<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>syukur Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/syukur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/syukur/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:54:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>syukur Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/syukur/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dikit-Dikit Insecure</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2020 06:07:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[insecure]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4121</guid>

					<description><![CDATA[<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya insecure. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya. Ada temen yang pintar, insecure. Ada artis yang pamer mobil baru, insecure. Ada orang yang jago banyak bahasa, insecure. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, insecure. Hal ini semakin diperparah dengan adanya media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya <strong><em>insecure</em></strong>. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya.</p>



<p>Ada temen yang pintar, <em>insecure</em>. Ada artis yang pamer mobil baru, <em>insecure</em>. Ada orang yang jago banyak bahasa, <em>insecure</em>. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, <em>insecure</em>.</p>



<p>Hal ini semakin diperparah dengan adanya media sosial. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pengguna hanya memperlihatkan sisi senangnya saja di berbagai platform.</p>



<p>Merasa <em>insecure</em> itu wajar. Tapi jika berlebihan, akan merugikan diri kita sendiri.</p>
<h3>Mengabaikan Rasa Syukur</h3>
<p><em>Insecure</em> dalam Oxford Dictionary memiliki makna:</p>
<blockquote>
<p><em>not confident about yourself or your relationships with other people</em></p>
</blockquote>
<p>Perasaan tidak nyaman atau percaya diri sendiri ini kerap terjadi ketika kita <strong>membandingkan diri kita dengan orang lain</strong> yang dianggap lebih berhasil atau sukses.</p>
<p>Kita jadi berpikir, <em>kok aku enggak bisa kayak dia ya. </em>Padahal, masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Rasanya hampir mustahil ada orang yang isinya hanya kekurangan saja.</p>
<p>Perasaan <em>insecure </em>yang berlebihan juga akan membuat kita <strong>mengabaikan rasa syukur</strong>. Kita terlalu berfokus dengan apa yang tidak kita punyai dan melupakan apa yang sudah dimiliki.</p>
<p>Dari buku-buku seputar <em>self-care</em> yang telah dibaca, Penulis menemukan banyak sekali kisah orang-orang yang hidupnya jauh lebih sengsara.</p>
<p>Hal ini semakin diperkuat ketika Penulis membaca sejarah-sejarah dunia yang kisahnya kerap memilukan hati.</p>
<p>Penulis harusnya bersyukur tidak perlu menjadi tawanan perang, tidak tahu siapa orangtua kandungnya, mengalami trauma yang begitu berat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Itu saja sudah cukup untuk dijadikan bahan syukur kita agar tidak mudah merasa <em>insecure</em>.</p>
<h3>Memanfaatkan Rasa <em>Insecure</em></h3>
<p>Seharusnya, rasa insecure bisa dijadikan bahan untuk <strong>memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi</strong>. <em>Insecure </em>akan menjadi percuma jika kita hanya mendiamkannya saja.</p>
<p>Melihat teman yang lebih pintar, kita jadi semangat belajar. Percuma merasa <em>insecure</em> tapi kitanya malah memilih rebahan sambil main HP.</p>
<p>Melihat rekan kerja membeli smartphone baru, kita jadi semangat untuk mengatur keuangan lebih baik lagi atau mencari penghasilan sampingan. Jangan cuma dijadikan sebagai bahan rasan-rasan.</p>
<p>Seperti yang pernah Penulis singgung di beberapa tulisan sebelumnya, <strong>semua kejadian yang ada di dunia ini adalah netral</strong>. Persepsi kita yang menentukan hal tersebut baik atau buruk.</p>
<p>Melihat kesuksesan atau kemampuan orang lain yang di atas kita bisa dilihat sebagai hal yang baik dengan menjadikannya motivasi. Menjadi buruk apabila membuat kita terpuruk.</p>
<h3>Menghilangkan (atau Minimal Mengurangi) <em>Insecure</em></h3>
<p>Jika perasaan <em>insecure</em> susah dihilangkan, coba untuk <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/"><strong>puasa media sosial</strong></a> semampunya. Selama itu, coba untuk lebih banyak melihat ke diri sendiri.</p>
<p>Latih <em>self-awareness</em> melalui berbagai sumber. Ada banyak video di YouTube ataupun aplikasi yang akan membantu kita mengenali diri sendiri.</p>
<p><strong>Perbanyak rasa syukur</strong> juga sangat membantu. Coba ingat apa saja yang selama ini kita lupakan untuk disyukuri, entah itu anggota tubuh yang lengkap, masih diberi hidup, memiliki keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya.</p>
<p>Lingkungan juga sangat memengaruhi. <em>Circle</em> yang selalu menjatuhkan kita akan membuat kita menjadi susah untuk percaya bahwa diri ini bisa lebih baik lagi.</p>
<p>Kalau lingkungan teman yang seperti itu, kita bisa meninggalkannya. Bagaimana dengan lingkungan keluarga? Cobalah untuk mencari orang-orang yang akan selalu mendukungmu dan memberimu kekuatan. Pasti ada orang seperti itu, Penulis yakin.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sekali lagi, merasa <em>insecure</em> itu sangat manusiawi. Penulis pun sampai sekarang masih sering merasakannya. Akan tetapi, kita bisa menggunakan perasaan tersebut untuk tumbuh atau justru menjatuhkan kita.</p>
<p>Pilihan ada di tangan kita sepenuhnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 November 2020, terinspirasi dari mudahnya generasi sekarang untuk merasa <em>insecure</em></p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_nessman">Nate Neelson</a></p>


<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/">Dikit-Dikit Insecure</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikit-dikit-insecure/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Ini Tukang Sambat</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2019 15:36:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mengeluh]]></category>
		<category><![CDATA[milik]]></category>
		<category><![CDATA[sambat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif. Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya. Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif.</p>
<p>Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. Contoh:</p>
<p><em>&#8220;Duh kok kangen sama rumah, ya?&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apa </em>resign <em>dari sini terus cari kerja di dekat rumah aja, ya?&#8221; </em>berkembang menjadi <em>&#8220;Tapi nanti pasti gajinya turun, enggak sebesar sekarang!&#8221;</em></p>
<p>Lamunan tersebut masih berlanjut menjadi <em>&#8220;Lagipula di sana industri kreatif masih dikit.&#8221; </em>menjadi <em>&#8220;Apalagi skill-ku cuma nulis, dasar aku enggak bodoh dan enggak guna!&#8221; </em>dan terakhir menjadi <em>&#8220;Aku </em>insecure<em> sama masa depanku!!!&#8221;</em></p>
<p>Cuma contoh, kok. Cuma contoh. Contoh bagaimana penulis sering <em>overthinked</em>.</p>
<h3>Manusia dan Sambatnya</h3>
<p>Manusia dan sambat memang susah untuk berpisah. Ada saja kejadian yang akan memicu munculnya sambat dari bibir atau minimal <em>nggerundel </em>di hati.</p>
<p>Sambat itu sangat manusiawi karena keterbatasan yang kita miliki. Mengeluh itu wajar karena kita bukan nabi yang sempurna dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/motivasi-itu-omong-kosong/">bisa menerima segala hal dengan positif</a>.</p>
<p>Apalagi, sambat juga bisa dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, kita akan mencari teman yang senasib dan saling menumpahkan sambat satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, terlalu sering sambat juga tidak baik untuk kita. Hidup kita akan tidak pernah tenang dan gelisah selalu menemani hari-hari kita.</p>
<p>Terlalu banyak sambat juga menandakan kita kurang bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seolah kita lupa memiliki Tuhan yang sudah menganugerahkan banyak hal ke kita.</p>
<h3>Hanya Melihat yang Lebih Baik</h3>
<p><div id="attachment_2949" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2949" class="size-large wp-image-2949" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/saya-ini-tukang-sambat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2949" class="wp-caption-text">Stephen Hawking (<a href="https://www.telegraph.co.uk/science/2018/03/19/wrong-theory-stephen-hawking-may-have-suffering-polio/">Telegraph</a>)</p></div></p>
<p>Sambat sering kali datang dari sikap kita yang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan diri dengan mereka yang sudah bergaji puluhan juta rupiah, yang sudah momong anak, yang sudah ke luar negeri, dan lain sebagainya.</p>
<p>Dengan membandingkan diri seperti itu, kita pun akan merasa kurang, kurang, dan kurang. Apalagi, kita hidup di era materialisme yang semuanya ditakar dengan benda fisik.</p>
<p>Kita melupakan apa yang telah kita miliki karena terlalu berfokus dengan apa yang belum dimiliki. Karena selalu &#8220;mendongak ke atas&#8221;, kita cenderung melupakan orang lain yang tidak seberuntung kita.</p>
<p>Penulis terinspirasi menulis topik ini karena salah satu teman penulis yang (maaf) fisiknya kurang sempurna meninggalkan komentar di Instagram <em>Whathefan</em>.</p>
<p>Inti dari komentarnya adalah membandingkan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/pembunuh-bernama-netizen/">depresi yang dialami Sulli</a> sebenarnya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki banyak kekurangan fisik seperti Beethoven, Helen Keller, hingga <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking</a>.</p>
<p>Lanjutnya, seharusnya Sulli dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya bisa lebih bersyukur dan mengingat apa yang ia miliki di dunia ini. Pembaca boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat ini.</p>
<p>Hal tersebut membuat penulis berpikir, apa yang sering penulis keluhkan selama ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan permasalahan teman-teman yang mengalami disabilitas.</p>
<p>Penulis merasa bahwa selama ini sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Penulis sering lupa untuk merasa bersyukur telah diberikan banyak sekali oleh Yang Maha Kuasa. Untunglah, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mengingatkan penulis.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Sesekali sambat itu boleh saja. Toh, terkadang setelah sambat kita merasa lebih baik. Yang tidak boleh itu sambat berlebihan hingga melupakan apa saja yang telah kita miliki.</p>
<p>Jika merasa kita mulai sambat berlebihan, coba tutup mata dan bayangkan apa saja yang kita miliki. Keluarga, cinta, persahabatan, tabungan, kerja yang nyaman, apapun yang terlintas di kepala kita.</p>
<p>Hidup dengan penuh syukur itu dijamin lebih enak dibandingkan dengan hidup penuh sambat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi dari sebuah komentar sederhana dari salah satu teman hebat penulis.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@icons8">Icons8 team</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-tukang-sambat/">Saya Ini Tukang Sambat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Lupa Bahagia</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Oct 2019 14:10:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[INFJ]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[MBTI]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2833</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat jangan lupa bahagia kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream. Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni Chelsea Islan dan Anji. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu Happy Birthday. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, selalu bahagia. Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap mengatakan kalimat <strong>jangan lupa bahagia </strong>kepada orang-orang terdekat. Tujuannya hanya sekadar memberi semangat yang anti-mainstream.</p>
<p>Inspirasinya datang dari dua orang yang berbeda, yakni <strong>Chelsea Islan </strong>dan <strong>Anji</strong>. Ada satu video di mana Chelsea membuat video pendek dan bernyanyi lagu <em>Happy Birthday</em>. Lagu tersebut ia tutup dengan harapan dan satu frasa, <em>selalu bahagia</em>.</p>
<p>Di sisi lain, Anji di kanal YouTube miliknya selalu menutup video dengan kalimat <em>jangan lupa senyum hari ini</em>. Dari sanalah penulis melakukan <em>fusion </em>dan menjadi jangan lupa bahagia.</p>
<p>Akan tetapi setelah direnungkan kembali, penulis menggunakan kalimat ini ke orang lain dan tak pernah mengucapkannya untuk diri sendiri!</p>
<h3>Terlalu Fokus dengan Kebahagiaan Orang Lain</h3>
<p>Boleh percaya atau tidak, penulis adalah tipe orang yang bahagia jika melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, penulis akan melakukan sesuatu semampunya agar bisa membuat orang lain bahagia.</p>
<p>Hal itu bisa diwujudkan dengan memberikan perhatian, membelikan hadiah, menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>, dan lain sebagainya. Apapun yang bisa penulis berikan, akan penulis berikan.</p>
<p><em>Masalahnya, penulis terlalu memfokuskan diri untuk membahagiakan orang lain hingga lupa dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri. </em></p>
<p>Ketika mengambil tes MBTI beberapa waktu lalu, penulis mendapatkan hasil <strong>INFJ</strong> (<i>Introversion</i>, <i>Intuition</i>, <i>Feeling</i>, <i>Judgement</i>) atau <strong>Advokat</strong>. Padahal, dulu ketika melakukan tes yang sama, penulis merupakan tipe <strong>ENFJ</strong> atau <strong>Protagonis</strong>.</p>
<p>Orang-orang dengan kepribadian ini biasanya sangat peduli dengan orang lain, namun jarang memedulikan diri sendiri. Mereka juga terkadang tidak bisa memahami diri mereka sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut seperti yang penulis lansir dari <a href="https://www.16personalities.com/id/kepribadian-infj"><em>16personalities.com</em></a><em>, </em>orang INFJ cenderung menganggap membantu orang lain adalah tujuan hidupnya. Bahkan, terkadang memberikan pertolongan tanpa diminta atau melebihi dari yang diminta.</p>
<p>Mereka juga peduli dengan perasaan orang lain dan menyimpan harapan orang lain juga akan berlaku sama kepada dirinya. Mungkin karena karakteristik inilah, penulis sering mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.</p>
<h3>Sering Merasa Tidak Bahagia?</h3>
<p>Waktu sekolah dulu, penulis sering memasang wajah muram dan serius, seolah tidak pernah bahagia. Hal ini berdampak kepada pemborosan muka melebihi usianya. Ketika kuliah, penulis sudah mengurang kemuraman tersebut.</p>
<p>Jika dipikir-pikir kembali, penulis memang jarang memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mungkin, lebih tepatnya adalah penulis sering merasa tidak bahagia.</p>
<p>Selalu ada saja celah yang bisa penulis manfaatkan untuk merasa tidak bahagia. Ada saja bagian-bagian kecil dari kehidupan yang penulis jadikan sebagai alasan ketidakbahagiaan.</p>
<p>Saat merenung, penulis sadar bahwa sebenarnya kunci kebahagiaan itu hanya satu: <strong>bersyukur</strong>.</p>
<p>Harusnya, penulis merasa bahagia karena memiliki keluarga yang relatif harmoni, bahagia memiliki banyak teman-teman yang peduli, bahagia karena memiliki pekerjaan enak dengan gaji lumayan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika saja penulis lebih sering berfokus kepada hal-hal yang telah dimiliki, niscaya penulis bisa merasa lebih bahagia lagi. Bagaimana penulis bisa membahagiakan orang lain jika dirinya sendiri tidak bahagia?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Yang masih harus penulis asah adalah bagaimana cara membahagiakan orang lain secara tulus. Selama ini, penulis masih menyimpan pamrih karena berharap orang yang dibahagiakan akan memberikan timbal balik sebanding.</p>
<p>Karena itulah, terkadang penulis <a href="https://whathefan.com/karakter/mengukur-keikhlasan/">mengalami kekecewaan</a> ketika yang diharapkan tidak terjadi. <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">Berbuat sesuatu secara ikhlas</a> memang susah luar biasa.</p>
<p>Apalagi, terkadang niat baik kita untuk membahagiakan atau menolong orang lain juga tidak ditangkap dengan baik. Akibatnya, terjadi salah paham yang membuat hubungan jadi memburuk.</p>
<p><a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Kontemplasi</a> yang sering penulis lakukan akhir-akhir ini menjelang tidur membukakan mata penulis untuk lebih peduli dengan kebahagiaannya sendiri. Caranya, perbanyak syukur dengan apa yang telah dimiliki.</p>
<p>Dengan demikian, penulis juga bisa lebih membahagiakan orang-orang di sekitar penulis sesuai dengan batasan kemampuannya. Yang pasti, penulis akan makin sering berkata jangan lupa bahagia, baik untuk dirinya sendiri maupu orang lain.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>JANGAN LUPA BAHAGIA!!!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Oktober 2019, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya jarang merasa bahagia.</p>
<p>Foto: <a href="https://www.kincir.com/tag/merry-riana-mimpi-sejuta-dolar">Kincir</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan Lupa Bahagia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hebat dengan Cara Kita Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 09:54:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[diri sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hebat]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>
		<category><![CDATA[minder]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=829</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain? Pasti pernah, terutama jika ada orang yang lebih dari kita. Yang dibandingkan pun bermacam-macam, dan di sini penulis membaginya menjadi dua, harta dan sifat.</p>
<p>Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tentu akan menimbulkan sifat iri hati, yang tentunya bisa merusak hati. Selain iri, kita juga bisa menjadi rendah diri alias minder, tidak percaya dengan diri sendiri.</p>
<p>Yang paling berbahaya tentu iri dengan harta orang lain. Kita iri dengan orang yang punya iPhone X, membawa <em>Lamborghini</em> hingga menggunakan jam tangan Rolex asli.</p>
<p>Iri terhadap barang benda yang sejatinya tidak dibawa mati ini tentu akan membuat kita terus merasa tidak puas. Kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki dan justru berfokus dengan apa yang kita tidak miliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[15]">فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ</span><br id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[17]" /><em><span id=".reactRoot[3].[1][2][1]{comment4297162279681_4132157}.0.[1].0.[1].0.[0].[0][2].0.[18]">&#8220;Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?&#8221; (QS. Ar-Rahman [55] )</span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan untuk perbandingan yang kedua, yakni membandingkan sifat, masih bisa kita cari positifnya, asalkan tidak iri dengan sifat jelek orang lain. Seandainya kita melihat orang lain memiliki banyak sifat-sifat positif dan iri karenanya, kenapa kita tidak berusaha menjadi seperti mereka?</p>
<p><em>Karena saya ingin menjadi diri saya sendiri.</em></p>
<p>Lo bukan begitu pola pikirnya. Tidak ada yang menyuruh untuk menjadi orang lain. Kita harus menjadi diri kita sendiri <em>yang terus berubah menjadi lebih baik setiap harinya</em>. Mengubah sifat buruk menjadi sifat baik tidak akan menghilangkan jati diri kita.</p>
<p>Selain itu, terkadang kita merasa kagum dengan kehebatan orang lain dan membatin, <em>kenapa aku tidak bisa sehebat dia</em>. Kata siapa? Kita hebat dengan cara kita sendiri, yang belum tentu orang lain memilikinya. Hanya saja, terkadang manusia melupakan kehebatan dirinya sendiri, dan justru iri dengan kehebatan orang lain.</p>
<p><em>Saya memang tidak pernah berbuat sesuatu yang menurut saya hebat</em>.</p>
<p>Baiklah, seandainya memang seperti itu, maka buatlah sesuatu yang hebat sekarang! Tidak ada gunanya meratapi masa lalu sambil memeluk lutut di sudut ruang. Jika kamu merasa seperti itu, bertindaklah, buat dirimu hebat!</p>
<p>Bagaimana caranya? Hanya kita yang tahu bagaimana caranya. Orang lain mungkin hanya bisa memberikan masukan-masukan, tapi kita lah yang menentukan jalan kita.</p>
<p>Kita dilahirkan ke dunia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maksimalkan kelebihan kita sembari mereduksi kekurangan kita secara perlahan-lahan.</p>
<p>Percayalah, kita hebat dengan cara kita sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 25 Mei 2018, terinspirasi setelah berdiskusi dengan salah satu anggota Karang Taruna</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116">https://www.cubimo.com/howto/magazine-detail/The-habits-of-successful-people/116</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/">Hebat dengan Cara Kita Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/hebat-dengan-cara-kita-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
