<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>polarisasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/polarisasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/polarisasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Sep 2025 16:31:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>polarisasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/polarisasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2025 16:30:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Brave Pink Green Hero]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[substansi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September adalah munculnya gerakan 17+8, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya. Sebanyak 17 tuntutan diberi deadline hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi deadline satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu &#8220;buah&#8221; yang dihasilkan dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September</a> adalah munculnya gerakan <strong>17+8</strong>, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya.</p>



<p>Sebanyak <a href="https://whathefan.com/politik-negara/peringatan-darurat-apa-memang-sedarurat-itu-situasi-politik-saat-ini/">17 tuntutan diberi <em>deadline</em></a><em> </em>hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi <em>deadline </em>satu tahun atau &#8220;dikumpulkan&#8221; pada bulan September 2026. </p>



<p>Gerakan tersebut diprakarsai oleh banyak tokoh anak muda seperti <a href="https://whathefan.com/buku/kisah-jerome-polin-pada-buku-latihan-soal-mantappu-jiwa/">Jerome Polin</a>, Andovi da Lopez, Fathia Izzati, Andhyta ‘Afu’ Utami, Salsa Erwina, dan Abigail Limuria. Isi tuntutannya pun macam-macam, yang intinya merangkum apa yang selama ini menjadi keresahan masyrakat.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/04/GOAL_-_Blank_WEB_-_Facebook_-_2024-04-14T223119.913-2048x1152.jpg 2048w " alt="Asa Leverkusen untuk Mengejar Status Invincibles Sempurna" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/asa-leverkusen-untuk-mengejar-status-invincibles-sempurna/">Asa Leverkusen untuk Mengejar Status Invincibles Sempurna</a></div></div></div><p></p>


<p>Bersamaan dengan adanya tuntutan tersebut, muncul gerakan <strong>Brave Pink Green Hero</strong> sebagai bentuk dukungan dan solidaritas atas tuntutan tersebut. Banyak netizen berlomba-lomba untuk ikut mengubah foto profilnya menjadi <em>duo-tone </em>kombinasi kedua warna tersebut, termasuk Penulis.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Munculnya Gerakan Brave Pink Green Hero</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8326" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ibu Ana vs Kepolisian (<a href="https://indopop.id/profil-ibu-ana-brave-pink-nekat-halau-aparat-pakai-galah?page=all">Indopop</a>)</figcaption></figure>



<p>Brave Pink dipilih karena keberanian yang ditunjukkan oleh<strong> Ibu Ana</strong>, yang sempat terpotret berani menghadapi barisan kepolisian sendirian hanya dengan membawa bendera. Sementara itu, Green Hero dipilih untuk mengenang almarhum <strong>Affan Kurniawan</strong>.</p>



<p>Masalahnya, pemilihan warna tersebut ternyata justru diributkan oleh netizen. Pasalnya, beredar video Ibu Ana yang berteriak secara kasar &#8220;Prabowo Anjing, Prabowo Turun, Ganti Anies,&#8221; yang diteriakkan di tengah-tengah aksi.</p>



<p>Gara-gara hal tersebut, banyak yang menolak untuk ikut mengganti foto profilnya. Ada yang karena tidak ingin orang bermulut kasar menjadi simbol, ada yang menilai pemilihan warna tersebut bersifat politis, dan lain sebagainya.</p>



<p>Yang membela Ibu Ana pun tak sedikit. Ada yang bilang pemilihan warna pink tersebut karena keberanian yang ditunjukkan Ibu Ana, bukan mewakili pendapat pribadinya. Ada yang bilang pemilihan warna tersebut melambangkan <em>woman empowerment</em> secara keseluruhan.</p>



<p>Penulis menemukan analogi yang menarik di X, di mana ada yang mengomparasi Brave Pink ini dengan slogan &#8220;Just Do It&#8221; dari Nike dan V Sign sebagai tanda damai. Inspirasi dari keduanya juga berasal dari hal yang tidak 100% baik, bahkan cenderung kontroversi.</p>



<p>Selain itu, ada yang membuat analisis kalau video yang beredar tersebut sebenarnya buatan AI. Banyak kejanggalan yang ditemukan pada foto tersebut, yang sering menjadi ciri video buatan AI. Penulis tidak akan mendebat hal tersebut, karena tidak punya kapabilitas juga untuk menilai.</p>



<p>Terlepas dari pro kontra pemilihan Brave Pink Green Hero ini, Penulis justru merasa ini menjadi bukti lain betapa <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">kita mudah terpolarisasi</a>, yang ujungnya membuat kita mudah diadu domba dan melupakan hal yang substansial.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi dan Melupakan Hal yang Substansi?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8327" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sederet Public Figure yang Ikut Brave Pink Green Hero (<a href="https://motherandbeyond.id/read/27154/tunjukkan-solidaritas-dan-dukungan-deretan-artis-wanita-ini-ganti-foto-profil-jadi-brave-pink-hero-green">Mother &amp; Beyond</a>)</figcaption></figure>



<p>Secara umum, orang mengganti foto profilnya dengan <em>duo-tone </em>tersebut adalah <strong>bentuk dukungan dan solidaritas</strong> terhadap gerakan 17+8, yang bisa dianggap sebagai aksi nyata dari kita sebagai masyarakat kepada para pemangku kekuasaan yang mengatur negara ini.</p>



<p>Akan tetapi, sebenarnya yang mendukung 17+8 tapi menolak mengganti foto profil juga ada. Yang cuma FOMO ikut mengganti foto padahal tidak mendukung 17+8 juga ada. Yang tidak mendukung 17+8 dan tidak FOMO pun juga ada.</p>



<p>Menariknya, Anies Baswedan yang namanya terseret karena disebut Ibu Ana pun tidak ikut-ikutan mengganti foto profilnya. Mantan capres lainnya, Ganjar Pranowo, juga mengambil langkah yang sama. Tampaknya mereka tidak ingin disangkutpautkan dengan isu ini.</p>



<p>Sebenarnya silakan saja mau memilih yang mana, toh itu hak masing-masing individu. Yang membuat Penulis geram adalah ketika <strong>ada pihak yang merasa lebih baik dari pihak lain karena pilihannya</strong>. Mereka menyalahkan pihak yang berseberangan dengan berbagai alasan.</p>



<p>Kalau memang tidak srek dengan pemilihan Brave Pink karena sosok Ibu Ana, ya enggak perlu ikut ganti foto profil. Masalahnya, ada saja pihak-pihak ini yang menggiring opini kalau orang-orang yang mengganti foto profilnya adalah A B C D blablabla.</p>



<p>Yang memilih untuk mengganti foto profil juga begitu. Jangan mentang-mentang ganti foto profil, terus jadi merasa yang paling nasionalis dan menghakimi yang tidak melakukannya. Jangan-jangan yang ganti foto profil tidak pernah ikut aksi secara langsung, cuma koar-koar di media sosial (seperti Penulis misalnya).</p>



<p>Salah satu alasan utama mengapa kita begitu mudah terpolarisasi adalah karena terkadang kita <strong>menganggap</strong> <strong>Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut</strong>. Penulis akan menjabarkan hal ini lebih detail di tulisan besok.</p>



<p>Lebih parahnya lagi, polarisasi yang terjadi ini justru <strong>membuat kita melupakan substansinya</strong>, yakni tuntutan masyarakat kepada pemerintah. Harusnya kita sebagai sesama rakyat harus bekerja sama untuk memantau agar tuntutan yang telah diajukan telah terlaksana.</p>



<p>Terserah mau pakai warna <em>pink</em>, hijau, biru, cokelat, merah, nggak pakai warna karena buta warna, bebas. Yang penting, di momen-momen penting seperti saat ini kita harus saling jaga agar suara kita didengar oleh mereka.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Jujur, Penulis geram karena ada saja yang meributkan Brave Pink Green Hero ini. Kenapa justru menyorot Ibu Ana-nya, bukan inti dari gerakannya. Ibarat meributkan klub sepak bola bukan karena performa atau permainannya, tapi dari logo klubnya.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga merasa heran karena ketika pemimpin negara yang berkata kasar, hal tersebut justru berusaha dinormalisasi. Ketika pemimpin negara <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/napoleon-iii-gak-bisa-jadi-presiden-lagi-ya-tinggal-ubah-aturannya/">mengacak-acak konstitusi agar bisa ikut pemilu</a>, eh malah dipilih. <em>Double standard</em>-nya kok agak kebangetan.</p>



<p>Terlepas dari itu semua, Penulis berharap kejadian yang berlangsung sejak akhir Agustus bisa menjadi momentum kita sebagai bangsa menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kita lihat saja tahun depan, apakah tuntutan yang ada di dalam 17+8 ada yang berhasil dikerjakan atau tidak.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 September 2025, terinspirasi dari netizen yang meributkan masalah <em>brave pink hero green</em></p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://aceh.tribunnews.com/news/983906/viral-brave-pink-dan-hero-green-di-medsos-warganet-ramai-ubah-foto-profil-begini-caranya">Tribun</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Relativitas Kebenaran</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2020 12:23:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[relatif]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4084</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak. Ditambah dengan makin terasanya polarisasi masyarakat karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar. Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era disinformasi seperti sekarang, susah untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah. Semuanya tampak bias karena informasi yang kita terima terlalu banyak.</p>
<p>Ditambah dengan makin terasanya <a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> karena media sosial, masing-masing pihak merasa kalau kelompoknya yang paling benar.</p>
<p>Hal ini pun membuat Penulis bertanya-tanya, apakah kebenaran itu? Milik siapa kebenaran itu? Apa yang menentukan sesuatu benar atau tidak?</p>
<h3>Saling Merasa Benar</h3>
<p><div id="attachment_4102" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4102" class="size-large wp-image-4102" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4102" class="wp-caption-text">Apa Itu Kebenaran? (<a href="https://unsplash.com/@michaelcarruth">Michael Carruth</a>)</p></div></p>
<p>Di dalam KBBI, kata <strong>kebenaran</strong> memiliki beberapa makna, di antaranya:</p>
<ul>
<li><em>keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya</em></li>
<li><em>sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada</em></li>
</ul>
<p>Berdasarkan definisi tersebut, seharusnya <strong>kebenaran bersifat obyektif dan berimbang</strong>. Tidak memihak subyeknya. Kenyataannya? Kebenaran bisa menjadi sangat subyektif.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah pemilihan presiden kemarin. Masing-masing pendukung merasa calon yang didukung adalah calon yang paling benar sehingga layak untuk dipilih.</p>
<p>Padahal, Penulis yakin masing-masing calon ada benarnya ada salahnya. Tidak mungkin mutlak benar 100%. Memangnya mereka Tuhan?</p>
<p>Contoh lain adalah masalah Covid. Lagi-lagi masyarakat terbelah menjadi dua kubu, antara yang percaya Corona berbahaya dan Corona hanya konspirasi semata.</p>
<p>Masing-masing merasa paling benar dan menertawakan kubu lainnya. Adu argumen dan data sering terlihat di media sosial hingga membuat mayoritas masyarakat bingung.</p>
<h3>Relativitas Kebenaran</h3>
<p><div id="attachment_4104" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4104" class="size-large wp-image-4104" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/relativitas-kebenaran-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4104" class="wp-caption-text">Jangan Memaksakan Kebenaran Versi Kita (<a href="https://illimitablemen.com/2014/03/09/how-women-argue/">Illimitable Men</a>)</p></div></p>
<p>Penulis merasa kalau <strong>kebenaran itu bersifat relatif</strong>. Apa yang Penulis yakini benar, belum tentu juga diyakini benar oleh orang lain.</p>
<p>Analoginya seperti ini. Penulis meyakini kalau tempe adalah makanan yang paling lezat di dunia. Orang lain mungkin akan memilih daging <em>steak </em>sebagai makanan terbaik.</p>
<p>Tempe sebagai makanan terlezat adalah kebenaran yang Penulis yakini, tapi orang lain memiliki pendapat yang berbeda. Bahkan, mungkin ada orang yang akan menganggap Penulis aneh.</p>
<p>Oke mungkin itu bukan analogi yang baik, tapi Penulis yakin para Pembaca menangkap apa maksudnya. <strong>Kebenaran tergantung subyek yang melihatnya</strong>.</p>
<p>Apa yang menjamin kalau sejarah yang kita ketahui selama ini adalah kenyataan sejarah yang paling benar? Bukankah ada pepatah yang mengatakan <em>History Is Written by the Victors</em>?</p>
<p>Apa yang menjamin kalau pendapat kita adalah yang paling benar? Apakah data-data yang kita miliki 100% valid? Apa tidak mungkin justru kebenaran yang diyakini orang lain yang benar?</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis merasa bahwa kita tidak bisa <strong>memaksakan kebenaran</strong> yang kita yakini kepada orang lain. Saling beradu argumen silakan, tapi jangan ada paksaan.</p>
<h3>Kebenaran Milik Siapa?</h3>
<p>Di dalam hidup ini, yang Maha Benar hanyalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Kita yang hanya berperan sebagai makhluk <strong>sangat rentan untuk berbuat salah</strong>.</p>
<p>Penafsiran kitab suci saja ada perbedaan pendapat di kalangan ahli, masa iya kita mau satu suara untuk topik sehari-hari? Harusnya kita meniru para ahli kitab yang saling menghargai.</p>
<p>Jadi, pada dasarnya <strong>kebenaran bukan milik siapa-siapa</strong>. Kita tidak bisa memonopoli kebenaran karena kita penuh dengan keterbatasan. Hanya Tuhan yang selalu benar.</p>
<p>Memang susah, apalagi di era yang masyarakatnya semakin mudah terpolarisasi seperti sekarang. Setidaknya, semua bisa dimulai dari diri sendiri dan berusaha saling mengingatkan satu sama lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 September 2020, terinspirasi dari semakin tingginya polarisasi di tengah-tengah masyarakat</p>
<p>Foto: <a href="https://nepaliad.com/2020/08/06/information-that-angry-people-must-read-what-is-anger-what-are-the-disadvantages-of-being-angry-take-a-quick-look/">Nepali Ad</a> &amp; <a href="https://newsroom.ucla.edu/releases/einstein-general-relativity-theory-questioned-ghez">Newsroom | UCLA</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/">Relativitas Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/relativitas-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema (Media) Sosial Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2020 01:56:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[algoritma]]></category>
		<category><![CDATA[candu]]></category>
		<category><![CDATA[generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4073</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa adiktifnya media sosial sekarang. Semua platform seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan. Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan scrolling tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat. Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">adiktifnya media sosial</a></strong> sekarang. Semua <em>platform </em>seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan.</p>
<p>Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat.</p>
<p>Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media sosial juga membuat kita bisa terkoneksi dengan teman maupun keluarga kita.</p>
<p>Media sosial menjadi salah jika sudah berubah menjadi <strong>candu yang membuat kita tidak tahu harus melakukan apa</strong> ketika ponsel tidak sedang berada di jangkauan kita.</p>
<h3>Hipnotis Media Sosial</h3>
<p><div id="attachment_4078" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4078" class="size-large wp-image-4078" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4078" class="wp-caption-text">Seolah Menghipnotis (<a href="https://www.theverge.com/2018/5/8/17321006/push-notifications-whyd-you-push-that-button-episode">The Verge</a>)</p></div></p>
<p>Ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah</a>, </em>Penulis jadi memiliki pemikiran kalau salah satu alasan mengapa mayoritas generasi sekarang cenderung apatis dan kurang kritis adalah karena kurang banyak membaca sejarah.</p>
<p>Penulis pun mendiskusikannya dengan seorang kawan (sebut saja Pentol). Ia memiliki pendapat lain. Menurutnya, itu lebih dikarenakan <strong>dampak media sosial</strong>.</p>
<p>Jika kita perhatikan, sekarang ada banyak sekali hal sepele yang bisa menjadi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"><em>trending </em>dan viral dengan begitu cepatnya.</a> Kita seolah mudah untuk terbawa apa yang sedang ramai dibicarakan.</p>
<p>Menurutnya lagi, kita ini seolah sedang <strong>dihipnotis dan jadi mudah digiring oleh sesuatu</strong>. Apa yang dulu tidak kita sukai, bisa jadi kita sukai sekarang.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah aplikasi TikTok. Dulu aplikasi ini dihujat dan dianggap sebagai aplikasi <em>goblok</em>. Sekarang? Hampir semua orang mengunduhnya bahkan membuat konten di dalamnya.</p>
<p>Terdengar seperti teori konspirasi? Bisa jadi. Tapi fenomena ini ada dan kita patut waspada.</p>
<h3>Algoritma Candu</h3>
<p><div id="attachment_4079" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4079" class="size-large wp-image-4079" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4079" class="wp-caption-text">Algoritma Candu (<a href="https://evatronix.com/en/offer/product-design/product-development/algorithm-development-and-analysis"><span class="pM4Snf">Evatronix</span></a>)</p></div></p>
<p>Kenapa semua <em>platform </em>seolah tahu apa yang kita sukai berdasarkan apa yang kita <em>like</em>? Karena mereka memiliki <strong>algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama</strong> di depan layar.</p>
<p>Tidak hanya dari rekomendasi yang muncul dari beranda, algoritma ini bisa memunculkan <em>push notification </em>yang membuat kita akan tertarik untuk mengecek ponsel pintar kita.</p>
<p>Algoritma ini dapat mempelajari <em>behaviour </em>dan kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial untuk memberikan rekomendasi terbaik untuk kita. Hasilnya? Terdapat gudang data yang bisa saja disalahgunakan.</p>
<p>Tidak percaya? Tengok saja <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">skandal </a><em><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">Cambridge Analytica</a> </em>yang menyeret Facebook ke ranah hukum. Mereka dianggap terlibat penjualan data demi pemenangan Donald Trump di pemilihan presiden Amerika Serikat.</p>
<p>Teori kami berdua ini terbukti ketika Penulis menonton sebuah film dokumenter yang berjudul <em><strong>The Social Dilemma</strong>. </em>Di sana, ada banyak kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatan media sosial yang khawatir akan ciptaannya sendiri.</p>
<h3>Kita Ini Produk</h3>
<p><div id="attachment_4080" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4080" class="size-large wp-image-4080" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4080" class="wp-caption-text">Kita Ini Dijual! (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Priscilla Du Preez</a>)</p></div></p>
<p>Ketika menggunakan layanan-layanan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, ataupun YouTube, apakah kita mengeluarkan uang untuk menggunakannya? Tentu tidak.</p>
<p>Jika kita tidak mengeluarkan uang untuk suatu produk, artinya <strong>kitalah produknya!</strong></p>
<p>Kenyataan yang cukup mengerikan ini Penulis ketahui setelah menonton <em>The Social Dilemma</em>. Secara tidak sadar, kita telah dijadikan komoditas oleh layanan-layanan yang kita gunakan setiap hari.</p>
<p>Bagaimana caranya? Penulis telah menyinggung bahwa ada penjualan data kita ke pihak ketiga. Dijual ke siapa? Ke <strong>pihak pengiklan yang ingin memasarkan produknya</strong>.</p>
<p>Kenapa membutuhkan data kita? Yang namanya pengiklan tentu ingin <strong><em>audience </em>yang tepat sasaran</strong>. Melalui algoritma yang dimiliki, layanan-layanan tersebut bisa tahu siapa yang cocok untuk melihat iklan tertentu.</p>
<p>Apakah hal tersebut tidak melanggar privasi? Tidak, semua tercantum di <em>Terms &amp; Condition </em>yang biasanya kita abaikan begitu saja. Kita telah menyetujui kalau aktivitas kita akan direkam demi kebutuhan mereka.</p>
<p>Kita sudah masuk ke dalam bagian dari model bisnis raksasa ini. Semakin lama kita menggunakan media sosial, <strong>semakin banyak uang yang akan mengalir</strong> ke korporat-korporat besar tersebut.</p>
<p>Mungkin kita tidak terlalu peduli jika dijadikan sebagai produk karena merasa tidak dirugikan apa-apa. Hanya saja, ada permasalahan yang jauh lebih berbahaya, di mana generasi muda yang menjadi sasarannya.</p>
<h3>Generasi Rapuh</h3>
<p><div id="attachment_4081" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4081" class="size-large wp-image-4081" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4081" class="wp-caption-text">Generasi Rapuh (<a href="https://pngio.com/PNG/a130702-teenage-girl-crying-png.html"><span class="pM4Snf">PNGio.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation </em>karya Rhenald Khasali, generasi muda sekarang adalah <em>generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati</em>.</p>
<p>Di film <em>The Social Dilemma</em>, Generasi Z (lahir di atas tahun 1996) dianggap sebagai <em>generasi yang lebih mudah cemas, rapuh, dan tertekan</em>. Bisa dilihat ada persamaan pendapat, generasi sekarang adalah <strong>generasi yang rapuh</strong>.</p>
<p>Apa penyebabnya? Salah satunya adalah karena kehadiran media sosial. Penulis mungkin baru aktif menggunakan media sosial ketika kuliah. Mereka? Rata-rata mulai SMP, bahkan ada yang SD.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan sepulang sekolah? Istirahat sambil cek media sosial. Apa yang mereka lakukan sebelum tidur? Main media sosial. Apa yang mereka cek pertama kali ketika bangun? Media sosial.</p>
<p>Rutinitas ini membuat menjadi bukti kalau <strong>media sosial sudah menjadi candu </strong>untuk mereka. Algoritma yang dirancang oleh layanan-layanan tersebut ternyata berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.</p>
<p>Penulis melihat fenomena ini secara langsung karena dekat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Tarunanya</a>. Jika ditanya apa yang mereka akan lakukan tanpa ponsel pintarnya, mereka akan kebingungan menjawabnya.</p>
<p>Tak jarang media sosial membuat <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mereka menjadi </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>dan melalaikan aktivitas lainnya. Tak jarang yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyatanya.</p>
<p>Jika mau percaya teori konspirasi, ada sebuah <em>grand system </em>yang ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang apatis, egosentris, dan kurang kritis agar <strong>mereka mudah dikendalikan</strong> sesuai keinginan pihak tertentu.</p>
<p>Jika mereka telah mudah dikendalikan, maka bisa terjadi sesuatu yang tak kalah seram.</p>
<h3>Polarisasi Masyarakat</h3>
<p><div id="attachment_4082" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4082" class="size-large wp-image-4082" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4082" class="wp-caption-text">Berpotensi Konflik (<a href="https://apnews.com/d8a49c7c8eb345a7b39110a766798218">AP News</a>)</p></div></p>
<p>Penelitian menunjukkan semenjak media sosial menjamur dan diminati oleh hampir semua orang, <strong><a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> meningkat pesat</strong>. Contohnya adalah pemilihan presiden 2019 kemarin, bisa dilihat dua kubu saling adu mulut dan jari, bahkan secara kurang sehat.</p>
<p>Dengan menggunakan algortima candu yang dimiliki, kita akan terus melihat apa yang kita sukai. Jika kita menjadi pendukung Semar, maka berita maupun <em>feed </em>yang muncul akan terus berputar di sekitar Semar.</p>
<p>Tak jarang pula kita akan melihat <em>feed</em> yang mengolok-olok lawan dari Semar, sebut saja Togog. Akhirnya, kita akan menjadi fanatik ke Semar dan menjadi <em>haters</em>-nya Togog.</p>
<p>Contoh lain terkait Corona. Ada polarisasi di sini, antara yang percaya dan yang tidak. Mereka saling merasa paling benar dan menertawakan kubu lain.</p>
<p>Di dalam film <em>The Social Dilemma</em>, salah satu narasumber mengatakan bahwa kekhawatirannya terbesar dari adanya algoritma ini adalah <em>civil war</em>. <strong>Perang saudara</strong>.</p>
<p>Dramatisasi? Bisa jadi, tapi kemungkinan itu ada. Lihat saja bagaimana seringnya netizen yang beda kubu beradu argumen yang kurang bermanfaat. Bukan tidak mungkin pertikaian tersebut berujung kekerasan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukan ingin merasa sok suci seolah tak kecanduan media sosial. Penulis pun masih sering seperti itu. Sudah sering Penulis menceritakan bagaimana dirinya merasa kecanduan ponsel hingga akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">memutuskan untuk <em>detox</em> media sosial</a>.</p>
<p>Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan ini. Yang ekstrem, hapus aplikasi. Yang lebih ringan, batasi penggunaan, matikan notifikasi dan sistem rekomendasi, jauhkan ponsel pintar ketika hendak tidur maupun akan melakukan aktivitas lain.</p>
<p>Kalau enggak main media sosial, terus kita ngapain? Memang harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian kita, entah baca buku, kumpul dengan teman, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kita harus menyadari kalau media sosial hanyalah alat yang membantu kita untuk terhubung dengan orang lain, menampilkan karya kita, ataupun mendapatkan informasi.</p>
<p>Jangan sampai terbalik, <strong>kita yang digunakan oleh media sosial sebagai sapi perah di dalam sistem bisnis raksasa mereka</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 September 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dan menonton <em>The Social Dillema</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@coolmilo?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">camilo jimenez</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/social-media?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.netflix.com/title/81254224"><em>The Social Dilemma</em></a>, <a href="https://mojok.co/terminal/film-the-social-dilemma-nihil-solusi-dan-melahirkan-ketakutan-belaka/">Mojok 1</a>, <a href="https://mojok.co/terminal/balasan-untuk-artikel-film-the-social-dilemma-yang-katanya-nihil-solusi/">Mojok 2</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polarisasi Masyarakat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2018 08:00:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[Bhineka Tunggal Ika]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1352</guid>

					<description><![CDATA[<p>Makin ke sini, entah mengapa kita semakin terpisah menjadi dua kubu yang seolah-olah tidak bisa bersatu. Jika kamu dukung A, maka kamu bukan kawanku, kawanku hanya pendukung B. Tentu menyedihkan melihat realita seperti ini. Memilih adalah bagian dari hidup. Kita seharusnya memiliki hak sepenuhnya untuk memilih berbagai macam aspek kehidupan, termasuk memilih pemimpin. Mengapa berbeda pilihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">Polarisasi Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Makin ke sini, entah mengapa kita semakin terpisah menjadi dua kubu yang seolah-olah tidak bisa bersatu. Jika kamu dukung A, maka kamu bukan kawanku, kawanku hanya pendukung B. Tentu menyedihkan melihat realita seperti ini.</p>
<p>Memilih adalah bagian dari hidup. Kita seharusnya memiliki hak sepenuhnya untuk memilih berbagai macam aspek kehidupan, termasuk memilih pemimpin.</p>
<p>Mengapa berbeda pilihan harus membuat kita berpisah? Mengapa berbeda pilihan harus membuat kita berubah dari kawan menjadi lawan?</p>
<p>Alangkah indahnya dengan perbedaan justru semakin mempererat persaudaan kita. Bukankah Bhinneka Tunggal Ika artinya walau berbeda-beda tetapi tetap satu? Lantas mengapa karena hanya berbeda pilihan di antara dua orang lantas memisahkan kita?</p>
<p>Pengaruh media, terutama media sosial, memang menjadi salah satu faktor yang patut bertanggungjawab atas terjadinya fenomena ini. Cepatnya tersebar informasi, baik yang fakta maupun hoax, memiliki andil yang besar terhadap perpecahan yang tengah terjadi.</p>
<p>Pemilahan informasi secara obyektif seharusnya dilakukan oleh semua orang. Jangan hanya membaca berita yang baik-baik tentang calon yang kita dukung, atau baca berita yang menceritakan keburukan lawan calon pilihan kita saja.</p>
<p>Bacalah semua berita, baik maupun buruk tentang orang yang kita dukung maupun lawannnya. Seandainya kita dapat berpikir terbuka seperti itu, fanatisme yang membabi buta bisa ditekan sekecil mungkin (baca juga: <a href="http://whathefan.com/2018/05/25/akar-fanatisme-membabi-buta/">Akar Fanatisme Membabi Buta</a>).</p>
<p>Itu faktor eksternal, bagaimana dengan faktor dari dalam diri? Pertama, adanya fanatisme yang berlebihan seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya. Sikap seperti itu membuat kita cenderung menutup mata terhadap kekurangan calon pilihan kita, dan membesar-besarkan kesalahan lawan calon pilihan kita.</p>
<p>Selain itu kurang menghargai orang lain, termasuk pilihannya, menjadi pemicunya. Seandainya kita bisa menghargai orang lain, termasuk calon yang dipilih oleh orang tersebut, rasanya polarisasi masyarakat tidak akan terjadi, atau setidaknya bisa diminimalisir.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk berpolitik dengan sehat. Kita jangan mau dibagi menjadi dua kubu yang tak bisa bersatu bagaikan air dan minyak. Kita tunjukkan bersama bahwa bangsa ini sudah siap menerima perbedaan, karena kita selalu <strong>Bhinneka Tunggal Ika</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 18 September 2018, terinspirasi setelah mengamati timeline Twitter dan Instagram yang berbau politik</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/XUCo6yXaV8g?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Rishabh Butola</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/two?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">Polarisasi Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
