Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary
Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.
Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.
Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.
SPOILER ALERT!!!
Detail Film Project Hail Mary
- Judul: Project Hail Mary
- Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
- Cast: Ryan Gosling, Sandra Hüller, James Ortiz, Lionel Boyce
- Durasi: 156 Menit
Apa Cerita Project Hail Mary?
Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.
Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).
Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.
Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hüller).
Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).
Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.
Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.
Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).
Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.
Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.
Setelah Menonton Project Hail Mary
Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.
Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.
Protagonis yang Mirip Mark Watney
Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.
Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.
Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.
Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky
Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.
Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.
Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.
Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.
Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.
Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.
Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.
Plot Armor Grace
Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.
Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.
Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.
Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”
Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.
Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami
Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.
Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.
Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.
Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending
Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.
Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.
Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.
Kesimpulan
Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.
Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.
SKOR: 8/10
***
Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary
You must be logged in to post a comment Login