Terbiasa dengan Standar Ganda

Penulis yakin banyak dari pembaca sekalian telah paham dengan istilah standar ganda. Sepengetahuan penulis, istilah tersebut merujuk ke sebuah sudut pandang yang dapat berubah tergantung subyek.

Akhir-akhir ini, penulis sering merenungkan istilah ini sehingga memutuskan untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Daripada jadi penyebab insomnia, kan?

Standar Ganda Dalam Politik

Berdasarkan pengamatan penulis, hal ini kerap terjadi di ranah politik. Kita menjadi condong untuk melihat siapanya, bukan apanya. Subyeknya, bukan obyeknya.

Contohnya, politisi A yang baru membangun sebuah jembatan dianggap sebagai pencitraan semata. Di sisi lain ketika ada politisi B melakukan hal yang sama, ia dipuja-puja dan dianggap sebagai bapak pembangunan.

Sama seperti ketika menulis artikel Apapun yang Mereka Lakukan, Salah, penulis melihat banyak dari kita hanya melihat yang ingin dilihat.

Ketika ada sesuatu yang tidak ingin dilihat, maka mereka akan pura-pura tidak melihat. Inilah yang semakin memperkuat bahwa standar ganda mengaburkan perspektif kita dalam menilai sesuatu secara obyektif

Tidak hanya di dunia politik, dalam kehidupan sehari-hari pun bisa seperti itu, terutama dalam konsep laki-laki dan perempuan. Pertanyaannya, kenapa bisa seperti itu?

Terbiasa dengan Standar Ganda

Penulis termasuk orang yang tidak begitu paham dengan konsep feminisme. Penulis tidak memahami kesetaraan seperti apa yang didambakan oleh para kaum feminis. Kesetaraan secara total? Kesetaraan dipandang dalam lingkup sosial?

Mungkin terdengar kolot dan kuno, tapi penulis selalu melihat laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang berbeda dengan kualitas dan kelebihan masing-masing. Lantas, mengapa harus dibuat sama?

Nah, konsep laki-laki dan perempuan inilah yang sering dijadikan contoh sebagai standar ganda. Contoh paling sederhana adalah menangis. Perempuan dianggap biasa jika meneteskan air mata, tapi laki-laki akan diejek cengeng jika melakukannya.

Contoh lain adalah karakter kepemimpinan. Dari beberapa literatur yang penulis baca, laki-laki yang memiliki jiwa kepemimpinan dianggap sebagai orang yang hebat dan bisa menjadi teladan.

Sedihnya, kalau perempuan yang memilikinya sering dianggap sebagai sifat bossy dan agresif. Mungkin jenis kesetaraan seperti inilah yang dituntut oleh mereka.

Di Indonesia, hal-hal seperti contoh di atas sering terjadi. Mungkin, karena masyarakat kita masih banyak terpatok dengan norma-norma tradisional yang sudah lama melekat hingga mendarah daging.

Inilah yang menurut menjadi salah satu penyebab mengapa kita terlihat terbiasa dengan standar ganda, bahkan hingga melebar ke aspek-aspek lain dalam kehidupan.

Bisakah Lepas dari Standar Ganda?

Penulis meyakini bahwa masyarakat Barat pun belum tentu bisa lepas dari standar ganda secara utuh. Memandang sesuatu secara subyektif bagi penulis adalah hal yang sangat manusiawi.

Dua hal yang paling susah dilepaskan dari standar ganda menurut penulis adalah dua hal di atas, yakni di dunia politik dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Banyak masyarakat kita (mungkin termasuk penulis) yang memiliki fanatisme membabi buta kepada suatu tokoh politik. Akibatnya, kita susah untuk bersikap obyektif atas apa yang mereka kerjakan.

Untuk masalah kesetaraan gender lebih pelik lagi. Kita besar di lingkungan dengan berbagai standar tentang laki-laki dan perempuan, sehingga makin susah untuk melepaskan standar ganda yang sudah terpatri.

Akan tetapi bagi penulis sendiri, adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan justru menjadi bukti nyata bahwa kita harus saling melengkapi. Mungkin ada stigma yang harus dihilangkan, tapi tidak semuanya.

Penutup

Sebenarnya tak perlu contoh yang terlalu berat untuk menunjukkan kita hidup di lingkungan yang penuh dengan standar ganda. Banyak hal remeh yang bisa menjadi bukti nyata.

Laki-laki yang gemar menonton drama Korea dianggap cengeng. Perempuan yang suka mendengarkan musik rock dianggap aneh. Padahal, kita semua memiliki hak untuk bisa memilih apa yang kita sukai. Jadi, untuk apa kita menjustifikasi orang lain?

Tulisan ini bukan penulis gunakan untuk mendeklarasikan bahwa dirinya terlepas dari yang namanya standar ganda. Penulis pun masih sering melakukannya sampai sekarang.

Memang sulit untuk selalu obyektif, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir kesubyekan kita ketika memandang sesuatu. Mungkin sampai kapan pun, standar ganda akan tetap dan selalu terjadi di sekitar kita.

 

 

Kebayoran Lama, 13 November 2019, terinspirasi dengan banyaknya temuan terkait standar ganda di sekitar penulis

Foto: Magda Ehlers