Akar Fanatisme Membabi Buta

Penulis baru saja menghabiskan sekumpulan esai terbaru Emha Ainun Najib yang berjudul Kiai Hologram. Salah satu bagian yang paling penulis suka adalah:

Cinta + Ilmu = Kebijaksanaan

Cinta – Ilmu = Membabi Buta

Cinta + Kepentingan = Kalap dan Penyanderaan

Dalam KBBI, fanantisme memiliki makna keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan membabi buta berarti melakukan sesuatu secara nekat, tidak peduli apa-apa lagi; merawak rambang.

Jika digabungkan, maka fanatisme membabi buta kurang lebih menjadi keyakinan yang terlalu kuat hingga tidak mempedulikan apa-apa lagi selain yang diyakininya. Sebagai contoh, mengidolakan seseorang.

Anggap A menyukai idola Z dengan fanatisme yang membabi buta. A menganggap Z adalah orang terbaik yang ada di dunia, dan A akan marah jika ada orang lain yang berkata buruk tentang Z. A tidak akan terima kritikan terhadap Z karena bagi A, Z adalah sosok yang sempurna.

Bisa juga terjadi di lingkungan politik dan agama, dan inilah yang menumbuhkan intoleransi.

Nah, menurut rumusan yang ditulis oleh Cak Nun, membabi buta lahir ketika cinta tidak diiringi oleh ilmu. Dengan kata lain, orang yang meyakini atau berbuat sesuatu secara membabi buta kurang belajar. Bukan hanya sekedar belajar membaca buku, tapi juga belajar memahami dan mendengarkan orang lain.

Banyaknya orang di Indonesia yang cenderung membabi buta pada apa yang diyakininya menunjukkan bahwa kita masih harus banyak belajar. Kita harus masih banyak belajar menerima perbedaan yang ada. Sifat fanatisme membabi buta harus kita hilangkan agar dapat hidup berdampingan.

Sesungguhnya, tidak ada yang baik dari perbuatan berlebihan.

 

 

Jelambar, 25 Mei, 2018, terinspirasi setelah membaca buku Kiai Hologram karya Emha Ainun Najib

Sumber Foto: http://calsportsmanmag.com/wild-pigs-pick-your-shot-carefully/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.