Terorisme Bukan Islam

Indonesia sedang diuji dengan berbagai rangakaian terorisme yang terjadi di beberapa kota. Pembunuhan manusia tak bersalah jelas sekali merupakan tindakan yang biadab, yang sama sekali tidak dibenarkan oleh agama manapun di dunia.

Sayang sekali, pelaku teror menggunakan cara suicide bomb, sehingga kita tidak tahu apa motif sebenarnya. Dugaan Kapolri, motif yang mereka miliki adalah terdesaknya ISIS di Suriah hingga kerusuhan di Mako Brimob. Akan tetapi, ini hanya asumsi dari pihak kepolisian.

Masyarakat telah memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terkait dengan tragedi ini. Mereka menyadari, bahwa kejadian ini juga bertujuan untuk memecah belah Indonesia sebagai negara kesatuan. Public Figure seperti Ernest Prakasa dan Deddy Corbuzier yang non-muslim pun turut mengingatkan kita harus saling bergandeng tangan melawan segala bentuk terorisme.

Memang ada beberapa yang penulis baca di media sosial, yang menyalahkan Islam sebagai agama teror yang menyukai darah. Tentu ucapan ini tidak benar, karena dalam kondisi perang pun Islam dilarang membunuh orang yang tidak bersalah. Barangsiapa yang melakukannya, ia dianggap telah membunuh seluruh umat manusia.

Mereka yang melakukan ini tentu telah salah memahami makna jihad di dalam Al Quran, jika niat mereka memang untuk mati syahid. Jika kaum Islam yang diserang dan hendak dibinasakan, maka kita wajib membela agama kita. Apabila kita gugur, insyaAllah kita mati syahid karena kita mati demi membela agama Allah.

Menyerang orang-orang yang sama sekali tidak menyerang kita? Jangan pernah berharap Allah akan mencatatkan kematian mereka sebagai mati syahid. Bahkan hal ini ditegaskan oleh Ustad Abdul Somad, sehingga validitasnya dapat dipercaya.

Ustad Abdul Somad (http://palembang.tribunnews.com/2018/05/14/heboh-teror-bom-di-surabaya-ini-penjelasan-ustad-abdul-somad-terkait-bom-bunuh-diri-dan-mati-syahid)

Ada yang nyiyir di media sosial, dengan mengatakan:

Kalo terorisme jangan lihat agamanya, tapi kalo gubernur harus lihat agamanya.”

Kalimat satire, yang ditujukan kepada umat muslim. Kemungkinan, yang membuatnya memang belum memahami Islam atau belum mau memahami Islam.

Yang pertama, penulis ulangi sekali lagi, Islam sama sekali melarang pembunuhan orang-orang tidak bersalah sekalipun ia non-muslim. Sehingga, segala bentuk terorisme jelas sama sekali tidak berkaitan dengan Islam, meskipun mereka mengatasnamakan Islam.

Yang kedua, perintah untuk memilih pemimpin yang seiman tercantum dalam Al-Quran, sehingga wajar jika ada pemilih yang melihat agama yang dianut pemimpinnya. Jika percaya dengan tafsir lain silahkan, walaupun mayoritas ulama menyepakati kalimat pertama.

Logikanya, di dalam Islam, hal terkecil seperti memasuki kamar mandi pun ada aturannya, apalagi memilih pemimpin. Akan tetapi, sama seperti perintah sholat lima waktu, ada yang menaati ada yang tidak, tetapi itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Yang jelas, kalimat nyiyir tersebut kami lakukan karena memang berkaitan dengan agama kami. Berbuat terorisme dengan membawa nama Islam jelas mencoreng wajah kami, sehingga butuh ditegaskan bahwa perbuatan mereka tidak berhubungan dengan Islam. Begitu pula kalimat berikutnya, kami hanya mengimani apa yang tertuang di dalam Al-Quran.

Kesimpulannya, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tindakan terorisme. Para pelaku bom bunuh diri tentu telah salah memahami makna mati syahid, atau bahkan mereka telah dicuci otaknya karena kurangnya iman.

Mari kita sebagai bangsa Indonesia, saling bergandengtangan menghadapi musibah ini. Jangan sampai kejadian ini membuat menerbitkan jarak antar umat beragama.

 

 

Jelambar, 16 Mei 2018, setelah terjadi berbagai serangan bom di Surabaya dan Sidoarjo

Sumber Foto: http://www.tribunnews.com/regional/2018/05/13/diduga-akun-ini-terlibat-jaringan-teror-bom-surabaya-warganet-minta-polisi-menangkapnya

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.