<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sudut pandang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/sudut-pandang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/sudut-pandang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:29:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>sudut pandang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/sudut-pandang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pentingkah Keperawanan?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Feb 2020 03:48:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[open-minded]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[perawan]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3531</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir. Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin sharing tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu. Catatan: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/">Pentingkah Keperawanan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir.</p>
<p>Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin <em>sharing </em>tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu.</p>
<p><em><strong>Catatan</strong>: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan)</em></p>
<h3>Pentingkah Keperawanan?</h3>
<p>Ketika pulang ke Malang pada akhir tahun 2019 kemarin, Penulis menggelar diskusi santai dengan ditemani kopi susu hangat. Tema yang diangkat adalah <strong>Pentingkah Keperawanan</strong>.</p>
<p>Mengapa tema itu yang diambil? Alasannya sederhana. Ketika sedang <em>chat </em>di grup seperti biasa, ide atau topik tersebut terlontar begitu saja.</p>
<p>Setelah itu, Penulis dengan beberapa anggota aktif yang sudah berusia 17 tahun ke atas berjanji untuk mendiskusikannya lebih lanjut ketika Penulis pulang. Ternyata, anggota yang berusia lebih muda pun tertarik untuk ikut terlibat dalam diskusi.</p>
<div id="attachment_3533" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3533" class="size-large wp-image-3533" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/pentingkah-keperawanan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3533" class="wp-caption-text">Suasana Diskusi</p></div>
<p>Lantas, bagaimana pendapat para pengurus Karang Taruna aktif yang rata-rata masih berusia belasan tahun? Jawabannya kurang lebih seragam,<strong> keperawanan itu penting dan sudah seharusnya dijaga dengan baik</strong> hingga pernikahan.</p>
<p>Masalahnya, sebagaimana dulu Penulis ketika masih seusia mereka, beberapa anggota menyampaikan pendapat <strong>betapa buruknya orang-orang yang gagal menjaga keperawanannya</strong>.</p>
<p>Jawaban tersebut sesuai dengan perkiraan Penulis. Teman Penulis yang seumuran menangkap maksud Penulis mengangkat topik ini, sehingga ia mulai memberikan sudut pandang baru kepada mereka semua.</p>
<p>Intinya, walaupun kita menganggap keperawanan itu penting, jangan sampai kita memandang rendah orang lain yang sudah tidak memilikinya.</p>
<p>Kita tidak pernah tahu apa alasan dibalik hilangnya keperawanan tersebut, sehingga <a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">kita tidak boleh </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/kenapa-sih-harus-judgemental/">judgemental</a> </em>seenaknya sendiri. <a href="https://whathefan.com/renungan/dosa-terbesar-seorang-penjahat/">Merasa suci dengan melihat kesalahan orang lain</a> adalah hal yang kurang bijak.</p>
<p>Jadi, kalau kita menganggapnya penting ya dijaga dengan baik tanpa perlu menghakimi orang lain yang menganggapnya tidak terlalu penting.</p>
<h3>Diskusi Karang Taruna</h3>
<p>Di Karang Taruna tempat tinggal Penulis, ada sedikit jarak yang cukup lebar antara angkatan Penulis dengan angkatan di bawahnya. Selisihnya antara lima hingga sepuluh tahun.</p>
<p>Lebarnya jarak tersebut tidak membuat kami berkumpul dengan yang seumurannya saja. Semua bisa berbaur tanpa melupakan etika untuk menghormati yang lebih tua.</p>
<p>Nah, yang seangkatan dengan Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi. Tidak hanya akademik, tapi hal-hal yang bersentuhan dengan permasalahan sosial. Diskusi terbuka menjadi salah satu caranya.</p>
<p>Beberapa manfaat yang didapatkan dengan diskusi seperti ini antara lain mengasah <strong>daya kritis dan pemikiran logis</strong>, <strong>mengetahui permasalahan sosial yang sering terabaikan</strong>, <strong>meningkatkan keberanian untuk bersuara</strong>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Alasan lain yang tak kalah penting, seperti contoh yang sudah Penulis sebutkan di atas, mereka <strong>mendapatkan sudut pandang baru</strong> dari sebuah permasalahan yang mungkin sebelumnya belum terpikirkan.</p>
<p>Kita mendapatkan banyak sudut pandang dengan bertemu banyak orang dari beragam latar belakang. Penulis mendapatkannya ketika ke Kampung Inggris, jadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>Asian Games</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">bekerja di Jakarta</a>.</p>
<p>Ketika berada di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan kampus, pergaulan Penulis kurang luas sehingga temannya ya itu-itu aja. Hal tersebut membuat sudut pandang Penulis kurang luas.</p>
<p>Agar para generasi muda di Karang Taruna tidak mengalami hal yang sama, kami pun berusaha memberikan beragam sudut pandang baru kepada mereka sedini mungkin. Harapannya, mereka akan menjadi generasi yang <em>open-minded </em>dan mampu menerima perbedaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 23 Februari 2020, terinspirasi dari diskusi Karang Taruna terakhir yang mengangkat tema Pentingkah Keperawanan</p>
<p>Foto: <a href="https://medium.com/@Shesreallyfat/dont-ask-me-when-i-lost-my-virginity-659d85f107cd">Medium</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pentingkah-keperawanan/">Pentingkah Keperawanan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Sih Harus Judgemental?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Feb 2020 04:55:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[judgemental]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghakimi]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3469</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah nge-judge atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri. Adjective dari kata nge-judge adalah Judgemental. Di dalam kamus Oxford, kata Judgemental memiliki makna judging people and criticizing them too quickly. Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-orang zaman sekarang pasti tidak asing dengan istilah <strong>nge-</strong><em><strong>judge</strong> </em>atau dalam Bahasa Indonesia disebut menghakimi. Kenal enggak seberapa, tapi main nilai orang seenaknya sendiri.</p>
<p><em>Adjective </em>dari kata nge-<em>judge </em>adalah <strong><em>Judgemental. </em></strong>Di dalam kamus Oxford, kata <em>Judgemental </em>memiliki makna <strong><em>judging people and criticizing them too quickly</em></strong><em>.</em></p>
<p>Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih berarti menghakimi atau menilai seseorang terlalu cepat hanya karena mengetahui beberapa aspek. Seringnya, penilaian tersebut cenderung bernada negatif yang akan menyakiti orang yang di-<em>judge</em>.</p>
<p>Permasalahannya, banyak orang yang tidak menyadari kalau perkataan atau teks yang ia ketik di chat bersifat menghakimi. Bagi mereka, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa dan lumrah. Ini berbahaya, sangat berbahaya.</p>
<h3>Kenapa Sih Harus Judgemental?</h3>
<p>Penulis merasa bahwa dirinya dulu (atau bahkan sampai sekarang) sangat <em>judgemental</em>. Penulis bisa dengan mudahnya menilai orang hanya karena melihat seseorang secara sekilas.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Banyak alasannya, seperti sempitnya pikiran alias kurang <em>open-minded</em>, lingkungan yang kurang bervariasi, mainnya kurang jauh, kurangnya empati yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.</p>
<div id="attachment_3472" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3472" class="size-large wp-image-3472" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3472" class="wp-caption-text">Padahal Bukan Hakim (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://thediwire.com/judge-issues-injunction-dol-fiduciary-rule/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj1kt_S2tLnAhU5zDgGHZ4PDHkQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The DI Wire</span></a>)</p></div>
<p>Penulis sampai menanyakan ke teman kantor, apa penyebab kebanyakan manusia bersifat <em>judgemental </em>dari segi filsafat. Ternyata jawabannya sederhana, <strong>manusia kurang bisa menerima perbedaan</strong>.</p>
<p>Hanya karena melihat orang bertato, kita menghakimi bahwa dia adalah orang nakal dengan kehidupan suram. Hanya karena melihat rambut teman disemir, kita menilai dia ingin meniru idol-idol Korea.</p>
<p>Masyarakat kita lebih banyak yang tidak bertato dan berambut hitam, sehingga orang-orang yang terlihat berbeda bisa dinilai dengan cepatnya tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.</p>
<p>Bisa saja yang bertato telah tobat dan sedang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Mereka yang mewarnai rambutnya bisa saja sedang mengalihkan perhatian dari masalahnya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.</p>
<p>Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan orang lain, jadi jangan <em>sotoy </em>dengan menghakimi mereka seenak <em>udel</em>.</p>
<h3>Bagaimana Cara Agar Tidak Judgemental?</h3>
<p>Karena menyadari dirinya cukup <em>judgemental</em>, Penulis berusaha mencari cara bagaimana untuk mengurangi bahkan menghilangkan sifat buruk tersebut.</p>
<div id="attachment_3473" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3473" class="size-large wp-image-3473" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/kenapa-sih-harus-judgemental-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3473" class="wp-caption-text">Menyakiti Orang Lain (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://hpigrp.com/resources/blog/avoid-gossip/" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwidsfmG29LnAhUkxDgGHUyFAoYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Highpoint Insurance Group</span></a>)</p></div>
<p>Pertama, <strong>menyadari bahwa kita tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain yang sebenarnya</strong>. Apa yang kita lihat hanyalah sampulnya saja, kita tidak tahu bagaimana dengan isinya.</p>
<p>Siapa yang tahu di balik sosok ceria terdapat jiwa yang kerap menangis di dalam sunyi. Untuk itu, kita harus berusaha memahami orang lain dengan baik, bukan hanya sekilas-sekilas.</p>
<p>Kedua, <strong>menerima kenyataan kalau manusia itu berbeda-beda</strong>. Manusia memiliki bentuk fisik, SARA (suku, agama, ras, budaya), kebiasaan, keluarga yang membesarkan, lingkaran pertemanan, yang banyak macamnya.</p>
<p>Jika kita terbiasa hanya berkomunikasi dengan orang-orang dengan latar belakang SARA yang sama, bisa jadi kita akan sulit menerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Di sinilah pentingnya memperluas sudut pandang kita sebagai manusia.</p>
<p>Ketiga, <strong>berusaha mengenal dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/mencintai-diri-sendiri/">mencintai diri sendiri</a></strong>. Bisa jadi, bentuk <em>judgemental </em>yang kita keluarkan untuk orang lain dikarenakan kita belum melakukan kedua hal penting tersebut.</p>
<p>Bagi sebagaian orang, ada perasaan takut kalah dengan manusia lainnya. Serangan menghakimi menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan orang lain sehingga mereka bisa merasa lebih aman.</p>
<p>Keempat, <strong>menumbuhkan sikap empati</strong>. Sebelum menghakimi orang lain dengan perkataan pedas, bayangkan jika kita menerima perkataan tersebut. Jika membuatmu tersakiti, berarti hentikan dan jangan katakan.</p>
<p>Kita harus memikirkan perasaan orang lain. Bisa jadi kalimat yang kita anggap sepele mampu melukai perasaan orang lain karena kita tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan.</p>
<p>Terakhir, <strong>diam jika tidak bisa berkata baik</strong>. Daripada kita mengomentari kehidupan orang lain dengan <em>nyinyiran </em>yang menyakiti, jauh lebih baik untuk diam.</p>
<p>Semua cara yang Penulis sebutkan di atas sedang Penulis usahakan untuk diterapkan ke diri sendiri. Memang sulit, tapi bisa dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Lantas, bagaimana cara menyadarkan orang yang tidak sadar kalau dirinya sedang bersikap <em>judgemental</em>? Coba katakan kalau perkataannya itu menyakiti kita dan jelaskan duduk perkaranya.</p>
<p>Memang tidak akan selalu berhasil, bahkan kita akan disebut baperan. Tidak apa-apa, kita yang sabar. Mungkin akan datang waktunya ketika ia sadar apa yang ia lakukan salah.</p>
<p>Tidak ada yang suka dihakimi dengan pernyataan yang menyakitkan. Jika pun kita menemukan seseorang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan santun tanpa bernada menyudutkan.</p>
<p>Apalagi, <em>judgemental </em>biasanya hanya bermodalkan satu lirikan tanpa ada niatan untuk mengetahui fakta sebenarnya. Pantas jika penilaian kita lebih sering salah.</p>
<p>Percaya deh, hidup tanpa memikirkan orang lain secara negatif dan berlebihan akan membuat hidup kita lebih nyaman dan tenang, kok!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi dari cerita seorang teman yang menerima perlakuan <em>judgemental</em></p>
<p>Foto: <a href="https://voicesinthedark.world/the-modern-stoic-30-killing-gossip-with-authenticity/">Voice in the Dark</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/rismayw/5640c4a3d092737507ac05d4/judgemental?page=all">Kompasiana</a>, <a href="https://komunita.id/2016/12/07/4-tips-untuk-menghindari-sikap-judgemental/">Komunita</a>, <a href="https://journal.sociolla.com/lifestyle/tips-mengurangi-pribadi-yang-judgemental">Sociolla</a>, <a href="https://mojok.co/auk/ulasan/pojokan/kenapa-sih-kita-mudah-nge-judge-hidup-orang/">Mojok</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">Kenapa Sih Harus Judgemental?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dia dan Kebohongannya</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2018 08:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[konspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kubu]]></category>
		<category><![CDATA[merasa benar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[perpecahan]]></category>
		<category><![CDATA[pihak]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1437</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanpa menyebutkan siapa dan apa kebohongannya, sebagian besar pembaca pasti sudah tahu tulisan ini mengarah ke mana. Tulisan ini hanya berusaha semampunya untuk memberikan sudut pandang dari dua sisi yang berbeda, sehingga perdebatan kurang penting bisa diminimalisir. Kedua kubu akan saya sebut Pihak Pertama dan Pihak Kedua. Sudut Pandang Pihak Pertama Dari sudut pandang Pihak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/">Dia dan Kebohongannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa menyebutkan siapa dan apa kebohongannya, sebagian besar pembaca pasti sudah tahu tulisan ini mengarah ke mana. Tulisan ini hanya berusaha semampunya untuk memberikan sudut pandang dari dua sisi yang berbeda, sehingga <a href="http://whathefan.com/2018/08/21/mendebatkan-hal-yang-kurang-penting/">perdebatan kurang penting</a> bisa diminimalisir.</p>
<p>Kedua kubu akan saya sebut Pihak Pertama dan Pihak Kedua.</p>
<p><strong>Sudut Pandang Pihak Pertama</strong></p>
<p>Dari sudut pandang Pihak Pertama, jelas kebohongan Dia sangat merugikan mereka karena merekalah yang menjadi tertuduh. Pihak Pertama menuding Pihak Kedua sengaja <em>playing victim </em>agar mendapatkan simpati masyarakat.</p>
<p>Pihak Pertama sangat mengecam perbuatan Dia, betapa teganya ketika negara ini dilanda musibah secara bertubi-tubi ada seseorang yang melakukan drama. Pihak Pertama juga mengutuk kawan-kawannya yang menyebarkan kebohongan tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.</p>
<p>Pihak Pertama juga sedikit menaruh empati kepada Dia, karena begitu kebohongannya terbongkar, kawan-kawannya ikut berbalik mengecam dan meninggalkannya secara berjamaah. Mungkin bisa disebut pengkhianatan.</p>
<p>Pihak Pertama menyuruh kita membayangkan, seandainya Pihak Kedua yang mudah dibohongi menjadi pemimpin negara ini, bisa hancur negara ini.</p>
<p><strong>Sudut Pandang Pihak Kedua</strong></p>
<p>Penulis awali dengan sebuah analogi sederhana. Seorang sahabat yang sangat kita percayai bercerita bahwa ia baru saja dianiaya. Terlihat luka-luka lebam pada wajahnya. Tentu kita menaruh simpati dan mengutuk siapa yang telah melakukannya.</p>
<p>Apabila kita mengalami kejadian seperti itu, apakah kita akan meminta hasil visum terlebih dahulu ke sahabat kita untuk mempercayainya? Tidak, karena nampak bekas-bekas penganiayaan dan kita sangat mempercayainya selama ini.</p>
<p>Pihak Kedua jelas langsung mencurigai Pihak Pertama sebagai pelakunya, karena Dia selama ini terkenal vokal dalam mengkritik Pihak Pertama. Bahkan Pihak Kedua menyelenggarakan konferensi pers untuk memberitakan penganiayaan yang terjadi pada Dia. Ternyata, Dia mengaku bahwa semua ceritanya hanya bohong semata.</p>
<p>Pihak Kedua pun buru-buru meminta maaf atas pembelaan yang telah mereka lakukan. Pihak Kedua juga merasa menjadi korban. Mereka balik mengecam Dia dan memintanya keluar dari tim Pihak Kedua.</p>
<p><strong>Netizen, Ahli Konspirasi</strong></p>
<p>Yang menarik, banyak netizen yang mendadak menjadi ahli konspirasi, baik dari Pihak Pertama maupun Pihak Kedua. Semua beranggapan terori mereka yang paling benar, dan teori kubu lain salah.</p>
<p>Pihak Pertama berteori bahwa kebohongan Dia merupakan strategi untuk menjatuhkan Pihak Pertama, menunjukkan seolah-olah Pihak Pertama menggunakan kekerasan untuk membungkam lawan. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan, Pihak Kedua ingin terlihat sebagai korban, padahal mereka yang merencanakan semua ini.</p>
<p>Pihak Kedua sempat berteori bahwa penganiayaan ini dilakukan untuk menyebar ketakutan terhadap mereka. Teori baru mereka kemukakan ketika Dia sudah mengakui kebohongannya. Pihak Kedua membuat teori bahwa Dia dipasang oleh Pihak Pertama untuk merusak tim Pihak Kedua dari dalam.</p>
<p>Teori-teori konspirasi tersebut penulis yakini akan dilupakan begitu saja pada akhirnya, karena Dia tidak menyebutkan alasannya untuk berbohong. Apakah itu sebuah kesengajaan agar keributan yang telah terjadi tetap terjadi? Jika iya, siapakah sebenarnya Dia? <em>Agent of Chaos</em> seperti Joker?</p>
<p><strong>Analogi Sebuah Koin</strong></p>
<p>Bang Gaber melalui komiknya, Lucunya Hidup Ini, secara cerdas mengilustrasikan kejadian ini dengan menggunakan analogi koin.</p>
<p>Bayangkan ada dua orang saling berhadap-hadapan. Salah satunya mengeluarkan koin dan bertanya kepada orang di seberangnya, apa yang ia lihat. Orang tersebut menjawab angka 1.000, yang langsung dibantah pemegang koin karena ia melihat gambar angklung. Terjadilah perdebatan karena sama-sama merasa benar, merasa sudut pandangnya lebih benar daripada orang lain.</p>
<blockquote><p>Kalo gitu kenapa lu juga maksain sudut pandang lu ke orang lain?</p>
<p>Bang Gaber, Lucunya Hidup Ini Ep. 247 Koin</p></blockquote>
<p>Pada akhirnya, kasus kebohongan ini hanya menjadi bahan perdebatan antar kubu. Ketika Pihak Pertama terus menyerang kebohongan Dia dengan menautkannya dengan orang-orang di Pihak Kedua, Pihak Kedua balik menunjukkan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan oleh Pihak Pertama.</p>
<p>Lihat, betapa menakutkan sebuah kebohongan yang diucapkan satu orang, lantas disebar oleh kawan-kawannya di Pihak Kedua. Mungkin karena itulah mahkluk sekejam Thanos pun tidak pernah mengajarkan Gamora untuk berbohong.</p>
<p>Padahal, mendebatkan permasalahan ini terlalu lama juga tidak memberikan efek untuk kita, apalagi sudah ada permintaan maaf dan proses hukum telah berjalan. Bukankah ada netizen yang mengatakan melemahnya rupiah tidak berpengaruh terhadap dirinya? Lantas mengapa mereka sangat meributkan kejadian ini seolah-olah kehidupan mereka terganggu karena kebohongan yang telah diakui oleh Dia?</p>
<p>Seperti kata Bang Gaber, perdebatan kurang penting ini terjadi karena masing-masing pihak merasa sudut pandangnya paling benar. Jika kita seperti ini terus, jurang perbedaan antar golongan akan terus semakin melebar, dan akhirnya dapat memecah belah bangsa Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 6 Oktober 2018, terinspirasi setelah hebohnya kebohongan Dia yang menggemparkan Indonesia di tengah badai bencana alam</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://stmed.net/wallpaper-55108">https://stmed.net/wallpaper-55108</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/">Dia dan Kebohongannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/dia-dan-kebohongannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
