“Kakak Agamanya Apa?”

Ketika menelusuri linimasa TikTok, entah mengapa pertanyaan “kakak agamanya apa?” sedang menjadi topik yang sedang hangat dan paling sering diangkat oleh kreator.

Ada yang merasa tersinggung sampai menyuruh si penanya bertanya ke guru agamanya apakah pertanyaan tersebut sopan, ada yang menanggapinya santai saja dan heran kenapa ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini, ada yang hanya diam sambil geleng-geleng kepala, dan lain sebagainya.

Penulis pun menjadi penasaran, mengapa pertanyaan yang terkesan sepele ini menjadi sesuatu yang besar.

Melanggar Privasi, Memicu Diskriminasi

Di negara-negara Eropa yang mayoritas sekuler, menanyakan agama seseorang dianggap melanggar privasi. Agama di sana bukanlah sesuatu yang biasa diumbar-umbar, sehingga wajar mereka tersinggung jika ditanya oleh orang asing.

Indonesia sendiri bukan negara sekuler. Sila pertamanya saja berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Walaupun begitu, beberapa warganya merasa kalau agama yang mereka yakini tidak untuk dipublikasikan, apalagi kepada orang yang tidak mereka kenal.

Bagi yang merasa keberatan, mungkin karena merasa privasinya diganggu. Dari beberapa sumber dan kenalan Penulis, mereka yang minoritas juga kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi ketika menyebutkan agamanya, terutama dari kelompok mayoritas.

Kenalan Penulis menceritakan pengalaman kurang menyenangkannya. Suatu hari, ia ditanya oleh seseorang mengenai agamanya. Setelah dijawab, ia dibilang kafir oleh orang tersebut. Siapapun akan terluka mendengar ucapan seperti itu.

Berdasarkan contoh tersebut, Penulis jadi bisa memaklumi kalau orang-orang minoritas merasa keberatan jika ditanya apa agamanya.

Walaupun begitu, terkadang ada perlunya untuk memberitahu apa agama kita. Misal kita ikut sebuah tur ke Jepang. Kalau kita tidak memberitahu kalau kita beragama Islam, bisa saja kita akan diajak minum sake atau makan olahan babi. 

Yang Mau Jawab Ya Jawab, Yang Enggak Juga Enggak Apa-Apa

Menurut Penulis sendiri, polemik pertanyaan agama kita apa ini tidak perlu dibesar-besarkan. Mengharapkan orang berhenti menanyakan hal tersebut juga bisa dibilang sangat susah.

Seperti pola hidup stoisme, kita cukup berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Apa itu? Respon kita terhadap pertanyaan tersebut.

Yang mau jawab pertanyaan itu dengan bangga ya silakan. Yang keberatan ya enggak usah dijawab, atau mengatakan kalau dirinya merasa keberatan dengan pertanyaan tersebut.

Jika semua polemik yang terjadi di tengah masyarakat bisa diselesaikan dengan damai, hidup pun akan menjadi lebih aman dan tenteram tanpa perlu ada drama kurang penting.

Penutup

Menanyakan agama seseorang, termasuk yang tidak dikenal, menjadi bukti betapa kita begitu suka mengusik atau minimal kepo terhadap kehidupan pribadi seseorang.

Mulai dari public figure sampai anak tetangga, kita kerap merasa ingin tahu sisi lain kehidupan lain yang tak tampak mata. Tidak heran jika budaya bergunjing tumbuh subur di sekitar kita.

Kebiasaan yang kurang baik ini memang susah dihilangkan, tapi setidaknya kita bisa mulai dari diri sendiri.

 

 

Lawang, 22 Desember 2020, terinspirasi setelah ramainya isu tentang pertanyaan tentang agama yang kita anut oleh orang asing

Foto: Rifky Nur Setyadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.