Connect with us

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey

Published

on

Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan Projecy Hail Mary, melainkan The Odyssey karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya.

Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. Penulis ingin merasakan sensasi menonton yang maksimal untuk film yang sejak awal telah menuai kontroversi.

Mengapa Penulis merasa ini adalah film terbaik yang telah Penulis tonton di tahun ini? Apakah cast yang bermasalah tidak memengaruhi penilaian Penulis? Semua akan coba Penulis jelaskan melalui artikel ini!

NB: Tahun 2026, Penulis baru menonton Project Hail Mary, Supergirl, The Odyssey, Spider-Man Brand New Day

Detail Film The Odyssey

  • Judul: The Odyssey
  • Sutradara: Christoper Nolan
  • Cast: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Zendaya, and Charlize Theron
  • Durasi: 172 Menit

Apa Cerita The Odyssey?

Odysseus (IMDb)

The Odyssey diadaptasi dari sebuah puisi epik klasik karya Homer berjudul sama, yang telah berusia sekitar 3000 tahun. Ceritanya sendiri berpusat pada Odysseus (Matt Damon), yang terjebak selama 10 tahun sehingga tidak bisa pulang ke negaranya, Ithaca, setelah kemenangan di Perang Troya.

Odysseus adalah orang di balik strategi kuda troya, di mana ia dan beberapa pasukannya sembunyi ke dalam patung kuda yang dihadiahkan kepada bangsa Troya. Ide tersebut, yang sebenarnya melanggar “Hukum Zeus”, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 tahun.

Odysseus, bersama Agamemnon dan Menelaus, memang berhasil memenangkan perang. Namun, ternyata harga yang dibayar tidak murah. Odysseus yang mengambil jalur terpisah dari Agamemnon dan Menelaus harus menghadapi berbagai macam ujian.

Odysseus dan pasukannya harus bertemu dengan Cyclops bernama Polyphemus, raksasa kanibal Laestrygonians, Siren, hingga Scylla. Mereka juga bertemu dengan nymph bernama Circe (Samantha Morton) yang sempat mengubah pasukan Odysseus menjadi seekor babi.

Namun, perjalanan Odysseus paling lama ditahan oleh Calypso (Charlize Theron), yang mencapai tujuh tahun. Ia tinggal di sana setelah semua pasukannya tewas, setelah melanggar aturan untuk tidak memakan ternak milih dewa Apollo.

Di sisi lain, Ithaca telah 20 tahun ditinggal rajanya. Penelope (Anne Hathaway), istri dari Odysseus, telah dilamar oleh ratusan laki-laki yang setiap hari datang ke istana dan berhasil menjaga kesetiaannya. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) yang beranjak dewasa mulai mencari kejelasan di mana ayahnya.

Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ini lebih dari sekadar “tersesat”, melainkan menjadi semacam perjalanan penebusan dosa untuknya. Ketika ia pada akhirnya kembali, ia pun membuktikan mengapa ia menjadi seorang raja.

Setelah Menonton The Odyssey

Setelah film ini usai, banyak penonton yang bertepuk tangan. Menurut Penulis, hal tersebut memang layak karena skala film ini benar-benar luar biasa. Apalagi jika menonton di IMAX, pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal.

Ada beberapa poin yang ingin Penulis bahas mengenai film ini.

Interpretasi Nolan terhadap The Odyssey

Odysseus dan Pasukannya (IMDb)

Sejak awal, tampaknya Nolan memang ingin mengadaptasi cerita Homer dengan interpretasinya sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang ia ubah dari cerita aslinya, termasuk pemilihan Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy.

Contoh hal yang diubah adalah karakter Odysseus sendiri. Di film, ia terlihat lebih bijaksana dan manusiawi, walau tetap terasa sekali egonya. Ia lebih tidak “brengsek” jika dibandingkan dengan versi aslinya, walau tetap terasa kalau ia diam-diam menjadi antagonis di film ini.

Beberapa perubahan lain yang Penulis ketahui adalah beberapa lokasi atau monster yang dihilangkan dari versi aslinya, jumlah pasukan dan kapal yang ikut dengan Odysseus, hingga hilangnya adegan “Nobody” ketika bersama Polyphemus.

Namun, yang paling Penulis perhatikan adalah interpretasi Nolan terhadap sosok dewa-dewa di film ini. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam film ini, mulai Zeus, Poseidon, Apollo, hingga Athena. Hanya saja, tidak ada yang pernah terlihat wujudnya.

Alih-alih menampilkan sosok dewa, kehadiran mereka diwujudkan dalam bentuk “pertanda alam”, seperti Zeus diwakili oleh suara petir dan Poseidon diwakili oleh amukan laut. Bahkan, wujud Athena yang kita lihat sepanjang film memiliki alasan mengapa berwujud seperti itu, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.

Perjalanan “Tobat” Odysseus

Odysseus dan Athena (IMDb)

Penulis sudah menyinggung mengenai bagaimana Odysseus memenangkan perang dengan curang. Rupanya, hal tersebut menimbulkan semacam trauma atau PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

Sosok Athena di kepala Odysseus, yang diperankan oleh Zendaya, ternyata adalah sosok perempuan innocence yang ia lihat kepalanya dipenggal oleh pasukannya sewaktu menghabisi kota tersebut. Artinya, sosok tersebut seolah menjadi perwakilan trauma Odysseus.

Selain itu, perjalanan pulangnya yang sampai 10 tahun itu pun terasa seperti “hukuman” atas semua perbuatannya, baik ketika perang Troya maupun sepulangnya dari sana. Dari menjarah, membutakan Polyphemus, memakan ternak Apollo, dan lain sebagainya.

Ketika ditahan oleh Calypso, ia kehilangan memorinya. Namun, ternyata keinginannya untuk bertemu kembali dengan Penelope begitu kuat. Ketika ingatannya kembali, ia pun berlayar dan menaiki rakit apa adanya dengan menyerahkan diri ke “Tuhan”.

Akting Top Para Aktor Top

John Leguizamo sebagai Eumaeus (IMDb)

Kita tahu kalau Nolan punya beberapa nama top yang seolah menjadi langganan untuk muncul di film-filmnya. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan kalau banyak sekali pemeran di film ini yang aktingnya terasa luar biasa.

Matt Damon sebagai karakter utama di film ini tak perlu diragukan lagi, walau sebagian besar kita melihat ekspresi penyesalan dari dirinya di sepanjang film. Anne Hathaway juga menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Oscar, bahkan Penulis sampai lupa kalau ini film saking realistisnya aktingnya.

Robert Pattinson yang berperan sebagai Antinous juga bisa memperlihatkan sebagai sosok antagonis yang licik dan pengecut. Ekspresi ketakutannya ketika menyadari Odysseus telah pulang, lalu berteriak berbagai semacam senjata sembari bersembunyi di balik pilar, benar-benar mantap.

Nama lain yang patut diapresiasi adalah John Leguizamo sebagai Eumaeus. Berperan sebagai orang buta, ia bisa memainkan karakter yang loyal dan bijaksana dengan baik. Benny Safdie yang menjadi Agamemnon juga berhasil aura farming tanpa banyak dialog, dengan kostumnya yang mirip Batman.

Hal Lain yang Patut Diapresiasi

Penelope dan Busur Milik Odysseus (IMDb)

Alur ceritanya tetap non-liner khas Nolan, maju mundur maju mundur, sehingga bisa membuat penonton bingung terutama yang tidak mengerti cerita The Odyssey sebelumnya. Namun, Penulis justru menyukai format film seperti ini.

Apalagi, sepanjang film Nolan menebar banyak foreshadow yang akan terjawab di akhir film. Banyak adegan yang diulang-ulang, seolah menunjukkan bahwa adegan ini penting dan nanti pada akhirnya akan ada penjelasan.

Sebagai informasi, film ini direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Oleh karena itu, secara visual film ini benar-benar memuaskan dan memanjakan mata. Penulis hampir tidak bisa melepaskan fokusnya ketika menonton film ini. Durasi 3 jam sama sekali tidak terasa.

Di film ini, Nolan kembali menggandeng Ludwig Göransson yang sebelumnya juga menggarap soundtrack untuk film Oppenheimer. Sepanjang filmnya, banyak sekali musik yang membuat bulu kuduk Penulis merinding.

Jika berbicara tentang scene favorit, maka Penulis akan memilih adegan ketika Odysseus kembali ke Ithaca dan berhasil memasang busurnya. Diiringi dengan musik gubahan Göransson, adegan ini benar-benar terasa sempurna!

Beberapa Hal yang Kurang

Penelope dan Telemachus (IMDb)

Tidak ada film yang sempurna, begitu pula The Odyssey ini. Penulis tidak terlalu memusingkan pemilihan beberapa cast-nya, walau memang terasa kurang perfect. Bagi Penulis, Tom Holland terlihat terlalu tua untuk menjadi Telemachus. Aktingnya juga sedikit kebanting dengan pemeran lainnya.

Akting pemeran lain yang terasa biasa adalah Zendaya. Entah mengapa Penulis tidak bisa menangkap perannya sebagai Athena, mungkin karena karakternya juga minim ekspresi. Karakter yang diperankan oleh Travis Scott juga terasa ganjal ada di film tersebut.

Selain itu, adegan pertarungan terakhir di istana juga terlihat sedikit kaku dan kurang natural. Bukan karena Odysseus yang terlihat overpowered karena bisa mengalahkan orang sebanyak itu, melainkan koreografinya saja yang membuat Penulis kurang sreg.

Di beberapa adegan, speaker di IMAX terasa terlalu kencang di telinga Penulis yang cukup sensitif. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kemarin menonton film ini di 4DX, apalagi di adegan ketika kapal Odysseus terombang-ambing oleh ganasnya badai!

Kesimpulan

Bagi Penulis, The Odyssey adalah film kedua terbaik dari semua film Nolan yang pernah Penulis tonton, di bawah The Dark Knight dan di atas Oppenheimer. Penulis merasa cukup percaya diri kalau film ini akan masuk ke dalam nominasi Oscar.

Bahkan, hingga artikel ini ditulis, masih ada keinginan untuk menonton ulang film ini di bioskop. Apalagi, Penulis sempat ketinggalan beberapa menit filmnya karena adik Penulis sedang ada tes kerja di siang harinya!

SKOR: 9/10


Lawang, 3 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton The Odyssey karya Christopher Nolan

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Rental Family

Published

on

By

Selama ini, Penulis hanya membuat ulasan film yang tayang di bioskop. Kalaupun menonton film di layanan streaming, seringnya film lama, sehingga rasanya sudah cukup “telat” untuk menulis artikelnya.

Nah, pengecualian akan Penulis buat untuk film Rental Family, yang baru saja Penulis tonton di Disney+. Sejak menonton trailernya satu tahun lalu, Penulis sebenarnya sudah memasukkan film ini ke dalam watchlist karena tertarik dengan tema yang diangkat.

Film ini telah rilis pada akhir tahun 2025, tapi seingat Penulis, film ini tidak tayang di bioskop yang ada di Malang. Untunglah, film ini ternyata tersedia di layanan streaming, sehingga Penulis akhirnya bisa menontonnya.

Detail Film Rental Family

  • Judul: Rental Family
  • Sutradara: Hikari
  • Cast: Brendan Fraser, Shannon Mahina Gorman, Akira Emoto, Takehiro Hira, Mari Yamamoto
  • Durasi: 110 Menit

Apa Cerita Rental Family?

Phillip dan Mia (IMDb)

Film akan berfokus pada Phillip Vanderploeg (Brendan Fraser), seorang aktor yang tinggal sendiri di Jepang. Ia adalah seorang aktor dan pernah menjadi bintang iklan, tapi belakangan ini kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

Di tengah kesulitan tersebut, tiba-tiba ia mendapatkan telepon untuk berperan sebagai “tamu asing” dari pemakaman pura-pura. Dari sana, Phillip pun bertemu dengan Rental Family, sebuah perusahaan milik Shinji Tada (Takehiro Hira) yang “menyewakan” orang.

Intinya, perusahaan tersebut akan menyediakan jasa di mana mereka akan berpura-pura untuk menjadi sosok yang dibutuhkan oleh klien, mulai dari selingkuhan, teman main, suami hingga melaksanakan upacara pernikahan sungguhan, hampir tidak ada batasannya.

Meskipun awalnya sempat ragu, Phillip pun akhirnya mengambil tawaran pekerjaan tersebut. Phillip terlihat mulai terbiasa untuk bermain peran, hingga akhirnya ia bertemu dengan Mia (Shannon Mahina Gorman) dan Kikuo (Akira Emoto).

Phillip harus menjadi seorang ayah untuk Mia yang akan masuk sekolah. Sementara itu, Phillip direkrut untuk menjadi seorang wartawan yang mewawancarai Kikuo, mengingat ia adalah mantan aktor terkenal ketika muda.

Saat bersama mereka berdua, Phillip ternyata menjalin hubungan yang sangat dekat dan mulai terasa personal. Waktu yang ia habiskan bersama dua orang tersebut menumbuhkan rasa peduli yang sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, ibu Mia meminta Phillip memutus hubungan setelah Mia berhasil masuk ke sekolah. Sementara itu, hubungannya dengan Kikuo berakhir ketika dirinya menolak permintaan Kikuo untuk menemaninya pergi ke rumah masa kecilnya di Amakusa.

Namun, Phillip memutuskan untuk menerobos batas dengan berusaha mewujudkan keinginan Kikuo. Mereka pun mengadakan perjalanan tersebut tanpa sepengetahuan anak Kikuo. Di saat yang bersamaan, Mia juga mengetahui kalau sosok ayahnya ternyata bintang iklan.

Setelah berhasil sampai ke rumah masa kecilnya, Phillip sempat disemprot oleh Shinji karena dianggap menculik klien. Phillip membela diri dengan mengatakan bahwa mereka seharusnya menolong orang dan mengatakan Shinji adalah hipokrit.

Di momen tersebut, Kikuo tiba-tiba tergeletak dan harus masuk rumah sakit. Hal ini membuat Phillip sempat ditangkap oleh kepolisian Jepang karena dianggap menculik Kikuo.

Dua karyawan lain Rental Family, Aiko (Mari Yamamoto) dan Kota (Kimura Bun), langsung bergerak untuk menyelamatkan Phillip, tapi justru dicegah oleh Shinji dengan alasan demi menjaga nama baik perusahaan.

Pada akhirnya, mereka bertiga berusaha menolong Phillip dengan bermain peran lagi. Walaupun berhasil bebas, kabar buruk datang menghampiri Phillip: Kikuo meninggal dunia. Untungnya, pihak keluarga memutuskan untuk tidak menuntut maupun menyalahkan Phillip.

Setelah peristiwa tersebut, arah perusahaan Rental Family pun berubah. Phillip juga berhasil berbaikan dengan Mia yang telah mengetahui jati dirinya yang asli. Di akhir film, Phillip mengunjungi kuil di rumah Kikuo dan menemukan pantulan dirinya di sebuah cermin.

Setelah Menonton Rental Family

Phillip dan Kikuo (Disney Plus)

Sebagai film drama komedi, sebenarnya Rental Family tergolong film yang ringan, bahkan Penulis hampir tidak menemukan plot hole sama sekali. Film ini berhasil menyentuh tema kesepian, kekosongan hati, hingga bagaimana kebohongan kadang dijadikan sebagai solusi.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bicarakan tentang film ini. Dari sisi sinematografi misalnya, kerap ada shot cantik yang menunjukkan keindahan Jepang. Salah satu favorit Penulis ada di akhir film, ketika Phillip dan Mia berjalan melewati pohon Sakura yang sedang bermekaran.

Untuk alur ceritanya sendiri berjalan secara linier dengan pace yang cukup cepat. Sangat jarang ada adegan flashback yang menceritakan masa lalu Phillip hingga ia bisa “terdampar” di Jepang, kecuali adegan iklan yang ia perankan.

Ketika Kebohongan Menjadi Sebuah Solusi

Salah satu tema di film ini adalah tentang bagaimana kebohongan menjadi sebuah solusi sebuah permasalahan. Seperti tulisan Penulis yang membahas fenomena joki di Indonesia, di film ini pun menyorot “joki” versi next level.

Menurut Penulis, ada beberapa white lie yang masih bisa dibenarkan. Contohnya adalah bagaimana Phillip berpura-pura menjadi wartawan untuk mewawancarai Kikuo agar beliau bersemangat lagi. Namun, ada juga yang sama sekali tidak dibenarkan, seperti menjadi ayah Mia.

Di akhir film, kita bisa melihat kalau ternyata kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh Rental Family justru sering menimbulkan masalah baru. Kantor tersebut bukan menjual emosi lagi, tapi mengomersialkan masalah hidup orang.

Apresiasi untuk Brendan Fraser dan Shannon Mahina Gorman

Akting Brendan Fraser rasanya tak perlu diragukan lagi, apalagi ia adalah pemenang Oscar. Ia mampu memerankan sosok laki-laki paruh baya yang kesepian, rapuh, dan kehilangan arah. Momen di mana ia bersembunyi di kamar mandi karena crash out di tugas pertamanya juga terlihat sangat valid.

Apresiasi lebih juga perlu diberikan kepada aktris muda Shannon Mahina Gorman yang memerankan Mia. Di film ini, ia mampu menjadi sosok anak kecil yang tangguh dan dewasa untuk seusianya.

Adegan ketika ia tidur di pangkuan ibunya setelah kenyataan tentang Phillip terkuak menjadi salah satu favorit Penulis dan berhasil menimbulkan perasaan haru. Tak mudah untuk bisa memaafkan seseorang yang telah membohongi kita, apalagi kebohongannya begitu fatal.

Plot Twist dan Makna Tersirat

Meskipun temanya drama dan slice-of-life, ada plot twist yang mengejutkan di film ini. Di awal film, kita melihat bagaimana Shinji pulang ke rumahnya dan disambut oleh istri dan anaknya. Ternyata, keluarganya pun palsu! Mungkin karena itulah ia membuat Rental Family.

Adegan terakhir ketika Phillip mengunjungi kuli Kikuo dan menemukan cermin juga Penulis anggap sebagai sebuah pesan, yakni apa yang selama ini kita cari mungkin justru ada di dalam diri kita sendiri. Kita hanya butuh waktu untuk bisa menemukannya.

Sebagai catatan, Rental Family sungguh-sungguh ada di Jepang. Penulis merasa bahwa permasalahan-permasalahan yang ada di dunia nyata justru lebih kompleks dengan apa yang ditampilkan dalam film tersebut. Film ini hadir untuk menunjukkan secuil realita yang ada di sekitar kita.

SKOR: 8/10


Lawang, 25 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton Rental Family

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Published

on

By

Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa.

Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul “Inception/Intro”, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan “Castle of Glass”, “In the End”, hingga “Numb”.

Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film Coyote vs. ACME yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.

Detail Film Linkin Park: Unshatter

  • Judul: Linkin Park: Unshatter
  • Sutradara: Joe Hahn
  • Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain
  • Durasi: 110 Menit

Apa Cerita Linkin Park: Unshatter

Joe Hahn (YouTube)

Linkin Park: Unshatter bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, Chester Bennington, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.

Masing-masing personel berusaha menghadapi grief yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. Mike Shinoda misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa single dan album.

Pada satu titik, Joe Hahn yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. Dave Farrel selaku bassist pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.

Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua member memiliki ide serupa. Gitaris Brad Delson awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur band. Rob Bourdon sebagai drummer bahkan tidak mau terlibat sama sekali.

Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan drummer. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.

Pada akhirnya, Linkin Park pun kembali pada tahun 2024 dengan vokalis baru, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil against all odds dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.

Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Mike Shinoda (YouTube)

Jujur saja, ini adalah kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu “The Catalyst”.

Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi “The Catalyst” bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian lift me up, let me go, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.

Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.

Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar band favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.

Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.

Kita bisa melihat bagaimana dunia para anggota Linkin Park terasa shatter alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi.

Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa related dengan apa yang pernah mereka hadapi.

Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur band sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha “memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat”, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.

Walau begitu, mungkin karena passion mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali alias unshatter. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.

Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan.

Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari sub-part-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park. Contohnya adalah “The Hardest Part of Ending is Starting Again”, yang diambil dari lagu “Waiting for the End”.

Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.

SKOR: 11/10


Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film Linkin Park: Unshatter

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore

Published

on

By

Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday.

Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari premiere-nya.

Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa deleted scenes yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.

Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film Avengers: Doomsday. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.

Detail Film Avengers: Endgame Encore

  • Judul: Avengers: Endgame Encore
  • Sutradara: Anthony dan Joe Russo
  • Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin
  • Durasi: 185 Menit

Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?

Langsung Berlanjut Setelah Adegan Ini (Reddit)

Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi ending bagi Endgame, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).

Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.

Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya.

Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi post-credit untuk film Spider-Man: Brand New Day. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.

Ia terlihat sedang membuat video footage mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam glitch yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).

Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk collect Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam rune yang menjadi ciri khas Doom di lantai.

Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke “kantor” Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan “Best Employee of All Time”.

Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.

Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti I love you 3.000 di film Endgame). OB pun mengatakan multiverse is collapsing.

Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat suit Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!

Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore

Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini.

Adegan Steve Rogers dan Loki

Loki di Rumah Steve Rogers (ScreenRant)

Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer Doomsday, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.

Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.

Namun, Rogers yang kita lihat di trailer brewokan, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film Endgame Encore dan trailer.

Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.

Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film Endgame juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?

Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di Doomsday mengenai hal ini.

Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom

Bruce Banner Jadi Hulk Lagi (Yahoo!)

Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.

Nah, hal ini lantas berubah di serial She-Hulk: Attorney at Law dan film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?

Di film Brand New Day, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.

Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya?

Adegan TVA dan Topeng Doom

“Multiverse is collapsing,” OB (Radio Times)

Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film Doomsday. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.

Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.

Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan multiverse. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.

Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.

Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan multiverse dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh multiverse.

Kesimpulan

Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film Avengers: Doomsday. Pasalnya, build up film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film Fantastic Four: The First Step dan film ini.

Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi villain utama film Avengers: Infinity Wars (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film Guardians of the Galaxy Vol. 1.

Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film Endgame Encore ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.

Semoga saja Penulis salah dan Avengers: Doomsday tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.


Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton Avengers: Endgame Encore

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018