Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey
Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan Projecy Hail Mary, melainkan The Odyssey karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya.
Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. Penulis ingin merasakan sensasi menonton yang maksimal untuk film yang sejak awal telah menuai kontroversi.
Mengapa Penulis merasa ini adalah film terbaik yang telah Penulis tonton di tahun ini? Apakah cast yang bermasalah tidak memengaruhi penilaian Penulis? Semua akan coba Penulis jelaskan melalui artikel ini!
NB: Tahun 2026, Penulis baru menonton Project Hail Mary, Supergirl, The Odyssey, Spider-Man Brand New Day
Detail Film The Odyssey
- Judul: The Odyssey
- Sutradara: Christoper Nolan
- Cast: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Zendaya, and Charlize Theron
- Durasi: 172 Menit
Apa Cerita The Odyssey?
The Odyssey diadaptasi dari sebuah puisi epik klasik karya Homer berjudul sama, yang telah berusia sekitar 3000 tahun. Ceritanya sendiri berpusat pada Odysseus (Matt Damon), yang terjebak selama 10 tahun sehingga tidak bisa pulang ke negaranya, Ithaca, setelah kemenangan di Perang Troya.
Odysseus adalah orang di balik strategi kuda troya, di mana ia dan beberapa pasukannya sembunyi ke dalam patung kuda yang dihadiahkan kepada bangsa Troya. Ide tersebut, yang sebenarnya melanggar “Hukum Zeus”, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 tahun.
Odysseus, bersama Agamemnon dan Menelaus, memang berhasil memenangkan perang. Namun, ternyata harga yang dibayar tidak murah. Odysseus yang mengambil jalur terpisah dari Agamemnon dan Menelaus harus menghadapi berbagai macam ujian.
Odysseus dan pasukannya harus bertemu dengan Cyclops bernama Polyphemus, raksasa kanibal Laestrygonians, Siren, hingga Scylla. Mereka juga bertemu dengan nymph bernama Circe (Samantha Morton) yang sempat mengubah pasukan Odysseus menjadi seekor babi.
Namun, perjalanan Odysseus paling lama ditahan oleh Calypso (Charlize Theron), yang mencapai tujuh tahun. Ia tinggal di sana setelah semua pasukannya tewas, setelah melanggar aturan untuk tidak memakan ternak milih dewa Apollo.
Di sisi lain, Ithaca telah 20 tahun ditinggal rajanya. Penelope (Anne Hathaway), istri dari Odysseus, telah dilamar oleh ratusan laki-laki yang setiap hari datang ke istana dan berhasil menjaga kesetiaannya. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) yang beranjak dewasa mulai mencari kejelasan di mana ayahnya.
Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ini lebih dari sekadar “tersesat”, melainkan menjadi semacam perjalanan penebusan dosa untuknya. Ketika ia pada akhirnya kembali, ia pun membuktikan mengapa ia menjadi seorang raja.
Setelah Menonton The Odyssey
Setelah film ini usai, banyak penonton yang bertepuk tangan. Menurut Penulis, hal tersebut memang layak karena skala film ini benar-benar luar biasa. Apalagi jika menonton di IMAX, pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis bahas mengenai film ini.
Interpretasi Nolan terhadap The Odyssey
Sejak awal, tampaknya Nolan memang ingin mengadaptasi cerita Homer dengan interpretasinya sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang ia ubah dari cerita aslinya, termasuk pemilihan Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy.
Contoh hal yang diubah adalah karakter Odysseus sendiri. Di film, ia terlihat lebih bijaksana dan manusiawi, walau tetap terasa sekali egonya. Ia lebih tidak “brengsek” jika dibandingkan dengan versi aslinya, walau tetap terasa kalau ia diam-diam menjadi antagonis di film ini.
Beberapa perubahan lain yang Penulis ketahui adalah beberapa lokasi atau monster yang dihilangkan dari versi aslinya, jumlah pasukan dan kapal yang ikut dengan Odysseus, hingga hilangnya adegan “Nobody” ketika bersama Polyphemus.
Namun, yang paling Penulis perhatikan adalah interpretasi Nolan terhadap sosok dewa-dewa di film ini. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam film ini, mulai Zeus, Poseidon, Apollo, hingga Athena. Hanya saja, tidak ada yang pernah terlihat wujudnya.
Alih-alih menampilkan sosok dewa, kehadiran mereka diwujudkan dalam bentuk “pertanda alam”, seperti Zeus diwakili oleh suara petir dan Poseidon diwakili oleh amukan laut. Bahkan, wujud Athena yang kita lihat sepanjang film memiliki alasan mengapa berwujud seperti itu, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.
Perjalanan “Tobat” Odysseus
Penulis sudah menyinggung mengenai bagaimana Odysseus memenangkan perang dengan curang. Rupanya, hal tersebut menimbulkan semacam trauma atau PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
Sosok Athena di kepala Odysseus, yang diperankan oleh Zendaya, ternyata adalah sosok perempuan innocence yang ia lihat kepalanya dipenggal oleh pasukannya sewaktu menghabisi kota tersebut. Artinya, sosok tersebut seolah menjadi perwakilan trauma Odysseus.
Selain itu, perjalanan pulangnya yang sampai 10 tahun itu pun terasa seperti “hukuman” atas semua perbuatannya, baik ketika perang Troya maupun sepulangnya dari sana. Dari menjarah, membutakan Polyphemus, memakan ternak Apollo, dan lain sebagainya.
Ketika ditahan oleh Calypso, ia kehilangan memorinya. Namun, ternyata keinginannya untuk bertemu kembali dengan Penelope begitu kuat. Ketika ingatannya kembali, ia pun berlayar dan menaiki rakit apa adanya dengan menyerahkan diri ke “Tuhan”.
Akting Top Para Aktor Top
Kita tahu kalau Nolan punya beberapa nama top yang seolah menjadi langganan untuk muncul di film-filmnya. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan kalau banyak sekali pemeran di film ini yang aktingnya terasa luar biasa.
Matt Damon sebagai karakter utama di film ini tak perlu diragukan lagi, walau sebagian besar kita melihat ekspresi penyesalan dari dirinya di sepanjang film. Anne Hathaway juga menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Oscar, bahkan Penulis sampai lupa kalau ini film saking realistisnya aktingnya.
Robert Pattinson yang berperan sebagai Antinous juga bisa memperlihatkan sebagai sosok antagonis yang licik dan pengecut. Ekspresi ketakutannya ketika menyadari Odysseus telah pulang, lalu berteriak berbagai semacam senjata sembari bersembunyi di balik pilar, benar-benar mantap.
Nama lain yang patut diapresiasi adalah John Leguizamo sebagai Eumaeus. Berperan sebagai orang buta, ia bisa memainkan karakter yang loyal dan bijaksana dengan baik. Benny Safdie yang menjadi Agamemnon juga berhasil aura farming tanpa banyak dialog, dengan kostumnya yang mirip Batman.
Hal Lain yang Patut Diapresiasi
Alur ceritanya tetap non-liner khas Nolan, maju mundur maju mundur, sehingga bisa membuat penonton bingung terutama yang tidak mengerti cerita The Odyssey sebelumnya. Namun, Penulis justru menyukai format film seperti ini.
Apalagi, sepanjang film Nolan menebar banyak foreshadow yang akan terjawab di akhir film. Banyak adegan yang diulang-ulang, seolah menunjukkan bahwa adegan ini penting dan nanti pada akhirnya akan ada penjelasan.
Sebagai informasi, film ini direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Oleh karena itu, secara visual film ini benar-benar memuaskan dan memanjakan mata. Penulis hampir tidak bisa melepaskan fokusnya ketika menonton film ini. Durasi 3 jam sama sekali tidak terasa.
Di film ini, Nolan kembali menggandeng Ludwig Göransson yang sebelumnya juga menggarap soundtrack untuk film Oppenheimer. Sepanjang filmnya, banyak sekali musik yang membuat bulu kuduk Penulis merinding.
Jika berbicara tentang scene favorit, maka Penulis akan memilih adegan ketika Odysseus kembali ke Ithaca dan berhasil memasang busurnya. Diiringi dengan musik gubahan Göransson, adegan ini benar-benar terasa sempurna!
Beberapa Hal yang Kurang
Tidak ada film yang sempurna, begitu pula The Odyssey ini. Penulis tidak terlalu memusingkan pemilihan beberapa cast-nya, walau memang terasa kurang perfect. Bagi Penulis, Tom Holland terlihat terlalu tua untuk menjadi Telemachus. Aktingnya juga sedikit kebanting dengan pemeran lainnya.
Akting pemeran lain yang terasa biasa adalah Zendaya. Entah mengapa Penulis tidak bisa menangkap perannya sebagai Athena, mungkin karena karakternya juga minim ekspresi. Karakter yang diperankan oleh Travis Scott juga terasa ganjal ada di film tersebut.
Selain itu, adegan pertarungan terakhir di istana juga terlihat sedikit kaku dan kurang natural. Bukan karena Odysseus yang terlihat overpowered karena bisa mengalahkan orang sebanyak itu, melainkan koreografinya saja yang membuat Penulis kurang sreg.
Di beberapa adegan, speaker di IMAX terasa terlalu kencang di telinga Penulis yang cukup sensitif. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kemarin menonton film ini di 4DX, apalagi di adegan ketika kapal Odysseus terombang-ambing oleh ganasnya badai!
Kesimpulan
Bagi Penulis, The Odyssey adalah film kedua terbaik dari semua film Nolan yang pernah Penulis tonton, di bawah The Dark Knight dan di atas Oppenheimer. Penulis merasa cukup percaya diri kalau film ini akan masuk ke dalam nominasi Oscar.
Bahkan, hingga artikel ini ditulis, masih ada keinginan untuk menonton ulang film ini di bioskop. Apalagi, Penulis sempat ketinggalan beberapa menit filmnya karena adik Penulis sedang ada tes kerja di siang harinya!
SKOR: 9/10
Lawang, 3 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton The Odyssey karya Christopher Nolan
You must be logged in to post a comment Login