Perlukah Tuhan Dibela?

Ini menjadi pertanyaan besar saya setelah melihat dan mendengar Sujiwo Tejo dalam acara Indonesia Lawyers Club edisi 5 Desember 2017. Beliau mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela, karena ia Maha Kuasa, yang membuat saya teringat dengan buku karangan Gus Dur yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela (saya belum pernah membaca buku ini).
Komentar ini, yang terucap ketika reuni 212 menjadi topik bahasan pada acara tersebut, memantik rasa keingintahuan saya tentang perlu tidaknya Tuhan dibela. Jika di nalar dengan logika manusia yang terbatas, mungkin kita bisa membenarkan dengan alasan “Tuhan itu Maha Besar, untuk apa manusia sebagai makhluk-Nya membelanya? Kita ini terlalu kecil untuk membela keagungan-Nya!”. Selain itu, apakah kita tidak meremehkan Tuhan dengan membela-Nya? Memang Tuhan tidak mampu membela diri-Nya, sedang Tuhan itu Maha Mampu?
Namun, dari salah satu kawan saya mendapatkan sudut pandang yang lain. Memang, Tuhan tidak perlu dibela, tapi apakah itu berarti kita tidak boleh membela-Nya? Apakah dengan sebab x selalu berarti y? Apakah dengan membela Tuhan selalu berarti kita meremehkan Tuhan? Apakah Tuhan akan diam saja jika melihat ada umat-Nya yang membela dengan hanya berharap ridho-Nya?
Saya mencoba untuk mencari analogi yang tepat untuk menggambarkan kedua sisi ini, namun belum satupun muncul sebagai inspirasi. Berbeda dengan kasus hijab, yang bisa saya analogikan dengan anak sekolah.
“Kamu ke sekolah aja pakai seragam ada aturannya, kalau ada yang melanggar sedikit saja pasti dipanggil BP, sehingga kamu patuhi aturan tersebut. Lah ini ada aturan dari Tuhan, kok berani-beraninya kamu melanggar aturan “seragam” yang sudah tertuang di dalam kitab suci, padahal hukumannya jauh lebih berat dibandingkan di panggil BP!”
Memang sedikit melenceng dari topik semula, tapi itu saya jadikan ilustrasi sebagai susahnya mencari analogi yang tepat. Lalu sisi mana yang saya lebih titik beratkan? Jujur, saya pun masih mencari jawaban, dan saya selalu berusaha memosisikan diri sebagai pencari jawaban agar tidak pernah lelah untuk belajar. Mungkin masih banyak literatur yang harus dibaca, kajian ceramah yang harus disimak, sebelum hati mantap memilih mana yang tepat. Atau, sesungguhnya tidak diperlukan jawaban yang tepat?
Pare, 8 Desember 2017, setelah melihat ILC, terutama mendengar komentar Sujiwo Tejo, ditambah diskusi dengan dua kawan saya

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.