<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>berharap Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/berharap/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/berharap/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Apr 2023 13:58:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>berharap Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/berharap/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6435</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221; -Ali bin Abi Thalib- Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, berharap kepada sesama manusia menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut. Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p>&#8220;Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.&#8221;</p>



<p>-Ali bin Abi Thalib-</p>
</blockquote>



<p>Sebagai makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, <strong>berharap kepada sesama manusia</strong> menjadi sesuatu yang sangat lumrah. Dalam keseharian kita, tak pernah luput dari aktivitas tersebut.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita tidak sadar ketika sedang menaruh harapan kita kepada orang lain. Setidaknya, Penulis merasa seperti itu hingga pada akhirnya tersadar dalam satu titik dan membuat dirinya melakukan refleksi diri tentang apa itu berharap kepada manusia.</p>





<p>Mari kita renungkan. Ketika kita <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menolong-orang-secara-berlebihan/">menolong seseorang</a>, apakah kita berharap ia membalas kebaikan kita atau apa yang kita lakukan tanpa pamrih? Apakah kita sebenarnya berharap setidaknya yang ditolong memberikan respons yang baik?</p>



<p>Ketika kita berhasil mengerjakan pekerjaan di tempat kerja dengan baik, apakah kita berharap mendapatkan pujian dan bonus dari atasan? Apakah kita sebenarnya berharap kalau derajat kita di mata kolega kantor menjadi lebih tinggi?</p>



<p>Ketika kita merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain, apakah kita benar-benar menggantungkan diri kepada orang tersebut? Apakah kita sebenarnya lupa kalau yang bisa menolong kita hanyalah Tuhan, yang bisa menolong lewat perantara apapun?</p>



<p>Ketika kita berbuat baik di lingkungan, apakah kita berharap akan disanjung oleh para warga yang melihatnya? Apakah kita sebenarnya melakukannya hanya demi terlihat baik di mata orang lain dan melupakan esensi dari perbuatan baik yang dilakukan.</p>



<p>Ketika kita menyayangi seseorang, apakah kita berharap ia akan menyayangi kita juga? Apakah kita ingin diperlakukan oleh dia sebagaimana kita memperlakukan mereka? Apakah kita sebenarnya hanya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">menuruti hawa nafsu</a> semata yang berkedok cinta?</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Itu adalah beberapa contoh bentuk &#8220;berharap kepada manusia&#8221; yang setidaknya Penulis sadari pernah (dan mungkin masih) dilakukan. Memang kesannya semua hal tersebut manusiawi dan wajar saja jika terjadi. Namanya juga manusia.</p>



<p>Namun, Penulis menyadari bahwa berharap kepada manusia dalam bentuk apapun kerap kali menimbulkan perasaan kecewa, jika harapan tersebut tidak terwujud. Bahkan, tak jarang jika hal tersebut justru berbalik menjadi hal yang buruk ke kita.</p>



<p>Contohnya, kita berharap kepada kawan kita untuk menolong kita. Ternyata, kita justru dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Orang yang kita percayai sebegitu tingginya, ternyata menusuk kita dari belakang. Ia menghancurkan harapan kita begitu saja.</p>



<p>Kita berharap ke sesama manusia begitu tinggi, sehingga seolah melupakan adanya peran Tuhan dalam kehidupan kita. Memang, pada prakteknya rasanya hampir mustahil kita tidak berharap kepada manusia. </p>



<p>Rasanya sulit untuk tidak berharap mendapatkan bonus jika target di tempat kerja berhasil dicapai sebelum tenggat dan kita selalu bekerja melebihi <em>workload </em>yang diberikan. Rasanya sulit untuk berbuat baik tanpa mendapatkan apresiasi yang cukup.</p>



<p>Hampir mustahil rasanya kita tidak berharap dicintai oleh orang yang kita cintai. Perasaan kompleks yang dimiliki oleh manusia ini sangat &#8220;haus&#8221; akan balasan, sehingga rasanya sulit untuk bisa mencapai level &#8220;menyayangi dengan ikhlas&#8221; dan tidak mengharapkan balasan.</p>



<p>Yang ingin Penulis ingatkan untuk dirinya sendiri di tulisan ini adalah, setidaknya, mampu mengurangi kadar berharap ke manusia. Penulis ingat kalau sebagai sesama manusia, kita ini sama-sama makhluk yang lemah dan penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mengapa tidak berharap ke entitas yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, yakni <strong>Tuhan</strong>? Secara logika, tentu kita seharusnya berharap kepada sesuatu yang lebih kuat dari kita, bukan kepada yang satu level atau bahkan lebih rendah levelnya dari kita.</p>



<p>Ketika kita menolong orang atau berbuat baik, lebih baik kita niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika kita melakukan pekerjaan dengan baik, niatkan untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Ketika mencintai seseorang, niatkan untuk mendapatkan rida Tuhan.</p>



<p>Penulis bukan tipe orang yang super religius yang keimanan dan ketakwaannya sudah selangit sehingga sudah tidak pernah berharap ke manusia. Justru, Penulis menulis artikel ini karena merasa dirinya masih sangat sering berharap kepada sesama manusia.</p>



<p>Semoga saja setelah menulis artikel ini, Penulis (dan Pembaca sekalian) bisa mulai mengurangi harapannya kepada sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, tentu kita tetap saling membutuhkan dan melakukan interaksi seperti pada umumnya.</p>



<p>Namun, sebisa mungkin kita tidak menggantungkan harapan apapun kepada sesama manusia. Selain karena lebih banyak membuat kecewanya, ada Tuhan yang lebih layak kita gantungkan harapan kepada-Nya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 April 2023, terinspirasi setelah menyadari (lagi) kalau berharap ke sesama manusia itu mengecewakan</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-female-mobster-pointing-the-gun-on-man-7299584/">cottonbro studio</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/">Sungguh, Berharap ke Manusia Itu Benar-Benar Mengecewakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/sungguh-berharap-ke-manusia-itu-benar-benar-mengecewakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikecewakan Ekspektasi</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2020 16:01:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspektasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ekspektasi bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji. Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya. Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ekspektasi </strong>bisa dianggap sebagai harapan yang ingin dicapai. Mungkin banyak yang lebih mengenal lagu ini sebagai sebuah lagu dari Kunto Aji.</p>
<p>Setiap individu memiliki ekspektasinya masing-masing di dalam hidupnya. Ada yang berekspektasi kaya raya, menikah dengan pengusaha, masuk ke universitas favorit, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sangat wajar jika manusia memiliki ekspektasi. Hanya saja, tak jarang pada akhirnya kita <strong>dikecewakan oleh ekspektasi yang dibuat sendiri</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Apakah Penulis pernah dikecewakan oleh ekpektasinya sendiri? Tentu pernah, sering malah. Apalagi, Penulis termasuk<a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bagaimana-cara-mengatasi-baper/"> orang yang mudah <em>baper</em></a>.</p>
<p>Ekspektasi tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materiil. Ada banyak <strong>kejadian sepele</strong> dalam kehidupan sehari-hari yang akan <strong>membuat kita berekspektasi</strong>.</p>
<p>Contoh, ketika kita berusaha memberikan kejutan kepada pacar. Kita berekspektasi pacar kita terkejut dan senang mendapatkan kejutan dari kita.</p>
<p>Ketika ternyata sang pacar mukanya flat aja dan memaksakan diri tersenyum hanya untuk menghargai upaya kita, perasaan kecewa akan muncul karena kenyataan berbeda dengan ekspektasi kita.</p>
<p>Contoh lain, ketika kita menawarkan bantuan kepada teman. Bukannya disambut, ia malah marah-marah karena merasa diremehkan. Kita akan kecewa karena kita berkekspektasi mendapatkan terima kasih, bukannya cemoohan.</p>
<p>Ada banyak sekali contoh dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bukti kalau kita bisa mudah dikecewakan oleh ekspektasikan sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dalam tulisan <a href="https://whathefan.com/karakter/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/"><em>Peduli dengan Ikhlas Itu Berat</em></a>, Penulis menyebutkan kalau berbuat baik tanpa mengharapkan apapun itu berat. Penulis sendiri kadang masih merasa pamrih walau hanya berekspektasi mendapatkan respon yang diinginkan.</p>
<p>Demi menghindari munculnya rasa kecewa, kita harus bisa <strong>menekan ekspektasi</strong> tersebut. Mungkin tidak bisa dihilangkan total, tapi setidaknya kadarnya dikurangi.</p>
<p>Kalau misal ingin membuat kejutan untuk pacar, ya sudah buat aja kejutannya tanpa berharap yang muluk-muluk. Setidaknya, niat untuk membuatnya bahagia telah terlaksana.</p>
<p>Kalau misal ingin menawarkan bantuan untuk teman, ya sudah tawarkan saja tanpa mengharapkan akan mendapatkan respon yang positif. Mungkin dianya memang bukan tipe orang yang suka dibantu.</p>
<p>Secara teori hal ini mudah dilakukan. Secara praktik? Susahnya luar biasa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bagaimana dengan ekspektasi-ekspektasi lain seperti ingin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">kuliah di jurusan yang telah didambakan</a>? Pendekatannya berbeda, karena pasti kita akan menanamkan harapan yang besar di sana.</p>
<p>Untuk menghadapi ekspektasi seperti itu, yang bisa kita lakukan (selain tidak berharap berlebihan) adalah meyakini <strong>ada sebuah hikmah di balik semua peristiwa</strong>. Bahasa Inggrisnya, <em>every cloud has a silver lining</em>.</p>
<p>Yang perlu dicatat adalah setiap ekspektasi harus diiringi dengan usaha (dan doa) yang seimbang. Kalau mau kuliah di kampus favorit, ya berarti harus belajar dengan giat.</p>
<p>Jika kenyatannya harus tersingkir karena kalah dengan orang-orang yang punya <em><a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">privilege</a>, </em>ya pasti kecewa. Tapi kita harus yakin kalau kejadian tersebut adalah yang terbaik untuk kita.</p>
<p>Berekspektasi untuk mendapatkan pasangan pengusaha? Ya ngaca dulu dan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saling-memantaskan-diri/">pantaskan dirimu</a> terlebih dahulu. Berekspektasi jadi kaya raya? Ya <a href="https://whathefan.com/karakter/bahaya-mager-dan-apatis/">jangan kebanyakan <em>mager</em></a>.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Tulisan ini jadi juga karena Penulis baru saja dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Bahkan, hal ini telah berulang berkali-kali. Penulis saja yang terlalu tolol untuk mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Penulis juga masih mencari-cari cara bagaimana kita bisa menekan ekspektasi diri karena harapan itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia.</p>
<p>Tidak ada yang salah dari ekspektasi. Yang salah adalah jika kita <strong>berekspektasi terlalu banyak</strong>. Semakin banyak kita berkekspektasi, semakin besar peluang kita untuk merasa kecewa jika yang diekspektasikan tidak benar-benar terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juli 2020, terinspirasi setelah dikecewakan oleh ekspektasi sendiri</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@mili_vigerova?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Milada Vigerova</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/cry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">Dikecewakan Ekspektasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuhan Tidak Punya Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Sep 2019 14:48:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[bergantung]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2753</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; kata A pada story WhatsApp-nya. &#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; kata B pada linimasa Twitter-nya. &#8220;Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; kata C pada feed Instagram-nya. &#8220;Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Ya Tuhan, semoga aku tabah dalam menghadapi ujian ini TT&#8221; </em>kata A pada <em>story </em>WhatsApp-nya.</p>
<p><em>&#8220;Kenapa bisa ada orang seperti itu Tuhan, kenapa tidak dimusnahkan saja!&#8221; </em>kata B pada linimasa Twitter-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong berikan hamba rezeki yang cukup agar bisa beli skin care Tuhan&#8230;&#8221; </em>kata C pada <em>feed </em>Instagram-nya.</p>
<p>&#8220;<em>Tolong ubah status jombloku ya Tuhan, hamba sudah tidak tahan dengan segala hinaan tersebut!&#8221; </em>kata D pada kolom komentar di Webtoon.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pernah mengeluh atau berdoa kepada Tuhan melalui media sosial? Penulis merasa tidak pernah melakukan hal ini karena menyadari sesuatu: <strong>Tuhan tidak punya media sosial!</strong></p>
<p>Keluh kesah ataupun harapan kita yang ditujukan kepada Tuhan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung tanpa harus melalui perantara digital.</p>
<p>Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu Maha Pendengar. Apapun yang sedang kita rasakan atau pikirkan, Tuhan bisa mengetahuinya dengan mudah. Tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan.</p>
<h3>Maksud Terselubung?</h3>
<p>Jika doanya seperti &#8220;<em>teman-teman, minta doanya agar bencana di daerah kami segera mereda&#8221;, </em>penulis masih bisa memaklumi karena mungkin akan ada banyak orang yang membaca pesan tersebut dan langsung mengirimkan doa.</p>
<p>Ada juga akun yang memang mengkhususkan diri untuk mengunggah doa-doa yang sebaiknya dibaca pada saat-saat tertentu. Kalau seperti itu, penulis sangat menyetujuinya.</p>
<p>Yang penulis permasalahkan di sini adalah doa-doa yang ditujukan untuk kepentingan pribadi. Penulis berasumsi bahwa doa online tersebut memiliki maksud terselubung. Contohnya, <strong>memberi tahu orang lain tentang keadaan dirinya</strong>. Bahasa lainnya, <em>ngode</em>.</p>
<p>Buktinya ketika berusaha memosisikan diri sebagai orang yang membuat status seperti itu, penulis malah jadi menyimpan harapan agar doa dan keluhan itu ditanggapi oleh orang lain. Penulis tidak bisa menemukan alasan lain.</p>
<p>Jika bukan itu tujuannya, lantas mengapa dipublikasikan ke media sosial yang secara otomatis akan dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang lain? Sekadar <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a> mungkin? Rasanya tidak.</p>
<h3>Berharap Kepada Manusia</h3>
<p>Seandainya asumsi di atas benar, itu menunjukkan bahwa kita masih banyak berharap kepada manusia. Padahal, seharusnya kita hanya boleh menggantungkan harapan kepada Tuhan semata.</p>
<p>Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya. Kita tidak akan pernah bisa hidup sendiri di dunia yang makin hari makin keras ini.</p>
<p>Akan tetapi, bukan berarti kita bisa menggantungkan diri kepada manusia secara total dan melupakan peran Tuhan di sini. Perlu diingat, segala hal yang terjadi di muka bumi ini adalah berkat izin-Nya.</p>
<p>Penulis menulis artikel ini bukan karena merasa telah bisa menggantungkan diri kepada Tuhan sepenuhnya. Justru, penulis merasa bahwa dirinya <strong><em>masih sering menggantungkan harapan kepada manusia</em></strong>.</p>
<p>Contoh kecilnya adalah perasaan kesepian yang sering penulis derita. Seharusnya, penulis tidak perlu merasa kesepian karena Tuhan selalu bersama kita. Akan tetapi, praktik selalu lebih sulit daripada teorinya.</p>
<p>Bahkan, penulis <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/">memiliki ketergantungan kepada manusia agar tidak merasa sepi</a>. Jadi, tulisan ini penulis susun sebenarnya lebih bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri.</p>
<p>Mungkin penulis memang tidak membuat status berdoa di media sosial, namun penulis nyatanya juga masih berharap kepada manusia dengan cara-cara yang lain.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Mungkin, dulu penulis pun masih pernah melakukannya ketika masih labil (memang sekarang enggak?). Mungkin, seiring dengan bertambahnya usia, kita pun makin menyadari hal ini.</p>
<p>Jika sedang kesal atau bersusah hati, utarakanlah kepada Tuhan secara langsung. Tidak perlu menuliskannya di media sosial karena Tuhan tidak butuh perantara untuk bisa mendengar kita.</p>
<p>Menuliskan isi hati di media sosial justru menunjukkan bahwa kita masih sering menggantungkan diri kepada orang lain, bukan kepada Tuhan.</p>
<p>Sekali lagi, penulis sendiri masih melakukan hal yang sama. Semoga dengan tulisan ini, kita semua bisa saling memperbaiki diri dan belajar untuk hanya berharap kepada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 September 2019, terinspirasi dari banyaknya doa yang bertebaran di media sosial</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@khouser01">Keegan Houser</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/tuhan-tidak-punya-media-sosial/">Tuhan Tidak Punya Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
