<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>agama Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/agama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/agama/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Jul 2022 16:35:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>agama Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/agama/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2022 23:59:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Fahruddin Faiz]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5609</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah Ngaji Filsafat yang diisi oleh Fahruddin Faiz. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya. Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube favorit dari ayah Penulis adalah <strong>Ngaji Filsafat </strong>yang diisi oleh <strong>Fahruddin Faiz</strong>. Penuturannya yang santai dan dikemas untuk mudah dicerna (mengingat topik pembahasannya yang berat) menjadi beberapa alasannya.</p>



<p>Untuk itu, beberapa kali Penulis disarankan oleh ayah untuk ikut mendengarkannya. Namun karena beberapa alasan, Penulis tidak terlalu sering menonton video-videonya. Paling hanya sesekali ketika kebetulan ayah Penulis sedang menontonnya.</p>



<p>Untuk itu, sewaktu tahu Fahruddin Faiz menulis sebuah buku berjudul <em><strong>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</strong></em>, Penulis langsung tertarik membacanya karena pada dasarnya Penulis lebih suka membaca daripada menonton.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: Menjadi Manusia Menjadi Hamba</li><li>Penulis: Fahruddi Faiz</li><li>Penerbit: Noura Books</li><li>Cetakan: Cetakan Kedua</li><li>Tanggal Terbit: Maret 2021</li><li>Tebal: 309 halaman</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Buku ini mengambil beberapa topik yang pernah dibahas di kanal YouTube Ngaji Filsafat, sehingga ketika membacanya Penulis bisa membayangkan suara Fahruddin Faiz yang tenang dan bertempo lambat di kepala.</p>



<p>Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bab, yakni <strong>Manusia</strong>, <strong>Waktu</strong>, dan <strong>Penghambaan</strong>. Di setiap babnya selalu membahas <a href="https://whathefan.com/animekomik/filsafat-ala-attack-on-titan/">mengenai berbagai filsafat</a>, baik dari Yunani Kuno, Barat, hingga China.</p>



<p>Tidak hanya berhenti sampai di sana, Fahruddin Faiz juga mengombinasikannya dari sisi Islam, baik dari Alquran maupun Hadis. Dengan begitu, nilai-nilai filsafat yang ingin disampaikan masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.</p>



<p>Pada bab Manusia, kita dijelaskan mengenai <a href="https://whathefan.com/renungan/merasa-lebih-hebat-dari-tuhan/">fitrah kita sebagai manusia</a> yang seharusnya menghamba ke Tuhan, bukannya menghamba ke selain Tuhan seperti harta, jabatan, hingga manusia lainnya.</p>



<p>Bab ini terdiri dari lima subbab, yakni Fitrah, Humor, Pernikahan, Doa, Main-Main dalam Hidup, dan Nama Baik. Kita bisa memilih mau membaca yang mana duluan, tidak perlu membacanya secara berurutan.</p>



<p>Bab Waktu menjabarkan tentang filosofi waktu dalam kehidupan kita, tentang bagaimana kita harus bisa menggunakan dan memaknai waktu sebaik mungkin. Bab terakhir lebih menjelaskan mengenai ibadah kita sebagai makhluk Tuhan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba</em></h2>



<p>Sama seperti video di YouTube-nya, di buku ini Fahruddin Faiz berusaha memberikan wejangan dengan cara yang bersahabat dan tidak menggurui. Tidak lupa selalu ada selipan humor agar topik yang serius ini tidak terlalu terasa serius.</p>



<p>Pembahasan d bab pertama (Manusia) sangat relevan dengan kondisi sekarang. Di era modern seperti sekarang, kita sering melihat fenomena bagaimana kita sering mengagungkan selain Tuhan.</p>



<p>Contohnya adalah kita yang hidup terlalu matrealistis, terlalu memuja seseorang/kelompok, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan, dan lain sebagainya. Bab ini hadir untuk mengingatkan fitrah kita tersebut.</p>



<p>Buku ini akan membawa kita banyak merenung mengenai kodrat kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini. Kandungan filsafat yang ada di dalamnya sama sekali tidak terasa berat karena berhasil dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.</p>



<p>Akan ada banyak <em>quote-quote </em>yang <em>mak jleb </em>dan terasa begitu sesuai dengan yang kita. Apalagi seperti yang sudah Penulis singgung di atas, kita bisa memilih bagian mana yang ingin kita baca tanpa perlu urut dari halaman pertama. </p>



<p>Untuk itu, buku ini akan Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang ingin mencari semacam &#8220;pencerahan&#8221; dalam hidupnya dan yang ingin belajar tentang filsafat dengan penuturan yang mudah untuk dipahami. </p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang. 10 Juli 2022, terinspirasi setelah membaca buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hampa </em>karya Fahruddin Faiz</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/">Setelah Membaca Menjadi Manusia Menjadi Hamba</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-menjadi-manusia-menjadi-hamba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2020 12:58:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bergunjing]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikut campur]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4196</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika menelusuri linimasa TikTok, entah mengapa pertanyaan &#8220;kakak agamanya apa?&#8221; sedang menjadi topik yang sedang hangat dan paling sering diangkat oleh kreator. Ada yang merasa tersinggung sampai menyuruh si penanya bertanya ke guru agamanya apakah pertanyaan tersebut sopan, ada yang menanggapinya santai saja dan heran kenapa ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini, ada yang hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/">&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika menelusuri linimasa TikTok, entah mengapa pertanyaan <strong>&#8220;kakak agamanya apa?&#8221;</strong> sedang menjadi topik yang sedang hangat dan paling sering diangkat oleh kreator.</p>



<p>Ada yang merasa tersinggung sampai menyuruh si penanya bertanya ke guru agamanya apakah pertanyaan tersebut sopan, ada yang menanggapinya santai saja dan heran kenapa ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini, ada yang hanya diam sambil geleng-geleng kepala, dan lain sebagainya.</p>



<p>Penulis pun menjadi penasaran, mengapa pertanyaan yang terkesan sepele ini menjadi sesuatu yang besar.</p>



<h3>Melanggar Privasi, Memicu Diskriminasi</h3>



<p>Di negara-negara Eropa yang mayoritas sekuler, menanyakan agama seseorang dianggap <strong>melanggar privasi</strong>. Agama di sana bukanlah sesuatu yang biasa diumbar-umbar, sehingga wajar mereka tersinggung jika ditanya oleh orang asing.</p>



<p>Indonesia sendiri bukan negara sekuler. Sila pertamanya saja berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Walaupun begitu, beberapa warganya merasa kalau agama yang mereka yakini tidak untuk dipublikasikan, apalagi kepada orang yang tidak mereka kenal.</p>



<p>Bagi yang merasa keberatan, mungkin karena merasa privasinya diganggu. Dari beberapa sumber dan kenalan Penulis, mereka yang minoritas juga kerap mendapatkan <strong>perlakuan diskriminasi</strong> ketika menyebutkan agamanya, terutama dari kelompok mayoritas.</p>



<p>Kenalan Penulis menceritakan pengalaman kurang menyenangkannya. Suatu hari, ia ditanya oleh seseorang mengenai agamanya. Setelah dijawab, ia dibilang kafir oleh orang tersebut. Siapapun akan terluka mendengar ucapan seperti itu.</p>



<p>Berdasarkan contoh tersebut, Penulis jadi bisa memaklumi kalau orang-orang minoritas merasa keberatan jika ditanya apa agamanya.</p>
<p>Walaupun begitu, terkadang ada perlunya untuk memberitahu apa agama kita. Misal kita ikut sebuah tur ke Jepang. Kalau kita tidak memberitahu kalau kita beragama Islam, bisa saja kita akan diajak minum sake atau makan olahan babi. </p>



<h3>Yang Mau Jawab Ya Jawab, Yang Enggak Juga Enggak Apa-Apa</h3>



<p>Menurut Penulis sendiri, polemik pertanyaan agama kita apa ini tidak perlu dibesar-besarkan. Mengharapkan orang berhenti menanyakan hal tersebut juga bisa dibilang sangat susah.</p>



<p>Seperti pola hidup stoisme, kita cukup berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Apa itu?<strong> Respon kita terhadap pertanyaan tersebut.</strong></p>



<p>Yang mau jawab pertanyaan itu dengan bangga ya silakan. Yang keberatan ya enggak usah dijawab, atau mengatakan kalau dirinya merasa keberatan dengan pertanyaan tersebut.</p>



<p>Jika semua polemik yang terjadi di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan damai, hidup pun akan menjadi lebih aman dan tenteram tanpa perlu ada drama kurang penting.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Menanyakan agama seseorang, termasuk yang tidak dikenal, menjadi bukti betapa kita begitu suka mengusik atau minimal <em>kepo </em>terhadap kehidupan pribadi seseorang.</p>
<p>Mulai dari <em>public figure </em>sampai anak tetangga, kita kerap merasa ingin tahu sisi lain kehidupan lain yang tak tampak mata. Tidak heran jika budaya bergunjing tumbuh subur di sekitar kita.</p>



<p>Kebiasaan yang kurang baik ini memang susah dihilangkan, tapi setidaknya kita bisa mulai dari diri sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>



<p>&nbsp;</p>



<p>Lawang, 22 Desember 2020, terinspirasi setelah ramainya isu tentang pertanyaan tentang agama yang kita anut oleh orang asing</p>



<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@rifkyns">Rifky Nur Setyadi</a></p>




<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/">&#8220;Kakak Agamanya Apa?&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kakak-agamanya-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Dec 2019 12:17:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal. Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu. Kejadian kecil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal.</p>
<p>Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu.</p>
<p>Kejadian kecil tersebut memantik rasa penasaran penulis. Mengapa setiap tahun polemik mengucapkan selamat natal selalu menjadi biang keributan di masyarakat kita?</p>
<h3>Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Penulis tidak pernah belajar agama secara mendalam di sebuah pesantren ataupun mengikuti pengajian secara rutin. Paling banter jadi jamaah di YouTube.</p>
<p>Ketika ada sebuah pertanyaan yang membuat penulis penasaran, biasanya penulis akan mencari jawabannya melaui video-video di YouTube ataupun bertanya kepada teman yang ilmunya lebih tinggi dari penulis.</p>
<p>Salah satunya termasuk hukum mengucapkan selamat natal. Menulis mencoba untuk mendengarkan beberapa pendapat dari ustaz yang berbeda-beda.</p>
<p>Hasilnya? Secara garis besar pendapat memang terbagi dua, yang melarang dan membolehkan. Masing-masing memberikan dalil dari Alquran ataupun Hadis.</p>
<p>Bagi yang melarang, dalilnya adalah ketika kita mengucapkan selamat natal artinya umat Islam mengakui bahwa Yesus (atau Isa di Islam) lahir pada tanggal tersebut. Ini sudah masuk ke ranah <em>aqidah </em>sehingga tidak boleh diucapkan.</p>
<p>Bagi yang membolehkan, dalilnya adalah kewajiban kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia termasuk yang berbeda keyakinan. Kalau mau pakai logika, tidak mungkin kita mengucapkan selamat natal lantas kita menjadi kafir.</p>
<p>Dengan adanya dua pendapat yang berbeda, masyarakat harusnya diperkenankan untuk memilih mana yang paling mereka yakini benar. Hal ini juga sering terjadi misalnya pada penentuan hari raya Idul Fitri ataupun <em>qunut </em>saat sholat Shubuh.</p>
<p>Masalahnya, polemik ini seolah terus diulang di masyarakat tiap tahunnya tanpa bisa memetik pelajaran.</p>
<h3>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Dalam menentukan sebuah hukum, para ustaz maupun ulama pasti memiliki dasar hukum yang berasal dari Alquran, Hadis, ataupun sumber-sumber lainnya.</p>
<p>Beliau-beliau ini tidak asal-asalan menentukan hukum, bukan juga karena sensi dengan agama lain. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati mereka meskipun kita tidak sepakat dengan pendapatnya.</p>
<p>Sayangnya, yang penulis lihat justru sebaliknya. Contoh, ketika menonton video-video yang menjelaskan dasar hukum mengucapkan selamat natal, isi komentarnya justru menghujat yang sampai menyinggung ranah pribadi.</p>
<p>Mereka membalas argumen tersebut dengan menggunakan logika atau dasar kemanusiaan. Penulis ini ilmu agamanya masih rendah, tapi paham kalau yang namanya agama juga harus berdasarkan dalil, bukan logika manusia semata.</p>
<p>Sebaliknya pun seperti itu, sama saja. Tokoh-tokoh agama yang membolehkan pengucapan selamat natal ramai-ramai didoakan agar segera tobat. Emang, yang menyuruh tobat ini udah sesuci apa, sih?</p>
<p>Inilah yang penulis anggap menjadi penyebab mengapa polemik mengucapkan selamat natal selalu berulang setiap tahun: tidak adanya rasa saling menghargai satu sama lain.</p>
<h3>Perang Status di Dunia Maya</h3>
<p>Di dalam Islam, kita memang dianjurkan untuk menyiarkan Islam walaupun hanya satu ayat. Mungkin ini yang menjadi motivasi orang-orang gemar membuat status dengan ayat Alquran yang menjadi dasar pelarangan pengucapan selamat natal.</p>
<p>Hanya saja, menurut penulis hal tersebut kurang elok jika dilakukan di media sosial. Kalau di dalam internal Islam mungkin masih bisa diterima, tapi kan pengguna media sosial terdiri dari berbagai macam orang.</p>
<p>Bisa jadi, ada teman-teman kita yang Nasrani atau Katolik merasa tersinggung dengan status tersebut dan akibatnya terjadi perselisihan yang kurang mengenakan.</p>
<p>Kalau semacam MUI ataupun tokoh agama, tugas mereka memang meyiarkan ajaran agama Islam sehingga wajar jika mereka memberi tahu apa dasar hukum untuk suatu masalah tertentu.</p>
<p>Toh, kita nanti akan dimintai pertangungjawaban masing-masing mengenai pilihan yang kita yakini benar.</p>
<h3>Intoleran?</h3>
<p>Bagi yang meyakini boleh hukumnya mengucapkan selamat natal, juga jangan nge-<em>judge </em>orang Islam yang tidak berkenan mengucapkannya dengan sebutan tidak toleran. Mereka juga punya landasan hukum sendiri untuk tidak melakukannya.</p>
<p>Islam sendiri sangat toleran mengenai ibadah umat agama lain. Kita dilarang untuk mengganggu proses ibadah mereka. Kita diharamkan menghalang-halangi mereka untuk menjalankan keyakinannya.</p>
<p>Kita diwajibkan untuk menghargai mereka menjalani kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Kita juga dilarang memaksa kaum minoritas untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Ini adalah toleransi.</p>
<p>Memang pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak kejadian intoleran di mana umat agama lain dihalang-halangi untuk melakukan ibadahnya. Ini menjadi PR untuk kita semua.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri sampai saat ini belum pernah mengucapkan selamat natal. Bukan karena tidak punya teman non-muslim, tapi memang lebih meyakini pendapat yang melarang.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis menghargai mereka yang mengucapkan selamat natal. Penulis tidak akan mengafirkan orang lain seenak udelnya sendiri. Teman-teman penulis pun bisa memahami hal ini.</p>
<p>Intinya, yang merasa berat ya enggak usah mengucapkan. Yang merasa boleh-boleh saja ya silakan. Kalau kita bisa saling menghargai satu sama lain, niscaya negeri ini akan damai&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Video ceramah para ustaz bisa ditonton melalui link yang ada di bawah ini</p>
<p>Melarang: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=bppyjYFep98">Buya Yahya</a>, <a href="https://youtu.be/8VUxdXMjiHc">Khalid Basalamah</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Pc6_NBi-Zz0">Syafiq Riza Basalamah</a>, <a href="https://youtu.be/51vrz_juupg">Adi Hidayat</a>, <a href="https://youtu.be/fqlt6VOwEgA">Felix Siauw</a>, <a href="https://youtu.be/Z5m3yxm1XUg">Abdul Somad</a></p>
<p>Membolehkan: <a href="https://youtu.be/MT8tG6PEZX4">Habib Ali Al-Jufri</a>, <a href="https://youtu.be/Z46TX9EOBAo">Quraish Shihab</a>, <a href="https://youtu.be/_IF9EwhBOQw">Gus Miftah</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2019, terinspirasi setelah salah seorang teman di Karang Taruna bertanya kepada penulis tentang hukum mengucapkan selamat Natal di Islam.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@crisdinoto?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Cris DiNoto</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Keimanan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2018 15:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[perintah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1781</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, iman memiliki makna kepercayaan yang berkaitan dengan agama. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri. Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan: Iman berarti mempercayai dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, <strong>iman </strong>memiliki makna <strong>kepercayaan yang berkaitan dengan agama</strong>. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan:</p>
<blockquote><p><strong>Iman berarti mempercayai dan meyakini tanpa tapi</strong></p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Penulis akan memberikan contoh sesuai dengan kepercayaan yang penulis anut. Sebagai umat muslim, tentu pedoman hidup yang harus penulis pegang adalah Al Quran bukan?</p>
<p>Karena penulis meyakini Al Quran sebagai pedoman hidup, artinya penulis harus meyakini isinya tanpa meragukan isinya bukan? Apa yang berada di dalamnya bersifat mutlak dan tidak mungkin salah.</p>
<p>Jujur saja, penulis sempat berpikir beberapa ayat Al Quran sedikit membuat penulis merasa tidak nyaman. Contohnya adalah hukum menggauli budak. Penulis tentu merasa bahwa harusnya hal tersebut tidak diperbolehkan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa pengetahuan penulis amat terbatas, sehingga tidak mungkin penulis menentang ayat suci Al Quran. Dengan pemahaman ini, penulis bisa menerima hal tersebut karena menganggap Tuhan pasti memiliki alasan di baliknya.</p>
<p>Yang banyak penulis lihat di lingkungan sekitar penulis, ada beberapa yang memilah-milah ayat mana yang dipatuhi mana yang bisa dikompromikan (mungkin penulis juga masuk di dalamnya).</p>
<p><strong>Tidak boleh memilih pemimpin kafir!</strong> Tapi kan dia orangnya baik dan tegas, daripada yang muslim tapi korupsi!</p>
<p><strong>Tidak boleh meminum bir!</strong> Tapi kan saya lagi di luar negeri, ini untuk menghormati tamu yang sudah menyuguhkan ke saya!</p>
<p><strong>Wanita sebaiknya di dalam rumah!</strong> Tapi kan sekarang sudah eranya kesederajatan antara wanita dan pria!</p>
<p><strong>Jangan lupa sedekah!</strong> Tapi kan kebutuhan rumah masih banyak!</p>
<p><strong>Jangan meninggalkan sholat!</strong> Tapi kan yang penting bisa menjadi manusia yang baik, sholat hanya ritual semata!</p>
<p>Inilah terkadang yang tidak disadari oleh kita sebagai manusia. Dengan mengeluarkan argumen untuk melawan perintah Al Quran, secara sadar maupun tidak sadar kita merasa lebih hebat dari Tuhan yang telah menciptakan semesta ini.</p>
<p><strong>Siapakah kita sehingga bisa menentang perintah Tuhan kita?</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis merasa berat untuk menuliskan tulisan ini, karena penulis akui masih banyak melalaikan perintah di dalam Al Quran dan melanggar apa yang dilarang. Akan tetapi, besar harapan penulis bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik setelah menulis tulisan semacam ini.</p>
<p>Penulis hanya ingin mengajak kepada pembaca sekalian, untuk bisa berusaha bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, yang mengimani kepercayaannya tanpa menggunakan tapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari perenungan yang panjang</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://aboutislam.net/reading-islam/finding-peace/remembering-allah/prayers-a-special-connection-with-god/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi9rbuF_YPfAhWGeisKHeVQCFcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">AboutIslam.net</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2018 08:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad rida'i rifan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1443</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar buku-buku karya Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an, dan buku ini adalah buku kedelapan yang penulis miliki. Penulis membelinya sewaktu berlibur ke Bandung dengan harga Rp 15.000 saja. Sebenarnya, penulis belum merasa berani untuk membaca buku-buku yang bertemakan kematian. Maklum, penulis masih merasa sering melakukan dosa. Akan tetapi, setelah pertarungan batin singkat, penulis memutuskan untuk tetap membeli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/">Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis merupakan penggemar buku-buku karya Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an, dan buku ini adalah buku kedelapan yang penulis miliki. Penulis membelinya sewaktu berlibur ke Bandung dengan harga Rp 15.000 saja.</p>
<p>Sebenarnya, penulis belum merasa berani untuk membaca buku-buku yang bertemakan kematian. Maklum, penulis masih merasa sering melakukan dosa. Akan tetapi, setelah pertarungan batin singkat, penulis memutuskan untuk tetap membeli buku ini. Toh sedang obral, sayang jika dilewatkan.</p>
<p><strong>Apa Isi Buku Ini?</strong></p>
<p>Walaupun judulnya seperti itu, sebenarnya buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah tentang menyambut kematian, yang kedua tentang bakti kita kepada orangtua dan yang terakhir adalah tentang menyusun masa depan yang cerah.</p>
<p>Bagian pertama mengajak kita untuk tidak menakuti datangnya kematian. Kita harus siap, bahkan bahagia, ketika ajal telah menjemput. Agar bisa seperti itu, tentu kita harus memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat.</p>
<p>Mengingat kematian, seperti kata ustad Adi Hidayat pada salah satu ceramahnya, merupakan salah satu cara paling ampuh untuk menjauhi maksiat. Ketika terlintas di pikiran ingin berbuat maksiat, langsung usir dengan menanamkan pikiran seperti ini:</p>
<blockquote><p>Bagaimana jika aku akan mati setelah melakukan maksiat ini?</p></blockquote>
<p>Kematian seharusnya bukan menjadi sesuatu yang ditakuti. Kehidupan setelah kematian harus menjadi tujuan hidup. Apabila kita mengejar dunia, belum tentu kita mendapatkan akhirat. Sebaliknya, apabila kita mengejar akhirat, insyaAllah kita akan mendapatkan dunia.</p>
<p>Ustad Haikal Hasan menganalogikannya dengan seutas tali dan seekor sapi. Jika kita membeli sapi, kita akan mendapatkan tali. Akan tetapi, jika kita membeli tali, kita tidak akan mendapatkan sapi. Begitulah, sapi adalah analogi untuk akhirat, sedangkan tali merupakan analogi untuk dunia.</p>
<p>Buku ini membuat kita semakin meyakini perkataan kedua ustad tersebut.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kedua bab yang lain sama seperti tulisan-tulisan pada buku-buku Ahmad Rifa&#8217;i lainnya. Berusaha memotivasi dengan cara islami yang disajikan dengan bahasa sederhana. Sayang, sebenarnya penulis berharap buku ini benar-benar mengulas penuh tentang kematian.</p>
<p>Nasihat-nasihat yang terkadung di dalamnya membuat buku ini cocok untuk dibaca sebelum memulai aktivitas. Buku ini cocok untuk pembaca yang tidak kuat membaca buku tebal. Penulis hanya membutuhkan kurang dari dua jam untuk menghabiskan buku ini.</p>
<p>Nilainya <strong>3.9/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 8 Oktober 2018, terinspirasi setelah membaca buku &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rif&#8217;an</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/">Memaknai Kematian Pada &#8216;Izrail Bilang, Ini Hari Terakhirku</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/memaknai-kematian-pada-izrail-bilang-ini-hari-terakhirku/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Andai Indonesia Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 06:27:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[paham]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam. Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam.</p>
<p>Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru memahami bahwa apa yang membolehkan hal tersebut bukanlah agama, melainkan ideologi.</p>
<p>Pada tulisan <a href="http://whathefan.com/2018/02/28/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a>, penulis sudah menjabarkan definisi paham liberalisme. Secara singkat, penganut ideologi ini tidak ingin adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.</p>
<p>Apakah paham ini cocok di Indonesia? Jelas tidak sama sekali karena sila pertama kita berbunyi KETUHANAN YANG MAHA ESA. Selama kita berpegang teguh pada Pancasila, liberalisme tidak akan punya tempat di Indonesia.</p>
<p><strong>Sekarang mari kita berandai-andai jika Indonesia menjadi negara liberal, apa yang sekiranya akan terjadi?</strong></p>
<p>Mungkin para pembaca pernah melihat film <strong>3</strong> <strong>(Alif, Lam, Mim) </strong>yang sempat ditayangkan di bioskop. Pada film tersebut, diceritakan bahwa di masa depan terjadi revolusi yang mengakibatkan Pancasila direduksi menjadi Catursila dengan menghilangkan sila pertama.</p>
<p>Indonesia, pada film tersebut, menjadi negara liberal. Andai itu benar-benar terjadi, tanpa melihat film tersebut, mari kita urutkan hal-hal yang berpotensi terjadi.</p>
<p>Yang pertama, agama akan menjadi sesuatu yang ditakuti karena ia dianggap berpotensi mengekang kebebasan. Para penganutnya akan dicurigai sebagai orang-orang kolot yang menyukai terorisme. Mereka yang tak beragama merasa diri mereka yang paling benar karena tidak mau didikte oleh doktrin agama.</p>
<p><div id="attachment_951" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-951" class="size-full wp-image-951" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-951" class="wp-caption-text">Film 3 (http://style.tribunnews.com/2016/10/20/sinopsis-film-3-alif-lam-mim-sinema-yang-bakal-diputar-di-atlanta-asian-film-festival-2016)</p></div></p>
<p>Selanjutnya, pergaulan akan semakin bebas. Tidak ada lagi aturan yang membatasi mereka mau bergaul seperti apa. Mau punya anak di luar nikah pun bukan lagi menjadi hal yang memalukan. Mau nikah dengan sesama jenis hingga beda spesies pun dianggap hal yang lumrah.</p>
<p>Rasio bunuh diri akan meningkat karena masyarakatnya tidak mempunyai pegangan ketika dilanda depresi. Minuman keras sudah tidak mampu menghapus stres pada pikiran sehingga mereka memilih untuk menggantung lehernya.</p>
<p>Mana buktinya ketiga hal tersebut akan terjadi? Coba saja tengok negara-negara yang tidak menjadikan agama sebagai landasan bernegara, yang bangga karena bisa memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada warga negaranya.</p>
<p>Beruntunglah para pendiri bangsa ini sepakat menyantumkan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai dasar ideologi bernegara. Sudah sepatutnya setiap warga negara bertindak dan berperilaku sebagaimana yang telah diajarkan oleh agamanya masing-masing, tanpa terpengaruh ideologi-ideologi lain yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Juli 2018, terinspirasi setelah berdiskusi masalah pernikahan dengan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea">https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terorisme Bukan Islam</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 03:37:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[syahid]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indonesia sedang diuji dengan berbagai rangakaian terorisme yang terjadi di beberapa kota. Pembunuhan manusia tak bersalah jelas sekali merupakan tindakan yang biadab, yang sama sekali tidak dibenarkan oleh agama manapun di dunia. Sayang sekali, pelaku teror menggunakan cara suicide bomb, sehingga kita tidak tahu apa motif sebenarnya. Dugaan Kapolri, motif yang mereka miliki adalah terdesaknya ISIS [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/">Terorisme Bukan Islam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia sedang diuji dengan berbagai rangakaian terorisme yang terjadi di beberapa kota. Pembunuhan manusia tak bersalah jelas sekali merupakan tindakan yang biadab, yang sama sekali tidak dibenarkan oleh agama manapun di dunia.</p>
<p>Sayang sekali, pelaku teror menggunakan cara <em>suicide bomb</em>, sehingga kita tidak tahu apa motif sebenarnya. Dugaan Kapolri, motif yang mereka miliki adalah terdesaknya ISIS di Suriah hingga kerusuhan di Mako Brimob. Akan tetapi, ini hanya asumsi dari pihak kepolisian.</p>
<p>Masyarakat telah memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terkait dengan tragedi ini. Mereka menyadari, bahwa kejadian ini juga bertujuan untuk memecah belah Indonesia sebagai negara kesatuan. <em>Public Figure </em>seperti Ernest Prakasa dan Deddy Corbuzier yang non-muslim pun turut mengingatkan kita harus saling bergandeng tangan melawan segala bentuk terorisme.</p>
<p>Memang ada beberapa yang penulis baca di media sosial, yang menyalahkan Islam sebagai agama teror yang menyukai darah. Tentu ucapan ini tidak benar, karena dalam kondisi perang pun Islam dilarang membunuh orang yang tidak bersalah. Barangsiapa yang melakukannya, ia dianggap telah membunuh seluruh umat manusia.</p>
<p>Mereka yang melakukan ini tentu telah salah memahami makna jihad di dalam Al Quran, jika niat mereka memang untuk mati syahid. Jika kaum Islam yang diserang dan hendak dibinasakan, maka kita wajib membela agama kita. Apabila kita gugur, insyaAllah kita mati syahid karena kita mati demi membela agama Allah.</p>
<p>Menyerang orang-orang yang sama sekali tidak menyerang kita? Jangan pernah berharap Allah akan mencatatkan kematian mereka sebagai mati syahid. Bahkan hal ini ditegaskan oleh Ustad Abdul Somad, sehingga validitasnya dapat dipercaya.</p>
<p><div id="attachment_749" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-749" class="size-full wp-image-749" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/ustad-abdul-somad_20180204_131232.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/ustad-abdul-somad_20180204_131232.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/ustad-abdul-somad_20180204_131232-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/ustad-abdul-somad_20180204_131232-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-749" class="wp-caption-text">Ustad Abdul Somad (http://palembang.tribunnews.com/2018/05/14/heboh-teror-bom-di-surabaya-ini-penjelasan-ustad-abdul-somad-terkait-bom-bunuh-diri-dan-mati-syahid)</p></div></p>
<p>Ada yang <em>nyiyir </em>di media sosial, dengan mengatakan:</p>
<p>&#8220;<em>Kalo terorisme jangan lihat agamanya, tapi kalo gubernur harus lihat agamanya</em>.&#8221;</p>
<p>Kalimat satire, yang ditujukan kepada umat muslim. Kemungkinan, yang membuatnya memang belum memahami Islam atau belum <em>mau </em>memahami Islam.</p>
<p>Yang pertama, penulis ulangi sekali lagi, Islam sama sekali melarang pembunuhan orang-orang tidak bersalah sekalipun ia non-muslim. Sehingga, segala bentuk terorisme jelas sama sekali tidak berkaitan dengan Islam, meskipun mereka mengatasnamakan Islam.</p>
<p>Yang kedua, perintah untuk memilih pemimpin yang seiman tercantum dalam Al-Quran, sehingga wajar jika ada pemilih yang melihat agama yang dianut pemimpinnya. Jika percaya dengan tafsir lain silahkan, walaupun mayoritas ulama menyepakati kalimat pertama.</p>
<p>Logikanya, di dalam Islam, hal terkecil seperti memasuki kamar mandi pun ada aturannya, apalagi memilih pemimpin. Akan tetapi, sama seperti perintah sholat lima waktu, ada yang menaati ada yang tidak, tetapi itu urusan mereka dengan Tuhannya.</p>
<p>Yang jelas, kalimat nyiyir tersebut kami lakukan karena memang berkaitan dengan agama kami. Berbuat terorisme dengan membawa nama Islam jelas mencoreng wajah kami, sehingga butuh ditegaskan bahwa perbuatan mereka tidak berhubungan dengan Islam. Begitu pula kalimat berikutnya, kami hanya mengimani apa yang tertuang di dalam Al-Quran.</p>
<p>Kesimpulannya, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tindakan terorisme. Para pelaku bom bunuh diri tentu telah salah memahami makna mati syahid, atau bahkan mereka telah dicuci otaknya karena kurangnya iman.</p>
<p>Mari kita sebagai bangsa Indonesia, saling bergandengtangan menghadapi musibah ini. Jangan sampai kejadian ini membuat menerbitkan jarak antar umat beragama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 16 Mei 2018, setelah terjadi berbagai serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.tribunnews.com/regional/2018/05/13/diduga-akun-ini-terlibat-jaringan-teror-bom-surabaya-warganet-minta-polisi-menangkapnya">http://www.tribunnews.com/regional/2018/05/13/diduga-akun-ini-terlibat-jaringan-teror-bom-surabaya-warganet-minta-polisi-menangkapnya</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/">Terorisme Bukan Islam</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2018 15:01:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[barat]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=146</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Sejarah adalah milik para pemenang&#8221; Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka. Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Sejarah adalah milik para pemenang</em>&#8221;</p>
<p>Saya lupa kutipan diatas bersumber dari siapa, tapi secara garis besar memiliki makna bahwa pemenang (dalam hal ini, perang) dapat membuat sejarah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Dewasa ini, mayoritas sejarah dibuat oleh peradaban Barat sebagai pemenang dalam menyebarkan hegemoni mereka.</p>
<p>Oleh karena itu, jangan heran apabila hampir semua penemuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan barat seperti Galileo Galilei dan Isaac Newton. Padahal, banyak literatur yang menyebutkan bahwa mereka mendapatkan berbagai sumber pengetahuan dari ilmuwan Islam, ketika barat masih berada pada masa kegelapan.</p>
<p>Berawal dari sebuah diskusi, saya menamatkan sebuah buku dalam 2 hari (tepatnya 5 jam) berjudul Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb. Di dalam buku tersebut dijelaskan informasi mengenai betapa Islam menjadi pemimpin dalam segala bidang ilmu pengetahuan sebelum barat keluar dari era kegelapannya. Berbagai buku ditulis dan dijadikan acuan oleh cendekiawan barat, yang sayangnya banyak dihancurkan terutama oleh bangsa Mongol.</p>
<p>Masa keemasan Islam memang telah lewat beberapa abad yang lalu, namun jejaknya masih nampak hingga kini meskipun berusaha disamarkan oleh beberapa pihak. Sebagai umat Islam, mengetahui bahwa Islam pernah berdiri di puncak tertinggi ilmu pemgetahuan harus bisa menjadi motivasi agar tidak pernah lelah dalam mencari ilmu.</p>
<p>Umat Islam, terutama generasi muda, harus mengenal para ilmuwan Muslim selain ilmuwan barat yang ada di buku teks sekolah, sehingga pola pikir mereka tidak menganggap bahwa orang hebat hanya orang Barat. Banyak ilmuwan Islam yang sejatinya tidak kalah dari tokoh-tokoh yang digembar-gemborkan oleh pemenang perang tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Januari 2018, setelah membaca buku Lost Islamic History kayprya Firas Alkhateeb</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/">http://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-al-khawarizmi-tokoh-penemu-aljabar/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/">Ilmuwan Islam dan Pengurangan Perannya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/ilmuwan-islam-dan-pengurangan-perannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:40:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[analogi]]></category>
		<category><![CDATA[kehormatan]]></category>
		<category><![CDATA[membela]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=85</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah mengapa, pertanyaan ini sangat mengusik saya. Mungkin karena keinginan saya yang ingin lebih memahami makna Tuhan, sehingga saya mencari tambahan-tambahan referensi dari berbagai sumber. Dari tulisan sebelumnya, sebenarnya sudah terlihat saya condong kemana, tapi akan saya tegaskan di tulisan ini dengan analogi. Bayangkan ada seorang wanita, penggemar berat boyband Korea, yang histeris ketika melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/">Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Entah mengapa, pertanyaan ini sangat mengusik saya. Mungkin karena keinginan saya yang ingin lebih memahami makna Tuhan, sehingga saya mencari tambahan-tambahan referensi dari berbagai sumber. Dari tulisan sebelumnya, sebenarnya sudah terlihat saya condong kemana, tapi akan saya tegaskan di tulisan ini dengan analogi.</div>
<div></div>
<div>Bayangkan ada seorang wanita, penggemar berat boyband Korea, yang histeris ketika melihat perut idolanya. Menurut Anda, apa yang akan terjadi jika saya menghina idolanya? Tentu dia akan marah besar, membelanya dengan menyangkal semua hinaan saya dan kemungkinan justru balik menghina saya.</div>
<div></div>
<div>Kenapa wanita itu marah? Mau dihina atau tidak, boyband itu akan tetap terkenal, akan tetap berkarya. Mau dicibir seperti apapun, mereka akan tetap sukses di dunia, akan tetap bernyanyi dan berdansa. Hinaan saya tidak akan berarti apa-apa padanya, toh juga tidak mungkin dia mendengar caci maki dari bibir saya.</div>
<div></div>
<div>Yang ia bela adalah kehormatan boyband tersebut. Ia merasa bahwa idolanya tersebut sempurna, atau setidaknya mendekati sempurna, sehingga ia merasa memiliki tugas untuk membungkam siapapun yang berusaha menginjak-injak kehormatan tersebut.</div>
<div></div>
<div>Itu cuma boyband, sesama manusia biasa yang dianugerahi kemampuan lebih. Lah kita sedang bicara Tuhan lo ini, pencipta alam semesta.</div>
<div></div>
<div>Kamu bisa marah kalau idolamu dihina, kenapa kamu enggak marah ketika Tuhanmu dihina, agamamu dihina, Rasulmu dihina, kitab sucimu dihina?</div>
<div></div>
<div>Apakah membela itu selalu berarti yang dibela itu lebih lemah?</div>
<div></div>
<div>Bukan berarti karena Tuhan itu Maha Kuasa, tidak perlu dibela. Yang dibela itu membela agama-Nya, membela kitab suci-Nya, kita membela kehormatan-Nya, kehormatan kita sebagai umat beragama. Itu yang disebut sebagai membela Tuhan.</div>
<div></div>
<div>Sama seperti ini, Tuhan itu enggak perlu ibadah kita, Tuhan tidak butuh. Itu tidak berarti kita tidak perlu beribadah. Kita tetap harus melakukannya sebagai tanda ketaatan kita, sebagai bentuk kepasrahan kepada-Nya sebagai makhluk-Nya, sebagai wujud syukur kepada karunia-Nya.</div>
<div></div>
<div>Contoh lain, kitab suci itu sudah pasti suci, enggak akan berubah keagungannya meskipun dilecehkan. Iya, keagungannya tidak akan hilang, tapi bagaimana tanggung jawab kita melihat hal tersebut, sedang kita mengimani kitab tersebut? Kita menjaga kehormatannya, sehingga tidak akan ada orang yang berani macam-macam dengan apa yang kita yakini.</div>
<div></div>
<div>Rasanya tidap perlu saya sampaikan kesimpulan tulisan ini, kalian pasti sudah mengerti apa kesimpulannya.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Pare, 8 Desember 2017, setelah melihat berbagai video ceramah di Youtube</div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://themuslimvibe.com/faith-islam/in-practice/practical-tips-on-how-to-gain-concentration-in-prayer">https://themuslimvibe.com/faith-islam/in-practice/practical-tips-on-how-to-gain-concentration-in-prayer</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/">Analogi untuk Perlunya Membela Tuhan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/analogi-untuk-perlunya-membela-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perlukah Tuhan Dibela?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:40:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[dibela]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=83</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini menjadi pertanyaan besar saya setelah melihat dan mendengar Sujiwo Tejo dalam acara Indonesia Lawyers Club edisi 5 Desember 2017. Beliau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena ia Maha Kuasa, yang membuat saya teringat dengan buku karangan Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela (saya belum pernah membaca buku ini). Komentar ini, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/">Perlukah Tuhan Dibela?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Ini menjadi pertanyaan besar saya setelah melihat dan mendengar Sujiwo Tejo dalam acara Indonesia Lawyers Club edisi 5 Desember 2017. Beliau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena ia Maha Kuasa, yang membuat saya teringat dengan buku karangan Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela (saya belum pernah membaca buku ini).</div>
<div></div>
<div>Komentar ini, yang terucap ketika reuni 212 menjadi topik bahasan pada acara tersebut, memantik rasa keingintahuan saya tentang perlu tidaknya Tuhan dibela. Jika di nalar dengan logika manusia yang terbatas, mungkin kita bisa membenarkan dengan alasan &#8220;Tuhan itu Maha Besar, untuk apa manusia sebagai makhluk-Nya membelanya? Kita ini terlalu kecil untuk membela keagungan-Nya!&#8221;. Selain itu, apakah kita tidak meremehkan Tuhan dengan membela-Nya? Memang Tuhan tidak mampu membela diri-Nya, sedang Tuhan itu Maha Mampu?</div>
<div></div>
<div>Namun, dari salah satu kawan saya mendapatkan sudut pandang yang lain. Memang, Tuhan tidak perlu dibela, tapi apakah itu berarti kita tidak boleh membela-Nya? Apakah dengan sebab x selalu berarti y? Apakah dengan membela Tuhan selalu berarti kita meremehkan Tuhan? Apakah Tuhan akan diam saja jika melihat ada umat-Nya yang membela dengan hanya berharap ridho-Nya?</div>
<div></div>
<div>Saya mencoba untuk mencari analogi yang tepat untuk menggambarkan kedua sisi ini, namun belum satupun muncul sebagai inspirasi. Berbeda dengan kasus hijab, yang bisa saya analogikan dengan anak sekolah.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Kamu ke sekolah aja pakai seragam ada aturannya, kalau ada yang melanggar sedikit saja pasti dipanggil BP, sehingga kamu patuhi aturan tersebut. Lah ini ada aturan dari Tuhan, kok berani-beraninya kamu melanggar aturan &#8220;seragam&#8221; yang sudah tertuang di dalam kitab suci, padahal hukumannya jauh lebih berat dibandingkan di panggil BP!&#8221;</div>
<div></div>
<div>Memang sedikit melenceng dari topik semula, tapi itu saya jadikan ilustrasi sebagai susahnya mencari analogi yang tepat. Lalu sisi mana yang saya lebih titik beratkan? Jujur, saya pun masih mencari jawaban, dan saya selalu berusaha memosisikan diri sebagai pencari jawaban agar tidak pernah lelah untuk belajar. Mungkin masih banyak literatur yang harus dibaca, kajian ceramah yang harus disimak, sebelum hati mantap memilih mana yang tepat. Atau, sesungguhnya tidak diperlukan jawaban yang tepat?</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Pare, 8 Desember 2017, setelah melihat ILC, terutama mendengar komentar Sujiwo Tejo, ditambah diskusi dengan dua kawan saya</div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://voiceofthepersecuted.wordpress.com/2017/08/28/its-a-war-on-christians-muslim-persecution-of-christians-april-2017/">https://voiceofthepersecuted.wordpress.com/2017/08/28/its-a-war-on-christians-muslim-persecution-of-christians-april-2017/</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/">Perlukah Tuhan Dibela?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/perlukah-tuhan-dibela/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
