<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>berubah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/berubah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/berubah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Oct 2022 16:10:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>berubah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/berubah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2022 16:07:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[dorongan]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan]]></category>
		<category><![CDATA[lebih baik]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6081</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri. Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: Berusaha memperbaiki kekurangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Di antara dua pilihan berikut ini, coba Pembaca lebih condong yang mana: 1) Percaya bahwa kekurangan diri bisa dilengkapi oleh orang lain, atau 2) Percaya bahwa kekurangan diri hanya bisa diperbaiki oleh diri sendiri.</p>



<p>Kalau Penulis, tidak memilih dua-duanya. Penulis merasa dirinya lebih cocok untuk mengambil jalan tengah dari dua pilihan tersebut: <strong>Berusaha memperbaiki kekurangan diri secara mandiri demi orang lain yang disayangi</strong>.</p>



<p>Apa maksud dari kalimat tersebut? Pada tulisan kali ini, mumpung sudah lama tidak menulis rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, Penulis akan mencoba menuliskan sesuatu yang baru dirinya temukan sebagai pelajaran hidup yang berharga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Petuah dari Kawan-Kawan</h2>



<p>Dalam konteks pasangan, Penulis pernah mendengarkan dua opini yang saling bertolak belakang, sebagaiamana pilihan yang Penulis ajukan di awal tulisan ini. Intinya adalah bagaimana cara memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Kawan yang satu mengatakan kalau &#8220;pasangan itu saling melengkapi&#8221; adalah hal yang salah. Menurutnya, kekurangan diri sendiri yang cuma kita yang bisa memperbaiki dan percuma berharap itu bisa diperbaiki atau diisi orang lain.</p>



<p>Kawan yang satu lagi (dan sudah menikah) mengatakan kalau pasangan itu mau bagaimanapun memang harus saling melengkapi. Kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah bisa mengatasi kekurangan diri sendirian.</p>



<p>Mendengar dua hal tersebut, Penulis pun mengambil sebuah kesimpulan sendiri. Memang, kekurangan diri sendiri itu tanggung jawab kita sendiri. Jadi, jangan sampai itu dilimpahkan ke orang lain, bahkan ke pasangan sekalipun.</p>



<p>Namun, Penulis juga menyadari bahwa kita tidak akan pernah menjadi sosok sempurna yang tak punya kekurangan. Mau berusaha seperti apa, kita pasti punya kekurangan yang akan sulit untuk dihilangkan sama sekali. Lantas, harus seperti apa?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sebuah Dorongan untuk Menjadi Lebih Baik</h2>



<p>Akhir-akhir ini, Penulis menyadari ketika kita sayang dengan seseorang, kita jadi memiliki semacam <strong>dorongan untuk berubah menjadi lebih baik</strong>. Salah satunya adalah dengan memperbaiki kekurangan diri sendiri.</p>



<p>Terkadang, kita tidak menyadari kekurangan diri kita. Orang-orang terdekat kita bisa jadi akan menyadari hal tersebut duluan daripada diri kita sendiri. Untuk itu, kehadiran mereka jadi sangat mutlak dibutuhkan dalam hidup ini.</p>



<p>Dengan kata lain, kita tetap butuh bantuan dari orang lain untuk menyadari kekurangan diri. Hanya saja, pada akhirnya tetap diri kita sendiri yang harus berusaha untuk memperbaikinya, bukan berpangku tangan ke orang lain dan berharap mereka bisa melengkapi kekurangan tersebut.</p>



<p>Tentu, pada prakteknya akan ada hal yang bisa dilakukan oleh orang lain untuk memperbaiki kekurangan kita. Akan tetapi, anggap saja itu bonus dan tanggung jawabnya tetap ada di kita. Mau dibantu seperti apapun, kalau kitanya tidak mau berubah, ya percuma.</p>



<p>Saat Penulis menyadari kekurangan dirinya melalui orang lain, Penulis pasti merasa tertampar karena tidak menyadari hal tersebut. Pasti ada perasaan bersalah, tetapi jelas lebih penting untuk berusaha memperbaiki kekurangan tersebut demi diri sendiri dan orang tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bukan Berarti Hidup untuk Memenuhi Ekspektasi Orang Lain</h2>



<p>Jika rela berubah menjadi lebih baik demi orang lain, apakah artinya kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Tentu tidak seperti itu, karena hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang jelas tidak menyenangkan.</p>



<p>Di sini, konteks yang Penulis maksud adalah berubah menjadi lebih baik demi orang lain, bukan <em>berubah menjadi orang lain</em>. Kalau konteks yang kedua, tentu Penulis tidak setuju karena kita tidak menjadi diri sendiri hanya demi orang lain.</p>



<p>Misalkan Penulis menyadari kalau egonya masih tinggi dan ternyata itu menyakiti orang lain. Kalau kita sayang dengan seseorang, tentu kita tidak ingin menyakitinya, bukan? Untuk itu, Penulis pun memutuskan untuk belajar mengurangi egonya.</p>



<p>Contoh lain, Penulis memiliki kekurangan tidak bisa masak sama sekali. Cara memperbaiki kekurangan tersebut bukan mencari pasangan yang jago masak, tapi belajar untuk memasak. Syukur-syukur kalau pasangannya bisa masak, Penulis jadi bisa belajar kepadanya.</p>



<p>Kalau misal kita diingatkan akan kekurangan diri oleh orang lain, jangan jadikan hal tersebut sebagai <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/dikecewakan-ekspektasi/">ekspektasi mereka</a> ke kita. Justru,<strong> </strong>terimalah hal tersebut dengan lapang dada<strong> </strong>dan <strong>jadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki kekurangan diri tersebut.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Meskipun awalnya berubah demi orang lain, pada akhirnya diri kita sendiri lah yang menikmati perubahan tersebut. Menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayang, bagi Penulis menjadi salah satu motivasi terkuat.</p>



<p>Tentu hal ini tidak berlaku hanya untuk pasangan saja. Ini juga bisa diterapkan untuk orang tua, keluarga, teman, dan lainnya. Intinya, orang-orang terdekat kita akan mampu memberikan kita dorongan untuk membuat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.</p>



<p>Terlepas dari apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Penulis di atas, Penulis meyakini kalau memang sudah sewajarnya kita termotivasi untuk menjadi lebih baik dengan memperbaiki kekurangan diri demi orang-orang yang disayangi.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 24 Oktober 2022, terinspirasi setelah dirinya menyadari kalau ada semacam kekuatan dan dorongan untuk menjadi lebih baik demi orang-orang yang disayanginya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@beccatapert">Becca Tapert</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">Kalau Sayang Seseorang, Kita Rela Berubah Jadi Lebih Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2022 10:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna. Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perasaan ditinggalkan</a> pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.</p>



<p><em>People come and go</em>. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?</h2>



<p>Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?</p>



<p>Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">ada yang punya prioritas lain</a>, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-<em>counter </em>penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.</p>



<p>Hanya saja, perlu diingat kalau <strong>orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita</strong>. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.</p>



<p>Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli</h2>



<p>Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita</a>. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.</p>



<p>Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, <strong>fokus pada respon yang akan kita berikan</strong> terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.</p>



<p>Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.</p>



<p>Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.</p>



<p>Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki <em>inferior complex</em>, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.</p>



<p>Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin. </p>



<p>Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.</p>



<p>Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.</p>



<p>Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@entersge">Vladislav Muslakov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mau Kayak Gini Sampai Kapan?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/mau-kayak-gini-sampai-kapan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Dec 2019 05:00:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan buruk]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[nanti]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[tunda]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3066</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis pernah mengakui bahwa dirinya termasuk pemalas. Entah berapa kali penulis merasa telah menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang kurang produktif, walaupun memang kita membutuhkannya dengan dosis yang terkontrol. Sebagai orang yang kerap overthinked, penulis pun melakuan interopeksi diri ketika menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal tersebut. Biasanya, penulis akan memberikan motivasi kepada diri sendiri dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">Mau Kayak Gini Sampai Kapan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis pernah mengakui bahwa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/saya-ini-pemalas/">dirinya termasuk pemalas</a>. Entah berapa kali penulis merasa telah menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang kurang produktif, walaupun memang kita membutuhkannya dengan dosis yang terkontrol.</p>
<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinked</em>, penulis pun melakuan interopeksi diri ketika menyadari bahwa dirinya telah melakukan hal tersebut.</p>
<p>Biasanya, penulis akan memberikan motivasi kepada diri sendiri dengan berkata dalam hati, <em>mau kayak gini sampai kapan?</em></p>
<h3>Kebiasaan Menunda-Nunda</h3>
<p>Salah satu kebiasaan buruk yang sering penulis lakukan adalah menunda-nunda pekerjaan yang semestinya harus segera diselesaikan. Contohnya adalah aktivitas mencatat agenda dan keuangan setiap hari.</p>
<p>Tak jarang karena suka menunda, akhirnya penulis sama sekali tidak mencatat dalam jangka waktu yang cukup lama. Paling lama pernah satu bulan.</p>
<p>Ketika sadar bahwa dirinya telah berbuat salah, penulis pun melakukan <em>self-punishment</em>. Bagaimana caranya? Dengan memaksa diri untuk mencatat segala kegiatan dan arus keuangan selama satu bulan itu!</p>
<p>Itu merupakan kegiatan sangat melelahkan dan butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya. Bayangkan, bagaimana bisa penulis mengingat apa yang penulis lakukan satu bulan yang lalu pada jam tertentu.</p>
<p>Kalau aktivitas mungkin bisa sedikit dikarang, tapi bagaimana dengan pemasukan dan pengeluaran penulis? Sebagai orang yang perfeksionis, ada beberapa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/uang-saya-lari-ke-mana-ya/">rupiah yang tidak diketahui lari ke mana</a> merupakan siksaan sendiri,</p>
<p>Setelah selesai menjalani &#8220;masa hukuman&#8221; tersebut, biasanya penulis berjanji ke diri sendiri untuk tidak lagi menunda-nunda. Yah, walaupun pada kenyataannya penulis masih sering mengulangi kesalahan tersebut.</p>
<h3>Tidak Ada Kata Nanti</h3>
<p>Pernah merasakan munculnya perasaan bahagia karena merasa telah melakukan banyak hal produktif? Itulah yang mendorong penulis rajin menulis agenda mulai awal kuliah hingga sekarang.</p>
<p>Sisi buruknya adalah ketika kebiasaan menunda-nunda dan rasa malas datang menghampiri. Dengan tidak menuliskan agenda harian, penulis bisa terlihat seperti kehilangan motivasi dan banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia.</p>
<p>Mungkin terlihat aneh, bagaimana satu peristiwa kecil bisa memengaruhi kehidupan penulis secara keseluruhan. Tapi ini menjadi bukti bahwa menunda pekerjaan bisa menjadi buruk bagi diri kita.</p>
<p>Oleh karena itu selain bergumam <em>mau sampai kapan kayak gini</em>, penulis juga berkata dalam hati <em>tidak ada kata nanti. </em>Kalau mau melakukan sesuatu, segera lakukan saat ini juga.</p>
<p>Apakah berat? Jika tidak diiringi dengan niat yang kuat, hal ini bisa teramat berat. Semuanya berawal dari diri kita sendiri, mau berubah atau tidak.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Dari banyaknya buku-buku biografi dan <em>self-improvement </em>yang sudah penulis baca, salah satu kunci kesuksesan pada hidup adalah dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.</p>
<p>Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bersantai, ya. Bersantai adalah kewajiban yang harus kita lakukan agar tidak stres dan melepaskan penat. Cuma kalau terlalu santai juga tidak boleh.</p>
<p><em>Mau sampai kapan kayak gini? </em>Kata-kata ini penulis jadikan pelecut semangat seusai melakukan interopeksi diri. Penulis yakin perubahan itu dimulai dari diri sendiri.</p>
<p>Kata-kata tersebut juga sering penulis gumamkan dalam hati ketika mengulangi kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya sebagai pengingat diri, karena kita hidup hari ini tanpa tahu apa yang akan terjadi keesokan hari.</p>
<p>Kalau kita merasa ada sesuatu yang salah dengan diri kita, coba mulai lihat ke dalam diri sendiri dan lakukan perubahan dari yang terkecil. Memang sulit, tapi bisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 7 Desember 2019, terinspirasi setelah kembali mengulang kebiasaan menunda-nunda pekerjaan</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@maiq">Tom Morel</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/mau-kayak-gini-sampai-kapan/">Mau Kayak Gini Sampai Kapan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 May 2019 15:40:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tiada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2377</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap berbagi seputar Karang Taruna yang pernah dipimpin. Melalui tulisan-tulisan tersebut, penulis ingin menyebarkan semangat untuk membangun lingkungan kita tinggal dimulai dari hal yang terkecil. Pada tulisan Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna? penulis sudah menjabarkan beberapa alasan mengapa penulis melakukannya. Tapi ketika direnungi sekali lagi, ada satu alasan lain. Penulis merasa keberadaannya dibutuhkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap berbagi seputar Karang Taruna yang pernah dipimpin. Melalui tulisan-tulisan tersebut, penulis ingin menyebarkan semangat untuk membangun lingkungan kita tinggal dimulai dari hal yang terkecil.</p>
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> penulis sudah menjabarkan beberapa alasan mengapa penulis melakukannya.</p>
<p>Tapi ketika direnungi sekali lagi, ada satu alasan lain. Penulis merasa <strong>keberadaannya dibutuhkan oleh orang lain</strong>.</p>
<h3>Ada yang Sama dengan Tiada</h3>
<p><div id="attachment_2382" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2382" class="size-large wp-image-2382" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2382" class="wp-caption-text">Rindu Sekolah? (<a href="https://unsplash.com/@flpschi">Feliphe Schiarolli</a>)</p></div></p>
<p>Penulis termasuk orang yang masa sekolahnya biasa saja. Bisa dibilang, penulis tidak pernah merasa rindu dengan masa-masa sekolah seperti kebanyakan orang.</p>
<p>Mungkin, salah satu alasannya adalah karena tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Ada sih teman SMP yang dekat, tapi itupun karena kami tinggal di satu kompleks yang sama. Untunglah seperti itu.</p>
<p>Ketika insomnia, penulis sering teringat ke masa lalu. Sedihnya, lebih banyak hal buruk yang melintas di ingatan penulis. Salah satu yang paling sering adalah betapa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/"><strong>tidak dianggapnya keberadaan penulis</strong></a>.</p>
<p>Dengan kata lain, penulis merasa <strong>ada dan tidak adanya</strong> diri penulis di suatu lingkungan itu <strong>sama saja</strong>. Teman-teman sekolah penulis tidak akan menyadari ketiadaan penulis. Istilah lainnya, penulis hanyalah <strong>pelengkap </strong>kelas.</p>
<p>Pada waktu itu, penulis tidak terlalu mempedulikan hal tersebut karena pada dasarnya penulis merupakan orang introvert yang lebih betah sendirian di rumah. Bahkan, termasuk yang susah untuk diajak main.</p>
<p>Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, penulis merasakan adanya sedikit penyesalan, terutama ketika melihat teman-teman sekolah bisa berkumpul di antara mereka untuk reuni kecil-kecilan.</p>
<p>Berkumpul dengan teman-teman lama seperti itu nampaknya hampir mustahil terjadi kepada diri penulis, kecuali ada <strong>perubahan</strong>.</p>
<h3>Berubah Dimulai dari Diri Sendiri</h3>
<p><div id="attachment_2381" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2381" class="size-large wp-image-2381" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2381" class="wp-caption-text">Berubah (<a href="https://unsplash.com/@rossf">Ross Findon</a>)</p></div></p>
<p>Pada waktu kuliah, penulis mencoba untuk lebih membuka diri. Hasilnya, penulis bisa berteman dengan lebih baik, setidaknya dari kacamata penulis sendiri.</p>
<p>Penulis berusaha menjaga relasi baik dengan mereka, sesuatu yang tidak penulis lakukan di masa sekolah. Hal ini membuktikan, bahwa <strong>perubahan</strong> memang harus dilakukan <strong>dari diri sendiri terlebih dahulu</strong>.</p>
<p>Selain itu, penulis percaya dengan yang namanya hukum kasualitas, <strong>semua akibat berawal dari sebuah atau beberapa sebab</strong>. Segala hal yang terjadi memiliki pemicunya, bukan terjadi karena secara acak.</p>
<p>Bisa jadi, penulis mendapatkan perlakukan buruk karena penulis <strong>pernah memperlakukan orang lain secara buruk pula</strong>. Bisa jadi, penulis merasa tidak dianggap keberadaannya karena pernah <strong>tidak menganggap keberadaan orang lain juga</strong>.</p>
<p>Hanya merutuk diri sendiri dan menyesali masa lalu tidak akan membawa dampak apa-apa. Lebih baik, berfokus dengan apa yang bisa kita perbaiki saat ini agar kejadian-kejadian tersebut tidak terulang di masa depan.</p>
<p>Salah satu cara yang bisa menopang perubahan tersebut adalah dengan membuang segala <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/"><strong>pikiran negatif</strong></a> yang tidak diperlukan dan hanya berdasarkan asumsi semata.</p>
<p>Contoh, melihat foto teman-teman lama sedang berkumpul, tak perlu berpikir &#8220;kok aku enggak diajak ya, apa mereka benci sama aku&#8221;. Mungkin kita memang tidak terlalu dekat dengan mereka, sehingga lebih baik tidak usah terlalu dipikirkan.</p>
<p>Alangkah lebih baik jika kita memiliki inisiatif untuk membuat acara sendiri dengan teman-teman dekat tanpa diiringi perasaan ingin balas dendam. Kalau niatnya buruk seperti itu, kita hanya akan menambah dosa yang tidak perlu.</p>
<h3>Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</h3>
<p>Mungkin penulis merasa senang menjadi <strong>keberadaan yang dibutuhkan orang lain</strong> karena pernah merasakan pahitnya tidak dianggap oleh orang lain.</p>
<p>Ketika merasa dibutuhkan, penulis akan berusaha untuk memberikan yang terbaik, entah menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar dengan penuh empati</a>, entah menyisihkan tenaga untuk membantu semaksimal mungkin, atau hal-hal lain yang bisa bermanfaat untuk orang lain.</p>
<p>Daripada memikirkan orang-orang yang tidak peduli dengan kita, lebih baik kita mencurahkan diri untuk orang-orang yang berarti dalam hidup ini, yang menyayangi kita, dan mungkin membutuhkan bantuan kita.</p>
<p>Dengan demikian, kita bisa menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">pribadi yang bermanfaat untuk orang lain</a>, bahkan bagi lingkungan sekitar kita. Kita bisa menjadi keberadaan yang dibutuhkan oleh orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 Mei 2019, terinspirasi setelah merenungi masa-masa lalu yang penuh dengan kesuraman</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@emotional_discord">J W</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
