.</p>
<p>Contoh lain adalah karakter kepemimpinan. Dari beberapa literatur yang penulis baca, laki-laki yang memiliki jiwa kepemimpinan dianggap sebagai orang yang hebat dan bisa menjadi teladan.</p>
<p>Sedihnya, kalau perempuan yang memilikinya sering dianggap sebagai sifat <em>bossy </em>dan agresif. Mungkin jenis kesetaraan seperti inilah yang dituntut oleh mereka.</p>
<p>Di Indonesia, hal-hal seperti contoh di atas sering terjadi. Mungkin, karena masyarakat kita masih banyak terpatok dengan norma-norma tradisional yang sudah lama melekat hingga mendarah daging.</p>
<p>Inilah yang menurut menjadi salah satu penyebab mengapa kita terlihat terbiasa dengan standar ganda, bahkan hingga melebar ke aspek-aspek lain dalam kehidupan.</p>
<h3>Bisakah Lepas dari Standar Ganda?</h3>
<p>Penulis meyakini bahwa masyarakat Barat pun belum tentu bisa lepas dari standar ganda secara utuh. Memandang sesuatu secara subyektif bagi penulis adalah hal yang sangat manusiawi.</p>
<p>Dua hal yang paling susah dilepaskan dari standar ganda menurut penulis adalah dua hal di atas, yakni di dunia politik dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Banyak masyarakat kita (mungkin termasuk penulis) yang memiliki <a href="https://whathefan.com/politik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme membabi buta</a> kepada suatu tokoh politik. Akibatnya, kita susah untuk bersikap obyektif atas apa yang mereka kerjakan.</p>
<p>Untuk masalah kesetaraan gender lebih pelik lagi. Kita besar di lingkungan dengan berbagai standar tentang laki-laki dan perempuan, sehingga makin susah untuk melepaskan standar ganda yang sudah terpatri.</p>
<p>Akan tetapi bagi penulis sendiri, adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan justru menjadi bukti nyata bahwa kita harus saling melengkapi. Mungkin ada stigma yang harus dihilangkan, tapi tidak semuanya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sebenarnya tak perlu contoh yang terlalu berat untuk menunjukkan kita hidup di lingkungan yang penuh dengan standar ganda. Banyak hal remeh yang bisa menjadi bukti nyata.</p>
<p>Laki-laki yang gemar menonton drama Korea dianggap cengeng. Perempuan yang suka mendengarkan musik rock dianggap aneh. Padahal, kita semua memiliki hak untuk bisa memilih apa yang kita sukai. Jadi, untuk apa kita menjustifikasi orang lain?</p>
<p>Tulisan ini bukan penulis gunakan untuk mendeklarasikan bahwa dirinya terlepas dari yang namanya standar ganda. Penulis pun masih sering melakukannya sampai sekarang.</p>
<p>Memang sulit untuk selalu obyektif, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir kesubyekan kita ketika memandang sesuatu. Mungkin sampai kapan pun, standar ganda akan tetap dan selalu terjadi di sekitar kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 13 November 2019, terinspirasi dengan banyaknya temuan terkait standar ganda di sekitar penulis</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@magda-ehlers-pexels">Magda Ehlers</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/terbiasa-dengan-standar-ganda/">Terbiasa dengan Standar Ganda</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbeda Berarti Unfollow</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 May 2019 22:02:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[boikot]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[unfollow]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2332</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karena berbagai kesibukan, penulis cukup lama tidak menulis di blog ini. Ketika dicek, sarang laba-laba sudah ada di mana-mana. Maka ketika ada waktu luang ketika bulan puasa ini, penulis akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Kali ini penulis hendak berbagi sedikit cerita tentang salah satu side job penulis di tempat kerja, sebagai admin Instagram. Ada satu kejadian yang membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/">Berbeda Berarti Unfollow</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Karena berbagai kesibukan, penulis cukup lama tidak menulis di blog ini. Ketika dicek, sarang laba-laba sudah ada di mana-mana. Maka ketika ada waktu luang ketika bulan puasa ini, penulis akan memanfaatkannya semaksimal mungkin.</p>
<p>Kali ini penulis hendak berbagi sedikit cerita tentang salah satu <em>side job </em>penulis di tempat kerja, sebagai <a href="https://www.instagram.com/jalantikusid/?hl=id">admin Instagram</a>. Ada satu kejadian yang membuat penulis menjadi sedikit berpikir tentang sikap masyarakat terhadap perbedaan pendapat.</p>
<h3>Judul Artikel yang <em>Click Bait</em></h3>
<p><div id="attachment_2333" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2333" class="size-large wp-image-2333" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1495020689067-958852a7765e.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2333" class="wp-caption-text">Judul Berita (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@romankraft">Roman Kraft</a>)</p></div></p>
<p>Jadi ketika itu, penulis mengirim sebuah <em>feed</em> yang sedikit menyinggung salah satu paslon presiden.</p>
<p>Memang, judulnya agak sedikit ofensif, tapi jika dibaca isi artikelnya, maka orang akan paham bahwa artikel tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan salah satu paslon.</p>
<p>Permasalahannya, pendukung paslon ini langsung terpancing provokasi hanya karena judul tanpa berusaha memahami isi artikelnya terlebih dahulu.</p>
<p>Banyak komentar yang mengata-ngatai dengan istilah hewan, mungkin pembaca bisa menebak hewan apa yang dituliskan. Selain makian, mereka juga menulis bahwa mereka akan <em>unfollow </em>akun Instagram tersebut.</p>
<p>Membuat pembaca merasakan emosi, apapun bentuknya, adalah salah satu unsur yang membuat judul berita menjadi menarik. Istilahnya, <em>click bait</em>. Hal ini dianggap lumrah, selama isi artikel tidak melenceng jadi judul.</p>
<h3>Berbeda Berarti <em>Unfollow </em>dan Boikot</h3>
<p><div id="attachment_2334" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2334" class="size-large wp-image-2334" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-1024x682.jpg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-1024x682.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/photo-1505322747495-6afdd3b70760.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2334" class="wp-caption-text">Unfollow (<a href="https://unsplash.com/@neonbrand">NeONBRAND</a>)</p></div></p>
<p><em>Unfollow </em>dan gerakan memboikot suatu produk sudah kerap terjadi ketika masa-masa pemilu. Alasannya, karena mereka menganggap yang di-<em>unfollow </em>tersebut memihak lawan pasangan calon yang didukungnya.</p>
<p>Memang, ada yang melakukan hal tersebut karena alasan-alasan lain, tapi penulis meyakini bahwa alasan utamanya adalah perbedaan pilihan.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa kita belum bisa <a href="https://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">menghargai perbedaan</a>. Seperti yang dituliskan oleh salah satu komik lokal, perbuatan ini bisa dianggap sebagai sebuah kenorakan.</p>
<p>Bayangkan, di antara ratusan gambar yang pernah penulis pos, banyak orang yang melakukan <em>unfollow</em> hanya karena satu pos. Ibaratnya, di antara banyaknya kebaikan, yang dilihat orang hanya satu keburukan.</p>
<p>Jika hanya sekadar <em>unfollow </em>akun media sosial, penulis yakin tidak terlalu besar dampaknya. Tapi jika sampai boikot produk? Penulis membayangkan ada berapa banyak pekerja yang terkena dampaknya.</p>
<p>Mungkin yang paling baru adalah gerakan boikot nasi padang hanya karena masyarakat sana mayoritas memilih salah satu pasangan calon.</p>
<p>Lah, salahnya di mana? Ketika penulis membaca beberapa komentarnya, ada yang berkata bahwa masyarakat sana tidak bisa berterima kasih atas kerja keras petahana.</p>
<p>Tentu hal ini menjadi lucu sekaligus <em>ngenes</em>. Sekali lagi, salah satu alasan hal ini bisa terjadi adalah karena <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme yang berlebihan</a>.</p>
<p>Yang salah tentu bukan gerakan boikotnya, melainkan tujuan dari boikot tersebut. Jika dilakukan sebagai bentuk protes, misalnya boikot produk Israel karena serangan teror yang dilakukan, tentu boleh-boleh saja.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Perbedaan adalah hal yang sangat normal. Kewajiban kita adalah untuk menghargai perbedaan tersebut. Jangan sampai kita bermusuhan hanya karena itu.</p>
<p>Jika ada media yang menyudutkan salah satu tokoh yang kita hormati, tak usahlah emosi. Anggap saja sebagai bahan evaluasi, siapa tahu berita tersebut ada benarnya.</p>
<p>Beda kalau media tersebut <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">menyebar hoaks</a>. Kalau sudah seperti itu, kita wajib menjauhinya karena media tersebut secara terang-terangan telah menyebarkan kebohongan yang tak berdasar.</p>
<p>Penulis masih berharap bahwa <a href="https://whathefan.com/sosialpolitik/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">kedewasaan berpolitik</a> yang kita miliki akan semakin menjadi lebih baik ke depannya. Dengan demikian, gerakan <em>unfollow</em> maupun boikot bisa berkurang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Mei 2019, terinspirasi setelah banyak orang yang melakukan <em>unfollow </em>pada akun Instagram JalanTikus.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/A-pckCHQMrM?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Toa Heftiba</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/woman-phone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/berbeda-berarti-unfollow/">Berbeda Berarti Unfollow</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2019 16:51:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[beda]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[selera]]></category>
		<category><![CDATA[tontonan]]></category>
		<category><![CDATA[unik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam sebuah rapat, atasan penulis bercerita bahwa dirinya harus menggunakan aplikasi lain agar bisa mendengarkan musik dangdut. Alasannya, banyak yang menertawakan jika ia mendengarkan lagu dangdut menggunakan aplikasi Spotify. Sama halnya dengan penulis yang selera musiknya bisa dibilang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Penulis menyukai berbagai genre, mulai lagu rock yang keras seperti Linkin Park hingga musik instrumental yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah rapat, atasan penulis bercerita bahwa dirinya harus menggunakan aplikasi lain agar bisa mendengarkan musik dangdut. Alasannya, banyak yang menertawakan jika ia mendengarkan lagu dangdut menggunakan aplikasi Spotify.</p>
<p>Sama halnya dengan penulis yang selera musiknya bisa dibilang berbeda dari orang-orang kebanyakan. Penulis menyukai berbagai genre, mulai lagu <em>rock </em>yang keras seperti <a href="http://whathefan.com/musikfilm/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-saya-dengan-linkin-park/">Linkin Park</a> hingga musik instrumental yang berasal dari <em>soundtrack </em>anime.</p>
<p><div id="attachment_2126" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2126" class="size-large wp-image-2126" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/chester-bennington-linkin-park-Spur-Magazine.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2126" class="wp-caption-text">Vokalis Linkin Park (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjz-dmFwqLgAhXaEHIKHWPKC3wQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fspur.innovware.net%2Fnews%2Fchester-bennington-linkin-park-lead-singer-dead%2F&amp;psig=AOvVaw3YvNr8e55cebZpcBS8_nNj&amp;ust=1549384704003408" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjz-dmFwqLgAhXaEHIKHWPKC3wQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Spur Magazine &#8211; Innovware</span></a>)</p></div></p>
<p>Dengan perbedaan ini, penulis merasa lagu yang penulis dengarkan tidak akan bisa dinikmati oleh kebanyakan orang. Apalagi, kalau kebetulan penulis mendengarkan lagu yang kata kolega seperti &#8220;suara cewek kejepit&#8221;.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis lebih sering mendengarkan sendiri lagu-lagu penulis dan tidak menyetelnya melalui <em>speaker </em>bersama. Tidak masalah, yang minoritas harus mendahulukan kepentingan mayoritas.</p>
<p>Begitu pula dengan selera tontonan. Ada sebuah <em>stereotype</em> bahwa anime adalah serial untuk anak-anak. Padahal, anime juga memiliki <em>genre</em> dan segmen sendiri-sendiri, sama seperti drama Korea maupun serial yang ada di Netflix.</p>
<p>Setiap individu memiliki selera masing-masing, dan sudah seharusnya dari hal sekecil itu kita bisa belajar tentang menghargai perbedaan.</p>
<h3>Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</h3>
<p>Mengetahui fakta ini, penulis hanya bisa tersenyum, mungkin dengan sedikit prihatin. Mengapa? Karena merasa bahwa untuk menghargai perbedaan sekecil selera musik saja tidak bisa, bagaimana menghargai perbedaan yang lebih besar?</p>
<p>Penulis tidak heran jika masyarakat kita sangat mudah sekali tersulut untuk bertikai hanya karena perbedaan pendapat. Jangankan memilih presiden, bahkan bisa jadi untuk tingkat ketua RW saja bisa ribut.</p>
<p>Vokalis dari band <strong>Nirvana, Kurt Cobain<em>, </em></strong>mempunyai sebuah <em>quote </em>yang mungkin cocok dengan topik tulisan kali ini:</p>
<blockquote><p>They laugh at me because I&#8217;m different; I laugh at them because they&#8217;re all the same</p></blockquote>
<p>Menurut penulis, seharusnya kita tidak perlu saling menertawakan seperti yang dikatakan oleh Cobain. Yang suka dengan hal yang sedang populer, ya tak usah menertawakan yang ingin berbeda. Yang ingin berbeda, juga tak perlu merasa lebih tinggi derajatnya dari orang kebanyakan.</p>
<p>Yang namanya <a href="http://whathefan.com/karakter/budaya-menghargai-di-indonesia/">menghargai</a>, bagi penulis artinya berusaha memahami perbedaan orang lain. Selama tidak melanggar norma dan agama, tidak ada yang salahnya menyukai sesuatu atau memiliki selera yang unik. Tidak ada yang salah menjadi berbeda dari orang kebanyakan, dengan syarat yang telah disebutkan di atas.</p>
<p><div id="attachment_2125" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2125" class="size-large wp-image-2125" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-1024x576.png" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/friends-lying-at-home-and-listening-music-together_v1gbucb1u__F0000.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2125" class="wp-caption-text">Menghargai Perbedaan Selera (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.videoblocks.com/video/friends-lying-at-home-and-listening-music-together-qms1cqz" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiO5Zvgw6LgAhUCWX0KHYn7DIQQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Video Blocks</span></a>)</p></div></p>
<p>Dengan menanamkan sikap saling menghargai terhadap sesama, penulis yakin hidup kita akan lebih tenang karena tak perlu repot-repot <em>julid </em>ke orang lain. Cara menanam sikap tersebut ya dimulai dari hal terkecil, seperti selera musik dan tontonan.</p>
<p>Penulis bisa bilang seperti ini karena pernah <em>julid </em>di masa lalu. Dulu bilang &#8220;<a href="http://whathefan.com/musikfilm/%EB%A6%AC%EC%8C%8D-%ED%9E%99%ED%95%A9-%EB%93%80%EC%98%A4-%EC%BD%94%EB%A6%AC%EC%95%84/">Korea</a> apa bagusnya sih?&#8221;, eh ternyata pernah suka sama SNSD dan Super Junior. Dulu <em>nyinyir </em>&#8220;<a href="http://whathefan.com/category/animekomik/">anime</a> apa bagusnya sih?&#8221;, eh sekarang punya koleksi puluhan anime di laptopnya.</p>
<p>Oleh karena dua pengalaman itu, penulis menjadi sadar bahwa sudah seharusnya kita menghargai selera orang lain tanpa perlu memberikan justifikasi yang tidak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 4 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah rapat siang yang membahas <em>partnership </em>dengan salah satu pengembang aplikasi musik</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://www.fanpop.com/clubs/anime-music/images/37535480/title/k-on-just-joined-here-photo" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwit6J27xKLgAhXaTn0KHXJ1DEoQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Fanpop</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">Menghargai Perbedaan dari yang Terkecil</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Merasa Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Nov 2018 11:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[perdebatan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1741</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika penulis membuat analisa kecil-kecilan tentang akar berbagai permasalahan yang tengah menyerbu bangsa ini, ada satu hal yang paling menonjol. Mungkin dari judul pembaca sudah bisa menebak, salah satu penyebab terjadinya masalah adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain.</p>
<p>Penulis ambil sebuah contoh tentang masalah hijrah, karena perdebatan antara yang memilih untuk berhijrah dan yang memilih untuk bertahan di jalannya kerap terjadi di media sosial.</p>
<p>Yang berhijrah sering mengampanyekan diri agar bagi mereka yang ingin berhijrah ikut bersama mereka. Yang belum berhijrah sering menyoroti poin-poin yang dikampanyekan yang sudah berhijrah.</p>
<p>Tentu ada orang-orang dari kedua kelompok tersebut yang tidak memaksakan keyakinan mereka dan menghargai pilihan masing-masing individu. Tapi ada pula yang terlihat <em>ngotot </em>memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain.</p>
<p>Ambil contoh, pernikahan di usia dini. Tentu yang berhijrah mengajak para kawula muda untuk menyegerakan pernikahan demi menghindari perzinaan. Yang belum berhijrah, memberikan argumentasi tentang resiko-resiko dari pernikahan muda.</p>
<p>Nah, yang berbahaya adalah jika timbul rasa <strong>merasa lebih baik </strong>dari orang lain setelah mengambil pilihan tersebut.</p>
<p>Yang telah berhijrah merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada yang belum. Yang belum berhijrah juga merasa dirinya lebih baik sambil tertawa sinis melihat tingkah pola orang-orang yang mengaku telah berhijrah yang dirasa berlebihan.</p>
<p>Seharusnya, kita harus bisa berbuat kebaikan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">merasa diri lebih baik dari orang lain</a>. Yang memilih telah berhijrah, <em>alhamdulillah</em>. Jangan sampai merasa lebih hebat dari yang belum, sembari mengajak secara halus kawan-kawannya untuk ikut berhijrah.</p>
<p>Untuk yang belum, ya minimal jangan <em>nyinyirin </em>mereka. Apa yang mereka sampaikan di berbagai wadah merupakan perintah agama, walaupun mungkin ada yang cara penyampiannya kurang elok. Cobalah mulai mendalami agama agar pikiran kita tidak terlalu sekuler.</p>
<p>Dengan mengurangi rasa tinggi hati yang ada di dalam diri dan tidak merasa diri paling benar, niscaya kita bisa lebih saling menghargai sebuah perbedaan, sehingga kehidupan kita bisa menjadi lebih tenang dan nyaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 November 2018, terinspirasi dari berbagai perbincangan antara yang sudah berhijrah dan yang belum</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/RMMWgYdtaEc?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Alex Mihai</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/angry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/">Merasa Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(Bukan) Pendengar yang Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2018 17:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok. Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok.</p>
<p>Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang penulis lupa judulnya, ada empat hal yang membantu kita menjadi pendengar yang baik:</p>
<ol>
<li><strong>Berfokus Pada</strong> <strong>Orangnya</strong>, dan tunggu hingga ia selesai bercerita</li>
<li><strong>Jangan Tutupi Telinga Anda</strong></li>
<li><strong>Dengarkan dengan Agresif</strong>, dengarkan dengan penuh perhatian</li>
<li><strong>Simaklah dengan Tujuan untuk Memahami</strong></li>
</ol>
<p>Ternyata itu semua salah besar! Setidaknya, ada yang salah dari cara penulis mendengar. Ini baru penulis sadari ketika membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em> karangan John Gray,terutama di bab 2.</p>
<p>Ketika ada wanita yang menceritakan permasalahannya, mereka <strong>tidak menginginkan</strong> <strong>solusi</strong><em>.</em> Mereka <strong>hanya ingin didengar</strong> dan mendapatkan<strong> empati yang tulus</strong> dari pendengarnya.</p>
<p><div id="attachment_964" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-964" class="size-full wp-image-964" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-964" class="wp-caption-text">Beda Perlakuan (via www.huffingtonpost.com)</p></div></p>
<p>Pantas saja sewaktu ada teman perempuan penulis bercerita dan penulis berusaha menghadirkan solusi, ia justru semakin cemberut. Tentu penulis merasa bingung karena merasa tidak ada yang salah dengan solusi penulis.</p>
<p>Lain halnya jika yang bercerita pria. Karena berlandaskan logika, mereka bercerita dengan berharap akan adanya jawaban dari masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka ingin bertukarpikiran untuk membuka cakrawala pikiran mereka. Wanita tidak membutuhkan itu, kecuali jika mereka memang memintanya di awal sebelum bercerita.</p>
<p>Masalahnya, pria memang cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah, sehingga setiap cerita yang ia dengar dianggap sedang mencari penyelesaian. Perbedaan inilah yang sering kali mengakibatkan pertikaian antara pria dan wanita.</p>
<p>Setelah mengetahui fakta ini, penulis berusaha menata ulang pola pikir penulis dalam mendengarkan orang lain berdasarkan gendernya. Menghadirkan solusi untuk pria, mendengarkan penuh empati untuk wanita.</p>
<p>Semoga saja tidak ada lagi perasaan sombong dalam diri penulis yang merasa dirinya pendengar yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Juni 2018, terinspirasi setelah membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em></p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.theguardian.com">www.theguardian.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Akar Fanatisme Membabi Buta</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 09:29:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Najib]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisme]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Hologram]]></category>
		<category><![CDATA[membabi buta]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=826</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan sekumpulan esai terbaru Emha Ainun Najib yang berjudul Kiai Hologram. Salah satu bagian yang paling penulis suka adalah: Cinta + Ilmu = Kebijaksanaan Cinta &#8211; Ilmu = Membabi Buta Cinta + Kepentingan = Kalap dan Penyanderaan Dalam KBBI, fanantisme memiliki makna keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan membabi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/">Akar Fanatisme Membabi Buta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis baru saja menghabiskan sekumpulan esai terbaru Emha Ainun Najib yang berjudul <em>Kiai Hologram</em>. Salah satu bagian yang paling penulis suka adalah:</p>
<p style="text-align: center;"><em>Cinta + Ilmu = Kebijaksanaan</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Cinta &#8211; Ilmu = Membabi Buta</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Cinta + Kepentingan = Kalap dan Penyanderaan</em></p>
<p>Dalam KBBI, fanantisme memiliki makna <em>keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). </em>Sedangkan membabi buta berarti <em>melakukan sesuatu secara nekat, tidak peduli apa-apa lagi; merawak rambang.</em></p>
<p>Jika digabungkan, maka fanatisme membabi buta kurang lebih menjadi <em>keyakinan yang terlalu kuat hingga tidak mempedulikan apa-apa lagi selain yang diyakininya</em>. Sebagai contoh, mengidolakan seseorang.</p>
<p>Anggap A menyukai idola Z dengan fanatisme yang membabi buta. A menganggap Z adalah orang terbaik yang ada di dunia, dan A akan marah jika ada orang lain yang berkata buruk tentang Z. A tidak akan terima kritikan terhadap Z karena bagi A, Z adalah sosok yang sempurna.</p>
<p>Bisa juga terjadi di lingkungan politik dan agama, dan inilah yang menumbuhkan intoleransi.</p>
<p>Nah, menurut rumusan yang ditulis oleh Cak Nun, membabi buta lahir ketika cinta tidak diiringi oleh ilmu. Dengan kata lain, orang yang meyakini atau berbuat sesuatu secara membabi buta kurang belajar. Bukan hanya sekedar belajar membaca buku, tapi juga belajar memahami dan mendengarkan orang lain.</p>
<p>Banyaknya orang di Indonesia yang cenderung membabi buta pada apa yang diyakininya menunjukkan bahwa kita masih harus banyak belajar. Kita harus masih banyak belajar menerima perbedaan yang ada. Sifat fanatisme membabi buta harus kita hilangkan agar dapat hidup berdampingan.</p>
<p>Sesungguhnya, tidak ada yang baik dari perbuatan berlebihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei, 2018, terinspirasi setelah membaca buku Kiai Hologram karya Emha Ainun Najib</p>
<p>Sumber Foto: http://calsportsmanmag.com/wild-pigs-pick-your-shot-carefully/</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/">Akar Fanatisme Membabi Buta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
