<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>wayang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/wayang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/wayang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Oct 2024 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>wayang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/wayang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 03:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Semar]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7993</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita pewayangan selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua lore dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan. Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah Kitab Omong Kosong dari Seno Gumira Ajidarma [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Cerita pewayangan</a> selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua <em>lore </em>dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan.</p>



<p>Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Kitab Omong Kosong</a> </em>dari Seno Gumira Ajidarma dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Anak Bajang Menggiring Angin</a> </em>dari Sindhunata. Dua-duanya menarik, sehingga jika salah satu merilis novel wayang baru, Penulis akan membelinya.</p>



<p>Nah, oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul <em><strong>Anak-Anak Semar </strong></em>yang ditulis oleh Sindhunata. Apalagi, mayoritas cerita wayang yang Penulis baca selama ini jarang mengulas tentang salah satu anggota Punakawan tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/berlibur-ke-jakarta-bagian-2-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/berlibur-ke-jakarta-bagian-2-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/berlibur-ke-jakarta-bagian-2-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/berlibur-ke-jakarta-bagian-2-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/berlibur-ke-jakarta-bagian-2-banner.jpg 1280w " alt="Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 2)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-berlibur-ke-jakarta-selama-5-hari-bagian-2/">Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 2)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Anak-Anak Semar</em></li>



<li>Penulis: Sindhunata</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Juni 2022</li>



<li>Tebal: 204 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020662084</li>



<li>Harga: Rp128.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p class="has-text-align-center"><em>Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="has-text-align-center"><em>Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Anak-Anak Semar</h2>



<p>Tidak seperti judulnya, <em>Anak-Anak Semar </em>tidak bercerita tentang Bagong, Petruk, dan Gareng. Jujur, Penulis tidak benar-benar paham apa maksud dari judul tersebut karena novel ini justru bercerita tentang perjalanan dan perenungan Semar.</p>



<p>Yang Penulis tangkap, &#8220;anak-anak&#8221; di sini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat yang ada di dalam novel ini sekaligus kita sebagai pembaca novel ini. Kita ini anak-anak yang masih membutuhkan keberadaan Semar, yang diceritakan sempat menghilang tanpa sebab.</p>



<p>Novel ini terdiri dari enam bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Semar Mencari Raga</li>



<li>Semar Hilang</li>



<li>Semar Mati</li>



<li>Semar Mbangun Khayangan</li>



<li>Semar Boyong</li>



<li>Semar Minggat</li>
</ol>



<p>Dari keenam judul tersebut, kita sudah mendapatkan gambaran kasar mengenai perjalanan yang akan dihadapi oleh Semar di novel ini: bagaimana ia &#8220;melepaskan&#8221; rohnya dari jasadnya, lalu bagaimana hilangnya Semar menimbulkan kegemparan, hingga anggapan bahwa Semar telah mati.</p>



<p>Setelah itu, setelah melalui perenungan dalam di alam khayangan (karena sejatinya Semar adalah dewa), ia berkeinginan untuk membuat &#8220;khayangannya&#8221; sendiri di dunia, lalu kembali ke bumi. Lantas, mengapa di akhir justru ia &#8220;minggat&#8221;? Temukan jawabannya di novel ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Anak-Anak Semar</h2>



<p>Sejujurnya, jika dibandingkan dengan novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, <em>Anak-Anak Semar </em>lebih berat untuk dicerna. Alasannya, novel ini lebih banyak berisikan <strong>kalimat-kalimat monolog untuk menggambarkan situasi yang terjadi</strong>, baik ketika ada Semar maupun tidak.</p>



<p>Dialog yang ada lebih sering digunakan untuk mendukung situasi yang sedang terjadi. Misal, kegemparan ketika Semar menghilang, banyak dialog dari masyarakat yang menunjukkan keresahan. Selain itu, dialog juga terjadi ketika dalang sedang menceritakan kisah wayang.</p>



<p>Oleh karena itu, meskipun novelnya tipis, Penulis <strong>cukup lama menamatkannya</strong>. Ada banyak sekali bagian yang membuat Penulis harus berpikir keras untuk bisa memahaminya. Terkadang, sudah pelan-pelan membacanya pun Penulis masih kesulitan.</p>



<p>Tipisnya novel ini (hanya sekitar 200 halaman) juga menjadi kekurangan buku ini, karena <strong>harganya cukup mahal</strong>! Penulis tidak memahami apa alasan novel ini dilabeli harga Rp128 ribu, ketika buku lain yang memiliki ketebalan mirip biasanya dilabeli sekitar 70-80 ribu.</p>



<p>Namun, masih banyak hal positif dari novel ini.<strong> Keindahan pemilihan kata oleh Sindhunata jelas tak perlu diragukan lagi</strong>. Meskipun memang tak mudah dipahami, setidaknya kita akan dibuai dengan keindahan bahasa yang beliau tuliskan.</p>



<p>Sama seperti novel <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em>, ada <strong>banyak filsafat jawa yang disisipkan </strong>dalam novel setipis ini. Salah satu yang paling sering dibahas adalah bagaimana pentingnya untuk merenungi diri sendiri, seperti yang sering Semar lakukan pada novel ini.</p>



<p>Selain itu, ada <strong>banyak ilustrasi menarik yang dibuat oleh Nasirun</strong>. Ilustrasi tersebut menggambarkan Semar dalam berbagai wujud. Cukup banyak ilustrasi yang terdapat di novel ini, setidaknya satu di setiap babnya.</p>



<p>Dengan berbagai penilaian tersebut, Penulis kurang merekomendasikan novel ini untuk orang yang masih awam dengan dunia perwayangan karena pasti akan terasa berat. Namun, jika memang sudah mengetahui banyak tentang dunia wayang, buku ini akan menjadi bacaan yang menarik.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 6/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 19 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak-Anak Semar </em>karya Sindhunata</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/">[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-anak-anak-semar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Oct 2023 00:06:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[judi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[Pandawa]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhistira]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6895</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melihat semakin maraknya kasus judi online di masyarakat yang sangat memprihatinkan hingga melibatkan banyak streamer game, Penulis jadi teringat oleh salah satu kisah pewayangan yang terkenal. Yudhistira yang merupakan sulung para Pandawa pun pernah terlilit masalah karena masalah judi. Padahal, ia dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana. Namun, ternyata seorang yang bijaksana pun harus terkena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/">Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melihat semakin maraknya kasus judi <em>online </em>di masyarakat yang sangat memprihatinkan hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/streamer-game-terseret-pusaran-judi-online/">melibatkan banyak <em>streamer game</em></a>, Penulis jadi teringat oleh salah satu kisah pewayangan yang terkenal. </p>



<p><strong>Yudhistira</strong> yang merupakan sulung para Pandawa pun pernah <strong>terlilit masalah karena masalah judi</strong>. Padahal, ia dikenal sebagai sosok raja yang bijaksana. Namun, ternyata seorang yang bijaksana pun harus terkena getah karena bermain judi.</p>



<p>Lantas, mengapa Yudhistira bermain judi dalam bentuk dadu? Apa konsekuensi yang harus diterima olehnya (dan keluarganya) karena kalah dalam perjudian tersebut? Semuanya akan berusaha Penulis ringkas melalui tulisan ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/avengers-endgame-banner3-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/avengers-endgame-banner3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/avengers-endgame-banner3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/avengers-endgame-banner3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/avengers-endgame-banner3.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton Avengers: Endgame (Bagian 2: Plot Holes)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-2-plot-holes/">Setelah Menonton Avengers: Endgame (Bagian 2: Plot Holes)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Latar Belakang Yudhistira</h2>



<p><strong>Yudhistira</strong>, atau kerap disebut Puntadewa dalam pewayangan Jawa, merupakan anak sulung dari pasangan <strong>Pandu</strong> dan <strong>Kunti</strong> dari Dinasti Kuru. Menariknya, ia lahir berkat bantuan <strong>Dewa Yama (Dharma)</strong> karena Pandu terkena kutukan akan meninggal jika berhubungan badan.</p>



<p>Dalam Dinasti Kuru, Pandu diangkat menjadi raja karena kakaknya, <strong>Dretarastra</strong>, mengalami kebutaan sejak lahir. Namun, setelah Pandu terkena kutukan, ia memilih untuk menepi dan membuat kakaknya memimpin kerajaan <strong>Hastinapura</strong> untuk sementara.</p>



<p>Lantas, setelah Pandu meninggal karena melanggar kutukan Resi, Yudhistira bersama keempat saudaranya (<strong>Bima</strong>, <strong>Arjuna</strong>, <strong>Nakula</strong>, <strong>Sadewa</strong>) dan Kunti pun kembali ke kerajaan dan mendapatkan bimbingan dari beberapa tokoh seperti Bisma dan Resi Drona.</p>



<p>Sebagai anak dari Pandu, para Pandawa kerap berselisih dengan sepupu mereka yang merupakan anak-anak Drestarastra, yakni para keseratus Kurawa yang disulungi oleh <strong>Duryodhana</strong>. Bumbu-bumbu perebutan takhta pun telah tercium.</p>



<p>Saat Yudhistira beranjak dewasa, artinya status Drestarastra sebagai raja sementara pun akan segera dikembalikan ke keturunan Pandu. Hal ini tidak diinginkan Duryodhana. Maka berbagai rencana jahat pun mulai dilakukan.</p>



<p>Salah satu kisah yang paling terkenal adalah insiden pembakaran Laksagraha, sebuah istana yang terbuat dari lilin. Yudhistira bersama saudara dan ibunya selamat dari kejadian tersebut, lalu memutuskan untuk pergi dari Hastinapura.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Terbaginya Hastinapura Menjadi Dua</h2>



<p>Setelah pergi dari Hastinapura dan mengasingkan diri, Arjuna berhasil memenangkan sayembara untuk menikahi <strong>Drupadi</strong>. Namun, karena kesalapahaman Kunti, pada akhirnya Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa.</p>



<p>(Catatan: Di versi pewayangan Jawa, Drupadi hanya menikah dengan Yudhistira)</p>



<p>Para Pandawa pun kembali ke Hastinapura setelah menikahi Drupadi, menuntut hak mereka atas kerajaan. Karena pihak Kurawa enggan mengembalikan kerajaan tersebut dan demi menghindari perselisihan, akhirnya Hastinapura pun dibagi menjadi dua.</p>



<p>Yudhistira pun menjadi raja di kerajaan yang diberi nama <strong>Indraprastha</strong> (atau lebih terkenal dengan nama Amarta dalam pewayangan Jawa). Dibangun dari hutan &#8220;angker&#8221; yang ditinggalkan, kerajaan Indraprastha memiliki sebuah istana yang begitu megah.</p>



<p>Ketika mengadakan upacara Rajasuya, Yudhistira mengundang raja-raja dari kerajaan lain, termasuk Duryodhana. Saat memasuki istana Indraprastha, Duryodhana merasa kagum dengan kemegahan istana tersebut.</p>



<p>Ada satu kejadian memalukan di mana Duryodhana mengira lantai sebagai air, dan mengira air sebagai lantai. Hal ini membuat Bima tertawa terbahak-bahak, sekaligus menimbulkan perasaan dendam yang teramat besar pada diri Duryodhana.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Undangan Bermain Dadu</h2>



<p>Kemegahan istana Indraprastha membuat Duryodhana ingin menguasainya. Ia pun berkonsultasi dengan paman sekaligus penasehatnya, <strong>Sengkuni</strong>. Akhirnya mereka pun mengundang Yudhistira untuk bermain dadu (baca: judi) melalui Drestarastra.</p>



<p>Meskipun terkenal sebagai raja yang bijaksana, ada versi yang menyebutkan kalau <strong>Yudhistira sebenarnya menyukai permainan dadu</strong>. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa sebenarnya Yudhistira sangat menentang judi karena tidak membawa kebaikan.</p>



<p>Di sisi lain, karena yang mengundang pamannya sendiri, ia merasa <strong>perlu menghargai undangan </strong>tersebut dengan cara menghadirinya. Apalagi, Yudhistira pada dasarnya adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada orang lain, bahkan kepada Duryodana. </p>



<p>Oleh karena itu, undangan tersebut ia anggap sebagai ajakan bermain dari keluarga tanpa ada prasangka negatif. Apalagi, pasti ada konsekuensi jika ia sampai menolak undangan bermain dadu dari kerajaan lain, seperti dianggap pengecut atau bahkan hingga memicu perang.</p>



<p>Permainan dadu pun diadakan di Hastinapura. Sama seperti kasus judi <em>online </em>kebanyakan, awalnya Yudhistira diberi kemenangan oleh pihak Duryodana dan Sengkuni. Taruhan yang semula kecil-kecilan, pada akhirnya semakin menjadi tidak masuk akal.</p>



<p>Yudhistira pada satu titik akhirnya<strong> mempertaruhkan seluruh kerajaan Indraprastha</strong>, yang menjadi target sebenarnya permainan judi tersebut diadakan. Tentu saja hal tersebut berakhir dengan kekalahan karena permainan tersebut memang sudah di-<em>setting </em>oleh Sengkuni.</p>



<p>Meskipun telah kehilangan kerajaannya, Yudhistira seolah menjadi gelap mata seperti para pemain judi <em>online </em>yang terus berharap kemenangan di ronde berikutnya. Bayangkan, <strong>ia mempertaruhkan para saudaranya, dirinya sendiri, bahkan istrinya Drupadi</strong>.</p>



<p>Drestarastra yang merasa tidak tega melihat keponakannya begitu terhina akhirnya memerintahkan Duryodana untk mengembalikan semuanya, yang berat hati ia lakukan. Akhirnya judi dilakukan ulang, dengan taruhan yang kalah harus mengasingkan diri.</p>



<p>Seolah tidak belajar dari kesalahan, Yudhistira pun kembali bermain dan tentu saja kalah lagi. Alhasil, ia bersama saudara, istri, dan ibunya pun harus mengasingkan diri selama 12 tahun ditambah 1 tahun menyamar tanpa boleh ketahuan pihak Kurawa.</p>



<p>Kelak, setelah mengasingkan diri dan menyamar tanpa ketahuan, Yudhistira datang ke Duryodana untuk meminta kembali Indraprastha. Namun, Duryodana menolak untuk menyerahkannya. Yudhistira melunak dengan meminta lima desa saja, tapi tetap ditolak.</p>



<p>Hal inilah yang akhirnya memicu Perang Mahabharata yang amat dahsyat di kemudian hari, sebuah perang dengan jumlah korban yang tidak main-main. Sebuah pertempuran antara satu dinasti yang memperebutkan takhta, yang bisa terjadi karena diawali oleh judi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bayangkan, dari sebuah karya kuno yang ditulis ribuan tahun lalu, sebenarnya kita bisa belajar mengenai betapa destruktifnya permainan dadu bagi para pemainnya. Yudhistira yang bijak pun harus merasakan pahitnya kekalahan bermain judi.</p>



<p>Sengkuni pun masih hadir di dunia perjudian saat ini dalam bentuk bandar-bandar judi yang sudah mengatur permainan agar bisa mengeruk keuntungan sebanyak-banyak dari para pemain yang telah gelap mata dan terus berharap di <em>game </em>selanjutnya akan menang.</p>



<p>Meskipun tidak bisa dijustifikasi, alasan Yudhistira menerima ajakan bemain dadu adalah demi menghormati pamannya, yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Ia terlalu berprasangka baik, dengan bepikir tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.</p>



<p>Nah, kalau &#8220;Yudhistira-Yudhistira&#8221; di era modern, apa alasan mereka untuk bermain judi? Kemungkinan besar adalah karena menyimpan harapan bisa meraup uang banyak dengan cara mudah, tanpa menyadari ada &#8220;Sengkuni&#8221; di balik permainan tersebut. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 Oktober 2023, terinspirasi dari adanya kasus judi <em>online </em>yang semakin meresahkan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.apartmenttherapy.com/dice-games-37187802">Apartment Therapy</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://youtu.be/6qYf0E425qw?si=8qgoVzh8NiKTilqH">MEMPERTANYAKAN SOSOK YUDHISTIRA &#8211; Tangan Belang</a></li>



<li><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Yudhishthira">Yudhishthira &#8211; Wikipedia</a></li>



<li><a href="https://www.quora.com/What-is-the-character-of-Yudhistira-in-the-perspective-of-a-dice-game">What is the character of Yudhistira in the perspective of a dice game? &#8211; Quora</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/">Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2020 00:31:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sindhunata]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyukai cerita wayang meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah. Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah: Mahabharata karya C. Rajagopalachari Drupadi dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma Rahvayana Buku 1 dan 2 karya Sujiwo Tejo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis menyukai <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">cerita wayang</a> meskipun tidak pernah menonton pertunjukannya secara langsung karena terkendala bahasa. Dari YouTube pun tidak pernah.</p>
<p>Penulis lebih memilih untuk membaca buku-buku yang bertemakan wayang. Beberapa judul yang Penulis miliki adalah:</p>
<ul>
<li><em>Mahabharata</em> karya C. Rajagopalachari</li>
<li><em>Drupadi</em> dan <em>Kitab Omong Kosong</em> karya Seno Gumira Ajidarma</li>
<li><em>Rahvayana</em> <em>Buku 1 dan 2</em> karya <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Sujiwo Tejo</a></li>
<li><em>Togog Tejamantri</em> karya Gesta Bayuadhy</li>
<li><em>Punakawan Menggugat</em> karya Ardian Kresna (belum tamat)</li>
</ul>
<p>Ada cerita yang sedikit unik terkait buku wayang ini. Penulis telah memiliki <em><strong>Mahabharata</strong> </em>karya C. Rajagopalachari. Penulis juga menginginkan novel karya satunya lagi, <strong><em>Ramayana</em></strong>.</p>
<p>Penulis mendapatkan novel <em>Mahabharata </em>dengan harga diskon, Rp30 ribu. Penulis pun berharap ada novel <em>Ramayana </em>dengan harga yang sama, sehingga tidak membeli novelnya ketika harganya masih normal.</p>
<p>Akibatnya, Penulis tidak pernah menemukan novel ini dengan harga murah. Bahkan ketika Penulis memutuskan ingin membeli dengan harga normal, bukunya sudah tidak tersedia lagi di toko buku!</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis sempat tidak mengerti bagaimana alur cerita <em>Ramayana</em>. Penulis ingin membeli buku <em><strong>Kitab Omong Kosong</strong> </em>yang katanya juga ada kaitannya dengan <em>Ramayana</em>, namun buku ini juga tidak tersedia di toko buku.</p>
<p>Akhirnya Penulis membeli buku <em>Kitab Omong Kosong</em> secara online. Cerita lengkapnya ada di <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">tulisan Penulis yang lain</a>. Setelah dibaca, Penulis makin penasaran dengan alur cerita <em>Ramayana</em>.</p>
<p>Lantas ketika berada di Gramedia Gandaria City Mall, Penulis menemukan buku berjudul <strong><em>Anak Bajang Menggiring Angin </em></strong>karya Sindhunata. Ini bukan buku baru, Penulis pernah melihatnya ketika kuliah namun urung membelinya karena harganya yang mahal.</p>
<p>Selain itu, Penulis juga tidak mengetahui apa cerita dari novel ini. Ketika membacanya sekilas, ternyata novel ini bercerita tentang <em>Ramayana</em>! Penulis pun segera membawa buku ini ke kasir dan segera membacanya.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Karena cerita <em>Ramayana </em>sudah banyak diketahui oleh orang, Penulis tidak akan banyak bercerita tentang isi buku ini. Buku ini hanya menghadirkan versi penulisan lain yang indah menurut Penulis.</p>
<p>Mulai dari kelahiran Rahwana, kelahiran Hanoman, bertemunya Rama dan Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, peperangan hebat untuk menyelamatkan Sinta, ketidakpercayaan Rama terhadap Sinta, semua diceritakan di sini.</p>
<p>Total buku ini dibagi menjadi <strong>8 bab</strong>, di mana tiap bagiannya terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Setiap bab biasanya memiliki alur cerita yang spesifik mengenai satu lakon tertentu.</p>
<p>Misal di bab pertama, cerita berfokus tentang bagaimana Rahwana bisa lahir ke muka bumi ini karena kesalahan manusia bernama Wisrawa dan Sukesi. Bab kedua tentang kelahiran Hanuman dan begitu seterusnya.</p>
<p>Selain itu, buku ini juga menyisipkan <strong>puisi-puisi yang indah</strong> dan <strong>gambar pewayangan yang menarik mata</strong>. Lumayan untuk selingan sehingga mata tidak terlalu lelah ketika membacanya.</p>
<p>Mungkin karena penulis buku ini adalah orang Jawa (lahir di Kota Batu, Jawa Timur), ada banyak <strong>filsafat Jawa</strong> yang kita temukan dari dialog antar tokohnya. Tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan juga cinta.</p>
<h3>Setelah Membaca <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em></h3>
<p>Buku ini cukup tebal, hampir<strong> 500 halaman</strong>. Penulis menamatkannya di kereta api ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/meninggalkan-jakarta-untuk-sementara/">perjalanan pulang dari Jakarta menuju Malang</a>.</p>
<p>Walaupun tebal, Penulis sangat menikmati kata demi katanya. Sindhunata cukup cermat dalam <strong>merangkai kalimat dengan indah</strong> sehingga membuat pembacanya akan terbuai dalam alam pewayangan.</p>
<p>Membaca buku ini membuat Penulis serasa sedang menikmati karya sastra yang penuh metafora namun mudah dicerna. Tidak ada alur cerita ataupun penulisan yang membuat Penulis kebingungan.</p>
<p>Melalui judulnya, novel ini mungkin<strong> lebih berfokus pada karakter Hanuman</strong>, meskipun kehadiran Rama, Sinta, dan Rahwana juga cukup dominan. Penggambaran karakter-karakternya juga kuat.</p>
<p>Kita akan diajak untuk merenungi kehidupan yang kita jalani berkat nasihat-nasihat yang terselip di dalamnya. Maka dari itu, Penulis menyarankan untuk pelan-pelan menikmati buku ini agar bisa meresapi isinya secara mendalam.</p>
<p>Mungkin kekurangan dari buku ini adalah bagian akhirnya yang dibuat menggantung. Penulis sudah mengetahui akhir dari cerita <em>Ramayana </em>dari buku lain, tapi tetap saja Penulis berharap bisa melihat akhir <em>Ramayana </em>yang tuntas pada buku ini.</p>
<p>Penulis tidak berani banyak memberi kritikan pada novel ini karena pengetahuannya akan dunia wayang sangat terbatas. Walaupun begitu, Penulis tidak ragu untuk merekomendasikan karya sastra ini kepada siapa saja yang ingin mengetahui kisah <em>Ramayana </em>yang legendaris.</p>
<p>Nilai: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 7 Desember 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Anak Bajang Menggiring Angin</em> karya Sindhunata</p>
<p>Foto: <a href="https://press-officer.com/digital-composite-of-wooden-table-with-library-background/">Press Officer</a> &amp; <a href="https://www.tokopedia.com/astuti-shop/buku-anak-bajang-menggiring-angin-by-sindhunata">Tokopedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/">Setelah Membaca Anak Bajang Menggiring Angin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-anak-bajang-menggiring-angin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2020 11:24:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya! Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul Drupadi dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul Kitab Omong Kosong. Maka dari itu, Penulis mulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis adalah penggemar wayang. Penulis juga pembaca buku-buku karya Seno Gumira Ajidarma. Jika Seno menulis buku bertemakan wayang, artinya wajib hukumnya untuk membelinya!</p>
<p>Sebelumnya, Penulis pernah membaca buku Seno yang berjudul <em>Drupadi </em>dan Penulis sangat menyukainya. Lantas, Penulis teringat kalau Seno juga pernah menulis novel tebal berjudul <strong><em>Kitab Omong Kosong</em></strong>.</p>
<p>Maka dari itu, Penulis mulai mencari buku tersebut. Sayang, setelah mencari di puluhan toko buku, Penulis tidak pernah menemukannya karena buku tersebut memang termasuk buku lama dan tidak ada tanda-tanda akan dicetak ulang.</p>
<p>Akhirnya, Penulis memutuskan untuk membelinya secara online. Sayang, karena kurang cermat ternyata buku yang penulis beli adalah buku bekas yang sudah berjamur di mana-mana. Kecewa, Penulis meletakkan buku ini begitu saja di rak dan tidak pernah membacanya.</p>
<p>Di saat WFH ini, entah mengapa Penulis merasa terdorong untuk membacanya. Penulis berusaha keras untuk mengabaikan fakta kecatatan fisik yang dimilikinya.</p>
<p>Hasilnya, novel tebal ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu singkat!</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dulu sewaktu masih aktif di organisasi Pers Mahasiswa, ada rekan Penulis yang membawa novel ini ke ruang sekret. Waktu Penulis bertanya apa isinya, kalau tidak salah jawabannya adalah <em>sindiran Ramayana</em>.</p>
<p>Waktu itu, Penulis hanya pernah membaca cerita <em>Mahabarata</em>. Bahkan hingga sekarang, Penulis belum pernah membaca buku <em>Ramayana </em>secara utuh. Hanya sepotong-sepotong dari berbagai buku dan sumber.</p>
<p>Oleh karena itu Penulis sempat khawatir tidak bisa memahami buku ini. Untunglah kekhawatiran tersebut tidak terjadi dan Penulis sangat menikmati novel ini.</p>
<p>Inti dari kisah yang dihadirkan Seno melalui buku ini adalah kisah Satya dan Maneka yang menjadi korban akibat serbuan balatentara Sri Rama yang menghadirkan bencana di mana-mana.</p>
<p>Penyerbuan tersebut dipicu oleh Persembahan Kuda yang dilaksanakan oleh Kerajaan Ayodya yang dipimpin Sri Rama. Daerah manapun yang dilewati oleh seekor kuda putih yang dikeramatkan harus ditakhlukan.</p>
<p>Di sisi lain, Maneka merupakan seorang pelacur yang memiliki tato kuda putih tersebut sejak lahir. Karena itu, ia sering dianggap sebagai pembawa bencana.</p>
<p>Berbagai kejadian buruk yang menimpa Maneka membuatnya ingin bertemu dengan Walmiki sang penulis <em>Ramayana</em>. Ia ingin menuntut mengapa kehidupannya begitu memilukan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Satya yang juga merupakan korban dari pasukan Sri Rama. Mereka pun melakukan petualangan untuk bertemu Walmiki.</p>
<p>Mereka juga mendapatkan tugas maha berat untuk mengumpulkan kelima bagian dari <em>Kitab Omong Kosong</em>. Judul dari kelima bagian tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Dunia Seperti Adanya Dunia</li>
<li>Dunia Seperti Dipandang Manusia</li>
<li>Dunia yang Tidak Ada</li>
<li>Mengadakan Dunia</li>
<li>Kitab Keheningan</li>
</ul>
<p>Selain itu, novel ini juga menceritakan bagaimana Hanuman pada akhirnya <em>seda </em>setelah mengalami berbagai kejadian selama hidupnya yang panjang.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Kitab Omong Kosong</em></h3>
<p>Membaca novel ini terasa seperti sedang belajar buku filsafat. <em>Kitab Omong Kosong </em>yang dikumpulkan oleh Satya dan Maneka berisikan berbagai pandangan manusia terhadap dunia.</p>
<p>Penulis bisa menikmati buku ini karena tema wayang yang diangkat, namun merasa kesulitan jika diharuskan untuk menceritakan ulang. Kemampuan otak Penulis belum sampai di tahap tersebut.</p>
<p>Selain itu, Seno menyelipkan banyak kisah <em>Ramayana </em>di tiap-tiap babnya, sehingga Penulis bisa mengetahui secara garis besar apa saja yang terjadi dalam <em>Ramayana</em>, terutama kejadian-kejadian pentingnya.</p>
<p>Gaya penulisannya juga Seno banget, namun tidak terlalu rumit seperti <em>Negeri Senja </em>atau novelnya yang lain. Banyaknya dialog yang ada di dalamnya memudahkan kita untuk memahami buku ini.</p>
<p>Penulis akan dengan senang merekomendasikan buku ini kepada para Pembaca yang menyukai cerita wayang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.4/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Juni 2020, terinspirasi setelah membaca buku <em>Kitab Omong Kosong </em>karya Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/">Setelah Membaca Kitab Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-kitab-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jul 2019 17:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya. Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya Sujiwo Tejo yang terkenal sebagai dalang edan, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya. Penulis hampir memiliki semua buku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam melatih kemampuan merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan, penulis banyak belajar dengan membaca buku-buku karya penulis lain. Kadang fiksi, kadang kumpulan esai, kadang campuran antara keduanya.</p>
<p>Salah satu penulis yang penulis kagumi cara penulisannya adalah buku-buku karya <strong>Sujiwo Tejo </strong>yang terkenal sebagai <em>dalang edan</em>, seniman, budayawan, atau apapun yang biasanya media sematkan padanya.</p>
<p>Penulis hampir memiliki semua buku yang pernah ia terbitkan, kecuali beberapa buku lama yang sudah jarang terlihat di rak toko buku. Ada juga buku yang memang kurang penulis minati seperti <em>Republik #Jancukers </em>dan <em>Serat Tripama.</em></p>
<h3>Koleksi Buku Sujiwo Tejo</h3>
<p>Buku karya Sujiwo Tejo pertama yang penulis miliki adalah <em>Lupa Endonesa</em>. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya di koran Jawa Pos (atau Kompas? Penulis sedikit lupa) yang menyoroti berbagai kejadian yang tengah hangat di ruang publik.</p>
<p>Karena suka dengan buku ini, penulis pun membeli lanjutannya yang terbit beberapa tahun kemudian, yakni <em>Lupa Endonesa Deui </em>dan <em>Lupa 3ndonesa</em>. Isinya kurang lebih sama, hanya topik yang diangkat tentu lebih baru.</p>
<p>Buku lain yang penulis miliki adalah <em>Rahvayana</em>. Buku ini memiliki dua seri, yakni <em>Rahvayana: Aku Lala Padamu </em>dan <em>Rahvayana: Ada yang Tiada</em>. Sebagai penikmat cerita wayang, penulis tentu jatuh cinta dengan kedua buku ini.</p>
<p>Mengapa begitu? Karena buku ini berusaha menggambar kisah <em>Ramayana </em>dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dari mata Rahwana yang begitu mencintai dan mengagumi Sinta. Tentu, gaya penulisannya pun khas Sujiwo Tejo yang terkesan <em>sakarepe dewe</em>.</p>
<p>Lantas ada buku <em>Balada Gathak Gathuk </em>dan <em>Sabdo Cinta Angon Kasih </em>yang mengambil tema berbeda, meskipun secara konsep sedikit mirip dengan seri <em>Lupa Endonesa</em>. Hanya saja, pada dua buku tersebut terdapat satu alur cerita yang saling berkesinambungan.</p>
<p>Buku <em>Talijiwo </em>dan <em>Senandung Talijiwo </em>merupakan rubrik terbaru milik Sujiwo Tejo yang dibukukan. Ada kesan romantis yang dihasilkan oleh kedua buku ini, berbeda dengan buku lain yang lebih menonjolkan sisi budaya dan politik di masyarakat.</p>
<p>Selain itu, penulis juga memiliki buku <em>Tuhan Masa Asyik </em>yang jujur sangat berat untuk penulis cerna dan <em>Kelakar Madura Buat Gus Dur </em>yang condong bergenre humor.</p>
<h3>Kenapa Suka Membaca Buku Sujiwo Tejo?</h3>
<p>Jujur, jika ditanya apakah penulis memahami buku-buku tersebut, penulis akan bereaksi dengan tertawa canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.</p>
<p>Sujiwo Tejo sering kali memasukkan pesan implisit di dalam tulisannya, dan penulis tidak selalu menangkap apa yang ia maksudkan. Terkadang, ketika membaca bab demi bab, ada saja bagian yang membuat penulis mengerutkan dahi.</p>
<p>Jika memang seperti itu, mengapa tetap membaca buku-buku karyanya? Seperti yang sudah penulis singgung di paragraf awal, penulis banyak belajar bagaimana cara menulis dari beliau.</p>
<p>Selain itu, penulis juga sangat menyukai metode Sujiwo Tejo dalam menggunakan tokoh-tokoh wayang untuk menjelaskan kejadian yang berlangsung hari ini.</p>
<p>Menurut ayah penulis, itu adalah hal yang sangat susah dilakukan dan hanya sedikit yang mampu melakukannya. Salah satu yang bisa (dan ahli), ya Sujiwo Tejo.</p>
<p>Bahasa yang digunakan pun sangat enak untuk dinikmati, tidak menggunakan bahasa berat yang di mana hanya akademisi yang bisa memahaminya. <a href="https://whathefan.com/buku/mengasah-rasa-dengan-sastra/">Nuansa sastra</a> sangat kental terasa di dalamnya.</p>
<p>Tapi ya kembali lagi, penulis tidak selalu berhasil menangkap pesan tersiratnya. Mungkin kapasitas otak penulis yang tidak <em>nyampai </em>ke sana.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Apakah penulis merupakan pengagum karya-karya Sujiwo Tejo? Tanpa ragu penulis akan menjawab iya. Penulis sangat menikmati buku-buku karya beliau. Beliau juga merupakan salah satu panutan penulis dalam menulis.</p>
<p>Ilmu yang penulis miliki jelas masih kalah jauh dari beliau, tapi hal tersebut justru menjadi pemacu agar terus belajar sehingga bisa berkarya dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Yang jelas, penulis akan selalu menantikan buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh beliau, meskipun tak selalu memahami apa yang Sujiwo Tejo maksudkan dengan tulisannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Juli 2019, terinspirasi setelah menyadari betapa banyaknya kolekso buku Sujiwo Tejo yang dimiliki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menikmati-buku-buku-sujiwo-tejo/">Menikmati Buku-Buku Sujiwo Tejo</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komik, Wayang, dan Anime Wayang</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2018 07:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[garudayana]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=137</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah! Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin hunting lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka baca komik. Saya suka wayang. Kalau ada komik wayang? Lengkap sudah!</p>
<p>Itulah yang terjadi kemarin ketika saya membeli komik Garudayana Saga karya Is Yuniarto. Tidak hanya satu, langsung saya beli 4 sekaligus (yang setelah saya buka, ternyata ada 7 buku, membuat saya ingin <em>hunting</em> lagi). Apalagi momennya tepat, setelah saya mononton Si Juki The Movie yang meningkatkan kesadaran saya untuk mengapresiasi komik lokal.</p>
<p>Pagi ini langsung saya tamatkan keempat bukunya, dan ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Ceritanya keluar dari pakem karena ada karakter baru (Kinara dan Garu), namun sama sekali tidak mengurangi unsur budaya Indonesia. Model gambarnya jauh berbeda dengan komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih karena di komik ini menggunakan style yang mirip-mirip dengan komik Jepang. Cerita petualangan dibumbui serunya pertarungan dan humor-humor segar membuat saya sangat menikmati Garudayana.</p>
<p>Kecintaan saya terhadap wayang bermula ketika menemukan buku cerita wayang milik pakde saya. Buku itu bercerita kejadian di Bale Sigala-gala, tempat Kurawa merencanakan ide piciknya untuk membakar bale itu bersama Pandawa yang sengaja diundang untuk pesta. Untunglah Bima mendapatkan wahyu untuk tidak ikut mabuk dan bisa menolong Pandawa yang lain dari kebakaran.</p>
<p>Saya selalu tertarik dengan wayang, walaupun belum pernah melihat wayang secara langsung. Jika ada di TVRI pun menggunakan bahasa jawa alus tanpa <em>subtitle </em>yang membuat saya tidak bisa memahami. Oleh karena itu saya membeli buku Mahabarata karya C. Rajagopalachari untuk lebih memahami ceritanya dalam versi aslinya dulu. Setelah itu saya mencari literatur lain seperti buku-buju Sujiwo Tejo dan Seno Gumira Ajidarma untuk menambah wawasan.</p>
<p>Cerita wayang sebenarnya sangat menarik, tidak kalah dengan Naruto maupun Dragonball. Hanya saja, adik-adik atau bahkan orang-orang dewasa kurang tertarik dengan pertunjukan wayang yang dianggap membosankan. Untuk itu saya memiliki mimpi jika suatu saat akan ada film serial animasi wayang yang dipoles mirip anime-anime Jepang. Saya yakin jika dimodel seperti itu, orang-orang terutama generasi muda akan tertarik mengetahui dunia perwayangan dan hafal dengan tokoh-tokohnya seperti mereka yang hafal dengan karakter-karakter di One Piece. Saya optimis dengan hal ini karena masyarakat Indonesia bisa menikmati film-film India seperti Mahabarata, lalu apa ada alasan untuk tidak menyukai Mahabarata versi kita sendiri?</p>
<p>Seandainya saya pandai menggambar, saya pasti akan melakukan apa yang dilakukan oleh mas Is Yuniarto (saya tahu pertama kali tentang penulis dengan komiknya yang berjudul Wind Rider). Tapi karena tidak, seandainya ada tawaran saya akan bersedia untuk menulis skrip ceritanya dengan senang hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat wayang, salah satu kebudayaan terbesar yang dimiliki Indonesia, dicintai dan dinikmati semua generasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Januari 2018, setelah membaca komik Garudayana Saga</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/">Komik, Wayang, dan Anime Wayang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/impian-adanya-wayang-versi-anime/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
