<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sombong Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sombong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sombong/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Mar 2024 13:26:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sombong Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sombong/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?</title>
		<link>https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2024 10:35:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[fans]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7108</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu minggu terakhir ini bisa dibilang menjadi minggu yang begitu menyenangkan bagi penggemar Manchester United (MU), termasuk Penulis. Pasalnya, MU berhasil menang secara dramatis dengan skor 4-3 melawan rival abadinya, Liverpool, di ajang FA Cup. Bermain di Old Trafford, MU unggul terlebih dahulu sejak awal babak pertama, tepatnya pada menit ke-10, melalui gol Scott McTominay [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/">Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Satu minggu terakhir ini bisa dibilang menjadi minggu yang begitu menyenangkan bagi penggemar Manchester United (MU), termasuk Penulis. Pasalnya, MU berhasil menang secara dramatis dengan skor 4-3 melawan rival abadinya, Liverpool, di ajang FA Cup.</p>



<p>Bermain di Old Trafford, MU unggul terlebih dahulu sejak awal babak pertama, tepatnya pada menit ke-10, melalui gol Scott McTominay yang memanfaatkan bola <em>rebound </em>hasil tendangan Alejandro Garnacho. </p>



<p>Namun, menjelang akhir babak pertama, Liverpool berhasil membalikkan keadaan lewat gol Alexis Mac Allister (44) dan Mohamed Salah (45+2). Setelah babak pertama, Penulis sempat tertidur dan baru terbangun ketika mendengar gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Antony melalui kaki kanannya di menit ke-87. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<p>Setelah terbangun gara-gara gol tersebut, Penulis lagi-lagi tertidur dan baru bangun ketika waktu sahur tiba. Hal pertama yang Penulis lakukan adalah mengecek Sofascore, dan ternyata secara mengejutkan MU berhasil menang di babak tambahan waktu!</p>



<p>Liverpool sebenarnya sempat unggul pada menit ke-105 melalui kaki Harvey Elliot, tetapi berhasil disamakan oleh Marcus Rashford pada menit ke-112. Kemenangan berhasil dikunci di menit-menit akhir melalui gol Amad Diallo yang memanfaatkan skema <em>counter attack</em> yang cepat.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="AMAD WINS IT IN THE DYING MOMENTS AGAINST LIVERPOOL 😮‍💨 | United 4-3 Liverpool" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/wao8uhVnOGc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Saat melihat <em>highlight-</em>nya, Penulis jadi merasa menyesal kenapa bisa sampai tertidur. Jika pertandingannya seseru ini, tentu akan sangat menyenangkan jika menontonnya secara langsung. Namun, setidaknya Penulis masih bisa sombong keesokan harinya, seperti kebanyakan penggemar MU lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Fans MU Banyak yang Sombong?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/1000024569-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7116" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/1000024569-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/1000024569-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/1000024569-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/1000024569.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dikenal Sombong oleh Fans Klub Sepak Bola Lain (<a href="https://www.manchestereveningnews.co.uk/sport/football/football-news/manchester-united-news-ten-hag-27902693">Manchester Evening News</a>)</figcaption></figure>



<p><em>Fans</em> MU dan sombong seolah sudah saling terikat satu sama lain. Kesombongan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa <em>fans </em>MU kerap menjadi target <em>bully</em> bagi <em>fans </em>klub lain jika MU sedang melawak, yang sering dilakukan beberapa tahun terakhir ini.</p>



<p>Pertanyaannya, mengapa sampai bisa muncul stereotipe kalau <em>fans </em>MU itu banyak yang sombong? Melalui beberapa observasi yang dilakukan secara mandiri melalui media sosial, ada beberapa jawaban yang berhasil Penulis temukan.</p>



<p>Pertama, tak bisa dipungkiri kalau MU adalah sebuah <strong>klub yang memiliki nilai histori tinggi</strong>, terutama ketika berada di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Berbeda dengan klub tetangga yang terkesan baru sukses akhir-akhir ini berkat pasokan &#8220;<em>oil money</em>&#8220;, sejarah MU sangat panjang dan bisa dibilang sebagai salah satu klub bola tersukses di dunia.</p>



<p>Bayangkan, di saat <em>prime </em>Barcelona di bawah asuhan Pep Guardiola menjadi tim terkuat di dunia, hanya MU yang berhasil dua kali bertemu dengan mereka di final Liga Champion, walau hasil keduanya sama-sama kalah. Itu hanya bukti kecil betapa kuat MU dulu.</p>



<p>Kesombongan ini bahkan tidak hanya terjadi pada <em>fans</em>, tapi juga admin media sosial MU! Penulis lupa pada edisi berapa, tapi yang jelas pernah suatu ketika admin media sosial MU tampak agak meremehkan peserta grup Liga Champion yang satu grup dengan MU. </p>



<p>Merasa memiliki histori yang kuat inilah yang menjadikan <em>fans </em>MU kerap merasa jumawa, apalagi jika sedang berdebat dengan penggemar tim yang kurang memiliki histori kuat seperti <a href="https://whathefan.com/olahraga/manchester-city-memang-terlalu-tangguh-musim-ini/">Manchester City</a> dan Paris Saint Germany.</p>



<p>Alasan kedua, karena <strong><a href="https://whathefan.com/olahraga/manchester-united-tidak-sedang-baik-baik-saja/">MU lebih sering melawak</a> dan kalah daripada bermain bagus</strong> <strong>dan menang</strong>. Benar, itu menjadi alasan lainnya. Karena jarang menang, begitu berhasil menang, maka euforianya menjadi begitu luar biasa, bahkan sampai kelewat batas.</p>



<p>Contohnya bisa dilihat ketika MU berhasil menang melawan Liverpool, gegap gempita (dan kesombongan) <em>fans </em>MU sudah seperti ketika MU berhasil mengangkat trofi Premier League lagi. Padahal, itu hanya pertandingan 8 besar FA Cup.</p>



<p>Tak heran jika banyak penggemar klub lain yang risih melihat sikap ini dan langsung mengingatkan <a href="https://whathefan.com/olahraga/sebuah-pengingat-kalau-kita-tidak-boleh-jumawa-saat-sedang-di-atas/">kekalahan 0-7 yang pernah diterima MU dari Liverpool</a> beberapa waktu lalu. Namun, hal tersebut langsung saja dibalas kalau kekalahan tersebut hanya membuat MU kehilangan tiga poin, bukan tersingkir dari suatu turnamen.</p>



<p>Alasan terakhir, ya mungkin memang <strong>sifat dasarnya saja yang sombong</strong>. Sebuah kemenangan, apalagi melawan rival, tentu harus disombongkan. Nanti kalau kalah, ya tinggal masuk gua seperti biasa, kan sudah jadi pelanggan setia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Termasuk Fans MU yang Sombong?</h2>



<p>Penulis tentu tidak bisa menilai dirinya termasuk <em>fans </em>MU yang sombong atau tidak, itu semua Penulis kembalikan ke Pembaca. Yang jelas, sejujurnya Penulis justru lebih sering membuat <em>story </em>ketika MU kalah daripada ketika MU menang.</p>



<p>Sejatinya, apapun yang berlebih tidak pernah baik, termasuk euforia berlebihan ketika MU menang yang sampai membuat penggemarnya menjadi sombong. Ada banyak sekali hal yang perlu dibenahi dari tim ini, sehingga kita belum layak untuk sombong.</p>



<p>Nanti, jika level kita sudah setara Manchester City atau <a href="https://whathefan.com/olahraga/ketika-hala-madrid-menjadi-halah-madrid/">Real Madrid</a>, mau sombong silakan saja karena memang sudah layak untuk disombongkan. Untuk saat ini, kita lebih sering masuk gua daripada di luar gua. </p>



<p>Kalau kita sudah jarang masuk ke dalam gua, berhasil memenangkan banyak major<em> trophy</em> (bukan cuma <a href="https://whathefan.com/olahraga/akhirnya-buka-puasa-gelar/">piala chiki</a>), baru tuh layak untuk sombong. Jangan karena cuma karena hal-hal sepele yang seharunya menjadi hal wajar malah jadi sombong!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 23 Maret 2024, terinspirasi setelah kemenangan dramatis Manchester United atas Liverpool</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.goal.com/id/daftar/erik-ten-hag-akui-amad-diallo-pantas-dapat-menit-bermain-lebih-setelah-cetak-gol-kemenangan-dramatis-manchester-united-lawan-liverpool/bltf86a0e98caddf6b0">Goal</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/">Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Sombong, Tapi Minder</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Mar 2019 18:36:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[minder]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2247</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika SMA, salah seorang teman pernah berkata bahwa penulis somsek alias sombong sekali. Waktu itu, penulis merasa ia hanya bercanda tanpa bermaksud menyakiti hati. Akan tetapi ketika beranjak dewasa, penulis merasa bahwa perkataannya tersebut memang ditujukan untuk mengingatkan diri penulis yang sombong. Sombong atau Minder? Ketika penulis sedang berkontemplasi, tentu penulis mengingat apa-apa saja yang pernah penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/">Bukan Sombong, Tapi Minder</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika SMA, salah seorang teman pernah berkata bahwa penulis <em>somsek </em>alias sombong sekali. Waktu itu, penulis merasa ia hanya bercanda tanpa bermaksud menyakiti hati.</p>
<p>Akan tetapi ketika beranjak dewasa, penulis merasa bahwa perkataannya tersebut memang ditujukan untuk mengingatkan diri penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/empat-jenis-kesombongan/">yang sombong</a>.</p>
<h3>Sombong atau Minder?</h3>
<p>Ketika penulis sedang <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">berkontemplasi</a>, tentu penulis mengingat apa-apa saja yang pernah penulis lakukan selama ini. Salah satu yang terlintas di ingatan penulis adalah tentang kesombongan tersebut.</p>
<p>Kesombongan seperti apa? Yang jelas bukan kekayaan ataupun kepandaian, akan tetapi jenis sombong yang enggan menyapa orang lain terlebih dahulu.</p>
<p>Penulis ingat, seringkali penulis pura-pura tidak melihat ketika ada teman yang tak terlalu akrab sedang lewat. Terkadang penulis menundukkan kepala dalam-dalam.</p>
<p>Apakah karena penulis tinggi hati sehingga merasa tidak pantas menyapa orang lain? Tentu tidak. Penulis melakukannya karena merasa <strong>minder</strong>, merasa <strong>tidak percaya diri</strong>.</p>
<p>Ketika penulis melakukan itu, apa yang ada di pikiran penulis adalah &#8220;<em>mau nyapa tapi takut dia enggak ingat aku</em>&#8220;. Selalu itu yang muncul di pikiran penulis.</p>
<p>Entah kenapa penulis dilanda pemikiran yang seperti itu, bisa jadi karena memang penulis kurang terlatih dalam bergaul. Sebagai pribadi yang <em>introvert </em>dan jarang bermain bersama teman, penulis terkadang bingung harus bagaimana dalam bersosial.</p>
<p>Akibat pemikiran yang berlebihan inilah, mungkin penulis dicap <em>somsek </em>oleh teman penulis. Tidak salah jika orang memiliki persepsi bahwa penulis itu sombong karena kesan yang ditimbulkan dari tindakan penulis memang seperti itu.</p>
<h3>Bagaimana Sekarang?</h3>
<p>Setelah membaca berbagai buku <em>self improvement</em>, penulis memutuskan untuk belajar lebih percaya diri lagi. Salah satu langkah awal adalah menyingkirkan pikiran &#8220;<em>mau nyapa tapi takut dia enggak ingat aku</em>&#8220;.</p>
<p>Sapa dulu saja. Mau orang lain ingat atau enggak tidak masalah. Kalaupun lupa, minimal orang tersebut akan pura-pura ingat kepada kita karena ingin menjaga perasaan kita.</p>
<p>Rasa minder yang cukup mengakar pada diri penulis secara perlahan berusaha penulis hilangkan. Buku-buku yang penulis baca banyak sekali membantu, belum lagi diskusi dengan orang-orang di sekitar penulis.</p>
<p>Sampai saat ini pun mungkin terkadang melakukan hal yang sama di kantor. Setidaknya, jumlahnya sudah jauh berkurang jika dibandingkan dengan masa-masa sekolah ataupun kuliah.</p>
<p>Kalau pembaca sekalian pernah atau sedang mengalami permasalahan yang sama, mungkin cara yang sudah penulis lakukan bisa dicoba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 1 April 2019, terinspirasi setelah teringat ucapan seorang teman di SMA karena menyebut penulis <em>somsek</em></p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.usatoday.com/story/life/allthemoms/2018/09/24/one-out-three-students-were-bullied-us-school-last-year/1374631002/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwid34rmgK3hAhVg8XMBHavrBwUQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">USA Today</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/">Bukan Sombong, Tapi Minder</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Menyebar Screenshot PUBG</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2019 13:55:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[chicken dinner]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menang]]></category>
		<category><![CDATA[pamer]]></category>
		<category><![CDATA[PUBG]]></category>
		<category><![CDATA[screenshot]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah tweet seorang netizen yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game Player&#8217;s Unknown Battle Ground (PUBG) membuat status tentang kemenangan alias chicken dinner yang mereka peroleh. Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>seorang <em>netizen</em> yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game <strong>Player&#8217;s Unknown Battle Ground</strong> <strong>(PUBG) </strong>membuat status tentang kemenangan alias <em>chicken dinner </em>yang mereka peroleh.</p>
<h3>Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik Ini</h3>
<p>Rasa penasaran penulis muncul seketika, dan memutuskan untuk mengirim <em>tweet </em>tersebut ke grup Karang Taruna karena banyak di antara mereka yang berbuat demikian. Penulis ingin tahu, apa motif mereka mengirim <em>screenshot </em>dari kemenangan yang mereka peroleh.</p>
<p><div id="attachment_2147" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2147" class="size-large wp-image-2147" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg" alt="" width="800" height="600" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2147" class="wp-caption-text">Bermain PUBG (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.imore.com/how-pubg-different-mobile-vs-console" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi-3Kec36TgAhVLsI8KHV6gAI4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">iMore</span></a>)</p></div></p>
<p>Di luar dugaan, jawaban yang muncul cukup bervariasi. Ada yang secara jujur berkata bahwa tujuannya adalah pamer kemenangan yang katanya susah diperoleh apabila pangkat PUBG kita sudah di atas <em>Gold I, </em>ada pula yang sekadar ikut-ikutan temannya.</p>
<p>Perjuangan tersebut ingin mereka dokumentasikan menjadi sebuah status. Istilah lainnya, penghargaan untuk diri sendiri yang sudah bersusah payah mengeluarkan kemampuan terbaiknya demi meraih kemenangan.</p>
<p>Penulis memahami betul hal ini karena pernah melakukan hal yang sama. Ketika berhasil menang sewaktu masih bermain <em>Rules of Survival </em>yang susahnya minta ampun, penulis berbuat hal yang sama, memamerkan kemenangan di <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">media sosial</a>.</p>
<p>Yang lain mengemukakan bahwa mereka ingin memberi semacam kode kepada teman-teman mereka untuk ikut bermain bersama. S<em>creenshot </em>tersebut juga diharapkan bisa dilihat oleh orang lain hingga diajak untuk bergabung ke klan ataupun sekadar ikut lomba.</p>
<p>Berdasarkan pengakuan mereka, hingga saat ini mereka belum pernah menemukan orang yang menyatakan keberatan. Yang ada, teman-teman mereka justru penasaran dan ikut mencoba bermain PUBG.</p>
<p>Ada juga komentar bernada sarkas. Katanya, orang yang membuat <em>tweet </em>tersebut mungkin tidak pernah berhasil menang, sehingga ia kesal melihat orang lain <em>chicken dinner</em>. Tentu saja teori ini belum tentu benar.</p>
<p>Toh, jika memang seandainya ada yang terganggu, mereka bisa mengaktifkan fitur <em>hide </em>yang tersedia di berbagai media sosial.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Apapun alasannya, tidak ada salahnya menyebar <em>screenchot </em>kemenangan kita di game PUBG. Sama halnya dengan <a href="http://whathefan.com/karakter/fenomena-bucin/">penggemar Korea</a> yang membuat <em>story </em>foto biasnya secara masif. Jika hanya sesekali dilakukan, hal tersebut sama sekali tidak masalah.</p>
<p>Mungkin benar apa yang dikatakan oleh netizen <em>Twitter </em>tersebut, tidak ada orang yang peduli dengan kemenangan kita. Akan tetapi, kita membuat <em>story </em>tersebut memang <strong>bukan agar dipedulikan oleh orang lain</strong> bukan? Kalau dipedulikan oleh sesama <em>gamer, </em>masih mungkin.</p>
<p>Bukankah para pengembang media sosial membuat fitur <em>story </em>maupun <em>feed </em>memang untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>? Jadi, tidak ada salahnya melakukan hal tersebut selama tidak berlebihan yang membuat orang jengkel dan akhirnya memutuskan untuk memblok akun kita.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga perlu mengingatkan kepada kita semua, jangan diniatkan untuk sombong, karena bagaimanapun <a href="http://whathefan.com/karakter/empat-jenis-kesombongan/">kesombongan</a> adalah sesuatu yang buruk. Ya, penulis tahu sih betapa susahnya hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>yang menceritakan kekesalannya melihat banyaknya orang yang pamer kemenangan mereka di PUBG</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fmetaco.gg%2Fpubg%2Fpanduan-dasar-pubg-mengenal-weapon-dan-jenisnya%2F&amp;psig=AOvVaw3vKfs0KgH1mtbqgBHmQ8lT&amp;ust=1549461007622444" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Metaco.gg</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Bibit Unggul</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bibit unggul]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya netizen yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari thread Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan. Apa Itu Bibit Unggul? Untuk yang belum tahu, thread tentang bibit unggul sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika negara api menyerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya <em>netizen </em>yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari <em>thread </em>Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan.</p>
<p><strong>Apa Itu Bibit Unggul?</strong></p>
<p>Untuk yang belum tahu, <em>thread </em>tentang <strong>bibit unggul </strong>sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika <s>negara api menyerang</s> seorang pengguna Twitter (mari kita sebut dengan <strong>A</strong>) memberikan sebuah komentar terhadap <em>tweet</em> seorang animator (mari kita sebut dengan <strong>B</strong>).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1347 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg" alt="" width="727" height="302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg 727w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-300x125.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-356x148.jpg 356w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /></p>
<p>Mungkin komentar tersebut bernada candaan, yang dibuktikan dengan adanya <em>emoticon &#8220;</em>:p&#8221; di sana. Lantas berkembanglah debat seputar <em>attitude </em><strong>A</strong> yang dianggap <strong>B </strong>kurang sopan, hingga mengatakan bahwa ia sudah sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong> (mungkin untuk menunjukkan bahwa <strong>B </strong>lebih senior dari <strong>A</strong>?).</p>
<p>Nah, inilah yang memicu munculnya <em>tweet </em>kontroversial tersebut.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1349 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg" alt="" width="717" height="243" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg 717w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-300x102.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-356x121.jpg 356w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p><em>Sombong banget sih!</em></p>
<p>Sabar sabar, kita urai satu persatu meskipun penulis bukan orang komunikasi. Penulis hanya mengamati dari kacamata awam tanpa bermaksud sok pandai menganalisa kalimat. Harapannya, tentu dengan tulisan ini kita mendapatkan pelajaran-pelajaran demi menjadi insan yang lebih baik lagi.</p>
<p><strong>Ikut Campur Netizen</strong></p>
<p>Kalimat tersebut muncul, mungkin sebagai bentuk pembelaan diri dari <strong>A</strong> yang seolah tak terima ditegur oleh <strong>B</strong>. Sedangkan <strong>B </strong>mungkin merasa jengkel karena <em>tweet</em> seriusnya ditanggapi dengan kurang baik, sesuatu yang kita sendiri pun sering dibuat gusar olehnya.</p>
<p>Karena sama-sama merasa benar inilah (walaupun <strong>A</strong> yang lebih dominan sikap merasa benarnya) perdebatan ini melebar ke mana-mana, apalagi setelah <em>netizen </em>mulai ikut campur dengan ikut berkomentar. Bahkan situasi tetap memanas meskipun mereka telah mengonfirmasi untuk saling memaafkan.</p>
<p>Ikut campur <em>netizen </em>pun bermacam-macam. Ada yang mengutuk tindakan sombong <strong>A<em>, </em></strong>ada yang kagum dengan ketangguhan <strong>A </strong>dalam menghadapi <em>nyinyiran, </em>ada yang sempat-sempatnya membuat meme, hingga ada yang membuat <em>tweet </em>agar orang-orang seperti <strong>A</strong> tidak diterima dalam perusahaan (hingga papanya tidak terima dan akan membawanya ke ranah hukum).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang patut diapresiasi, tidak ada di antara mereka berdua yang menghapus <em>tweet-tweet</em> yang membuat bumi gonjang-ganjing tersebut.</p>
</blockquote>
<p><strong>B </strong>mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai pelajaran untuk dirinya dan istrinya (yang sempat ikut <em>nimbrung</em> dalam perdebatan). Bagaimana dengan <strong>A</strong>?</p>
<p>Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, <strong>A </strong>terkesan bebal dengan mengutarakan kalimat-kalimat yang defensif (dan terkadang ditambah <em>counter attack </em>yang menyakitkan) ketika mendapatkan serangan-serangan dari <em>netizen</em>. Hal itulah yang semakin memancing emosi <em>netizen </em>untuk ikut berkomentar, walaupun banyak yang hanya membaca satu <em>tweet</em>, bukan secara keseluruhan.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>juga mengatakan bahwa si <strong>A </strong>memang sedikit &#8220;berbeda&#8221; , tidak memiliki banyak teman, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat <strong>A </strong>tersudut dan mungkin karena itulah ia semakin bulat untuk mempertahankan diri.</p>
<p><strong>A</strong> tidak sendirian. Banyak yang mendukungnya untuk melawan <em>selebtweet</em> yang mereka anggap sok berkuasa di Twitter. Hal ini bisa dimaklumi karena memang banyak <em>selebtweet </em>yang ikut berkomentar tentang permasalahan ini, dan mayoritas dari mereka mencela perbuatan dan sikap <strong>A</strong>.</p>
<p>Bahkan jika dilihat jumlah <em>follower </em>Twitternya yang meningkat secara drastis (terakhir hampir mencapai 5.000 dari jumlah awal yang ratusan), jelas <strong>A</strong> mendapatkan banyak simpati dari orang. Bisa jadi, mendapatkan simpati ini membuat <strong>A </strong>semakin yakin untuk bersikukuh dengan sikapnya.</p>
<p>Apakah <strong>A</strong> mempertahankan <em>tweet</em>-nya sebagai bahan pelajaran untuk dirinya atau sekedar menjaga harga dirinya? Penulis serahkan ke pembaca.</p>
<p><strong>Memetik Pelajaran dari Bibit Unggul</strong></p>
<p>Manusia berbuat salah itu wajar, karena kita memang tempatnya salah. Tapi lebih salah lagi jika kita merasa tidak berbuat salah ketika berbuat salah. Lebih salah lagi jika kesalahan kita dianggap sebagai sesuatu yang benar.</p>
<p>Bingung?</p>
<p>Dilihat dari bahasa-bahasa yang ia gunakan pada Twitternya, <strong>A </strong>memang orang yang pandai. Hanya saja, seperti kata <em>netizen</em>, kepandaian tanpa sikap yang baik akan menjadi hal yang percuma.</p>
<p>Kita semua tentu sepakat bahwa kesombongan merupakan salah satu sifat yang tidak baik, meskipun konteksnya untuk membela diri. Ingat ketika kita masih kecil, jika ada teman yang memamerkan sesuatu, maka kita akan memamerkan apa yang kita punya. Semua demi menjaga harga diri, walaupun kita belum mengenal itu sewaktu kecil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Harga diri jelas butuh kita jaga. Akan tetapi, terlalu menjaga harga diri sehingga berat untuk mengucapkan maaf tentu juga kurang elok. Terlalu menjaga harga diri sehingga kita berlaku sombong lebih tidak baik lagi.</p>
</blockquote>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>B </strong>mengatakan ia sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong>, lalu <strong>A </strong>meresponnya tanpa perlu menyebutkan prestasinya, mungkin kericuhan ini tidak perlu terjadi.</p>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>A </strong>berkomentar seperti itu disikapi dengan santai oleh <strong>B<em>, </em></strong>mungkin drama ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Seandainya <em>netizen </em>yang maha benar tidak terlalu ikut campur dengan berkomentar yang tidak perlu, nah ini yang agak susah diandaikan (kabuuuuuur).</p>
<p>Berlaku sombong itu salah, maka ada baiknya ketika ada yang mengingatkan kita berterimakasih. Kita patut bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan kita. Rasanya lebih menyakitkan bukan jika tidak ada orang yang peduli dengan kita?</p>
<p><em>Ngeyel </em>terus sambil menutup telinga itu salah, maka ada baiknya jika kita sedikit menurunkan ego agar tidak <em>ngeyel </em>terus.</p>
<p>Merasa diri selalu benar itu salah, karena kita tempatnya salah. Jaya Suprana mengatakan bahwa manusia bisa berkembang karena terus mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran, yang disebutnya dengan Kelirumologi.</p>
<p>Semoga dengan adanya peristiwa ini, kita bisa memetik pelajarannya agar bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 September 2018, terinspirasi setelah berjam-jam mempelajari <em>thread </em>bibit unggul di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/">https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Milikmu Bukanlah Milikmu</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2018 14:47:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[arogan]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[tahta]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=871</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bukan, judul di atas bukanlah judul FTV yang disiarkan televisi swasta. Itu adalah judul tulisan penulis kali ini, yang ingin mengajak kita semua merenungi makna kepemilikan, atau dalam bahasa Inggris disebut possession. Rasa memiliki merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesombongan pada diri seseorang. Ia merasa bahwa dengan memiliki sesuatu tersebut, ia memiliki derajat yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/">Milikmu Bukanlah Milikmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan, judul di atas bukanlah judul FTV yang disiarkan televisi swasta. Itu adalah judul tulisan penulis kali ini, yang ingin mengajak kita semua merenungi makna kepemilikan, atau dalam bahasa Inggris disebut <em>possession</em>.</p>
<p>Rasa memiliki merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesombongan pada diri seseorang. Ia merasa bahwa dengan memiliki sesuatu tersebut, ia memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang lain.</p>
<p>Sebagai contoh, terdapat orang yang dianugerahi kemampuan otak yang cemerlang. Dengan kemampuannya tersebut, ia cenderung menganggap orang lain bodoh dan hanya menghalangi jalannya untuk mendapatkan ilmunya. Ia merasa bahwa kepandaiannya adalah miliknya seorang dan tercipta karena usahanya seorang.</p>
<p>&#8211;<em>Itulah yang ada di benak Leon, karakter utama pada novel penulis (<a href="http://whathefan.com/category/kenji/">http://whathefan.com/category/kenji/</a>) yang dituliskan sebagai karakter yang arogan dan selalu membanggakan kemapuan nalar berpikirnya (sekali-kali numpang iklan novel sendiri enggak masalah kan 🙂</em>&#8211;</p>
<p>Contoh lain, orang yang memiliki harta melimpah hingga bingung ingin menghabiskannya untuk apa. Ia selalu membeli barang-barang yang <em>branded</em>, gemar berkeliling dunia hanya untuk dipamerkan, serta memandang rendah orang yang ia anggap tidak selevel dengan dirinya. Ia merasa harta yang dimilikinya adalah miliknya seorang dan diraih berkat kerja kerasnya seorang (atau kerja keras orangtuanya?).</p>
<p>Terakhir, seseorang yang memiliki pacar dengan paras yang cantik menawan. Ia pasang foto profil pacarnya seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang beruntung karena dapat merebut hatinya. Ia pamer kemesraan di media sosial, seolah ingin meledek kaum jomblo yang hanya bisa memeluk lutut di sudut ruang ketika malam minggu. Ia merasa pacar yang dimilikinya hanya miliknya seorang, sehingga tidak boleh ada orang lain yang boleh mendekatinya.</p>
<p><strong>Padahal, apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Semua hanya titipan-Nya, mulai dari tubuh, harta, hingga sanak keluarga. Sebagai orang yang dipinjami, tentu kita tidak boleh merasa memiliki barang yang dipinjamkan tersebut.</strong></p>
<p>Lebih parah lagi apabila kita menjadi angkuh karena pinjaman tersebut. Sebagai analogi, bayangkan ada seseorang yang sedang memamerkan Porsche kepada kawan-kawannya. Sudah berbicara panjang lebar, datanglah pemilik mobil yang sebenarnya. Tentu, ia akan malu bukan kepalang dan kawan-kawannya juga akan kehilangan <em>respect</em>.</p>
<p>Tentu kita tidak ingin kehilangan muka ketika mempertanggungjawabkan apa-apa saja yang dipinjamkan Tuhan kepada kita. Dipinjamkan kepandaian pikiran, digunakan untuk merakit bom. Dipinjamkan paras wajah menawan, digunakan untuk menjual diri. Dipinjamkan istri yang baik hati, malah selingkuh.</p>
<p>Bijaklah dalam menggunakan apa-apa saja yang dipinjamkan oleh Tuhan kepada kita, jangan sampai mengecewakan-Nya. Sesungguhnya, milikmu bukanlah milikmu, ia hanya titipan semata selama kita hidup di dunia yang hanya sejenak ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Batu, 12 Juni 2018, terinspirasi oleh ceramah Aa Gym di salah satu stasiun televisi.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://timeluxuryservices.com/pages/Our+Fleet/26">https://timeluxuryservices.com/pages/Our+Fleet/26</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/">Milikmu Bukanlah Milikmu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/milikmu-bukanlah-milikmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kesombongan Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/kesombongan-manusia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/kesombongan-manusia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 10:05:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=832</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terkadang manusia itu sombong Merasa diri paling benar Tak memedulikan pendapat orang Bersikeras dengan keyakinannya &#160; Terkadang manusia itu sombong Merasa diri paling bagus parasnya Memandang rendah orang lain Menganggap mereka sekumpulan sampah &#160; Terkadang manusia itu sombong Merasa diri paling pintar Membodoh-bodohkan orang lain Menjatuhkan kawan yang melawan &#160; Terkadang manusia itu sombong Merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/kesombongan-manusia/">Kesombongan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa diri paling benar</p>
<p>Tak memedulikan pendapat orang</p>
<p>Bersikeras dengan keyakinannya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa diri paling bagus parasnya</p>
<p>Memandang rendah orang lain</p>
<p>Menganggap mereka sekumpulan sampah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa diri paling pintar</p>
<p>Membodoh-bodohkan orang lain</p>
<p>Menjatuhkan kawan yang melawan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa diri paling berpunya</p>
<p>Memandang sinis si miskin</p>
<p>Tanpa ada keinginan untuk berbagi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa diri paling gagah</p>
<p>Membusungkan dada di jalanan</p>
<p>Berharap ada pujian menghampirinya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terkadang manusia itu sombong</p>
<p>Merasa lebih hebat dari Tuhannya</p>
<p>Menyalah-nyalahkan firman-Nya</p>
<p>Membuat opini yang menyimpang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi beberapa <em>tweet </em>di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/bqpsxgfG4pE">https://unsplash.com/photos/bqpsxgfG4pE</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/kesombongan-manusia/">Kesombongan Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/kesombongan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Empat Jenis Kesombongan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/empat-jenis-kesombongan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/empat-jenis-kesombongan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2018 02:23:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[empat]]></category>
		<category><![CDATA[jenis]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=297</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tulisan ini bukan hasil riset ilmiah apalagi berdasarkan hasil penelitian selama bertahun-tahun. Semua hanya berdasarkan pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar, walaupun bukan berarti orang-orang di sekitar saya sombong semua. Berdasarkan hasil pengamatan amatir tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa ada empat jenis kesombongan. Sombong Pura-Pura Jenis sombong yang ini hanya dipergunakan untuk bahan bercanda saja. Sebagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/empat-jenis-kesombongan/">Empat Jenis Kesombongan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini bukan hasil riset ilmiah apalagi berdasarkan hasil penelitian selama bertahun-tahun. Semua hanya berdasarkan pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar, walaupun bukan berarti orang-orang di sekitar saya sombong semua. Berdasarkan hasil pengamatan amatir tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa ada empat jenis kesombongan.</p>
<ol>
<li><strong>Sombong Pura-Pura</strong></li>
</ol>
<p>Jenis sombong yang ini hanya dipergunakan untuk bahan bercanda saja. Sebagai contoh, seseorang menyombongkan bahwa dirinya sebagai jago game, padahal kemampuannya standar. Seringkali ketika sedang bersombong, mereka mengatakannya sambil tertawa sehingga tidak membuat marah orang lain.</p>
<p>Selain itu, jenis sombong ini dapat digunakan untuk memanas-manasi teman bermain PES. Kata-kata seperti &#8220;halah paling juara lagi&#8221; sering terucap untuk menebar <em>psywar </em>kepada lawan. Metode ini seringkali berhasil jika lawan yang dihadapi memiliki kontrol yang lemah terhadap emosinya.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Sombong Bohong</strong></li>
</ol>
<p>Yang bohong adalah kesombongannya, alias <em>ndabrus</em> dalam bahasa Jawa. Ia suka memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak dimiliki ataupun tidak ada. Motif dari sikap ini adalah ingin dipandang tinggi oleh orang lain, walaupun dosanya <em>double</em>. Bagaimana tidak, sudah sombong, bohong pula. Bisa jadi, ini adalah jenis sombong yang dosanya paling berat.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Sombong Asli, Tapi Tidak Sadar</strong></li>
</ol>
<p>Selanjutnya terdapat jenis sombong asli, namun si sombong tidak menyadari kesombongannya. Mereka dengan bangga menceritakan sesuatu yang bersifat sombong -misalkan bercerita bahwa ketika orangtuanya pulang dari Singapura, ia akan dibelikan handphone mahal- tanpa empati sama sekali kepada pendengarnya.</p>
<p>Mereka merasa, apa yang mereka ceritakan adalah hal yang biasa. Mereka tidak melihat dari sudut pandang orang lain, dan itu menyebabkan mereka tidak sadar bahwa diri mereka sombong.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Sombong Asli yang Menyombongkan Kesombongan Mereka</strong></li>
</ol>
<p>Antara ini dan nomer dua, saya tidak tahu mana yang lebih parah. Jika dihitung secara matematis, sombong jenis ini juga <em>double </em>dosanya karena sombongnya kuadrat. Mereka sadar bahwa mereka sombong, namun mereka merasa nyaman dengan kesombongan itu. Masih menjadi misteri, apa penyebab kenyamanan dalam berbuat sombong tersebut. Kepuasan dirikah? Hanya sang pelaku yang bisa menjawabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 30 Januari 2018, setelah melihat diskusi antara Ekky dan Angela perihal sombong (dan ternyata lebih sombong Angela)</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://heroichollywood.com/harry-potter-malfoy-fantastic-beasts/">https://heroichollywood.com/harry-potter-malfoy-fantastic-beasts/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/empat-jenis-kesombongan/">Empat Jenis Kesombongan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/empat-jenis-kesombongan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
