<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>self-care Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/self-care/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/self-care/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Nov 2021 11:35:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>self-care Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/self-care/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Healing dengan Menjadi Produktif</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2021 15:42:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[healing]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5457</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa healing dengan cara yang unik: Menghancurkan barang. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang safety. Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada nyinyir. Banyak yang menawarkan alternatif healing yang lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">Healing dengan Menjadi Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di Twitter, sedang viral mengenai sebuah tempat di Jakarta Utara yang menyediakan jasa <em>healing </em>dengan cara yang unik: <strong>Menghancurkan barang</strong>. Kita bisa membayar nominal tertentu untuk merusak beberapa barang hingga puas, tentu kita mengenakan pakaian yang <em>safety</em>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter wp-block-embed-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="in" dir="ltr">Buat yang butuh healing nih, ada yang udah nyobain Breakroom di Jakarta Utara ini? Mulai dari Rp100.000 per orang per 20 menit. <br><br>Ruangannya ber-AC dan katanya private. Ada CCTV gak ya di dalamnya? 😶<br><br>Cr: tiktok <a href="https://t.co/viMoYlVvem">https://t.co/viMoYlVvem</a> <a href="https://t.co/FTIWpTyTGn">pic.twitter.com/FTIWpTyTGn</a></p>&mdash; pancasyah  (@pancasyah) <a href="https://twitter.com/pancasyah/status/1462716719743455236?ref_src=twsrc%5Etfw">November 22, 2021</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p>Hal ini memicu beragam komentar yang lucu, walau kebanyakan bernada <em>nyinyir</em>. Banyak yang menawarkan alternatif <em>healing </em>yang lebih rasional, mulai beli makan, jalan-jalan, beribadah, menulis jurnal, pergi ke psikolog, dan lain sebagainya.</p>



<p>Beberapa netizen menyebutkan betapa berbahayanya <em>healing </em>dengan melampiaskan kemarahan seperti itu. Lucunya, ada yang bilang kalau marah harus pergi ke sebuah tempat, pilih barang yang ingin dihancurkan, terus pakai pakaian tertentu, marahnya keburu hilang.</p>



<p>Penulis sendiri merasa tidak perlu memberikan justifikasi apakah <em>healing </em>dengan melampiaskan kemarahan pada barang menjadi cara yang benar. Toh, masing-masing orang memiliki cara <em>healing </em>masing-masing.</p>



<p>Pada tulisan ini, Penulis hanya ingin sekadar menawarkan alternatif pilihan yang murah, tapi butuh <em>effort </em>yang tidak sedikit: <strong>Menjadi produktif</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Melampiaskan Emosi Menjadi Produktif</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5459" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Semua Butuh Healing (<a href="https://unsplash.com/@arash_payam">arash payam</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebagai makhluk yang punya perasaan, wajar jika manusia kerap mengalami berbagai bentuk emosi yang tidak menyenangkan. Sedih, marah, kecewa, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama jika sedang diterpa masalah.</p>



<p>Seringnya, termasuk pada Penulis, bentuk emosi negatif akan memengaruhi keseharian kita. Rasanya jadi malas untuk melakukan sesuatu, susah untuk fokus, mudah melamun, hingga <em>mood </em>yang naik turun secara drastis.</p>



<p>Nah, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan <em>self-healing</em>. Mengobati diri sendiri dengan beragam cara. Bagi Penulis, salah satu cara <em>healing </em>yang paling efektif dan bermanfaat adalah dengan menjadi produktif.</p>



<p>Ibaratnya, kita menyalurkan dan memfokuskan energi kita untuk melakukan sesuatu yang positif. Segala perasaan negatif yang sedang kita rasakan, kita salurkan dengan berbagai aktivitas yang membawa manfaat untuk diri kita sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5461" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Menulis To-do List (<a href="https://unsplash.com/@glenncarstenspeters">Glenn Carstens-Peters</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau Penulis biasanya akan &#8220;memaksa&#8221; dirinya untuk menjadi produktif dengan membuat <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/"><em>to-do list </em>harian</a>. Ketika menuliskannya, seperti ada dorongan dari dalam untuk menyelesaikan apa yang sudah ditulis.</p>



<p>Hal produktif lain yang bisa dilakukan adalah melakukan rutinitas. Di pagi hari misalnya, kita bisa berolahraga, membaca buku, membersihkan rumah, mandi pagi, mempersiapkan sarapan, dan lain sebagainya. Di malam hari kita bisa menulis jurnal ataupun meditasi.</p>



<p>Kalau Penulis, di samping rutinitas kerjanya, biasanya akan mengisi waktu dengan menulis blog. Intinya, kita harus menyibukkan diri dengan beraktivitas (secara positif) agar perasaan-perasaan negatif tersebut menjadi terabaikan.</p>



<p>Selain itu, menjadi produktif juga menciptakan perasaan bahagia bagi diri. Rasanya hidup jadi lebih menyenangkan begitu mengetahui kalau hari ini kita sudah banyak melakukan hal yang berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5460" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Boleh Kok Sesekali Nonton Film (<a href="https://unsplash.com/@freestocks">freestocks</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu kita boleh melakukan aktivitas santai seperti menonton film, menonton YouTube, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>, bermain <em>game</em>, dan lain sebagainya. Anggap saja sebagai selingan agar kita tidak merasa jenuh</p>



<p>Hanya saja, aktivitas konsumtif tersebut justru bisa membuat kita memiliki perasaan bersalah jika dilakukan secara berlebihan. Menurut Penulis, sebaiknya aktivitas konsumtif seperti itu tidak dijadikan sebagai cara <em>healing</em> utama.</p>



<p>Mungkin memang cara ini (menjadi produktif) tidak cocok untuk semua orang. Hanya saja, Penulis merasa beraktivitas secara produktif dapat meningkatkan <em>mood </em>dan mengusir perasaan-perasaan negatif di pikiran, terutama untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">kaum <em>overthinker</em></a><em> </em>seperti Penulis.</p>



<p>Lawan utama dari cara <em>healing </em>yang satu ini adalah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a>. Kalau kita memang benar-benar ingin <em>healing</em>, maka kita harus memiliki tekad yang kuat untuk mengusir rasa malas tersebut.</p>



<p>Jadi, cara <em>healing </em>mana yang paling sesuai dengan Pembaca? Coba tuliskan di kolom komentar!</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 23 November 2021, terinspirasi dari viralnya postingan di Twitter tentang tempat <em>healing </em>berbayar</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@frozen_warmth">William Farlow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">Healing dengan Menjadi Produktif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari-Hari Kaum Overthinker</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2021 14:19:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[overthinker]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5367</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang yang mengenal Penulis dengan baik, pasti paham kalau Penulis termasuk overthinker tingkat akut. Mulai masalah pelik hingga yang sepele, semua dipikirkan dengan rumit di dalam pikiran. Mungkin orang-orang akan menyarankan, &#8220;Ya udah tinggal distop aja overthinking-nya,&#8221; seolah itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Percayalah kawan, kami para kaum overthinker pun sejatinya tidak ingin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">Hari-Hari Kaum Overthinker</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Orang-orang yang mengenal Penulis dengan baik, pasti paham kalau Penulis termasuk <em>overthinker </em>tingkat akut. Mulai masalah pelik hingga yang sepele, semua dipikirkan dengan rumit di dalam pikiran.</p>



<p>Mungkin orang-orang akan menyarankan, &#8220;Ya udah tinggal distop aja <em>overthinking</em>-nya,&#8221; seolah itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Percayalah kawan, kami para kaum <em>overthinker </em>pun sejatinya tidak ingin seperti ni.</p>



<p>Untuk lebih memahami seperti apa jalannya kaum <em>overthinker</em>, Penulis akan mencoba menjabarkannya melalui tulisan ini. Selain itu, Penulis mungkin juga akan merangkum beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengusir <em>overthinking </em>tersebut.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Dirasakan oleh Kaum <em>Overthinker</em></h2>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari postingan dari akun Instagram @meaningful.me yang lewat begitu saja di linimasa Penulis. Karena merasakan semua yang tertuang di sana, Penulis memutuskan untuk menyebarkannya di sini. Berikut adalah postingannya: </p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CVUe_m6va3a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CVUe_m6va3a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CVUe_m6va3a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by Living with Meaning (@meaningful.me)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Sebagai rangkuman, isi dari postingan tersebut adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>&#8220;Seperti ada suara-suara di kepala yang terus mengingatkanku pada kesalahan yang pernah kulakukan di masa lalu. Membuatku takut melangkah..&#8221;</li><li>&#8220;Selalu mikir kalau orang lain balas chat lama dan singkat-singkat itu tandanya mereka nggak suka aku, aku kurang asik, atau aku nggak pantas..&#8221;</li><li>&#8220;Semua hal dipikirin, sampai hal-hal kecil dan nggak terlalu penting juga ikutan dipikirin, kadang sampai bikin maagku kambuh, stres, susah konsentrasi..&#8221;</li><li>&#8220;Selalu menyalahkan diri sendiri saat hubunganku dengan seseorang berakhir, seolah semuanya gara-gara aku, padahal bukan salahku juga..&#8221;</li><li>&#8220;Hati-hati banget memilih kata-kata untuk disampaikan ke orang lain karena takut menyinggung. Sekalinya terlanjur salah ngomong langsung kepikiran seharian..&#8221;</li><li>&#8220;Suka susah tidur karena rasanya ada aja yang mondar-mandir di kepala. Muncul pikiran-pikiran yang nggak ada habisnya. Seperti otak nggak mau diajak istirahat..&#8221;</li><li>&#8220;Suka cemas sama masa depan, takut nggak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang tentang hidupku, makin dipikirin makin stres tapi bingung harus ngapain..&#8221;</li></ul>



<p>Ketika melihat di halaman komentar, rata-rata semua mengakui kalau semua pernah mereka alami, bahkan bisa dibilang setiap hari. Mereka juga mengakui kalau semua pikiran-pikiran di atas sejatinya membuat capek, tapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti.</p>



<p><em>Overthinking </em>jelas hal yang buruk dan bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik kita. Tak jarang <em>overthinking </em>juga akan mendorong kita untuk merasa depresi, stres, <em>insecure</em> sepanjang waktu, dan meningkatkan risiko penyakit yang datang seperti asam lambung dan sakit kepala.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengatasi <em>Overthinking</em></h2>



<p>Sudah banyak cara yang coba Penulis lakukan untuk mengatasi <em>overthinking </em>yang Penulis alami. Menulis blog, meditasi, istighfar, menulis jurnal, interaksi sosial, menyibukkan diri dengan berbagai hobi, cerita ke teman, melakukan kegiatan produktif, dan lain sebagainya.</p>



<p>Ketika kegiatan itu dilakukan, <em>overthinking </em>bisa berhenti karena fokus kita sedang berada pada aktivitas tersebut. Masalahnya ketika sedang istirahat atau sedang sendiri seperti ketika mau tidur, pikiran <em>overthinking </em>tersebut tiba-tiba datang tanpa diundang.</p>



<p>Banyak yang menyarankan untuk melakukan sugesti untuk berhenti berpikir. Penulis juga sudah mencoba hal tersebut, tetapi hasilnya Penulis tetap &#8220;kalah&#8221; dengan pikirannya sendiri. Padahal dalam filosifi <em>stoic</em>, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri sendiri</a>.</p>



<p>Mungkin memang Penulis saja yang kurang &#8220;tangguh&#8221; dalam melawan <em>overthinking</em>-nya. Seharusnya Penulis bisa melawan semua pikiran-pikiran negatif tersebut untuk enyah dan memikirkan hal-hal positif.</p>



<p>Penulis juga harus bisa mencari sumber darimana <em>overthinking </em>ini datang. Ketika sudah menemukannya, kita harus bisa melakukan <em>checkmate </em>sehingga pikiran kita tidak bisa mendebat lagi kalau apa yang kita pikirkan sebenarnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Menyibukkan diri bisa menjadi pelarian yang efektif sebenarnya, apalagi jika kita melakukan aktivitas yang produktif. Merasa produktif akan membuat <em>mood </em>kita menjadi baik sehingga <em>overthinking </em>tak mudah datang menghampiri.</p>



<p>Berfokus pada solusi, tidak mengulang-ulang permasalahan yang sama, dan memperbanyak bersyukur juga seharusnya bisa menjadi solusi jangka panjang yang baik. Mungkin Penulis kurang di sana selama ini.</p>



<p>Jika para Pembaca sekalian ada yang memiliki tips lain untuk mengatasi <em>overthinking</em>, bolehlah berbagi tipsnya melalui kolom komentar. Mari kita berusaha bersama-sama untuk memerangi <em>overthinking </em>di dalam pikiran kita.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 24 Oktober 2021, terinspirasi setelah melihat postingan dari akun <a href="https://www.instagram.com/meaningful.me/">Living with Meaning</a></p>



<p>Foto: <a href="https://smallbusinessify.com/how-to-overcome-overthinking/">SmallBusinessify.com</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://smallbusinessify.com/how-to-overcome-overthinking/">How To Overcome Overthinking &#8211; SmallBusinessify.com</a></li><li><a href="https://hellosehat.com/mental/stres/overthinking/">Tanda-tanda Overthinking, Serta Alasan Anda Perlu Menghindarinya (hellosehat.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">Hari-Hari Kaum Overthinker</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menghargai Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2021 12:07:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[overthinking]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[self-love]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5215</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis. Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri. Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun <a href="https://www.instagram.com/komikin_ajah/">@komikin_ajah</a>. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.</p>



<p>Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul <em>Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.</em></p>



<p>Ketika di-<em>swipe </em>ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a> ini sangat <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui <em>embed link </em>berikut ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-instagram wp-block-embed-instagram"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="13" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/CSWqwt7pZl3/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank">A post shared by KOMIK KESEHATAN MENTAL🔎 (@petualanganmenujusesuatu)</a></p></div></blockquote><script async src="//platform.instagram.com/en_US/embeds.js"></script>
</div></figure>



<p>Karena merasa <em>related</em>, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">1. <em>Negative Self-Labeling</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg" alt="" class="wp-image-5220" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-1-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Negative Self-Labeling (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya <em><strong>negative self-labeling</strong></em><strong> </strong>alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.</p>



<p>Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.</p>



<p>Mungkin kita merasa diri ini emosian, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/">mudah <em>baper</em></a>, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, <em><a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">toxic</a></em>, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.</p>



<p>Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.</p>



<p>Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. <em>Disqualifying the Positives</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg" alt="" class="wp-image-5219" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-2-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Disqualifying the Positives (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan <em><strong>disqualifying the positive</strong></em> atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.</p>



<p>Entah mengapa ketika kita meraih <em>achievement </em>atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan <em>denial </em>kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.</p>



<p>Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.</p>



<p>Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan <em>nyinyiran</em> orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.</p>



<p>Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak <em>related </em>dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. <em>Personalisation &amp; Blaming</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg" alt="" class="wp-image-5218" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-3-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Personalisation &amp; Blaming ( <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang <em><strong>personalisation &amp; blaming</strong> </em>adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.</p>



<p>Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap <a href="https://whathefan.com/karakter/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan</a>. Teman balas singkat, merasa kita merusak <em>mood</em>-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/berhenti-menyalahkan-diri-sendiri/">merasa bersalah</a> sudah membuat dia marah.</p>



<p>Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.</p>



<p>Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.</p>



<p>Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. <em>Jumping to Conclusion</em>s</h2>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="601" height="600" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg" alt="" class="wp-image-5217" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4.jpg 601w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/cara-menghargai-diri-sendiri-4-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 601px) 100vw, 601px" /><figcaption>Jumping to Conclusion (<a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a>)</figcaption></figure>



<p>Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: <em>overthinking</em>. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.</p>



<p><em><strong>Jumping to conclusion</strong> </em>atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari <em>overthinking</em>. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.</p>



<p>Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.</p>



<p>Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti <em>mood </em>teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.</p>



<p>Cobalah untuk <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-berpikir/">berhenti berpikir</a>. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a> </em>yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. </p>



<p>Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti <em>overthinking </em>itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.</p>



<p>Sifat <em>overthinking </em>tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang <em>toxic</em>, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.</p>



<p><strong>Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?</strong></p>



<p>Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa <em>related </em> bisa  lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari <a href="https://www.instagram.com/petualanganmenujusesuatu/">@petualanganmenujusatu</a></p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@giulia_bertelli">Giulia Bertelli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/">Cara Menghargai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/cara-menghargai-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 12:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kim Suhyun]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3611</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika membeli sebuah buku, Penulis biasanya akan mencari yang padat akan tulisan. Penulis sama sekali tidak tertarik dengan buku yang didominasi oleh gambar dan tulisan-tulisan fancy. Cerita berubah ketika Penulis menemukan buku Hidup Apa Adanya yang ditulis oleh Kim Suhyun, walau bukunya memang lebih berisi dibandingkan, katakanlah, buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.  Buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika membeli sebuah buku, Penulis biasanya akan mencari yang padat akan tulisan. Penulis sama sekali tidak tertarik dengan buku yang didominasi oleh gambar dan tulisan-tulisan <em>fancy</em>.</p>
<p>Cerita berubah ketika Penulis menemukan buku <strong><em>Hidup Apa Adanya </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Kim Suhyun</strong>, walau bukunya memang lebih berisi dibandingkan, katakanlah, buku <em><a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-nkcthi-bagian-1/">Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini</a>. </em></p>
<p>Buku ini menganggap dirinya sebagai sebuah kumpulan <em>to-do-list </em> yang harus kita lakukan dalam menghadapi dunia yang makin keras ini. Dengan tema <em>self-care </em>yang diangkat, ternyata buku ini sangat <em>related </em>dengan kehidupan kita.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Meskipun terlihat sedikit tebal, kita bisa menghabiskan buku ini secara cepat karena isinya yang tidak terlalu padat. Buku ini dibagi menjadi enam bagian utama. yakni:</p>
<ul>
<li>Agar bisa hidup dengan menghormati diri sendiri</li>
<li>Agar bisa hidup sebagai diriku sendiri</li>
<li>Agar tidak tenggelam dalam rasa cemas</li>
<li>Agar bisa hidup bersama dengan yang lainnya</li>
<li>Untuk dunia yang lebih baik</li>
<li>Untuk kehidupan yang lebih berarti dan juga lebih baik</li>
</ul>
<p>Bisa dilihat dari judul-judul bagiannya, buku ini berusaha membahas berbagai permasalahan yang kerap melanda generasi milenial. Setiap bagian terdiri dari beberapa subbagian yang terkadang hanya terdiri dari dua halaman.</p>
<p>Bagian pertama mengajak kita untuk lebih <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a> tanpa perlu memedulikan perkataan orang lain. Di zaman dengan <em>social pressure </em>yang begitu tinggi seperti sekarang, kita sering melupakan hal-hal fundamental.</p>
<p>Ada beberapa tips yang diberikan oleh Kim, seperti menghapus berbagai angka dalam kehidupan dan tidak terpengaruh perkataan orang lain.</p>
<p>Bagian kedua mengajak kita untuk menjadi diri sendiri tanpa terpengaruh orang lain. Kita jangan sampai tunduk begitu saja pada anggapan umum atau standar masyarakat pada umumnya.</p>
<p>Bagian ketiga membahas mengenai rasa <em>insecure </em>yang kerap melanda kita yang masih muda ini. Dengan tingginya intesitas kita bermain media sosial, secara tidak langsung kita akan membandingkan diri kita dengan orang lain.</p>
<p>Padahal, kebanyakan orang hanya akan memposting sisi bahagia mereka atau justru hanya sekadar pencitraan semata. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain.</p>
<p>Bagian empat membahas bagaimana kita hidup bersosial dengan lebih baik di masyarakat. Bagian lima membahas bagaimana kita harus menghadapi dunia ini dan bagian enam memberi beberapa tips agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih baik.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Hidup Apa Adanya</em></h3>
<p>Isi dari buku ini merupakan hasil pemikiran dari Kim Suhyun atas kehidupannya sendiri. Ia sering berpikir buruk tentang dirinya sendiri, sesuatu yang mungkin juga sering kita lakukan.</p>
<p>Ia pun berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan hasilnya adalah buku ini. Penulis menganggap buku ini sebagai buku motivasi dengan gaya yang berbeda.</p>
<p>Buku ini mengajak kita untuk menikmati hidup ini apa adanya agar kita bisa bahagia dengan mudah. Bagi orang-orang yang kerap merasa <em>insecure</em>, buku ini hadir sebagai pelipur lara.</p>
<p>Sang penulis buku ini hanyalah seorang biasa yang menjalani rutinitas hidupnya seperti manusia kebanyakan (setidaknya itu yang terlihat dari buku ini).</p>
<p>Oleh karena itu, buku ini terasa amat dekat dan <em>related </em>dengan kehidupan kita yang biasa-biasa ini. Apalagi, bahasa yang digunakan juga bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dicerna.</p>
<p>Salah satu poin yang kerap dibahas di buku ini adalah tidak memedulikan pendapat atau penilaian <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">orang lain yang <em>judgemental</em></a>. Kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, jadi jangan terlalu terpengaruh dengan kata orang lain.</p>
<p>Pikiran Penulis menjadi menjadi lebih terbuka tentang bagaimana menikmati hidup, menjadi diri sendiri, hingga menerima keadaan yang sedang dijalani.</p>
<p>Direkomendasikan untuk semua orang yang kerap merasa <em>insecure </em>terhadap dunia yang makin kejam.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Hidup Apa Adanya</em> karya Kim Suhyun</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-apa-adanya/">Setelah Membaca Hidup Apa Adanya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peduli dengan Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2020 10:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[self-care]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya. Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya.</p>
<p>Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. Contoh paling mudah adalah aktif di berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mulai dari berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti hingga <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">merintis Karang Taruna</a>.</p>
<p>Memberikan perhatian kepada orang lain juga merupakan bentuk kepedulian. Menanyakan bagaimana kabar, memberi semangat ketika orang lain <em>down</em>, merupakan contoh kecil lainnya.</p>
<p>Hanya saja, jangan sampai kita terlalu peduli dengan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri.</p>
<h3>Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Bagi sebagian besar orang, yang paling mampu peduli kepada dirinya adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada kepedulian orang-orang yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Artinya, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri, siapa yang akan peduli? Berharap orang lain akan peduli? Mungkin ada yang mendapatkan <em>privilege </em>seperti itu, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.</p>
<p>Penulis sudah merasakan sendiri bagaimana muncul rasa kecewa karena berharap kepada manusia. Berharap orang lain akan peduli menjadi salah satunya.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk memedulikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum memedulikan orang lain. Bagaimana caranya?</p>
<h3>Cara Peduli dengan Diri Sendiri</h3>
<p>Ada banyak cara untuk bisa peduli kepada diri sendiri. Hidup sehat, makan-makanan bergizi, pola tidur teratur, olahraga rutin, menjadi contoh-contoh mudahnya walaupun Penulis sendiri belum bisa melakukannya.</p>
<p>Cara yang lebih detail adalah <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a>. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, kita wajib mencintai diri kita sendiri. Hal ini mungkin susah untuk orang yang sering merasa <em>insecure</em>, tapi bisa dilakukan.</p>
<p>Selain itu, buat kita bahagia sesering mungkin. Kalau kata Chelsea Islan, <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">jangan lupa bahagia</a>. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bahagia, tapi jangan sampai lupa kalau kita butuh kebahagiaan.</p>
<p>Bahagia juga sebaiknya harus bergantung kepada diri sendiri, bukan dari orang lain. Kita terkadang butuh faktor eksternal untuk bisa merasa bahagia (membeli barang, bertemu orang tersayang, dll), tapi sebaiknya kebahagiaan itu berawal dari diri sendiri.</p>
<p>Memanfaatkan waktu sebaik mungkin juga harus dilakukan. Jangan sampai waktu kita banyak dihabiskan dengan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/melepaskan-diri-dari-cengkeraman-smartphone/"><em>scrolling </em>media sosial</a> atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">main game</a> hingga lupa waktu.</p>
<p>Untuk menumbuhkan kepedulian kepada diri sendiri, akhir-akhir ini Penulis sering membaca buku dengan tema <em>self-care </em>ataupun buku-buku bertemakan kebahagiaan.</p>
<p>Seorang teman secara bercanda mengatakan bahwa Penulis melakukan itu karena tidak ada yang perhatian, sehingga harus diri sendiri yang melakukannya.</p>
<p>Intinya, ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Peduli dengan orang lain itu sama sekali tidak ada salahnya. Kalau bisa malah <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">peduli dengan ikhlas</a>, peduli tanpa mengharapkan timbal balik apapun. Memang berat, tapi bisa dilatih agar terbiasa.</p>
<p>Walaupun begitu, jangan sampai kita terlalu memedulikan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri. Jiwa dan raga kita membutuhkan perhatian dari tuannya karena kalau bukan dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi dari apa hayo?</p>
<p>Foto: <a href="https://analytichealer.com/your-needs-matter/">Analytic Healer</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-diri-sendiri/">Peduli dengan Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
