<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>algoritma Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/algoritma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/algoritma/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Mar 2024 16:31:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>algoritma Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/algoritma/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Saya Menyelami K-Pop</title>
		<link>https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/</link>
					<comments>https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2024 16:31:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[algoritma]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[K-Pop]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Twice]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube Music]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7087</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis merupakan pengguna YouTube Premium selama beberapa tahun terakhir. Penulis memilih paket untuk keluarga yang bisa digunakan untuk berlima dengan biaya langganan Rp109.980 per bulan. Kebetulan, Penulis sekeluarga berisi lima orang sehingga pas. Ada beberapa alasan mengapa Penulis memilih untuk menggunakan layanan tersebut, seperti terbebas dari iklan dan sudah include YouTube Music. Nah, layanan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Saya Menyelami K-Pop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis merupakan pengguna<strong> YouTube Premium</strong> selama beberapa tahun terakhir. Penulis memilih paket untuk keluarga yang bisa digunakan untuk berlima dengan biaya langganan Rp109.980 per bulan. Kebetulan, Penulis sekeluarga berisi lima orang sehingga pas.</p>



<p>Ada beberapa alasan mengapa Penulis memilih untuk menggunakan layanan tersebut, seperti terbebas dari iklan dan sudah <em>include </em>YouTube Music. Nah, layanan yang terakhir Penulis rasa bisa menjadi pengganti Spotify, sehingga Penulis tidak perlu banyak berlangganan.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi bagaimana algoritma yang dimiliki oleh aplikasi musik <em>online</em>, dalam kasus Penulis YouTube Music, bisa membuat Penulis (kembali) menyelami K-Pop, bahkan lebih dalam dibandingkan periode pertamanya dulu.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-300x221.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-768x566.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-1024x755.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019-346x255.jpg 346w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/Gekkan.Shoujo.Nozaki-kun.full_.1742019.jpg 1221w " alt="Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mencari-inspirasi-karakter-melalui-anime/">Mencari Inspirasi Karakter Melalui Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Algoritma YouTube Music Bekerja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/algoritma-youtube-music-kpop-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7090" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/algoritma-youtube-music-kpop-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/algoritma-youtube-music-kpop-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/algoritma-youtube-music-kpop-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/algoritma-youtube-music-kpop-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">YouTube Music (<a href="https://youtu.be/mrm50KbvGnk">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika kuliah dulu, biasanya Penulis mengunduh album atau lagu yang diinginkan, sehingga lagu yang didengarkan pun cukup sebatas yang ingin didengarkan. Enaknya, karena Penulis menggunakan iTunes, pengorganisirannya pun sangat rapi.</p>



<p>Hal ini berbeda dengan YouTube Music, yang bahkan jika dibandingkan dengan Spotify sangat tidak rapi. Bahkan, untuk mengurutkan lagu yang telah dimasukkan ke dalam Playlist pun tidak bisa. Secara antarmuka pun sejujurnya kurang menarik.</p>



<p>Namun, di sisi lain, YouTube Music membuat kita bisa mengetahui banyak lagu yang sebelumnya belum pernah kita tahu. Tinggal memilih satu lagu, maka algoritma dari YouTube Music melalui <strong>Autoplay </strong>pun akan memainkan lagu berikutnya yang segenre atau sejenis.</p>



<p>Ketika Penulis mendengarkan lagu-lagu <em>rock </em>barat, maka mayoritas lagu-lagu yang akan dimainkan selanjutnya pun kemungkinan sudah Penulis ketahui. Jika mendengarkan <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Linkin Park</a> misalnya, maka lagu-lagu selanjutnya pun berpusat sekitar 30 Seconds to Mars, Avenged Sevenfold, <a href="https://whathefan.com/musik/asleep-or-dead-my-chemical-romance/">My Chemical Romance</a>, dan lainnya.</p>



<p>Contoh lain, jika mendengarkan lagu <a href="https://whathefan.com/musik/puisi-di-dalam-lirik-peterpan-dan-noah/">NOAH</a>, maka lagu-lagu yang dimainkan selanjutnya pun akan berpusat pada lagu-lagu pop Indonesia seperti <a href="https://whathefan.com/musik/maskulinitas-pada-musik-dewa/">Dewa</a> dan Sheila on 7, yang sebenarnya juga cukup familiar di telinga Penulis yang jarang mendengarkan lagu Indonesia.</p>



<p>Nah, beda cerita dengan K-Pop. Penulis sudah bertahun-tahun berhenti mendengarkan K-Pop, sehingga cukup buta dengan perkembangannya dan ada grup apa saja yang sedang populer sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Penulis Mendalami K-Pop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="637" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-13-231514-1024x637.png" alt="" class="wp-image-7091" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-13-231514-1024x637.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-13-231514-300x187.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-13-231514-768x478.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/Screenshot-2024-03-13-231514.png 1480w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Contoh Algoritma YouTube Music</figcaption></figure>



<p>Pertama kali Penulis bersentuhan dengan dunia K-Pop adalah ketika SMA, di mana waktu itu yang menjadi &#8220;gerbangnya&#8221; adalah <strong>SNSD </strong>atau <strong>Girls&#8217; Generation</strong> dan<strong> Super Junior</strong>. Penulis cukup banyak mendengarkan lagu-lagu mereka.</p>



<p>Dari sana, Penulis jadi tahu banyak <em>girlband </em>atau<em> boyband </em>lain seperti Sistar, Big Bang, Afterschool, 2PM, 2NE1, Shinee, Kara, Miss A, dan lain sebagainya. Namun, Penulis hanya sedikit sekali mengetahui lagu-lagu mereka, hanya satu-sua saja.</p>



<p>Ketika kuliah, Penulis berhenti mendengarkan K-Pop, dan baru diperkenalkan lagi melalui <strong><a href="https://whathefan.com/musik/forever-young-blackpink/">Blankpink</a> </strong>di tahun 2018 gara-gara teman kerja. Itu pun tidak bertahan lama, karena Penulis merasa tidak begitu cocok dengan genre dari <em>girlband </em>yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Lisa, dan Rose tersebut.</p>



<p>Lantas, memasuki akhir 2022 hingga awal 2023, <a href="https://whathefan.com/musik/awal-perkenalan-dengan-twice-park-jihyo-dan-time-to-twice/">Penulis berkenalan dengan <strong>Twice</strong></a>, yang tulisannya ada tiga artikel sendiri. Saat itu, Penulis sudah berlangganan YouTube Music dan mendengarkan lagu-lagu Twice di sana.</p>



<p>Nah, Penulis terkadang hanya memilih lagu-lagu Twice yang disukai seperti <a href="https://whathefan.com/musik/feel-special-twice/">&#8220;Alcohol Free&#8221; dan &#8220;Can&#8217;t Stop Me&#8221;</a>, lalu membiarkan algoritma YouTube Music memilihkan lagu berikutnya. Tentu saja, yang direkomendasikan adalah lagu-lagu dari <em>girlband </em>lain.</p>



<p>Dari algoritma inilah, Penulis jadi mengetahui banyak sekali lagu-lagu K-Pop yang ternyata pas dengan telinganya. Dari yang tidak tahu apa-apa, hanya tahu Twice, hingga kini mengetahui beberapa <em>girlband </em>Korea dari generasi 3 dan 4.</p>



<p>Mungkin karena berangkatnya dari Twice, Penulis hampir tidak pernah mendapatkan rekomendasi lagu dari <em>boyband</em>. Kebetulan, Penulis juga tidak terlalu berminat untuk mendengarkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Girlband Apa Saja yang Diketahui?</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Red Velvet 레드벨벳 &#039;Feel My Rhythm&#039; MV" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/R9At2ICm4LQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Karena sistem Playlist berdasarkan Like di YouTube musik diurutkan berdasarkan kapan di-<em>like</em>, Penulis jadi bisa mengetahui bagaimana kronologi lagu-lagu K-Pop bisa masuk ke dalam Playlist-nya.</p>



<p>Tentu saja semua berawal dari lagu-lagu <strong>Twice</strong>, yang hingga kini jumlahnya masih belasan. Setelah itu, yang masuk adalah lagu-lagu dari <strong>NewJeans</strong> yang disarankan oleh teman Penulis yang kebetulan meracuni Penulis dengan Twice.</p>



<p>Setelah itu, ada dua lagu yang sangat nyantol di telinga dari dua <em>girlband </em>Gen 4, yakni &#8220;Antifragile&#8221; dari <strong>LE SSERAFIM</strong> dan &#8220;Kitsch&#8221; dari<strong> IVE</strong>. Genre dari kedua <em>girlband </em>ini ternyata ke depannya cocok dengan selera Penulis, sehingga cukup banyak lagunya yang masuk ke Playlist.</p>



<p>Setelah itu, barulah masuk <strong>Red Velvet</strong> yang sebenarnya satu generasi dengan Twice dan Blackpink. Penulis ingat teman kantornya pernah berkata kalau konsep <em>girlband </em>ini sering <em>creepy</em>, dan ternyata memang benar. Namun, lagunya seperti &#8220;Psycho&#8221; dan &#8220;Feel My Rhythm&#8221; juga cocok dengan Penulis.</p>



<p>Setelah lagu-lagu dari <em>girlband </em>yang telah disebutkan di atas cukup banyak masuk ke dalam Playlist, giliran <strong>aespa</strong> lalu <strong>ITZY</strong> yang masuk ke dalam Playlist. Namun, sejujurnya genre keduanya kurang masuk dengan selera Penulis.</p>



<p>Baru-baru ini, <strong>NMIXX</strong> juga menyusul masuk ke dalam Playlist melalui lagunya &#8220;Young, Dumb, Stupid&#8221; yang bagian <em>reff</em>-nya mengambil sampel lagu anak-anak &#8220;Fruit Salad&#8221;, yang dulu sering Penulis nyanyikan ketika masa-masa OSIS.</p>



<p>Penulis juga membuat Playlist khusus K-Pop, yang hingga kini telah berisi lebih dari 100 lagu. Daftar <em>girlband </em>yang belum disebukan antara lain ada <strong>STAYC</strong>, <strong>Weekly</strong>, dan<strong> OH MY GIRL</strong>. Teman Penulis juga menyarankan (G)I-DLE dan Got the Beat, tapi belum menemukan lagu yang enak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bagi Penulis, lagu-lagu K-Pop yang <em>easy listening </em>bisa menjadi selingan untuk lagu-lagu <em>rock </em>yang berat. Sebagai teman kerja lagu K-Pop pun cukup asyik, walau terkadang jadi membayangkan yang nyanyi.</p>



<p>Penulis bisa mengetahui cukup banyak <em>girlband </em>dan lagu-lagunya pun karena adanya YouTube Music, yang memungkinan dirinya untuk mengeksplorasi apa yang selama ini tidak diketahui. Ini berbeda dengan musik <em>rock </em>yang dari dulu memang sudah didalami ataupun pop Indonesia yang terdengar di mana-mana.</p>



<p>Untuk tulisan selanjutnya, Penulis akan membedah <em>girlband-girlband </em>yang telah disebutkan di atas. Mungkin akan jadi satu tulisan, tapi jika ternyata isinya panjang bisa saja Penulis akan menulisnya menjadi beberapa bagian. Maklum, cukup banyak lagu K-Pop yang Penulis dengarkan sekarang.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 13 Maret 2024, terinspirasi setelah menyadari bagaimana YouTube Music membuat dirinya mendengarkan banyak lagu K-Pop</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/">Bagaimana Algoritma YouTube Music Membuat Saya Menyelami K-Pop</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/musik/bagaimana-algoritma-youtube-music-membuat-saya-menyelami-k-pop/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dilema (Media) Sosial Kita</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2020 01:56:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[algoritma]]></category>
		<category><![CDATA[candu]]></category>
		<category><![CDATA[generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[polarisasi]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4073</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa adiktifnya media sosial sekarang. Semua platform seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan. Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan scrolling tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat. Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada beberapa kesempatan, Penulis kerap menuliskan keresahannya tentang betapa <strong><a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">adiktifnya media sosial</a></strong> sekarang. Semua <em>platform </em>seolah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling lama digunakan.</p>
<p>Beberapa jam tak terasa bergulir begitu saja ketika jari kita asyik melakukan <em>scrolling </em>tanpa batas. Ada saja hal baru dan menarik yang bisa kita lihat.</p>
<p>Bermain media sosial tidak ada salahnya. Selain menjadi sumber inspirasi, media sosial juga membuat kita bisa terkoneksi dengan teman maupun keluarga kita.</p>
<p>Media sosial menjadi salah jika sudah berubah menjadi <strong>candu yang membuat kita tidak tahu harus melakukan apa</strong> ketika ponsel tidak sedang berada di jangkauan kita.</p>
<h3>Hipnotis Media Sosial</h3>
<p><div id="attachment_4078" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4078" class="size-large wp-image-4078" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4078" class="wp-caption-text">Seolah Menghipnotis (<a href="https://www.theverge.com/2018/5/8/17321006/push-notifications-whyd-you-push-that-button-episode">The Verge</a>)</p></div></p>
<p>Ketika menulis artikel <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">Untuk Apa Belajar Sejarah</a>, </em>Penulis jadi memiliki pemikiran kalau salah satu alasan mengapa mayoritas generasi sekarang cenderung apatis dan kurang kritis adalah karena kurang banyak membaca sejarah.</p>
<p>Penulis pun mendiskusikannya dengan seorang kawan (sebut saja Pentol). Ia memiliki pendapat lain. Menurutnya, itu lebih dikarenakan <strong>dampak media sosial</strong>.</p>
<p>Jika kita perhatikan, sekarang ada banyak sekali hal sepele yang bisa menjadi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/"><em>trending </em>dan viral dengan begitu cepatnya.</a> Kita seolah mudah untuk terbawa apa yang sedang ramai dibicarakan.</p>
<p>Menurutnya lagi, kita ini seolah sedang <strong>dihipnotis dan jadi mudah digiring oleh sesuatu</strong>. Apa yang dulu tidak kita sukai, bisa jadi kita sukai sekarang.</p>
<p>Contoh mudahnya adalah aplikasi TikTok. Dulu aplikasi ini dihujat dan dianggap sebagai aplikasi <em>goblok</em>. Sekarang? Hampir semua orang mengunduhnya bahkan membuat konten di dalamnya.</p>
<p>Terdengar seperti teori konspirasi? Bisa jadi. Tapi fenomena ini ada dan kita patut waspada.</p>
<h3>Algoritma Candu</h3>
<p><div id="attachment_4079" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4079" class="size-large wp-image-4079" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4079" class="wp-caption-text">Algoritma Candu (<a href="https://evatronix.com/en/offer/product-design/product-development/algorithm-development-and-analysis"><span class="pM4Snf">Evatronix</span></a>)</p></div></p>
<p>Kenapa semua <em>platform </em>seolah tahu apa yang kita sukai berdasarkan apa yang kita <em>like</em>? Karena mereka memiliki <strong>algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama</strong> di depan layar.</p>
<p>Tidak hanya dari rekomendasi yang muncul dari beranda, algoritma ini bisa memunculkan <em>push notification </em>yang membuat kita akan tertarik untuk mengecek ponsel pintar kita.</p>
<p>Algoritma ini dapat mempelajari <em>behaviour </em>dan kebiasaan kita dalam menggunakan media sosial untuk memberikan rekomendasi terbaik untuk kita. Hasilnya? Terdapat gudang data yang bisa saja disalahgunakan.</p>
<p>Tidak percaya? Tengok saja <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">skandal </a><em><a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Facebook%E2%80%93Cambridge_Analytica_data_scandal">Cambridge Analytica</a> </em>yang menyeret Facebook ke ranah hukum. Mereka dianggap terlibat penjualan data demi pemenangan Donald Trump di pemilihan presiden Amerika Serikat.</p>
<p>Teori kami berdua ini terbukti ketika Penulis menonton sebuah film dokumenter yang berjudul <em><strong>The Social Dilemma</strong>. </em>Di sana, ada banyak kesaksian dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatan media sosial yang khawatir akan ciptaannya sendiri.</p>
<h3>Kita Ini Produk</h3>
<p><div id="attachment_4080" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4080" class="size-large wp-image-4080" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4080" class="wp-caption-text">Kita Ini Dijual! (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@priscilladupreez">Priscilla Du Preez</a>)</p></div></p>
<p>Ketika menggunakan layanan-layanan seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, ataupun YouTube, apakah kita mengeluarkan uang untuk menggunakannya? Tentu tidak.</p>
<p>Jika kita tidak mengeluarkan uang untuk suatu produk, artinya <strong>kitalah produknya!</strong></p>
<p>Kenyataan yang cukup mengerikan ini Penulis ketahui setelah menonton <em>The Social Dilemma</em>. Secara tidak sadar, kita telah dijadikan komoditas oleh layanan-layanan yang kita gunakan setiap hari.</p>
<p>Bagaimana caranya? Penulis telah menyinggung bahwa ada penjualan data kita ke pihak ketiga. Dijual ke siapa? Ke <strong>pihak pengiklan yang ingin memasarkan produknya</strong>.</p>
<p>Kenapa membutuhkan data kita? Yang namanya pengiklan tentu ingin <strong><em>audience </em>yang tepat sasaran</strong>. Melalui algoritma yang dimiliki, layanan-layanan tersebut bisa tahu siapa yang cocok untuk melihat iklan tertentu.</p>
<p>Apakah hal tersebut tidak melanggar privasi? Tidak, semua tercantum di <em>Terms &amp; Condition </em>yang biasanya kita abaikan begitu saja. Kita telah menyetujui kalau aktivitas kita akan direkam demi kebutuhan mereka.</p>
<p>Kita sudah masuk ke dalam bagian dari model bisnis raksasa ini. Semakin lama kita menggunakan media sosial, <strong>semakin banyak uang yang akan mengalir</strong> ke korporat-korporat besar tersebut.</p>
<p>Mungkin kita tidak terlalu peduli jika dijadikan sebagai produk karena merasa tidak dirugikan apa-apa. Hanya saja, ada permasalahan yang jauh lebih berbahaya, di mana generasi muda yang menjadi sasarannya.</p>
<h3>Generasi Rapuh</h3>
<p><div id="attachment_4081" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4081" class="size-large wp-image-4081" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-4.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4081" class="wp-caption-text">Generasi Rapuh (<a href="https://pngio.com/PNG/a130702-teenage-girl-crying-png.html"><span class="pM4Snf">PNGio.com</span></a>)</p></div></p>
<p>Dari buku <em>Strawberry Generation </em>karya Rhenald Khasali, generasi muda sekarang adalah <em>generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati</em>.</p>
<p>Di film <em>The Social Dilemma</em>, Generasi Z (lahir di atas tahun 1996) dianggap sebagai <em>generasi yang lebih mudah cemas, rapuh, dan tertekan</em>. Bisa dilihat ada persamaan pendapat, generasi sekarang adalah <strong>generasi yang rapuh</strong>.</p>
<p>Apa penyebabnya? Salah satunya adalah karena kehadiran media sosial. Penulis mungkin baru aktif menggunakan media sosial ketika kuliah. Mereka? Rata-rata mulai SMP, bahkan ada yang SD.</p>
<p>Apa yang mereka lakukan sepulang sekolah? Istirahat sambil cek media sosial. Apa yang mereka lakukan sebelum tidur? Main media sosial. Apa yang mereka cek pertama kali ketika bangun? Media sosial.</p>
<p>Rutinitas ini membuat menjadi bukti kalau <strong>media sosial sudah menjadi candu </strong>untuk mereka. Algoritma yang dirancang oleh layanan-layanan tersebut ternyata berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.</p>
<p>Penulis melihat fenomena ini secara langsung karena dekat dengan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">adik-adik Karang Tarunanya</a>. Jika ditanya apa yang mereka akan lakukan tanpa ponsel pintarnya, mereka akan kebingungan menjawabnya.</p>
<p>Tak jarang media sosial membuat <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mereka menjadi </a><em><a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">mager</a> </em>dan melalaikan aktivitas lainnya. Tak jarang yang menjadikan media sosial sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyatanya.</p>
<p>Jika mau percaya teori konspirasi, ada sebuah <em>grand system </em>yang ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang apatis, egosentris, dan kurang kritis agar <strong>mereka mudah dikendalikan</strong> sesuai keinginan pihak tertentu.</p>
<p>Jika mereka telah mudah dikendalikan, maka bisa terjadi sesuatu yang tak kalah seram.</p>
<h3>Polarisasi Masyarakat</h3>
<p><div id="attachment_4082" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4082" class="size-large wp-image-4082" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/09/dilema-media-sosial-kita-5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4082" class="wp-caption-text">Berpotensi Konflik (<a href="https://apnews.com/d8a49c7c8eb345a7b39110a766798218">AP News</a>)</p></div></p>
<p>Penelitian menunjukkan semenjak media sosial menjamur dan diminati oleh hampir semua orang, <strong><a href="https://whathefan.com/politik/polarisasi-masyarakat/">polarisasi masyarakat</a> meningkat pesat</strong>. Contohnya adalah pemilihan presiden 2019 kemarin, bisa dilihat dua kubu saling adu mulut dan jari, bahkan secara kurang sehat.</p>
<p>Dengan menggunakan algortima candu yang dimiliki, kita akan terus melihat apa yang kita sukai. Jika kita menjadi pendukung Semar, maka berita maupun <em>feed </em>yang muncul akan terus berputar di sekitar Semar.</p>
<p>Tak jarang pula kita akan melihat <em>feed</em> yang mengolok-olok lawan dari Semar, sebut saja Togog. Akhirnya, kita akan menjadi fanatik ke Semar dan menjadi <em>haters</em>-nya Togog.</p>
<p>Contoh lain terkait Corona. Ada polarisasi di sini, antara yang percaya dan yang tidak. Mereka saling merasa paling benar dan menertawakan kubu lain.</p>
<p>Di dalam film <em>The Social Dilemma</em>, salah satu narasumber mengatakan bahwa kekhawatirannya terbesar dari adanya algoritma ini adalah <em>civil war</em>. <strong>Perang saudara</strong>.</p>
<p>Dramatisasi? Bisa jadi, tapi kemungkinan itu ada. Lihat saja bagaimana seringnya netizen yang beda kubu beradu argumen yang kurang bermanfaat. Bukan tidak mungkin pertikaian tersebut berujung kekerasan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis bukan ingin merasa sok suci seolah tak kecanduan media sosial. Penulis pun masih sering seperti itu. Sudah sering Penulis menceritakan bagaimana dirinya merasa kecanduan ponsel hingga akhirnya <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">memutuskan untuk <em>detox</em> media sosial</a>.</p>
<p>Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecanduan ini. Yang ekstrem, hapus aplikasi. Yang lebih ringan, batasi penggunaan, matikan notifikasi dan sistem rekomendasi, jauhkan ponsel pintar ketika hendak tidur maupun akan melakukan aktivitas lain.</p>
<p>Kalau enggak main media sosial, terus kita ngapain? Memang harus ada aktivitas yang bisa mengalihkan perhatian kita, entah baca buku, kumpul dengan teman, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kita harus menyadari kalau media sosial hanyalah alat yang membantu kita untuk terhubung dengan orang lain, menampilkan karya kita, ataupun mendapatkan informasi.</p>
<p>Jangan sampai terbalik, <strong>kita yang digunakan oleh media sosial sebagai sapi perah di dalam sistem bisnis raksasa mereka</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 25 September 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan seorang kawan dan menonton <em>The Social Dillema</em></p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@coolmilo?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">camilo jimenez</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/social-media?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://www.netflix.com/title/81254224"><em>The Social Dilemma</em></a>, <a href="https://mojok.co/terminal/film-the-social-dilemma-nihil-solusi-dan-melahirkan-ketakutan-belaka/">Mojok 1</a>, <a href="https://mojok.co/terminal/balasan-untuk-artikel-film-the-social-dilemma-yang-katanya-nihil-solusi/">Mojok 2</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">Dilema (Media) Sosial Kita</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
