<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>siswa Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/siswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/siswa/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:05:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>siswa Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/siswa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2020 11:28:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Haidar Bagir]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut. Terakhir, Penulis membeli buku berjudul Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia yang ditulis oleh Haidar Bagir. Penulis membelinya bersamaan dengan novel Guru Aini dan mendapatkan potongan harga. Apa Isi Buku Ini? Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni Falsafah Pendidikan, Konsep dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang suka memperhatikan dunia pendidikan, Penulis suka membeli buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan topik tersebut.</p>
<p>Terakhir, Penulis membeli buku berjudul <strong><em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em></strong>yang ditulis oleh <strong>Haidar Bagir</strong>. Penulis membelinya bersamaan dengan novel <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-guru-aini/"><em>Guru Aini</em></a> dan mendapatkan potongan harga.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Buku ini terdiri dari tiga bagian utama, yakni <em><strong>Falsafah Pendidikan</strong>, <strong>Konsep dan Metode Pendidikan</strong>, </em>dan <em><strong>Falsafah Pendidikan Islam</strong>. </em>Masing-masing bagian terdiri dari beberapa esai yang satu lingkup.</p>
<p>Bagian pertama membahas seputar konsep dasar pendidikan. Pada beberapa kesempatan, penulis buku ini menyisipkan kritik terhadap sistem pendidikan yang kita anut.</p>
<p>Yang paling utama adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Apa tujuan dari para murid harus belajar di sekolah? Mencetak generasi penerus yang berakhlak dan penuh imajinasi atau sekadar mencetak calon karyawan top?</p>
<p>Pendidikan seharusnya mampu melihat potensi masing-masing muridnya, apapun bentuknya. Tidak semua murid memiliki bakat di bidang akademis, ada yang memiliki bakat di bidang seni, olahraga, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ironisnya, pendidikan kita sekarang cenderung menyamaratakan muridnya. Contoh, murid dianggap pintar jika mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran matematika. Nilai di atas kertas seolah menjadi satu-satunya tolak ukur siswa.</p>
<p>Selain itu, Haidar juga membahas bagaimana posisi manusia menghadapi saingan terbesarnya di masa depan: <em>Artificial Intelligence </em>(AI). Ada juga bab yang membahas pentingnya menyeimbangkan IQ, EQ, dan SQ pada murid.</p>
<p>Pada bagian kedua, Haidar lebih membahas mengenai sistem pendidikan yang ada di Indonesia termasuk kurikulumnya. Apakah kurikulum yang kita gunakan sekarang sudah tepat ataukah terasa berlebihan?</p>
<p>Ada satu bab khusus yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju seperti Finlandia dan China. Kita diajak untuk mencari metode pembelajaran yang terbaik, termasuk mempertanyakan kehadiran <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">Ujian Nasional</a>.</p>
<p>Bagian terakhir membahas mengenai dasar-dasar pendidikan Islam di sekolah, termasuk pendidikan akhlak. Di bandingkan dua bagian sebelumnya, bagian ini mendapatkan porsi yang lebih sedikit.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</h3>
<p>Buku ini berukuran kecil dan harganya cukup murah (30 ribuan), namun isinya sangat berbobot. Penulis tidak bisa memahami buku ini secara keseluruhan karena bahasanya cukup berat dan banyak istilah yang tidak dipahami.</p>
<p>Walaupun begitu, buku ini akan menambahkan banyak wawasan kita seputar dunia pendidikan. Meskipun tidak bisa menangkap semuanya, poin-poin utamanya mampu disampaikan dengan baik.</p>
<p>Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, buku ini memiliki banyak sekali kritik terhadap sistem pendidikan kita. Mulai dari kurikulum yang terlalu padat hingga penilaian yang hanya berdasarkan rata-rata nilai, adalah sekelumit permasalahan pendidikan kita.</p>
<p>Apalagi, ada halaman-halaman yang berisikan kalimat kunci dari masing-masing esai untuk memudahkan kita mencari inti dari tulisan. Buku ini Penulis rekomendasikan untuk semua kalangan yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.</p>
<p>Nilainya: <strong>4.0/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 8 Maret 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia </em>karya Haidar Bagir.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-memulihkan-sekolah-memulihkan-manusia/">Setelah Membaca Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jan 2020 16:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Finlandia]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju. Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini. Seandainya Mata Pelajaran Berkurang Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-1/">tulisan sebelumnya</a>, kali ini Penulis ingin sedikit berimajinasi bagaimana seandainya Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan negara-negara maju.</p>
<p>Oleh karena itu, mohon maaf apabila ada yang tak sependapat dengan bayangan Penulis yang ada di bawah ini.</p>
<h3>Seandainya Mata Pelajaran Berkurang</h3>
<div id="attachment_3266" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3266" class="size-large wp-image-3266" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3266" class="wp-caption-text">Jam Belajar Dikurangi? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.expatica.com%2Fuk%2Feducation%2Fchildren-education%2Fschool-holidays-in-the-uk-214859%2F&amp;psig=AOvVaw3HfkerVRCkhPolBE7Xi5xq&amp;ust=1578932764725974" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjBz_6Fvf7mAhWLfH0KHTf7DXQQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Expatica</span></a>)</p></div>
<p>Imajinasi ini akan dimulai dengan berkurangnya mata pelajaran dan jam belajar di sekolah. Kira-kira, apa yang dilakukan oleh siswa Indonesia?</p>
<p>Yang jelas, para siswa bisa fokus untuk memilih pelajaran yang sekiranya akan dibutuhkan ketika sudah lulus nanti, entah untuk melanjutkan studi di universitas ataupun bekerja.</p>
<p>Dengan banyaknya waktu luang, mungkin ada yang memanfaatkannya untuk mengikuti kegiatan ekskul secara lebih maksimal. Mereka merasa memiliki bakat di bidang di luar akademik, sehingga mereka ingin mengasahnya mumpung jam belajarnya lebih sedikit.</p>
<p>Mungkin ada yang memanfaatkannya untuk rebahan di rumah saja. Kalau yang satu ini tentu akan merugikan diri sendiri karena menghambur-hamburkan waktu yang dimiliki.</p>
<p>Pasti tak sedikit yang memanfaatkannya untuk (<em>ehem</em>) memadu kasih dengan pacar tercinta. Selama ini waktu untuk <em>ngedate </em>sangat terbatas, sehingga berkurangnya mata pelajaran bisa menambah waktu untuk melakukan hal tersebut.</p>
<p>Pertanyaannya, mana yang akan lebih dominan? Yang memanfaatkan waktunya untuk hal produktif atau yang hanya bermalasan sambil sesekali main game? Jawabannya Penulis serahkan kepada pembaca.</p>
<h3>Seandainya Mengutamakan Pendidikan Karakter</h3>
<div id="attachment_3267" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3267" class="size-large wp-image-3267" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3267" class="wp-caption-text">Pendidikan Karakter (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.todayonline.com/voices/reinforce-cleaning-habit-consistently-so-it-becomes-norm-students" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwic8bPLvf7mAhVE6nMBHdqzBWEQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">todayonline.com</span></a>)</p></div>
<p>Salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah membuat para murid berfokus pada nilai, bukan ilmu yang akan didapatnya. Tidak hanya itu, pendidikan karakter pun dirasa sangat kurang.</p>
<p>Penulis akan melakukan perbandingan dengan Jepang. Meskipun negara maju, Jepang tidak mengutamakan ilmu pengetahuan. Mereka lebih mengutamakan pendidikan etika dan moral.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah bagaimana para siswa diajarkan untuk membersihkan ruang kelasnya sendiri. Zaman penulis sekolah dulu, masih ada yang namanya daftar piket. Entah bagaimana dengan sekarang.</p>
<p>Selain itu, mereka juga sangat dilatih untuk disiplin dan mencintai negara dan budayanya sendiri. Selain itu, para murid juga didorong untuk <a href="https://whathefan.com/animekomik/klub-sekolah-ala-anime/">mengikuti berbagai klub</a> untuk mengembangkan bakat mereka.</p>
<div id="attachment_3268" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3268" class="size-large wp-image-3268" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3268" class="wp-caption-text">Festival Sekolah (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://darrellinjapan.wordpress.com/2008/11/01/274/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj2ptCYvf7mAhUWdCsKHaO9DTgQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Darrell in Japan &#8211; WordPress.com</span></a>)</p></div>
<p>Ada satu poin yang menarik perhatian Penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/udah-tua-kok-masih-nonton-anime/">ketika menonton anime</a>. Hampir di semua anime yang bertemakan sekolah, selalu ada yang namanya festival sekolah.</p>
<p>Pada ajang ini, tiap kelas bisa membuat apapun mulai dari kafe hingga rumah hantu. Kalau kebijakan ini diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia, kira-kira para siswa akan membuat apa ya?</p>
<p>Berbagai kombinasi tersebut membuat orang-orang Jepang terkenal disiplin, pekerja keras, hormat kepada orang yang lebih tua, walaupun menjadi sedikit kaku.</p>
<p>Pendidikan moral itu terkesan sepele, tapi penting. Penulis sering mengelus dada ketika melihat ada murid yang berani berbuat kurang ajar kepada gurunya. Parahnya, pihak orangtua pun membela anaknya yang jelas-jelas salah.</p>
<p>Bukan berarti di Jepang tidak ada murid bandel. Penulis yakin di Jepang pun masih banyak anak-anak nakal yang suka berbuat onar. Walaupun begitu, rasanya jumlahnya masih kalah dari murid-murid yang bermoral.</p>
<p>Dampaknya negatifnya pun ada, di mana tingkat stres yang sampai memicu bunuh diri di Jepang cukup tinggi. Tapi, kalau terlalu <em>santuy </em>rasanya juga kurang baik.</p>
<h3>Penghapusan Ujian Nasional, Tepat Kah?</h3>
<div id="attachment_3270" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3270" class="size-large wp-image-3270" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/indonesia-tanpa-ujian-nasional-6.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3270" class="wp-caption-text">UN Dihapus (<a class="o5rIVb a-no-hover-decoration irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://dnk.id/artikel/aprilia-kumala/surat-perpisahan-untuk-ujian-nasional-dan-sejarahnya" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjxrartvv7mAhV0xzgGHSnvBscQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">DNK.id</span></a>)</p></div>
<p>Salah satu hal yang tak perlu lagi berandai-andai lagi adalah penghapusan Ujian Nasional (UN). Kebijakan ini telah ditetapkan dan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.</p>
<p>Negara yang tidak menggunakan UN adalah Finlandia. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pihak guru dan sekolah untuk melakukan evaluasi kepada muridnya. Di Indonesia, kita masih melihat bagaimana hasilnya nanti.</p>
<p>Ketika Penulis masih sekolah, banyak pendapat yang mengatakan rasanya tidak adil jika tiga tahun sekolah hanya ditentukan dalam tiga hari. Akan tetapi, itu membuat para muridnya termotivasi untuk belajar.</p>
<p>Banyak yang mengkhawatirkan penghapusan (atau pergantian) UN akan membuat siswa menjadi terlalu santai. Ibaratnya, mereka jadi kehilangan target yang selama ini membuat mereka belajar mati-matian hingga harus kursus sepulang sekolah.</p>
<p>Pernyataan ini telah dibantah oleh bapak menteri karena menurutnya UN tidak akan dihapus, melain hanya akan diganti dengan <strong>Asesmen Kompetensi</strong> <strong>Minimum</strong>. Artinya, para siswa akan tetap harus melakukan serangkaian ujian agar bisa lulus sekolah.</p>
<p>Kalau pendapat pribadi, Penulis termasuk yang mendukung hal ini. Apalagi, UN tidak benar-benar dihilangkan, melainkan hanya diganti konsep dan cara penilaiannya. Kelulusan sudah seharusnya bukan menjadi hal yang menakutkan untuk siswa.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Memang rasanya kurang adil jika membandingkan sistem pendidikan kita dengan negara-negara maju. Mereka sudah mampu memeratakan pendidikan di negaranya, sehingga siswa bisa mendapatkan kesempatan yang sama.</p>
<p>Di Indonesia, pemerataan pendidikan masih sangat sulit untuk direalisasikan meskipun upaya-upayanya terus dilakukan. Belum lagi kondisi ekonomi keluarga yang juga turut berperan penting bagi kondisi siswa.</p>
<p>Dengan kata lain, peran semua pihak untuk memajukan sistem pendidikan kita mutlak dibutuhkan. Pemerintah harus mampu menyediakan fasilitas dan kurikulum berkualitas untuk para muridnya secara merata.</p>
<p>Masyarakat pun harus mampu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Peran para aktivis pendidikan ataupun orang-orang yang memiliki <em>privilege </em>juga dibutuhkan agar pendidikan bisa dirasakan oleh semua kalangan.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis menyambut positif gebrakan untuk <del>menghapus</del> mengganti Ujian Nasional dari sang menteri. Semoga saja keputusan ini mampu menghasilkan manusia-manusia yang lebih berkualitas dan mampu ikut membangun bangsa ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi setelah munculnya berita terkait penghapusan Ujian Nasional</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwjh1NH1uf7mAhVryzgGHaw-CAIQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fgogonihon.com%2Fen%2Fblog%2Flearn-about-the-japanese-education-system%2F&amp;psig=AOvVaw2TcPnmYfK3mHwLZpQOjTJX&amp;ust=1578931884135821">Gogonihon</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tanpa-ujian-nasional-bagian-2/">Indonesia Tanpa Ujian Nasional (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2019 01:12:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[zona]]></category>
		<category><![CDATA[zonasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2518</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak trending) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah. Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah. Tentu hal ini menjadi polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu (selalu beberapa waktu lalu, penulis minta maaf karena membahas topik yang sudah tidak <em>trending</em>) sempat heboh akan penerapan sistem zonasi sekolah.</p>
<p>Banyak anak-anak berprestasi yang ingin sekolah di sekolah favorit mereka terhalang oleh jarak. Mereka kalah dengan siswa yang (maaf) biasa-biasa saja namun rumahnya lebih dekat dengan sekolah.</p>
<p>Tentu hal ini menjadi polemik dan mengandung pro dan kontra tersendiri baik di kalangan orangtua, murid, pengamat pendidikan, dan lain sebagainya.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Diterapkan?</h3>
<div id="attachment_2522" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2522" class="size-large wp-image-2522" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2522" class="wp-caption-text">Menteri Pendidikan (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://vibizmedia.com/2016/07/27/wajah-menteri-kabinet-kerja-baru/menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-dr/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi3wPaE47rjAhUFVysKHVMkDKIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Vibizmedia.com</span></a>)</p></div>
<p>Tujuan dari sistem ini sebenarnya bagus, ingin memeratakan pendidikan. Pemerintah ingin menghapuskan yang namanya sekolah favorit. Semua sekolah memiliki derajat yang sama.</p>
<p>Beberapa orang berpendapat bahwa sekolah menjadi favorit karena memang diisi oleh murid-murid yang pintar, buat karena kualitas sekolah yang luar biasa.</p>
<p>Jika sudah diisi oleh murid yang dasarnya sudah cerdas, tentu para guru tidak perlu bersusah payah mentransferkan ilmu yang mereka miliki.</p>
<p>Ketika penulis membaca beberapa <em>tweet</em>, sekolah yang baik adalah yang mampu mengubah nilai muridnya dari 5 menjadi 9. Kalau dari awal mereka sudah biasa mendapatkan nilai 9, maka apa istimewanya?</p>
<p>Akibat lainnya dengan adanya sekolah favorit ini adalah sekolah-sekolah lain yang bukan favorit hanya menerima &#8220;ampas&#8221;  dari murid-murid yang tidak diterima di sekolah favorit.</p>
<p>Selain itu, pemerintah mungkin juga ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak yang kemampuan akademisnya standar agar bisa merasakan sekolah di tempat dengan fasilitas yang baik.</p>
<p>Pendidikan adalah hak semua anak yang hidup di Indonesia, mungkin menjadi dasar mengapa pemerintah menerapkan sistem ini.</p>
<h3>Kenapa Sistem Zonasi Tidak Cocok Diterapkan Sekarang?</h3>
<div id="attachment_2521" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2521" class="size-large wp-image-2521" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2521" class="wp-caption-text">Murid Jadi Stress (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medibank.com.au/livebetter/health-brief/lifestyle/coping-with-stress-as-a-student/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiyg_zL4rrjAhVSeysKHS7JDfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medibank</span></a>)</p></div>
<p>Hanya saja, masalahnya tidak semua sekolah memiliki kualitas yang sama. Ada yang bagus banget, ada yang di bawah standar. Tentu hal ini terasa sedikit tidak adil bagi siswa berprestasi tapi rumahnya dekat dengan sekolah yang kurang baik.</p>
<p>Jepang juga menerapkan zonasi seperti ini. Bedanya, sekolah-sekolah di Jepang memiliki kualitas yang setara sehingga para murid dan orangtua bisa menerimanya.</p>
<p>Mungkin salah satu harapan pemerintah menerapkan zona ini adalah agar yang kurang pandai dan bermasalah bisa tertular mereka yang pintar dan rajin.</p>
<p>Masalahnya, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Bagaimana jika anak yang sebenarnya pintar jadi ikut terpengaruh lingkungan buruk sehingga jalan hidupnya menjadi belok? Tentu hal tersebut bisa menjadi masalah baru bagi perkembangan generasi muda.</p>
<p>Beberapa kali muncul di berita anak berprestasi menjadi frustasi karena segala <em>achievement</em>-nya selama ini tidak bisa menolongnya untuk bisa bersekolah di tempat yang ia inginkan. Ini adalah peristiwa yang cukup membuat pilu.</p>
<p>Juga muncul kekhawatiran dari pihak orangtua bahwa anak mereka dijadikan &#8220;kelinci percobaan&#8221; untuk menerapkan sistem ini. Pasti akan menimbulkan masalah apabila tahun depan ternyata pemerintah membatalkan aturan sistem zonasi ini.</p>
<p>Kalau kata ayah penulis, sistem yang seperti ini akan membuat kita sedikit susah mendapatkan teman baru. Bagaimana tidak, ketemu temannya itu lagi itu lagi. Kesempatan untuk mendapatkan relasi baru jadi sedikit terhambat.</p>
<p>Penulis merasakan betul hal tersebut karena bersekolah di TK, SD, SMP, dan SMA yang berada di satu kelurahan yang sama. Penulis memiliki satu teman yang selalu satu sekolah hingga satu jurusan kuliah. Bahkan, sekarang kerja di Jakarta pun kantornya berdekatan.</p>
<p>Yah, walaupun sebenarnya ada banyak jalan agar bisa mendapatkan relasi yang lebih luas, tapi sekolah adalah tempat yang paling mudah untuk mendapatkannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis setuju dengan tujuan utama dari penerapan sistem zonasi ini, yakni ingin memeratakan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, penulis merasa pemerintah terlalu <em>grusa-grusu </em>sehingga terjadi <em>syok </em>massal, baik dari pihak murid maupun orangtua.</p>
<p>Seharusnya, sistem zonasi ini bisa dilakukan secara bertahap entah bagaimana caranya, sehingga publik bisa menerima hal ini tanpa emosi.</p>
<p>Sebenarnya, murid berprestasi juga masih bisa bersekolah di tempat yang jauh dari rumahnya lewat jalur prestasi, walaupun kuotanya hanya 5%. Setidaknya, masih ada jalan meskipun mungkin akan sedikit berdarah-darah.</p>
<p>Penulis berharap besar dengan adanya sistem zonasi ini, pihak sekolah akan benar-benar melakukan pembenahan diri agar kualitasnya benar-benar setara dengan sekolah lain yang lebih bagus, baik dari sisi tenaga pengajar maupun fasilitas yang dimiliki.</p>
<p>Pemerintah juga harus &#8220;bertanggung jawab&#8221; atas keputusan yang telah diambil dengan cara menggelontorkan dana untuk bisa memeratakan kualitas sekolah, terutama sekolah-sekolah di daerah.</p>
<p>Para murid yang mendapatkan keuntungan dengan zona ini pun diharapkan bisa memanfaatkan hal ini dengan baik. Mereka sudah diberikan <em>privilage</em>, sehingga akan terasa seperti pengkhianatan apabila mereka justru bermalas-malasan di sekolah nantinya.</p>
<p>Untuk para murid yang terbentur jarak sehingga tidak bisa bersekolah di tempat idaman, jangan berkecil hati. Sekolah bukan satu-satunya parameter kesuksesan, jadi tetap semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<ul>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer">Video <a href="https://youtu.be/FeRjh4JSaRs">OPINIKU MENGENAI SISTEM ZONASI SEKOLAH (ft. Seno Bagaskoro)</a> dari Nihonggo Mantappu</li>
<li class="title style-scope ytd-video-primary-info-renderer"><a href="https://twitter.com/Strategi_Bisnis/status/1141907218821812224"><em>Tweet </em>akun Stretegi + Bisnis</a></li>
<li><a href="https://zeniuseducation.com/polemik-sistem-zonasi-ppdb/">Zenius Education</a></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Juli 2019, terinspirasi dengan penerapan sistem zonasi yang membuat publik heboh</p>
<p>Sumber: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jordymeow">Jordy Meow</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Sekolah?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jul 2019 17:25:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2510</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk apa sekolah? Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku Why the Rich are Getting Richer karya Robert T. Kiyosaki. Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal. Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk apa sekolah? </strong>Pertanyaan ini penulis lontarkan ke grup Karang Taruna setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki.</p>
<p>Alasannya, bagian pendahuluan buku tersebut menjelaskan bahwa sistem sekolah yang ada selama ini hanya mencetak orang untuk menjadi pekerja andal.</p>
<p>Jarang sekali ada sekolah yang bertujuan ingin mendidik siswanya agar mampu mengelola uang yang dimiliki dengan baik sehingga bisa meraih <em>financial freedom</em>.</p>
<p>Karena penuturan tersebut, langsung terngiang satu pertanyaan di benak penulis, yang pada akhirnya menjadi judul tulisan ini.</p>
<h3>Jawaban Karang Taruna</h3>
<p>Ketika melontarkan pertanyaan tersebut ke anak-anak Karang Taruna, untunglah jawabannya tidak sedangkal &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Jawabannya penulis rangkum di bawah ini:</p>
<ul>
<li>Untuk mencari teman dan relasi</li>
<li>Untuk mendapatkan ilmu</li>
<li>Untuk membantu menggapai impian atau cita-cita</li>
<li>Untuk melatih kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan yang bermanfaat ketika telah terjun di dunia kerja</li>
<li>Untuk mengetahui apa itu persaingan (yang satu ini memang cukup mengejutkan penulis)</li>
<li>Untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki</li>
<li>Untuk menemukan hal-hal baru</li>
<li>Untuk mengetahui betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia (ini akan penulis ulas lebih dalam di tulisan berikutnya)</li>
<li><strong>KEWAJIBAN</strong></li>
</ul>
<p>Penulis tidak bermaksud merendahkan jawaban &#8220;biar gampang dapat pekerjaan&#8221;. Sekolah sangat penting (bahkan vital) agar kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga kehidupan pun lebih terjamin.</p>
<p>Penulis ingin menekankan bahwa fungsi dari sekolah itu lebih luas dari itu, yang jawabannya telah dikeluarkan oleh teman-teman Karang Taruna yang memang rata-rata berada di usia sekolah.</p>
<p><em>Dan itu sangat melegakan</em>.</p>
<h3>Untuk Apa Sekolah?</h3>
<p>Mungkin tidak terlalu muluk seperti harapan Kiyosaki dalam bukunya tersebut. Cukup mengetahui manfaat bersekolah dalam lingkup yang luas saja sudah membuat penulis tersenyum kecil.</p>
<p>Ketika sekolah, penulis tidak sempat kepikiran untuk apa sekolah. Bagi penulis waktu itu, sekolah merupakan kewajiban kita sebagai seorang anak yang hidup di negara beradab seperti Indonesia.</p>
<p>Kita harus belajar rajin agar nilai kita bagus, mungkin ikut berbagai organisasi untuk melatih kemampuan bersosialisasi dan menambah pengalaman, lantas lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi seperti kebanyakan orang.</p>
<p>Padahal, sekolah adalah elemen penting dalam pembentukan karakter kita sebagai manusia. Rata-rata siswa berada di sekolah kurang lebih selama 8 jam. Itu sama dengan 1/3 waktu mereka dalam satu hari.</p>
<p>Besarnya porsi tersebut mengharuskan sekolah harus dapat menjadi elemen penting dalam hidup kita, terutama yang berkesempatan untuk menjalaninya.</p>
<p>Selain dari pihak pemerintah maupun swasta yang menyediakan fasilitas belajar, memilih lingkungan pergaulan pun tidak kalah penting dalam sekolah. Justru, dari teman-teman di masa sekolah inilah terkadang karakter kita lebih dibentuk.</p>
<p>Kita harus bisa memanfaatkan 1/3 waktu dalam satu hari tersebut untuk hal yang memberikan dampak baik untuk diri sendiri.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika selama sekolah kita hanya bermalas-malasan, main, hingga pacaran, maka nilai yang sebenarnya bisa didapatkan dari sekolah akan hilang.</p>
<p>Banyak aktivitas positif yang bisa dilakukan di sekolah selain belajar, misal aktif di berbagai organisasi ataupun kegiatan ekstrakulikuler seperti klub seni ataupun olahraga. Bukannya tidak boleh main, hanya saja porsinya jangan terlalu besar.</p>
<p>Sekolah bisa dijadikan sebagai wadah bagi kita untuk mendapatkan manfaat-manfaat yang telah dijabarkan oleh anak-anak Karang Taruna di atas.</p>
<p>Semua kembali ke diri kita masing-masing, ingin memanfaatkan masa sekolah kita dengan baik atau menyia-nyiakannya dan menyesalinya kemudian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Penulis termasuk ke dalam kategori yang <strong>menyesal kemudian</strong>. Ikut berbagai organisasi tapi lebih sering tidak aktif karena lebih menurut kepada kemalasannya. Tulisan ini penulis susun agar kesalahan tersebut tidak terulang di kalian, terutama yang masih sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca buku <em>Why the Rich are Getting Richer </em>karya Robert T. Kiyosaki</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@flpschi">Feliphe Schiarolli</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-sekolah/">Untuk Apa Sekolah?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
