Connect with us

Tentang Rasa

Mencintai Diri Sendiri

Published

on

Kalau boleh jujur, penulis bukan tipe orang yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan, bisa dibilang sebagai pembenci diri sendiri. Ada banyak alasannya, tapi akan penulis bahas di tulisan yang lain.

Setidaknya, sekarang penulis menyadari bahwa tidak mencintai diri sendiri bisa jadi menjadi salah satu sumber ketidakbahagiaan (dan mungkin juga sumber depresi).

Masalah yang Timbul Akibat Tidak Mencintai Diri Sendiri

Membenci Diri Sendiri (Reza Hasannia)

Memang apa salahnya dengan membenci diri sendiri? Toh, tidak ada orang lain yang tersakiti. Penulis sempat memiliki pemikiran tersebut. Namun, setelah dipikir ulang, ternyata banyak masalah yang bisa ditimbulkan.

Pertama, kita akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Karenanya, kita akan kesulitan untuk bergaul dengan lingkungan sekitar dan susah beradaptasi di tempat baru.

Kita juga jadi sering merasa kurang berharga, tidak dibutuhkan, dan lain sebagainya. Efek lanjutannya adalah jadi memiliki ketergantungan dengan orang lain dan butuh pengakuan.

Percayalah, penulis mengalami itu semua. Penulis menyadari bahwa dirinya terpuruk karena kurang bisa menghargai dirinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah bentuk self-harm kepada mental.

Pengaruh masa kecil mungkin memiliki andil dalam hal ini. Apalagi, penulis adalah tipe orang yang sangat mudah terpengaruh dengan perkataan orang.

Namun, merutuki masa lalu dan menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Kita semua punya kesempatan untuk mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik.

Alasan Harus Mencintai Diri Sendiri

Perenungan untuk Menemukan Alasan (Jared Rice)

Terkadang mencintai diri sendiri jauh lebih susah dibandingkan mencintai orang lain. Kita bisa punya seribu alasan untuk mencintai orang lain, namun sulit menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri.

Penulis mengalami hal tersebut, mungkin pembaca juga ada yang demikian. Tapi ketika kembali direnungkan, penulis paham bahwa tidak bisa selamanya seperti ini.

Oleh karena itu, yang pertama kali penulis lakukan adalah menemukan alasan untuk mencintai diri sendiri. Yang paling mudah adalah sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan karena telah menganugerahkan kehidupan yang singkat ini.

Penulis harus bisa merasa bersyukur karena telah diberikan fisik tanpa kekurangan berarti. Kalau kurang tampan itu relatif, kurang putih itu faktor gen, kurang tinggi dan gemuk itu karena faktor gaya hidup.

Selain itu, harus disadari bahwa untuk mencintai orang lain, kita butuh mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Rumusannya sama dengan kebahagiaan. Secara teori, orang akan lebih mudah mencintai kita jika kita telah memulainya terlebih dahulu.

Alasan selanjutnya, diri kita memang berhak mendapatkannya. Kita bergumul dengan diri kita selama 24 jam sehari. Jika memusuhi diri kita sendiri, bagaimana bisa hidup tenang?

Cara Mencintai Diri Sendiri

Cara Mencintai DIri Sendiri (i love simple beyond)

Karena penulis termasuk jarang mencintai diri sendiri, tentu kesulitan untuk mengetahui bagaimana cara mencintai diri sendiri. Oleh karena itu, penulis sudah membaca beberapa sumber tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri.

Membuang Pikiran Negatif Tentang Diri Sendiri

Salah satu hal yang membuat penulis susah mencintai diri sendiri adalah banyak pikiran-pikiran negatif yang berada di dalam kepala penulis untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, penulis harus bisa membuang pikiran-pikiran tersebut jauh-jauh.

Penulis termasuk orang yang sering berbicara kepada dirinya sendiri. Nah, biasanya ketika pikiran negatif mulai datang, penulis akan mengusirnya dengan berbicara sendiri.

Cara lain yang bisa membantu adalah berhenti sejenak dari media sosial. Penulis kerap membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain sehingga munculah pikiran-pikiran negatif tersebut.

Berhenti Menuntut Kesempurnaan

Sebagai orang yang perfeksionis, penulis sering menuntut kesempurnaan pada dirinya. Akibatnya, penulis sering keras kepada dirinya sendiri.

Hal tersebut memang membawa hal positif, seperti sering melakukan aktivitas produktif. Tetapi, di sisi lain juga merusak diri penulis. Contoh, ketika gagal mencapai target tertentu, penulis bisa stres yang berujung kepada penyesalan.

Penulis harus menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki batasan. Ada kalanya penulis membutuhkan jeda sebentar dari kehidupan dan menikmati hidup yang tenang.

Melampaui batas diri memang diperlukan agar kita bisa makin berkembang, tapi terlalu melampaui batas juga tidak baik. Penulis selalu percaya bahwa tidak ada yang baik dengan yang namanya berlebihan.

Jangan Sia-Siakan Waktu

Terkadang, penulis juga bisa menjadi pribadi yang luar biasa pemalas. Jika dalam kondisi seperti ini, cara mencintai diri sendiri yang tepat adalah dengan tidak menjadi malas,

Mengapa? Karena rasa malas yang berlebihan akan merugikan diri sendiri. Merugikan diri sendiri sama dengan tidak mencintai diri sendiri.

Mungkin sedikit kontradiktif dengan poin sebelumnya, tapi penulis tuliskan hal ini sebagai pengingat bahwa dalam hidup keseimbangan itu penting. Jangan sampai kita berat ke satu sisi.

Lakukan Aktivitas yang Menyenangkan

Salah satu hal termudah untuk menyayangi diri sendiri adalah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Bagi penulis, aktivitas tersebut bisa berupa menulis, membaca buku, ataupun bermain game. Tapi ingat, jangan berlebihan.

Kegiatan menulis selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk penulis. Selain itu, menulis juga bisa menjadi terapi yang bagus untuk kesehatan mental penulis.

Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan diri kita, baik fisik, mental, maupun rohani. Mampu melakukannya adalah salah satu bentuk mencintai diri sendiri.

Menjaga kesehatan, melakukan ibadah, mempelajari hal baru juga termasuk bentuk mencintai diri sendiri.

Tak Perlu Dengar Kata Mereka

Mau sepositif apapun diri kita, pasti ada saat-saat di mana kita berada di lingkungan yang negatif. Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan. Hidup kita adalah milik kita, bukan orang lain.

Percaya Pada Diri Sendiri

Tidak mencintai diri sendiri bisa menimbulkan efek timbulnya sifat tidak percaya diri. Untuk melawannya, kita harus percaya dengan diri sendiri. Kita mampu melakukan sesuatu yang harus kita kerjakan.

Mengenal diri sendiri adalah salah satu jalan yang bisa kita lakukan. Kita harus tahu apa yang mampu kita lakukan dan apa yang tidak. Penulis juga masih berada dalam tahap mengenali diri sendiri.

Berdamai dengan Masa Lalu

Bisa dibilang, ini adalah cara yang paling berat bagi penulis. Seperti yang sudah penulis singgung sebelumnya, banyak hal yang sering penulis sesali dalam hidup ini.

Akan tetapi, agar bisa bahagia, kita memang harus berdamai dengan masa lalu. Toh, tak ada yang manusia sempurna kecuali sosok Nabi. Lantas, untuk apa merutuki diri sendiri tanpa akhir?

Rasanya, ingin sekali penulis pergi ke masa lalu untuk menemui dirinya dulu yang bodoh lalu memeluknya sembari berkata, “tidak apa-apa, semua manusia membuat kesalahan, kok.”

Penutup

Jangan Lupa Bahagia! (Daria Shevtsova)

Jika dilakukan berlebihan, tentu mencintai diri sendiri akan berujung kepada narsisme yang negatif. Orang pun akan merasa ilfeel jika kita sampai seperti itu.

Cintailah dirimu selayaknya yang kita dapatkan. Kita sudah berusaha, mengalami berbagai peristiwa, menerima kekalahan, dan lain sebagainya. Kita berhak dan layak untuk dicintai oleh diri kita sendiri.

Penulis hingga kini masih mengalami kesulitan untuk mencintai diri sendiri. Alasannya, masih ada tembok penghalang bernama seribu alasan membenci diri sendiri. Tapi secara bertahap, penulis akan menghancurkan tembok tersebut dengan berbagai cara.

Ketika waktunya telah tiba, penulis akan merasakan betapa indahnya dicintai oleh diri sendiri, bagaikan seorang bayi yang tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di sebuah cermin.

NB1: Ketika menulis artikel ini, banyak hal yang membuat penulis tercenung karena baru menyadarinya. Penulis jadi sadar betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Semoga pembaca merasakan sensasi yang sama.

NB2: Setelah menulis artikel ini, penulis membaca buku Hidup Sederhana karya Desi Anwar. Penulis langsung menemukan kalimat cara terbaik untuk memenikmati hidup adalah dengan menjalaninya, bukan mengkhawatirkannya.

Kebayoran Lama, 10 Oktober 2019, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap membenci dirinya sendiri.

Foto: Shot By Ireland

Sumber Artikel: Wikihow, IDN Times, Hipwee, Kompas

Tentang Rasa

Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih

Published

on

By

Serial kartun Tom and Jerry sering kali berhasil membuat kita, baik ketika kecil maupun telah tumbuh dewasa, tertawa. Sebagai salah satu kartun legend yang tetap populer hingga saat ini, selalu ada saja aksi mereka yang tak masuk akal, tapi berhasil mengundang tawa.

Penulis pun menjadi salah satu anak yang tumbuh besar lewat kartun ini. Penulis bahkan dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa dirinya telah menonton semua episode Tom and Jerry dari era Fred Quimby hingga Hanna-Barbara.

Walau begitu, belakangan ini Penulis baru menyadari ada beberapa episode di Tom and Jerry yang terasa cukup dark sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah Blue Cat Blues, yang tayang sebagai episode ke-103.

Alur Cerita Episode Blue Cat Blues

Gal Cat di Episode Blue Cat Blues (IMDb)

Seperti kebanyakan episode Tom and Jerry, masalah kerap muncul ketika Tom bertemu dengan kucing betina dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Di serial ini, kucing betina kerap dinamai Toodles Galore, tapi di seri ini ia sering disebut sebagai “Gal Cat”.

Berbeda dengan Toodles, Gal Cat di episode Blue Cat Blues terlihat tidak pernah menggerakkan mulutnya dan ekspresinya cenderung dingin sekaligus tempting. Ia tidak banyak menunjukkan emosi, apalagi terang-terangan menolak Tom.

Episode ini sendiri menggunakan alur mundur, di mana Jerry sebagai sahabat (bukan musuh) Tom menjadi naratornya. Ia menceritakan bagaimana Tom bertemu dengan Gal hingga akhirnya duduk terpuruk di rel kereta.

Jadi, Tom langsung jatuh cinta dengan Gal pada pandangan pertama. Awalnya, Gal tampak mau menerima Tom, sebelum ia bertemu dengan Butch yang jauh lebih kaya raya. Jerry menyadari hal ini dan berusaha menghentikan Tom, tapi peringatan tersebut tidak digubris.

Meskipun kondisi ekonominya pas-pasan, Tom tetap berusaha merebut Gal dari Butch. Namun, setiap ia berusaha membelikan sesuatu untuk Gak, Butch pasti telah memberikan hadiah yang jauh lebih besar dan mewah.

Ketika Tom membawa setangkai bunga, Butch memberikan karangan bunga raksasa. Ketika Tom membawa sebotol parfum, Butch mengirimkan truk tangki berisi parfum. Tom bahkan menguras habis tabungannya demi membeli cicin dengan berlian mini, tapi Butch telah memberikan berlian jumbo.

Upaya atau hadiah terakhir yang berusaha Tom berikan adalah sebuah mobil, di mana ia sampai menjual dirinya sebagai “budak” selama 20 tahun untuk bisa menutupi cicilan selama 312 bulan dengan tingkat bunga tahunan hingga 112%. Bahkan, ia hingga rela menggadaikan satu lengan dan kakinya!

Setelah semua pengorbanan itu, ia hanya mendapatkan mobil tua yang bobrok dan tak layak guna. Mobil itu pun dengan mudah diratakan oleh Butch yang membawa sebuah coupe yang sangat panjang dan mewah.

Depresi dengan keadaan, Tom pun menenggelamkan dirinya dengan meminum susu hingga mabuk. Ia bahkan sempat terlihat hanyut di air sebelum diselamatkan oleh Jerry. Pada akhirnya, Gal memutuskan untuk menikah dengan Butch dan meninggalkan Tom begitu saja.

Rentetan keadaan itulah yang membuat Tom benar-benar terpuruk dan duduk termenung di rel kereta. Jerry yang awalnya yakin pasangannya tidak seperti itu justru harus menerima takdir yang sama dengan Tom.

Jerry pun bergabung dengan Tom untuk duduk di rel kereta, dengan suara peluit kereta terdengar dari arah belakang mereka, yang makin lama makin terdengar kencang…

Tom Telah Memberikan Segalanya, dan Mungkin Itu Kesalahan Terbesarnya

Tom Benar-Benar Memberikan Semua yang Ia Miliki (IMDb)

Sangat gelap bukan cerita Blue Cat Blues? Butch mungkin memberikan semua yang Gal inginkan, tapi Tom telah memberikan segala yang ia miliki. Walaupun begitu, tetap saja ia gagal mendapatkan cinta Gal.

Apakah ini berarti Gal adalah kucing materialistis yang hanya melihat harta dalam memilih pasangan? Setidaknya di mata Jerry memang seperti itu, walau di era sekarang keputusan Gal bisa dianggap sebagai realistis, karena Tom memang hampir tidak punya apa-apa.

Penulis ingin lebih menyoroti dari sudut pandang Tom sebagai pihak “pengejar” sekaligus yang kalah. Perasaan jatuh cinta yang ia rasakan itu wajar, karena Gal memang seekor kucing yang terlihat menarik. Apa yang tidak wajar adalah semua upaya yang ia keluarkan.

Tom tidak memiliki kemampuan untuk mengukur batas dirinya. Ia terlalu fokus untuk bisa membuat Gal kagum hingga mengabaikan dirinya sendiri. Tak peduli tabungannya habis, tak peduli harus mengorbankan tangan dan kakinya, yang penting ia bisa memberikan sesuatu untuk Gal.

Dengan adanya saingan yang super kaya, Tom melakukan itu semua agar dirinya dipilih oleh Gal. Mungkin di dalam hatinya, ia berharap kalau Gal bisa merasakan cintanya lebih besar dari semua hadiah yang diberikan oleh Butch. Ia gagal mengelola ekspektasinya.

Sayangnya, harapan tersebut pupus karena pada akhirnya Gal memilih Butch. Gal tidak peduli kalau Tom telah memberikan segala yang ia miliki, karena ternyata hal tersebut tidak cukup untuk dirinya. Kesalahan terbesar Gal di sini adalah tidak pernah benar-benar menutup pintu untuk Tom, sehingga Tom terus berharap.

Tom juga tidak mengindahkan nasehat dari sahabatnya, Jerry. Sudah berkali-kali Jerry berusaha untuk menghentikan niat Tom karena tahu perempuan seperti apa sebenarnya Gal. Namun, namanya juga cinta buta, niat baik Jerry tersebut sama sekali diabaikan oleh Tom.

Karena sudah merasa telah memberikan segalanya dan tetap gagal, Tom pun menjadi depresi. Ia telah meletakkan kehidupannya pada Gal, bahkan menjadikannya sebagai pusat semestanya. Itulah yang telah menghancurkan dirinya.

Bisa dibilang, Tom juga telah terjebak pada sunk cost fallacy, di mana ia merasa memberikan (bahkan terlalu) banyak hal untuk Gal. Ia merasa sudah “berinvestasi” sedemikian besarnya, hingga merasa putus asa ketika tahu hasilnya malah “bodong”.

Kalau dibawa ke dunia nyata, alih-alih melakukan apa yang seperti dilakukan oleh Tom, kita seharusnya fokus kepada diri sendiri dan terus meningkatkan value diri, karena siapa juga yang mau sama seseorang yang tidak punya apa-apa.

Sebagai seorang manusia, kita harus belajar untuk memahami batas diri dan meletakkan kehidupan kita pada diri kita sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri demi mendapatkan seseorang yang tidak memilih kita.

Penutup

Penulis tidak tahu apa motivasi dari kreatornya hingga bisa membuat episode yang sekelam itu untuk pasar anak-anak. Memang, waktu kecil Penulis menganggap episode tersebut lucu-lucu saja. Namun, ketika telah dewasa, Penulis jadi bisa lebih memahami makna di baliknya.

Yang jelas, dari episode kartun ini kita belajar jangan mencintai orang lain secara membabi buta. Jangan memberikan segalanya untuk seseorang yang tidak benar-benar menerima kita. Jangan berkorban sebanyak itu untuk orang yang akan mematahkan hati kita.

Selain itu, kita harus bisa belajar menerima bahwa tidak semua upaya akan memberikan hasil yang kita inginkan. Walau begitu, pasti ada hal lain yang kita dapatkan dari upaya tersebut, pengalaman dan pelajaran hidup misalnya.

Semoga saja kartun masa kecil kita yang hanya berdurasi beberapa menit ini bisa membuat kita belajar tentang hal tersebut.


Lawang, 22 September 2026, terinspirasi setelah menonton Tom and Jerry episode Blues Cat Blues

Continue Reading

Tentang Rasa

Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok

Published

on

By

Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: “cewek pakai standar TikTok.”

Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.

Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki point of view (POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.

Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan

Jadi Patokan dalam Menentukan Standar Pasangan (Search Engine Journal)

Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.

Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang typing atau mengetik di chat. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan ciri-ciri typing ganteng. Masalah typing saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi red flag kalau tidak cocok!

Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki fisik seperit idol K-Pop. Mungkin lho, ya.

Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.

Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.

Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri: apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut?

Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri

Terlalu Banyak Menuntut Ini Itu (Vista Create)

Terkadang kita ini terlalu demanding dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri kita sendiri juga butuh terus meningkatkan value diri agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.

Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.

Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga.

Buat apa punya paras yang menarik, kalau value yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang value-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan value diri.

Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan “kosmetik.” Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.

Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?

Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love

Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat quote terkenal dari Chris Rock:

“Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.”

“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”

Berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.

Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan nganggur pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.

Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. Pria mokondo yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana “cewek pakai standar TikTok” memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.

Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan effort lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu “risiko” menjadi seorang pria.

Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.

Penutup

Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi red flag untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan value diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.

Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.

Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya.


Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai “cewek pakai standar TikTok”

Foto Featured Image: WIRED

Continue Reading

Tentang Rasa

Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita

Published

on

By

Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga.

Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan hatinya untuk kita, meskipun sudah banyak hal yang kita lakukan untuk meluluhkan hatinya.

Tentu rasanya menyedihkan sekaligus menyakitkan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya tidak ada manusia yang ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, inilah hidup. Inilah kenyataan yang harus kita terima dan hadapi.

Padahal Sudah Banyak Berkorban

Meme Norman Osborn yang Menggambarkan Poin Ini (Know Your Meme)

Ketika kita sedang mendekati seseorang, tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mungkin uang untuk mentraktir makan atau membelikan hadiah, tenaga untuk mengantarnya ke mana-mana, pikiran untuk membantu mengerjakan pekerjaannya, dan lain sebagainya.

Jika pikiran kita transaksional, tentu kita berharap imbalan dari semua yang sudah dilakukan tersebut. Tentu saja yang diharapkan adalah dia mau menerima perasaan kita. Sayangnya, masalah cinta sangat berbeda dengan matematika.

Meskipun kita sudah melakukan banyak hal untuknya, sebenarnya sama sekali tidak ada kewajiban untuk membalas baginya, dalam bentuk apapun. Jika dia memutuskan untuk tidak membalas, ya itu keputusan mereka yang tidak bisa diganggu gugat.

Mungkin kadang kita akan merasa tidak terima, bahkan menganggap dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan hanya memanfaatkan kebaikan kita. Lho, ya salah sendiri, kan keputusan untuk melakukan banyak hal untuknya kan keputusan kita sendiri.

Apa yang kita lakukan untuknya dilakukan dengan kesadaran diri, walau kadang memang “dibodohi” oleh perasaan cinta. Cinta memang bisa membuat orang tolol luar biasa, sehingga tak heran kita jadi punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.

Seperti kata alm. Meggy Z melalui lagu “Takut Sengsara”, percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara. Kalau takut cinta kita tidak berbalas meskipun sudah banyak berkorban, ya jangan jatuh cinta dulu.

Apalagi, kalau kita memang sayang ke orang lain, seharusnya kita tidak merasa berkorban seperti kata Sujiwo Tejo. Ketika kita sudah merasa berkorban, mungkin itu artinya kita tidak benar-benar sayang ke orang tersebut.

Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita

Harus Menyadari Perasaan Orang Lain Tidak Bisa Kita Kendalikan (RDNE Stock project)

Sebenarnya sangat manusiawi jika kita ingin perasaan kita berbalas. Bahkan, rasanya tidak ada orang yang melakukan PDKT tanpa berharap upayanya berhasil. Namun, perlu diingat kalau hasilnya nanti memang ada di luar kendali kita.

Hasil dari PDKT tentu saja bergantung kepada perasaan orang lain, yang tentu saja juga tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa melakukan apapun untuk berusaha mengubah perasaan tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap di luar kendali kita.

Dengan memahami hal ini, kita pun bisa meminimalisir perasaan kecewa ketika perasaan tidak berbalas. Kita jadi menyadari kalau terlepas dari semua hal yang sudah kita lakukan, orang lain berhak untuk menentukan ingin menaruh perasaannya ke siapapun.

Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri, menentukan ingin sampai sejauh apa melakukan sesuatu untuk orang lain yang disayang. Hanya diri kita sendiri yang mampu menentukan sampai sejauh apa batasan ketika sedang memperjuangkan orang lain.

Jika masih mau berjuang mati-matian meskipun sudah mendapatkan respons yang negatif, ya silakan saja. Penulis tidak punya hak untuk melarang siapapun. Hanya saja, melalui tulisan ini Penulis ingin mengingatkan kalau perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita.


Lawang, 8 Agustus 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau perasaan orang lain itu memang ada di luar kendali kita

Foto Featured Image: Andrea Piacquadio

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018