Connect with us

Tentang Rasa

Mencintai Diri Sendiri

Published

on

Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain.

Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi salah satu sumber ketidakbahagiaan (dan mungkin juga sumber depresi).

Masalah yang Timbul Akibat Tidak Mencintai Diri Sendiri

Membenci Diri Sendiri (Reza Hasannia)

Memang apa salahnya dengan membenci diri sendiri? Toh, tidak ada orang lain yang tersakiti. Penulis sempat memiliki pemikiran tersebut. Namun, setelah dipikir ulang, ternyata banyak masalah yang bisa ditimbulkan.

Pertama, kita akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Karenanya, kita akan kesulitan untuk bergaul dengan lingkungan sekitar dan susah beradaptasi di tempat baru.

Kita juga jadi sering merasa kurang berharga, tidak dibutuhkan, dan lain sebagainya. Efek lanjutannya adalah jadi memiliki ketergantungan dengan orang lain dan butuh pengakuan.

Percayalah, penulis mengalami itu semua. Penulis menyadari bahwa dirinya terpuruk karena kurang bisa menghargai dirinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah bentuk self-harm kepada mental.

Pengaruh masa kecil mungkin memiliki andil dalam hal ini. Apalagi, penulis adalah tipe orang yang sangat mudah terpengaruh dengan perkataan orang.

Namun, merutuki masa lalu dan menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Kita semua punya kesempatan untuk mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik.

Alasan Harus Mencintai Diri Sendiri

Perenungan untuk Menemukan Alasan (Jared Rice)

Terkadang mencintai diri sendiri jauh lebih susah dibandingkan mencintai orang lain. Kita bisa punya seribu alasan untuk mencintai orang lain, namun sulit menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri.

Penulis mengalami hal tersebut, mungkin pembaca juga ada yang demikian. Tapi ketika kembali direnungkan, penulis paham bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.

Oleh karena itu, yang pertama kali penulis lakukan adalah menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri. Yang paling mudah adalah sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan karena telah menganugerahkan kehidupan yang singkat ini.

Penulis harus bisa merasa bersyukur karena telah diberikan fisik tanpa kekurangan berarti. Kalau kurang tampan itu relatif, kurang putih itu faktor gen, kurang tinggi dan gemuk itu karena faktor gaya hidup.

Selain itu, harus disadari bahwa untuk mencintai orang lain, kita butuh mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Rumusannya sama dengan kebahagiaan. Secara teori, orang akan lebih mudah mencintai kita jika kita telah memulainya terlebih dahulu.

Alasan selanjutnya, diri kita memang berhak mendapatkannya. Kita bergumul dengan diri kita selama 24 jam sehari. Jika memusuhi diri kita sendiri, bagaimana bisa hidup tenang?

Cara Mencintai Diri Sendiri

Cara Mencintai DIri Sendiri (i love simple beyond)

Karena penulis termasuk jarang mencintai diri sendiri, tentu kesulitan untuk mengetahui bagaimana cara mencintai diri sendiri. Oleh karena itu, penulis sudah membaca beberapa sumber tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri.

Membuang Pikiran Negatif Tentang Diri Sendiri

Salah satu hal yang membuat penulis susah mencintai diri sendiri adalah banyak pikiran-pikiran negatif yang berada di dalam kepala penulis untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, penulis harus bisa membuang pikiran-pikiran tersebut jauh-jauh.

Penulis termasuk orang yang sering berbicara kepada dirinya sendiri. Nah, biasanya ketika pikiran negatif mulai datang, penulis akan mengusirnya dengan berbicara sendiri.

Cara lain yang bisa membantu adalah berhenti sejenak dari media sosial. Penulis kerap membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain sehingga munculah pikiran-pikiran negatif tersebut.

Berhenti Menuntut Kesempurnaan

Sebagai orang yang perfeksionis, penulis sering menuntut kesempurnaan pada dirinya. Akibatnya, penulis sering keras kepada dirinya sendiri.

Hal tersebut memang membawa hal positif, seperti sering melakukan aktivitas produktif. Tetapi, di sisi lain juga merusak diri penulis. Contoh, ketika gagal mencapai target tertentu, penulis bisa stres yang berujung kepada penyesalan.

Penulis harus menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan. Ada kalanya penulis membutuhkan jeda sebentar dari kehidupan dan menikmati hidup yang tenang.

Melampaui batas diri memang diperlukan agar kita bisa makin berkembang, tapi terlalu melampaui batas juga tidak baik. Penulis selalu percaya bahwa tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan.

Jangan Sia-Siakan Waktu

Terkadang, penulis juga bisa menjadi pribadi yang luar biasa pemalas. Jika dalam kondisi seperti ini, cara mencintai diri sendiri yang tepat adalah dengan tidak menjadi malas,

Mengapa? Karena rasa malas yang berlebihan akan merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri sama dengan tidak mencintai diri sendiri.

Mungkin sedikit kontradiktif dengan poin sebelumnya, tapi penulis tuliskan hal ini sebagai pengingat bahwa dalam hidup keseimbangan itu penting. Jangan sampai kita berat ke satu sisi.

Lakukan Aktivitas yang Menyenangkan

Salah satu hal termudah untuk menyayangi diri sendiri adalah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Bagi penulis, aktivitas tersebut bisa berupa menulis, membaca buku, ataupun bermain game. Tapi ingat, jangan berlebihan.

Kegiatan menulis selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk penulis. Selain itu, menulis juga bisa menjadi terapi yang bagus untuk kesehatan mental penulis.

Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan diri kita, baik fisik, mental, maupun rohani. Mampu melakukannya adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.

Menjaga kesehatan, melakukan ibadah, mempelajari hal baru juga termasuk bentuk mencintai diri sendiri.

Tak Perlu Dengar Kata Mereka

Mau sepositif apapun diri kita, pasti ada saat-saat di mana kita berada di lingkungan yang negatif. Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan. Hidup kita adalah milik kita, bukan orang lain.

Percaya Pada Diri Sendiri

Tidak mencintai diri sendiri bisa menimbulkan efek timbulnya sifat tidak percaya diri. Untuk melawannya, kita harus percaya dengan diri sendiri. Kita mampu melakukan sesuatu yang harus kita kerjakan.

Mengenal diri sendiri adalah salah satu jalan yang bisa kita lakukan. Kita harus tahu apa yang mampu kita lakukan dan apa yang tidak. Penulis juga masih berada dalam tahap mengenali diri sendiri.

Berdamai dengan Masa Lalu

Bisa dibilang, ini adalah cara yang paling berat bagi penulis. Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, banyak hal yang sering penulis sesali dalam hidup ini.

Akan tetapi, agar bisa bahagia, kita memang harus berdamai dengan masa lalu. Toh, tak ada yang manusia sempurna kecuali sosok Nabi. Lantas, untuk apa merutuki diri sendiri tanpa akhir?

Rasanya, ingin sekali penulis pergi ke masa lalu untuk menemui dirinya dulu yang bodoh lalu memeluknya sembari berkata, “tidak apa-apa, semua manusia membuat kesalahan, kok.”

Penutup

Jangan Lupa Bahagia! (Daria Shevtsova)

Jika dilakukan berlebihan, tentu mencintai diri sendiri akan berujung kepada narsisme yang negatif. Orang pun akan merasa ilfeel jika kita sampai seperti itu.

Cintailah dirimu selayaknya yang kita dapatkan. Kita sudah berusaha, mengalami berbagai peristiwa, menerima kekalahan, dan lain sebagainya. Kita berhak dan layak untuk dicintai oleh diri kita sendiri.

Penulis hingga kini masih mengalami kesulitan untuk mencintai diri sendiri. Alasannya, masih ada tembok penghalang bernama seribu alasan membenci diri sendiri. Tapi secara bertahap, penulis akan menghancurkan tembok tersebut dengan berbagai cara.

Ketika waktunya telah tiba, penulis akan merasakan betapa indahnya dicintai oleh diri sendiri, bagaikan seorang bayi yang tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di sebuah cermin.

NB1: Ketika menulis artikel ini, banyak hal yang membuat penulis tercenung karena baru menyadarinya. Penulis jadi sadar betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Semoga pembaca merasakan sensasi yang sama.

NB2: Setelah menulis artikel ini, penulis membaca buku Hidup Sederhana karya Desi Anwar. Penulis langsung menemukan kalimat cara terbaik untuk memenikmati hidup adalah dengan menjalaninya, bukan mengkhawatirkannya.

Kebayoran Lama, 10 Oktober 2019, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap membenci dirinya sendiri.

Foto: Shot By Ireland

Sumber Artikel: Wikihow, IDN Times, Hipwee, Kompas

Tentang Rasa

Untuk Kamu yang Merasa Kesepian

Published

on

By

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Mau mengaku sebagai introver sekalipun, tidak mungkin manusia bisa bertahan hidup sendirian tanpa orang lain.

Seorang introver sekalipun membutuhkan rasa hangat yang bisa muncul dari keluarga maupun lingkaran pertemanan. Memiliki orang-orang dekat adalah sebuah anugerah yang perlu kita syukuri.

Sayangnya, terkadang perasaan kesepian tetap datang meskipun kita bersama orang-orang di sekitar kita. Bahayanya, perasaan kesepian tersebut bisa menimbulkan dampak yang serius bagi kesehatan fisik dan mental kita.

Beberapa Ciri Kita Merasa Kesepian

Ketika sedang membuka Instagram, Penulis menemukan sebuah postingan dari akun @petualanganmenujusatu yang menunjukkan beberapa ciri orang yang merasa kesepian:

Jika dirangkum, setidaknya ada lima ciri merasa kesepian, yakni:

  1. “Bercerita terlalu banyak” ketika ada yang mau mendengarkan
  2. Merasa sendirian dan terisolasi meski dikelilingi orang banyak
  3. Merasa sebagai “orang yang paling tidak dibutuhkan” dalam lingkar pertemanan
  4. Merasa butuh untuk selalu menyenangkan orang lain
  5. Kesulitan untuk membangun pertemanan yang berarti

Mungkin ada beberapa ciri lain, seperti suka merasa sedih ketika sendirian, merasa hidupnya “hampa”, gaya hidup menjadi tidak sehat, merasa tidak diinginkan, mood yang berubah-ubah, dan lain sebagainya. Ciri ini bisa berbeda tergantung orangnya.

Dampak dari Merasa Kesepian

Kesepian adalah salah satu bentuk perasaan yang paling buruk. Dilansir dari HelloSehat, merasa kesepian dapat menimbulkan depresi bahkan menimbulkan keinginan untuk bunuh diri.

Merasa kesepian juga bisa memengaruhi kesehatan fisik karena dapat memicu stres dan gangguan tidur. Seperti yang telah kita ketahui karena adanya pandemi Covid-19, stres dapat menurunkan imun tubuh sehingga penyakit mudah masuk.

Memang perasaan kesepian terlihat sepele, tetapi dampak yang diakibatkan tidak bisa dianggap remeh. Tidak perlu mendengarkan kata orang kalau kita merasa kesepian hanya demi mendapatkan perhatian dari orang lain.

Merasa kesepian itu nyata. Merasa kesepian itu berdampak buruk untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Cara Mengatasi Rasa Kesepian

Ada banyak hal yang bisa kita coba untuk mengusir rasa kesepian. Yang paling “mudah” dilakukan adalah dengan melakukan interaksi dengan orang lain. Tidak usah pedulikan mereka akan berpikir apa, coba saja hubungi mereka dan jalin komunikasi.

Selain itu, kita bisa menyibukkan diri entah dengan pekerjaan maupun hobi. Cari aktivitas positif yang bisa menambah nilai diri. Ketika waktu kita padat, kita hampir tidak punya waktu untuk overthinking atas perasaan kesepian tersebut.

Banyak yang menasihatkan kalau perasaan sepi itu datang karena kita lupa akan keberadaan Tuhan yang sejatinya selalu ada untuk kita. Oleh karena itu, mendekatkan diri ke Tuhan bisa menjadi solusi yang baik.

Beberapa cara lain yang bisa dicoba adalah berjalan-jalan untuk ganti suasana, perbanyak bersykur, memelihara hewan peliharaan, hingga berkonsultasi ke ahli. Ada banyak cara untuk bisa membantu kita mengusir perasaan kesepian.

Namun perlu dicatat, merasa kesepian adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain.

Artinya, kita tidak boleh berharap akan ada orang yang hadir untuk bisa membantu kita mengusir rasa kesepian tersebut, sekalipun mereka adalah keluarga maupun sahabat terdekat kita.

Mereka memang bisa membantu kita untuk mengusir perasaan kesepian, tetapi jangan sampai kita menggantungkan diri ke mereka. Memang berat, sangat berat, tapi harus dan wajib dilakukan. Kita yang punya kendali terhadap diri ini, kita sendiri yang harus bisa mengendalikan pikiran dan perasaan kita.

Jika kita punya masalah dengan diri sendiri, cobalah untuk berdamai dengan diri sendiri. Jangan menyalahkan diri sendiri atas perasaan kesepian yang kita alami, berusahalah untuk menerima kekurangan diri sembari berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Penutup

Memiliki perasaan kesepian memang benar-benar tidak enak. Sayangnya, kita hanya bisa bergantung kepada diri sendiri untuk bisa mengusir perasaan tersebut. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika kita bersungguh-sungguh.

Semoga kita semua bisa mengusir perasaan kesepian yang kerap menghantui diri kita.


Lawang, 23 Oktober 2021, terinspirasi setelah melihat postingan Instagram dari petualanganmenujusatu

Foto: Pixabay · Photography (pexels.com)

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tentang Rasa

Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati

Published

on

By

So they say that time
Takes away the pain
…but I’m still the same

Heartache (35XXXVV) – One OK Rock

Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain.

Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak berbalas, dikhianati dengan kejam, hubungan yang berakhir begitu saja, ditikung, ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil sebagai contoh.

Orang-orang sering bilang kalau sakit hati juga akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Time will heals. Benarkah begitu?

Berbagai Cara Obati Sakit Hati

Apa Obat Sakit Hati? (Diana Polekhina)

Sama seperti penyakit lain, sakit hati pun tentu ada obatnya. Setiap orang memiliki obatnya masing-masing sesuai dengan kepribadian, lingkungan, pengalaman, tingkat sakit hati, dan lain sebagainya. Penulis akan coba jabarkan beberapa di antaranya.

Secara logika, manusia akan berusaha membenci orang yang membuatnya merasa sakit hati. Bahkan, tak jarang orang yang memiliki sifat pendendam akan berusaha untuk membuat orang tersebut merasakan sakit yang lebih parah lagi.

Selain itu, kadang kita membutuhkan orang lain untuk bisa melupakan si penyebab sakit hati. Mencurahkan perhatian dan kasih sayang ke orang lain bisa menjadi obat yang cukup ampuh. Dengan kata lain, mencari orang lain sebagai “pelampiasan”.

Kadang tempat di mana kita berada bisa menjadi penyebab sakit hati. Oleh karena itu, “kabur” dan pindah ke tempat baru bisa membantu kita untuk melupakan sakit hati tersebut. Hanya saja, kondisi pandemi seperti sekarang membuat aktivitas ini cukup sulit dilakukan.

Ada juga yang memutuskan untuk fokus memperbaiki diri sendiri, menemukan versi dirinya yang lebih baik lagi. Kejadian kelam yang telah terjadi dijadikan titik balik dalam hidupnya. Ia berusaha melakukan interopeksi demi menemukan apa yang bisa diperbaiki dari dirinya.

Menyibukkan diri dengan banyak hal juga menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan sakit hati kita. Ada yang sibuk dengan berbagai aktivitas produktif, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kegiatan kurang bermanfaat dengan dalih “pelarian”.

Mana Pilihan Penulis?

Fokus Memperbaiki Diri Sendiri (Jonathan Borba)

Kalau Penulis harus sampai mengalami sakit hati yang menyakitkan, pilihan membenci orang dan mencari orang baru sebagai “pelampiasan” sepertinya akan dikesampingkan.

Mau sesakit apapun luka yang diberi oleh orang lain, Penulis akan berusaha untuk tidak membalas sakit tersebut. Memang susah, tapi bisa dilakukan jika kita bisa berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas dan mau memaafkannya.

Mencari orang lain sebagai “pelampiasan” juga bukan style Penulis. Jika harus membuka hati untuk orang baru, Penulis harus bisa mengobati sakit hatinya terlebih dahulu. Jangan sampai orang lain terkena getah dari sakit yang kita alami.

Penulis pernah “kabur” untuk jangka waktu yang cukup panjang dan cukup efektif. Hanya saja, sekali lagi kondisi pandemi seperti ini membuat mobilitas kita sangat terhambat.

Obat yang Penulis pilih secara pribadi adalah fokus memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, ini obat yang susahnya bukan main karena perasaan kita sendiri masih kacau.

Dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat demi mengalahkan rasa sakit yang ada di dalam hati. Terkadang kita harus memaksa diri untuk terus melangkah maju, walau perih kadang masih terasa begitu mengiris.

Hanya saja, meskipun terkadang sudah melakukan banyak hal, sakit hati masih saja terus terasa.

Berdampingan dengan Luka

Sabar, Kadang Sakit Hati Memang Susah Hilangnya (Bernard)

Kembali ke paragraf awal, di mana Penulis sempat menyebut time will heals. Selain mencoba berbagai obat yang tersedia, kita juga berpikir kalau waktu pada akhirnya akan pelan-pelan mengobati luka tersebut.

Sayangnya, bahkan waktu pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani sakit hati kita.

Ada yang masih merasakan sakit hati walau waktu telah berlalu selama satu bulan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, bahkan seumur hidupnya. Kita seolah tidak bisa berdamai dengan sakit hati ini.

Berbagai obat sudah dicoba dan tidak ada yang berhasil. Kegagalan ini yang kadang menyebabkan orang terjerumus ke jalan yang salah ketika sedang sakit hati. Mabuk, narkoba, seks bebas, dan lain-lain.

Jika memang kita kesulitan untuk mengobati sakit hati tersebut, cobalah untuk hidup berdampingan rasa sakit tersebut.

Ketika sakit tersebut teringat atau terasa secara tiba-tiba, coba disenyumi saja, yang sabar, sembari menyugesti diri untuk ikhlas. Memang masih akan terasa sakit, tapi setidaknya kita bisa mengendalikan respon kita terhadap rasa sakit tersebut.

Kalaupun waktu tidak bisa mengobati sakit kita, setidaknya kita bisa hidup dengan rasa sakit tersebut tanpa mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Memang terdengar utopis dan belum teruji, tapi tidak ada ruginya untuk dicoba.

Jadikan rasa sakit yang seolah tak ada habisnya tersebut untuk menyusun kehidupan menjadi lebih baik lagi. Jadikan pelajaran agar kesalahan yang membuat kita merasa sakit tidak terulang lagi di masa depan.

Penutup

Pada akhirnya, kita semua hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Kita memiliki tingkat daya tahan dalam menerima sakit yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih dengan cepat, ada yang kesulitan untuk bisa menerima rasa sakit tersebut.

Apa yang bisa kita lakukan adalah respon terhadap rasa sakit tersebut. Apakah rasa sakit itu akan menjadi turning table kita atau justru malah menjerumuskan kita, semua pilihan ada di tangan kita.

Jika Pembaca ingin mencari inspirasi yang terkait dengan masalah perasaan, silakan mampir ke rubrik Tentang Rasa, rubrik terbaru dari Whathefan.


Lawang, 23 September 2021, terinspirasi dari…

Foto: Aron Visuals on Unsplash

Continue Reading

Tentang Rasa

Kalau Mau Stay ya Stay, Kalau Mau Leave ya Leave, Bebas

Published

on

By

People come and go atau people come, people go. Istilah ini sering kita dengar untuk menggambarkan bahwa orang-orang yang kita kenal dalam hidup akan datang dan pergi pada waktunya.

Kalau kita menengok ke belakang, ada banyak sekali orang-orang yang datang ke kehidupan kita. Keluarga, tetangga, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman les, teman kerja, teman pengajian, dan lain sebagainya.

Dari banyaknya orang yang kita kenal, mungkin hanya beberapa yang tetap keep in touch dengan kita hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, circle kita semakin mengecil dan mengerucut.

Ada beberapa yang memilih untuk stay dengan kita, entah karena kecocokan, merasa satu frekuensi, asyik diajak nongkrong, dan lainnya. Hanya saja, tak jarang ada yang memutuskan untuk leave dengan beragam alasan.

Memaksa Orang untuk Stay

Baik stay maupun leave, masing-masing memiliki alasannya masing-masing. Kadang kita bisa tahu alasannya, kadang kita dibuat penasaran setengah mati hingga jadi menebak-nebak alasannya.

Penulis sendiri tipikal orang yang berusaha menahan orang-orang yang penting baginya untuk stay selama mungkin di kehidupan Penulis. Kalau bisa terus disambung, kenapa harus diputus hubungannya?

Memang terkadang ada saja pertikaian atau perselisihan. Ada yang sepele, tapi tak jarang ada masalah besar hingga membuat hubungan renggang. Namun, hal tersebut bisa dibenahi bersama jika masing-masing punya kesadaran akan kesalahannya.

Akan tetapi, sekarang Penulis menyadari bahwa menahan orang untuk stay di saat yang bersangkutan tidak ingin hanya akan membuat kita merasa sakit hati.

Terlepas dari apapun alasannya hingga mereka ingin pergi dari kehidupan kita, kita sebenarnya tidak punya hak untuk memengaruhi pilihannya tersebut. Berusaha membujuk boleh saja, tapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai mengemis-ngemis.

Mulai sekarang, Penulis tidak akan memaksa orang lain untuk stay di kehidupan Penulis apapun alasannya. Kalau mau leave ya monggo saja, Penulis akan berusaha ikhlas menerima kenyataan tersebut. Kalaupun Penulis merasa sakit hati, ya sudah mau diapa juga.

Yang bisa Penulis lakukan hanyalah mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga mereka yang leave dari kehidupan Penulis bisa menemukan kehidupan yang lebih baik lagi untuk mereka.

Menghargai Orang yang Stay

Daripada menghabiskan waktu dan tenaga demi menahan orang untuk stay, lebih baik kita mengalokasikannya kepada orang yang mau stay di kehidupan kita. Kita harus bisa lebih berusaha menghargai mereka.

Kita juga harus bersyukur kepada orang-orang yang sudah berkenan untuk stay di kehidupan kita. Apalagi Penulis merasa dirinya sebagai pribadi yang agak “sulit”, sehingga Penulis sangat menghargai orang-orang yang mau stay.

Daripada memusingkan dan menangisi orang-orang yang leave, lebih baik Penulis mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada orang-orang yang stay.

Penulis merasa senang mereka mau stay, sehingga merasa kalau dirinya butuh melakukan sesuatu sebagai gantinya. Penulis akan berusaha untuk menjadi “orang yang baik” untuk mereka dan siap kapanpun dimintai bantuan.

Orang-orang yang mau stay di kehidupan Penulis sangat berarti untuk Penulis, sehingga Penulis akan berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Potensi konflik sebisa mungkin diminimalisir.

Seandainya orang-orang yang stay tersebut akhirnya memutuskan untuk leave, Penulis akan berterima kasih kepada mereka karena pernah hadir di kehidupan Penulis. Sedih pasti, tapi yang namanya pertemuan memang pasti memiliki perpisahan.

Penutup

Saat ini, Penulis tengah berusaha menerapkan prinsip hidup, “Kalau mau stay ya stay, kalau mau leave ya leave, bebas.”

Penulis menyadari bahwa meskipun kita kerap berjalan beriringan dengan orang lain, akan datang masanya kita akan berpisah jalan. Seperti yang sudah disinggung di atas, penyebabnya ada bermacam-macam.

Kita tidak bisa mengendalikan apakah orang akan stay atau leave dari kehidupan kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah respon kita terhadap keputusan mereka tersebut.

Daripada sakit hati karena merasa ditinggalkan, lebih baik kita berusaha untuk menerima kenyataan tersebut dengan ikhlas. Daripada menyumpahi hal buruk kepada mereka, lebih baik kita bersyukur dan berterima kasih atas semua kenangan yang telah diberikan.

Pada akhirnya, people come and go. Kita tidak bisa menahan orang lain untuk tetap stay bersama kita selamanya, sekalipun kita sangat menginginkannya.


Lawang, 16 September 2021, terinspirasi dari pengalaman pribadi

Foto: Dương Nhân · Photography (pexels.com)

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan