<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>benci Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/benci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/benci/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Jan 2021 10:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>benci Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/benci/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mencintai Diri Sendiri</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Oct 2019 16:48:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[membenci]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2841</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain. Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi salah satu sumber ketidakbahagiaan (dan mungkin juga sumber depresi). Masalah yang Timbul Akibat Tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/">Mencintai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain.</p>
<p>Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/jangan-lupa-bahagia/">salah satu sumber ketidakbahagiaan</a> (dan mungkin juga sumber depresi).</p>
<h3>Masalah yang Timbul Akibat Tidak Mencintai Diri Sendiri</h3>
<div id="attachment_2846" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2846" class="size-large wp-image-2846" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2846" class="wp-caption-text">Membenci Diri Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@rezahasannia">Reza Hasannia</a>)</p></div>
<p>Memang apa salahnya dengan membenci diri sendiri? Toh, tidak ada orang lain yang tersakiti. Penulis sempat memiliki pemikiran tersebut. Namun, setelah dipikir ulang, ternyata banyak masalah yang bisa ditimbulkan.</p>
<p>Pertama, kita akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Karenanya, kita akan kesulitan untuk bergaul dengan lingkungan sekitar dan susah beradaptasi di tempat baru.</p>
<p>Kita juga jadi sering merasa kurang berharga, tidak dibutuhkan, dan lain sebagainya. Efek lanjutannya adalah jadi memiliki <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">ketergantungan dengan orang lain</a> dan butuh pengakuan.</p>
<p>Percayalah, penulis mengalami itu semua. Penulis menyadari bahwa dirinya terpuruk karena kurang bisa menghargai dirinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah bentuk <em>self-harm </em>kepada mental.</p>
<p>Pengaruh masa kecil mungkin memiliki andil dalam hal ini. Apalagi, penulis adalah tipe orang yang sangat mudah terpengaruh dengan perkataan orang.</p>
<p>Namun, merutuki masa lalu dan menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Kita semua punya kesempatan untuk mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik.</p>
<h3>Alasan Harus Mencintai Diri Sendiri</h3>
<div id="attachment_2845" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2845" class="size-large wp-image-2845" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2845" class="wp-caption-text">Perenungan untuk Menemukan Alasan (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@jareddrice">Jared Rice</a>)</p></div>
<p>Terkadang mencintai diri sendiri jauh lebih susah dibandingkan mencintai orang lain. Kita bisa punya seribu alasan untuk mencintai orang lain, namun sulit menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri.</p>
<p>Penulis mengalami hal tersebut, mungkin pembaca juga ada yang demikian. Tapi ketika kembali direnungkan, penulis paham bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.</p>
<p>Oleh karena itu, yang pertama kali penulis lakukan adalah menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri. Yang paling mudah adalah sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan karena telah menganugerahkan kehidupan yang singkat ini.</p>
<p>Penulis harus bisa merasa bersyukur karena telah diberikan fisik tanpa kekurangan berarti. Kalau kurang tampan itu relatif, kurang putih itu faktor gen, kurang tinggi dan gemuk itu karena faktor gaya hidup.</p>
<p>Selain itu, harus disadari bahwa untuk mencintai orang lain, kita butuh mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Rumusannya sama dengan kebahagiaan. Secara teori, orang akan lebih mudah mencintai kita jika kita telah memulainya terlebih dahulu.</p>
<p>Alasan selanjutnya, diri kita memang berhak mendapatkannya. Kita bergumul dengan diri kita selama 24 jam sehari. Jika memusuhi diri kita sendiri, bagaimana bisa hidup tenang?</p>
<h3>Cara Mencintai Diri Sendiri</h3>
<div id="attachment_2847" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2847" class="size-large wp-image-2847" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2847" class="wp-caption-text">Cara Mencintai DIri Sendiri (<a class="js-photo-page-mini-profile-link photo-page__mini-profile" href="https://www.pexels.com/@i-love-simple-beyond-388899" data-track-action="medium-mini-profile" data-track-label="user-profile">i love simple beyond</a>)</p></div>
<p>Karena penulis termasuk jarang mencintai diri sendiri, tentu kesulitan untuk mengetahui bagaimana cara mencintai diri sendiri. Oleh karena itu, penulis sudah membaca beberapa sumber tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri.</p>
<h4>Membuang Pikiran Negatif Tentang Diri Sendiri</h4>
<p>Salah satu hal yang membuat penulis susah mencintai diri sendiri adalah banyak pikiran-pikiran negatif yang berada di dalam kepala penulis untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, penulis harus bisa membuang pikiran-pikiran tersebut jauh-jauh.</p>
<p>Penulis termasuk orang yang sering berbicara kepada dirinya sendiri. Nah, biasanya ketika pikiran negatif mulai datang, penulis akan mengusirnya dengan berbicara sendiri.</p>
<p>Cara lain yang bisa membantu adalah <a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">berhenti sejenak dari media sosial</a>. Penulis kerap membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain sehingga munculah pikiran-pikiran negatif tersebut.</p>
<h4>Berhenti Menuntut Kesempurnaan</h4>
<p>Sebagai orang yang perfeksionis, penulis sering menuntut kesempurnaan pada dirinya. Akibatnya, penulis sering keras kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Hal tersebut memang membawa hal positif, seperti sering melakukan aktivitas produktif. Tetapi, di sisi lain juga merusak diri penulis. Contoh, ketika gagal mencapai target tertentu, penulis bisa stres yang berujung kepada penyesalan.</p>
<p>Penulis harus menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan. Ada kalanya penulis membutuhkan jeda sebentar dari kehidupan dan menikmati hidup yang tenang.</p>
<p>Melampaui batas diri memang diperlukan agar kita bisa makin berkembang, tapi terlalu melampaui batas juga tidak baik. Penulis selalu percaya bahwa tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan.</p>
<h4>Jangan Sia-Siakan Waktu</h4>
<p>Terkadang, penulis juga bisa menjadi pribadi yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">luar biasa pemalas</a>. Jika dalam kondisi seperti ini, cara mencintai diri sendiri yang tepat adalah dengan tidak menjadi malas,</p>
<p>Mengapa? Karena rasa malas yang berlebihan akan merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri sama dengan tidak mencintai diri sendiri.</p>
<p>Mungkin sedikit kontradiktif dengan poin sebelumnya, tapi penulis tuliskan hal ini sebagai pengingat bahwa dalam hidup keseimbangan itu penting. Jangan sampai kita berat ke satu sisi.</p>
<h4>Lakukan Aktivitas yang Menyenangkan</h4>
<p>Salah satu hal termudah untuk menyayangi diri sendiri adalah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Bagi penulis, aktivitas tersebut bisa berupa menulis, membaca buku, ataupun bermain game. Tapi ingat, jangan berlebihan.</p>
<p>Kegiatan menulis selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk penulis. Selain itu, menulis juga bisa menjadi terapi yang bagus untuk kesehatan mental penulis.</p>
<p>Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan diri kita, baik fisik, mental, maupun rohani. Mampu melakukannya adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.</p>
<p>Menjaga kesehatan, melakukan ibadah, mempelajari hal baru juga termasuk bentuk mencintai diri sendiri.</p>
<h4>Tak Perlu Dengar Kata Mereka</h4>
<p>Mau sepositif apapun diri kita, pasti ada saat-saat di mana kita berada di lingkungan yang negatif. Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan. Hidup kita adalah milik kita, bukan orang lain.</p>
<h4>Percaya Pada Diri Sendiri</h4>
<p>Tidak mencintai diri sendiri bisa menimbulkan efek timbulnya sifat tidak percaya diri. Untuk melawannya, kita harus percaya dengan diri sendiri. Kita mampu melakukan sesuatu yang harus kita kerjakan.</p>
<p>Mengenal diri sendiri adalah salah satu jalan yang bisa kita lakukan. Kita harus tahu apa yang mampu kita lakukan dan apa yang tidak. Penulis juga masih berada dalam tahap mengenali diri sendiri.</p>
<h4>Berdamai dengan Masa Lalu</h4>
<p>Bisa dibilang, ini adalah cara yang paling berat bagi penulis. Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, banyak hal yang sering penulis sesali dalam hidup ini.</p>
<p>Akan tetapi, agar bisa bahagia, kita memang harus berdamai dengan masa lalu. Toh, tak ada yang manusia sempurna kecuali sosok Nabi. Lantas, untuk apa merutuki diri sendiri tanpa akhir?</p>
<p>Rasanya, ingin sekali penulis pergi ke masa lalu untuk menemui dirinya dulu yang bodoh lalu memeluknya sembari berkata, &#8220;<em>tidak apa-apa, semua manusia membuat kesalahan, kok.&#8221;</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<div id="attachment_2844" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2844" class="size-large wp-image-2844" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/mencintai-diri-sendiri-4.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2844" class="wp-caption-text">Jangan Lupa Bahagia! (<a class="js-photo-page-mini-profile-link photo-page__mini-profile" href="https://www.pexels.com/@daria" data-track-action="medium-mini-profile" data-track-label="user-profile">Daria Shevtsova</a>)</p></div>
<p>Jika dilakukan berlebihan, tentu mencintai diri sendiri akan berujung kepada narsisme yang negatif. Orang pun akan merasa <em>ilfeel </em>jika kita sampai seperti itu.</p>
<p>Cintailah dirimu selayaknya yang kita dapatkan. Kita sudah berusaha, mengalami berbagai peristiwa, menerima kekalahan, dan lain sebagainya. Kita berhak dan layak untuk dicintai oleh diri kita sendiri.</p>
<p>Penulis hingga kini masih mengalami kesulitan untuk mencintai diri sendiri. Alasannya, masih ada tembok penghalang bernama <em>seribu alasan membenci diri sendiri</em>. Tapi secara bertahap, penulis akan menghancurkan tembok tersebut dengan berbagai cara.</p>
<p>Ketika waktunya telah tiba, penulis akan merasakan betapa indahnya dicintai oleh diri sendiri, bagaikan seorang bayi yang tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di sebuah cermin.</p>
<p>NB1: Ketika menulis artikel ini, banyak hal yang membuat penulis tercenung karena baru menyadarinya. Penulis jadi sadar betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Semoga pembaca merasakan sensasi yang sama.</p>
<p>NB2: Setelah menulis artikel ini, penulis membaca buku <em>Hidup Sederhana </em>karya Desi Anwar. Penulis langsung menemukan kalimat <em>cara terbaik untuk memenikmati hidup adalah dengan menjalaninya, bukan mengkhawatirkannya.</em></p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Oktober 2019, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap membenci dirinya sendiri.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@shotbyireland">Shot By Ireland</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://id.wikihow.com/Mencintai-Diri-Sendiri">Wikihow</a>, <a href="https://www.idntimes.com/life/inspiration/emma-kaes/8-cara-sederhana-mencintai-diri-sendiri-c1c2/full">IDN Times</a>, <a href="https://www.hipwee.com/motivasi/mencintai-diri-sendiri-tanpa-syarat-adalah-cara-terbaik-untuk-bahagia/">Hipwee</a>, <a href="https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/24/062000720/5-langkah-sederhana-belajar-mencintai-diri-sendiri?page=all">Kompas </a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/mencintai-diri-sendiri/">Mencintai Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2019 16:13:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Basuki Tjahaja Purnama]]></category>
		<category><![CDATA[benci]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[obyektif]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2562</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun kadang merasa muak, penulis masih mengikuti perkembangan politik di tanah air. Penulis tidak ingin menjadi seorang apatis yang benar-benar tidak peduli dengan kondisi bangsanya. Yang sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini adalah gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Berbagai tindak-tanduknya akhir-akhir ini benar-benar disorot oleh media. Karena berita seputar pilpres telah basi? Bisa jadi. Mulai dari dibongkarnya karya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun kadang merasa muak, penulis masih mengikuti perkembangan politik di tanah air. Penulis tidak ingin <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">menjadi seorang apatis</a> yang benar-benar tidak peduli dengan kondisi bangsanya.</p>
<p>Yang sedang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini adalah gubernur Jakarta, <strong>Anies Baswedan</strong>. Berbagai tindak-tanduknya akhir-akhir ini benar-benar disorot oleh media. Karena berita seputar pilpres telah basi? Bisa jadi.</p>
<p>Mulai dari dibongkarnya karya seni bambu, seringnya kunjungan ke luar negeri, hingga pemberian lidah buaya untuk penanganan polusi benar-benar jadi sasaran empuk bagi orang-orang yang kurang menyukainya.</p>
<p>Penulis di sini tidak berada di posisi membela beliau, meskipun penulis sudah membaca hampir semua klarifikasinya dari berbagai sumber. Penulis ingin menekankan kepada sikap netizen yang <strong><em>apapun yang ia lakukan, salah</em></strong>.</p>
<h3>Selalu Salah</h3>
<div id="attachment_2566" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2566" class="size-large wp-image-2566" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2566" class="wp-caption-text">Anies dan Jokowi (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medcom.id/nasional/metro/MkMMeeRk-anies-dapat-dukungan-jokowi-soal-bukit-duri" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwijzoi6tcvjAhXUdCsKHevdAOAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medcom.id</span></a>)</p></div>
<p>Hal yang sama juga pernah (dan masih) terjadi pada presiden terpilih untuk periode 2019-2024, <strong>Joko Widodo </strong>(Jokowi). Beliau juga mengalami hal yang sama, terutama ketika masa pemilihan presiden sedang panas-panasnya.</p>
<p>Bagi orang yang tidak mendukung kedua orang tersebut (secara otomatis, mendukung lawan politik mereka), kesalahan apapun yang dilakukan oleh mereka adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan.</p>
<p>Biasanya, ketika sedang mencaci di kolom komentar media sosial, mereka akan mengiringi komentar mereka dengan hinaan yang sama sekali tidak konstektual.</p>
<p>Misalnya, Anies disebut sebagai gubernur terpilih yang bisa menang dengan jualan ayat dan mayat. Jokowi terkadang bisa lebih parah lagi caci makinya, walaupun akhir-akhir ini tidak ada yang berani karena banyaknya orang yang telah tertangkap.</p>
<p>Sebaliknya, ketika yang bersangkutan mendapatkan penghargaan, para pembenci ini bungkam seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mungkin mereka juga terlalu malas untuk mencari tahu, karena untuk apa mencari prestasi orang yang dibenci?</p>
<p>Yang paling gregetan adalah ketika muncul pertanyaan <em>emang si ono prestasinya apa selama ini</em>? Astaga, sekarang internet ada di mana-mana, hal seperti itu dapat dicari secara cepat! Kita saja yang terlalu <em>mager </em>untuk melakukannya.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena terlalu kuatnya <a href="https://whathefan.com/politik/akar-fanatisme-membabi-buta/">fanatisme membabi buta</a> di masyarakat. Ini tidak sehat untuk iklim demokrasi kita. Sebagai rakyat, kita seharusnya bisa memandang <a href="https://whathefan.com/politik/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">segala sesuatu dengan obyektif</a>. Penulis mengakui, hal tersebut susah luar biasa.</p>
<h3>Selalu Dibandingkan</h3>
<div id="attachment_2564" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2564" class="size-large wp-image-2564" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/apapun-yang-mereka-lakukan-salah-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2564" class="wp-caption-text">Anies dan Ahok (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwjjz97ktcvjAhWNA3IKHakTBtIQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fberitagar.id%2Fartikel%2Fberita%2Fkacamata-media-internasional-lihat-kejayaan-anies-sandi&amp;psig=AOvVaw1dSi7yC8JLzrkvrZkaUJZo&amp;ust=1563984307258639" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjjz97ktcvjAhWNA3IKHakTBtIQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Beritagar</span></a>)</p></div>
<p>Hal lain yang tak kalah meresahkan adalah adanya pembandingan antara pemimpin yang sekarang dibandingkan dengan periode sebelumnya. Mungkin Jokowi tidak terlalu terlihat, namun penulis merasakan Anies menerimanya secara deras.</p>
<p>Sebenarnya hal ini wajar mengingat gubernur sebelum Anies, <strong>Basuki Tjahaja Purnama </strong>(BTP), merupakan salah satu <em>public darling </em>sebelum terkena kasus penistaan agama.</p>
<p>Meskipun umpatan kasar sering keluar dari mulutnya, BTP bagi sebagian orang dianggap mampu memimpin Jakarta dengan lebih baik. Hasilnya, apapaun yang dikerjakan oleh Anies akan selalu dibandingkan dengan kerja BTP.</p>
<p>Sebenarnya, kita pun akan merasa risih bukan jika terus dibanding-bandingkan dengan orang lain? Akan tetapi, itulah risiko menjadi seorang <em>public figure</em>, apalagi seorang pemimpin daerah.</p>
<p>Tentu Anies punya karakter, sikap, dan kebijaksanaan yang berbeda dari gubernur sebelumnya. Mungkin ada yang puas, ada juga yang merasa Jakarta sedang mengalami kemunduran. Mana yang benar, penulis serahkan ke pembaca sekalian.</p>
<h3>Tidak Ada yang Sempurna</h3>
<p>Penulis berkali-kali menuliskan tentang kegelisahan tentang bagaimana para pendukung ini menatap idolanya sebagai sesuatu yang sempurna. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna.</p>
<p>Jokowi dan Anies tentu pernah melakukan kesalahan-kesalahan. Mereka bukan manusia suci yang bisa lolos dari kesalahan. Jadi, ketika mereka melakukan hal yang kita anggap salah, menghina secara berlebihan juga tidak berdampak apa-apa.</p>
<p>Sebaliknya, jika mereka memang berhasil membuat prestasi, jangan segan untuk memberikan pujian. Tentu, dengan tidak berlebihan juga. Kita menuntut media agar berimbang, kita pun harus melakukan hal yang sama.</p>
<p>Bicara tentang media, mereka punya peranan besar dalam masalah ini. Sebagai wadah informasi, media dituntut agar bisa menyampaikan berita secara berimbang. Jangan sampai berat sebelah hingga menyudutkan salah satu pihak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Membuat masyarakat bisa menilai segala sesuatu dengan obyektif seperti harapan penulis adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Penulis tidak memiliki kemampuan yang bisa meyakinkan massa dengan jumlah masif.</p>
<p>Akan tetapi, tidak berarti penulis berputus asa. Walaupun tidak bisa mengendalikan opini publik, setidaknya penulis menuliskan ajakan untuk melakukan hal tersebut. Hanya ini yang penulis mampu lakukan sebagai warga negara.</p>
<p>Jika memang ada kebijakan yang dirasa kurang tepat bahkan menyengsarakan banyak orang, sampaikan dengan baik. Jika ingin menuntut, aspirasikan sesuai dengan ketentuan hukum. Jangan hanya marah-marah di kolom komentar, tidak menyelesaikan apapun.</p>
<p>Ke depannya, penulis berharap <a href="https://whathefan.com/politik/memilih-pemimpin-dengan-kedewasaan-berpolitik/">kedewasaan berpolitik masyarakat Indonesia</a> bisa lebih berkembang dan lebih baik lagi. Jangan sampai kebencian membuat kita buta terhadap kebaikan seseorang, lebih-lebih kepada pemimpin yang terpilih secara konstitusional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 23 Juli 2019, terinspirasi setelah membaca beberapa berita politik yang sedang hangat</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.kompasiana.com/ajun/5ceb95c23ba7f74cd6268194/jokowi-sedang-menyindir-anies-baswedan" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjXw9_ercvjAhXLwI8KHSUQD54QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Kompasiana.com</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/apapun-yang-mereka-lakukan-salah/">Apapun yang Mereka Lakukan, Salah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
